cover
Contact Name
Zahri Nasution
Contact Email
kebijakan.sosek@gmail.com
Phone
-
Journal Mail Official
kebijakan.sosek@gmail.com
Editorial Address
-
Location
Kota adm. jakarta pusat,
Dki jakarta
INDONESIA
Jurnal Kebijakan Sosial Ekonomi Kelautan dan Perikanan
ISSN : 20896980     EISSN : 25273280     DOI : -
Core Subject : Agriculture, Social,
Jurnal Kebijakan Sosial Ekonomi Kelautan dan Perikanan merupakan Jurnal Ilmiah yang diterbitkan oleh Pusat Penelitian Sosial Ekonomi Kelautan dan Perikanan, dengan tujuan menyebarluaskan hasil karya tulis ilmiah di bidang Sosial Ekonomi Kelautan dan Perikanan. Artikel-artikel yang dimuat diharapkan dapat memberikan masukan bagi para pelaku usaha dan pengambil kebijakan di sektor kelautan dan perikanan terutama dari sisi sosial ekonomi
Arjuna Subject : -
Articles 213 Documents
PRAKIRAAN DAMPAK PENGURANGAN SUBSIDI BBM PADA USAHA PERIKANAN (Studi Kasus di Pelabuhan Perikanan Samudera Nizam Zachman) Subhechanis Saptanto; Rizky Aprilian Wijaya
Jurnal Kebijakan Sosial Ekonomi Kelautan dan Perikanan Vol 4, No 2 (2014): DESEMBER 2014
Publisher : Balai Besar Riset Sosial Ekonomi Kelautan dan Perikanan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (380.409 KB) | DOI: 10.15578/jksekp.v4i2.600

Abstract

Pelabuhan Perikanan Samudera Nizam Zachman (PPSNZ) merupakan salah satu pelabuhan perikanan samudera di Indonesia yang terletak di Muara Baru, Jakarta Utara. Tujuan dari penulisan makalah ini adalah untuk menganalisis perkembangan kapal yang mendaratkan ikan di PPSNZ menurut jumlah kapal, stratifikasi GT, lokasi penangkapan (WPP) dan fluktuasi produksi ikan bulanan. Jenis data yang digunakan dalam penelitian adalah data sekunder yang berasal dari laporan tahunan, statistik perikanan dan berbagai referensi yang mendukung kegiatan penelitian. Analisis data yang dilakukan dengan menggunakan metode statistik deskriptif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa jumlah produksiikan yang didaratkan di PPSNZ pada tahun 2013 ada sebanyak 113.024.086 kg dengan rata-rata produksi perbulan sebanyak 9.418.674 kg. Rata-rata kenaikan produksi ikan perbulan sebesar 6,10 %. Kapal dengan ukuran 51-100 GT merupakan jenis kapal yang paling banyak mendaratkan ikan di PPSNZ. Bila dilihat dari lokasi penangkapannya, paling banyak yang menangkap ikan di WPP 711 yakni di perairan Laut Natuna. Pengurangan subsidi BBM diperkirakan memberikan dampak negatif kepada pelaku usaha perikanan khususnya yang berangkat dan mendaratkan ikan di PPS Nizam Zachman yakni berkurangnya kesejahteraan nelayan karena nelayan tidak melaut, peningkatan harga ikan karena berkurangnya supply ikan dari nelayan dan meningkatnya illegal fishing karena kapal-kapal di atas 30 GT sedikit yang melaut.Title: Possibility Impact of Fuel Reduction to Fisheries Sector(Case Study : Nizam Zachman Ocean Fishing Port (PPSNZ)Nizam Zachman Ocean Fishing Port (PPSNZ) is one of Indonesia’s ocean fishing port where located in Muara Baru, North Jakarta. This research was aimed to analyze the development of fishing vessels landed in PPSNZ according to the number of vessels, GT stratification, fish ground (WPP) and fish production fluctuation monthly. Data used in this research were secondary data derived from annual reports, fisheries statistics and the various references that support the research activities. Data analysiswas performed using descriptive statistical methods. The results showed that the total production of fish landed in PPSNZ in 2013 there were as many as 113,024,086 kg with average monthly production asmuch as 9,418,674 kg. The average increase in fish production of 6.10% per month. Vessels of 51-100 GT is a type of the most fishing vessels landed in PPSNZ. Viewed from the fishing ground, most fishing ground were in the WPP 711 in the Natuna Sea region. Reduction of fuel subsidies estimated negative impact to businesses in particular fisheries departing and landing fish in PPS Nizam Zachman such as reduced welfare of fishers because fishers can’t fishing, fish price increase due to the reduced supply of fish from fishers and increasing illegal fishing for over 30 GT vessels less operation.
PERSEPSI NELAYAN TERHADAP UJICOBA PENGGUNAAN ELECTRONIC LOGBOOK PERIKANAN DI PELABUHAN PERIKANAN SAMUDERA BUNGUS, KOTA PADANG, PROVINSI SUMATERA BARAT Tenny Apriliani; Hadhi Nugroho
Jurnal Kebijakan Sosial Ekonomi Kelautan dan Perikanan Vol 6, No 1 (2016): JUNI 2016
Publisher : Balai Besar Riset Sosial Ekonomi Kelautan dan Perikanan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (685.325 KB) | DOI: 10.15578/jksekp.v6i1.2608

Abstract

Logbook penangkapan ikan merupakan salah satu instrument yang digunakan oleh pemerintah dalam rangka penguatan pengawasan pemanfaatan sumberdaya kelautan dan perikanan. Pengunaan logbook secara manual yang digunakan selama ini masih banyak mengalami kendala teknis. Permasalahan tersebut kemudian diharapkan dapat teratasi melalui pengembangan logbook penangkapan ikan berbasis elektronik (e-logbook) yang dilakukan oleh Pusat Pengkajian dan Perekayaan Teknologi Kelautan dan Perikanan (P3TKP) sejak tahun 2011. Tulisan ini bertujuan untuk mengetahui persepsi nelayan terhadap ujicoba penggunaan e-logbook di PPS Bungus. Penelitian dilakukan pada bulan Oktober Tahun 2014 di PPS Bungus. Data yang dikumpulkan berupa data primer yang diperoleh melalui wawancara dengan bantuan kuisioner dan data sekunder yang berupa laporan dari institusi terkait. Data kemudian dianalisis secara statistik deskriptif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa secara umum nelayan / nakhoda di PPS Bungus setuju apabila ke depan melakukan pengisian data tangkapan ikan menggunakan elektronik log book. Namun, perlu dilakukan sosialisasi dan pelatihan kepada nakhoda secara intensif. Alat elektronik log book juga harus mudah digunakan dan memiliki fitur sederhana dan mudah dipahami nelayan/nakhoda. Peningkatan kepatuhan nelayan dalam menggunakan elektronik log book dapat dilakukan melalui penambahan fitur yang memuat informasi bermanfaat bagi nelayan, seperti informasi daerah penangkapan ikan, informasi cuaca, serta informasi harga ikan. Peran petugas pelabuhan dalam rencana pengembangan dan penerapan elektronik log book menjadi sangat penting karena petugas pelabuhan merupakan pelaksana teknis yang akan berhadapan langsung dengan nelayan sehingga kegiatan sosialisasi dan pelatihan elektronik log book juga perlu diberikan tidak hanyan kepada nelayan tetapi juga petugas pelabuhan.Title: Perception of Fishermen to Trials of Fishery Electronic Logbook at Bungus Fishing Port, Padang City, West Sumatra ProvinceLogbook fishing is one the instrument which is tested by the government in order to strengthen the supervision of the utilization of marine resources and fisheries. The use of manual logbook used today are many experienced technical problems. The problems are then expected to be resolved through the development of fishing-based electronic logbook (e-logbook) by the Center for Technology Assessment and Enginering of Maritime Affairs and Fisheries (P3TKP) since 2011. This paper aims to determine the perception of fishermen toward the use of e-logbook in PPS Bungus. The study was conducted in October 2014 in PPS Bungus. Data collected in the form of primary data obtained through interviews with the help of questionnaires and secondary data such as reports from relevant institutions. Data were analyzed by descriptive statistics. The results showed that in general the fishermen / skippers in PPS Bungus agree to using the electronic log book for the next charging of fish catch data. However, it needs to be disseminated and intensive training to master. Electronic appliance log book must also be easy to use and have simple features and understandable by fisherman / skipper. Increased compliance of fishermen in the use of electronic log book could be done through the addition of features that includes useful information for fishermen, such as fishing area information, weather information, and fish price. Port officers role in the plan of development and implementation of electronic log book becomes very important because in the implementation they will be dealing directly with fishermen, so socialization and training activities electronic log book should be given not only to the fishermen but also officers.
EVALUASI PNPM MANDIRI KELAUTAN DAN PERIKANAN DALAM MENDUKUNG INDUSTRIALIASI PERIKANAN Siti Hajar Suryawati; Andrian Ramadhan; Mira Mira; Nensyana Shafitri; Subhechanis Saptanto; Agus Heri Purnomo
Jurnal Kebijakan Sosial Ekonomi Kelautan dan Perikanan Vol 3, No 2 (2013): DESEMBER 2013
Publisher : Balai Besar Riset Sosial Ekonomi Kelautan dan Perikanan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (696.098 KB) | DOI: 10.15578/jksekp.v3i2.313

Abstract

Perikanan merupakan salah satu sumber pendapatan nasional dan lapangan pekerjaan bagimasyarakat Indonesia. Peran penting sektor tersebut pada saat ini belum diiringi dengan pengoptimalanpemanfaatan potensi yang ada. Salah satu upaya pemerintah adalah melalui Program NasionalPemberdayaan Masyarakat Mandiri Kelautan dan Perikanan (PNPM Mandiri KP) sebagai upaya untukmengentaskan kemiskinan yang lebih dari 60 persen berada di wilayah pesisir. Anggaran yang tidaksedikit dikucurkan untuk program tersebut. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi kinerjaoutcome dan kinerja manfaat dan dampak dari PNPM Mandiri KP pada berbagai usaha perikanan.Penelitian dilakukan pada bulan Januari – Mei 2013. Metode pengolahan data yang digunakan padapenelitian ini adalah metode deskriptif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kinerja outcome PNPMMandiri KP pada kelompok perikanan tangkap, pembudidaya ikan, pengolah/pemasar, dan petambakgaram berturut-turut adalah: 1) 19 persen, 37 persen, 27 persen dan 31 persen untuk peningkatanproduksi dan produktivitas; dan 2) 54 persen, 33 persen, 57 persen dan 31 persen untuk peningkatanpendapatan. Kinerja manfaat dan dampak seperti tercantum dalam petunjuk pelaksanaan PNPM MandiriKP yaitu perkembangan usaha, berfungsinya kelompok sebagai lembaga ekonomi dan berkurangnyakemiskinan di lokasi program belum terindikasi secara eksplisit karena terkendala sistem pendataanyang tidak mencakup pengukuran kinerja tersebut. Rekomendasi yang diusulkan sebagai perbaikankebijakan di masa mendatang diantaranya adalah: 1) program harus diarahkan pada pembinaandalam aspek kewirausahaan, manajemen usaha dan manajemen keuangan; 2) masyarakat yang tidakmenerima bantuan dilibatkan sebagai bagian dari skenario program; dan 3) menyertakan programprogrampembinaan dan pendampingan yang diarahkan pada penyiapan penerima program untukmemanfaatkan kenaikan pendapatannya untuk digunakan sebagai fasilitas yang dapat meningkatkanproduksi dan pendapatan lebih besar lagi pada saat mereka tidak lagi mendapatkan bantuan.Title: Evaluation of Marine And Fisheries National Program on PeopleEmpowerement in Support to Fishery IndustrializationFisheries represents a notable source of income generation and job creation for Indonesia.The important role of fisheries has so far not been followed by optimalization of the existing potentials.Recognizing this, the government is currently carried out a program called the Marine and FisheriesMandiri National Program on People Empowerment (PNPM Mandiri KP), which represents a relevanteffort to alleviate poverty, wherein 60% of which occurs in the coastal areas. A significant amount ofbudget has been allocated to this program. This objective of this research is to identify the benefit, impactand outcome performance of the program. The research was carried out during the period of Januaryto May 2013. The data processing and interpretation approach that was adopted in this research isdescriptive approach. The research shows that the outcome performance of the program in capture fishery, aquaculture and fish processor/marketer groups are respectively 19 percent, 37 percent, 27 percent and 31percent for production and productivity increases and respectively 54 percent, 33 percent, 57 percent and 31 percentfor the income increase. Benefit and income performances, which include business development, functioning groups aseconomic institutions and poverty reduction in the area has not been indicated explicitly due to lack of data. This papersuggests that future improvement can be advanced through the following: 1) putting more attention on developmentof entrepreneurship, business management and financial management; 2) involving non-receivers in the programscenario; and 3) including empowerment program to recipients to utilize their income tobe used as a facilityto increaseproduction and more income when they didn’t get program anymore.
DINAMIKA KEBIJAKAN PENGELOLAAN DAN KEWIBAWAAN KELEMBAGAAN ADAT (Studi Kasus Pada Masyarakat Adat Liya di Wakatobi Sulawesi Tenggara) Nendah Kurniasari; Andrian Ramadhan; Lindawati Lindawati
Jurnal Kebijakan Sosial Ekonomi Kelautan dan Perikanan Vol 7, No 1 (2017): JUNI 2017
Publisher : Balai Besar Riset Sosial Ekonomi Kelautan dan Perikanan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (274.228 KB) | DOI: 10.15578/jksekp.v7i1.5747

Abstract

Pasang surut kewenangan lembaga adat dalam pengelolaan sumberdaya kelautan dan perikanan di Wakatobi, turut berpengaruh terhadap kondisi sumberdaya alam tersebut. Penelitian ini bertujuan untuk menggambarkan bagaimana peran kelembagaan adat dalam pengelolaan sumberdaya kelautan dan perikanan. Penelitian pada masyarakat adat liya di Kabupaten Wakatobi pada Tahun 2015 dengan menggunakan metode kualitatif yang mengandalkan data sekunder dan data primer dari berbagai informan kunci.Hasil penelitian menunjukkan bahwa kelembagaan adat di wakatobi meskipun eksistensinya sudah menurun namun kewibawaannya relatif masih kuat sehingga berpotensi sebagai lembaga yang efektif untuk mengatur perilaku masyarakat dalam memanfaatkan sumberdaya kelautan dan perikanan secara arif. Hal ini berpengaruh terhadap keberlanjutan nilai sosial dari sumberdaya. Oleh karenanya, revitalisasi lembaga adat merupakan langkah yang harus segera dilaksanakan oleh pemerintah guna menjaga sumberdaya kelautanan dan perikanan secara berkelanjutan.Title: Exoticism of Wakatobi and institutional initiative Citizen using Case study on Indigenous peoples in Wakatobi Sulawesi TenggaraThe dynamics of the authority of traditional institutions in the management of marine resources and fisheries in the Wakatobi, also affect the condition of the natural resources. This study aims to describe how the role of traditional institutions in the management of marine resources and fisheries. The study was conducted in Wanci and Kaledupa in 2015 using qualitative methods that rely on secondary data and primary data from a variety of key informants. The results showed that the traditional institutions in wakatobi although its existence has been declining but still relatively strong authority, thereby potentially as effective institutions to regulate people's behavior in the use of marine and fishery resources wisely. Therefore, the revitalization of traditional institutions is a step that should be undertaken by the government to safeguard marine and fisheries resources in a sustainable manner.
STRATEGI ADAPTASI NELAYAN TERHADAP PENETAPAN KAWASAN KONSERVASI PERAIRAN DAERAH DI MISOOL SELATAN, KKPD RAJA AMPAT Rici Tri Harpin Pranata; Arif Satria
Jurnal Kebijakan Sosial Ekonomi Kelautan dan Perikanan Vol 5, No 2 (2015): DESEMBER 2015
Publisher : Balai Besar Riset Sosial Ekonomi Kelautan dan Perikanan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (840.312 KB) | DOI: 10.15578/jksekp.v5i2.1022

Abstract

laut berkelanjutan. Hal yang perlu diperhatikan adalah sumber daya di kawasan KKPD sertakarakteristik sosial-budaya dan ekonomi nelayan. Kajian ini bertujuan untuk menganalisis karakteristikmasyarakat nelayan di wilayah KKPD dan strategi adaptasi yang dilakukan dalam merespon penetapanKKPD. Kasus yang terjadi di KKPD Misool Selatan Raja Ampat menunjukkan adanya karakteristiksosial-budaya dan ekonomi masyarakat nelayan yang beragam meliputi interaksi sosial, organisasikerja, gaya hidup, diversifikasi pekerjaan, manajemen keuangan, dan adaptasi teknologi. Pada aspekinteraksi sosial, mayoritas melayan memilih berhutang ke toko/kios terdekat, disamping kegiatanyang berhubungan dengan plasma dan meminjam uang ke tetangga. Mayoritas nelayan mengikutiperkumpulan nelayan, disamping mengikut pemilik kapal dan menjadi pemimpin kelompok sementarauntuk aspek organisasi sosial. Gaya hidup meliiputi kebiasaan jajan, merokok, berada di rumah ketikatidak melaut, dan membawa minuman keras ketika melaut. Untuk aspek manajemen keuangan,mayoritas nelayan menggunakan uang mereka untuk kebutuhan makan dan perawatan perahu,disamping untuk jajan, membeli rokok dan menambah alat tangkap. Diversifikasi pekerjaan dilakukanoleh sebagian besar nelayan dengan bekerja di perusahaan, budidaya rumput laut, membuka kebun,membeli dan memelihara ternak dan memiliki kios/toko untuk berjualan. Mayoritas nelayan melakukanadaptasi teknologi berupa penggunaan motor tempel pada perahu tradisional, disamping memodifikasialat tangkap dan beralih ke perahu Johnson. Strategi adaptasi nelayan merupakan respon yang muncul,karena adanya perubahan di kawasan konservasi. Seiring dengan berbagai perubahan yang beragam,mayoritas nelayan memilih strategi adaptasi dengan cara berinvestasi untuk menghadapi penetapanKKPD.Title: Adaptation Strategy of Fishermen for the Determination of WatersConservation Area in South Misool, KKPD Raja AmpatRegional Marine Conservation Area (Kawasan Konservasi Perairan Daerah/KKPD) aims toachieve sustainable marine resource management. The aspects that must be considered were resourcesin marine conservation area and socio-cultural and economic characteristics of fishermen. This researchaims to analyze the characteristics of fishers communities in KKPD area and their adaptation strategiesto response KKPD establishment. In case of KKPD Misool Selatan Raja Ampat showed that there arevarious socio-cultural and economic characteristics consists of social interaction, organization of work,lifestyle, financial management, occupational diversification, and technological adaptations. In the socialinteraction aspect, most of fishermen owed to nearby shop, besides related activity with Plasma, andborrows money from their neighbors. Most of fishermen had attended the fishermen association, apartfrom boat owners and temporary group leader for organization of work aspect. Lifestyle aspect consistsof habit of snacks consumption, smoking, stay at home when not fishing, and bring liquor when fishing.For financial management aspect, most of fishermen allocated their funds to fulfill dining needs and boatmaintenance. Fisherman also have some occupational diversification consists of working in a company,seaweed culture, farming, buy and raise cattle, and sell in their shop. Then, most of fishermen usingoutboards motor in their traditional boat as technology adaptation, besides modifying their fishing gearand using Johnson boat. In line with various changes, most of fishermen choose investment strategy toresponse KKPD establishment.
EFISIENSI DAN OPTIMISASI INPUT BUDIDAYA IKAN MAS KERAMBA JARING APUNG DI WADUK CIRATA Intan Adhi Perdana Putri; Zuzy Anna
Jurnal Kebijakan Sosial Ekonomi Kelautan dan Perikanan Vol 4, No 1 (2014): JUNI 2014
Publisher : Balai Besar Riset Sosial Ekonomi Kelautan dan Perikanan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1263.971 KB) | DOI: 10.15578/jksekp.v4i1.222

Abstract

Ikan mas merupakan salah satu ikan hasil budidaya dalam Keramba Jaring Apung (KJA)terbanyak di Jawa Barat. Pada tahun 2012 produksi ikan jenis ini sebesar 93.080 ton atau 48% daritotal produksi budidaya. Waduk Cirata merupakan salah satu badan air dengan produksi ikan mas yangcukup besar. Namun biaya produksi yang meningkat dan tidak efisiennya penggunaan input produksi,mengakibatkan terjadi penurunan margin keuntungan para pembudidaya tersebut. Salah satu cara yangbisa ditempuh oleh pembudidaya untuk meningkatkan keuntungan adalah dengan cara minimisasi biaya(cost minimization) dari input produksi (pakan, benih dan tenaga kerja), sehingga diperoleh kombinasiinput produksi dengan biaya terendah dengan produksi ikan yang optimal. Hasil analisis efisiensi unitusaha budidaya KJA di waduk Cirata dengan menggunakan pendekatan DEA menunjukkan bahwa hanyaada 4 % DMU yang fully efficient. Sedangkan dari hasil analisis minimisasi biaya melalui pendekatanShephard Lemma adalah diperoleh kombinasi input yang optimal untuk pakan sebesar 23.459,99 kg,benih ikan sebesar 556,62 kg, dan tenaga kerja sebesar 424,18 HKP, untuk satu unit usaha (4 petak)selama satu tahun. Biaya yang bisa dikurangi setiap tahun dengan menggunakan kombinasi input yangoptimal adalah sebesar Rp. 3.418.152,05.Title: Technical Efficiency and Input Optimization of Common Carp Cultureon Floating Net Cage in CirataCommon Carp Culture with Floating Net Cage (KJA) method in West Java Province has the highestproduction among the other species. It is more or less accounted for 48 % of common carp productionof West Java Province yield from KJA method. Cirata is one of the inland water, with high-yielding Carpon KJA. Problems faced by fish farmers in Cirata is continuous price increases, which cause a declinein their profits. To maximize the profits, this paper will analyzed the cost minimizing factor input (feed,fry and labor), in order to determine the best combination of factor input to produce given output withlowest cost, using Sheppard’s Lemma method. More over efficiency analysis using Data EnvelopmentAnalysis was also conducted. the result of cost minimization by means of Sheppard’s Lemma showsthe optimal input combination for one KJA unit were 23,459.99 kg for feed, 556.62 kg for fry and 424.18HKP for labor. Fish farmer could decrease their production cost for about Rp. 3,418,152.05 by using thecombination of optimal input. Efficiency analysis shows that only 4 % DMU’s were fully efficient.
STRATEGI PENGEMBANGAN PARIWISATA PESISIR DI DESA BENTUNG KABUPATEN KEPULAUAN SANGIHE PROVINSI SULAWESI UTARA Aldy Adrianus Tatali; Ridwan Lasabuda; Jardie A Andaki; Bet E. S. Lagarense
Jurnal Kebijakan Sosial Ekonomi Kelautan dan Perikanan Vol 8, No 1 (2018): JUNI 2018
Publisher : Balai Besar Riset Sosial Ekonomi Kelautan dan Perikanan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (587.439 KB) | DOI: 10.15578/jksekp.v8i1.6703

Abstract

Pengelolaan pariwisata pesisir Kabupaten Kepulauan Sangihe telah banyak diteliti namun penelitian yang menekankan pada pengembangan potensi pariwisata pesisir desa bentung belum dilakukan. Kabupaten Kepulauan Sangihe merupakan kabupaten bahari yang memiliki Kawasan Strategis Pariwisata sesuai dengan PERDA Kepulauan Sangihe Nomor 15 Tahun 2008, yaitu kawasan yang memiliki fungsi utama pariwisata atau memiliki potensi untuk pengembangan pariwisata yang mempunyai pengaruh penting dalam satu atau lebih aspek seperti pertumbuhan ekonomi, sosial dan budaya, pemberdayaan sumber daya alam, daya dukung lingkungan hidup, serta pertahanan dan keamanan Desa Bentung mempuyai atraksi wisata Mairokang Beach Game (MBG) yang diselenggarakan setiap tahun. Penelitian ini berfokus pada pengembangan atraksi wisata pesisir di Desa Bentung dengan bentuk diversifikasi produk-produk wisata yang masih banyak selain lomba MBG. Penelitian dilakukan pada bulan Oktober 2016 hingga Maret 2017 mengunakan metode observasi, kualitatif dan kualitatif (campuran). Metoda analisis deskriptif dan SWOT digunakan dalam penelitian ini. Hasil penelitian mmenunjukkan bahwa potensi sumber daya pesisir di Desa Bentung seperti terumbu karang, hutan mangrove yang memiliki luas 2,82 Ha, keadaan hutan Mangrove tergolong dalam kondisi tidak rusak. Potensi pariwisata pantai Desa Bentung memiliki tiga kawasan pantai yang memiliki pasir yang berbeda yaitu Pantai Bulo, Pantai Nagha, Pantai Mairokang Bentung. MBG melaksanakan kegiatan – kegiatan yang bernuansa budaya Sangihe dan menjadi daya tarik wisata Kabupaten Kepulauan Sangihe, lomba ini merupakan lomba balap perahu. Hasil penelitian menyarankan erlunya fokus pembangunan sarana dan prasarana pariwisata.Title: Coastal Tourism Development Strategy in The Bentung Village, Sangihe Islands Regency of North SulawesiManagement of Sangihe coastal tourism has been extensively researched; however, research emphasizing on the development of coastal tourism potentials in Bentung Villages has yet been carried out. The regency of Kepulauan Sangihe which is a maritime regency has a Tourism Strategic Area in Sangihe Islands Local Regulation No. 15 Year 2008 which tell that a region that has a major function of tourism or has potential for tourism development that has an important influence in one or more aspects such as economic, social and cultural growth, natural resources empowerment, environmental carrying capacity, defense and security. Bentung Village a tourist attraction such as Mairokang Beach Game (MBG) that held annually. This study focuses on the development of coastal tourism attractions in the village of Bentung with a diversified form of tourism products that are still many other than the MBG competition. This research was conducted between October 2016 until March 2017 using qualtitaive and quantitative observation method (mix method). A descriptive and SWOT analysis were used in this study. Results of the research showed that potential of coastal resources in Bentung Village such as coral reefs, mangrove forest has an area of 2.82 Ha and classified as undamaged. Bentung Beach tourism has three areas that have different sand such as Bulo Beach, Nagha Beach and Mairokang Beach. MBG carries out cultural activities of Sangihe and becomes a tourist attraction of Kepulauan Sangihe Regency, This attraction is a boat racing competition. The research suggests the need to be focused on the development of tourism’s infrastructure and facilities.
ANALISIS KEBIJAKAN DAMPAK PENYESUAIAN HARGA BBM BERSUBSIDI UNTUK NELAYAN Subhechanis Saptanto; Achmad Zamroni; Andrian Ramadhan; Rizky Aprilian Wijaya
Jurnal Kebijakan Sosial Ekonomi Kelautan dan Perikanan Vol 6, No 2 (2016): DESEMBER 2016
Publisher : Balai Besar Riset Sosial Ekonomi Kelautan dan Perikanan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (502.364 KB) | DOI: 10.15578/jksekp.v6i2.3328

Abstract

Fluktuasi harga BBM yang disebabkan oleh adanya kebijakan penyesuaian harga BBM memberikan pengaruh pada berbagai sektor khususnya sektor perikanan tangkap. Tujuan dari penelitian ini mengkaji pengaruh penyesuaian harga BBM terhadap biaya operasional usaha perikanan tangkap laut; dan mengkaji dampak penyesuian harga BBM terhadap tingkat keuntungan usaha perikanan tangkap laut. Waktu penelitian dilaksanakan selama 30 hari kerja yang dilakukan pada bulan Januari – Februari 2015. Lokasi penelitian dilakukan di Pelabuhan Perikanan Pantai (PPP) Muncar, Pelabuhan Perikanan Nusantara (PPN) Brondong Kabupaten Lamongan, PPN Pekalongan di Kota Pekalongan dan PPN Palabuhan Ratu di Kabupaten Sukabumi, dengan pertimbangan bahwa di lokasi tersebut terdapat armada kapal berdasarkan ukuran kapal.Data yang digunakan dalam penelitian ini adalah data primer dan sekunder. Data primer diperoleh dari responden/sampel penelitian yang ditentukan secara purposif (purposive sampling) mencakup: nelayan pada berbagai ukuran kapal. data-data sekunder diperoleh dari laporan penelitian, laporan kajian, dan data-data pada berbagai instansi terkait. Data ditabulasi dan dianalisis secara deskriptif dan disajikan dalam bentuk tabel-tabel. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penyesuaian harga BBM memiliki pengaruh yang sangat besar terhadap biaya operasional dan keuntungan usaha. Pada seluruh ukuran kapal peningkatan harga BBM akan secara otomatis meningkatkan biaya operasional usaha dan menurunkan keuntungan usaha.  Perubahan harga BBM khususnya solar yang terjadi pada akhir tahun 2014 hingga Januari 2015 memberikan dampak positif dan negatif terhadap pelaku usaha, khususnya nelayan; penurunan harga BBM berpotensi menaikkan tingkat keuntungan yang diterima, sebaliknya peningkatan BBM berpotensi menurunkan tingkat keuntungan usaha. Perlu adanya bantuan permodalan dan pendampingan untuk mendorong pelaku usaha berpindah dari kapal 50-100 GT ke kapal berukuran 20-30 GT atau ke kapal berukuran diatas 100 GT. Hal ini didasarkan pada hasil kajian dimana kelompok ukuran kapal 50-100 GT yang paling sensitif terkena dampak akibat perubahan harga solar. Setiap kenaikan harga BBM solar sebesar 1% akan menurunkan keuntungan usaha sebesar 0,7% . Sementara ukuran kapal 20-30 GT dan diatas 100 GT mengalami penurunan sebesar 0.2% dan 0.5%.Title: Analysis Of Subsidized Fuel Price Adjustment Policy Impact For FishermenFluctuations in fuel prices caused by the fuel price adjustment policy influence on various sectors particularly the fisheries sector. The purpose of this study was to assess the effect of fuel price adjustments against operating expenses marine capture fishery business; and assess the impact of fuel price adjustments to the level of profitability of marine capture fisheries. The research was carried out for 30 days of work, done in January-February 2015. The research location is at the Fishery Port Beach (PPP) Muncar, Nusantara Fishery Port (VAT) Brondong Lamongan, PPN Pekalongan in Pekalongan and VAT Palabuhan Ratu in Sukabumi , considering that in that location there is a fleet of ships based on ship size. The data used in this study are primary and secondary data. Primary data obtained from respondents / sample were determined purposively (purposive sampling) include: fisherman on vessels of various sizes. secondary data obtained from research reports, assessment reports, and data on the various relevant agencies. Techniques used for primary data collection is interview the selected respondents, with the scope of information covering investment costs, variable costs (variable) per trip, the fixed cost (fixed) per year, business receipts per trip, business operational information. Data tabulated and analyzed descriptively and presented in a tabular format. The results showed that the adjustment of fuel prices has a profound influence on operating costs and profits. On the whole size of ships increase in fuel prices will automatically increase business operational costs and lowering profits. Changes in fuel prices, especially diesel which occurred in late 2014 to January 2015 giving positive and negative impacts to businesses, especially fishermen fishing; reductions in fuel prices could raise the level of benefits received, otherwise the increase in fuel potentially lower level of profits. The need for capital assistance and mentoring to encourage businesses to move from ship to ship size 50-100 20-30 GT GT or sized vessels above 100 GT. It is based on the results of the study in which groups of vessel sizes 50-100 GT are most sensitive affected by changes in the price of diesel. Any increase in the price of diesel fuel by 1% would reduce the business profits of 0.7%. While the size of 20-30 ships over 100 GT and GT decreased  0.2% and 0.5%.   
KETEPATGUNAAN TEKNOLOGI BUDIDAYA UDANG SECARA INTENSIF DI TAMBAK Bayu Vita Indah Yanti; Zahri Nasution
Jurnal Kebijakan Sosial Ekonomi Kelautan dan Perikanan Vol 4, No 2 (2014): DESEMBER 2014
Publisher : Balai Besar Riset Sosial Ekonomi Kelautan dan Perikanan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (228.431 KB) | DOI: 10.15578/jksekp.v4i2.607

Abstract

Ketepatgunaan teknologi merupakan salah satu indikator bahwa teknologi yang diintroduksi dapatdimanfaatkan oleh masyarakat sesuai dengan kondisi yang ada pada masyarakat. Untuk megetahuiketepatgunaan teknologi yang diterima oleh pengguna, dapat digunakan 7 (tujuh) indikator ketepatgunaanteknologi yang dikembangkan dari sifat dan ciri teknologi diintroduksi. Penelitian ini menggunakanpendekatan analisis kebijakan. Teknologi yang dievaluasi adalah teknologi yang diperkenalkan olehKementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) melalui Direktorat Jenderal Perikanan Budidaya (DJPB)pada demfarm budidaya udang di tambak secara intensif. Studi ini dilakukan sejak April hingga Juni2014, termasuk verifikasi lapang ke lokasi percontohan di wilayah Kabupaten Karawang, Jawa Barat.Analisis dan interpretasi data dilakukan secara deskriptif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa teknologibudidaya udang secara intensif dapat dikatakan hanya tepat dikembangkan pada petambak yangmemiliki modal besar dan memiliki pengetahuan dan pengalaman dalam melaksanakan budidaya udang.Pengembangan budidaya udang secara intensif harus dilakukan melalui kerjasama antara petambakudang dan investor dan pemerintah melalui suatu pola yang disepakati secara bersama.Title: Efficiency Technology Intensive Shrimp Farming In PondTechnology efficiency is one indicator to show introduced technology can utilize by the communityproperly. To determine the efficiency of the technology acceptable to users, it can be viewed by 7 (seven)indicators that developed based on nature and characteristic of introduced technologies. This researchwas conducted using the approach of policy analysis.Evaluated technologies are technologies that wereintroduced by the Ministry of Marine and Fisheries Affairs (MMAF) through the Directorate General ofAquaculture (DJPB) in shrimp farming in ponds demfarm intensive. The study was conducted from Aprilto June 2014, including field verification to the pilot sites in Karawang Regency, West Java. Analysisand interpretation of the data was done descriptively. The results showed that intensive shrimp farmingtechnology only proper to develope on farmers who have big capital and have knowledge and experiencein implementing shrimp farming. Intensive shrimp aquaculture development should be done throughcooperation between shrimp farmers and investors and government through an agreed pattern.
ALTERNATIF KEBIJAKAN MENGHADAPI PERGOLAKAN PETAMBAK AKIBAT PENCEMARAN PERAIRAN (Studi Kasus Pada Petambak Ujung Pangkah Kabupaten Gresik) Istiana Istiana
Jurnal Kebijakan Sosial Ekonomi Kelautan dan Perikanan Vol 3, No 1 (2013): JUNI 2013
Publisher : Balai Besar Riset Sosial Ekonomi Kelautan dan Perikanan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (350.288 KB) | DOI: 10.15578/jksekp.v3i1.10

Abstract

Tujuan penelitian ini adalah untuk mendiskripsikan pergolakan yang terjadi pada masyarakat petambak sebagai akibat adanya pencemaran perairan. Penelitian ini dilakukan pada bulan Juli 2011 sampai Januari 2013 di desa Pangkah Wetan Kecamatan Ujung Pangkah Kabupaten Gresik. Penelitian ini menggunakan tipe penelitian deskriptif-kualitatif. Jenis penelitian ini adalah studi kasus (case study) yang memusatkan pada kelompok masyarakat petambak. Teknik pemilihan informan secara purposive. Pengumpulan data primer dilakukan dengan cara indepth interview. Analisis data dilakukan secara deskritif kualitatif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa akibat pencemaran perairan, petambak mengalami penurunan pendapatan. Petambak menuduh tercemarnya lingkungan pesisir berasal PT. Hess Indonesia Ltd. karena memang cuma satu-satunya perusahaan itu yang ada di desa. Kondisi ini telah memunculkan kebersamaan petambak dengan melalui interaksi informal antar petambak yang memunculkan kelompok tani tambak desa Pangkah Wetan. Solidaritas kolektif komunitas memobilisasi gerakan pertentangan yang efektif dalam melahirkan kekuatan menggerakkan massa yaitu gerakan terbuka atau unjuk rasa dengan komunitas masyarakat petambak dan nelayan desa lain. Aksi protes yang dilakukan petambak merupakan bentuk resistensi petambak terhadap kebijakan pemerintah dan pengusaha. Gerakan ini bukan sekedar suatu reaksi tetapi juga sebagai wahana untuk mencapai tujuan-tujuan perubahan yaitu lingkungan tambak yang memiliki daya dukung tinggi.Title: Policy Options to Deal With: Fish Farmers Upheaval Due Water Pollution (Case Study on Ujung Pangkah Fish Farmers of Gresik Regency)The aims of the study is to describe the upheaval in fish farmers community as a result of water pollution. Research was conducted during July 2011 to January 2013 in Pangkah Wetan Village Ujung Pangkah District of Gresik Regency. The research type were qualitative descriptive. The research is a case study which focus on the fish farmer community groups. Informants were selected purposively. Primary data were collected by using in-depth interview. Result of the research showed that due to water pollution, fish farmers have complained about declining income. Fish farmers were predict that coastal environmental contamination derived main company, namely PT. Hess Indonesia Ltd. This situation has led to fish farmers togetherness through informal interactions among fish farmers. Collective solidarity of communities has been mobilize effective opposition movement, namely demonstration did by fish farmer against government policy and private company. This protest is not only a reaction but also the way to achieve the objectives of environmental changes of brackish water pond that have a high carrying capacity.

Page 6 of 22 | Total Record : 213