cover
Contact Name
Ahmadi Riyanto
Contact Email
masyarakat.iktiologi@gmail.com
Phone
+628111166998
Journal Mail Official
masyarakat.iktiologi@gmail.com
Editorial Address
Gedung Widyasatwaloka, Bidang Zoologi, Pusat Penelitian Biologi-LIPI Jl. Raya Jakarta-Bogor Km 46, Cibinong 16911
Location
Kota bogor,
Jawa barat
INDONESIA
Jurnal Iktiologi Indonesia (Indonesian Journal of Ichthyology)
ISSN : 16930339     EISSN : 25798634     DOI : https://doi.org/10.32491
Aims and Scope Aims: Jurnal Iktiologi Indonesia (Indonesian Journal of Ichthyology) aims to publish original research results on fishes (pisces) in fresh, brackish and sea waters including biology, physiology, and ecology, and their application in the fields of fishing, aquaculture, fisheries management, and conservation. Scope: This journal publishes high-quality articles dedicated to all aspects Aquaculture, Fish biodiversity, Fisheries management, Fish diseases, Fishery biotecnology, Moleculer genetics, Fish health management, Fish biodiversity.
Articles 420 Documents
Comparative osteology of Tor tambroides (Bleeker, 1854) and Tor tambra (Valenciennes 1842) vertebral column (ossa vertebrae) Ilham Zulfahmi; Yusrizal Akmal; Muhammad Radhi; Muslich Hidayat; Muliari Muliari
Jurnal Iktiologi Indonesia Vol 20 No 3 (2020): October 2020
Publisher : Masyarakat Iktiologi Indonesia (Indonesian Ichthyological Society)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32491/jii.v20i3.530

Abstract

Information related to osteology plays a vital role in support ecomorphology and phylogenetic relationship analysis in fish. This study aimed to describe the comparative morphology of the vertebral column between Tor tambroides (Bleeker, 1854) and Tor tambra (Valenciennes 1842). Samples of Tor tambroides and Tor tambra were obtained from fish traders in the Tangse River area of Pidie Regency and Sampoinet River area, Aceh Jaya Regency, Aceh Province. Vertebral column preparation consists of five steps: muscles and scales separation, immersion in a formaldehyde solution, drying, morphometric measurements, photographing and image editing, and identification of terminology. The results showed that there are morphological differences between Tor tambroides and Tor tambra vertebral column, particularly in the axial vertebrae, posterior vertebrae caudales, and urostylus regions. The pleural costae of Tor tambroides have a posterior curve with the left and right sides interlocking. The lateral Tor tambroides process tends to curve posteriorly, while the Tor tambra tends to round up parallel to the dorsal costae. Tor tambroides tend to have stronger ligaments marked by the absence of a foramen between the hypural. Morphometrically, Tor tambroides tend to have higher centrum ratios (length, width, and height), neural spine, haemalis spine, and costae compared to Tor tambra. The significant difference in morphometric results in observed the axial vertebrae and the posterior vertebrae caudales region. Further research related to the correlation of vertebral column morphology with the environmental condition of these fish is still necessary. Abstrak Kajian osteologi memiliki peran penting dalam upaya analisis ekomorfologi dan hubungan filogenetik antarjenis ikan. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskrispsikan perbedaan morfologi tulang belakang Tor tambroides (Bleeker, 1854) dan Tor tambra (Valenciennes 1842). Contoh ikan Tor tambroides dan Tor tambra dikoleksi dari hasil tangkapan nelayan di wilayah Sungai Tangse Kabupaten Pidie dan wilayah Sungai Sampoinet, Kabupaten Aceh Jaya, Provinsi Aceh. Tahapan preparasi tulang belakang terdiri atas lima tahapan yaitu pemisahan otot dan sisik, perendaman dalam larutan formalin, penjemuran, pengukuran morfometrik, pemotretan dan penyuntingan gambar, serta identifikasi terminologi. Hasil penelitian ini menunjukkkan bahwa terdapat perbedaan morfologi tulang belakang antara Tor tambroides dan Tor tambra terutama pada bagian axial vertebrae, posterior vertebrae caudales dan urostylus. Tulang pleura costae Tor tambroides memiliki bentuk melengkung ke arah posterior dengan bagian kiri dan kanan saling bertautan. Processus lateralis Tor tambroides cenderung melengkung ke arah posterior, sedangkan pada Tor tambra cenderung membulat sejajar dengan dorsal costae. Tor tambroides cenderung memiliki ligamen yang lebih kokoh ditandai dengan tidak adanya foramen diantara os hypural. Secara morfometrik tulang belakang, Tor tambroides cenderung memiliki nilai nisbah centrum (panjang, lebar dan tinggi), spina neuralis, spina haemalis dan costae yang lebih tinggi dibandingkan dengan Tor tambra. Disparitas hasil pengukuran antara kedua jenis ikan terlihat cukup kentara pada bagian axial vertebrae dan bagian posterior vertebrae caudales. Penelitian lanjutan terkait korelasi morfologi tulang belakang dengan kondisi perairan kedua jenis ikan masih perlu dilakukan.
Biological parameters of Bonylip barb (Osteochilus vittatus Valenciennes, 1842) in Lake Rawa Pening Semarang Regency Sadza Maulidyasari; Djumanto Djumanto
Jurnal Iktiologi Indonesia Vol 20 No 3 (2020): October 2020
Publisher : Masyarakat Iktiologi Indonesia (Indonesian Ichthyological Society)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32491/jii.v20i3.531

Abstract

Bonylip barb (Osteochilus vittatus Valenciennes, 1842) is an indigenous fish which is the main target of fishermen in lake Rawa Pening. This study aims to determine the biological parameters including length-weight relationship, con-dition factor, and sex ratio of bonylip barb in lake Rawa Pening, Semarang Regency. Fish sampling was conducted biweekly from October 2019 to March 2020, caught using bamboo blinds operated by local fishermen. Data collected consisted of total length, individual weight, and sex. Data on the length-weight relationship and condition factors were analyzed descriptively, while the sex ratio was analyzed with the chi-square test (χ2). The results showed that female bonylip barb was obtained as many as 392 individuals with a length-range between 10.0-26.0 cm and a weight range between 14.5-264.1 g. The male counted 255 individuals with a length range of 10.2-22.4 cm and a weight range of 15.0-160.9 g. The growth pattern was allometric negative. The equation of the length-weight relationship of female was W = 0.0186 L 2.9096 (R² = 0.9527), and the male was W = 0.0151 L 2.9689 (R² = 0.9386). The value of the average condition factor of females was 1.05, and the males was 1.02. The condition factor in females was in excellent condition (> 1.05), and males were in good condition (0.95-1.05). The overall sex ratio of male and female was 1:1.54. It means that females population was significantly higher than males. Abstrak Ikan nilem (Osteochilus vittatus Valenciennes, 1842) merupakan ikan asli yang menjadi target utama tangkapan nela-yan di Rawa Pening. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui parameter biologi yang meliputi hubungan panjang-berat, faktor kondisi dan nisbah kelamin ikan nilem di danau Rawa Pening Kabupaten Semarang. Pengambilan sampel ikan dilakukan dua minggu sekali dari bulan Oktober 2019 sampai Maret 2020, menggunakan kerai bambu yang dioperasikan oleh nelayan setempat. Data yang dikumpulkan terdiri atas panjang total, bobot individu, dan jenis kelamin. Data hubungan panjang-berat dan faktor kondisi dianalisis secara deskriptif, sedangkan nisbah kelamin dianalisis dengan uji chi-square (χ2). Hasil penelitian diperoleh jumlah ikan nilem betina sebanyak 392 ekor dengan kisaran panjang antara 10,0-26,0 cm dan kisaran berat antara 14,5-264,1 g. Ikan nilem jantan sebanyak 255 ekor dengan kisaran panjang antara 10,2-22,4 cm dan kisaran berat antara 15,0-160,9 g. Pola pertumbuhan ikan nilem di danau Rawa Pening bersifat allometri negatif. Persamaan hubungan panjang-berat ikan nilem betina yaitu W = 0.0186L2.9096 (R² = 0.9527), dan jantan yaitu W = 0.0151 L2.9689(R² = 0.9386). Nilai faktor kondisi ikan nilem betina rerata 1,05, sedangkan ikan nilem jantan rerata 1,02. Proporsi faktor kondisi ikan nilem betina terbanyak dalam keadaan sangat baik (>1,05), sedangkan ikan nilem jantan berada dalam kondisi baik (0,95-1,05). Rasio betina dan jantan secara keseluruhan yaitu 1,54 : 1, yang menunjukkan populasi betina secara nyata lebih banyak dari pada jantan.
Length-weight relationship and condition factor of an endemic Lagusia micracanthus Bleeker, 1860 in Rivers of the Maros Watershed Muhammad Nur; M. Fadjar Rahardjo; Charles P.H Simanjuntak; Djumanto Djumanto; Krismono Krismono
Jurnal Iktiologi Indonesia Vol 20 No 3 (2020): October 2020
Publisher : Masyarakat Iktiologi Indonesia (Indonesian Ichthyological Society)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32491/jii.v20i3.532

Abstract

Lagusia micracanthus is one of endemic freshwater fish in Sulawesi. It also has been locally consumed. The purpose of this research was to analyze length-weight relationship and condition factors of L. micracanthus in rivers of the Maros Watershed, South Sulawesi Province . The study was conducted in three rivers, namely Pattunuang River, Bantimurung River and Pucak River. The sampling was conducted monthly from May 2018 to April 2019. Fish samples were collected by an electric shocker (12 V and 9 A). A total of 1850 individual fishes with samples ranging from 31.58-127.79 mm in total length and 0.76-31.07 g in weight. The length-weight relationship was W = 0.00009L2.6241 (r = 0.95) in Pattunuang River, W = 0.0001L2.5237 (r = 0.94) in Bantimurung River, and W = 0.0001L2.4953 (r = 0.92) in Pucak River. The slope (b) values of L. micracanthus obtained a negative allometric growth pattern (b <3). The relative condition factors of L. micracanthus was fluctuated from 0.86 to 1.43 in Pattunuang River, 0.65 to 1.45 in Bantimurung River, and 0.55 to 1.26 in Pucak River. The condition factor increased towards the peak of the spawning season and decreased after the spawning period. The condition factor increased with the increasing of gonad maturity stage up to stage IV and decreased after spawned or stage V. Abstrak Lagusia micracanthus merupakan salah satu ikan endemik air tawar Sulawesi.Ikan ini telah lama dimanfaatkan masyarakat lokal sebagai ikan konsumsi. Penelitian ini bertujuan menganalisis hubungan panjang-bobot dan faktor kondisi L. micracanthus di sungai-sungai pada Daerah Aliran Sungai Maros, Provinsi Sulawesi Selatan. Penelitian dilakukan di tiga Sungai yaitu Sungai Pattunuang, Sungai Bantimurung dan Sungai Pucak. Pengambilan ikan contoh dilakukan setiap bulan dari Mei 2018 hingga April 2019. Penangkapan ikan contoh menggunakan alat tangkap electric shocker (12 V & 9 A). Total ikan yang tertangkap sebanyak 1850 ekor dengan panjang berkisar 31,58-127,79 mm dan bobot 0,76-31,07 g. Hasil penelitian menunjukkan, hubungan panjang bobot L. micracanthus di Sungai Pattunuang adalah W = 0,00009L2,6241 (r = 0,95), Sungai Bantimurung W= 0,0001L2,5237 (r = 0,94) dan Sungai Pucak W = 0,0001L2,4953 (r = 0,92). Berdasarkan nilai b yang diperoleh L. micracanthus tergolong ke dalam tipe pertumbuhan allometrik negatif (b < 3). Nilai faktor kondisi ikan pirik berfluktuasi. Di Sungai Pattunuang nilai faktor kondisi berkisar antara 0,55-1,26, di Sungai Bantimurung berkisar 0,65-1,45 dan di Sungai Pucak berkisar 0,55-1,26. Faktor kondisi meningkat menjelang puncak musim pemijahan dan menurun setelah masa pemijahan. Faktor kondisi meningkat seiring peningkatan tingkat kematangan gonad sampai pada TKG IV dan menurun setelah ikan berpijah atau pada TKG V.
Growth performance and survival rate of catfish (Pangasianodon hypophthalmus) juvenile which is reared in recirculation system Yuke Eliyani; Iin Siti Djunaidah; Sujono Sujono
Jurnal Iktiologi Indonesia Vol 20 No 3 (2020): October 2020
Publisher : Masyarakat Iktiologi Indonesia (Indonesian Ichthyological Society)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32491/jii.v20i3.533

Abstract

Although recirculation is a cultivation system that has been tried in various commodities, but the effectiveness of this system to the growth and survival of catfish juvenile has not been done. This study aims to determine the effective-ness of recirculation system on growth performance and survival rate of catfish juvenile (Pangasianodon hypophthal-mus). The research was conducted from 11 October to 30 November 2019 at hatchery unit Department of Fisheries Extension, Jakarta Technical University of Fisheries. This study used experimental method with 3 treatments, namely Control (K: 100% Bioball + Bacillus sp.), Treatment 1 (P1: 50% Bioball + 25% zeolite + 25% resin + Bacillus sp.) and Treatment 2 (P2: Bioball 25 % + zeolit 50% + resin 25% + Bacteria Bacillus sp.). The catfish used in this study was measured 0.08 + 0.02 g. Ind.-1. The fish were kept in a concrete tub of 100 cm x 150 cm x 70 cm with water volume of 750 liters tub-1. Stocking density of fish was 5 fish liters-1. Fish juveniles were fed with commercial feed with a dose of 3% of fish biomass with frequency of 3 times a day-1. Observation fish growth and water sampling for monitoring of the abundance of nitrogen-decomposing bacteria and water quality were carried out every 15 days. The results showed that the highest growth weight of catfish seedlings was found in treatment P1 (0.447±0.142b) compared with K (0.377±0.047a) and P2 (0.363±0.057a) treatment. The values of survival rate for K, P1 and P2 treatments were 51±8, 54±4 and 52±8, respectively. This result implies that no significant difference in the survival rates in all treatments. Abstrak Resirkulasi merupakan salah satu sistem budi daya yang telah dicobakan pada berbagai komoditas, namun bagai-mana efektifitasnya terhadap pertumbuhan dan sintasan yuwana ikan patin belum dilakukan. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pengaruh efektifitas sistem resirkulasi terhadap kinerja pertumbuhan dan sintasan yuwana patin (Pangasianodon hypophthalmus). Penelitian dilaksanakan dari tanggal 11 Oktober sampai 30 November 2019 di panti pembenihan Program Studi Penyuluhan Perikanan, Politeknik Ahli Usaha Perikanan. Penelitian menggunakan metode eksperimental dengan 3 perlakuan yaitu Kontrol (K: Bioball 100% + Bakteri Bacillus sp), Perlakuan 1 (P1: Bioball 50% + zeolit 25%+resin 25% + Bakteri Bacillus sp) dan Perlakuan 2 (P2: Bioball 25% + zeolit 50%+ resin 25% + Bakteria Bacillus sp). Ikan yang digunakan adalah yuwana patin berukuran 0,08+0,02 g ekor-1. Ikan dipelihara pada bak beton berukuran 100 cm x 150 cm x 70 cm dengan volume air 750 liter/bak. Padat tebar ikan adalah 5 ekor liter-1. Pakan yang digunakan adalah pakan komersial, dosis 3% biomassa dan frekuensi 3 kali hari-1. Pengamatan pertumbuhan sampel ikan dan pengambilan sampel air untuk kelimpahan bakteri pengurai nitrogen serta kualitas air dilakukan setiap 15 hari. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pertumbuhan bobot yuwana ikan patin tertinggi berada pada P1 (0,447± 0,142b) dibandingkan dengan K (0,377±0,047a) dan P2 (0,363±0,057a). Nilai sintasan pada perlakuan K, P1 dan P2 berturut-turut 51±8%, 54±4% dan 52±8%. Hasil ini menunjukkan bahwa tidak ada perbedaan yang nyata dari nilai sintasan pada semua perlakuan.
The color quality of Sumatra barb Puntigrus tetrazona (Bleeker, 1855) in different light spectrum exposure Wijianto Wijianto; Kukuh Nirmala; Yuni Puji Hastuti; Eddy Supriyono
Jurnal Iktiologi Indonesia Vol 20 No 3 (2020): October 2020
Publisher : Masyarakat Iktiologi Indonesia (Indonesian Ichthyological Society)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32491/jii.v20i3.534

Abstract

The color quality of Sumatra barb that cultivated by the farmers are not as good as the fish that collected from the wild. One of the causes is the unsuitable environment for maintaining and breeding Sumatran barb. This research aims to compare color quality of Sumatra barb Puntigrus tetrazona by exposure the different light spectrums on maintenance media. The experiment was completely randomize design with six treatments and three replications consisted of K (control), R (room light), M (red light spectrum), H (green light spectrum), B (blue light spectrum) and P (white light spectrum). The method used to measure Sumatra barb color quality using Photoshop CS 5 software and chromatophore cell calculations. The results of color quality analysis after 28 showed that the (M) treatment had the highest percentage of color quality was 48.81 ± 1.57% for orange color and 32.26 ± 0.07% for black color. The highest number of chromatophore cells was in M treatment with 147 ± 3.7 cells mm-². The red light spectrum (M) treatment showed the best physiological response and improvement of color quality and the glucose level was 23.00 ± 1.00 mg dL−1. The best color quality of the Sumatra barb is produced by exposure to the red light spectrum (M). Abstrak Ikan sumatra hasil budi daya petani belum mencapai kualitas warna yang cukup baik dibandingkan hasil tangkapan di alam. Salah satu penyebabnya adalah lingkungan pemeliharaan serta penangkaran ikan sumatra yang tidak sesuai. Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi kualitas warna ikan sumatra Puntigrus tetrazona dengan paparan spek-trum cahaya berbeda pada media pemeliharaan. Penelitian ini menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL) yang terdiri atas enam perlakuan dan tiga ulangan yaitu kontrol (K), cahaya ruang (R), spektrum cahaya merah (M), spek-trum cahaya putih (P), spektrum cahaya biru (B), dan spektrum cahaya hijau (H). Metode yang digunakan untuk mengukur kualitas warna ikan sumatra yaitu perangkat lunak Photoshop CS 5 dan perhitungan sel kromatofora. Hasil analisis kualitas warna setelah 28 hari menggunakan perangkat lunak Photoshop CS5 menunjukkan perlakuan spek-trum cahaya merah (M) memiliki kualitas warna terbaik dengan persentase sebesar 48,81±1,57% untuk warna jingga dan 32,26±0,07% untuk warna hitam. Jumlah sel kromatofora tertinggi yaitu pada perlakuan spektrum cahaya merah (M) yaitu sebesar 147,3±3,7 sel mm-2. Spektrum cahaya merah (M) menunjukkan respons fisiologis dan peningkatan kualitas warna yang terbaik. Kadar glukosa pada perlakuan spektrum cahaya merah (M) yaitu sebesar 23,00±1,00 mg dL-1. Kualitas warna ikan sumatra Puntigrus tetrazona terbaik dihasilkan oleh paparan spektrum cahaya merah (M).
Digestive system and growth performance of African catfish larvae Clarias gariepinus, (Burchell, 1822) maintained with biofloc technology with the addition of Chlorella sp. Sujaka Nugraha; Julie Ekasari; M Zairin Junior; Widanarni Widanarni
Jurnal Iktiologi Indonesia Vol 20 No 3 (2020): October 2020
Publisher : Masyarakat Iktiologi Indonesia (Indonesian Ichthyological Society)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32491/jii.v20i3.535

Abstract

The production of catfish in aquaculture is still limited by the low supply of good quality seeds. One solution that can be done to overcome this problem is by the application of biofloc technology with microalgae addition. This study aims to evaluate the performance of digestive system, growth and robustness of the African catfish larvae maintained with biofloc technology and the addition of Chlorella sp. This research applied a completely randomized experimental design consisted of three treatments and triplicates, i.e larvae maintained with regular water exchange as the control (K), larvae maintained biofloc system (BF) and larvae reared with biofloc treatment and Chlorella sp. addition (BFC) with a rearing period of 15 days. Length growth, specific growth rate, condition factor, the activity of protease, amylase and lipase were not significantly different between treatments (P>0.05). The villi length in fish maintained in BF treatmen (136μm), was higher than those of BFC (121μm) and K treatments (105μm). The particle size of floc in BF and BFC were 0.44±0.025 and BFC 0.79±0.048 mm, respectively. The survival of catfish larvae in the BFC treatment was (51 ± 0,32)b, which was significantly higher (P<0.05) than those of K (45±0.52)a and BF (45±0.15)a. The results of stress test using 15 g L-1 water salinity demonstrated that the fish maintained in BFC has a higher survival (63%) than those of BF (47%) and K (43%). Overall results of the present study showed that the addition of Chlorella sp. could improve the growth performance and robustness of African catfish larvae against salinity stress. Abstrak Produksi ikan lele dalam budidaya masih dibatasi oleh rendahnya pasokan benih yang berkualitas baik, karena permasalahan ketersediaan nutrisi yang berkualitas selama pemeliharaan larva. Salah satu solusi meningkatkan ketersediaan dan kualitas larva adalah dengan menggunakan teknologi bioflok serta penambahan Chlorella sp. Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi kinerja sistem pencernaan, pertumbuhan dan ketahanan larva ikan lele yang dipelihara pada sistem bioflok dengan penambahan Chlorella sp. Penelitian ini menggunakan rancangan acak lengkap yang terdiri atas tiga perlakuan dan tiga ulangan, yaitu larva yang dipelihara dengan penggantian air sebagai perlakuan kontrol (K), larva yang dipelihara dengan sistem bioflok (BF), dan larva yang dipelihara dengan perlakuan bioflok dengan penambahan Chlorella sp. (BFC) dengan lama pemeliharaan selama 15 hari. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa pertumbuhan panjang, laju pertumbuhan spesifik, faktor kondisi, aktivitas protease, amilase, dan lipase antar perlakuan tidak berbeda nyata antarperlakuan (P>0,05). Vili larva ikan lele pada perlakuan BF (136 μm) lebih panjang daripada BFC (121μm) dan K (105μm). Ukuran partikel bioflok pada media BF (0,44 ± 0,025 mm) lebih rendah daripada bioflok yang terdapat pada media BFC (0,79 ± 0,048 mm). Tingkat sintasan larva ikan lele pada perlakuan BFC mencapai 51 ± 0,32% lebih tinggi (P<0,05) daripada perlakuan K sebesar 45 ± 0,52% dan BF sebesar 45 ± 0,15%. Hasil uji stres salinitas pada larva ikan lele menunjukkan bahwa larva yang dipelihara dalam media BFC memiliki tingkat sintasan tertinggi (63 ± 3,33%) dibandingkan perlakuan lainnya (P<0.05). Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa penambahan Chlorella sp. dapat meningkatkan kinerja pertumbuhan dan ketahanan larva lele terhadap uji stres menggunakan salinitas.
Prevalence of endoparasites and histopathological evaluation of intestine in Nile tilapia, Oreochromis niloticus (Linnaeus, 1758) from aquaculture pond in Janti, Polanharjo District, Klaten Regency Putri Aji Sutarni; Elisa Herawati; Agung Budiharjo
Jurnal Iktiologi Indonesia Vol 21 No 1 (2021): February 2021
Publisher : Masyarakat Iktiologi Indonesia (Indonesian Ichthyological Society)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32491/jii.v21i1.547

Abstract

Parasitic disease in aquaculture brings a great challenge to fish production. Appropriate control measure and treatment can be carried out if farmers are equipped with sufficient information on the existence of infection and its consequences on fish health. This study aimed to examine the prevalence of endoparasites in the intestine of Nile tilapia (Oreochrois niloticus) and any histological changes associated with the infection. Forty fishes were collected using purposive sampling technique at two location of aquaculture ponds in Janti village from September to December 2019. Each sampling size consisted of 10% of the total fish population in the pond. Identification of parasites was performed based on their morphology according to the standard method. Three genera of nematodes were found from fishes cultured at aquaculture ponds from local farmers, but not from that of PBIAT (Hatchery and Freshwater Fish Aquaculture). The endoparasites were identified as Cichlidogyrus sp., Acanthocephalus sp., and Ceratomyxa sp. with prevalence of 25% and intensity of 1.2%. Histological sections of the intestine of fish infected with these parasites showed alteration in the mucosa layers, such as edema and extension of the mucosa. Information on the presence of endoparasites and its effect on nile tilapia culture is important for fish farmers because it can be used as reference to control fish parasites effectively. Abstrak Penyakit ikan yang disebabkan oleh parasit menjadi tantangan besar bagi produksi ikan. Langkah pengendalian dan metode pengobatan yang tepat dapat dilakukan apabila pembudidaya ikan memiliki informasi yang cukup mengenai adanya infeksi parasit dan dampaknya terhadap kesehatan ikan. Penelitian ini bertujuan untuk menghitung prevalensi endoparasit pada intestinum ikan nila (Oreochromis niloticus) dan mengetahui perubahan histologis yang berasosiasi dengan infeksi tersebut. Pengambilan sampel sebanyak 40 ikan dilakukan dengan teknik purposive sampling di dua lokasi kolam budidaya di Desa Janti pada bulan September-Desember 2019. Jumlah ikan yang diambil merupakan 10% dari total populasi ikan di tiap kolam. Identifikasi parasit dilakukan berdasarkan morfologinya sesuai dengan metode standar. Tiga genera nematoda ditemukan pada sampel ikan yang dibudidayakan di kolam budidaya warga, sedangkan sampel ikan dari kolam Perbenihan dan Budidaya Ikan Air Tawar (PBIAT) tidak mengandung parasit. Endoparasit yang teridentifikasi yaitu Cichlidogyrus sp., Acanthocephalus sp., dan Ceratomyxa sp. dengan prevalensi sebesar 25% dan intensitas sebesar 1,2%. Jaringan intestinum ikan yang terinfeksi parasit menunjukkan adanya perubahan pada lapisan mukosa berupa edema dan perluasan tunika mukosa. Informasi tentang keberadaan endoparasit dan pengaruhnya pada ikan nila sangat penting bagi para pembudidaya ikan karena dapat menjadi acuan untuk pengendalian parasit secara efektif.
Effect of fermented rice bran concentration using Lactobacillus sp in artificial feed on growth performance and enzyme activity of tilapia Oreochromis niloticus (Linnaeus, 1758) Surianti Surianti; Fitratul Muaddama; Wahyudi Wahyudi; Sri Wahyuni Firman
Jurnal Iktiologi Indonesia Vol 21 No 1 (2021): February 2021
Publisher : Masyarakat Iktiologi Indonesia (Indonesian Ichthyological Society)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32491/jii.v21i1.548

Abstract

This study aims to determine the effect of the dose of fermented rice bran using Lactobacillus sp. on growth performance and enzyme activity in tilapia. This research was conducted in Sidenreng Rappang Regency. The test animal used was tilapia larvae measuring 1.17 g. The maintenance container is a tarp pool with a size of 1 m x 1 m x 1 m filled with fresh water as much as 85 L. The study was designed using a completely randomized design consisting of four treatments and three replications, thus there were 12 experimental units. The treatment was determined based on the dose of fermented rice bran using Lactobacillus sp. which differ, namely 0, 10, 15 and 20%. The test feed was given to tilapia larvae, which were stocked with 20 fish per container for 60 days of rearing. The specific growth rate data of tilapia were analysed using analysis of variance (ANOVA) and enzyme activity was analysed descriptively based on the viability of tilapia. The results showed that tilapia fed with 20% fermented rice bran had a significant effect on the specific growth rate, protease and amylase enzyme activity. The optimal dosage of fermented rice bran using Lactobacillus sp. is 15-20%. Abstrak Penelitian ini bertujuan menentukan pengaruh dosis dedak padi terfermentasi menggunakan Lactobacillus sp. terhadap kinerja pertumbuhan dan aktivitas enzim pada ikan nila. Penelitian ini dilaksanakan di Kabupaten Sidenreng Rappang. Hewan uji yang digunakan adalah larva ikan nila berukuran 1,17 g. Wadah pemeliharaan adalah kolam terpal dengan ukuran 1 m x 1 m x 1 m yang diisi air tawar sebanyak 85 L. Penelitian didesain dengan menggunakan Rancangan Acak Lengkap yang terdiri atas empat perlakuan dan tiga ulangan, dengan demikian terdapat 12 satuan percobaan. Perlakuan ditentukan berdasarkan dosis dedak padi terfermentasi menggunakan Lactobacillusp. yang berbeda yaitu 0, 10, 15 dan 20 %. Pakan uji diberikan pada larva ikan nila yang ditebar 20 ekor setiap wadah selama 60 hari pemeliharaan. Data laju pertumbuhan spesifik ikan nila yang diperoleh dianalisis dengan menggunakan analisis ragam (ANOVA) dan aktivitas enzim dianalisis secara deskriptif berdasarkan kelayakan hidup ikan nila. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ikan nila yang diberi pakan dengan kandungan dedak padi terfermentasi 20% memberikan pengaruh yang signifikan terhadap laju pertumbuhan spesifik, aktivitas enzim protease dan amilase. Dosis dedak padi terfermentasi menggunakan Lactobacillus sp. yang optimal yaitu 15-20%.
Effect of periodic feed retrictions and refeeding on compensatory growth and blood physiology of of red tilapia (Oreochromis spp.) Adam Robisalmi; Kartiawati Alipin; Bambang Gunadi
Jurnal Iktiologi Indonesia Vol 21 No 1 (2021): February 2021
Publisher : Masyarakat Iktiologi Indonesia (Indonesian Ichthyological Society)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32491/jii.v21i1.549

Abstract

Red tilapia is a one of the economically important fish species. In order to increase growth and feed efficiency, feed restriction strategies can be carried out. This study aims to determine the effect of periodic (weekly) restriction of feed on compensatory growth and physiological responses of red tilapia during the enlargement phase. The activity was carried out at the Fish Breeding Research Center for 4 months. The research method used a completely randomized design (CRD) 4 treatments with 3 replications, namely control (fish were fed daily), 1 (1 fasting day a week), 2 (2 fasting days a week), and 3 (3 fasting days a week). Fish rearing was conducted on the concrete tub measuring 2 x 1 x 0.8 m3 with a stocking density of 10 fish m-2. During the maintenance period of 120 days the fish were fed satiation twice a day. The results showed significant differences (P <0.05) in the value of weight growth, specific growth rate, daily growth and feed conversion ratio between control and other treatments, but not significantly different from treatment S1. The highest survival value was indicated by S1 treatment. The blood faal values of fish that were given feed restrictions consisting of red blood cells, white blood cells, hematocrit and hemoglobin showed that there was not significantly different than control fish (P> 0.05), which was at normal values. Restriction of feed to 1 day a week showed partial compensatory growth with better feed efficiency than fish fed daily. Abstrak Ikan nila merah merupakan salah satu jenis ikan yang memiliki nilai ekonomis tinggi. Peningkatan pertumbuhan dan efisiensi pakan dapat dilakukan dengan strategi pembatasan pakan. Penelitian ini bertujuan untuk menentukan pengaruh pembatasan dan pemberian pakan kembali secara berkala (setiap minggu) terhadap pertumbuhan kompensatori dan kondisi fisiologis ikan nila merah selama fase pembesaran. Kegiatan dilakukan di Balai Riset Pemuliaan Ikan selama 4 bulan. Metode penelitian menggunakan Rancangan Acak Lengkap 4 perlakuan dengan 3 kali ulangan yaitu kontrol (ikan diberi pakan setiap hari), 1 (1 hari puasa dalam seminggu), 2 (2 hari puasa dalam seminggu), dan 3 (3 hari puasa dalam seminggu). Pemeliharaan dilakukan pada bak beton ukuran 2 x 1 x 0,8 m3 dengan padat tebar 10 ekor m-2. Selama masa pemeliharan 120 hari ikan diberi pakan secara satiasi dua kali sehari. Hasil penelitian menunjukkan perbedaan nyata (P<0,05) pada nilai pertumbuhan bobot, laju pertumbuhan spesifik, pertumbuhan harian dan nisbah konversi pakan antara kontrol dengan perlakuan lainnya, namun tidak berbeda nyata dengan perlakuan 1. Adapun nilai sintasan tertinggi ditunjukkan perlakuan 1. Nilai faal darah ikan yang diberi pembatasan pakan terdiri sel darah merah, sel darah putih, hematokrit dan hemoglobin menunjukkan hasil yang tidak berbeda nyata dibandingkan ikan kontrol (P>0,05) yaitu berada pada nilai normal. Pembatasan pakan 1 hari dalam seminggu menunjukkan pertumbuhan kompensatori parsial dengan efisiensi pakan yang lebih baik dibanding ikan yang diberi pakan setiap hari.
Length-weight relationship of bigeye scad, Selar crumenophthalmus (Bloch, 1793): Regular vs hierarchical bayesian methods BG Hutubessy; VPY Likumahuwa; JW Mosse
Jurnal Iktiologi Indonesia Vol 21 No 1 (2021): February 2021
Publisher : Masyarakat Iktiologi Indonesia (Indonesian Ichthyological Society)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32491/jii.v21i1.550

Abstract

Fisheries management or conservation requires information on length-weight relationship (LWR) for the fishing regulation and biomass estimation. This study aims to assess LWR estimation using two methods, regular and Bayesian hierarchical approached for big-eye Scad (Selar crumenophthalmus). Samples of big eye Scad were collected at several fish landings around Ambon Island from March to August 2020. Length-weight relationship measurement to obtain the parameters of W = a*Lb was tested using generalized linear model and t-test. The parameter b for monthly sampling was not significantly different (F = 0.77, df = 70, P = 0.89) and showed isometric growth b=3 (t = -1.13, df = 4, P = 0.32). Regular measurement resulted parameter log10(a) = -1.99 (±SD = 1.06) dan b = 3.06 (±SD = 0.084). Bayesian method produced parameter log10(a) = -2.07 (±SD = 0.2365) dan parameter b = 3.21 (±SD = 0.1497). Weight measurement from HB approach was significantly higher than the regular method (t = 1.65; df = 405; P <0.0001), and might produce over-estimated of weight from length data. Discrepancy of these methods was overcome by combining all information of LWR to obtain the best estimation on LWR parameters. Abstrak Pengelolaan perikanan atau konservasi memerlukan informasi tentang bobot ikan untuk estimasi biomassa dan regulasi penangkapan. Tujuan penelitian ini adalah untuk membandingkan hubungan panjang-bobot hasil pendekatan hirarki bayesian dengan pengukuran regresi langsung ikan selar bentong, Selar crumenophthalmus. Ikan selar bentong dikoleksi dari lima tempat pendaratan ikan di Pulau Ambon dari bulan Maret hingga Agustus 2020. Pengukuran panjang total dan bobot ikan selar bentong bertujuan untuk memperoleh hubungan panjang-bobot dengan formulasi W = a*Lb. Uji general linear model dipakai untuk menguji parameter b (kemiringan) pada bulan pengamatan yang berbeda. Uji-t satu sampel dipakai untuk menguji pertumbuhan isometrik (b=3). Hasil penghitungan hubungan panjang-bobot berdasarkan pengukuran langsung dibandingkan dengan hasil estimasi dengan pendekatan bayesian dan diuji dengan uji-t. Nilai parameter b dari pengamatan langsung tidak berbeda untuk bulan pengamatan (F = 0,77, df = 70, P = 0,89) dan ikan selar memiliki pola pertumbuhan isometrik, b=3 (t = -1,13, df = 4, P = 0,32). Pengukuran regresi langsung memperoleh parameter log10(a) = -1,99 (±sb = 1,06) dan b = 3,06 (±sb = 0,084). Metode Bayesian menghasilkan parameter log10(a) = -2,07 (±sb = 0,2365) dan parameter b = 3,21 (±sb = 0,1497). Estimasi bobot dengan pendekatan bayesian terlalu tinggi (t = 1,65; df = 405; P < 0,0001), memungkinkan timbulnya bias pada pendugaan biomassa. Hasil ini berarti metode bayesian adalah over estimasi, sehingga perlu banyak data dan info yang digabung untuk menekan bias dalam mengestimasi hubungan panjang-bobot dan biomassa.

Page 8 of 42 | Total Record : 420


Filter by Year

2001 2022


Filter By Issues
All Issue Vol 22 No 2 (2022): June 2022 Vol 22 No 1 (2022): February 2022 Vol 21 No 3 (2021): October 2021 Vol 21 No 2 (2021): June 2021 Vol 21 No 1 (2021): February 2021 Vol 20 No 3 (2020): October 2020 Vol 20 No 2 (2020): June 2020 Vol 20 No 1 (2020): February 2020 Vol 19 No 3 (2019): October 2019 Vol 19 No 2 (2019): June 2019 Vol 19 No 1 (2019): February 2019 Vol 18 No 3 (2018): October 2018 Vol 18 No 2 (2018): June 2018 Vol 18 No 1 (2018): February 2018 Vol 17 No 3 (2017): October 2017 Vol 17 No 2 (2017): June 2017 Vol 17 No 1 (2017): February 2017 Vol 16 No 3 (2016): October 2016 Vol 16 No 2 (2016): June 2016 Vol 16 No 1 (2016): February 2016 Vol 15 No 3 (2015): October 2015 Vol 15 No 2 (2015): June 2015 Vol 15 No 1 (2015): Februari 2015 Vol 14 No 3 (2014): Oktober 2014 Vol 14 No 2 (2014): Juni 2014 Vol 14 No 1 (2014): Februari 2014 Vol 13 No 2 (2013): Desember 2013 Vol 13 No 1 (2013): Juni 2013 Vol 12 No 2 (2012): Desember 2012 Vol 12 No 1 (2012): Juni 2012 Vol 11 No 2 (2011): Desember 2011 Vol 11 No 1 (2011): Juni 2011 Vol 10 No 2 (2010): Desember 2010 Vol 10 No 1 (2010): Juni 2010 Vol 9 No 2 (2009): Desember 2009 Vol 9 No 1 (2009): Juni 2009 Vol 8 No 2 (2008): Desember 2008 Vol 8 No 1 (2008): Juni 2008 Vol 7 No 2 (2007): Desember 2007 Vol 7 No 1 (2007): Juni 2007 Vol 6 No 2 (2006): Desember 2006 Vol 6 No 1 (2006): Juni 2006 Vol 5 No 2 (2005): Desember 2005 Vol 5 No 1 (2005): Juni 2005 Vol 4 No 2 (2004): Desember 2004 Vol 4 No 1 (2004): Juni 2004 Vol 3 No 2 (2003): Desember 2003 Vol 3 No 1 (2003): Juni 2003 Vol 2 No 2 (2002): Desember 2002 Vol 2 No 1 (2002): Juni 2002 Vol 1 No 2 (2001): Desember 2001 Vol 1 No 1 (2001): Juni 2001 More Issue