cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota adm. jakarta pusat,
Dki jakarta
INDONESIA
SALINGKA
ISSN : 02161389     EISSN : 26153963     DOI : -
Core Subject :
SALINGKA: Journal of Language Studies is published by the National Agency for Language Development and Cultivation. It is a research journal which publishes various research reports, literature studies and scientific writings on phonetics, phonology, morphology, syntax, discourse analysis, pragmatics, anthropolinguistics, language and culture, dialectology, language documentation, forensic linguistics, comparative historical linguistics, cognitive linguistics, computational linguistics, corpus linguistics, neurolinguistics, language education, translation, language planning, psycholinguistics, sociolinguistics and other scientific fields related to language studies. It is published periodically twice a year in June and December.
Arjuna Subject : -
Articles 140 Documents
MODUL PEMBELAJARAN MENULIS CERPEN SEBAGAI PENUNJANG PEMBELAJARAN JARAK JAUH UNTUK SMP A Learning Module of Short Story Writing As a Tool of Distance Learning to Junior High School Dina Ramadhanti; Diyan Permata Yanda; Irfani Basri; Abdurahman Abdurahman
SALINGKA Vol 17, No 2 (2020): SALINGKA, Edisi Desember 2020
Publisher : Balai Bahasa Sumatra Barat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26499/salingka.v17i2.433

Abstract

AbstrakArtikel ini menjelaskan tentang produk pendidikan berupa modul pembelajaran menulis cerpen yang dapat digunakan sebagai alat bantu pembelajaran jarak jauh di SMP. Modul pembelajaran ini disusun dengan harapan dapat mengurangi permasalahan-permasalahan pembelajaran yang dialami oleh siswa dan guru selama pelaksanaan pembelajaran jarak jauh. Penelitian ini merupakan penelitian pengembangan RD yang bertujuan untuk menyusun produk pendidikan berupa modul pembelajaran. Setelah dilakukan validasi, evaluasi, dan revisi, modul pembelajaran ini dinyatakan valid, praktis, dan secara efektif dapat digunakan dalam proses pembelajaran. Modul pembelajaran ini dirancang untuk menumbuhkan kemandirian siswa dalam belajar sehingga sangat tepat digunakan sebagai alat bantu serta memudahkan proses pembelajaran jarak jauh, khususnya untuk pembelajaran menulis cerpen.Kata Kunci: Modul Pembelajaran, Cerpen, Pembelajaran Jarak Jauh AbstractThis article describes an educational product in the form of a short story writing learning module that can be used as a distance learning aid in junior high schools. This learning module is structured with the hope of reducing learning problems experienced by students and teachers during the implementation of distance learning. This research is an RD development research that aims to develop educational products in the form of learning modules. After validation, evaluation, and revision, this learning module is declared valid, practical, and effective so that it can be used in the learning process. This learning module is designed to foster students' independence in learning so that it is very appropriate to be used as a tool and facilitate the distance learning process, especially for learning to write short stories.Keywords: A Learning Module, Short Story, Distance Learning 
PEMBELAJARAN BIPA YANG MENYENANGKAN: KEINGINAN PEMELAJAR Exciting BIPA Learning: The Desire of Learners Defina Defina
Salingka Vol 18, No 2 (2021): SALINGKA, Edisi Desember 2021
Publisher : Balai Bahasa Sumatra Barat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26499/salingka.v18i2.575

Abstract

AbstrakTujuan pembelajaran bahasa akan berhasil jika pembelajaran itu menyenangkan bagi pemelajar. Untuk mengetahui pembelajaran bahasa yang menyenangkan bagi pemelajar adalah dengan melakukan evaluasi pembelajaran dari perspektif pemelajar. Tujuan penulisan ini adalah mendeksripsikan bentuk pembelajaran bahasa Indonesia bagi penutur asing (BIPA) yang menyenangkan bagi pemelajar   ACICIS 'Agriculture Professional Practicum (APP) 2019. Teori yang digunakan adalah teori evaluasi dan aspek evaluasi dalam pembelajaran bahasa serta konsep pembelajaran yang menyenangkan. Sementara itu, penelitian ini adalah penelitian deskriptif dengan teknik pengumpulan data melalui observasi, kuesioner, dan wawancara. Jumlah responden 10 orang pemelajar dan informan satu orang, koordinator ACICIS IPB. Hasilnya, pembelajaran yang menyenangkan bagi pemelajar adalah adanya kejelasan tujuan pembelajaran; tema-tema yang menarik, seperti pertanian; teks, tugas, materi tata bahasa, dan budaya yang memotivasi dengan tidak menyulitkan pemelajar; dan teknik mengajar pengajar yang menyenangkan. Kesimpulan, pembelajaran bahasa asing haruslah tidak mempesulit pemelajar, namun harus menyenangkan sehingga meningkatkan motivasi belajar.
Bentuk dan Makna Ungkapan Sehari-hari Dalam Bahasa Melayu Dialek Musi Oleh Masyarakat Banyuasin III (Form and Meaning of Daily Expressions in Melayu Language Dialeks Musi by Banyuasin III Society) Imron Hadi
SALINGKA Vol 18, No 1 (2021): SALINGKA, Edisi Juni 2021
Publisher : Balai Bahasa Sumatra Barat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26499/salingka.v18i1.327

Abstract

AbstrakUngkapan merupakan hasil pikiran kreatif masyarakat untuk menyampaikan perasaan, dan pendapatmereka terhadap suatu fenomena. Masyarakat Banyuasin III juga memiliki ungkapan untukmenggambarkan suatu fenomena tertentu namun ungkapan sudah jarang digunakan terutama dikalangan generasi muda. Hal itu disebabkan pengaruh penggunaan bahasa assing yang dominanyang menggantikan ungkapan sehari-hari yang biasa digunakan. Artikel ini bertujuan untukmengungkapkan bentuk dan makna ungkapan yang digunakan masyarakat Banyuasin III denganmenggunakan metode deskriptif dan metode agih, yaitu teknik rekam dan simak libat cakap. Hasilpembahasan menunjukkan terdapat bentuk dan makna ungkapan sehari-hari oleh masyarakatBanyuasin III meliputi ungkapan yang menyatakan perilaku dan sikap. Bentuk ungkapan perilakuterbagi dalam dua bentuk, yaitu (1) bentuk ungkapan reaksi aktif, seperti langguk nian, nengarkate, tungkang nian, dan lain-lain, (2) bentuk ungkapan reaksi pasif, seperti mupus semunduk,mungge aisan, talu nian, dan lain-lain. Bentuk ungkapan yang menyatakan sikap juga ditemukan,seperti mati geni, bengklok nian, bunyan bange, besak kelakar, besak untap, dan lain sebagainya.Berdasarkan hasil pembahasan dapat disimpulkan bahwa ungkapan sehari-hari yang digunakanmasyarakat terdiri atas dua bentuk, perilaku dan sikap.Kata kunci: bentuk, makna, ungkapan sehari-hari.AbtractThe expression is the result of people’s creative minds to convey their feeling dan opinionsabout a phenomenon. Banyuasin III society also have expressions to describe a certainphenomenon. However, the their daily expressions are rarely used, especially among younggeneration. This is due to the influence of the dominant use of other languages which replacethat commonly used daily expressions. This article aims to reveal the form and meaning ofthe expressions used by the Banyuasin III society by using descriptive methods, that is recordingand listen and active participant. The results of the discussion show that there are forms andmeanings of daily expressions by Banyuasin III communities including expressions that statebehavior and attitudes. Forms of behavioral expression are divided into two forms, namely(1) active reaction expressions, such as langguk nian, nengar kate, tungkang nian, etc., (2)pasif expression, such as mupus semunduk, mungge aisan, talu nian, etc., (2) pasif expression,such as mupus semunduk, mungge aisan, talu nian, etc. The forms of expressions that stateattitudes are also found, such as mati geni, bengklok nian, bunyan bange, besak kelakar,besak untap, and so forth. Based on the results of the discussion it can be concluded that thedaily expressions used by the community consist of two forms, behavior and attitude.Keywords: form, meaning, daily expressions.
PEMAKAIAN VERBA BERMAKNA MEMOTONG DALAM BAHASA MELAYU MUSI OLEH PELADANG DI KABUPATEN BANYUASIN naqeza naqeza
Salingka Vol 15, No 2 (2018): SALINGKA, Edisi Desember 2018
Publisher : Balai Bahasa Sumatra Barat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26499/salingka.v15i2.212

Abstract

The use of verbs meant cutting by peladang have been decreased as an impact of agriculture modernization system. This research aims at showing and conservate how the verbs meant cutting are used. The method used is decriptive qualitative with three strategic steps, those are data collecting, data analizing, and research result. The results show that the verbs meant cutting were found in term of cutting objek using tools, such menutoh, menetak, memancong, menjempong, mengerap, merandan, menyeset, menyiang, melelet, menyiser, menuntong, menumang, melayang, meruntoh, meriding, mengarit, menyesap, menunas, menyuguh, mengetam, mengocek, mengelanit, mengelayak, mencantiki, meruntun, memunggam, dan mengumbuti. Then, the verbs meant cutting are not using tool, such as mengenas, menyuer, merurut, menyentak, menyentut, menggetel, memuler, menggetas, memokel, and mengirek. Then, based on the object to be cut in the horizontal, verticle, and diagonal. In short, the verbs meant cutting can be used based on the position of the object and the tool used to cut.
PENINGKATAN KETERAMPILAN BERBAHASA INDONESIA DENGAN SIMULASI TES UKBI SEBAGAI TES STANDAR BAHASA INDONESIA Syihaabul Hudaa
Salingka Vol 16, No 1 (2019): SALINGKA, Edisi Juni 2019
Publisher : Balai Bahasa Sumatra Barat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26499/salingka.v16i1.229

Abstract

Indonesian people in the correct language practice often find language barriers, one of them is the application of Indonesian language rules. In fact, in appreciating the Indonesian language, the general public is not aware of a standard test that measures language skills, namely UKBI. The purpose of writing this article is to convey that the UKBI simulation test can be used in an effort to measure ability and improve the language skills of the general public. The method used in this study is direct action by providing training. Value retrieval is carried out in two cycles, so that the differences can be seen before training. The author found a significant increase in the Semanan community's language skills. Cycle I shows the existence of a community that has a predicate: limited to 7%, marginal 7%, average 23%, middle 36%, and superior 27%. Conversely, cycle II shows an increase in predicate, namely: 17%, middle 47%, superior 33%, and very superior 3%. It can be seen that the results of the second cycle have no more people with a limited predicate.
KONJUNGSI BAN DALAM TEKS CERITA BUKU MUATAN LOKAL BAHASA MADURA: ANALISIS SINTAKSIS-SEMANTIS Nurul Fadhilah; Qoniatul Mubarokah; Sumarlam -
Salingka Vol 16, No 2 (2019): SALINGKA, Edisi Desember 2019
Publisher : Balai Bahasa Sumatra Barat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26499/salingka.v16i2.76

Abstract

Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif kualitatif yang bertujuan untuk mendeskripsikan distribusi dan makna dari penggunaan konjungsi ban. Data diperoleh dari teks cerita yang berada dalam buku muatan lokal Bahasa Madura tingkat SD dan SMP. Peneliti menggunakan pendekatan sintaksis dan semantis untuk menganalisis data dengan menerapkan teori inti mengenai konjungsi dan dari Gianto (1983). Hasil penelitian menunjukkan jika karakteristik sintaksis konjungsi ban dalam teks cerita ialah memiliki posisi tetap, berkonjungta dua atau lebih, serta terikat dengan konjungta-konjungta seperti kata, frasa, dan klausa. Dalam maknanya, konjungsi ban memiliki makna gabungan murni, evaluatif, amplikatif, parafrastif, sekuensial, kontrastif, paralel, syarat-akibat, sarana-hasil, kelonggaran-hasil, dan alasan-akibat. Selain itu, dalam bahasa Madura, penggunaan konjungsi ban memiliki keunikan pola yaitu maknanya dapat berubah menjadi oleh, dengan, dan dari yang dipengaruhi oleh pola struktur bahasa Madura itu sendiri.
Nuansa Makna Sinonim Verba Intransitif Berprefiks ter- yang Bermakna Inheren Perbuatan dalam Bahasa Indonesia Afri naldi
Salingka Vol 15, No 2 (2018): SALINGKA, Edisi Desember 2018
Publisher : Balai Bahasa Sumatra Barat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26499/salingka.v15i2.148

Abstract

Sejumlah artikel tentang sinonim sudah pernah ditulis, namun belum memberikan penjelasan secara tuntas. Artikel tentang sinonim yang dilakukan oleh peneliti terdahulu hanya membahas unsur makna yang sama pada kata yang bersinonim, namun kurang mengkaji aspek nuansa makna. Penulisan artikel ini dilakukan untuk menjelaskan nuansa makna pasangan sinonim verba intransitif berprefiks ter- yang bermakna inheren perbuatan dalam bahasa Indonesia. Jenis penelitian ini adalah kualitatif dengan menggunakan metode deskriptif. Data penelitian adalah kalimat bahasa Indonesia yang berisi sinonim verba intransitif berprefiks ter- yang bermakna perbuatan. Sumber data penelitian adalah teks tulis bahasa Indonesia yaitu buku Teks Bahasa Indonesia, koran kompas, ujaran lisan pada acara berita liputan 6, dan intuisi peneliti. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa (1) tidak semua verba intransitif yang bermakna inheren perbuatan dalam bahasa Indonesia mempunyai pasangan sinonim, (2) verba intransitif berprefiks ter- yang bermakna inheren perbuatan dalam bahasa Indonesia mempunyai jenis sinonim tidak lengkap dan tidak mutlak, dan (3) sebagian besar pasangan sinonim verba intransitif berprefiks ter- yang bermakna inheren perbuatan dalam bahasa Indonesia memiliki perbedaan nuansa makna kognitif dan sebagian kecil bernuansa makna emotif.
ANDROID BASED SYAIR APPLICATION AS AN OLD LITERATURE TEACHING INNOVATION IN THE DIGITAL ERA Yosi Wulandari; Wachid Eko Purwanto; Muh Saeful Effendi; Roni Sulistiyono; Nika Fisari
Salingka Vol 19, No 1 (2022): SALINGKA, Edisi Juni 2022
Publisher : Balai Bahasa Sumatra Barat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26499/salingka.v19i1.652

Abstract

As one of Indonesian original literary works, Syair needs to be introduced and taught proportionally. Unfortunately, in the implementation of teaching, syair still meets some constrains, including (1) Indonesian language textbooks in junior high schools contain only a small amount of material on syair. (2) syair teaching is focused on cognitive competence, so it is not attractive. (3) syair teaching material only provides the definition, the elements, and limited examples. (4) there is no digital-based teaching material specifically for syair that is used as teaching material. (5) the teacher found difficulty providing examples on how to read syair according to the song or venom. Therefore, it is necessary to develop digital-based teaching materials in syair teaching. This research uses the Research Development method developed by Borg and Gall. The research stage that has been carried out in the development stage and the teaching materials' feasibility test. Based on the feasibility test results on the Syair application, it can be concluded that this application is feasible to be applied to Class VII SMP students. In addition, based on the validator's assessment, the limited trial and large class of this application in terms of material and learning is appropriate and feasible to use to meet students' needs in learning and mastering syair.Keywords: It consists of maximum five words/phrases typed in bold style.
Pemertahanan Bahasa Bajo di Kabupaten Boalemo Asna Ntelu; Sayama Malabar; Dakia N Djou; Jafar Lantowa
Salingka Vol 19, No 1 (2022): SALINGKA, Edisi Juni 2022
Publisher : Balai Bahasa Sumatra Barat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26499/salingka.v19i1.717

Abstract

Bahasa Bajo adalah satu di antara bahasa daerah yang ada di Provinsi Gorontalo khususnya yang terdapat di Desa Bajo Kec. Tilamuta  Kab. Boalemo. Umum mata pencaharian Suku Bajo adalah nelayan tradisional. Suku  Bajo  pun  mulai  memiliki  mata  pencaharian  bukan  hanya  sebagai  nelayan, banyak  di  antara  mereka  yang  profesi  seperti  guru, pedagang,  petugas  kesehatan,  pegawai pemerintahan,  dan  lain  lain.  Dengan beragam profesi ini, berdampak pada penggunaan beragam bahasa pada masyarakat suku Bajo, namun penutur bahasa Bajo tetap memperlihatkan sikap positif sebagai upaya dalam pemertahanan bahasa Bajo. Oleh karena itu, perlu dilakukan penelitian pemertahanan bahasa Bajo di Kabupaten Boalemo. Tujuan penelitian ini adalah untuk mendeskripsikan pemertahanan bahasa Bajo melalui sikap bahasa penutur bahasa Bajo di Desa Bajo Kec. Tilamuta Kab. Boalemo Provinsi Gorontalo. Metode pengumpulan data yang digunakan adalah teknik angket dan wawancara. Data hasil penelitian yang diperoleh dari angket dan wawancara. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Berdasarkan hasil penelitian terkait penggunaan bahasa oleh masyarakat di desa Bajo, ditemukan bahwa masyarakat setempat lebih dominan menggunakan bahasa Bajo, hal ini karena masyarakat di desa Bajo tersebut mayoritas berlatar belakang suku Bajo, dibandingkan dengan suku Gorontalo atau suku lainya yang sangat minoritas di desa tersebut, sehingga dapat dikatakan bahwa bahasa yang lebih dominan digunakan oleh masyarakat di desa tersebut adalah bahasa Bajo (bahasa mayoritas). Penggunaan bahasa Bajo ditunjukkan melalu sikap masyarakat di Desa Bajo masih memiliki sikap positif. Hal ini ditandai oleh sejumlah ciri-ciri dari sikap bahasa, antara lain pemilihan, penggunaan dan pemertahanan bahasa. Selain itu, bahasa Bajo ini sangat mendominasi sehingga mengakibatkan adanya pergeseran bahasa daerah lainnya. Adanya pergeseran bahasa daerah lainnya mengindikasi pada adanya pemertahanan bahasa Bajo di Desa Bajo, Kecamatan Tilamuta, Kabupaten Boalemo
PARODI SOSIAL DALAM NOVEL PERSIDEN WISRAN HADI (Social Parody in Persiden Wisran Hadi’s Novel) Mulyadi Mulyadi
Salingka Vol 19, No 1 (2022): SALINGKA, Edisi Juni 2022
Publisher : Balai Bahasa Sumatra Barat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26499/salingka.v19i1.638

Abstract

Parodi biasanya dilakukan dalam menghadirkan kenyatan ataupun teks masa lalu ke dalam sebuah teks baru untuk mengolok-olok, menyentil, dan mengkritik sekaligus menghadirkan kejenakaan atas sebuah kenyataan sosial yang ditanggapi pengarang. Novel Persiden karangan Wisran Hadi berisi parodi tentang keluarga Rumah Bagonjong di Paraktringga yang mengalami dilema moral penerus keluarga matrilineal dan sosial di tengah kehadiran Simpang Persiden sebagai tempat hiburan yang memberi pengaruh buruk bagi generasi muda kampung Paraktuingga. Penelitan ini mengajukan masalah bagaimana bentuk parodi Wisran Hadi dalam novel tersebut dan apa fungsinya. Penelitan menggunakan pendekatan parodi menurut Hutcheon, dkk. Bahwa parodi berbeda dengan kitsch, dalam menanggapi teks masa lalu atau teks-teks di sekitarnya parodi lebih bersifat negatif. Penelitin ini menemukan dua macam parodi, pertama nama-nama tempat; parodi institusi sosial; dan parodi kekerasan dalam rumah tangga; kedua yang paling menonjol ialah parodi nama-nama karakter untuk menghasilkan kejenakaan dan satire yang sesuai dengan sifat-sifat buruk dan unik mereka. Semuanya dapat ditandai dalam bentuk plesetan nama-nama dan sifat. Dari kedua jenis parodi itu, terlihat bahwa pegarang memaksudkan parodinya sebegai kritik sosial yang jenaka sekaligus satir dan sebagai kegelisahan tentang perubahan sosial dalam gambaran sebuah keluarga matrilineal. Selain itu, novel yang becorak bahasa stilistika parodi itu juga harus didekati dengan pendekatan parodi di samping pendekatan lain agar ciri khas Wisrah Hadi dapat ditunjukkan.Kata kunci: Wisran Hadi, Persiden, parodi     Abstract  The parody is usually carried out to relay the reality or old text into new text for burlesquing, offending, criticizing, and presenting the humor of social fact considered by the author. Persiden novel of Wisran Hadi coverages a parody of Rumah Bagonjong family living in Paraktingga and experiencing the moral dilemma of matrilineal and social family invoked by the emergence of Simpang Persiden. This entertainment place has a bad influence on the young generation in the village. The study proposes how the form of Wisran Hadi parody in the novel is and what its functions are. The study pertains to the parody approach acknowledged by Hutcheon et al. That parody is distinctive with kitsch, in concerning the old texts and texts around them, parody is hostile. The study uncovers two forms of parody, firstly, name of places, social institution, and domestic violence, secondly, the most striking parody is name of characters to produce the humor and satire concerning to their bad and unique characters. All of them are marked by their playing name and behavior. Of two kinds of parody, it uncovers that the author aims his parody as witty and satire social critic as well as response of his restlessness of social change illustrated in a matrilineal family. Besides, novel figuring parody is also needs to approach using parody to expose Wisran Hadi’s style in writing.Keywords: Wisran Hadi, Persiden, parody