cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota malang,
Jawa timur
INDONESIA
Reformasi : Jurnal Ilmiah Ilmu Sosial dan Ilmu Politik
ISSN : 20887469     EISSN : 24076864     DOI : -
Core Subject : Social,
Reformasi adalah jurnal peer-review yang menerbitkan artikel tentang praktik, teori, dan penelitian di semua bidang komunikasi politik, komunikasi massa, media & gender, komunikasi pemasaran, pelayanan publik, manajemen publik, pelayanan publik, kebijakan publik, dan otonomi daerah. Scope jurnal terdiri dari sosial, politik, komunikasi. Setiap naskah yang diserahkan akan ditinjau oleh satu peer-reviewer menggunakan metode double blind review. Reformasi : Jurnal Ilmiah Ilmu Sosial dan Politik diterbitkan oleh Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik. Jurnal ini diterbitkan setiap enambulan sekali (Januari-Juni dan Juli-Desember).
Arjuna Subject : -
Articles 8 Documents
Search results for , issue "Vol 15, No 3 (2025)" : 8 Documents clear
Regional Autonomy Policy Towards the Decentralization of Education in Indonesia: A Systematic Literature Review Asyibli, Basri; Muiz, Rizqi Nurlaili; Sarmain, Sarmain; Muin, Abdul; Mu'izzuddin, Mochammad
REFORMASI Vol 15, No 3 (2025)
Publisher : Universitas Tribhuwana Tunggadewi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33366/rfr.v15i3.7218

Abstract

This study aims to explore the influence of regional autonomy on the decentralization of education in Indonesia as well as the factors that affect the successful implementation of education policies at the regional level. The method used is a systematic literature review with the PRISMA approach, which involves identification, screening, and critical analysis of 28 relevant articles. The results of the study show that the decentralization of education provides opportunities to improve the quality and efficiency of education management. However, there are significant gaps in human resource capacity, infrastructure, and funding in various regions, which can hinder the achievement of equitable and quality education goals. The implications of this study emphasize the importance of support from the central government in terms of regulation and funding, as well as strong political will from local governments to advance the education sector. In addition, active community participation is also needed to create an education system that is responsive to local needs. With good collaboration between the central government, regions, and the community, it is hoped that the goal of educating the life of the nation can be achieved more effectively and evenly throughout Indonesia. This research provides important insights for policymakers in formulating better education strategies in the era of decentralization.Penelitian ini bertujuan untuk mengeksplorasi pengaruh otonomi daerah terhadap desentralisasi pendidikan di Indonesia serta faktor-faktor yang mempengaruhi keberhasilan implementasi kebijakan pendidikan di tingkat daerah. Metode yang digunakan adalah systematic literature review dengan pendekatan PRISMA, yang melibatkan identifikasi, skrining, dan analisis kritis terhadap 28 artikel yang relevan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa desentralisasi pendidikan memberikan peluang untuk meningkatkan kualitas dan efisiensi pengelolaan pendidikan. Namun, terdapat kesenjangan signifikan dalam kapasitas sumber daya manusia, infrastruktur, dan pendanaan di berbagai daerah, yang dapat menghambat pencapaian tujuan pendidikan yang merata dan berkualitas. Implikasi dari penelitian ini menekankan pentingnya dukungan dari pemerintah pusat dalam hal regulasi dan pendanaan, serta political will yang kuat dari pemerintah daerah untuk memajukan sektor pendidikan. Selain itu, partisipasi aktif masyarakat juga diperlukan untuk menciptakan sistem pendidikan yang responsif terhadap kebutuhan lokal. Dengan kolaborasi yang baik antara pemerintah pusat, daerah, dan masyarakat, diharapkan tujuan untuk mencerdaskan kehidupan berbangsa dapat tercapai secara lebih efektif dan merata di seluruh Indonesia. Penelitian ini memberikan wawasan penting bagi pengambil kebijakan dalam merumuskan strategi pendidikan yang lebih baik di era desentralisasi. 
Menuju Model Authentic Digital Leadership: Kajian Sosiologis Kepemimpinan Otentik dalam Transformasi Digital Bahzar, Moh
REFORMASI Vol 15, No 3 (2025)
Publisher : Universitas Tribhuwana Tunggadewi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33366/rfr.v15i3.6797

Abstract

Digital leadership is needed in the digital transformation process currently underway to oversee rapid change and use of technology in various sectors of life such as trade, education, health, communications or government. This research is important for studying the sociology of authentic leadership in the digital era. This research uses a library research method sourced from writings, books, journals and research results. The results of Leadership research, which lays down the concepts and practices of how a leader mobilizes his or her resources towards a set goal, are very important in prioritizing aspects of humanism, which makes each person meaningful in that effort. The sincerity and sincerity of a leader in carrying out his leadership role selflessly will create strong motivation in his subordinates to move together towards achieving that goal. A good organizational culture can be created along with the good performance displayed by each person. Towards future leaders, universities need to seriously participate in building mechanisms for the birth of authentic leaders who are digitally literate. Kepemimpinan digital diperlukan dalam proses transformasi digital yang tengah berjalan saat ini untuk mengawal perubahan dan pemanfaatan teknologi dengan cepat di berbagai sektor kehidupan seperti perdagangan, pendidikan, kesehatan, komunikasi, atau pemerintahan. Penelitian ini penting untuk mengkaji sosiologi kepemimpinan otentik di era digital. Penelitian ini menggunakan metode tinjauan pustaka (library research) yang bersumber dari tulisan, buku, jurnal serta hasil penelitian. Hasil penelitian Kepemimpinan yang di dalamnya meletakkan konsep dan praktik bagaimana seorang pemimpin ke dalam menggerakkan sumber daya yang dimiliki menuju tujuan yang ditetapkan sangat penting mengedepankan aspek humanisme, yang membuat setiap orang bermakna dalam upaya itu. Ketulusan dan kesungguhan seorang pemimpin menjalankan peran kepemimpinannya tanpe pamrih akan dapat menimbulkan motivasi yang kuat pada bawahannya untuk bergerak bersama ke arah pencapaian tujuan itu. Budaya organisasi yang baik akan dapat diciptakan seiring dengan kinerja baik yang ditampilkan setiap orang. Menuju pemimpin masa depan, perguruan tinggi perlu secara serius turut membangun mekanisme kelahiran pemimpin-pemimpin otentik yang melek digital. 
Konstruksi Kecantikan dalam Era Simulacra : Hegemoni Media melalui Kontes Miss Universe Dan Puteri Indonesia Sinabutar, Michael Jeffri
REFORMASI Vol 15, No 3 (2025)
Publisher : Universitas Tribhuwana Tunggadewi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33366/rfr.v15i3.7275

Abstract

This article examines the transformation of beauty signification in Miss Universe and Puteri Indonesia through Jean Baudrillard’s theory of simulacra. Drawing on the political economy of media and cultural studies, the study conceptualizes beauty pageants as cultural institutions that produce and circulate global aesthetic standards within media capitalism. Using a qualitative desk-study approach, the research engages contemporary scholarship on media globalization, the beauty industry, and neoliberalism. Baudrillard’s four stages of simulacra reflection of reality, distortion of reality, masking the absence of reality, and pure simulacrum, are operationalized as analytical tools. The findings reveal a shift from representation to hyperreality, where idealized body images function as normative models continuously reproduced in digital media ecosystems. The interaction between global and local sign systems generates a form of hybrid simulacra through isomorphism, appropriation, and co-production. This study demonstrates that beauty pageants operate as sites of hyperreality production within transnational aesthetic capitalism while extending Baudrillard’s framework to the Global South context.Artikel ini menganalisis transformasi tanda kecantikan dalam Miss Universe dan Puteri Indonesia melalui teori simulacra Jean Baudrillard. Berangkat dari perspektif ekonomi politik media dan studi budaya, penelitian ini memposisikan kontes kecantikan sebagai institusi budaya yang memproduksi dan mendistribusikan standar estetika global dalam logika kapitalisme media. Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif dengan desain studi kepustakaan, memanfaatkan literatur mutakhir mengenai globalisasi media, industri kecantikan, dan neoliberalisme. Empat tahap simulacra, refleksi realitas, penyimpangan realitas, penutupan ketiadaan realitas, dan simulacrum murni, dioperasionalkan sebagai kerangka analisis. Hasil penelitian menunjukkan pergeseran dari representasi menuju hiperrealitas, di mana citra tubuh ideal menjadi model normatif yang direproduksi secara masif melalui media digital. Interaksi antara sistem tanda global dan lokal menghasilkan bentuk hybrid simulacra melalui mekanisme isomorphism, appropriation, dan co-production. Studi ini menegaskan bahwa kontes kecantikan merupakan situs produksi hiperrealitas dalam kapitalisme estetika transnasional, sekaligus memperkaya penerapan teori Baudrillard dalam konteks Global South. 
Eksistensi Aspek Modal Pierre Bordieu pada Buruh Gendong Pasar Legi Kota Surakarta Agustina, Ika; Riyanti, Ayu; Sukowati, Rani Titis
REFORMASI Vol 15, No 3 (2025)
Publisher : Universitas Tribhuwana Tunggadewi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33366/rfr.v15i3.7379

Abstract

This study aims to explain the forms of capital possessed, maintained, and expanded by Buruh Gendong (female porters) in order to gain economic benefits. Pasar Legi is the traditional market with the largest number of Buruh Gendong in Surakarta, employing approximately 300 workers. This research employs a qualitative method with an ethnographic approach, while the data analysis technique used is an interactive model. The findings indicate that Buruh Gendong possess several forms of capital that support their economic activities. First, social capital includes close ties with traders and membership in the Indonesian Transport Workers Union (SPTI). Second, economic capital consists of their main income from porter work and additional income such as peeling onions. Third, cultural capital is reflected in their ability to negotiate service prices. Fourth, symbolic capital lies in the social status they hold within the market. These capitals are closely tied to the social relations between the Buruh Gendong, traders, and customers when offering their services. Such social relations serve to maintain, expand, and exchange capital within a social arena referred to as the market. However, competition within this arena often results in conflicts among the Buruh Gendong themselves.Penelitian ini bertujuan untuk menjelaskan aspek modal yang dimiliki, dipertahankan, dan diperluas oleh Buruh Gendong untuk memperoleh keuntungan ekonomi. Pasar Legi merupakan pasar yang memiliki jumlah buruh gendong terbesar di Kota Surakarta, sebanyak 300 pekerja. Metode penelitian yang digunakan adalah kualitatif dengan pendekatan etnografi. Sedangkan teknik analisis data yang digunakan adalah analisis data model interaktif. Berdasarkan hasil penelitian, buruh gendong memiliki beberapa aspek modal dalam menunjang aktivitas ekonomi. Pertama, modal sosial yang dimiliki adalah kedekatan khusus dengan pedagang dan tergabung dalam anggota SPTI (Serikat Pekerja Transport Indonesia). Kedua, modal ekonomi yang dimiliki yaitu pendapatan utama (buruh gendong) dan pendapatan sampingan (pengupas bawang). Ketiga, modal budaya yang dimiliki adalah kemampuan negoisasi harga. Keempat, modal simbolik yang dimiliki adalah status sosial buruh gendong di pasar. Aspek modal tersebut, tidak dapat lepas dari relasi sosial antara buruh gendong dengan pedagang dan pelanggan dalam menawarkan jasanya. Relasi sosial yang terjalin untuk mempertahankan, memperluas, dan mempertukarkan aspek modal yang dipertaruhkan dalam ranah yang kita sebut pasar. Pertaruhan dalam ranah sering kali menimbulkan persaingan konflik antar buruh gendong. 
Paradoks Transparansi Semu (Hollow Transparency) pada E-Goverment Tingkat Mikro: Evaluasi Teknis Website Kecamatan Wilayah Kota Salatiga Putra, Muhammad Yanwar Darmadi; Haryonno, Hafids; Herawati, Augustin Rina
REFORMASI Vol 15, No 3 (2025)
Publisher : Universitas Tribhuwana Tunggadewi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33366/rfr.v15i3.7372

Abstract

E-government evaluation in Indonesia often focuses on macro-level policies, leaving the technical readiness of micro-level institutions (districts) as the frontline of public service rarely audited objectively. This study aims to evaluate the technical performance of district websites in Salatiga City using an automated usability testing approach. Utilizing Google PageSpeed Insights, this study measures four key indicators: performance, accessibility, best practices, and SEO. The results reveal a paradox of "Hollow Transparency." Technically, district websites achieve high SEO scores, making them easily discoverable by search engines. However, this technical advantage is decoupled from administrative capacity, evidenced by the lack of regular content updates. Furthermore, performance scores on mobile devices are consistently lower than on desktops, indicating a risk of digital exclusion for the majority of smartphone users. This study concludes that high digital visibility without content currency creates merely symbolic adoption. The study recommends institutionalizing technical governance that mandates periodic content audits and mobile optimization standardization to Evaluasi kinerja e-government di Indonesia sering kali terpaku pada kebijakan makro, sementara kesiapan infrastruktur teknis di tingkat mikro (kecamatan) sebagai ujung tombak pelayanan publik jarang diaudit secara objektif. Studi ini bertujuan untuk mengevaluasi kinerja teknis website kecamatan di Kota Salatiga menggunakan pendekatan automated usability testing. Menggunakan instrumen Google PageSpeed Insights, penelitian ini mengukur empat indikator utama: performance, accessibility, best practice, dan SEO. Hasil penelitian mengungkap sebuah paradoks "Transparansi Semu" (Hollow Transparency). Secara teknis, situs-situs kecamatan memiliki skor SEO yang tinggi (rata-rata kategori 'Tinggi') sehingga sangat mudah ditemukan oleh mesin pencari. Namun, keunggulan ini terputus (decoupled) dari kapasitas administratif, di mana konten informasi tidak diperbarui secara berkala. Selain itu, skor performance pada perangkat mobile konsisten lebih rendah dibanding desktop, mengindikasikan risiko eksklusi digital bagi mayoritas pengguna perangkat mobile. Penelitian ini menyimpulkan bahwa tingginya visibilitas digital tanpa pembaruan konten hanya menciptakan adopsi simbolik. Studi merekomendasikan pelembagaan tata kelola teknis (technical governance) yang mewajibkan audit konten berkala dan standardisasi optimasi mobile untuk memastikan layanan publik yang inklusif dan responsif.  
Dinamika Kolaborasi Penanganan Kasus Kekerasan dalam Rumah Tangga (KDRT) Terhadap Anak Kota Surabaya Miracle, Annisaa Shalsabila; Nafi'ah, Binti Azizatun
REFORMASI Vol 15, No 3 (2025)
Publisher : Universitas Tribhuwana Tunggadewi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33366/rfr.v15i3.7294

Abstract

This study aims to describe the dynamics of collaboration in addressing cases of domestic violence against children in the city of Surabaya. Domestic violence refers to behavior inflicted by an individual upon family members, encompassing various forms of abuse, ranging from social exclusion, coercion, and restriction of freedom, to unfair economic control. The number of child abuse cases has shown a fluctuating trend across various regions, including Surabaya, where it has notably increased over the past three years. The collaborative governance model is expected to create synergy through cooperation among stakeholders in tackling complex issues, with a collective and action-oriented decision-making approach. This concept emphasizes collaboration among various actors, including government agencies, community groups, and non-governmental organizations, to formulate effective solutions to public problems. Data for this study were obtained through documentation and observation. The findings of the research provide an overview of the collaborative dynamics in handling domestic violence ases against children in Surabaya, which have been progressing well by prioritizing the best interests of the child and making children the central focus of this collaboration. This research is analyzed using Emerson's theory of Collaborative Governance, which includes the elements of principled engagement, shared motivation, capacity for joint action, action, and adaptation.Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan dinamika kolaborasi dalam penanganan kasus kekerasan dalam rumah tangga (KDRT) terhadap anak di Kota Surabaya. Kekerasan dalam rumah tangga (KDRT) adalah perilaku yang dilakukan seseorang terhadap anggota keluarganya, mencakup berbagai bentuk tekanan, mulai dari pengucilan, pemaksaan, pembatasan kebebasan secara sepihak, hingga pengendalian ekonomi secara tidak adil.  Angka kekerasan terhadap anak mengalami dinamika di berbagai daerah, termasuk Surabaya, yang justru menunjukkan tren kenaikan dalam tiga tahun terakhir. Model collaborative governance diharapkan menciptakan sinergi melalui kerja sama antar pemangku kepentingan dalam menghadapi permasalahan yang kompleks, dengan pendekatan pengambilan keputusan yang bersifat kolektif dan implementatif. Konsep ini menekankan kolaborasi antara berbagai pihak, termasuk instansi pemerintah, komunitas, serta organisasi non-pemerintah, guna merumuskan solusi yang efektif terhadap permasalahan publik. Data dalam penelitian ini diperoleh melalui hasil dokumentasi dan observasi. Hasil penelitian yang telah dilakukan memberi gambaran terkait dinamika kolaborasi dalam penanganan kasus kekerasan dalam rumah tangga (KDRT) terhadap anak di Kota Surabaya yang telah berjalan dengan baik dengan mengutamakan kepentingan pada anak dan menjadikan anak sebagai prioritas dari kolaborasi ini. Penelitian ini dikaji dengan teori Collaborative Governance yang dikemukakan oleh emerson yang meliputi; principled engagement, shared motivation, capacity for joint action, action dan adaptation. 
Cognitive Behavioral Therapy pada Rehabilitasi Sosial Perempuan Pengguna Narkoba Prayoga, Bayu; Bangsu, Tamrin; Hila, Syahrio Marta
REFORMASI Vol 15, No 3 (2025)
Publisher : Universitas Tribhuwana Tunggadewi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33366/rfr.v15i3.7688

Abstract

Drug abuse in Indonesia has increasingly affected women as a vulnerable group facing layered psychosocial consequences, yet gender-sensitive rehabilitation models remain limited. This study addresses this gap by examining the process and distinctive features of Cognitive Behavioral Therapy (CBT) implemented in a women-specific rehabilitation setting at the Karunia Insani Rumah Female Foundation, Rejang Lebong. Using a descriptive qualitative design with a case study approach, this research involved five informants (two counselors and three female clients). Data were collected through in-depth interviews and observations, and analyzed thematically. The findings reveal that CBT is operationalized through a structured yet adaptive three-stage process: (1) an initial phase emphasizing gender-responsive therapeutic alliance and collaborative problem formulation; (2) a middle phase focusing on cognitive restructuring integrated with clients’ lived experiences and relapse triggers; and (3) a final phase highlighting behavioral reinforcement through reflective evaluation and homework assignments. The novelty of this study lies in demonstrating how CBT is contextually adapted to women’s psychosocial vulnerabilities within a community-based rehabilitation setting. The results indicate that such adaptation enhances clients’ cognitive awareness, emotional regulation, and commitment to recovery. This study contributes to the development of gender-responsive rehabilitation models grounded in CBT practice.Penyalahgunaan narkoba di Indonesia semakin menjangkau perempuan sebagai kelompok rentan dengan kompleksitas masalah psikososial, sementara model rehabilitasi yang responsif gender masih terbatas. Penelitian ini bertujuan mengisi kesenjangan tersebut dengan mengkaji proses dan kekhasan penerapan Cognitive Behavioral Therapy (CBT) dalam setting rehabilitasi khusus perempuan di Yayasan Karunia Insani Rumah Female, Rejang Lebong. Metode yang digunakan adalah kualitatif deskriptif dengan pendekatan studi kasus, melibatkan lima informan (dua konselor dan tiga klien perempuan). Data dikumpulkan melalui wawancara mendalam dan observasi, kemudian dianalisis secara tematik. Hasil penelitian menunjukkan bahwa CBT diterapkan melalui tiga tahapan yang terstruktur namun adaptif, yaitu: (1) tahap awal yang menekankan pembentukan hubungan terapeutik berbasis sensitivitas gender dan perumusan masalah secara kolaboratif; (2) tahap tengah yang berfokus pada restrukturisasi kognitif dengan mengintegrasikan pengalaman hidup klien serta pemicu kekambuhan; dan (3) tahap akhir yang menekankan penguatan perilaku melalui evaluasi reflektif dan penugasan rumah. Kebaruan penelitian ini terletak pada adaptasi kontekstual CBT terhadap kerentanan psikososial perempuan dalam rehabilitasi berbasis komunitas. Temuan menunjukkan bahwa pendekatan ini efektif meningkatkan kesadaran kognitif, regulasi emosi, dan komitmen pemulihan klien.
Modal Sosial dan Resiliensi Sosial Masyarakat Pesisir: Analisis Kapasitas Adaptif Teluk Gok, Lombok Barat Nasrullah, Arif; Parama, I Dewa Made Satya; Awalia, Hafizah
REFORMASI Vol 15, No 3 (2025)
Publisher : Universitas Tribhuwana Tunggadewi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33366/rfr.v15i3.7706

Abstract

 This study analyzes the role of social capital in shaping the social resilience of the coastal community in Teluk Gok, West Sekotong Barat, West Lombok, West Nusa Tenggara. The research uses a qualitative method with a case study approach. Data was collected through in-depth interviews, field observations, and document studies to explores the vulnerabilities experienced by the community in Teluk Gok, West Lombok, West Nusa Tenggara, and the adaptive strategies they have developed. Findings indicate that climate change and limited infrastructure such as road access, clean water, and health and education facilities exacerbate the community’s vulnerability. To survive, residents diversify livelihoods, optimize local resources, engage in labor mobility, and utilize social networks as coping mechanisms. Social capital functions importantly as bonding capital that facilitates access to jobs and collective support, while linking social capital remains limited, leaving access to external resources and structural opportunities vulnerable. The study emphasizes the need to strengthen transformative social capital, improve basic infrastructure, and implement policy interventions that enhance access to technology, capital, and public services to bolster the long-term resilience of the coastal community. Penelitian ini menganalisis peran modal sosial dalam membentuk resiliensi sosial komunitas pesisir di Teluk Gok, Sekotong Barat, Lombok Barat, Nusa Tenggara Barat. Penelitian menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan studi kasus, data dikumpulkan  dengan teknik wawancara, observasi, dan studi dokumen untuk menggali kerentanan yang dialami oleh masyarakat di Teluk Gok, serta strategi adaptif yang mereka kembangkan. Temuan pada penelitian ini  menunjukkan bahwa perubahan iklim dan keterbatasan infrastruktur seperti akses jalan, air bersih, fasilitas kesehatan dan pendidikan memperburuk kerentanan masyarakat Teluk Gok. Untuk bertahan, warga melakukan diversifikasi mata pencaharian, optimalisasi sumber daya, mobilitas tenaga kerja, dan memanfaatkan jaringan sosial sebagai mekanisme coping. Modal sosial berperan penting sebagai modal pengikat (bonding) yang memfasilitasi akses pekerjaan dan dukungan kolektif, namun kapasitas modal sosial penghubung (linking social capital) masih terbatas sehingga akses terhadap sumber daya eksternal dan peluang struktural tetap rentan. penelitian ini menekankan perlunya penguatan modal sosial transformatif, perbaikan infrastruktur dasar, serta intervensi kebijakan yang meningkatkan akses teknologi, pemodalan, dan layanan publik untuk meningkatkan ketahanan jangka panjang komunitas pesisir. 

Page 1 of 1 | Total Record : 8