cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota malang,
Jawa timur
INDONESIA
Reformasi : Jurnal Ilmiah Ilmu Sosial dan Ilmu Politik
ISSN : 20887469     EISSN : 24076864     DOI : -
Core Subject : Social,
Reformasi adalah jurnal peer-review yang menerbitkan artikel tentang praktik, teori, dan penelitian di semua bidang komunikasi politik, komunikasi massa, media & gender, komunikasi pemasaran, pelayanan publik, manajemen publik, pelayanan publik, kebijakan publik, dan otonomi daerah. Scope jurnal terdiri dari sosial, politik, komunikasi. Setiap naskah yang diserahkan akan ditinjau oleh satu peer-reviewer menggunakan metode double blind review. Reformasi : Jurnal Ilmiah Ilmu Sosial dan Politik diterbitkan oleh Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik. Jurnal ini diterbitkan setiap enambulan sekali (Januari-Juni dan Juli-Desember).
Arjuna Subject : -
Articles 353 Documents
PERAN KOMUNIKASI PENYULUH DALAM PEMBERDAYAAN PETERNAK SAPI PERAH PADA KOPERASI PRODUKSI SUSU BOGOR Fahma Jatipermata; Agustina Multi Purnomo
REFORMASI Vol 12, No 1 (2022)
Publisher : Universitas Tribhuwana Tunggadewi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33366/rfr.v12i1.2694

Abstract

Dairy cow's milk production in Indonesia has not been able to meet the domestic demand for milk. The empowerment of dairy farmers was an effort to encourage milk productivity. This study examined the role of extension communication in empowering dairy farmers who were cooperative members. This study used four communication principles in empowerment: dialogue, voice, liberating pedagogy, and action-reflection-action. The qualitative research method used interview data collection techniques, observations, and document studies. The researcher determined the participants as empowerment actors when the research was conducted. The research found that the internal actors as extension agents were paramedics and the breeder actors were the farms' owners and the stables' keepers. The study's results found that paramedical officers' communication role as extension workers at KPS Bogor was insufficient to build the process of empowering dairy farmers. The process of dialogue, voice and liberating pedagogy occurs conditionally because of the position of the actors. Action-reflection-action process not found. These findings denoted that communication between extension workers and dairy farmers has not fully fulfilled the four communication principles in empowerment.AbstrakProduksi susu sapi perah di Indonesia belum mampu memenuhi kebutuhan susu dalam negeri. Pemberdayaan peternak sapi perah merupakan upaya yang dapat dilakukan untuk mendorong produktivitas susu. Penelitian ini mengkaji peran komunikasi penyuluh dalam pemberdayaan peternak sapi perah anggota koperasi. Penelitian ini menggunakan empat prinsip komunikasi dalam pemberdayaan, yaitu dialog, voice, liberating pedagogy, dan aksi-refleksi-aksi. Metode penelitian adalah metode kualitatif dengan teknik pengumpulan data wawancara, pengamatan dan studi dokumen. Peneliti menentukan partisipan sebagai aktor pemberdayaan pada saat penelitian dilakukan. Penelitian menemukan aktor dalam sebagai penyuluh adalah tenaga paramedis dan aktor peternak adalah pemilik peternakan dan penjaga kandang. Hasil penelitian menemukan peran komunikasi petugas paramedis sebagai penyuluh di KPS Bogor tidak cukup membangun proses pemberdayan peternak sapi perah. Proses dialog, voice, dan liberating pedagogy terjadi kondisional karena posisi para aktor. Proses aksi-refleksi-aksi tidak ditemukan. Ini menunjukkan komunikasi antara penyuluh dan peternak sapi perah belum sepenuhnya memenuhi keempat prinsip komunikasi dalam pemberdayaan.
PERAN PEMERINTAH DESA DALAM PEMBERDAYAAN KELOMPOK INFORMASI MASYARAKAT Roro Merry Chornelia; Noora Fithriana; Abd. Rohman
REFORMASI Vol 12, No 1 (2022)
Publisher : Universitas Tribhuwana Tunggadewi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33366/rfr.v12i1.3353

Abstract

Empowerment can be said as a process of building a community through capacity building and behavior change in an organization. The purposes of this research are to determine the role of rural government to empower the information group of societies in the village of Tlekung, Bumiaji, Batu; its supporting and inhibiting factors. This research used a qualitative approach to obtain the primary and secondary data. The research results determined that the Rural Government of Tlekung plays the role successfully so the group can inform many pieces of information in Tlekung by the media. To conduct the job, the Rural Government of Tlekung also gives incentives to the group and controls its activities. The supporting factor of the role of the Rural Government of Tlekung for empowering the group is a good communication style; meanwhile, the inhibiting factor is a fund that lacks to buy some media tools. AbstrakPemberdayaan dapat dikatakan sebagai suatu proses membangun masyarakat melalui pengembangan kemampuan dan perubahan perilakunya dalam suatu organisasi. Tujuan dilakukannya penelitian ini adalah untuk mengetahui peran pemerintah desa dalam pemberdayaan kelompok informasi masyarakat di Desa Tlekung, Kecamatan Bumiaji, Kota Batu, faktor pendukung dan penghambatnya. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif untuk memperoleh data primer dan sekunder. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Pemerintah Desa Tlekung berhasil berperan dalam pemberdayaan KIM sehingga KIM dapat memberitahukan hal-hal yang sedang dan akan dilaksanakan di Desa Tlekung melalui media-media informasi. Dalam menjalankan perannya, Pemerintah Desa Tlekung juga memberikan insentif kepada KIM dan mengontrol kegiatan KIM. Faktor pendukung peran Pemerintah Desa Tlekung dalam pemberdayaan KIM adalah pola komunikasi yang baik, sedangkan faktor penghambatnya ialah kurangnya dana untuk membelikan peralatan media.
KOMUNIKASI DAN PERANAN KPU KOTA SEMARANG DALAM MENINGKATKAN PARTISIPASI PEMILIH PADA PEMILIHAN SERENTAK 2020 Astrid Proborini; Nurhidayati Nurhidayati
REFORMASI Vol 12, No 1 (2022)
Publisher : Universitas Tribhuwana Tunggadewi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33366/rfr.v12i1.2838

Abstract

This article aims to conduct an analysis of how the Semarang City KPU communicates and carries out its role in increasing voter participation in the 2020 Mayoral Election. The data were collected through interviews, observations, and documentation, and analyzed qualitatively with a focus on the problem, namely the increase in voter participation even though the election was held in a pandemic condition and with the phenomenon of the presence of a single candidate. To answer this problem, Lasswell's communication model and the role theory of Robert K. Merton are used as a reference. Merton defines role as a pattern of behavior that is expected by society from people who occupy certain statuses. The result of study shows that the Semarang City KPU had communicated and carried out its role well in socialization and voter education, so that voter participation increased in the 2020 Pilwalkot even though it was carried out in the midst of the single candidate phenomenon and the Covid-19 pandemic.AbstrakArtikel ini bertujuan untuk melakukan analisis tentang bagaimana KPU Kota Semarang melakukan komunikasi serta menjalankan perannya dalam meningkatkan partisipasi pemilih pada gelaran Pilwalkot 2020 lalu. Data-data dikumpulkan melalui wawancara, observasi, dan dokumentasi, serta dianalisis secara kualitatif dengan fokus masalah yakni pada adanya peningkatan partisipasi pemilih meskipun Pemilihan diselenggarakan dalam kondisi pandemi serta dengan fenomena hadirnya calon tunggal. Untuk menjawab masalah ini dipergunakan acuan model komunikasi Lasswell dan teori Peran dari Robert K. Merton. Merton mendefinisikan peranan sebagai pola tingkah laku yang diharapkan masyarakat dari orang yang menduduki status tertentu. Hasil penelitian menunjukkan bahwa KPU Kota Semarang telah melakukan komunikasi dan menjalankan perannya dengan baik dalam sosialisasi dan pendidikan pemilih, sehingga partisipasi pemilih meningkat pada Pilwalkot 2020 meskipun dilaksanakan di tengah fenomena calon tunggal dan pandemi Covid-19.
PENGENTASAN MASALAH SOSIAL MELALUI PEOPLE CENTERED DEVELOPMENT GUNA MEMAKSIMALKAN PEMBANGUNAN DI INDONESIA Saskia Fernandya; Teguh Yuwono; Laila Kholid Al-Firdaus
REFORMASI Vol 12, No 1 (2022)
Publisher : Universitas Tribhuwana Tunggadewi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33366/rfr.v12i1.3324

Abstract

People centered development, begins with an understanding of human ecology, which is the center of development attention. Development must place the people at the center of attention and the development process must benefit all parties. Therefore, this study aims to provide an effective understanding related to alleviating social problems through people centered development in order to maximize development. This study uses a literature review research method. The results of the study indicate that large-scale changes in this global era, it can be said that human development is actually faced with complex problems and dilemmas. So, it is necessary to develop Human Resources, such as empowerment in order to improve human quality. This people-centered development model is a new alternative to increase the production output of development to meet the needs of a very large and growing population. Along with today's global development, it must be fully understood that human development is an important agenda with more the amount of attention related to human rights, democratization and civil society. This needs to be taken seriously by the central and local governments in the form of development policies that truly place the community as development actors.AbstrakPeople centered development atau pembangunan yang berpusatkan pada rakyat, diawali dengan pemahaman tentang ekologi manusia, yang menjadi pusat perhatian pembangunan. Pembangunan haruslah menempatkan rakyat sebagai pusat perhatian dan proses pembangunan harus menguntungkan semua pihak. Oleh sebab itu, penelitian ini bertujuan untuk memberikan pemahaman yang efektif terkait pengetasan masalah sosial melalui people centered development guna memaksimalkan pembangunan. Penelitian ini menggunakan metode penelitian studi literatur (literature review). Hasil penelitian menunjukkan bahwa perubahan secara besar-besaran pada era global ini, dapat dikatakan bahwa pembangunan manusia sebenarnya dihadapkan pada permasalahan yang pelik dan dilematis. Maka, diperlukan pengembangan Sumber Daya Manusia, seperti pemberdayaan guna meningkatkan kualitas manusia. Model pembangunan yang berpusat pada rakyat (People Centered Development) ini, adalah suatu alternatif baru untuk meningkatkan hasil produksi pembangunan untuk memenuhi kebutuhan penduduk yang sangat banyak dan terus bertambah Seiring dengan pembangunan global dewasa ini, harus dipahami sepenuhnya bahwa pembangunan manusia menjadi agenda penting dengan semakin besarnya perhatian yang berkaitan dengan Hak Asasi Manusia, demokratisasi dan civil society. Hal ini, perlu direspon dengan serius oleh pemerintah pusat maupun daerah dalam bentuk kebijakan pembangunan yang sungguh-sungguh menempatkan masyarakat sebagai pelaku pembangunan.
ADAPTASI SOSIAL DALAM MASYARAKAT MULTIKULTURAL ERA KETERBUKAAN INFORMASI Helsi Ramadani; Indraddin Indraddin; Azwar Azwar
REFORMASI Vol 12, No 1 (2022)
Publisher : Universitas Tribhuwana Tunggadewi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33366/rfr.v12i1.3128

Abstract

Transmigration is one of the government programs in the context of solving population problems which was reopened in 2016 in Sijunjung Regency, namely Kenagarian Padang Tarok. Consisting of ethnic Javanese and ethnic Minangkabau. Given the two different ethnic backgrounds, it is necessary to make an adaptation. The purpose of this study was to determine social adaptation in a multicultural society in the era of information disclosure. This study uses the theory of Arnold Toynbee Challenge and Response. Qualitative method. Data collection with observation and in-depth interview techniques. Informants were taken using purposive sampling technique. Based on the results of the study, it was concluded that the challenges of the Padang Tarok transmigrant community were in the form of language differences, a feeling of being ignored which gave rise to negative sentiments, the emergence of camps and groups between blocks, job choices. and the response to these challenges is to apply Indonesian as a means of communication, to apply an attitude of mutual openness and sharing, to participate in community activities, and to gain gold as a new form of work. The people of Padang Tarok live in a high sense of respect and have an attitude of helping each other.AbstrakTransmigrasi merupakan salah satu  program pemerintah dalam rangka pemecahan masalah kependudukan yang dibuka kembali pada tahun 2016 di Kabupaten Sijunjung yaitu Kenagarian Padang Tarok. Terdiri dari Etnis Jawa dan Etnis Minangkabau. Mengingat kedua latar belakang etnis berbeda maka perlu dilakukan sebuah adaptasi. Tujuan penelitian ini adalah Mengetahui adaptasi sosial dalam masyarakat multikultural era keterbukaan informasi. Penelitian ini menggunakan teori Arnold Toynbee Challenge and Respons. Metode kualitatif. Pengumpulan data dengan teknik observasi dan wawancara mendalam. Pengambilan informan menggunakan teknik Purposive sampling. Berdasarkan hasil penelitian disimpulkan bahwa tantangan masyarakat transmigran Padang Tarok berupa Perbedaan bahasa, timbul rasa tidak dipedulikan yang memunculkan sentimen negatif, munculnya kubu-kubu dan kelompok antar blok, pilihan pekerjaan. serta respon dari tantangan tersebut adalah menerapkan Bahasa Indonesia sebagai alat komunikasi, menerapkan sikap saling terbuka dan saling berbagi, berpatisipasi dalam kegiatan masyarakat, dan mendulang emas sebgai bentuk pekerjaan baru. Masyarakat Padang Tarok hidup dalam menerapkan rasa harga-menghargai yang tinggi dan memiliki sikap saling tolong-menolong antar sesama. 
PROSES POLITIK DALAM SISTEM TATA KELOLA PERLINDUNGAN TENAGA KESEHATAN PADA MASA PANDEMI DI KOTA DEPOK Merle Emanuella Aipassa; Irwansyah Irwansyah
REFORMASI Vol 12, No 1 (2022)
Publisher : Universitas Tribhuwana Tunggadewi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33366/rfr.v12i1.3184

Abstract

Depok, the location where the first case of COVID-19 was found in Indonesia, recorded 4 cases of death of health workers with 1 clinic at the RSUD Kota Depok and 3 local cliniccs were forced to be close because their health workers were confirmed positive for COVID-19. This condition then indicates a problem to protect health workers during the COVID-19 pandemic. Indonesia national government actually has prepared series of related policy which were then delegated to local governments to be adapted to their needs. However, the Depok Government seems to be unable to develop local regulations to answer more specific challenges to protect health workers. This study aims to analyze the problems in the political process as an effort to protect health workers in Depok. By using qualitatve approach and data from depth interviews with relevant informants, and referring to the study of Gaskell, et al. (2020) on the political process in the governance system for the protection of health workers, it shows that there have been problems in the political process that have affected problem of the policy governance system. This is due to miscommunication and distrust among related actors including executives, executives, and health workers.AbstrakDepok, tempat ditemukannya kasus pertama COVID-19 di Indonesia, berhadapan dengan masalah tata kelola perlindungan tenaga kesehatan. Tercatat 4 kasus kematian tenaga kesehatan pada tahun 2020-2021. Selain itu, 1 poli rawat jalan di RSUD Kota Depok dan 3 Puskesmas terpaksa ditutup karena lebih dari 24 tenaga kesehatannya terkonfirmasi positif virus menular tersebut. Kondisi ini mengindikasikan adanya masalah dalam perlindungan tenaga kesehatan di masa pandemi COVID-19. Penelitian ini bertujuan menganalisis masalah proses politik dalam upaya perlindungan tenaga kesehatan di Depok. Pemerintah Pusat telah mengeluarkan serangkaian kebijakan terkait perlindungan tenaga kesehatan yang kemudian mendelegasikan kewenangannya kepada Pemerintah Daerah untuk disesuaikan dengan kebutuhan. Akan tetapi, penelitian ini menemukan bahwa Pemerintah Kota Depok tidak mengontekstualisasikan regulasi tersebut untuk menjawab kebutuhan yang lebih spesifik terkait perlindungan tenaga kesehatan. Dengan menggunakan pendekatan kualitatif dan menggunakan data hasil wawancara dengan narasumber terkait, serta mengacu pada studi Gaskell, dkk. (2020) tentang proses politik dalam sistem tata kelola perlindungan tenaga kesehatan, penelitian ini menunjukkan hasil bahwa telah terjadi masalah dalam proses politik yang berpengaruh pada lemahnya sistem tata kelola kebijakan. Hal ini diakibatkan oleh adanya miskomunikasi dan ketidakpercayaan antar berbagai aktor politik terkait termasuk legislatif, eksekutif, dan tenaga kesehatan.
KOLABORASI MULTI AKTOR DALAM PENGELOLAAN WISATA GEO PARK BELITUNG Bambang Pujiyono
REFORMASI Vol 12, No 1 (2022)
Publisher : Universitas Tribhuwana Tunggadewi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33366/rfr.v12i1.3367

Abstract

This study aims to describe the collaboration of multi-actor in managing tourism GeoPark Belitung. This tourism management has succeeded in bringing the Belitung GeoPark into the UNESCO assessment as one of the international tourism destinations. Various actors, both from the government, private sector, and community, have contributed greatly. Contributions are given in accordance with the roles and functions. Each institution cooperates, communicates, and coordinates so as to build good collaboration. This research uses a qualitative approach, aiming to explain the phenomenon of GeoPark tourism management even in the pandemic era. The research lasted for 2 months from November to December 2020. There were 10 research resource persons from government, private and community elements who represented the institution. The research results provide in-depth information on successful collaborative practices. The results of this study provide a conceptual contribution to multi-actor collaboration in the field of tourism management.AbstrakPenelitian ini bertujuan mendiskripsikan kolaborasi multi actor dalam mengelola pariwisata GeoPark Belitung. Pengelolaan pariwisata ini berhasil mengantarkan GeoPark Belitung masuk dalam penilaian UNESCO sebagai salah satu destinasi pariwisata internasional. Berbagai actor baik dari unsur pemerintah, swasta, dan komunitas memiliki kontribusi yang besar. Kontribusi yang diberikan sesuai dengan peran dan fungsi. Tiap lembaga melakukan kerjasama, komunikasi, dan koordinasi sehingga membangun kolaborasi yang baik.. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif, bertujuan mengeksplanasi fenomena pengelolaan pariwisata GeoPark meskipun di era pandemi. Penelitian berlangsung selama 2 bulan dari Nopember sampai dengan Desember 2020. Nara sumber penelitian dari unsur pemerintah, swasta, dan komunitas sebanyak 10 orang yang merepresentasi lembaganya. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pengelolaan wisata geopark dilakukan oleh pemerintah, swasta, dan masyarakat. Tiap lembaga memiliki sekaligus melaksanakan otoritas dan perannya. Secara umum ketiga lembaga tersebut memiliki kesamaan komitmen untuk menjaga pelesatarian Geopark. Tiap lembaga memiliki kepentingan, pengaruh, dan kekuatan. Secara komparatif, lembaga pemerintah dalam hal ini Dinas Pariwisata memiliki dominansi dibandingkan lembaga swasta dan komunitas yang ada. Hasil penelitian ini sekaligus menggambarkan kolaborasi multiaktor yang berhasil.
PEMBERDAYAAN PEREMPUAN KORBAN KEKERASAN DALAM RUMAH TANGGA (KDRT) OLEH DINAS PEMBERDAYAAN PEREMPUAN, PERLINDUNGAN ANAK DAN KELUARGA BERENCANA (DP3AP2KB) KOTA BATU Nanang Bagus
REFORMASI Vol 12, No 1 (2022)
Publisher : Universitas Tribhuwana Tunggadewi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33366/rfr.v12i1.3374

Abstract

The purpose of marriage does not always run smoothly, there are times when trials and temptations lead to acts of violence by husband/wife. The purpose of this study is to explain the empowerment of women victims of domestic violence conducted by DP3AP2KB Batu City and the role of women's empowerment in the household economy. The type of research used is descriptive qualitative. The method of determining the research subject is purposive sampling and recommendations. Data collection techniques using participatory observation methods, in-depth interviews, and documentation. Data analysis used the Miles and Huberman model, namely data reduction, data presentation and conclusion drawing/verification. The result showed that women's empowerment was realized through two activities, namely mentoring (socialization, health checks, problem classification, mentoring to monitoring/monitoring) and social welfare efforts (cooking training, make-up/salon and sewing). The role of women's empowerment in the household economy is quite significant. This is evident from the work they live is capable of helping their husbands in meeting the needs of their families. These jobs include making cakes, tailoring and so on.AbstrakTujuan dari pernikahan tidak selamanya berjalan mulus, ada kalanya cobaan dan godaan hingga berujung pada tindak kekerasan yang dilakukan suami/istri. Tujuan penelitian ini untuk menjelaskan pemberdayaan perempuan korban KDRT yang dilakukan DP3AP2KB Kota Batu dan peran pemberdayaan perempuan dalam perekonomian rumah tangga. Jenis penelitian yang digunakan adalah deskriptif kualitatif. Metode penentuan subyek penelitian yaitu purposive sampling dan rekomendasi. Teknik pengumpulan data menggunakan metode observasi partisipasi, wawancara mendalam, dan dokumentasi. Analisis data menggunakan model Miles and Huberman yaitu reduksi data, penyajian data dan conclusion drawing/ verification. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pemberdayaan perempuan terwujud melalui dua kegiatan yaitu pendampingan (sosialisasi, pemeriksaan kesehatan, klasifikasi masalah, pendampingan hingga pemantauan/monitoring) dan usaha kesejahteraan sosial (pelatihan tata boga, tata rias/salon dan menjahit). Peran pemberdayaan perempuan dalam perekonomian rumah tangga yaitu cukup signifikan. Hal ini terbukti dari pekerjaan yang mereka jalani mampu menghasilkan membantu suami dalam memenuhi kebutuhan keluarganya. Pekerjaan tersebut antara lain membuat kue, penjahit dan lain sebagainya.
IMPLEMENTASI PERWALI SURABAYA NO. 5 TAHUN 2013 TENTANG PEDOMAN PEMANFAATAN TEKNOLOGI INFORMASI DAN KOMUNIKASI Dida Rahmadanik; Nurul Ika Mardiyanti; Indah Murti
REFORMASI Vol 12, No 2 (2022)
Publisher : Universitas Tribhuwana Tunggadewi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33366/rfr.v12i2.3156

Abstract

Based on the Surabaya Mayor Regulation Number 5 of 2013 concerning Guidelines for the Use of Information and Communication Technology in the Implementation of Regional Government, that in each agency making innovations which utilizes information and communication technology in providing services based on convenience for users; without barriers between one institution and another; transparent and the availability of public information; fairness; accountable; and service standardization. But in reality many teachers have difficulty in using it. This study aims to describe the application of the SIAGUS application at SMPN 52 Surabaya along with its supporting and inhibiting factors. This type of research is using descriptive qualitative. The focus of his research uses the theory of indicators of successful implementation of e-government based on the results of a study from the Harvard JFK School of Government namely Support, Capacity, and Value. The results of this study indicate that the application of the SIAGUS application at SMPN 52 Surabaya is quite good when viewed from the indicators of Support, Capacity, and Value but there are still teachers who do not understand how to use the SIAGUS application so that in-depth assistance is needed by forming small groups and additional appointments. operators to be included in the group. In addition, server errors were also encountered so that there was a need for repairs or additional capacity on the central server at the Surabaya City Education Office.AbstrakBerdasarkan Peraturan Walikota Surabaya Nomor 5 Tahun 2013 tentang Pedoman Pemanfaatan Teknologi Informasi dan Komunikasi dalam Penyelenggaraan Pemerintahan Daerah bahwa dalam tiap instansi membuat inovasi yang memanfaatkan teknologi informasi dan komunikasi dalam memberikan pelayanan yang berasaskan pada kemudahan bagi pemgguna; tanpa jarak antara satu instansi dengan instansi lain. Namun pada kenyataannya banyak guru yang mengalami kesulitan dalam menggunakannya. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan mengenai penerapan aplikasi SIAGUS di SMPN 52 Surabaya berserta dengan faktor pendukung dan penghambatnya. Jenis penelitian ini menggunakan deskriptif kualitatif. Fokus penelitiannya menggunakan teori indikator keberhasilan penerapan e-government berdasarkan hasil kajian dari Harvard JFK School of Government yaitu Support, Capacity, dan Value. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa penerapan aplikasi SIAGUS di SMPN 52 Surabaya cukup baik apabila dilihat dari indikator Support, Capacity, dan Value namun juga masih ditemukan guru yang kurang paham dalam menggunakan aplikasi SIAGUS sehingga perlu dilakukan pendampingan secara mendalam dengan cara membentuk kelompok kecil dan penunjukan tambahan operator untuk dimasukkan ke dalam kelompok tersebut. Selain itu juga ditemui server eror sehingga perlu adanya perbaikan atau penambahan kapasitas pada server pusat di Dinas Pendidikan Kota Surabaya.
PENGEMBANGAN SUMBER DAYA MANUSIA DALAM PENERAPAN LITERASI DIGITAL PADA GURU DI ERA 4.0 Rifani Rahayu; Seno Andri; Mayarni .
REFORMASI Vol 12, No 2 (2022)
Publisher : Universitas Tribhuwana Tunggadewi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33366/rfr.v12i2.2981

Abstract

This research is motivated by the lack of teacher expertise in the use of technology, and the lack of technological facilities in developing digital potential for teachers, research and assessment at SD Negeri 90 Pekanbaru. In the teaching and learning process there are still some teachers who have difficulty in using technology. Some teachers are not fully able to use devices or facilities to support learning activities such as Zoom, Google Meet, Google Classroom, and others. The availability of technological facilities and infrastructure is still not available, causing obstacles in the development of teacher competence. The purpose of this study is to explain the efforts to develop human resources in the application of digital literacy to teachers at SD Negeri 90 Pekanbaru and to analyze the inhibiting factors for developing human resources in the application of digital literacy to teachers at SD Negeri 90 Pekanbaru. The type of research chosen is qualitative research with a descriptive case study approach. Data collection techniques were carried out through interviews, observation, and documentation. The results of the study found that the development of human resources in the application of digital literacy to teachers at SD Negeri 90 Pekanbaru in terms of motivation, personality and skill criteria was not optimal.Abstrak Penelitian ini dilatarbelakangi kurangnya keahlian guru dalam penggunaan teknologi, dan minimnya fasilitas teknologi dalam mengembangkan potensi digital pada guru, penelitian dan pengkajian pada SD Negeri 90 Pekanbaru. Dalam proses belajar mengajar masih ada beberapa guru yang kesulitan dalam menggunakan teknologi. Beberapa guru belum sepenuhnya mampu menggunakan perangkat atau fasilitas untuk penunjang kegiatan pembelajaran seperti Zoom, Google Meet, Google Classroom, dan lain-lain. Masih belum tersedianya sarana dan prasarana teknologi sehingga menimbulkan kendala dalam pengembangan kompetensi guru. Tujuan penelitian ini untuk menjelaskan upaya pengembangan sumber daya manusia dalam penerapan literasi digital pada guru SD Negeri 90 Pekanbaru serta menganalisis faktor penghambat pengembangan sumber daya manusia dalam penerapan literasi digital pada guru SD Negeri 90 Pekanbaru. Jenis penelitian yang dipilih adalah penelitian kualitatif dengan pendekatan studi kasus yang bersifat deskriptif. Teknik pengumpulan data dilakukan melalui wawancara, observasi, dan dokumentasi. Hasil penelitian menemukan bahwa pengembangan sumber daya manusia dalam penerapan literasi digital pada guru SD Negeri 90 Pekanbaru ditinjau dari kriteria motivasi, kepribadian dan keterampilan adalah belum maksimal.