cover
Contact Name
Ari Khusuma
Contact Email
khusumaari@gmail.com
Phone
-
Journal Mail Official
khusumaari@gmail.com
Editorial Address
-
Location
Kota mataram,
Nusa tenggara barat
INDONESIA
Jurnal Analis Medika Biosains (JAMBS)
ISSN : 23564075     EISSN : 26562456     DOI : -
Core Subject : Health, Science,
JAMBS (Jurnal Analis Medika Bio Sains) is a journal that provides a forum for publishing articles related to food analysis, mikrobiology, hematolgy, clinical chemistry, parasitology, immunoserology, histology. Scientific articles dealing with the following topics in food analysis, mikrobiology, hematolgy, clinical chemistry, parasitology, immunoserology, histology.
Arjuna Subject : -
Articles 313 Documents
Prevalensi Nematoda Usus Golongan Sth (Soil Transmitted Helminth) Pada Masyarakat Yang Menggunakan Kotoran Sapi Di Dusun Sade Sebagai Bahan Pembersih Lantai Erna Kristinawati; Yudha Jiwantoro
Jurnal Analis Medika Biosains (JAMBS) Vol 7, No 1 (2020): JURNAL ANALIS MEDIKA BIOSAINS (JAMBS)
Publisher : Poltekkes Kemenkes Mataram

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (439.359 KB) | DOI: 10.32807/jambs.v7i1.180

Abstract

Latar Belakang: Masalah kesehatan penduduk di Indonesia masih di tandai dengan tingginya penyakit-penyakit yang berkaitan dengan rendahnya tingkat sosial ekonomi penduduk. Salah satu penyakit yang insidennya masih tinggi adalah infeksi cacing. Di Indonesia kecacingan merupakan masalah kesehatan masyarakat terbanyak setelah malnutrisi, karna Indonesia adalah negara yang agraris dengan tingkat sosial ekonomi, pengetahuan, keadaan sanitasi lingkungan dan higiene masyarakat masih rendah yang sangat menyokong untuk terjadinya infeksi dan penularan cacing. Tujuan: penelitian ini adalah untuk mengetahui Prevalensi Nematoda usus golongan STH pada masyarakat yang menggunakan kotoran sapi di Dusun Sade. Metode: Penelitian ini bersifat observasional deskriptif. Sampel berjumlah 48 orang masyarakat yang menggunakan kotoran sapi sebagai pembersih lantai di dusun Sade, Desa Rembitan, Kecamatan Pujut, Kabupaten Lombok Tengah. Pemeriksaan kecacingan pada jari-jari tangan dilakukan dengan bilasan menggunakan NaOH, pemeriksaan pada feses menggunakan metode Kato Katz. Hasil: Hasil penelitian ini menunjukkan positif pada Nematoda Usus Golongan STH pada masyarakat di Dusun Sade yang menggunakan Kotoran Sapi sebagai bahan pembersih Lantai yaitu: Trichuris Trichiura (4,17%) dan hook worm (10,42%). Kesimpulan: Prevalensi Nematoda Usus golongan STH pada masyarakat Dusun Sade sebesar 14,59%.
Prevalensi Kecacingan dan Hubungan Dengan PHBS Pada Anak Sekolah di Wilayah Kerja Puskesmas Ranomut Kota Manado Indra Elisabet Lalangpuling
Jurnal Analis Medika Biosains (JAMBS) Vol 7, No 1 (2020): JURNAL ANALIS MEDIKA BIOSAINS (JAMBS)
Publisher : Poltekkes Kemenkes Mataram

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (684.955 KB) | DOI: 10.32807/jambs.v7i1.166

Abstract

Infeksi oleh cacing banyak dialami oleh anak-anak karena pola transmisi cacing melalui makanan yang terkontaminasi telur cacing dan transmisi melalui tanah dimana anak-anak cenderung tidak berperilaku hidup bersih dan sehat. Infeksi cacing sering diabaikan karena tergolong penyakit kronis sehingga infeksi cacing digolongkan dalam golongan penyakit tropis yang diabaikan (Negletted Tropical Disease). Infeksi cacing pada anak-anak dapat menyebabkan gangguan pertumbuhan dan menurunkan prestasi belajar. Infeksi cacing dapat dihindari dengan cara memperbaiki perilaku hidup yang berhubungan dengan hygiene dan sanitasi lingkungan yang baik. Salah satu program kerja Puskesmas adalah bekerjasama dengan Usaha Kesehatan Sekolah (UKS) untuk meningkatkan pelayanan kesehatan, pendidikan kesehatan dan pembinaan lingkungan sekolah sehat bagi warga sekolah. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui prevalensi infeksi cacing dan hubungannya dengan Perilaku Hidup Bersih dan Sehat siswa di wilayah kerja Puskesmas Ranomut Kota Manado. Penelitian ini merupakan penelitian cross-sectional pada 117 siswa di enam belas Sekolah Dasar. Metode Pemeriksaan sampel tinja adalah dengan metode native. Hasil pemeriksaan menunjukkan 5 orang siswa (4%) mengalami infeksi cacing spesies Ascaris lumbricoides sebanyak 4 orang siswa (3,4%) dan 1 orang siswa (0,6%) mengalami infeksi Hookworm. Kejadian infeksi cacing ditemukan di emapt sekolah yang lokasinya berdekatan dengan Puskesmas Ranomut. Analisis chy-square untuk melihat hubungan antara kejadian infeksi cacing dan Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS) menunjukkan ada hubungan antara kejadian infeksi cacing dengan kebiasaan memcuci tangan setelah Buang Air Besar (BAB) dengan nilai p. 0,02. Kebiasaan menggunakan alas kaki saat bermain, mencuci tangan sebelum makan, bermain tanah, lokasi BAB, menghisap jari dan mencuci bahan makanan mentah tidak menunjukkan hubungan signifikan sengan kejadian infeksi cacing. Puskesmas harus lebih meningkatkan pelayanan kesehatan kepada siswa melalui UKS dan program penyuluhan tentang kecacingan kepada masyarakat khususnya kepada orang tua siswa. 
Pengaruh Lamanya Waktu Menjadi Vegetarian Lacto Terhadap Kadar Kolesterol Sulvani Sukmawati; Zainal Fikri; Yunan Jiwintarum
Jurnal Analis Medika Biosains (JAMBS) Vol 4, No 2 (2017): JURNAL ANALIS MEDIKA BIOSAINS (JAMBS)
Publisher : Poltekkes Kemenkes Mataram

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (301.259 KB) | DOI: 10.32807/jambs.v4i2.188

Abstract

Vegetarian adalah gaya hidup yang tidak boleh mengkonsumsi daging. Salah satunya yaitu vegetarian lacto yang  tidak  boleh  mengonsumsi  daging  namun  tetap  mengonsumsi  susu  dan  olahannya  seperti  keju  dan yougurt.  Tujuan  dari  penelitian  ini  yaitu  untuk  mengetahui  pengaruh  lamanya  waktu  menjadi  vegetarian lacto terhadap kadar kolesterol. Jenis penelitian ini yaitu bersifat penelitian observasional analitik . Sampel yang  digunakan  yaitu  sampel  darah  kapiler  yang  berasal  dari  kelompok  vegetarian  lacto  sebanyak  30 sampel. Metode pemeriksaan  kadar kolesterol  yang digunakan  yaitu POCT (Point Of Care Testing). Data hasil  penelitian  dianalisa  secara  regresi  linear.  Hasil  penelitian  terhadap  30  sampel  vegetarian  lacto menunjukkan  bahwa  90%  responden  memiliki    rata-rata  kadar  kolesterol  yang  rendah  (<  200  mg/dl), sedangkan 10% lainnya menunjukkan kadar yang tinggi (> 200 mg/dl). Diet vegetarian yang dijalani mulai dari 0 - 10 tahun memiliki rerata kadar kolesterol yaitu 118,8 mg/dl, diet vegetarian yang dijalani 11  – 20 tahun  memiliki  rerata  kadar  kolesterol  yaitu  138,6  mg/dl  dan  diet  vegetarian  yang  dijalani  21  –  30  tahun memiliki rerata  kadar kolesterol yaitu 172,7 mg/dl.  Hal tersebut  menunjukkan bahwa adanya peningkatan kadar kolesterol pada kelompok vegetarian lacto dengan semakin lamanya menjalani diet vegetarian lacto. Hasil uji statistik  menunjukkan adanya pengaruh lamanya  waktu  menjadi  vegetarian lacto terhadap kadar kolesterol. Semakin lama menjalani diet vegetarian lacto, maka kadar kolesterol akan semakin meningkat.
Correlation The Number Of Erythrocytes And Glucose Level From Serum Which 2 Hours Delayed From Delayed Bastian Darwin; Eka Yuniar; Endang Endang; Ian Kurniawan
Jurnal Analis Medika Biosains (JAMBS) Vol 7, No 1 (2020): JURNAL ANALIS MEDIKA BIOSAINS (JAMBS)
Publisher : Poltekkes Kemenkes Mataram

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (681.48 KB) | DOI: 10.32807/jambs.v7i1.164

Abstract

In the processing of specimens, serum specifically should be separated from blood cell the process of glucose glycolysis which caused decreasing levels of glucose. The very high number of erythrocyte can cause a glycolysis, so the decreasing of the levels of glucose will be happen. This study was pre-experiment using One Group Pretest Posttest. The sample was taken using purposive sampling technique and there were 30 subjects. The sample was EDTA bloods and serum which had been treated such as Separation of Glucose Serum which was 2 hours delayed and Separation of Glucose Serum which was checked directly. From this study we can found that the average of the glucose levels on serum separation which is 2 hours delayed was 91 mg/dL and the Separation of Glucose Serum which is checked directly was 97mg/dL. Based on paired T test the result, the data showed that there were differences from average levels of glucose between serum which was checked directly and separation of Serum which was 2 hours delayed. The average from the number of erythrocyte was 5,0 million/µL. Based on pearson correlation, there was no correlation between the number of erythrocyte and glucose level on serum separation which is 2 hours delayed.
Formulasi Sediaan Spray Ekstrak Etanol 96% Buah Terung Ungu Panjang (Solanum Melongena L.) Dan Bunga Kenanga (Cananga Adorata)Terhadap Kematian Nyamuk Aedes Sp zainal fikri; Fitria Ernawati; Yunan Jiwintarum
Jurnal Analis Medika Biosains (JAMBS) Vol 7, No 1 (2020): JURNAL ANALIS MEDIKA BIOSAINS (JAMBS)
Publisher : Poltekkes Kemenkes Mataram

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (563.565 KB) | DOI: 10.32807/jambs.v7i1.177

Abstract

Tujuan dari penelitian ini untuk mengetahui efektivitas dan pengaruh formulasi kombinasi sediaan spray ekstrak etanol 96%  buah terung ungu panjang (Solanum melongena L.)100% dan minyak bunga kenanga (Cananga adorata) 100% terhadap kematian nyamuk Aedes sp” terhadap kematian nyamuk Aedes sp” berdasarkan variasi waktu kontak. Jenis penelitian ini eksperimental dengan desain penelitian Post Test Only Control Group Design). Perlakuan menggunakan 3 formulasi kombinasi sediaan spray ekstrak etanol buah terung ungu (Solanum melongena L.) konsentrasi 100% dan minyak bunga kenanga (Cananga adorata) 100% dengan perbandingan 1:2, 1 : 1 dan 2. Data yang dikumpulkan berupa persentase kematian nyamuk, LC 50 dan LC 90 dari nyamuk Aedes pada variasi waktu kontak (1 jam, 2 jam, 3 jam, 4 jam, 5 jam, 6 jam, 7 jam, 8 jam, 9 jam, 10 jam, 11 jam, 12 jam, 24 jam dan 72 jam).  Hasil penelitian menunjukkan bahwa formulasi kombinasi sediaan spray ekstrak etanol buah terung ungu (Solanum melongena L.) 100% dan minyak bunga kenanga (Cananga adorata)100% dari berdasarkan waktu kontak menunjukkan nilai signifiknsi (p) sebesar 0,0000 < α 0,05. Selisih nilai rerata kematian larva pada masing – masing konsentrasi mengalami peningkatan dengan konsentrasi paling efektif berada pada  perbandingan 2 :1. Formulasi F1 Letal Concentration 50% (LC50)  dan Letal Concentration 90% (LC90) terdapat pada interval waktu kontak 5 jam dengan 6 jam, dimana pada waktu kontak 5 jam terdapat 32% kematian nyamuk dan waktu kontak 6 jam terdapat 92% kematian nyamuk. Formulasi F2 Letal Concentration 50% (LC50)  dan Letal Concentration 90% (LC90) juga terdapat pada interval waktu kontak 5 jam dengan 6 jam, dimana pada waktu kontak 5 jam terdapat 32% kematian nyamuk dan waktu kontak 6 jam terdapat 96% kematian nyamuk. Formulasi F3 Letal Concentration 50% (LC50)  terdapat pada interval waktu kontak 4 jam dengan 5 jam, dimana pada waktu kontak 4 jam terdapat 33% kematian nyamuk dan waktu kontak 5 jam terdapat 84% kematian nyamuk.  Letal Concentration 90% (LC90) terdapat pada interval waktu kontak 5 jam dengan 6 jam, dimana pada waktu kontak 5 jam terdapat 84% kematian nyamuk dan waktu kontak 6 jam terdapat 97% kematian nyamuk. Formulasi kombinasi sediaan spray ekstrak etanol buah terung ungu (Solanum melongena L.) konsentrasi 100% dan minyak bunga kenanga (Cananga adorata)100% dari hasil destilasi/penyulingan sangat efektif dalam mematikan nyamuk Aedes Sp dengan konsentrasi paling efektif adalah formulasi 3. LC50  dan LC90 untuk F1 dan F2 terdapat pada interval waktu kontak 5 jam dengan 6 jam, sedangkan formulasi F3 LC50 terdapat pada interval waktu kontak 4 jam dengan 5 jam, dan LC90 terdapat pada interval waktu kontak 5 jam dengan 6 jam. Formulasi kombinasi sediaan spray ekstrak etanol buah terung ungu (Solanum melongena L.) konsentrasi 100% dan minyak bunga kenanga (Cananga adorata)100% sangat efektif dalam mematikan nyamuk Aedes Sp.
Perbedaan Kadar Protein Urin Sebelum Dan Sesudah Latihan Fisik Pada Atlet di Pusat Pendidikan dan Latihan Pelajar (PPLP) Provinsi Bengkulu Jon Farizal; Zamharira Muslim; Nadia Wulan Syapera
Jurnal Analis Medika Biosains (JAMBS) Vol 7, No 1 (2020): JURNAL ANALIS MEDIKA BIOSAINS (JAMBS)
Publisher : Poltekkes Kemenkes Mataram

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (141.267 KB) | DOI: 10.32807/jambs.v7i1.155

Abstract

Latar belakang: Latihan fisik dengan intensitas berat mengakibatkan sel-sel otot rangka bekerja lebih giat, dan oksigen yang dibutuhkan sel semakin meningkat sehingga otot rangka mengalami vasodilatasi. Sedangkan di ginjal mengalami vasokontriksi, aliran darah berkurang sampai 20% sehingga dapat menyebabkan ekskresi protein > 1,5 mg/min. protein urin adalah pemeriksaan penunjang fungsi ginjal. Data menunjukkan bahwa 70-80% atlet mengalami proteinuria setelah olahraga intensitas berat, baik pada atlet olahraga kontak maupun non-kontak.Tujuan: untuk mengetahui perbedaan kadar protein urin sebelum dan sesudah latihan fisik. Metode: Penelitian yang digunakan adalah pra eksperimen dengan rancangan one group pretest postest. Sampel terdiri dari 31 responden dengan metode total sampling. Dilakukan pengukuran kadar protein urin, diberi perlakuan latihan fisik dan diukur kembali kadar protein urinnya  dengan metode pemeriksaan asam asetat 6%. Analisis data menggunakan uji Wilcoxon.Hasil: terdapat peningkatan kadar protein urin dengan nilai rerata sebelum latihan fisik sebesar 0,03 dan nilai rerata sesudah latihan fisik 0,19, namun tidak terdapat perbedaan yang signifikan kadar protein urin sebelum dan sesudah latihan fisik dengan P=0,059. Kesimpulan: Tidak Terdapat perbedaan yang signifikan kadar protein urin sebelum dan sesudah latihan fisik.
Hiperurisemia dan Cystatin C Meri Meri; Yane Liswanti
Jurnal Analis Medika Biosains (JAMBS) Vol 7, No 1 (2020): JURNAL ANALIS MEDIKA BIOSAINS (JAMBS)
Publisher : Poltekkes Kemenkes Mataram

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32807/jambs.v7i1.161

Abstract

Hiperurisemia merupakan keadaan kadar asam meningkat dalam darah. Kadarnya yang meningkat dapat menyebabkan penyakit, salah satunya yaitu adalah gangguan ginjal. Parameter cystatin C dipakai sebagai parameter yang lebih unggul dibanding kreatinin dalam menilai fungsi ginjal. Kondisi ginjal yang sedang hiperurisemia masih belum dapat dijelaskan secara lengkap, dengan demikian dilakukan pemeriksaan cystatin C untuk mengukur fungsi ginjal akibat hiperurisemia. Tujuan penelitian yaitu untuk mengetahui gambaran cystatin C pada hiperurisemia. Metode penelitian  yaitu deskriptif. Partisipan pada penelitian ini adalah laki-laki berusia 18-65 tahun (25 orang) sesuai kriteria yaitu  hiperurisemia,  berpuasa, tidak obesitas. Hasil penelitian : kadar asam urat (mean)= 8,928 mg/dL dan Cystatin C (mean) =1,08 mg/dL. Kadar asam urat tersebut berada diatas nilai normal (hiperurisemia) karena nilai normalnya adalah 3,4-7,0 mg/dL. Pada kadar tersebut diakukan pemeriksaan cystatin C yang memiliki kadar peningkatan diatas nilai normal. Kesimpulan: gambaran asam urat meningkat memiliki kadar cystatin C yang meningkat.
Hubungan Lalapan dengan Kejadian Infeksi Soil Transmitted Helmiths (STH) pada Anak Sekolah di Kecamatan Gandus Tahun 2019 Hafyarie Harnan; Rico Januar Sitorus; Chairil Anwar; Herry Hermansyah; Hernita Hernita
Jurnal Analis Medika Biosains (JAMBS) Vol 7, No 1 (2020): JURNAL ANALIS MEDIKA BIOSAINS (JAMBS)
Publisher : Poltekkes Kemenkes Mataram

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32807/jambs.v7i1.160

Abstract

Infeksi Soil Transmitted Helmiths(STH) masih banyak ditemukan di negara berkembang termasuk Indonesia. Infeksi STH ini kurang mendapatkan perhatian sebab kebanyakan tanpa gejala. Apabila hal tersebut dibiarkan terus menerus maka infeksi STH ini akan menjadi lebih berat dan berbahaya. Anak usia sekolah dasar rentan untuk mengalami infeksi ini. Banyak faktor yang menyebabkan kejadian infeksi STH tersebut. Diantaranya kebiasaan mengkonsumi lalalapan. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis hubungan konsumsi lalapan pada anak sekolah di Kecamatan Gandus Kota Palembang. Penelitian ini bersifat analitik observasional dengan rancangan cross sectional. Penelitian dilakukan terhadap 174 anak sekolah dasar yang tersebar di lima kelurahan. Pengambilan sampel dilakukan secara  Multi Stage Random Sampling. Pengumpulan data Primer diperoleh melalui wawancara langsung dengan menggunakan kuesioner. Dilakukan pemeriksaan faeces untuk mengidentifikasi adanya infeksi kecacingan menggunakan metode Kato Katz dan modifikasi Harada Mori. Data selanjutnya dianalisis menggunakan uji bivariate dan multivariate menggunakan aplikasi Stata versi 15. Hasil pemeriksaan faeces didapatkan positif infeksi kecacingan 23,6%. Analisis bivariat menunjukkan bahwa kebiasaan sebelum menyajikan lalapan (p=0,047) ; OR=2,329 dan kebiasaan makan lalapan di luar (p=0,016) ; OR=2,529 memiliki hubungan yang signifikan terhadap kejadian infeksi STH, akan tetapi frekuensi mengkonsumsi lalapan (p=0,493) ; OR=1,297 dan tempat beli lalapan (p=0,318) ; OR=1,43 memiliki hubungan yang tidak signifikan. Faktor yang paling dominan adalah makan lalapan di luar rumah. Kesimpulan kebiasaan sebelum menyajikan lalapan dan kebiasaan mengkonsumilalapan di luar rumah merupakan faktor risiko kejadian infeksi STH. Faktor risiko yang paling berpengaruh terhadap kejadian infeksi STH di Kecamatan Gandus Kota Palembang adalah kebiasaan makan lalapan di luar rumah.
Formulasi Bubuk Bunga Cengkeh (Syzygium Aromaticum) Dalam Media Teri Ubi Rumput Laut Medium (Turlm) Formula 3 Sebagai Zat Penghambat Jamur Kontaminan Pada Biakan Mycobacterium Tuberculosis rohmi rohmi; Fahrudin Ahad; Maruni Wiwin Diarti
Jurnal Analis Medika Biosains (JAMBS) Vol 7, No 1 (2020): JURNAL ANALIS MEDIKA BIOSAINS (JAMBS)
Publisher : Poltekkes Kemenkes Mataram

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32807/jambs.v7i1.176

Abstract

Tujuan penelitian ini adalah mengetahui Formulasi Bubuk bunga Cengkeh (Syzygium aromaticum ) dalam Media Teri Ubi Rumput Laut Medium (TURLM) Formula  3 Sebagai Zat Penghambat Jamur Kontaminan pada Biakan Mycobacterium tuberculosis yang dapat digunakan dalam menghambat pertumbuhan jamur kontaminan tanpa mempengaruhi pertumbuhan koloni dan angka kesuburan M. tuberculosis.  Desain penelitian eksperiment di laboratorium dengan menggunakan desain The Posttest Only Control Group Design.  Data dari hasil pengamatan pertumbuhan koloni pada masing – masing media formula kombinasi Bubuk bunga CengkehTURLM Formula 3 (tiga) dan media pembandingan Loweinstein – Jensen dilakukan analisis secara deskriptif.  Hasil penelitian menunjukkan bahwa gambaran tekstur media antara ketiga formula TURLM 3 dengan penambahan bubuk cengkeh tidak menunjukkan perbedaan yang signifikan baik dalam tekstur kekerasan, homogenitas, bau dan permukaan. Media TURLM formula 3 tanpa bubuk cengkeh dan Loweinstein – Jenssen menunjukkan pertumbuhan koloni jamur kontaminan Aspergillus flavus, Aspergillus niger dan bakteri kontaminan Staphylococcus albus, kecepatan pertumbuhan pada hari ke -5 dan angka kesuburan pertumbuhan 4 (empat),  sedangkan pada media formulasi bubuk bunga Cengkeh (Syzygium aromaticum ) dalam media Teri Ubi Rumput Laut Medium (TURLM) formula 3 baik pada formulasi 1,2 dan 3 sampai dengan minggu ke -8 pengamatan menunjukkan hasil pertumbuhan  koloni jamur kontaminan dan M. tuberculosis  negative.  Kesimpulan dari penelitian ini adalah media TURLM formula 3 yang ditambahkan bubuk cengkeh pada semua formula mampu membuktikan sangat efektif dalam menghambatan pertumbuhan jamur kontaminan,  namun juga menghambat pertumbuhan M. tuberculosis, sehingga dapat dikembangkan untuk anti jamur pada semua produk media yang rentan terhadap kontaminasi jamur, terutama pada media pertumbuhan M. tuberculosis. 
Hubungan Antara Kadar Laju Endap Darah (LED) Dengan Kadar C-Reaktiv Protein (CRP) Pada Penderita Tuberkulosis (TBC) Di Wilayah Kerja Puskesmas Alas Barat aini aini aini; Nurmawan Nurmawan; Jumari Ustiawaty
Jurnal Analis Medika Biosains (JAMBS) Vol 7, No 1 (2020): JURNAL ANALIS MEDIKA BIOSAINS (JAMBS)
Publisher : Poltekkes Kemenkes Mataram

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32807/jambs.v7i1.169

Abstract

Tuberculosis is a disease caused by rod-shaped bacteria (basil) with another name Mycrobacterium tuberculosis. Mycrobacterium tuberculosis enters the body then causes inflammation, inflammation and bacterial invasion which then induces liver cells to synthesize acute phase C-reactive protein protein (CRP). CRP will increase sharply after inflammation, as well as the formation of aggregates derived from the acute phase protein hormone which causes an increase in the Erythrocyte sedimentation rate (ESR)). The purpose of this study was to determine the relationship Erytrocyte sedimentation rate (ESR) and levels of C-Reactiv protein (CRP) in tuberculosis (TBC) patients. This research is an analytical descriptive study using cross sectional. Data collectors are done using the Non Random Accidental Sampling technique. The number of respondents in this study were 11 people with tuberculosis. Based on the results of this study it is known that TBC patients with smear negative as much as 7 people (63.6%) and TB patients with positive smear as much as 4 people (36.4%), both in TB patients with negative smear and positive smear both have levels of ESR not normal with an average ESR level in positive smear of 101.3 mm / hour and the average ESR level in smear negative is 20.8 mm / hour. All TBC patients with smear positive CRP levels (not normal) with an average mean value of CRP of 36 mg / L or an average CRP level in TBC smear negative patients of 0.9 mg / L. Based on the Pearson test results between levels of erythrocyte sedimentation rate (ESR) with C-Reactive protein (CRP) in tuberculosis (TBC) patients obtained a value of p <0.01 (0.000 <0.01). This shows a strong relationship between LED and CRP levels in TB patients

Filter by Year

2014 2025


Filter By Issues
All Issue Vol 12, No 2 (2025): JURNAL ANALIS MEDIKA BIOSAINS (JAMBS) Vol 12, No 1 (2025): JURNAL ANALIS MEDIKA BIOSAINS (JAMBS) Vol 11, No 2 (2024): JURNAL ANALIS MEDIKA BIOSAINS (JAMBS) Vol 11, No 1 (2024): JURNAL ANALIS MEDIKA BIOSAINS (JAMBS) Vol 10, No 2 (2023): JURNAL ANALIS MEDIKA BIOSAINS (JAMBS) Vol 10, No 1 (2023): JURNAL ANALIS MEDIKA BIOSAINS (JAMBS) Vol 9, No 2 (2022): JURNAL ANALIS MEDIKA BIOSAINS (JAMBS) Vol 9, No 1 (2022): JURNAL ANALIS MEDIKA BIOSAINS (JAMBS) Vol 8, No 2 (2021): JURNAL ANALIS MEDIKA BIOSAINS (JAMBS) Vol 8, No 1 (2021): JURNAL ANALIS MEDIKA BIOSAINS (JAMBS) Vol 7, No 2 (2020): JURNAL ANALIS MEDIKA BIOSAINS (JAMBS) Vol 7, No 1 (2020): JURNAL ANALIS MEDIKA BIOSAINS (JAMBS) Vol 6, No 2 (2019): JURNAL ANALIS MEDIKA BIOSAINS (JAMBS) Vol 6, No 1 (2019): JURNAL ANALIS MEDIKA BIOSAINS (JAMBS) Vol 5, No 2 (2018): JURNAL ANALIS MEDIKA BIOSAINS Vol 5, No 2 (2018): JURNAL ANALIS MEDIKA BIOSAINS (JAMBS) Vol 5, No 1 (2018): JURNAL ANALIS MEDIKA BIOSAINS Vol 5, No 1 (2018): JURNAL ANALIS MEDIKA BIOSAINS (JAMBS) Vol 4, No 2 (2017): JURNAL ANALIS MEDIKA BIOSAINS (JAMBS) Vol 4, No 1 (2017): JURNAL ANALIS MEDIKA BIOSAINS (JAMBS) Vol 4, No 1 (2017): JURNAL ANALIS MEDIKA BIOSAINS Vol 3, No 1 (2016): JURNAL ANALIS MEDIKA BIO SAINS Vol 2, No 2 (2015): JURNAL ANALIS MEDIKA BIOSAINS (JAMBS) Vol 2, No 1 (2015): JURNAL ANALIS MEDIKA BIOSAINS (JAMBS) Vol 1, No 2 (2014): Jurnal Analis Medika Bio Sains Vol 1, No 1 (2014): Jurnal Analis Medika Bio Sains More Issue