cover
Contact Name
Padjadjaran Journal of Dental Researchers and Students
Contact Email
jurnal.fkg@unpad.ac.id
Phone
-
Journal Mail Official
jurnal.fkg@unpad.ac.id
Editorial Address
-
Location
Kota bandung,
Jawa barat
INDONESIA
Padjadjaran Journal of Dental Researchers and Students
ISSN : 26569868     EISSN : 2656985X     DOI : -
Core Subject : Health, Science,
Padjadjaran Journal of Dental Researchers and Students adalah open access journal berbahasa Indonesia, yang menerbitkan artikel penelitian dari para peneliti pemula dan mahasiswa di semua bidang ilmu dan pengembangan dasar kesehatan gigi dan mulut melalui pendekatan interdisipliner dan multidisiplin. Padjadjaran Journal of Dental Researchers and Students diterbitkan oleh Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Padjadjaran dua kali setahun, setiap bulan Februari dan Oktober. Bidang cakupan Padjadjaran Journal of Dental Researchers and Students adalah semua bidang ilmu kedokteran gigi, yaitu biologi oral; ilmu dan teknologi material gigi; bedah mulut dan maksilofasial; ilmu kedokteran gigi anak; ilmu kesehatan gigi masyarakat, epidemiologi, dan ilmu kedokteran gigi pencegahan; konservasi gigi, endodontik, dan kedokteran gigi operatif; periodonsia; prostodonsia; ortodonsia; ilmu penyakit mulut; radiologi kedokteran gigi dan maksilofasial; serta perkembangan dan ilmu kedokteran gigi dari pendekatan ilmu lainnya. Padjadjaran Journal of Dental Researchers and Students mengakomodasi seluruh karya peneliti pemula dan mahasiswa kedokteran gigi untuk menjadi acuan pembelajaran penulisan ilmiah akademisi kedokteran gigi.
Arjuna Subject : -
Articles 269 Documents
Pengaruh teknik langsung dan tidak langsung pembuatan mahkota sementara resin akrilik autopolimerisasi terhadap ketepatan marginThe effect of direct and indirect techniques on the margin accuracy in the fabrication of the auto polymerised acrylic resin temporary crown Winna Wijaya; Ika Andryas
Padjadjaran Journal of Dental Researchers and Students Vol 3, No 2 (2019): Oktober 2019
Publisher : Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (561.149 KB) | DOI: 10.24198/pjdrs.v3i2.23906

Abstract

Pendahuluan: Mahkota sementara harus memiliki ketepatan margin yang baik untuk menjaga kesehatan gingiva dan melindungi gigi dari trauma suhu, kimia, fisik, dan bakteri. Pembuatan mahkota sementara yang paling umum digunakan adalah teknik langsung dan tidak langsung. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh teknik langsung dan tidak langsung pembuatan mahkota sementara resin akrilik autopolimerisasi terhadap ketepatan margin. Metode: Jenis penelitian ini adalah eksperimental laboratoris. Sampel pada penelitian ini adalah resin akrilik autopolimerisasi. Jumlah seluruh sampel adalah 12 dengan 6 sampel untuk masing-masing kelompok. Seluruh sampel diuji ketepatan marginnya menggunakan stereomikroskop. Hasil: Analisis statistik menggunakan uji t tidak berpasangan menunjukkan terdapat perbedaan yang signifikan antara teknik langsung dan tidak langsung pembuatan mahkota sementara terhadap ketepatan margin p=0,0001 (p<0,05). Simpulan: Mahkota sementara yang dibuat menggunakan teknik tidak langsung menghasilkan ketepatan margin yang lebih baik daripada teknik langsung.Kata kunci: Ketepatan margin, mahkota sementara, resin akrilik autopolimerisasi, teknik langsung, teknik tidak langsung. ABSTRACTIntroduction: Temporary crowns must have good margin accuracy to maintain gingival health and protect teeth from temperature, chemical, physical, and bacterial trauma. The most commonly used temporary crown is the direct and indirect technique. This study was aimed to determine the effect of direct and indirect techniques on the margin accuracy in the fabrication of the auto polymerised acrylic resin temporary crown. Method: This research was an experimental laboratory. The sample in this study was auto polymerised acrylic resin. The total number of samples was 12 with 6 samples for each group. All samples were tested for margin accuracy using stereomicroscopes. Results: Statistical analysis using unpaired t-test showed that there were significant differences between the direct and indirect techniques of temporary crowns fabrication on the margin accuracy p = 0.0001 (p < 0.05). Conclusion: Temporary crowns fabricated with indirect technique produce better margin accuracy than direct technique.Keywords: Margin accuracy, temporary crown, auto polymerised acrylic resin, direct technique, indirect technique.
Kepuasan pasien dalam perawatan periodontal di Klinik Periodonsia Rumah Sakit Gigi dan Mulut Universitas Padjadjaran Pupitasari Puspitasari; Agus Susanto; Indra Mustika Setia Pribadi
Padjadjaran Journal of Dental Researchers and Students Vol 2, No 1 (2018): Februari 2018
Publisher : Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (324.354 KB) | DOI: 10.24198/pjdrs.v3i1.22309

Abstract

Pendahuluan: kepuasan pasien terhadap pelayanan di suatu instansi kesehatan merupakan hal yang penting karena termasuk tujuan diadakannya pelayanan kesehatan. Kepuasan pasien berkaitan dengan harapan dan kenyataan dalam pelayanan yang diberikan. Tujuan penelitian adalah untuk mengetahui tingkat kepuasan pasien dalam perawatan periodontal di Klinik Periodontik Rumah Sakit Gigi dan Mulut Universitas Padjadjaran. Metode: Jenis penelitian deskriptif survei menggunakan kuesioner. Sampel ditentukan dengan menggunakan teknik incidental sampling dengan kriteria pasien yang telah atau sedang dirawat oleh residen di Klinik Periodontik Rumah Sakit Gigi dan Mulut Universitas Padjadjaran dari bulan Desember 2017-Februari 2018. Hasil: kepuasan pasien terhadap kemampuan dokter gigi sebesar 82,09%, ketersediaan alat dan bahan sebesar 80%, kemudahan untuk mendapatkan pelayanan 83,54%, keadaan ruang tunggu 71,54%, kinerja petugas selain dokter gigi 76,15%, dan pelayanan secara keseluruhan 78,67%. Hasil akhir dari perhitungan untuk seluruh indikator adalah 78,66%. Simpulan: pasien merasa puas terhadap perawatan periodontal di Klinik Periodontik Rumah Sakit Gigi dan Mulut Universitas Padjadjaran.Kata Kunci: Kepuasan pasien, perawatan periodontal, Klinik Periodonsia
Radiograf panoramik digital bentuk kepala kondilus pada pasien kliking dan tidak klikingDigital panoramic radiograph of the condyle head shape in clicking and non-clicking patients Ramzy Ramadhan; Farina Pramanik; Lusi Epsilawati
Padjadjaran Journal of Dental Researchers and Students Vol 3, No 2 (2019): Oktober 2019
Publisher : Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1619.463 KB) | DOI: 10.24198/pjdrs.v3i2.21934

Abstract

Pendahuluan: Salah satu gejala klinis awal gangguan sendi temporomandibular adalah kliking, tetapi tidak semua penderita gangguan TMJ memperlihatkan gejala kliking. Kliking berkaitan dengan perubahan bentuk dan posisi kepala kondilus. Bentuk kepala kondilus dapat terlihat pada radiograf panoramik digital. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui bentuk kepala kondilus pada pasien kliking dan tidak kliking di RSGM Unpad dengan menggunakan radiograf panoramik digital. Metode: Jenis penelitian adalah deskriptif, dengan teknik pengambilan sampel menggunakan metode purposive sampling, sampel berjumlah 31 sampel radiograf panoramik digital pasien kliking dengan jumlah 11 dan tidak kliking dengan jumlah 20 pada bulan Juni dan Juli 2014 di RSGM Unpad. Hasil: Bentuk kepala kondilus yang paling banyak ditemukan pada TMJ kliking adalah flattening, di sisi kanan adalah round dan di sisi kiri adalah flattening. Sisi kanan pasien tidak kliking mayoritas adalah round dan di sisi kiri mayoritas adalah round, pointed, dan flattening. Simpulan: Bentuk kepala kondilus pada TMJ kliking dapat berbentuk normal atau patologis secara seimbang, pada TMJ tidak kliking mayoritas bentuk kepala kondilus kategori normal. Mayoritas bentuk TMJ pada TMJ kliking adalah flattening, tidak kliking adalah round.Kata kunci: Bentuk kepala kondilus, pasien kliking, pasien tidak kliking, radiograf panoramik digital. ABSTRACTIntroduction: One of the early clinical symptoms of temporomandibular joint disorder is clicking, but not all TMJ disorder patients show clicking symptoms. Clicking is related to changes in the shape and position of the condyle head. The condyle head shape can be observed on digital panoramic radiograph. The purpose of this study was to determine the condyle head shape in clicking and non-clicking patients in Universitas Padjadjaran Dental Hospital (RSGM Unpad) using a digital panoramic radiograph. Methods: The type of research was descriptive, with sampling technique using purposive sampling method. The total of 31 digital panoramic radiographic samples of 11 clicking patients and 20 non-clicking patients in June and July 2014 at Universitas Padjadjaran Dental Hospital. Results: The condyle head shape which most commonly found in clicking patients was flattening, round-shaped on the right side and flattening-shaped on the left side. The right side of the non-clicking patient was majority round-shaped and on the left side was majority round-shaped, pointed-shaped, and flattening-shaped. Conclusion: The condyle head shape in clicking can be normal or pathologically balanced; in the non-clicking TMJ patients, the majority of condyle head shape was in the normal category. The majority of condyle head shape in the clicking TMJ patients, the majority of condyle head shape was flattening, while non-clicking was round.Keywords: Condyle head shape, clicking patient, non-clicking patient, digital panoramic radiograph.
Perbedaan dimensi saluran udara faring pada berbagai relasi skeletal Differences of dimension of the pharyngeal airway in various skeletal relations Mimi Marina Lubis; Sonia Jayanthi
Padjadjaran Journal of Dental Researchers and Students Vol 3, No 2 (2019): Oktober 2019
Publisher : Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (361.678 KB) | DOI: 10.24198/pjdrs.v3i2.23666

Abstract

Pendahuluan: Faring merupakan otot yang berfungsi sebagai saluran masuk dan keluarnya makanan dan udara. Penilaian terhadap saluran udara faring berhubungan dengan penilaian terhadap fungsi pernafasan. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk menganalisa adanya perbedaan dimensi saluran udara faring antara berbagai relasi sagital skeletal pada laki-laki dan perempuan. Metode: Sefalogram lateral dari 100 subjek di bagi menjadi tiga kelompok (masing-masing kelompok terdiri dari 40 subjek Kelas I, 34 subjek Kelas II, 26 subjek Kelas III) berdasarkan sudut ANB: Kelas I (ANB 0-4), Kelas II (ANB >4°), Kelas III (ANB <0°). Seluruh sefalogram lateral dilakukan tracing dan pengukuran secara manual. Pengukuran dilakukan terhadap lebar nasofaring (PNS-UPW), lebar orofaring (U-MPW), lebar laringofaring (V-LPW). Hasil: Analisa statistik menunjukkan adanya perbedaan yang signifikan pada lebar orofaring (U-MPW) di antara relasi sagital skeletal yang berbeda (p<0,05). Perbedaan pada jenis kelamin ditemukan pada lebar laringofaring (V-LPW) (p<0,05). Simpulan: Terdapat perbedaan dimensi saluran udara faring di antara relasi skeletal dan jenis kelamin yang berbeda.Kata kunci: Dimensi saluran udara faring, sefalometri lateral, relasi sagital skeletal.  ABSTRACTIntroduction: Pharynx is a muscle that functions as an inlet and outlet for food and air. The evaluation of the pharyngeal airway is related to the evaluation of respiratory function. The purpose of this study was to analyse the differences of dimension of the pharyngeal airway in various skeletal relations in men and women. Methods: Lateral cephalograms of 100 subjects divided into three groups (each group consisted of 40 Class I subject, 34 Class II subjects, and 26 Class III subjects) based on the ANB angles: Class I (ANB 0-4), Class II ( ANB >4 °), Class III (ANB <0 °). All lateral cephalograms were manually traced and measured. Measurements were made of nasopharyngeal width (PNS-UPW), oropharyngeal width (U-MPW), and laryngopharyngeal width (V-LPW). Results: Statistical analysis showed a significant difference in the width of the oropharynx (U-MPW) between different skeletal sagittal relations (p < 0.05). Sex differences were found in laryngopharyngeal width (V-LPW) (p < 0.05). Conclusion: There are differences in the dimension of the pharyngeal airway between different skeletal and gender relations.Keywords: Dimension of the pharyngeal airway, lateral cephalometry, sagittal skeletal relations. 
Perbedaan laju sekresi saliva wanita hamil dan tidak hamilDifferences in salivary flow rate of pregnant and non-pregnant women Indah Dwitasari; Rosiliwati Wihardja; Silvi Kintawati
Padjadjaran Journal of Dental Researchers and Students Vol 3, No 2 (2019): Oktober 2019
Publisher : Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/pjdrs.v3i2.24068

Abstract

Pendahuluan: Perubahan hormonal yang terjadi selama kehamilan dapat memengaruhi fisiologi seluruh tubuh termasuk rongga mulut. Peningkatan hormon menyebabkan perubahan mekanisme sekresi saliva oleh kelenjar saliva yang berpengaruh terhadap laju sekresi di dalam rongga mulut. Wanita hamil biasanya mengeluhkan mulut terasa penuh dan sulit berbicara, hal ini terjadi karena produksi saliva mengalami peningkatan yang secara langsung menyebabkan peningkatan laju sekresi saliva. Metode: Deskriptif komparatif dengan menggunakan teknik survei. Sampel penelitian terdiri dari 30 wanita hamil dan 30 wanita tidak hamil dengan rentang usia 20-35 tahun sesuai dengan kriteria inklusi. Unstimulated whole saliva dikumpulkan untuk menentukan besar laju sekresi saliva. Data dianalisis dengan menggunakan independent two sample t-test dengan α = 0,05. Hasil: Hasil penelitian menunjukkan rerata laju sekresi saliva wanita hamil lebih tinggi dibandingkan dengan laju sekresi saliva wanita tidak hamil (p<0,05) dengan rerata laju sekresi saliva pada wanita hamil adalah 0,7027 ± 0,152 mL/menit dibandingkan wanita tidak hamil adalah 0,5053 ± 0,160 mL/menit. Simpulan: Terdapat perbedaan laju sekresi saliva yang signifikan, dimana laju sekresi saliva wanita hamil lebih tinggi dibandingkan wanita tidak hamil, dikarenakan peningkatan jumlah hormon kehamilan, mual, dan muntah, yang terjadi selama kehamilan.Kata kunci: Kehamilan, laju sekresi saliva, saliva tanpa terstimulasi. ABSTRACTIntroduction: Hormonal changes that occur during pregnancy can affect the physiology of the whole body, including the oral cavity. Increased hormones cause changes in the salivary flow mechanism by the salivary glands which affect the flow in the oral cavity. Pregnant women usually complain that their mouth feels full and hard to speak; this condition occurs because salivary production has increased which directly causes the salivary flow to increase. Methods: Comparative descriptive using survey techniques. The study sample consisted of 30 pregnant women and 30 non-pregnant women with an age range of 20-35 years according to inclusion criteria. Unstimulated whole saliva was collected to determine the rate of salivary secretion. Data were analysed using independent two-sample t-tests with α = 0.05. Results: The results showed the average salivary flow of pregnant women was higher than non-pregnant women (p < 0.05) with the average salivary flow of pregnant women was 0.7027 ± 0.152 mL/min compared to non-pregnant women (0.5053 ± 0.160 mL/min). Conclusion: There is a significant difference in the salivary flow, where the salivary flow of pregnant women is higher than non-pregnant women, due to hormonal increase, nausea, and vomiting, which occurs during pregnancy.Keywords: Pregnancy, salivary secretion rate, unstimulated whole saliva.
Kualitas radiograf periapikal dengan teknik bisektrisThe quality of periapical radiograph with the bisecting technique Annisa Permatahati; Ria Noerianingsih Firman; Farina Pramanik
Padjadjaran Journal of Dental Researchers and Students Vol 3, No 2 (2019): Oktober 2019
Publisher : Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (269.872 KB) | DOI: 10.24198/pjdrs.v3i2.23040

Abstract

Pendahuluan: Pemeriksaan radiografi dalam bidang kedokteran gigi sangat membantu klinisi dalam penegakkan diagnosis. Diketahui bahwa teknik radiografi yang paling sering digunakan di Rumah Sakit Gigi dan Mulut Universitas Padjadjaran (RSGM Unpad) adalah teknik intraoral periapikal bisektris. Kualitas radiograf dipengaruhi oleh proses pemeriksaan radiografi. Kualitas radiograf sangat berpengaruh terhadap penentuan penegakkan diagnosis, rencana perawatan, dan evaluasi pasca perawatan. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui kualitas radiograf periapikal dengan teknik bisektris di RSGM Unpad. Metode: Jenis penelitian ini adalah deskriptif. Populasi dalam penelitian ini adalah radiograf periapikal dengan teknik bisektris sepanjang tahun 2018. Sampel dalam penelitian ini adalah radiograf periapikal dengan teknik bisektris periode November sampai Desember 2018. Jumlah sampel yang digunakan yaitu sebanyak 90 radiograf. Hasil: Kriteria kualitas yang paling banyak terpenuhi adalah kriteria kontras dan distorsi bentuk dengan 97,78%, dan mayoritas radiograf bisektris, yaitu pada rating 1 dengan 85,56%. Simpulan: Kualitas radiograf periapikal dengan teknik bisektris di RSGM Unpad secara umum berada pada rating 1 berdasarkan National Radiological Protection Board (NRPB), yaitu sempurna yang berarti tidak ada kesalahan pada persiapan pasien, pemaparan sinar, pemosisian film, dan pengolahan film.Kata kunci: Kualitas radiograf, teknik periapikal bisektris, rating NRPB. ABSTRACTIntroduction: Radiographic examination in the field of dentistry is beneficial for clinicians in establishing the diagnosis. It is known that the radiographic technique most commonly used at the Universitas Padjadjaran Dental Hospital (RSGM Unpad) is bisecting intraoral periapical technique. The radiographic inspection process influences the quality of the radiograph. Quality of the radiograph profoundly affecting determination of diagnosis, treatment plan, and post-treatment evaluation. The purpose of this study was to determine the quality of periapical radiographs with the bisecting technique at Universitas Padjadjaran Dental Hospital. Methods: This research was descriptive. The population of this study was periapical radiographs with the bisecting technique throughout 2018. The sample of this study was periapical radiographs with bisecting technique from November to December 2018. The number of samples used was 90 radiographs. Results: The most fulfilled quality criteria were contrast criteria and shape distortion with 97.78%, and the majority of bisecting radiographs, namely at rating 1 with 85.56%. Conclusion: The quality of periapical radiographs with bisecting technique at Universitas Padjadjaran Dental Hospital in general is ranked 1 based on the National Radiological Protection Board (NRPB), which is categorised as perfect, which means that there are no errors in patient preparation, exposure to light, film positioning, and film processing.Keywords: Radiograph quality, post-treatment periapical technique, NRPB rating. 
Pengetahuan pekerja sektor informal bukan pemilik kartu Badan Penyelenggara Jaminan Sosial mengenai Badan Penyelenggara Jaminan Sosial Kesehatan Knowledge of Social Security Agency (BPJS) non-cardholder informal sector workers regarding the Healthcare and Social Security Agency (BPJS Kesehatan) Yoanita Petrina; Cucu Zubaedah; Sri Susilawati
Padjadjaran Journal of Dental Researchers and Students Vol 3, No 2 (2019): Oktober 2019
Publisher : Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/pjdrs.v3i2.24076

Abstract

Pendahuluan: Hak untuk sehat merupakan hak asasi manusia yang diakui di Indonesia. Pemerintah melaksanakan program Jaminan Kesehatan Nasional (JKN) untuk mewujudkan hak untuk sehat melalui Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS). Rendahnya partisipasi pekerja sektor informal karena kurangnya kesadaran dan pengetahuan tentang konsep dasar penjaminan kesehatan. Tujuan penelitian adalah mengetahui pengetahuan pekerja sektor informal bukan pemilik kartu BPJS mengenai BPJS Kesehatan. Metode: Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif dengan metode survei. Penelitian dilakukan dengan memberikan kuesioner pengetahuan BPJS Kesehatan. Sampel penelitian adalah pekerja sektor informal bukan pemilik kartu BPJS Kesehatan. Hasil: Hasil penelitian menunjukkan sebanyak 7,7% responden berpengetahuan cukup dan 92,3% berpengetahuan kurang tentang BPJS Kesehatan. Nilai rata-rata dari seluruh responden adalah 38,61 yang termasuk kategori kurang). Simpulan: Pengetahuan pekerja sektor informal bukan pemilik kartu BPJS Kesehatan mengenai BPJS Kesehatan tergolong dalam kategori kurang.Kata kunci: BPJS Kesehatan, JKN, pengetahuan, pekerja sektor informal. ABSTRACTIntroduction: The human right to health is a recognised human right in Indonesia. The government implements the Universal Healthcare Program (JKN) to actualise the human right to health through the Social Security Agency (BPJS). The low participation of informal sector workers is caused by lack of awareness and knowledge on the basic concepts of health insurance. The purpose of this study was to determine the knowledge of Social Security Agency (BPJS) non-cardholder informal sector workers regarding the Healthcare and Social Security Agency (BPJS Kesehatan). Methods: This research was a descriptive study with a survey method. The study was conducted by giving questionnaire regarding knowledge of Healthcare and Social Security Agency. The research sample was Social Security Agency (BPJS) non-cardholder informal sector workers. Results: The results showed that 7.7% of respondents had sufficient knowledge and 92.3% had less knowledge regarding the Healthcare and Social Security Agency. The average value of all respondents was 38.61 which included in the less category. Conclusion: Knowledge of Social Security Agency non-cardholder informal sector workers regarding the Healthcare and Social Security Agency belongs to the less knowledge category.Keywords: Healthcare and Social Security Agency, Universal Healthcare Program, knowledge, informal sector workers.
Pengaruh obat kumur herbal jeruk nipis (Citrus aurantifolia) terhadap penurunan indeks plak gigi muridThe effect of herbal mouthwash containing lime(Citrus aurantifolia) in decreasing of index plaque Meirina Gartika; Warta Dewi; Hening Tjaturina Pramesti
Padjadjaran Journal of Dental Researchers and Students Vol 3, No 2 (2019): Oktober 2019
Publisher : Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (288.428 KB) | DOI: 10.24198/pjdrs.v3i2.24074

Abstract

Pendahuluan: Obat kumur herbal jeruk nipis dan klorheksidin dapat membantu menurunkan plak pada permukaan gigi. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui perbedaan efektifitas obat kumur herbal dan klorheksidin terhadap penurunan nilai indeks plak. Metode: Jenis penelitian berupa eksperimental semu dengan metode intervensi. Populasi penelitian adalah 200 siswa kelas 1 dan 2 di MTs Ma’Arif Jatinangor Sumedang. Teknik pengambilan sampel melalui purposive sampling dan didapat 25 siswa yang memenuhi kriteria. Semua siswa menggunakan kedua obat kumur dengan periode washed out. Pemeriksaan indeks plak sebelum dan sesudah pemakaian obat kumur  menggunakan metode Oral Hyigiene Index Simplified (OHIS). Hasil: Sampai penelitian ini selesai, jumlah siswa yang diperiksa indeks plak sebelum dan sesudah penggunaan obat kumur hanya 14 orang karena selama penelitian beberapa siswa tidak dapat hadir. Hasil penelitian menunjukkan bahwa nilai indeks plak sebelum dan sesudah menggunakan obat kumur herbal terjadi penurunan dari 1,27 menjadi 1,09, sedangkan klorheksidin meningkat dari 1,14 menjadi 1,28. Anak-anak lebih memilih obat kumur klorheksidin  (64%) karena rasa yang lebih dapat diterima.  Simpulan: Obat kumur herbal jeruk nipis mempunyai efek lebih baik dalam menurunkan plak.
Kebersihan gigi tiruan lepasan pada kelompok usia 45-65 tahunRemovable denture cleanliness in the 45-65 years age group Desi Ratnasari; Rheni Safira Isnaeni; Rina Putri Noer Fadilah
Padjadjaran Journal of Dental Researchers and Students Vol 3, No 2 (2019): Oktober 2019
Publisher : Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (440.339 KB) | DOI: 10.24198/pjdrs.v3i2.23573

Abstract

Pendahuluan: Gigi tiruan lepasan adalah sebuah jenis restorasi yang dapat memperbaiki fungsi stomatognatik yang terganggu akibat kehilangan gigi. Pemakaian gigi tiruan dapat mengembalikan fungsi mastikasi, memulihkan fungsi bicara, memperbaiki estetika dan memelihara atau mempertahankan kesehatan jaringan mulut yang masih ada sehingga mencegah kerusakan berlanjut. Kebersihan gigi tiruan lepasan yang kurang terjaga dapat meningkatkan akumulasi plak yang dapat menyebabkan berbagai masalah pada rongga mulut sehingga mempengaruhi kesehatan rongga mulut secara umum. Kebersihan gigi tiruan dapat dinilai dengan menggunakan indeks, salah satunya adalah denture cleanliness index (DCI). Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kebersihan gigi tiruan lepasan pada kelompok usia 45-65 tahun di Kota Cimahi. Metode: Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif yang dilakukan pada 3 Puskesmas di Kota Cimahi. Penentuan sampel pada penelitian ini menggunakan cluster random sampling yang sesuai dengan kriteria inklusi sehingga didapatkan sampel sebanyak 69 orang. Penentuan kebersihan gigi tiruan menggunakan denture cleanliness index (DCI). Hasil: Kebersihan gigi tiruan lepasan dalam kategori sedang yaitu sebanyak 51 orang (74%), kategori buruk sebanyak 15 orang (22%) dan kategori bersih sebanyak 3 orang (4%). Simpulan: Kebersihan gigi tiruan lepasan pada kelompok usia 45-65 tahun di Kota Cimahi didapatkan kategori terbanyak adalah kategori sedang diikuti dengan kategori buruk dan paling sedikit adalah kategori bersih.Kata kunci: Denture cleanliness index (DCI), gigi tiruan lepasan, kebersihan gigi tiruan. ABSTRACTIntroduction: Removable denture is the type of restoration that can improve the stomatognathic function that is disrupted due to tooth loss. The use of dentures able to restore the masticatory function, restore the speech function, improve aesthetics and maintain the health of the remaining oral tissues to prevent continued damage. Poorly maintained removable denture cleanliness could increase plaque accumulation which can cause various problems in the oral cavity that affect general oral health. Denture cleanliness can be assessed using an index, one of which is the denture cleanliness index (DCI). This study was aimed to determine the cleanliness of removable dentures in the age group 45-65 years in Cimahi City. Methods: This research was a descriptive study conducted at 3 Community Health Centre (Puskesmas) in the City of Cimahi. Determination of the sample in this study using random cluster sampling following the inclusion criteria to obtain a sample of 69 people. Determination of denture cleanliness using denture cleanliness index (DCI). Results: Removable denture cleanliness mostly found in the medium category (51 people (74%)), poor category in 15 people (22%), and clean category in 3 people (4%). Conclusion: Removable denture cleanliness in the 45-65 years age group in Cimahi found mostly in the medium category followed by the poor category and found the least in the clean category.Keywords: Denture cleanliness index (DCI), removable denture, denture cleanliness.
Perbedaan teknik pencetakan two step dengan spacer coping metal dan polyethylene sheet terhadap cacat permukaan dan akurasi dimensi model kerja gigi tiruan cekatDifference between two step printing techniques with spacer coping metal and polyethylene sheet to surface defects and dimensional accuracy of fixed denture working models Dicky Guntara; Putri Welda Utami Ritonga
Padjadjaran Journal of Dental Researchers and Students Vol 3, No 2 (2019): Oktober 2019
Publisher : Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (416.539 KB) | DOI: 10.24198/pjdrs.v3i2.23798

Abstract

Pendahuluan: Pencetakan merupakan hasil dari cetakan gigi dan struktur jaringan pendukung. Untuk mendapatkan hasil cetakan yang baik, maka diperlukan teknik cetakan yang mampu menghasilkan permukaan cetakan yang halus dan akurasi dimensi yang tepat sehingga meningkatkan keberhasilan pembuatan gigi tiruan cekat. Salah satu teknik pencetakan untuk mendapatkan hasil cetakan yang baik adalah teknik two step dengan spacer. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui cacat permukaan dan perbedaan nilai akurasi dimensi model kerja gigi tiruan cekat pada pencetakan two–step dengan spacer coping metal 1 mm, coping metal 2 mm, dan polyethylene sheet 0,5 mm. Metode: Sampel pada penelitian ini diperoleh dari pencetakan model induk berdasarkan spesifikasi ANSI/ADA No.19. Sampel tersebut diperlukan untuk melihat cacat permukaan dan perhitungan akurasi. Jumlah sampel yang akan digunakan untuk diberi perlakuan sebanyak 8 sampel setiap kelompok yaitu putty/wash two step unspacer (kelompok A), putty/wash two step spacer coping metal 1 mm (kelompok B), putty/wash two step spacer coping metal 2 mm (kelompok C), putty/wash two step spacer polyethylene sheet 0,5 mm (kelompok D). Hasil: Tidak ada perbedaan yang signifikan pada cacat permukaan cetakan dan ada perbedaan yang signifikan pada akurasi dimensi model kerja gigi tiruan cekat pada hasil pencetakan two step dengan spacer coping metal 1 mm, coping metal 2 mm, dan polyethylene sheet 0,5 mm. Simpulan: Bila dilihat dari cacat permukaan maka hasil pencetakan two step dengan spacer polyethylene sheet 0,5 mm yang paling baik digunakan. Bila dilihat dari akurasi dimensi maka pencetakan two step dengan spacer coping metal 2 mm yang paling baik digunakan.Kata kunci: Pencetakan, two – step,  spacer, cacat, akurasi.ABSTRACTIntroduction: Imprint is the result of teeth and supporting tissue structures cast. To get a good impression, we need an imprint technique that can produce a smooth imprint surface and precise dimensional accuracy to increase the success of fixed denture manufacturing. One of the imprint technique to get a good impression is the two-step technique with a spacer. The purpose of this study was to determine surface defects and differences in dimensional accuracy value of fixed denture working models fabricated with two-step impression with 1 mm metal coping spacer, 2 mm metal coping sheet, and 0.5 mm polyethylene sheet. Methods: The sample in this study was obtained from the master model cast based on ANSI / ADA No.19 specifications. These samples were needed for surface defects observation and accuracy calculation. The number of samples that will be used for treatment was 8 samples per group, namely putty / wash two-step unspacer (group A), putty / wash two-step 1 mm metal coping spacer (group B), putty / wash two-step 2 mm metal coping spacer (group C), putty / wash two-step 0.5 mm polyethylene sheet spacer (group D). Results: There was no significant difference in the surface defects, and there were significant differences in dimensional accuracy of fixed denture working models fabricated with two-step imprint technique with 1 mm metal coping spacer, 2 mm metal coping spacer, and 0.5 mm polyethylene sheet. Conclusion: Assessed from the surface defects, two-step imprint technique with 0.5 mm polyethylene sheet is the best imprint technique. While from dimensional accuracy, two-step imprint technique with 2 mm metal coping spacer is the best imprint technique.Keywords: Imprint, two-step, spacer, defect, accuracy.

Page 6 of 27 | Total Record : 269