cover
Contact Name
Padjadjaran Journal of Dental Researchers and Students
Contact Email
jurnal.fkg@unpad.ac.id
Phone
-
Journal Mail Official
jurnal.fkg@unpad.ac.id
Editorial Address
-
Location
Kota bandung,
Jawa barat
INDONESIA
Padjadjaran Journal of Dental Researchers and Students
ISSN : 26569868     EISSN : 2656985X     DOI : -
Core Subject : Health, Science,
Padjadjaran Journal of Dental Researchers and Students adalah open access journal berbahasa Indonesia, yang menerbitkan artikel penelitian dari para peneliti pemula dan mahasiswa di semua bidang ilmu dan pengembangan dasar kesehatan gigi dan mulut melalui pendekatan interdisipliner dan multidisiplin. Padjadjaran Journal of Dental Researchers and Students diterbitkan oleh Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Padjadjaran dua kali setahun, setiap bulan Februari dan Oktober. Bidang cakupan Padjadjaran Journal of Dental Researchers and Students adalah semua bidang ilmu kedokteran gigi, yaitu biologi oral; ilmu dan teknologi material gigi; bedah mulut dan maksilofasial; ilmu kedokteran gigi anak; ilmu kesehatan gigi masyarakat, epidemiologi, dan ilmu kedokteran gigi pencegahan; konservasi gigi, endodontik, dan kedokteran gigi operatif; periodonsia; prostodonsia; ortodonsia; ilmu penyakit mulut; radiologi kedokteran gigi dan maksilofasial; serta perkembangan dan ilmu kedokteran gigi dari pendekatan ilmu lainnya. Padjadjaran Journal of Dental Researchers and Students mengakomodasi seluruh karya peneliti pemula dan mahasiswa kedokteran gigi untuk menjadi acuan pembelajaran penulisan ilmiah akademisi kedokteran gigi.
Arjuna Subject : -
Articles 269 Documents
Pola intonasi tindak tutur direktif berdasarkan parameter akustik suara dalam praktik dental hypnosisIntonation pattern of directive speech acts based on sound acoustic parameters in the practice of dental hypnosis Aulia Maharani Destiarlisa; Gilang Yubiliana; Andri Abdurrochman; Nani Darmayanti
Padjadjaran Journal of Dental Researchers and Students Vol 4, No 1 (2020): April 2020
Publisher : Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/pjdrs.v4i1.21989

Abstract

Pendahuluan: Penelitian ini merupakan penelitian interdisipliner antara ilmu kedokteran gigi, fisika, dan linguistik (bahasa). Komunikasi dokter gigi dan pasien saat melakukan praktik dental hypnosis mengandung tindak tutur di dalam tuturannya. Karakteristik suara tuturan dokter gigi secara kuantitas dapat dihitung menggunakan parameter akustik. Perhitungan parameter akustik akan menghasilkan pola yang dapat membantu untuk mengetahui jenis tindak tutur yang diberikan dokter gigi saat praktik dental hypnosis. Metode: Jenis penelitian deskriptif dengan pendekatan kuantitatif dan kualitatif. Sampel kualitatif dalam penelitian ini yaitu kalimat-kalimat tindak tutur saat praktik dental hypnosis dan sampel kuantitatif hasil pengukuran parameter akustik dari data sekunder pada penelitian yang dilakukan sebelumnya tahun 2016 dengan jumlah naracoba sebanyak 4 orang yang terdiri dari 2 pria dewasa dan 2 wanita dewasa. Hasil: Pola intonasi tindak tutur berdasarkan parameter akustik dalam praktik dental hypnosis menunjukkan bahwa terdapatnya pola intonasi berupa naik turunnya parameter akustik intensitas dan nada (f0), formant 1 sampai dengan formant 5 khusus pada tindak tutur direktif (perintah). Simpulan: Pola intonasi yang dibentuk oleh tindak tutur murni dapat memperlihatkan bahwa tindak tutur direktif selalu memiliki nilai intensitas dan nada yang lebih tinggi dari tindak tutur lainnya, kemudian pada nilai formant 60% dari keseluruhan data perhitungan memiliki kesamaan pola intonasi.Kata kunci: Pola intonasi, tindak tutur, parameter akustik, dental hypnosis, ABSTRACT Introduction: Communication between dentist and patient during dental hypnosis practice consist of speech acts and can be quantitively measured by acoustic parameters. Based on the acoustic parameters, we can find the most appropriate and accurate pattern to help dentists in performing dental hypnosis practice. Methods: This research was descriptive with both quantitative and qualitative approach. Qualitative sample of this research were the sentences of the acts of speech while doing dental hypnosis, and the quantitative sample was the result of parameter acoustics based on the previous research conducted in 2016 about parameter from secondary data. The total of sample were four people consisted of two adults, men and women. Results: Intonation pattern in the form of up and down of the acoustic parameters. The acoustic parameters identified were intensity, pitch (f0), formant 1 until formant 5, from the directive, assertive, expressive, directive+assertive, expressive+assertive, and assertive+expressive speech acts. Conclusion:  The intonation pattern formed by pure speech acts shows that directive speech acts always have a higher intensity and tone value than other speech acts. The formant value of 60% of the total data calculation data has the same intonation pattern.Keywords : Intonation pattern, speech acts, acoustic parameters, dental hypnosis.
Hubungan gingivitis dengan faktor-faktor risiko kehamilan pada ibu hamilRelationship of gingivitis with pregnancy risk factors in pregnant women Helwiah Umniyati; Sinta Primanita Amanah; Chaerita Maulani
Padjadjaran Journal of Dental Researchers and Students Vol 4, No 1 (2020): April 2020
Publisher : Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/pjdrs.v4i1.26086

Abstract

Pendahuluan: Gingivitis adalah manifestasi oral yang paling tinggi prevalensinya pada ibu hamil. Perubahan hormon dan vaskular yang menyertai kehamilan diketahui memperparah respons inflamasi terhadap iritan lokal. Seringkali ibu hamil mengabaikan dalam menjaga kesehatan mulutnya yang mengakibatkan adanya retensi plak pada gigi dan tepi gingiva, hal ini dapat menyebabkan peradangan pada gingiva. Berdasarkan data dari hasil Riskesdas, prevalensi gingivitis pada wanita di Indonesia adalah 74%. Penelitian ini bertujuan menganalisis status kesehatan gigi dan gusi serta faktor-faktor risiko kehamilan pada ibu hamil. Metode: Jenis penelitian analitik dengan menggunakan desain crossectional. Populasi penelitian adalah ibu hamil di Puskesmas Kecamatan Kelapa Gading, Jakarta Utara yang datang pada bulan November 2016. Ibu hamil diperiksa plak skor dan indeks gingivitis. Jumlah sampel adalah 90 ibu hamil dan sebagian besar (81,1%) berada di trimester 3. Hasil penelitian dianalisis dengan uji ANOVA dan Chi-square. Hasil: Sebanyak 29% ibu hamil memiliki skor plak yang baik (0,1-0,9). Prevalensi gingivitis terdapat pada semua ibu hamil (100%) yang terdiri dari 16,7% gingivitis ringan, 26,7% gingivitis sedang dan 56,7% gingivitis berat. Peningkatan tajam pada gingivitis ditemukan dari trimester 1 ke trimester II dan stabil pada trimester III. Terdapat hubungan yang signifikan antara tingkat keparahan gingivitis dan umur kehamilan, waktu dan frekuensi menyikat gigi, indeks plak, pendidikan, dan pengetahuan (p <0,05). Simpulan: Terdapat hubungan antara gingivitis dengan beberapa faktor risiko kehamilan yaitu umur kehamilan, frekuensi sikat gigi, waktu sikat gigi dan indeks plak.Kata kunci: Kehamilan, gingivitis, plak, hormon. ABSTRACTIntroduction: Gingivitis is the most prevalent oral manifestations associated with pregnancy. The hormonal and vascular changes that accompany pregnancy are known to exaggerate the inflammatory response to the local irritants. Often pregnant women ignore to maintain their oral health which will cause plaque retention on the teeth and gingival edges. This can cause inflammation of the gingiva. Based on the Indonesia Basic Health Research, the prevalence of gingivitis among Indonesian women was 74%. This study was aimed to analyse the oral health status and risk factors for gingivitis in pregnant women. Methods: Analytic method using cross-sectional design was conducted in November 2016. Pregnant women was examined for their plaque scores and gingivitis index using the WHO periodontal probe. The number of samples was 90 pregnant women, and most of them (81.1%) were in the trimester III gestational period. The study was then analysed by using ANOVA and chi-square test. Results: Only 29% of pregnant women had a good plaque score (0.1-0.9). Gingivitis was prevalent in all of the pregnant women, which consisted of 16.7% mild gingivitis, 26.7% of moderate gingivitis, and 56.7% of severe gingivitis.  A high increase in gingivitis was found in the period of trimester I to trimester II, and tend to be stabilised in the trimester III gestational period. In further analysis, we found significant relationships between the severity of gingival inflammation and gestational age, time and frequency of tooth brushing, plaque index, education, and knowledge (p < 0.05). Conclusion: There is a relationship between gingivitis with several pregnancy risk factors, namely gestational age, toothbrush frequency, toothbrush time, and plaque index.Keywords: Pregnancy, gingivitis, plaque, hormone.
Hubungan antara pengetahuan dokter gigi tentang green dentistry terhadap tindakan pengelolaan limbah tempat praktikThe relationship between dentist knowledge regarding green dentistry to the practice of managing dental clinical waste Febrian Febrian; Clarisa Khairani
Padjadjaran Journal of Dental Researchers and Students Vol 4, No 1 (2020): April 2020
Publisher : Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/pjdrs.v4i1.25781

Abstract

Pendahuluan: Praktik kedokteran gigi dapat menghasilkan limbah dan mengonsumsi sumber energi dan air yang cukup besar. Risiko yang dapat ditimbulkan akibat limbah praktik kedokteran gigi cukup besar sehingga pengelolaan dan penanganan limbah medis harus diperhatikan dan dijalankan dengan benar oleh setiap dokter gigi.  Oleh karena itu, tahun 2007 diperkenalkan sebuah konsep “Green dentistry” atau dikenal juga dengan kedokteran gigi ramah lingkungan yang bertujuan untuk mengurangi dampak lingkungan akibat proses administrasi, konstruksi, prosedur dental, serta material dental. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara pengetahuan Green dentistry dokter gigi dan pengelolaan limbah tempat praktik di Kota Bukittinggi. Metode: Jenis penelitian ini menggunakan observasi analitik dengan desain cross-sectional. Jumlah sampel 37 dokter gigi yang berpraktik mandiri. Teknik sampel dengan cara pengambilan sampel acak sederhana (simple random sampling). Pengumpulan data dilakukan dengan cara memberikan kuesioner  mengenai pengetahuan dokter gigi tentang Green dentistry serta dilakukan observasi pengelolaan limbah di tempat praktik. Analisis statistik menggunakan uji Fisher. Hasil: Hasil uji statistik menunjukkan terdapat hubungan signifikan antara pengetahuan Green dentistry dengan tindakan pengelolaan limbah tempat praktik dokter gigi dengan nilai p=0,000 (p<0,05). Simpulan: Terdapat hubungan antara pengetahuan Green dentistry dokter gigi dan pengelolaan limbah tempat praktik di Kota Bukittinggi.Kata kunci: Green dentistry, pengetahuan, pengelolaan limbah, praktik dokter gigi. ABSTRACTIntroduction: Dental practice was produced waste and consumed a large amount of energy and water. Waste produced from dental clinic should need proper management then applied carefully by the dentist. Hence, green dentistry concept was introduced in 2007 aimed to reduce environmental impact due to administration, construction, dental procedure, and dental material. The purpose of this study was to investigate the association between the dentist’s knowledge of green dentistry and waste management of the dental office in Bukittinggi.  Methods: In this observational-analytical study with the cross-sectional approach, 37 private dental practitioners participated. Simple random sampling technique and data collected by Green Dentistry’s Questionnaire, then waste management was observed in the dental office. The data were analysed by using the Fisher test. Results: In this study, 56.8% dentist never heard about green dentistry terminology. Meanwhile, we founded that 75.7% had excellent knowledge about green dentistry with75.7% respondent had well performed in waste management. Statistical analysis shows that there is a significant relationship between the knowledge of green dentistry and dental waste management practice with p = 0.000 (p < 0.05). Conclusion: There was a correlation between the dentist’s knowledge of green dentistry and waste management of the dental office in Bukittinggi.Keywords: Green dentistry,  knowledge, waste management, dental office.
Perbedaan fungsi oral dan ekspresi interleukin-10 pasca odontektomi dengan menggunakan mikromotor dan piezosurgeryDifferences in oral function and interleukin-10 expression post odontectomy using micromotors and piezosurgery Jihad Harun Sandiah; Andri Hardianto; Abel Tasman Yuza; Indra Hadikrishna
Padjadjaran Journal of Dental Researchers and Students Vol 4, No 1 (2020): April 2020
Publisher : Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/pjdrs.v4i1.25683

Abstract

Pendahuluan: Salah satu langkah paling kritis dan krusial dalam odontektomi adalah osteotomi menggunakan instrumen putar. Instrumen putar piezosurgery (Mectron) ultrasound adalah alat bedah baru pada bedah oral dan kraniomaksilofasial. Inflamasi selalu berkaitan dengan odentektomi dan interleukin-10 (IL-10) adalah salah satu sitokin anti inflamasi yang berfungsi menghambat produksi beberapa jenis sitokin lain sebagai indikator anti inflamasi pasca operasi. Tujuan penelitian menganalisis efektivitas unit mikromotor dibandingkan dengan unit piezosurgery saat melakukan odontektomi molar ketiga bawah melalui penilaian keterbatasan fungsi oral dan tingkat ekspresi interleukin-10. Metode: Penelitian dilakukan pada 20 pasien di Instalasi Bedah Minor Rumah Sakit Gigi dan Mulut Unpad yang akan dilakukan odontektomi. Kelompok pertama yaitu pasien odontektomi dengan menggunakan mikromotor. Kelompok dua yaitu pasien odontektomi dengan menggunakan piezosurgery. Masing-masing kelompok mengisi kuisioner keterbatasan fungsi oral pada hari ketiga dan hari ketujuh setelah dilakukan odontektomi dan dilakukan pengambilan sampel darah dari vena brakialis setelah odontektomi pada hari ketiga dan tindakan odontektomi dilakukan dengan anastesi lokal. Hasil: Perbandingan antara kelompok I dan kelompok II, menunjukkan tidak terdapat perbedaan yang signifikan pada penilaian keterbatasan fungsi oral untuk setiap waktu evaluasi, dan ekspresi interleukin-10 (IL-10) menunjukkan terdapat perbedaan yang signifikan, rata-rata IL-10 mikromotor lebih rendah dibandingkan dengan IL-10 piezosurgery. Simpulan: Tidak terdapat perbedaan pada keterbatasan fungsi oral, namun terdapat perbedaan ekspresi IL-10 pasca odontektomi dengan menggunakan mikromotor dibandingkan dengan menggunakan piezosurgery.Kata Kunci: Odontektomi, mikromotor, piezosurgery, keterbatasan fungsi oral, interleukin-10. ABSTRACTIntroduction: One of the most critical and crucial steps in odontectomy is osteotomy using a rotary instrument. The ultrasound piezosurgery (Mectron) rotary instrument is a new surgical tool in oral and craniomaxillofacial surgery. Inflammation is always associated with odentectomy and interleukin-10 (IL-10) is one of the anti-inflammatory cytokines which functions to inhibit the production of several other types of cytokines as indicators of postoperative anti-inflammatory. This study was aimed to analyse the effectiveness of micromotor units compared to piezosurgery units when performing odontectomy of lower third molars through an assessment of limited oral function and the level of expression of interleukin-10. Methods: The study was conducted on 20 patients in Universitas Padjadjaran Dental Hospital Oral and Maxillofacial Installation who will undergo odontectomy. The first group was odontectomy patients using micromotor. The second group was odontectomy patients using piezosurgery. Each group filled out a questionnaire of limited oral function on the third day and the seventh day after an odontectomy and a blood sample was taken from the brachial vein after odontectomy on the third day, and the odontectomy was performed under local anaesthesia. Results: Comparison between group I and group II, showed no significant difference in the evaluation of oral function limitations for each evaluation time, and the expression of interleukin-10 (IL-10) showed that there were significant differences, the average IL-10 micromotor was more low compared to IL-10 piezosurgery. Conclusion: There is no difference in the limitation of oral function, but there are differences in the expression of IL-10 after odontectomy using micromotor compared to using piezosurgery.Keywords: Odontectomy, micromotor, piezosurgery, limited oral function, interleukin-10.
Manifestasi oral pada ibu hamil berdasarkan perbedaan trimester kehamilanOral manifestations in pregnant women based on trimester differences Larasati Dyah Utami; Wahyu Hidayat; Irna Sufiawati
Padjadjaran Journal of Dental Researchers and Students Vol 4, No 2 (2020): Oktober 2020
Publisher : Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/pjdrs.v4i2.25261

Abstract

Pendahuluan: Kehamilan merupakan suatu kondisi yang membawa berbagai macam perubahan pada wanita bahkan pada wanita hamil dengan kondisi fisik yang sehat. Hal tersebut dapat terjadi karena perubahan metabolisme, perubahan respon imun, serta perubahan hormon. Keterkaitan antara faktor-faktor pemicu tersebut, secara tidak langsung dapat menimbulkan berbagai macam manifestasi oral pada ibu hamil, seperti epulis gravidarum, coated tongue, cheilitis exfoliative, geographic tongue, fissured tongue, RAS, atrophic glossitis, dan cheilitis angularis. Tujuan penelitian adalah untuk mengetahui manifestasi oral pada ibu hamil berdasarkan perbedaan trimester kehamilan. Metode: Penelitian ini mengunakan metode deskriptif observatif dengan pendekatan cross-sectional. Populasi dalam penelitian ini ialah seluruh pasien ibu hamil yang datang untuk berobat ke Puskesmas Garuda Bandung. Sampel dalam penelitian ini diambil berdasarkan teknik purposive sampling dan accidental sampling yaitu jumlah sampel yang diambil berdasarkan pasien ibu hamil yang datang untuk berobat ke Puskesmas Garuda Bandung, bersedia untuk dilakukan penelitian, serta memenuhi kriteria inklusi dan ekslusi dengan batas waktu yang telah ditetapkan. Data diperoleh dengan melakukan tanya jawab mengenai kondisi umum, serta pemeriksaan rongga mulut pasien ibu hamil. Hasil: Manifestasi oral yang paling banyak timbul pada ibu hamil adalah coated tongue yaitu terjadi pada 54 orang (78,26%). Coated tongue paling banyak ditemukan pada trimester III kehamilan yaitu sebanyak 31 orang (42,03%) dan exfoliative cheilitis sebanyak 21 orang. Hasil penelitian tidak menemukan adanya cheilitis angularis. Simpulan: Coated tongue menjadi manifestasi orang yang paling banyak ditemukan pada rongga mulut ibu hamil yang merata pada semua trimester.Kata kunci: Kehamilan, manifestasi oral. ABSTRACT Introduction: Pregnancy is a condition that induces various changes in women, even in healthy pregnant women. This condition may occur due to changes in metabolism, immune response, and hormonal system. The relation between these triggers may indirectly lead to various oral manifestations in pregnant women, such as epulis gravidarum, coated tongue, exfoliative cheilitis, geographic tongue, fissured tongue, recurrent aphthous stomatitis (RAS), atrophic glossitis, and angular cheilitis. The purpose of this study was to determine the oral manifestations in pregnant women based on trimester differences. Methods: This research was a descriptive observational with a cross-sectional approach. The population in this study were all pregnant women who came for treatment to the Garuda Community Health Centre, Bandung. The sample in this study was taken based on purposive sampling and accidental sampling techniques, which were pregnant women who came for treatment to the Garuda Community Health Centre, Bandung, willing to participate in the research, and meet the inclusion and exclusion criteria within a predetermined time limit. Data was obtained through questions and answers regarding general conditions, as well as examining the oral cavity of pregnant women. Results: The results of data analysis showed that the most frequent oral manifestations in pregnant women was coated tongue, which was found in 54 respondents (78.26%). The most common oral manifestations found on the first to the third trimester of gestational period was coated tongue, coated tongue most commonly found in the third trimester, which was found in 31 respondents (42.03%) and exfoliative cheilitis in 21 respondents. Angular cheilitis was not found in all respondents. Conclusion: The coated tongue is the most common oral manifestation in pregnant women which is evenly distributed in all trimesters. Keywords: Pregnancy, oral manifestations.
Pengaruh penambahan kombinasi zat aditif pada gipsum tipe III daur ulang terhadap kekuatan tekan dan waktu pengerasanThe effect of adding combination of additives to recycled type III gypsum on compressive strength and hardening time Satria Yandi; Widya Puspita Sari; Ihut Hamonangan
Padjadjaran Journal of Dental Researchers and Students Vol 5, No 1 (2021): April 2021
Publisher : Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/pjdrs.v5i1.32255

Abstract

Pendahuluan: Limbah gipsum tipe III (dental stone) dapat menimbulkan masalah pencemaran lingkungan karena sulit diuraikan serta dapat bercampur dengan limbah makanan. Permasalahan tersebut diatasi dengan mendaur ulang gipsum dengan cara menambahkan kombinasi zat aditif untuk mempercepat waktu pengerasan dan menambah kekuatan tekan gipsum. Tujuan penelitian adalah menganalisis pengaruh penambahan kombinasi larutan seng sulfat dan kalium sulfat terhadap kekuatan tekan dan waktu pengerasan pada gipsum tipe III daur ulang. Metode: Desain penelitian adalah eksperimental laboratorium. Penelitian ini dilakukan pengambilan masing-masing 4 sampel pada 3 kelompok perlakuan penambahan kombinasi zat aditif. Penelitian dilakukan di Laboratorium Universitas Baiturrahmah dan Laboratorium Teknik Metalurgi Universitas Andalas. Hasil: Kelompok 1 penambahan K2SO4 1,5% + ZnSO4 4,5% hasil kekuatan tekan 4,68 MPa dan waktu pengerasan 96 jam. Kelompok 2 penambahan K2SO4 2% + ZnSO4 5% hasil kekuatan tekan 3,12 MPa dan waktu pengerasan 91 jam. Kelompok 3 penambahan K2SO4 2,5% + ZnSO4 5,5% hasil kekuatan tekan 1,56 MPa dan waktu pengerasan 88 jam. Simpulan: Terdapat pengaruh penambahan larutan kalium sulfat dan seng sulfat terhadap kekuatan tekan dan waktu pengerasan pada gipsum tipe III daur ulang. Semakin tinggi jumlah penambahan zat aditif K2SO4 dan ZnSO4 pada gipsum daur ulang didapatkan nilai kekuatan tekan semakin rendah dan waktu pengerasan semakin singkat.Kata kunci: Gipsum daur ulang, kombinasi zat aditif, kekuatan tekan, waktu pengerasan. ABSTRACT Introduction: Gypsum waste type III (dental stone) can cause environmental pollution problems due to its difficulty in decomposing and potential mixed with food waste. This problem is overcome by recycling the gypsum by adding additives to speed up the hardening time and increase the compressive strength of the gypsum. The research objective was to analyse the effect of adding a combination of zinc sulfate and potassium sulfate solutions on the compressive strength and hardening time of recycled type III gypsum. Methods: The research design was laboratory experimental. This research was carried out by taking four samples each in 3 treatment groups with a combination of additives. The research was conducted at the Baiturrahmah University Laboratory and the Andalas University Metallurgical Engineering Laboratory. Results: Group 1: the addition of K2SO4 1.5% + ZnSO4 4.5% results in compressive strength of 4.68 MPa and a hardening time of 96 hours. Group 2: the addition of 2% K2SO4 + 5% ZnSO4 resulted in compressive strength of 3.12 MPa and a hardening time of 91 hours. Group 3: the addition of 2.5% K2SO4 + 5.5% ZnSO4 resulted in compressive strength of 1.56 MPa and a hardening time of 88 hours. Conclusion: There is an effect of adding potassium sulfate and zinc sulfate solutions on the compressive strength and hardening time of recycled type III gypsum. The higher the amount of K2SO4 and ZnSO4 additives added to recycled gypsum, the lower the compressive strength value and the shorter the hardening time.Keywords: Recycled gypsum, combination of additives, compressive strength, hardening time.
Efek pemberian seduhan kopi robusta (Coffea canephora) terhadap jumlah sel makrofag dan limfosit pada model tikus periodontitis kronisThe effect of brewed robusta coffee (Coffea canephora) on macrophage and lymphocyte cells in rat model of chronic periodontitis Rendra Chriestedy Prasetya; Depi Praharani; Nadie Fatimatuzzahro; Tantin Ermawati; Favinas Octa Nuri Tsalats
Padjadjaran Journal of Dental Researchers and Students Vol 5, No 1 (2021): April 2021
Publisher : Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/pjdrs.v5i1.28591

Abstract

Pendahuluan: Periodontitis merupakan penyakit peradangan yang terjadi pada jaringan pendukung gigi dengan prevalensi tertinggi. Porphyromonas gingivalis merupakan bakteri utama penyebab periodontitis. Pada proses inflamasi terjadi infiltrasi sel mononuklear, yaitu makrofag dan limfosit. Makrofag dan limfosit adalah sel yang berperan penting dalam pertahanan tubuh terhadap patogen selama inflamasi, tetapi apabila makrofag dan limfosit teraktivasi secara berlebihan justru dapat menyebabkan kerusakan jaringan. Salah satu bahan alami yang dapat bertindak sebagai anti-inflamasi adalah kopi Robusta. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pengaruh seduhan kopi Robusta terhadap jumlah sel makrofag dan limfosit pada tikus model periodontitis. Metode: Jenis penelitian eksperimen laboratorium, menggunakan 20 ekor tikus yang dibagi menjadi 5 kelompok secara acak yaitu kelompok kontrol (K); kelompok tikus yang diinduksi Porphyromonas gingivalis (P5-A); kelompok tikus yang diinduksi Porphyromonas gingivalis dan diberi seduhan kopi robusta (P5-B) dieutanasia pada hari ke-19; kelompok tikus yang diinduksi Porphyromonas gingivalis (P7-A); kelompok tikus yang diinduksi Porphyromonas gingivalis dan diberi seduhan kopi robusta (P7-B) dieutanasia pada hari ke-21. Seduhan kopi robusta yang diberikan sebanyak 3,6 ml selama 14 hari. Pemrosesan jaringan dan pewarnaan HE dilakukan pada preparat rahang bawah. Penghitungan makrofag dan limfosit pada area sekitar tulang alveolar bukal M1 bawah, kemudian dilakukan analisis statistik one-way ANOVA. Hasil: Terdapat perbedaan yang signifikan jumlah sel makrofag  dan limfosit antara kelompok kontrol dibandingkan kelompok perlakuan (p<0,05);  tidak terdapat perbedaan yang siginifikan (p>0,05) jumlah sel  limfosit diantara kelompok perlakuan (P5-A,P5-B,P7-A dan P7-B). Simpulan: Seduhan kopi robusta dapat mengurangi jumlah sel makrofag dan limfosit pada model tikus periodontitis.Kata kunci: Seduhan kopi robusta, makrofag, limfosit, periodontitis. ABSTRACTIntroduction: Periodontitis is an inflammatory disease that occurs in tooth-supporting tissues with a high prevalence. Porphyromonas gingivalis is the primary bacteria that cause periodontitis. In the inflammatory process, mononuclear cell, such as macrophages and lymphocytes, infiltrate. Macrophages and lymphocytes play an essential role in the body’s defence against pathogens during inflammation. However, excessively activated macrophages and lymphocytes can cause tissue damage. One of the natural ingredients that can act as an anti-inflammatory is Robusta coffee. This study was aimed to analyse the effect of brewed Robusta coffee on the number of macrophage and lymphocyte cells in the chronic periodontitis rat model. Methods: This research was a laboratory experiment towards 20 rats, which were randomly divided into five groups: the control group (K); group of mice induced by Porphyromonas gingivalis (P5-A); group of mice induced by Porphyromonas gingivalis and administered with brewed robusta coffee (P5-B), euthanised on the 19th day 19; group of mice induced by Porphyromonas gingivalis (P7-A); group of mice induced by Porphyromonas gingivalis and administered with brewed robusta coffee (P7-B), euthanised on the 21st day. Brewed robusta coffee was administered for as much as 3.6 ml during 14 days. Tissue processing and HE staining were performed on the mandibular preparations—calculation of macrophages and lymphocytes in the area around the lower M1 buccal alveolar. The results were then analysed with one-way ANOVA. Results: There was a significant difference in the number of macrophages and lymphocytes between the control and the treatment group (p<0.05). However, there was no significant difference (p>0.05) found in the number of lymphocytes between all treatment groups (P5-A, P5-B, P7-A, and P7-B). Conclusion: Brewed Robusta coffee can reduce the number of macrophage and lymphocyte cells in the chronic periodontitis rat model.Keywords: Brewed Robusta coffee, macrophage, lymphocyte, periodontitis.
Distribusi fraktur mahkota gigi anterior rahang atas pada anak dengan cerebral palsyDistribution of maxillary crown fracture in anterior teeth in children with cerebral palsy Faizah Salsabila; Naninda Berliana Pratidina; Arlette Suzy Puspa Pertiwi Setiawan
Padjadjaran Journal of Dental Researchers and Students Vol 4, No 2 (2020): Oktober 2020
Publisher : Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/pjdrs.v4i2.27111

Abstract

Pendahuluan: Fraktur mahkota gigi merupakan fraktur yang hanya mengenai bagian keras gigi. Fraktur mahkota gigi anterior rahang atas banyak terjadi pada anak  dengan cerebral palsy. Gigi anterior rahang atas berpengaruh terhadap estetik dan fungsi pengunyahan. Tujuan penelitian ini mengetahui distribusi fraktur mahkota gigi anterior anak dengan cerebral palsy di Sekolah Luar Biasa Kota Bandung sehingga dapat diupayakan penanggulangannya sejak dini. Metode: Jenis penelitian deskriptif dengan teknik pengambilan sampel total sampling. Jumlah subjek sebanyak 35 anak dengan cerebral palsy di Sekolah Luar Biasa Kota Bandung. Data diperoleh dengan pemeriksaan klinis. Klasifikasi fraktur yang digunakan adalah klasifikasi menurut World Health Organization. Hasil: Sebanyak 23 anak (65,72%) mengalami fraktur mahkota gigi anterior rahang atas terdiri dari 13 anak laki-laki (56,53%) dan 10 anak perempuan (43,47%). Jenis fraktur yang banyak terjadi adalah retak email sebanyak 26 (52,00%) dan fraktur email sebanyak 24 (48,00%). Fraktur mahkota gigi anterior rahang atas banyak terjadi pada anak dengan cerebral palsy dikarenakan keterbatasan dalam perkembangan motoriknya. Anak laki-laki lebih sering terkena fraktur mahkota gigi anterior dibandingkan perempuan. Fraktur yang sering terjadi adalah retak dan fraktur email. Simpulan: Anak dengan cerebral palsy berjenis kelamin laki-laki lebih banyak terkena fraktur mahkota dibandingkan anak perempuan dengan jenis fraktur yang banyak ditemukan adalah retak email dan fraktur email.Kata kunci: Fraktur mahkota gigi anterior rahang atas, cerebral palsy, trauma gigi. ABSTRACTIntroduction: Crown fracture is fracture affecting only the hard tooth structure. Crown fracture of maxillary anterior teeth is common in children with cerebral palsy. Maxillary anterior teeth may affect the aesthetic and masticating function. The purpose of this research was to analyse the data of maxillary crown fracture in anterior teeth in children with cerebral palsy at Bandung Special School (SLB) for early prevention. Methods: The research was descriptive, with a total sampling technique. The subjects were 35 children with cerebral palsy children at Bandung Special School. The data was obtained by clinical examination. WHO (World Health Organization) classification about crown fracture was used to evaluate the fracture types. Results: Twenty three children (65.72%) had an anterior maxillary crown fracture, which consisted of 13 boys (56.53%) and 10 girls (43.47%). The most common type of fracture was enamel infraction, which was found in as many as 26 fractures (52.00%) and enamel fractures in as many as 24 fractures (48.00%). Anterior maxillary crown fractures occurred mostly in cerebral palsy children due to their limitations in motoric development. Boys were more often affected by anterior crown fractures than girls. Enamel infraction and enamel fractures were fractures that often occurred in the maxillary central incisors. Conclusion: Most of the boys with cerebral palsy have maxillary crown fractures in the central incisors with enamel infraction and enamel fractures to be the most common fracture type.Keywords: Anterior maxillary crown fractures, cerebral palsy, dental trauma.
Perbedaan tinggi vertikal wajah pada maloklusi Kelas I dan II skeletal The vertical facial height difference between skeletal class I and II malocclusions Mimi Marina Lubis; Jasver Fulvian
Padjadjaran Journal of Dental Researchers and Students Vol 5, No 1 (2021): April 2021
Publisher : Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/pjdrs.v5i1.29376

Abstract

ABSTRAK  Pendahuluan: Tinggi vertikal wajah berperan penting untuk menghasilkan bentuk wajah yang seimbang. Bentuk wajah dibagi menjadi hiperdivergen, normodivergen, dan hipodivergen. Tinggi vertikal wajah pada setiap individu dapat dipengaruhi oleh faktor herediter, ras, jenis kelamin, kebiasaan buruk dan maloklusi. Maloklusi dapat menjadi penyebab perubahan dari struktur kraniofasial dan juga dapat mengganggu estetika pada wajah. Tujuan penelitian adalah menganalisis perbedaan tinggi vertikal wajah pada maloklusi kelas I dan II skeletal dan perbedaan tinggi vertikal wajah pada maloklusi kelas I dan II skeletal pada laki-laki dan perempuan. Metode: Jenis penelitian cross-sectional, populasi penelitian adalah pasien ortodonti yang pernah dirawat di RSGM USU. Besar sampel pada penelitian ini dihitung menggunakan rumus dua proporsi. Sampel penelitian yang memenuhi kriteria inklusi didapatkan sebanyak 96 sampel. Kriteria inklusi pada penelitian ini adalah pasien ortodonti yang pernah dirawat di RSGM USU berusia 8-15 tahun, tidak memiliki kebiasaan buruk, tidak pernah mengalami trauma, dan fraktur kraniofasial. Kriteria eksklusi pada penelitian ini adalah tidak pernah melakukan perawatan ortodonti. Subjek maloklusi skeletal diperoleh melalui pengukuran berdasarkan metode Steiner, kemudian dilakukan pengukuran tinggi vertikal wajah menggunakan metode Jarabak (S-Go/N-Me)%. Hasil: Analisis statistik menunjukkan adanya perbedaan yang signifikan pada tinggi vertikal wajah antara kelas I dan II skeletal dengan nilai  p=0,005 (p<0,05) dan tidak terdapat perbedaan yang signifikan pada tinggi vertikal wajah antara jenis kelamin laki-laki dan perempuan dengan nilai p=0,447 (p>0,05). Simpulan: Terdapat perbedaan tinggi vertikal wajah pada kelas I dan II skeletal namun tidak terdapat perbedaan tinggi vertikal wajah antara laki-laki dan perempuan. Kata kunci: Tinggi vertikal wajah, metode Jarabak, maloklusi kelas II dan kelas II skeletal, metode Steiner. ABSTRACT  Introduction: The vertical height of the face plays an essential role in producing a balanced face shape. The facial shape is divided into hyperdivergent, normodivergent, and hypodivergent. The vertical facial height in each individual can be influenced by hereditary factors, race, gender, bad habits, and malocclusion. Malocclusion can change the craniofacial structure and also interfere the facial aesthetics. This study was aimed to analyse the difference in the vertical facial height in skeletal class I and II malocclusions and the difference in the vertical facial height in skeletal class I and II malocclusions in males and females. Methods: This study was cross-sectional. The study population was orthodontic patients who had been treated at Universitas Sumatra Utara Dental Hospital. The sample in this study was calculated using the formula of two proportions. The research sample that met the inclusion criteria was 96 samples. In this study, the inclusion criteria were orthodontic patients treated at Universitas Sumatra Utara Dental Hospital aged 8-15 years, with no bad habits, never experienced trauma and craniofacial fractures. The exclusion criteria in this study was never had orthodontic treatment. Skeletal malocclusion of the subjects was measured with the Steiner method, then the vertical height of the face was measured using the Jarabak method (S-Go / N-Me)%. Results: Statistical analysis showed a significant difference in the vertical facial height between skeletal class I and II malocclusions, with p-value=0.005 (p<0.05), and there was no significant difference in the vertical facial height between male and female with p-value=0.447 (p>0.05). Conclusion: There is a difference in the vertical facial height in skeletal class I and II malocclusions. However, there is no difference in vertical facial height between male and female. Keywords: Vertical facial height, Jarabak method, class I and class II skeletal malocclusions, Steiner method.
Perbedaan kadar enzim α-amylase saliva pada penerbang sipil Indonesia yang mengalami stress dan tidak stress karena faktor kelelahanDifferences in the salivary α-amylase levels in Indonesian civil aviators with and without fatigues stress experience Meta Yunia Candra; Dewi Fatma Suniarti; Febriana Setiawati; Nurtami Soedarsono
Padjadjaran Journal of Dental Researchers and Students Vol 4, No 2 (2020): Oktober 2020
Publisher : Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/pjdrs.v4i2.28063

Abstract

Pendahuluan: Penerbang Sipil Indonesia beresiko mengalami stres yang disebabkan karena faktor kelelahan dengan rute penerbangan jarak dekat antara pulau-pulau di Indonesia. Enzim α-amylase saliva dapat digunakan sebagai biomarker stress. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis perbedaan kadar enzim α-amylase saliva pada penerbang sipil Indonesia yang mengalami stres karena faktor kelelahan dengan penerbang sipil Indonesia yang tidak mengalami stress karena faktor kelelahan. Metode: Jenis penelitian adalah cross-sectional, membandingkan tingkat kelelahan yang menjadi penyebab stress pada penerbang sipil Indonesia dengan metode pengukuran Fatigue Severity Scale (FSS) dan membandingkan kadar enzim α-amylase saliva yang dianalisa dengan metode ELISA pada dua kelompok penerbang sipil Indonesia yang memiliki jam terbang total lebih dari 6624 jam dan melakukan penerbangan sektor sebanyak 24 subjek dengan kelompok penerbang sipil Indonesia yang memiliki jam terbang total kurang dari 6624 jam dan tidak melakukan penerbangan sektor sebanyak 16 subjek dengan uji analisis data bivariat komparatif. Hasil: Kelompok penerbang sipil Indonesia dengan jam terbang total lebih dari 6624 jam dan melakukan penerbangan sektor menunjukkan nilai enzim α-amylase sebesar 0,899 dan kelompok penerbangan sipil Indonesia dengan jam terbang kurang dari 6624 jam dan tidak melakukan penerbangan sektor menunjukkan nilai enzim α-amylase sebesar 0,689. Terdapat perbedaan bermakna p = 0,006 (p<0,05) antara kedua kelompok penerbang. Simpulan : Stres yang disebabkan karena faktor kelelahan pada penerbang sipil Indonesia menghasilkan kadar enzim α-amylase yang lebih tinggi dibandingkan dengan penerbang sipil Indonesia yang tidak mengalami stress karena faktor kelelahan.Kata kunci: Enzim α-amylase saliva, fatigue severity scale, stres, penerbang. ABSTRACT Introduction: Indonesian civil aviators have a risk of experiencing stress due to fatigue factor with high-frequency intersection routes between islands of Indonesia. Salivary α-amylase is an enzyme that can be used as a stress biomarker. This study was aimed to analyse the differences of salivary α-amylase levels in Indonesian civil aviators with and without fatigues stress experience. Methods: This research was cross-sectional, comparing the level of fatigue as the cause of stress for Indonesian civil aviators with the Fatigue Severity Scale (FSS) measurement method. The level of the salivary α-amylase enzyme was analysed using the ELISA method in two groups: Indonesian civil aviators with more than 6624 flight hours and performed sector flights (24 subjects); Indonesian civil aviators with less than 6624 flight hours and did not perform sector flights (16 subjects). All data then analysed with comparative bivariate data analysis. Results: The group of Indonesian civil aviators with more than 6624 flight hours and performed sector flight showed an α-amylase enzyme value of 0.899; while the group of Indonesian civil aviators with less than 6624 flight hours and did not perform sector flights showed an α-amylase enzyme value of 0.689. There was a significant difference p=0.006 (p < 0.05) between the two groups of pilots. Conclusion: Indonesian civil aviators with fatigues stress experience of increases the α-amylase enzyme value compared to Indonesian civil pilots without fatigues stress experience. Keywords: Salivary α-amylase, fatigue severity scale, stress, aviator.

Page 8 of 27 | Total Record : 269