cover
Contact Name
Fransisca Iriani Rosmaladewi
Contact Email
fransiscar@fpsi.untar.ac.id
Phone
-
Journal Mail Official
jmishs@untar.ac.id
Editorial Address
-
Location
Kota adm. jakarta barat,
Dki jakarta
INDONESIA
Jurnal Muara Ilmu Sosial, Humaniora, dan Seni
ISSN : 25796348     EISSN : 25796356     DOI : -
Core Subject : Art, Social,
Jurnal Muara Ilmu Sosial, Humaniora, dan Seni (P-ISSN 2579-6348 dan E-ISSN 2579-6356) merupakan jurnal yang menjadi wadah bagi penerbitan artikel-artikel ilmiah hasil penelitian dalam bidang Ilmu Sosial (seperti Ilmu Psikologi dan Ilmu Komunikasi), Humaniora (seperti Ilmu Hukum, Ilmu Budaya, Ilmu Bahasa), dan Seni (seperti Seni Rupa dan Design). Jurnal ilmiah ini diterbitkan oleh Direktorat Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat Universitas Tarumanagara. Dalam satu tahun, jurnal ini terbit dalam dua nomor, yaitu pada bulan April dan Oktober.
Arjuna Subject : -
Articles 723 Documents
PEMANTAPAN NILAI-NILAI KEBANGSAAN BAGI ETNIS TIONGHOA Kurnia Setiawan; Ninawati Lihardja; Meiske Yunithree
Jurnal Muara Ilmu Sosial, Humaniora, dan Seni Vol 4, No 2 (2020): Jurnal Muara Ilmu Sosial, Humaniora, dan Seni
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat, Universitas Tarumanagara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/jmishumsen.v4i2.3626.2021

Abstract

Pancasila values need to be understood and practiced in everyday life. The INTI (Indonesian Chinese) Association conducts training on "Consolidating Pancasila Values (Taplai)". The joint Taplai activity of Chinese organizations was the first to be held. This study wanted to find out whether the Taplai Training could increase the knowledge, understanding and nationalistic attitudes of the training participants. The socialization of the Taplai activity was conducted in front of 13 organizations from various Chinese organizations, businessmen, professionals, and several non-Chinese representatives. The research used a mixed method of quantitative and qualitative through distributing questionnaires pre-test and post-test, observation and interviews. Based on the results of data collection through questionnaires and interviews from 91 participants, it can be concluded that the Taplai training can increase knowledge about the values of Pancasila and foster a sense of nationality. In general, all subjects understood national values that refer to the four pillars, namely Pancasila, UUD 1945, Bhinneka Tunggal Ika and NKRI, several participants who were interviewed all gave positive testimonies about the experience and benefits of the Taplai training for them. Nilai-nilai Pancasila perlu dipahami dan diamalkan dalam kehidupan sehari-hari, Perhimpunan INTI (Indonesia Tionghoa) melaksnakan pelatihan “Pemantapan Nilai-Nilai Pancasila (Taplai)”. Kegiatan Taplai gabungan organisasi Tionghoa merupakan yang pertama kali diadakan. Penelitian ini ingin mengetahui apakah Pelatihan Taplai dapat meningkatkan pengetahuan, pemahaman dan sikap nasionalisme peserta pelatihan. Sosialisasi kegiatan Taplai di hadapan 13 organisasi yang berasal dari berbagai organisasi Tionghoa, pengusaha, profesional, dan beberapa perwakilan non Tionghoa. Penelitian menggunakan metode campuran antara kuantitatif dan kualitatif melalui penyebaran kuesioner pre-test dan post-test, observasi serta wawancara. Berdasarkan hasil pengumpulan data melalui kuesioner dan wawancara dari 91 peserta, dapat disimpulkan pelatihan Taplai dapat meningkatkan pengetahuan tentang nilai-nilai Pancasila dan menumbuhkan rasa kebangsaan. Pada umumnya semua subyek memahami tentang nilai-nilai kebangsaan yang mengacu pada empat pilar, yaitu Pancasila, UUD 1945, Bhinneka Tunggal Ika dan NKRI, beberapa peserta yang diwawancara semua memberikan kesaksian yang positif tentang pengalaman dan manfaat pelatihan Taplai bagi mereka.
MASALAH YURIDIS TIDAK DITETAPKANNYA KUALIFIKASI DELIK DALAM KETENTUAN PIDANA PADA UNDANG-UNDANG YANG DISAHKAN DALAM KURUN WAKTU 2015-2019 Ade Adhari; Anis Widyawati; Fajar Dian Aryani; Musmuliadin Musmuliadin
Jurnal Muara Ilmu Sosial, Humaniora, dan Seni Vol 5, No 1 (2021): Jurnal Muara Ilmu Sosial, Humaniora, dan Seni
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat, Universitas Tarumanagara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/jmishumsen.v5i1.11167.2021

Abstract

In the 2015-2019 period, there were 20 (twenty) ratifications and promulgations of laws in which there were policies for the formulation of criminal provisions. Chapter Criminal Provisions in various laws have a strategic position so that criminal law norms can be operational properly at the level of application and execution of crimes. However, at the in abstracto level, the formulation of criminal provisions in these various laws contains juridical problems. The research method used to answer these problems is doctrinal research by conceptualizing law is statutory regulation. There is a criminal law issued in the 2015-2019 period which is the object of study. The results showed that the juridical problems found were, among others, 19 laws that did not stipulate juridical qualifications in the form of crimes or violations. The distinction between crimes and violations has a juridical consequence in the form of differentiating penalties for crimes and violations in Book I of the Criminal Code. The absence of a determination of this juridical qualification means that the general provisions in Book I of the Criminal Code Chapter I-XVIII cannot be enforced. Therefore, it is necessary to reform the criminal law towards the formulation policy by improving the formulation of criminal law norms which contain juridical issues in these various laws. Dalam kurun waktu 2015-2019 terdapat 20 (dua puluh) pengesahan dan pengundangan undang-undang yang didalamnya terdapat kebijakan formulasi ketentuan pidana. Bab Ketentuan Pidana dalam berbagai undang-undang memiliki posisi yang strategis agar norma hukum pidana dapat operasional dengan baik pada tataran aplikasi dan eksekusi pidana. Namun dalam tataran in abstracto, formulasi ketentuan pidana dalam berbagai undang-undang tersebut mengandung masalah yuridis. Metode penelitian yang digunakan untuk menjawab permasalahan tersebut adalah penelitian doktrinal dengan mengkonsepsikan hukum adalah peraturan perundang-undangan. Terdapat undang-undang pidana yang terbit pada periode 2015-2019 yang menjadi objek kajian. Hasil penelitian menunjukan masalah yuridis yang ditemukan antara lain terdapat 19 undang-undang yang tidak menetapkan kualifikasi yuridis berupa kejahatan atau pelanggaran. Pembedaan kejahatan dan pelanggaran mengandung konsekuensi yuridis berupa adanya pembedaan aturan pemidanaan bagi kejahatan dan pelanggaran yang ada dalam Buku I KUHP. Tidak adanya penetapan kualifikasi yuridis ini menyebabkan ketentuan umum dalam Buku I KUHP Bab I-XVIII tidak dapat diberlakukan. Oleh sebab itu diperlukan pembaharuan hukum pidana terhadap kebijakan formulasi tersebut dengan memperbaiki perumusan norma hukum pidana yang memuat masalah yuridis dalam berbagai undang-undang tersebut. 
PENGARUH DUKUNGAN SOSIAL SEBAGAI MODERATOR KETIDAKSEIMBANGAN KEHIDUPAN-KERJA DAN KETERIKATAN KERJA PERAWAT Chan, Rosyeni; Zamralita, Zamralita; Markus, Rita
Jurnal Muara Ilmu Sosial, Humaniora, dan Seni Vol 4, No 2 (2020): Jurnal Muara Ilmu Sosial, Humaniora, dan Seni
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat, Universitas Tarumanagara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/jmishumsen.v4i2.7710.2020

Abstract

This study discussed about work engagement of nurses who experienced work-life imbalance and how the support from supervisor, coworker, organization, and family impacting it. This study aims to examined the moderating effect of social support in relation of work-life imbalance and nurses’ engagement and also evaluate the role of social support’s dimensions. A total of 120 nurses with a diploma in nursing participated in this study. They were working in nursing activities and lived with family as daily basis. The study was using adapted form of UWES-9, Industrial Society’s Work-Life, and CESS questionnaires. Measurement being done with Structural Equation Modeling (SEM) method and measurement model using Confirmatory Factor Analysis (CFA) with Lisrel 10.0. Structural model testing showed that work-life imbalance significantly correlated with work engagement (r=-0.24, normed c2<2.00, RMSEA<0.05), and no significant moderating effect of social support was found. Only support from coworker moderated the work-life imbalance and work engagement of nurses (r=0.20, normedc2<2.00, RMSEA<0.05), and neither support from supervisor, organization, and family show any significant correlations as moderating variables. As conclusion, hypotheses was tested and confirmed. The findings showed work-life imbalance negatively correlated with work engagement, and support from coworker can help buffer the impact of imbalanced work-life condition on nurses’ engagement. The other dimensions of social support show no significant correlations. Perawat dalam melaksanakan tugasnya rentan menghadapi kondisi ketidakseimbangan kerja yang dapat mempengaruhi keterikatan kerja mereka. Untuk mengatasi pengaruh tersebut diperlukan sumber daya seperti dukungan sosial dari atasan, rekan kerja, organisasi, dan keluarga perawat yang dapat memberi dukungan pekerjaan bagi perawat. Tujuan dari penelitian adalah untuk melihat peranan dukungan sosial dan masing-masing dimensinya sebagai moderator pada pengaruh ketidakseimbangan kehidupan kerja terhadap keterikatan kerja perawat. Partisipan penelitian adalah perawat (N=120) yang sedang aktif bekerja di bidang keperawatan dan berstatus tinggal dengan keluarga. Data diperoleh dengan kuesioner UWES-9, Industrial Society’s Work-Life, dan CESS yang telah diadaptasi. Pengolahan data menggunakan metode SEM dan pengujian model pengukuran menggunakan Confirmatory Factor Analysis (CFA) dengan bantuan program Lisrel versi 10.0. Hasil pengujian structural model menunjukkan bahwa ketidakseimbangan kehidupan kerja berkorelasi signifikan terhadap keterikatan kerja (r=-0.24, normedc2<2.00, RMSEA<0.05), sementara peran dukungan sosial sebagai variabel moderator tidak signifikan berkorelasi. Hanya satu dimensi dukungan sosial, yaitu dimensi coworker, secara signifikan berperan sebagai moderator (r=0.20, normedc2<2.00, RMSEA<0.05), sementara dimensi supervisor, organization, dan family tidak menunjukkan korelasi yang signifikan sebagai moderator. Kesimpulan dari penelitian ini adalah ketidakseimbangan kehidupan-kerja berpengaruh negatif terhadap keterikatan kerja perawat, dan hanya dukungan sosial dari rekan kerja yang dapat berperan sebagai moderator dalam hubungan tersebut. Sementara dukungan sosial dari atasan, organisasi, dan keluarga tidak berperan sebagai moderator antara ketidakseimbangan kehidupan-kerja dan keterikatan kerja pada perawat.
GAMBARAN KUALITAS KEHIDUPAN LANSIA DI GIANYAR BALI Wardani, Ni Putu Saraswati; Dewi, Fransisca Iriani Roesmala
Jurnal Muara Ilmu Sosial, Humaniora, dan Seni Vol 4, No 2 (2020): Jurnal Muara Ilmu Sosial, Humaniora, dan Seni
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat, Universitas Tarumanagara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/jmishumsen.v4i2.8254.2020

Abstract

Bali as one of the cities with the fourth rank has the largest number of elderly people in Indonesia. Religious, social and cultural life has a very strong influence on the quality of life of the elderly. The purpose of this study was to describe the quality of life of the elderly in Gianyar, Bali. This study uses a phenomenological qualitative approach with data collection techniques, interviews and observations. The subjects involved in this study were eight elderly individuals, eight subjects consisted of 4 men and 4 women, aged 60-70 years, with low educational status. The majority of participants have a partner (married), and still have a job as a daily activity. five out of eight elderly felt that the income they earned was sufficient to meet their daily needs, while three elderly felt that the income they earned could not meet their daily needs. The results of this study illustrate that eight elderly people have been able to achieve a quality life in 6 aspects, namely social relationships (active in social life); psychological well-being (positive feelings, self-worth); spiritual (gratitude), independence (organize and decide on their own activities, be financially independent); self-empowerment (beneficial for others. involved in decision making for family or community); environment (facilities and infrastructure or health care facilities). Meanwhile, one other aspect, namely physical health is defined as a condition of the body that is not fit and visual disturbances are often sick, so that it is perceived that their life is less qualified. Bali sebagai salah satu kota dengan peringkat keempat yang memiliki jumlah penduduk lansia terbanyak di Indonesia. Kehidupan beragama, sosial dan budaya yang sangat kuat mempengaruhi kualitas kehidupan lansia. Tujuan Penelitian ini untuk mendeskripsikan kualitas kehidupan lansia di Gianyar, Bali. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif fenomenologi dengan teknik pengumpulan data wawancara dan observasi. Subyek yang terlibat dalam penelitian in adalah delapan individu lansia, delapan subyek terdiri dari 4 orang laki–laki dan 4 perempuan, berusia antara 60-70 tahun, dengan status pendidikan yang rendah. Mayoritas partisipan memiliki pasangan (menikah), serta masih memiliki pekerjaan sebagai aktivitas kesehariannya. Lima dari delapan lansia merasakan bahwa penghasilan yang didapatkan cukup untuk memenuhi kebutuhannya sehari-hari sedangkan tiga lansia merasa bahwa penghasilan yang didapatkan kurang dapat memenuhi kebutuhannya. Hasil penelitian ini menggambarkan bahwa delapan lansia telah mampu mencapai kehidupan yang berkualitas pada 6 aspek yaitu hubungan sosial (aktif dalam kehidupan bermasyarakat); kesejahteraan psikologis (perasasan positif, keberhargaandiri); spiritual (rasa syukur), kemandirian (mengatur dan memutuskan aktivitas sendiri, mandiri secara finansial); pemberdayaan diri (bermanfaat untuk orang lain. dilibatkan dalam pengambilan keputusan untuk keluarga atau masyarakat); lingkungan (sarana dan prasarana atau fasilitas perawatan kesehatan). Sementara satu aspek lainnya, yakni kesehatan fisik dimaknai dengan keadaan tubuh yang kurang fit dan gangguan penglihatan sering sakit, sehingga dipersepsikan kehidupannya kurang berkualitas.
ASPEK HUKUM PIDANA TERHADAP INDIVIDU YANG MENGGUNAKAN IDENTITAS PALSU SEBAGAI SEORANG DOKTER (DOKTEROID) Firmansyah, Yohanes; Sylvana, Yana; Wijaya, Hanna; S, Michelle Angelika
Jurnal Muara Ilmu Sosial, Humaniora, dan Seni Vol 4, No 2 (2020): Jurnal Muara Ilmu Sosial, Humaniora, dan Seni
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat, Universitas Tarumanagara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/jmishumsen.v4i2.9463.2020

Abstract

Health and medicine is a branch of science that aims to optimize and improve the health level of the public and individuals in order to improve the quality of life from individuals to communities. Medical and health education takes a long time and often costs a lot of money. Ironically, in the field there have been many incidents of persons pretending to be health workers, especially doctors (Dokteroid) without qualified competence. The problem raised in this study is how the legal aspects of a false identity as a doctor and the criminal aspect of the practice of medicine by a fake doctor (docteroid). The results of this study found that the use of a fake identity as a doctor and its criminal aspects has been regulated in Law Number 29 of 2004 concerning Medical Practice with a description of the criminal code contained in Articles 29 (1), 31 (1), 32 (1), 36, 73 (1), 73 (2), 41 (1), 42, 46 (1), and Article 51, as well as criminal regulations for physicians who practice illegal medicine as regulated in Articles 77 and 78 which contain evidence of violations of the provisions. in Articles 73 (1) and 73 (2) the threat of imprisonment for 5 years and a maximum fine of Rp. 150,000,000.00. On the other hand, law enforcement against cases of fake doctors who practice medicine uses preventive criminal law, namely prevention before a crime occurs by socialization and training as well as repressive criminal law in the form of actions to eradicate crimes based on reports by the public. The role of the community, law, apparatus, facilities, and culture is a factor that plays an important role in optimizing preventive action for docteroid cases Kesehatan dan kedokteran merupakan sebuah cabang ilmu pengetahuan yang bertujuan untuk mengoptimalkan dan meningkatkan taraf kesehatan masyarakat dan individu guna meningkatkan kualitas hidup individu dan masyarakat. Pendidikan kedokteran dan kesehatan ditempuh dengan waktu yang tidak singkat dan seringkali memakan biaya yang cukup besar. Ironisnya, di lapangan banyak sekali kejadian mengenai oknum yang berpura-pura menjadi tenaga kesehatan khususnya dokter (dokteroid) tanpa kompetensi yang mumpuni. Permasalahan yang diangkat dalam penelitian ini adalah bagaimana aspek hukum dari identitas palsu sebagai dokteroid dan aspek pidana dari pelaksanaan praktik kedokteran oleh dokteroid. Hasil penelitian ini menemukan bahwa penggunaan identitas palsu sebagai dokteroid dan aspek pidananya telah diatur dalam Undang-Undang Nomor 29 Tahun 2004 Tentang Praktik Kedokteran dengan uraian pidana tertuang dalam Pasal 29 (1), 31 (1), 32 (1), 36, 73 (1), 73 (2), 41 (1), 42, 46 (1), dan Pasal 51, serta peraturan pidana bagi dokteroid yang menjalankan praktik kedokteran yang illegal diatur dalam Pasal 77 dan Pasal 78 yang berisikan adanya bukti pelanggaran terhadap ketentuan di Pasal 73 (1) dan 73 (2) dengan ancaman penjara 5 tahun dan denda uang maksimal Rp. 150.000.000,00. Disisi lain, penegakan hukum terhadap kasus dokter palsu yang melakukan praktik kedokteran menggunakan hukum pidana preventif yaitu pencegahan sebelum tidak kejahatan terjadi dengan sosialisasi dan pelatihan serta hukum pidana represif yang berupa tindakan untuk memberantas kejahatan berdasarkan adanya laporan oleh masyarakat. Peran masyarakat, hukum, aparat, fasilitas, dan kebudayaan adalah faktor yang berperan penting dalam optimalisasi tindakan pencegahan kasus dokteroid
HUBUNGAN SELF-PRESENTATION DENGAN KEPUASAN TUBUH REMAJA PADA SMP X Christine Hadinata; Riana Sahrani; Debora Basaria
Jurnal Muara Ilmu Sosial, Humaniora, dan Seni Vol 4, No 2 (2020): Jurnal Muara Ilmu Sosial, Humaniora, dan Seni
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat, Universitas Tarumanagara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/jmishumsen.v4i2.9303.2020

Abstract

Adolescents who go through puberty will experience various change, adolescents will experience physical changes. The physical changes experienced will affect body satisfaction which is part of adolescent self-identity. In addition, social media also contributes to adolescent body satisfaction. In social media, adolescents can see various exposures to the ideal body shape of artists, friends, or other people which in turn make adolescents insecure and can reduce body satisfaction. But on the other hand, adolescents want to show their existence and want to be recognized by others. The existence of social media makes it easier for adolescents to show their existence through photos uploaded on social media. Photos uploaded on social media can be in the form of selfie which are part of self-presentation. Adolescents pay attention to physical appearance and want to appear as attractive as possible, so that teenagers will present their ideal self on social media. The intensity of uploading photos on social media is related to the level of body satisfaction. Adolescents who frequently upload photos on social media have lower body satisfaction. This study aims to see the relationship between self-presentation and adolescent body satisfaction in SMP X. The subjects of this study were adolescents or junior high school students, totaling 167 participants. The research data was taken using a questionnaire, the results of the study found that there was no relationship between selfie and body satisfaction. However, there is a relationship between the dimensions of self-relationship that attempt to act with body satisfaction in the facial area Pada masa pubertas remaja akan mengalami beberapa perubahan salah satunya perubahan fisik. Perubahan fisik tersebut dapat membentuk tingkat kepuasan tubuh remaja yang menjadi suatu bagian dari identitas diri. Selain itu, adanya media sosial berkontribusi pada kepuasan tubuh remaja. Pada media sosial, remaja dapat melihat berbagai paparan bentuk tubuh ideal artis, teman, atau orang lain yang pada akhirnya membuat remaja tidak percaya diri dan dapat menyebabkan rendahnya kepuasan tubuh. Namun, di sisi lain remaja ingin menunjukkan eksistensi dirinya dan ingin diakui oleh orang lain. Adanya media sosial mempermudah remaja untuk menunjukkan eksistensi melalui foto yang di unggah di media sosial. Salah satu foto yang diunggah dapat berupa selfie yang merupakan salah satu bentuk dari self-presentation.  Remaja sangat memperhatikan penampilan fisik dan ingin tampil semenarik mungkin, sehingga remaja akan menampilkan diri ideal mereka di media sosial. Intensitas mengunggah foto di media sosial berhubungan dengan tingkat kepuasan tubuh. Semakin sering remaja mengunggah foto di media sosial, semakin rendah kepuasan tubuhnya. Pada penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan self-presentation dengan kepuasan tubuh yang dimiliki remaja pada SMP X. Subyek penelitian ini merupakan remaja atau siswa-siswi SMP yang berjumlah 167 partisipan. Data penelitian ini diambil menggunakan kuesioner, pada hasil penelitian ditemukan tidak terdapat hubungan antara memfoto diri sendiri (selfie) dengan kepuasan tubuh. Meskipun demikian terdapat hubungan self-presentation dimensi attempt to act dengan kepuasan tubuh area wajah.
Cover JMISHS vol 4 no 2 DPPM UNTAR
Jurnal Muara Ilmu Sosial, Humaniora, dan Seni Vol 4, No 2 (2020): Jurnal Muara Ilmu Sosial, Humaniora, dan Seni
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat, Universitas Tarumanagara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Cover JMISHS vol 4 no 2
Redaksi JMISHS Vol 4 No 2 DPPM UNTAR
Jurnal Muara Ilmu Sosial, Humaniora, dan Seni Vol 4, No 2 (2020): Jurnal Muara Ilmu Sosial, Humaniora, dan Seni
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat, Universitas Tarumanagara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Redaksi JMISHS Vol 4 No 2
PENGEMBANGAN PEMAHAMAN DAN KEMAMPUAN TUTOR DI PKBM HSKS MENGENAI ANAK BERKEBUTUHAN KHUSUS DAN CARA PENANGANANNYA Bernadette Cindy Leo; Chairunnissa Chairunnissa; Margaretha Purwanti
Jurnal Muara Ilmu Sosial, Humaniora, dan Seni Vol 5, No 1 (2021): Jurnal Muara Ilmu Sosial, Humaniora, dan Seni
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat, Universitas Tarumanagara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/jmishumsen.v5i1.9451.2021

Abstract

Referring to the form of learning at the HSKS Community Learning Activity Center (PKBM) which provides opportunities for ABK to study together with regular students in regular classes (communities), it can be said that the system applied is based on the principle of inclusive education. The problem that occurs is that the tutors who teach community classes in HSKS do not have adequate understanding and handling skills so that learning activities for students become less optimal. Therefore, a training program was prepared by researchers with the aim of improving the understanding and skills of tutors in handling ABK in PKBM HSKS which is equipped with booklets to make it easier for tutors to access information. The research design used is interventional research. Data retrieval method with interviews and questionnaires to community tutors at elementary, junior high and high school level. Analyze the data using the problem tree method. Interventions are in the form of training to community tutors, but there are also tutors from other divisions, namely special education tutors and visit tutors. The training was conducted for one day with a duration of 2.5 hours. There is a roleplay task to evaluate the participants' skills. Research and training was conducted online because it took place during the COVID-19 pandemic, in the situation of large-scale social restrictions (PSBB). The results showed that the training provided can already improve the understanding of the tutors about ABK, but has not been able to improve the ability and skills in handling ABK. This happens because of time constraints in training so role play cannot be implemented. In addition, the majority of tutors do not complete the given task so the overall assessment cannot be done. Mengacu pada bentuk pembelajaran di Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat (PKBM) HSKS yang memberikan kesempatan bagi ABK untuk belajar bersama dengan siswa reguler di kelas reguler (komunitas), maka dapat dikatakan sistem yang diterapkan berlandaskan pada asas pendidikan inklusif. Adapun permasalahan yang terjadi yaitu para tutor yang mengajar kelas komunitas di HSKS belum memiliki pemahaman dan keterampilan penanganan ABK yang memadai sehingga kegiatan pembelajaran bagi para siswa menjadi kurang optimal. Oleh karena itu, suatu program pelatihan disusun oleh peneliti dengan tujuan meningkatkan pemahaman dan keterampilan para tutor dalam menangani ABK di PKBM HSKS yang dilengkapi dengan pemberian booklet untuk mempermudah para tutor mengakses informasi. Desain penelitian yang digunakan adalah penelitian intervensi. Metode pengambilan data dengan wawancara dan kuesioner kepada tutor komunitas di tingkat SD, SMP dan SMA. Analisis data menggunakan metode pohon masalah. Intervensi berupa pelatihan kepada para tutor komunitas, namun terdapat pula tutor dari divisi lain, yaitu tutor pendidikan khusus dan tutor visit. Pelaksanaan pelatihan dilakukan selama satu hari dengan durasi 2,5 jam. Terdapat tugas berupa roleplay untuk mengevaluasi keterampilan peserta. Penelitian dan pelatihan dilaksanakan secara daring karena berlangsung pada masa pandemi COVID-19, dalam situasi diberlakukan pembatasan sosial berskala besar (PSBB). Hasil penelitian menunjukkan bahwa pelatihan yang diberikan sudah dapat meningkatkan pemahaman para tutor mengenai ABK, tetapi belum dapat meningkatkan kemampuan dan keterampilan dalam menangani ABK. Hal ini terjadi karena keterbatasan waktu dalam pelatihan sehingga role play tidak dapat dilaksanakan. Selain itu, mayoritas tutor tidak menyelesaikan tugas yang diberikan sehingga penilaian secara keseluruhan tidak dapat dilakukan.
GAMBARAN COLLEGE ADJUSTMENT MAHASISWA BARU DI MASA PANDEMI COVID-19 Shinta Vionita; Rahmah Hastuti
Jurnal Muara Ilmu Sosial, Humaniora, dan Seni Vol 5, No 1 (2021): Jurnal Muara Ilmu Sosial, Humaniora, dan Seni
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat, Universitas Tarumanagara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/jmishumsen.v5i1.9971.2021

Abstract

College adjustment comes from adjustment, which means the adjustment of students to the environment in college.  The way students adjust during the first year of college is a prediction of significant life events later in their college career. In college adjustments, there are four dimensions, including academic adjustment, social adjustment, personal emotional adjustment, and goal commitment institutional attachment. This study aims to find an overview of first year college students during the Covid-19 pandemic. This study had 345 freshman college students as participants ranging in age from 18 to 25 who were studying at universities in Jakarta. The measuring instrument used was the Student Adaptation to College Questionnaire (SACQ). Based on the results of data processing carried out to describe college adjustment of first year college students during the Covid-19 pandemic using descriptive methods and different demographic data tests, it was found that college adjustments had differences in the gender of men and women, and had no differences in the type of college, age, faculty, and current residence. The results of this study can also be concluded that the dimension of goal commitment to institutional attachment has the highest mean value, followed by social adjustment, academic adjustment, and the lowest is personal emotional adjustment. This study also describes the high level of college adjustment based on its dimensions. College adjustment berasal dari adjustment yang artinya penyesuaian mahasiswa dengan lingkungan perguruan tinggi. Cara mahasiswa menyesuaikan selama tahun pertama kuliah merupakan prediksi peristiwa kehidupan yang signifikan di kemudian hari dalam karir perguruan tinggi. Dalam college adjustment, terdapat empat dimensi, antara lain academic adjustment, social adjustment, personal emotional adjustment, dan goal commitment institutional attachment. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui gambaran umum college adjustment mahasiswa baru di masa pandemi Covid-19. Penelitian ini memiliki 345 partisipan mahasiswa baru dengan rentang usia antara 18 hingga 25 tahun yang berkuliah di perguruan tinggi di daerah Jakarta. Alat ukur yang digunakan adalah Student Adaptation to College Questionnaire (SACQ). Berdasarkan hasil olah data yang dilakukan untuk menggambarkan college adjustment mahasiswa baru di masa pandemi Covid-19 dengan menggunakan metode deskriptif dan uji beda data demografi, didapatkan hasil bahwa college adjustment memiliki perbedaan pada jenis kelamin laki-laki maupun perempuan, serta tidak memiliki perbedaan pada jenis perguruan tinggi yang dipilih, usia, fakultas, dan tempat tinggal saat ini. Hasil penelitian ini juga dapat disimpulkan bahwa dimensi goal commitment institutional attachment memiliki nilai mean yang paling tinggi, disusul dengan social adjustment, academic adjustment, dan yang paling rendah adalah personal emotional adjustment. Penelitian ini juga menggambarkan tingkat tinggi rendahnya college adjustment berdasarkan dimensinya.

Filter by Year

2017 2025


Filter By Issues
All Issue Vol. 9 No. 3 (2025): Jurnal Muara Ilmu Sosial, Humaniora dan Seni Vol. 9 No. 2 (2025): Jurnal Muara Ilmu Sosial, Humaniora dan Seni Vol. 9 No. 1 (2025): Jurnal Muara Ilmu Sosial, Humaniora dan Seni Vol. 8 No. 3 (2024): Jurnal Muara Ilmu Sosial, Humaniora dan Seni Vol. 8 No. 2 (2024): Jurnal Muara Ilmu Sosial, Humaniora, dan Seni Vol. 8 No. 1 (2024): Jurnal Muara Ilmu Sosial, Humaniora , dan Seni Vol. 7 No. 3 (2023): Jurnal Muara Ilmu Sosial, Humaniora, dan Seni Vol. 7 No. 2 (2023): Jurnal Muara Ilmu Sosial, Humaniora, dan Seni Vol. 7 No. 1 (2023): Jurnal Muara Ilmu Sosial, Humaniora, dan Seni Vol. 6 No. 3 (2022): Jurnal Muara Ilmu Sosial, Humaniora, dan Seni Vol. 6 No. 2 (2022): Jurnal Muara Ilmu Sosial, Humaniora, dan Seni Vol 6, No 1 (2022): Jurnal Muara Ilmu Sosial, Humaniora, dan Seni Vol. 6 No. 1 (2022): Jurnal Muara Ilmu Sosial, Humaniora, dan Seni Vol 5, No 2 (2021): Jurnal Muara Ilmu Sosial, Humaniora, dan Seni Vol 5, No 1 (2021): Jurnal Muara Ilmu Sosial, Humaniora, dan Seni Vol 4, No 2 (2020): Jurnal Muara Ilmu Sosial, Humaniora, dan Seni Vol 4, No 1 (2020): Jurnal Muara Ilmu Sosial, Humaniora, dan Seni Vol 3, No 2 (2019): Jurnal Muara Ilmu Sosial, Humaniora, dan Seni Vol 3, No 1 (2019): Jurnal Muara Ilmu Sosial, Humaniora, dan Seni Vol 2, No 2 (2018): Jurnal Muara Ilmu Sosial, Humaniora, dan Seni Vol 2, No 1 (2018): Jurnal Muara Ilmu Sosial, Humaniora, dan Seni Vol 1, No 2 (2017): Jurnal Muara Ilmu Sosial, Humaniora, dan Seni Vol 1, No 1 (2017): Jurnal Muara Ilmu Sosial, Humaniora, dan Seni More Issue