Jurnal Muara Ilmu Sosial, Humaniora, dan Seni
Jurnal Muara Ilmu Sosial, Humaniora, dan Seni (P-ISSN 2579-6348 dan E-ISSN 2579-6356) merupakan jurnal yang menjadi wadah bagi penerbitan artikel-artikel ilmiah hasil penelitian dalam bidang Ilmu Sosial (seperti Ilmu Psikologi dan Ilmu Komunikasi), Humaniora (seperti Ilmu Hukum, Ilmu Budaya, Ilmu Bahasa), dan Seni (seperti Seni Rupa dan Design). Jurnal ilmiah ini diterbitkan oleh Direktorat Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat Universitas Tarumanagara. Dalam satu tahun, jurnal ini terbit dalam dua nomor, yaitu pada bulan April dan Oktober.
Articles
723 Documents
HARGA DIRI DAN KEPUASAN HIDUP SEBAGAI PREDIKTOR FEAR OF MISSING OUT (FOMO)
Walangitan, Zefanya Tesalonika Queen;
Iriani R. Dewi, Fransisca
Jurnal Muara Ilmu Sosial, Humaniora, dan Seni Vol. 8 No. 1 (2024): Jurnal Muara Ilmu Sosial, Humaniora , dan Seni
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat, Universitas Tarumanagara
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.24912/jmishumsen.v8i1.27186.2024
Penelitian ini bertujuan untuk mengeksplorasi peran harga diri dan kepuasan hidup sebagai prediktor Fear of Missing Out (FoMO). Penelitian ini mengadopsi pendekatan kuantitatif dengan desain studi korelasional. Dalam penelitian ini, peneliti akan mengidentifikasi dan mengukur korelasi antara variabel kepuasan hidup rasa takut ketinggalan (FoMO), dan harga diri sebagai variabel mediator dalam hubungan antara kepuasan hidup dan FoMO. Dalam proses pengambilan sampel, penelitian akan menggunakan metode convenience sampling. Pengukuran kepuasan hidup menggunakan Satisfaction With Life Scale (SWLS). Variabel harga diri diukur menggunakan Rosenberg Self-esteem Scale (RSES) yang telah dimodifikasi oleh riset Universitas Tarumanagara (2015). Alat ukur fear of missing out (FoMO) menggunakan Fear of Missing Out Scale yang dikembangkan oleh Przybylski. Metode pengolahan data yang diterapkan dalam penelitian ini adalah Analysis Process. Hasil penelitian menunjukkan bahwa harga diri dan kepuasan hidup menjadi prediktor FOMO.
PERAN GAYA KELEKATAN TIDAK AMAN TERHADAP PHUBBING PADA REMAJA DI JAKARTA DENGAN PROBLEMATIC SOCIAL MEDIA USE SEBAGAI MODERATOR
Naftali, Nicholas;
Rostiana
Jurnal Muara Ilmu Sosial, Humaniora, dan Seni Vol. 8 No. 2 (2024): Jurnal Muara Ilmu Sosial, Humaniora, dan Seni
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat, Universitas Tarumanagara
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.24912/jmishumsen.v8i2.27210.2024
Penggunaan internet semakin merajalela semenjak adanya pandemi. Salah satunya adalah penggunaan smartphone atau telefon pintar yang memiliki akses terhadap internet. Hal ini memunculkan suatu fenomena yang disebut phubbing, kondisi dimana seseorang memilih untuk berinteraksi dengan smartphone dibandingkan dengan individu lain. Hal ini tentu menimbulkan dampak negatif sehingga dapat mengorbankan hubungan sosial, pekerjaan, studi, dan tugas penting lainnya. Salah satu faktor yang diduga sebagai penyebab phubbing adalah penggunaan media sosial yang berlebihan. Penggunaan internet ini yang menjadi masalah atau tidak sehat ternyata juga diduga turut berperan, dan pada penelitian ini diangkat sebagai moderator. Penelitian ini melibatkan 391 partisipan dengan rentang usia 12-19 tahun. Metode yang digunakan penelitian adalah kuantitatif dengan non-probability sampling. Alat ukur yang digunakan adalah Phubbing Scale, The Experiences in Close Relationships-Relationship Structure (ECR-RS) dan Social Media Addiction Scale. Hasil penelitian menunjukkan bahwa secara keseluruhan gaya kelekatan tidak aman berperan terhadap phubbing dengan F hitung sebesar F hitung>F tabel (9.682>3.865), (p) < 0.001. Problematic Social Media Use (PSMU) juga telah menggambarkan bahwa adanya peran secara signifikan sebagai moderator dengan F hitung>F tabel (85.571>3.865), (p) < 0.001. Namun, hanya dimensi gaya kelekatan cemas yang ditemukan memiliki peranan pada phubbing, tidak dengan gaya kelekatan menghindar.
HARGA DIRI DAN PROBLEMATIC SOCIAL MEDIA USE PENGGUNA TIKTOK
Margaretha, De Clara;
Wati, Linda
Jurnal Muara Ilmu Sosial, Humaniora, dan Seni Vol. 8 No. 1 (2024): Jurnal Muara Ilmu Sosial, Humaniora , dan Seni
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat, Universitas Tarumanagara
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.24912/jmishumsen.v8i1.27225.2024
Peningkatan aplikasi TikTok tiap tahunnya terus meningkat sehingga mencapai 109,9 juta Angka ini meningkat 18 juta pengguna (19%) dibandingkan bulan yang sama pada tahun 2022 menurut survei GlobalWbIndex (2023). Menurut Katadata.co.id (2022) juga menemukan bahwa jumlah pengguna Tiktok mencapai 30% dari populasi Indonesia dan penggunaan aplikasi TikTok didominasi oleh pengguna usia 18-24 tahun, pada usia ini peran media sosial sangat penting untuk memenuhi kebutuhan dalan bersosialisasi (Müller et., 2016). Penggunaan TikTok dapat mempengaruhi harga diri dan kualitas diri sendiri karena dapat pengguna TikTok melihat berbagai video (Rahmasari et al., 2022). Sosial media telah menjadi bagian dari kehidupan masyarakat dimana mereka dapat berinteraksi secara sosial dengan pengguna lainnya (Zhao et al., 2012). Harga diri dapat ditingkatkan dengan menggunakan media sosial (Andreassen et al., 2017), karena Individu dengan tingkat harga diri yang rendah akan memiliki kecenderungan menggunakan sosial media yang berlebihan (Blachinio, 2016) sehingga penelitian ini bertujuan untuk mengetahui korelasi antara harga diri dan problematic social media use (PSMU) pada pengguna TikTok. Hipotesis dalam penelitian ini adalah terdapat hubungan negatif antara harga diri dan problematic social media use (PSMU). Penelitian ini sebanyak 246 responden yang berjumlah 180 perempuan dan laki-laki 66 responden. Penelitian menggunakan metode kuantitatif dengan metode non-eksprimental dan menggunakan dua alat ukur: (a) Rosenberg Self-Esteem Scale dengan α = (10 items) dan Problematic TikTok Use Scale dengan α = (6 item). Hasil analisis menggunakan teknik korelasi menunjukkan terdapat hubungan negatif dan signifikan antara harga diri dengan masalah penggunaan media sosial (r =-0.162 dan p = 0.011, p < 0.05). Pada penelitian Uji beda tidak terdapat perbedaan antara status pernikahan dan jenis kelamin terhadap harga diri dan PSMU.
PERAN MODAL PSIKOLOGIS TERHADAP KESEIMBANGAN KEHIDUPAN KERJA PADA MAHASISWA PEKERJA
Lazuardi, Lawrencia Audrey;
Rostiana
Jurnal Muara Ilmu Sosial, Humaniora, dan Seni Vol. 8 No. 1 (2024): Jurnal Muara Ilmu Sosial, Humaniora , dan Seni
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat, Universitas Tarumanagara
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.24912/jmishumsen.v8i1.27226.2024
Fenomena mahasiswa bekerja sudah tidak asing dan banyak ditemukan. Hal ini terjadi karena mahasiswa sudah memasuki masa dewasa awal di mana individu sudah memiliki rasa tanggung jawab dan cenderung ingin mandiri. Namun, ada faktor–faktor lain yang memengaruhi mahasiswa dalam mengambil keputusan untuk bekerja. Pada mahasiswa bekerja, fokus utama mahasiswa yaitu belajar dan menimba ilmu di universitas menjadi terbagi sehingga mahasiswa memiliki dua tanggung jawab besar yaitu berkuliah dan bekerja. Hal ini merupakan konsekuensi yang harus dihadapi, dimana mahasiswa yang bekerja dituntut untuk dapat melakukan kedua tanggung jawab tersebut secara bersamaan. Oleh karena itu, mahasiswa bekerja harus dapat menyeimbangkan hidupnya dengan baik agar tidak menimbulkan dampak negatif seperti menurunnya nilai akademik, stress, dan kondisi-kondisi psikologis negatif lainnya. Salah satu karakteristik individu yang diduga turut berperan dalam menentukan keseimbangan kehidupan-kerja adalah modal psikologis. Oleh karena itu, penelitian ini bertujuan untuk melihat peran modal psikologis terhadap keseimbangan kehidupan-kerja pada mahasiswa bekerja. Data dikumpulkan dari 254 mahasiswa bekerja dengan cara menyebarkan kuesioner yang berisikan alat ukur Psychological Capital Questionnaire (PCQ) dan Work Life Balance Scale. Hasil penelitian menunjukkan bahwa modal psikologis memiliki pengaruh positif yang signifikan terhadap keseimbangan kehidupan-kerja (R2 = 0.047, p < 0.05). Hal ini menunjukkan bahwa modal psikologis memiliki peran terhadap keseimbangan kehidupan-kerja mahasiswa bekerja. The phenomenon of working students is familiar and often found. This happens because students have entered early adulthood where individuals already have a sense of responsibility and tend to want to be independent. However, there are other factors that influence students in making the decision to work. For working students, the main focus of students is studying and gaining knowledge at university is divided so now students have two big responsibilities that is studying and working. This is a consequence that must be faced, working students are required to be able to carry out both responsibilities simultaneously. Therefore, working students must be able to balance their lives well so as not to cause negative impacts such as decreased academic grades, stress, etc. One of the individual characteristics that is thought to play a role in determining work-life balance is psychological capital. Therefore, this research aims to examine the role of psychological capital on work-life balance in working students. Data was collected from 254 working students by distributing questionnaires containing the Psychological Capital Questionnaire (PCQ) and Work Life Balance Scale measuring instruments. The research results show that psychological capital has a significant positive influence on work-life balance (R2 = 0.047, p = 0.001 < 0.05). This shows that psychological capital has a role in working students' work-life balance.
POLA ASUH YANG MEMUNCULKAN KEPRIBADIAN MACHIAVELLIANISM: A SYSTEMATIC REVIEW
Tausi, Salwa Divani;
Satiadarma, Monty P.
Jurnal Muara Ilmu Sosial, Humaniora, dan Seni Vol. 8 No. 1 (2024): Jurnal Muara Ilmu Sosial, Humaniora , dan Seni
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat, Universitas Tarumanagara
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.24912/jmishumsen.v8i1.27284.2024
Orang tua merupakan sekolah dan pendidik pertama bagi individu. Oleh karena itu, bentuk pengasuhan berperan terhadap perkembangan individu di kemudian hari termasuk kepribadian Machiavellianism. Penelitian terdahulu menemukan bahwa penolakan dan juga pengabaian terhadap anak bisa menimbulkan Machiavellianism pada anak. Namun ada juga penelitian yang menunjukkan tidak adanya hubungan antara pola asuh dengan kepribadian Machiavellianism. Untuk memperjelas hal ini, penelitian dengan metode systematic review dilakukan guna mencari tahu bentuk pola asuh apa saja yang berpotensi memunculkan kepribadian Machiavellianism pada individu. Pencarian literatur dilakukan melalui dua database yaitu Google Scholar dan Semantic Scholar dengan rentang waktu di antara 1998-2023. Penelitian haruslah (a) membahas terkait pola asuh dan kepribadian Machiavellianism; (b) diterbitkan dalam bahasa Inggris maupun Indonesia; (c) memiliki kualitas jurnal yang baik; serta (d) open access. Sebanyak delapan artikel diikutsertakan pada analisis systematic review. Hasil menunjukkan tujuh dari delapan artikel menemukan adanya hubungan antara pola asuh dengan kepribadian Machiavellianism, sedangkan satu artikel lainnya tidak. Dari ketujuh artikel tersebut, pola asuh yang berperan terhadap kemunculan kepribadian Machiavellianism, yaitu (a) authoritarian: overproteksi, ayah yang keras, komunikasi yang buruk, serta alienasi oleh ibu; (b) neglect: penolakan serta pengabaian; dan (c) indulgent: tidak konsisten. Diharapkan hasil review bisa menjadi dasar dalam mengantisipasi dan mencegah peluang terbentuknya kepribadian Machiavellianism dalam proses pengasuhan.
STUDI KASUS: GAMBARAN RESILIENSI PADA IBU TUNGGAL DENGAN ANAK BERKEBUTUHAN KHUSUS
Darmanto, Endian Elimmata Dia;
Wati, LInda
Jurnal Muara Ilmu Sosial, Humaniora, dan Seni Vol. 8 No. 2 (2024): Jurnal Muara Ilmu Sosial, Humaniora, dan Seni
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat, Universitas Tarumanagara
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.24912/jmishumsen.v8i2.27290.2024
Badan pusat statistik (BPS) menyatakan pada tahun 2022 sebanyak 12.72% kepala keluarga di Indonesia berjenis kelamin perempuan atau dapat disebut dengan ibu tunggal. Ibu tunggal mengalami banyak tekanan mulai dari pengasuhan, menjalani peran ganda, hingga tekanan ekonomi. Ibu tunggal yang memiliki anak berkebutuhan khusus harus menghadapi masyarakat yang belum bisa menjadi masyarakat yang ramah bagi anak berkebutuhan khusus. Tidak adanya peran dan bantuan dari pasangan membuat ibu tunggal banyak mengalami stres. Tujuan dari penelitian ini untuk memberikan gambaran resiliensi bagi ibu tunggal yang memiliki anak berkebutuhan khusus. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan studi kasus. Pengumpulan data dilakukan dengan wawancara semi terstruktur. Partisipan berjumlah tiga orang yang merupakan ibu tunggal yang memiliki anak berkebutuhan khusus dengan rentang usia anak 5-11 tahun dan telah menjadi ibu tunggal setidaknya maksimal sejak saat anak berusia 3 tahun. Hasil dari penelitian ini dianalisis dengan menggunakan teknik fenomenologi. Setelah dilakukan analisis ditemukan ibu tunggal yang memiliki anak berkebutuhan khusus dapat dikatakan memiliki resiliensi yang baik. Hal ini tergambar dari bagaimana mereka dapat bangkit dan beradaptasi, serta berkembang dari kesulitan yang telah mereka alami, dengan faktor terkuat dari ketiga subjek berada pada faktor religiusitas (I am), dukungan keluarga (I have), serta kemampuan mengidentifikasi dan menyelesaikan masalah (I can).
DINAMIKA PEMBAGIAN PERAN GENDER DALAM HUBUNGAN PERNIKAHAN PADA USIA LANJUT DAN PENSIUN: ANALISIS TINJAUAN SISTEMATIS
Cendy, Cendy;
Kartasasmita, Sandi
Jurnal Muara Ilmu Sosial, Humaniora, dan Seni Vol. 8 No. 1 (2024): Jurnal Muara Ilmu Sosial, Humaniora , dan Seni
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat, Universitas Tarumanagara
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.24912/jmishumsen.v8i1.27291.2024
Kesenjangan dalam pembagian tugas rumah tangga merujuk pada pembagian tugas domestik yang tidak setara dalam rumah tangga yang mayoritas dikerjakan oleh perempuan. Kesenjangan ini dapat tetap bertahan hingga pasangan memasuki usia lanjut. Hal ini dapat mempengaruhi tingkat kebahagiaan pernikahan dan meningkatkan risiko memiliki kesehatan mental yang buruk bagi perempuan. Penelitian sebelumnya menunjukan bahwa laki-laki yang telah pensiun lebih sedikit melakukan pekerjaan domestik (memasak dan bersih-bersih) walaupun memiliki lebih banyak waktu luang. Tinjauan sistematis ini ditujukan untuk mensintesis literasi mengenai pembagian pekerjaan rumah tangga antara pasangan lansia yang telah pensiun, untuk mengeksplorasi pembagian, tingkat ketimpangan, dan faktor yang dapat mempengaruhi. Pencarian studi dilakukan melalui database Science Direct, Taylor & Francis Online, dan Pubmed dengan rentang tahun 2012-2023. Studi inklusi jika membahas pembagian tugas domestik antara pasangan berusia >60 tahun dan sudah pensiun. Quality assessment juga dilakukan untuk meningkatkan relevansi dan kualitas. Hasil penelitian ini menunjukan bahwa perempuan lanjut usia yang telah pensiun tetap memiliki beban pekerjaan domestik yang lebih banyak dibandingkan pasangan. Perempuan lansia yang telah pensiun tetap melakukan tugas domestik antara lain: merawat cucu dan merawat pasangan serta menangani pekerjaan rumah tangga lainnya meskipun suami juga telah pensiun. Penemuan dari studi ini dapat digunakan sebagai bahan pertimbangan dalam penyusunan intervensi atau kebijakan yang dapat meningkatkan kualitas hidup lansia.
HUBUNGAN STRES KERJA DAN KOMITMEN ORGANISASI PADA ANGGOTA BRIMOB POLDA X YANG DIMEDIASI DUKUNGAN SOSIAL
Fadila, Nurul;
Sahrani, Riana
Jurnal Muara Ilmu Sosial, Humaniora, dan Seni Vol. 8 No. 1 (2024): Jurnal Muara Ilmu Sosial, Humaniora , dan Seni
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat, Universitas Tarumanagara
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.24912/jmishumsen.v8i1.27311.2024
Polri memiliki peran dalam menjaga keamanan hingga mengayomi masyarakat dan diharapkan memiliki komitmen organisasi yang tinggi dalam bekerja. Brimob memiliki tugas dan fungsi yang sama, yang membedakan tugas Brimob diharapkan mampu menangani kejahatan yang berpotensi tinggi seperti unjuk rasa, daerah rawan konflik, hingga terorisme. Dengan adanya komitmen organisasi, setiap personel menjadi lebih bertanggung jawab dan dapat meningkatkan kinerja. Bekerja sebagai personel kepolisian rawan terhadap stres karena harus siap sedia dalam mengorbankan kehidupan demi menjaga dan mengayomi negara. Terdapat berbagai faktor yang dapat memengaruhi stres kerja, salah satunya adalah dukungan sosial. Dukungan sosial dapat meningkatkan kinerja, produktivitas, serta kesehatan mental maupun fisik. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui hubungan stres kerja dengan komitmen organisasi pada anggota Brimob Polda X yang dimediasi dukungan sosial. Penelitian ini menggunakan metode kuantitatif dengan melibatkan 221 partisipan dengan menggunakan 3 alat ukur yaitu Organizational Commitment Questionnaire, Perceived Stress Scale serta The Multidimensional Scale of Perceived Social Support. Hasil analisis data utama diolah dengan uji regresi berganda dan menunjukkan terdapat pengaruh signifikan dukungan sosial dan stres kerja terhadap komitmen organisasi sebesar 46.3% dengan nilai F = 93.908, dan p = 0.000<0.05, serta hasil uji Sobel menunjukkan nilai z = -5.91>1.96 yang artinya dukungan sosial mampu memediasi stres kerja dengan komitmen organisasi.
PERANAN SELF-ESTEEM SEBAGAI MEDIATOR DALAM HUBUNGAN ANXIOUS ATTACHMENT DAN LIFE SATISFACTION PADA EMERGING ADULTHOOD
Amelia, Cindy;
Sahrani, Riana
Jurnal Muara Ilmu Sosial, Humaniora, dan Seni Vol. 8 No. 1 (2024): Jurnal Muara Ilmu Sosial, Humaniora , dan Seni
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat, Universitas Tarumanagara
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.24912/jmishumsen.v8i1.27319.2024
Emerging adulthood melibatkan masa peralihan yang berliku-liku. Individu sering kali tidak siap menghadapi tugas-tugas kemandirian sehingga ada di antara individu yang masih mengandalkan kebergantungan terhadap orang lain. Hal ini membawa individu kepada kelekatan terhadap figur-figur kecemasan tertentu. Gaya kelekatan menjadi preferensi individu terhadap kemandirian yang terdiri dari secure attachment dan insecure attachment. Penelitian ini akan berfokus kepada salah satu dari dua dimensi insecure attachment, yakni anxious attachment. Anxious attachment merupakan gaya kelekatan yang berorientasi pada keinginan kuat untuk mendapat perhatian, dukungan, serta berhubungan dekat dengan figur. Sejumlah penelitian menemukan rendahnya life satisfaction pada individu yang memiliki gaya kelekatan anxious attachment, yang nantinya akan memengaruhi self-esteem individu. Life satisfaction merupakan penilaian individu secara positif terhadap pencapaian serta kualitas hidup mereka sesuai dengan standar yang telah ditetapkan. Sementara itu, self-esteem merupakan persepsi seseorang terhadap dirinya sendiri yang melibatkan proses verifikasi diri. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui apakah terdapat peranan self-esteem dalam hubungan anxious attachment dengan life satisfaction pada emerging adulthood. Partisipan yang terlibat dalam penelitian terdiri dari 452 individu emerging adulthood berusia 18-25 tahun. Penelitian ini menggunakan metode kuantitatif dengan alat ukur Anxious Attachment Scale Items, The Satisfaction With Life Scale, dan Rosenberg Self-Esteem Scale. Hasil penelitian menunjukkan tidak adanya hubungan antara anxious attachment dan life satisfaction (p = 0.593 > 0.05), adanya hubungan negatif pada anxious attachment dengan self-esteem (p = 0.027 < 0.05), dan adanya hubungan positif pada life satisfaction dan self-esteem (p = 0.000 < 0.05). Maka dari itu, dapat disimpulkan tidak ada peranan self-esteem sebagai mediator dalam hubungan anxious attachment dan life satisfaction pada emerging adulthood sehingga hipotesis dalam penelitian ini tidak dapat dibuktikan.
COPING STRESS PADA ISTRI ANGGOTA TNI YANG MENJALANI LONG DISTANCE MARRIED
muchlina, aljazira;
Dariyo, Agoes
Jurnal Muara Ilmu Sosial, Humaniora, dan Seni Vol. 8 No. 1 (2024): Jurnal Muara Ilmu Sosial, Humaniora , dan Seni
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat, Universitas Tarumanagara
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.24912/jmishumsen.v8i1.27376.2024
Long-distance marriage seringkali dipicu oleh tuntutan pekerjaan, seperti tugas dinas anggota TNI (Tentara Nasional Indonesia). Fenomena long-distance marriage memiliki potensi untuk menimbulkan sejumlah masalah yang dapat meningkatkan tingkat stress pada istri anggota TNI. Kemampuan dalam mengimplementasikan strategi coping stress menjadi suatu kebutuhan yang diperlukan untuk menjaga kestabilan dan kelangsungan rumah tangga. Dengan pemilihan strategi coping yang tepat, maka pernikahan dapat berlangsung secara optimal sehingga menciptakan kesejahteraan dan kesehatan psikologis bagi pasangan meskipun mereka tinggal berjauhan. Penelitian ini bertujuan untuk menggambarkan implementasi strategi coping stress pada istri anggota TNI yang menjalani long-distance marriage. Metode penelitian yang digunakan adalah metode kualitatif dengan pendekatan fenomenologi. Teknik pemilihan sampel yang digunakan adalah purposive sampling, dan hasilnya melibatkan empat istri anggota TNI yang menjalani long-distance marriage. Hasil penelitian menunjukkan bahwa strategi coping stress yang diterapkan oleh keempat subjek melibatkan aspek problem focused coping dan emotional focused coping. Dalam problem focused coping, keempat subjek cenderung mengatasi sumber stress secara langsung dengan mencari dukungan sosial, mengadopsi penyelesaian masalah yang terencana, dan menerima tanggung jawab untuk menghadapi tantangan sehari-hari. Di sisi lain, emotional focused coping melibatkan manajemen respons emosional terhadap stressor. Para subjek menggunakan strategi escape avoidance, self-control, accepting responsibility, dan positive reappraisal untuk mengelola aspek emosional dan psikologis dari stress yang dihadapi.