cover
Contact Name
Sunu Bagaskara
Contact Email
sunu.bagaskara@yarsi.ac.id
Phone
-
Journal Mail Official
melok.roro@yarsi.ac.id
Editorial Address
-
Location
Kota adm. jakarta pusat,
Dki jakarta
INDONESIA
Journal Psikogenesis
  • Jurnal-Online-Psikogenesis
  • Website
Published by Universitas Yarsi
ISSN : 23033177     EISSN : 25977547     DOI : -
Jurnal Psikogenesis is a semiannualy publication produced by Fakultas Psikologi Universitas YARSI since 2012 (e-ISSN: 2597-7547, p-ISSN: 2303-3177). The journal reflects the wide application of all aspects of psychology related to health. It also addresses the social contexts in which psychological and health processes are embedded. The main emphasis of the journal is on original research, theoretical review papers, meta-analyses, and applied studies.
Arjuna Subject : -
Articles 192 Documents
Fenomena School of Crime dalam Kasus Tindak Pidana Berulang: Studi Kasus di Lembaga Pemasyarakatan Kelas IIA Jember Panca Kursistin Handayani
Jurnal Online Psikogenesis Vol 7, No 2 (2019): Desember
Publisher : Lembaga Penelitian Universitas YARSI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24854/jps.v7i2.865

Abstract

Previous research on the effects of imprisonment or correctional practices on increasing recurrent crime is not clear enough. Mentioned in previous studies, although it was found data that people who have been imprisoned will tend to become recidivists (repeating their crimes) with a percentage of ± 7-13%, but it cannot be ascertained how far the likelihood of recurring crimes is really caused by imprisonment. Based on these questions, this study aims to explore the phenomenon of the School of Crime in Class IIA Jember Lapas. The choice of location of the study is based on the incidence of recurrent crime which is quite high in the correctional institution. The results of this study are expected to provide an overview of other factors beyond guidance that are often not detected by the Lapas, so that efforts to anticipate and change the atmosphere in guidance can be done to overcome this phenomenon.The qualitative method with the Phenomenology Case Study approach was used for this purpose, with the FGD and in-depth interviews as the main data collection methods. The research subjects used were 9 recidivist prisoners (6 for FGDs and 3 for in-depth interviews). Analysis of the data used is Interpretative Phenomelogical Analysis (IPA) which is used to make conclusions about the themes of the research findings.The results of the study found that: First, prisons provide an opportunity to learn about characters that are considered better, as well as strategies and methods used in committing crimes from fellow prisoners. Secondly, prisons also provide an opportunity to add social networks to friendship and connections, which later has the potential as a supporting factor or risk factor for the formation of repetition of crime after the prison is released. Third, criminal tendencies and family problems become risk factors or protective factors for the formation of recurrent crime
Pengembangan Alat Ukur Mindful Parenting untuk Orang Tua dari Remaja di Indonesia Grin Rayi Prihandini
Jurnal Online Psikogenesis Vol 7, No 2 (2019): Desember
Publisher : Lembaga Penelitian Universitas YARSI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24854/jps.v7i2.783

Abstract

Pengasuhan orang tua memiliki dampak terhadap perkembangan anak.Pada anak remaja, pengasuhan orang tua memiliki fungsi penting dalam melindungi remaja dari perilaku berisiko dan kenakalan remaja.Pengasuhan yang berlandaskan kesadaran penuh pada anak dirasa penting untuk diterapkan oleh orang tua untuk menurunkan kemungkinan masalah pada remaja.Tujuan dari penelitian ini adalah merancang alat ukur mindful parenting yang reliabel, valid, dan sesuai dengan teori yang digunakan.Penelitian ini melibatkan sejumlah 402 responden untuk mengisi kuesioner sebanyak 60 aitem.Pada akhirnya alat ukur ini menghasilkan 30 aitem terpilih yang reliabel dan valid dalam mengukur konstruk mindful parenting (CR = 0,93; r= 0,362 p0,01; one tailed).Hal ini menunjukkan bahwa instrumen ini dapat digunakan untuk mengukur mindful parenting di Indonesia.Lebih lanjut, pada penelitian selanjutnya, dapat dilakukan uji coba kembali terhadap aitem terpilih pada  partisipan yang lebih banyak dan beragam agar makin menggambarkan populasi di Indonesia.
Peran Trait Kepribadian terhadap Perilaku Mengemudi Pengendara Bermotor di Jakarta Arif Triman; Sunu Bagaskara
Jurnal Online Psikogenesis Vol 5, No 2 (2017): Desember
Publisher : Lembaga Penelitian Universitas YARSI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24854/jps.v5i2.503

Abstract

Meningkatnya angka kecelakaan tiap tahunnya menjadi permasalahan sendiri di Indonesia. Beberapa penelitian terdahulu menunjukkan faktor internal dari pengemudi seperti kepribadian berhubungan dengan perilaku para pengemudi di jalan raya. Penelitian ini dilakukan untuk melihat pengaruh kepribadian terhadap perilaku mengemudi berisiko (RDB) pada pengendara mobil dan sepeda motor di wilayah JABODETABEK. Sebanyak 318 pengemudi dalam rentang umur 16 sampai 57 tahun telah menyelesaikan kuesioner Big Five Inventory dan perilaku mengemudi berisiko (RDB) yang disebarkan secara online. Analisis regresi digunakan untuk melihat pengaruh antara kedua variabel ini. Hasil analisa menemukan adanya pengaruh yang signifikan trait neuroticism, agreeableness dan conscientiousness terhadap RDB. Hasil penelitian ini turut mendukung penelitian terdahulu di mana kepribadian memegang peranan penting dalam  perilaku mengemudi yang aman
Perbedaan Tingkat Kecemasan Pada Dokter Gigi Muda Dan Perawat Gigi Muda Saat Menghadapi Pasien Rini Julistia; Kartika Sari; Arum Sulistyani
Jurnal Online Psikogenesis Vol 4, No 1 (2016): Juni
Publisher : Lembaga Penelitian Universitas YARSI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24854/jps.v4i1.519

Abstract

Kecemasan adalah suatu keadaan emosi yang tidak menyenangkan yang dialami individu ketika berfikir mengenai sesuatu yang tidak menyenangkan akan terjadi, sehingga menimbulkan perasaan takut, kehati-hatian dan kewaspadaan. Salah satu faktor yang membedakan tingkat kecemasan yaitu lingkungan belajar.Perbedaan lingkungan belajar ini ditemukan pada dokter gigi muda dan perawat gigi muda.Lingkungan belajar dokter gigi muda memiliki tuntutan tinggi dan penuh dengan tekanan jiwa, seperti, kurikulum materi yang menuntut dokter gigi muda untuk memiliki bermacam-macam kemampuan dan keahlian, termasuk kemahiran dalam pengetahuan teori, kompetensi klinik, dan keterampilan. Sementara itu, pada lingkungan belajar perawat gigi muda terdapat beban kerja yang lebih bersifat fisik seperti melakukan perawatan ringan, merapikan kursi dental, dan  mensterilkan alat-alat. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui perbedaan tingkat kecemasan pada dokter gigi muda dan perawat gigi muda saat menghadapi pasien.Penelitian ini menggunakan metode kuantitatif dengan teknik proportional sampling. Jumlah keseluruhan subjek penelitian adalah 200 orang, yang terdiri dari 100 orang dokter gigi muda dan 100 orang perawat gigi muda. Data dikumpulkan melalui skala kecemasan yang terdiri dari 28 pernyataan.Analisis data menggunakan teknik Mann-Whitney dengan hasil Z yang di peroleh yaitu sebesar -4,242 dan harga P sebesar 0,000 (P0,05). Dengan demikian hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat perbedaan tingkat kecemasan pada dokter gigi muda dan perawat gigi muda saat menghadapi pasien.
Hubungan Antara Keterikatan Kerja dengan Intensi Keluar Kerja pada Karyawan Swalayan di Banda Aceh Risana Rachmatan; Sella Kubatini
Jurnal Online Psikogenesis Vol 6, No 1 (2018): Juni
Publisher : Lembaga Penelitian Universitas YARSI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24854/jps.v6i1.628

Abstract

The existence of employees have an important role in determining the company’s effectiveness and efficiency level, therefore, the company must realize the importance of human resources, in order to a few employees who want to resign (turnover). Before resign, the employees will wolk on some cognitive process that called intention. One of the factors that can be decrease turnover intention is work engagement. This study aimed to determine the relationship between work engagement with employee’s turnover intention at Department Store X in Banda Aceh. This study was conducted of 54 contract employees at Department Store X in Banda.. Data were collected by using a scale adaptation of Utrecht Work Engagement Scale (UWES) and Turnover Intention Scale (TIS). Collected data were analyzed using Pearson Product-Moment Correlation which showing correlation coefficient (r) of -0.695 with p = 0.000 (p 0.05). The result showed that there is a negative relationship between work engagement with turnover intention. It means, if the work engagement of employees is high, turnover intention or otherwise will be lower. The results also showed that the majority of the level of work engagement on contract employees at Department store X Banda Aceh include into the average category (61.11%) and turnover intention are in the low category (31.48%).
Perbedaan Adversity Quotient dan Kematangan Emosi Remaja SMP ditinjau dari Jenis Kelamin Ayub Djafar; IGAA Noviekayati; Sahat Saragih
Jurnal Online Psikogenesis Vol 6, No 1 (2018): Juni
Publisher : Lembaga Penelitian Universitas YARSI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24854/jps.v6i1.633

Abstract

To face the problems faced in adolescent life required adversity quotient (fighting power). Adversity quotient is an important understanding of what teenagers need to achieve success that is the ability to survive and face difficulties in every problem. This ability will only be owned by individuals who have the ability to take control and respond to a difficulty or pressure positively. In addition it also needs emotional maturity so that teenagers reach the level of emotional development and no longer display the childish emotional patterns. A mature teenager develops a good value system, proper self-concept and has stable emotional behavior. The purpose of this research is to know the difference of adversity quotient and emotional maturity of junior high school adolescent in terms of gender, relationship between adversity quotient and emotional maturity of junior high school, and difference of emotional maturity and adversity quotient of junior high school in Kendari. The population in this study were all junior high school students in Kendari City and the sample in this study amounted to 150 students of junior high school in Kendari. The research instrument is the scale of adversity and the scale of emotional maturity. The result of quantitative analysis with t-Test proves that there is no difference adversity quotient and emotional maturity of junior high school teenagers (p = 0.747 0.05) t = 0.110. The result of quantitative analysis with Pearson correlation test proves that there is a relationship between adversity quotient and emotional maturity of junior high school in Kendari (p = 0.046 0.05). And there is no difference between the emotional maturity of junior high school male and female sex. (p = 0.435 0.05) t arithmetic = 1.544.
Stres Kerja dan Keterikatan Kerja pada Karyawan Swasta: Peran Mediasi Kesejahteraan di Tempat Kerja Vissy Vandiya; Arum Etikariena
Jurnal Online Psikogenesis Vol 6, No 1 (2018): Juni
Publisher : Lembaga Penelitian Universitas YARSI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24854/jps.v6i1.648

Abstract

Employees who have low work engagement can harm the company, it can be shown by the decreasing of work performance and unproductive. Job stress can impact in decreased attachment of work. Job stress is also a major problem in the individual well-being that can affect the physical, psychological condition of the individual and the organization and also will affect the work engagement. The purpose of this study is to prove the variable of workplace wellbeing as a mediator of job stress variables with work engagement. The collecting data on the research is by spreading the online questionnaire which is gform and anonymously to the private employees in Jakarta, the ages 25-49 years, with working experience of at least 2 years, and minimum education level is bachelor. The number of respondents who data was processed are 200 people with the number of female respondents are 120 people and men are 80 people. This research uses quantitative research design using mediation analysis from Hayes in PROCESS in SPSS version 23. The scales that researcher used are Job Stress Scale for job stress (IV) with cronbach's alpha = .830, WWBI (Workplace Well-Being Index) for workplace well-being (MV) with cronbach's alpha = .863 and UWES (Utrecht Work Engagement Scale) for work engagement (DV) with cronbach's alpha = .922. The results showed that workplace well-being as a mediation variable with the value (p0.005, SE =?, CI [-0.2454, -0.0687]
Hubungan antara Mindful Parenting dengan Gaya Pengasuhan pada Ibu yang Memiliki Anak Usia 3-6 Tahun Widya Saraswati; Zulfa Febriani
Jurnal Online Psikogenesis Vol 6, No 2 (2018): Desember
Publisher : Lembaga Penelitian Universitas YARSI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24854/jps.v6i2.704

Abstract

Anak usia dini (3-6 tahun) berada dalam tahap mengembangkan inisiatif sehingga umumnya tampil dengan penuh energi dan eksplorasi. Hal ini dapat menguras energi emosional ibu sebagai pengasuh utama. Untuk itu, ibu perlu terampil mengelola kondisi emosional dengan tetap merespon anak secara baik dan memerhatikan kebutuhan anak untuk memahami konsteks sosial. Mindfulness dalam pengasuhan (mindful parenting) menerapkan kesadaran penuh dalam konteks pengasuhan yang sedang berlangsung antara ibu dengan anak, sehingga memfasilitasi ibu untuk sabar, menerima, sekaligus memanfaatkan moment yang ada untuk membangun interaksi sehingga dianggap dapat membangun gaya pengasuhan yang positif. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui hubungan antara mindful parenting dengan pola asuh pada ibu yang memiliki anak usia 3-6 tahun. Partisipan dalam penelitian ini berjumlah 101 ibu yang dipilih secara incidental di daerah DKI Jakarta. Penelitian ini menggunakan alat ukur Mindfulness in Parenting Questionnaire (MIPQ) dan The Parenting Styles and Dimensions Questionnaire (PSDQ). Data diolah dengan korelasi Pearson Product Moment. Hasil  penelitian menyatakan  bahwa,  terdapat hubungan positif yang siginifikan antara mindful parenting dengan tipe pola asuh authoritative (r = 0,608 ; p = 0,000 0,05), dan hubungan  negative  yang  signifikan  dengan pola asuh authoritarian (r = -0,278 ; p = 0,005 0,05). Sementara, tidak terdapat hubungan yang signifikan antara mindful parenting dengan tipe pola asuh permissive (r = -0,171; p= 0,087 0, 05). Hal ini menunjukkan bahwa semakin seorang ibu memiliki karakter atau kemampuan pengasuhan yang berkesadaran maka akan semakin memiliki pola asuh yang autorithative. Kesimpulan penelitian perlu mempertimbangkan kondisi sampel yang kurang beragam secara sosiodemografis.
BODY-MIND CONNECTION: IDENTIFIKASI SUBKEPRIBADIAN YANG TERKAIT DENGAN EMOSI DAN KELUHAN FISIK Nur Aziz Afandi; Hendro Prabowo; Mahargyantari Purwani Dewi
Jurnal Online Psikogenesis Vol 2, No 2 (2014): Juni
Publisher : Lembaga Penelitian Universitas YARSI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24854/jps.v2i2.47

Abstract

Abstract:Transpersonal psychology considers that there are various aspects of the human personality, such as: body, feelings, mind, intuition, imagination, drive, subpersonality, and so on (Firman Gila, 2002). Therefore, the study of the body-mind connection showed that consciousness, attitudes, and imagery can affect physical health and diseases. Meanwhile, sub-personality is one component of transpersonal psychology, beside the potential and aspirations, thoughts, feelings, and drive. Subpersonality always be accompanied with the emergence of an emotion that is connected to physiological changes as a manifestation of the body-mind connection. This paper is the result of a case study on an employee and five female students of psychology that attempts to explain the identification of several subpersonality, accompanied by physiological complaints that were made during meditation. This study showed subpersonality controlling causing migraine; sub-personality burdened causing rapid heartbeat, and sub-personality anxious causing back pain.Keywords: transpersonal psychology, subpersonality, emotion, physical complaintsAbstrak:Mazhab psikologi transpersonal memandang bahwa terdapat beragam aspek dari kepribadian manusia, seperti: tubuh, perasaan, pikiran, intuisi, imajinasi, dorongan, subkepribadian, dan sebagainya (Firman Gila, 2002). Oleh karena itu, studi tentang hubungan tubuh-pikiran (body-mind connection) menunjukkan bahwa keyakinan sadar, sikap, dan pencitraan dapat mempengaruhi kesehatan fisik dan penyakit. Sementara, subkepribadian adalah salah satu komponen dalam psikologi transpersonal, sistem psikosintesis selain potensi dan aspirasi, pikiran, perasaan, dan dorongan. Dalam wujudnya, subkepribadian selalu juga disertai dengan munculnya suatu emosi yang terhubung dengan perubahan-perubahan fisiologis sebagai perwujudan dari hubungan tubuh-pikiran. Makalah ini merupakan hasil dari penelitian kasus pada satu karyawati dan lima mahasiswi psikologi yang mencoba mengidentifikasi beberapa subkepribadian yang disertai dengan munculnya keluhan-keluhan fisiologis. Identifikasi subkepribadian dan keluhan-keluhan fisik dilakukan saat proses meditasi. Hasil penelitian ini menemukan bahwa keluhan-keluhan fisiologis yang dapat diidentifikasi dalam sesi konseling sebagai reaksi atas muncul emosi yang menyertai subkepribadian dalam diri seseorang adalah seperti subkepribadian mengontrol yang memunculkan keluhan fisik migrain, subkepribadian terbebani yang memunculkan keluhan fisik berupa jantung berdetak dengan cepat, subkepribadian pencemas dengan keluhan fisik sakit punggung.Kata kunci: psikologi transpersonal, subkepribadian, emosi, keluhan fisik.
HUBUNGAN REGULASI EMOSI DAN KECEMASAN PADA PETUGAS PENYIDIK POLRI DAN PENYIDIK PNS Euis Desy Mayangsari; Octaviani I. Ranakusuma
Jurnal Online Psikogenesis Vol 3, No 1 (2014): Desember
Publisher : Lembaga Penelitian Universitas YARSI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24854/jps.v3i1.53

Abstract

Abstract.Previous studies demonstrated correlations between emotionalregulation and anxiety. Reappraisal was considered as a better regulationthan suppression. Further, suppresion increased physiological responseswhich would be health damaging in a long-term. Investigator officers areprofessionals who are prone to experience anxiety in their duties. Theofficers have to do some careful and prudent investigation to collectevidences of crimes, which may put them in danger, before submitting to theattorney. The nature of the job put investigator officers in high risk ofexperiencing anxiety unless they effectively regulated their emotion. Thestudy investigated the correlation between emotional regulation and anxietyamong investigator officers of Police Department and Civil Departments.Participants were investigator officers who were participating in a trainingorganized by Educational Institution of Rechercheur and Crime inMegamendung, Bogor. Emotional Regulation Questionnaire (ERQ) fromGross and John (2003) and State-Trait Anxiety Inventory (STAI) fromSpielberger (2004) were conducted to 311 participants. Data analysisresulted that there was significant negative correlation between reappraisaland state anxiety. Further, t-tests demonstrated that investigators of PoliceDepartment were more likey to do suppression and so those marriedparticipants.Keywords: investigator officers, reappraisal, suppression, state anxiety,trait anxietyAbstrak.Sejumlah studi telah memperlihatkan hubungan antara regulasiemosi dan kecemasan. Reappraisal dianggap bentuk regulasi emosi yanglebih baik daripada supresi. Menekan (supresi) ekspresi emosi dapatmeningkatkan aktivitas respon fisiologis sehingga dalam jangka panjangmerugikan kesehatan. Petugas Penyidik merupakan suatu profesi yangmemiliki beban dan tanggung jawab kerja yang spesifik. Ia memilikiwewenang untuk melakukan penyidikan sehingga terkumpul bukti-buktiyang menguatkan aduan untuk kemudian diserahkan ke Jaksa PenuntutUmum. Penyidik harus waspada atas segala situasi yang mungkinmembahayakan dirinya selama penyelidikan, namun tetap berhati-hati agartidak melanggar asas praduga tidak bersalah. Penyidik rentan mengalamikecemasan, yang apabila tidak dapat di kelola dengan baik tentunya akanmempengaruhi kesejahteraan psikologis. Studi ini bertujuan untuk melihathubungan antara regulasi emosi dan kecemasan pada petugas penyidik dikepolisian (Penyidik Polri) dan yang bekerja sebagai Pegawai Negeri Sipil(Penyidik PNS). Partisipan penelitian (N=311) merupakan penyidik yangsedang mengikuti pelatihan di Lembaga Pendidikan Reserse dan Kriminal,Megamendung, Bogor. Data diperoleh melalui kuesioner dengan menggunakan alat ukur Emotional Regulation Questionnaire/ ERQ (Gross John, 2003) dan State-Trait Anxiety Inventory (STAI) dari Spielberger(2004). Hasil uji korelasi memperlihatkan korelasi negatif yang signifikanantara reappraisal dan state anxiety. Uji T memperlihatkan hasil bahwasupresi sebagai bentuk regulasi emosi lebih banyak dilakukan oleh PenyidikPolri dan lebih banyak dilakukan oleh Penyidik yang sudah menikah.Kata kunci: Penyidik, reappraisal, supresi, cemas/ anxiety, state anxiety,trait anxiety.