cover
Contact Name
dentin
Contact Email
dentin.jtamfkg@ulm.ac.id
Phone
-
Journal Mail Official
dentin.jtamfkg@ulm.ac.id
Editorial Address
-
Location
Kota banjarmasin,
Kalimantan selatan
INDONESIA
Dentin
ISSN : 26140098     EISSN : -     DOI : -
Core Subject : Health,
Dentin [e-issn: 2614-0098] merupakan terbitan berkala ilmiah tugas akhir berbahasa Indonesia berisi artikel penelitian dan kajian literatur tentang kedokteran gigi. Kontributor Dentin adalah kalangan akademisi (dosen dan mahasiswa). Dikelola oleh Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Lambung Mangkurat dan terbit 3 (tiga) kali setahun setiap April, Agustus dan Desember.
Arjuna Subject : -
Articles 11 Documents
Search results for , issue "Vol 8, No 2 (2024)" : 11 Documents clear
HUBUNGAN TINGKAT KEPARAHAN MALOKLUSI DENGAN KUALITAS HIDUP TERKAIT KESEHATAN GIGI DAN MULUT REMAJA SMA DI BANJARMASIN Della Alya Aaliyah; Isnur Hatta; Galuh Dwinta Sari; Aulia Azizah; Diana Wibowo
Dentin Vol 8, No 2 (2024)
Publisher : Universitas Lambung Mangkurat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20527/dentin.v8i2.13114

Abstract

ABSTRACTBackground: Malocclusion is a form of deviation from normal occlusion and varies from mild to severe. Malocclusion is not a disease, but it can impact a person's quality of life, especially adolescents. Oral health-related quality of life is an individual's response in daily life to physical, psychological, and social functioning due to diseases and disorders, one example of which is malocclusion. Impacts of malocclusion are impaired speech, mastication, swallowing, aesthetic satisfaction, as well as impacting on psychological aspects and social relationships. Purpose: This study aimed to determine the relationship between the severity of malocclusion and oral health related quality of life of High School Students in Banjarmasin. Methods: The research method was analytical observational with cross-sectional study have been held to High Schools and Vocational High Schools students in Central and North Banjarmasin Subdistrict. The total sample was 356 students aged 15-18 years. The Oral Health Impact Profile-14 (OHIP-14) questionnaire was used to measure oral health-related quality of life. Index of Complexity, Outcome, and Need (ICON) was used to assess the severity of malocclusion. The statistical hypothesis in this study was tested using a non-parametric test in the form of a spearman rank correlation. Results: Statistical analysis showed that malocclusion impacted all subdomain scores. Malocclusion indicated higher OHIP-14 scores on the psychic discomfort and psychic disability subdomain. Conclusion: The severity of malocclusion is associated with oral health-related quality of life. The more severe the malocclusion, the worse the impact on adolescents' oral health-related quality of life.Keywords : Malocclusion, High School Adolescents, OHIP-14, ICON. ABSTRAK Latar Belakang: Maloklusi adalah bentuk penyimpangan dari oklusi normal dan bervariasi dari kategori ringan hingga kategori berat. Maloklusi bukanlah sebuah penyakit, namun maloklusi dapat memberikan dampak terhadap kualitas hidup seseorang, terutama remaja. Kualitas hidup adalah respon individu dalam kehidupan sehari-hari terhadap fungsi fisik, psikologis, dan sosial akibat penyakit dan kelainan, salah satu contohnya adalah maloklusi. Dampak dari maloklusi adalah gangguan bicara, pengunyahan, menelan, kepuasan estetika, serta berdampak pada aspek psikologis dan hubungan sosial. Tujuan: Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara tingkat keparahan maloklusi dengan kualitas hidup terkait kesehatan gigi dan mulut pada remaja Sekolah Menengah Atas di Banjarmasin. Metode: Metode penelitian ini adalah observasional analitik dengan studi cross-sectional yang dilakukan pada siswa Sekolah Menengah Atas dan Sekolah Menengah Kejuruan di Kecamatan Banjarmasin Tengah dan Banjarmasin Utara. Total sampel pada penelitian ini sebesar 356 siswa berusia 15-18 tahun. Kuesioner Oral Health Impact Profile-14 (OHIP-14) digunakan untuk mengukur kualitas hidup terkait kesehatan gigi dan mulut. Index of Complexity, Outcome, and Need (ICON) digunakan untuk menilai tingkat keparahan maloklusi. Hipotesis statistik dalam penelitian ini diuji dengan menggunakan uji non parametrik berupa korelasi spearman rank. Hasil: Hasil analisis menunjukkan bahwa maloklusi berdampak pada semua skor subdomain. Maloklusi mengindikasikan skor OHIP-14 yang lebih tinggi pada subdomain ketidaknyamanan psikis dan ketidakmampuan psikis. Kesimpulan: Tingkat keparahan maloklusi berhubungan dengan kualitas hidup terkait kesehatan gigi dan mulut remaja. Semakin parah maloklusi, maka semakin buruk dampaknya pada kualitas hidup terkait kesehatan gigi dan mulut remaja. Kata kunci :        ICON, Maloklusi, OHIP-14, Remaja SMA,
PENGARUH PERENDAMAN GIGI DESIDUI PADA LARUTAN KITOSAN SISIK IKAN HARUAN (Channa striata) TERHADAP PELEPASAN ION KALSIUM Noval Ihza Maulana; Didit Aspriyanto; Deby Kania Tri Putri; Yusrinie Wasiaturrahmah; Sherli Diana
Dentin Vol 8, No 2 (2024)
Publisher : Universitas Lambung Mangkurat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20527/dentin.v8i2.13109

Abstract

ABSTRACTBackground: Haruan fish (Channa striata) scale chitosan solution can maintain tooth structure by reducing the solubility rate of hydroxyapatite which makes up tooth enamel. Haruan fish (Channa striata) scale chitosan solution prevents tooth demineralization in an acidic environment. Objective: To analyze the effect of soaking deciduous teeth in chitosan solution from haruan fish scales (Channa striata) with concentrations of 1.25%, 2.5% and 5% on the release of calcium ions in an acidic environment. Method: Pure experimental research with a post-test only design with control group, consisting of 4 treatment groups. The negative control was immersion of deciduous teeth in lactic acid solution pH 5.2, and treatment groups with concentrations of 1.25%, 2.5% and 5%. All groups soaked deciduous teeth in lactic acid solution with a pH of 5.2 for each group. Measurement of calcium release levels in deciduous teeth using UV-Vis spectrophotometry instruments. Results: The results of this study are hypothesized to be acceptable or that there is an effect of soaking deciduous teeth in haruan fish scale chitosan (Channa striata) concentrations of 1.25%, 2.5% and 5% in inhibiting the release of calcium ions. This study showed that there were no significant differences between the 1.25%, 2.5% and 5% treatment groups, but there were significant differences between the control group and all treatment groups. Conclusion: Haruan fish (Channa striata) scale chitosan with concentrations of 1.25%, 2.5%, and 5% is able to inhibit the release of calcium in deciduous teeth and has potential as a demineralization inhibitor biomaterial.Keywords :  Caries, Calcium, Chitosan, Demineralization, Haruan.  ABSTRAK Latar Belakang: Larutan kitosan sisik ikan haruan (Channa striata) dapat menjaga struktur gigi melalui proses penurunan laju kelarutan hidroksiapatit penyusun enamel gigi. Larutan kitosan sisik ikan haruan (Channa striata) mencegah demineralisasi gigi dalam lingkungan asam. Tujuan: Menganalisis pengaruh perendaman gigi desidui pada larutan kitosan dari sisik ikan haruan (Channa striata) dengan konsentrasi 1,25%, 2,5%, dan 5% terhadap pelepasan ion kalsium dalam lingkungan asam. Metode: Penelitian eksperimental murni dengan desain post-test only with control group, terdiri dari 4 kelompok perlakuan. Kontrol negatif yaitu perendaman gigi desidui pada larutan asam laktat pH 5,2, dan kelompok perlakuan konsentrasi 1,25%, 2,5%, serta 5%. Semua kelompok perendaman gigi desidui dalam larutan asam laktat dengan pH 5,2 dilakukan pada setiap kelompok. Pengukuran kadar pelepasan kalsium gigi desidui menggunakan instrumen spektrofotometri UV-Vis. Hasil: Hasil penelitian ini hipotesis dapat diterima atau adanya pengaruh perendaman gigi desidui pada kitosan sisik ikan haruan (Channa striata) konsentrasi 1,25%, 2,5%, dan 5% dalam menghambat pelepasan ion kalsium. Pada penelitian ini menunjukkan tidak adanya perbedaan signifikan antar kelompok perlakuan 1,25%, 2,5%, dan 5%, namun terdapat perbedaan bermakna antara kelompok kontrol dengan semua kelompok perlakuan. Kesimpulan: Kitosan sisik ikan haruan (Channa striata) dengan konsentrasi 1,25%, 2,5%, dan 5% mampu menghambat pelepasan kalsium pada gigi desidui dan memiliki potensi sebagai biomaterial agen penghambat demineralisasi. Kata kunci : Demineralisasi, Haruan, Kalsium, Karies, Kitosan
GAMBARAN KASUS TANGGAL PREMATUR GIGI CANINUS SULUNG Tom Christian; Renie Kumala Dewi; Amy Nindia Carabelly; Alexander Sitepu; Riky Hamdani
Dentin Vol 8, No 2 (2024)
Publisher : Universitas Lambung Mangkurat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20527/dentin.v8i2.13116

Abstract

ABSTRACTBackground: Premature loss is a condition where deciduous teeth shed prematurely while replacement permanent teeth have not yet erupted. Premature loss of primary canines can be caused by caries, trauma, and systemic conditions. Maxillary canines are more prone to premature loss compared to mandibular canines. Purpose: This study aimed to determine the prevalence of premature loss of primary canine teeth among children aged 8-10 years at SDN 2 Syamsudin Noor, Landasan Ulin, Banjarbaru City in 2023. Method: This research employed an observational study with a cross-sectional design. The study included 77 students aged 8-10 years from SDN 2 Syamsudin Noor, selected using simple random sampling. Inclusion criteria were students aged 8-10 years who were cooperative respondents, with parents or guardians signing informed consent, and students in the mixed dentition phase. Exclusion criteria were students absent or sick on the day of data collection, and parents or guardians who withdrew consent. Data were collected through observational examination and filling out an odontogram. The research data were analyzed descriptively. Results: 23% of respondents experienced premature loss of primary canines, with the majority being females (66.67%). The primary canine most commonly affected was tooth element 53 (44%), and premature loss typically occurred at age 10 (38.89%). Conclusion: The description of premature loss of primary canine teeth in students at SDN 2 Syamsudin Noor aged 8-10 years, the majority of which occur in girls, namely maxillary primary canine teeth because hormonal factors at puberty can influence behavior in maintaining dental and oral hygiene.Keywords: premature loss, children, primary canines. ABSTRAKLatar Belakang: Prematur loss adalah kondisi dimana gigi desidui sudah tanggal sebelum waktunya sementara gigi permanen pengganti belum tumbuh. Prematur loss caninus sulung dapat disebabkan karena karies, trauma dan kondisi sistemik. Gigi caninus rahang atas sering mengalami tanggal prematur dibandingkan gigi caninus rahang bawah. Tujuan: Mengetahui gambaran tanggal prematur gigi caninus sulung pada anak usia 8-10 tahun di SDN 2 Syamsudin Noor Kecamatan Landasan Ulin Kota Banjarbaru pada tahun 2023. Metode: Penelitian ini merupakan penelitian observasional dengan rancangan cross sectional. Penelitian dilakukan pada siswa-siswi usia 8-10 tahun di SDN 2 Syamsudin Noor Kecamatan Landasan Ulin Kota Banjarbaru dengan teknik pengambilan sampel simple random sampling sebanyak 77 orang dengan kriteria inklusi yaitu siswa siswi berusia 8-10 tahun, kooperatif untuk menjadi responden, orang tua atau wali yang menandatangani infomed consent dan siswa siswi dalam periode gigi bercampur. Kriteria eksklusi yaitu siswa siswi yang tidak hadir atau sakit pada hari pengambilan data dan orang tua atau wali yang mengundurkan diri. Pemeriksaan dilakukan dengan observasi serta pengisian odontogram. Data hasil penelitian selanjutnya dijabarkan secara deskriptif. Hasil: Sebanyak 23% responden mengalami prematur loss caninus sulung dengan responden terbanyak adalah perempuan (66,67%) dan elemen gigi caninus sulung yang mengalami tanggal prematur terbanyak adalah gigi 53 (44%) serta tanggal prematur terbanyak pada usia 10 tahun (38,89%). Kesimpulan: Gambaran tanggal prematur gigi caninus sulung pada siswa/siswi SDN 2 Syamsudin Noor usia 8-10 tahun mayoritas terjadi pada perempuan yaitu pada gigi caninus sulung rahang atas. Hal ini karena faktor hormonal pubertas dapat memengaruhi perilaku dalam memelihara kebersihan gigi dan mulut. Kata kunci: Caninus Sulung, Anak-Anak, Premature Loss
GAMBARAN NILAI PENGUKURAN POSISI INSISIVUS MAKSILA SUKU BANJAR DENGAN RADIOGRAF SEFALOMETRI LATERAL (Tinjauan pada Siswa SMAN 12 Banjarmasin) Nisa Azaria; Didit Aspriyanto; Tri Nurrahman; Nurdiana Dewi; R. Harry Dharmawan Setyawardhana
Dentin Vol 8, No 2 (2024)
Publisher : Universitas Lambung Mangkurat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20527/dentin.v8i2.13105

Abstract

ABSTRACTBackground:. Each racial or ethnic group has different characteristic dentocraniofacial patterns. Identifying characteristics of  dentocraniofacial pattern can help establish a diagnosis and plan appropriate orthodontic treatment. One of the dentocraniofacial patterns that can be identified is the position of the incisor teeth. The incisors are the most anterior teeth in the oral cavity. Its position and tilt can be influenced by various genetic and external factors. Characteristics of dentocraniofacial pattern can be identified through cephalometric analysis. Purpose: This  study  aimed  to  determine  the value of maxillary incisor position measurements of SMAN 12 Banjarmasin students from Banjar ethnic in terms of lateral cephalometric radiography using Steiner analysis. Methods: Cephalometric measurements performed using the Steiner analysis method on dental landmarks; UI-NA. Data analysis was carried out using descriptive statistical methods. The sample in this study were students of SMAN 12 Banjarmasin who are Banjarnese, characterized by a minimum of two generations, who have never or are not currently undergoing orthodontic treatment and are willing to be subjects in the research.  Results: The average value of the U1-NA distance measurement, the U1-NA distance measurement value is 4.47 ± 1.66 mm and the U1-NA angle measurement value is 22.86˚ ± 4.95˚. Conclusion: The average value of the maxillary incisors postion for students of SMAN 12 Banjarmasin of the Banjar ethnic is still classified as ideal but tends to be proclined, the average inclination is also still classified as ideal but tends to be proclined from the normal standard value of Steiner analysis.Keywords :     Banjar Ethnic, Cephalometry, Lateral cephalometry, Steiner analysis ABSTRAK Latar Belakang: Setiap kelompok ras atau etnis memiliki karakteristik pola dentokraniofasial yang berbeda. Karakteristik fisik dari pola dentokraniofasial perlu diidentifikasi untuk mendapatkan informasi yang dapat membantu menegakkan diagnosis dan merencanakan perawatan ortodontik yang tepat. Salah satu pola dentokraniofasial yang dapat diidentifikasi yaitu posisi gigi insisivus. Gigi insisivus adalah gigi paling anterior dalam rongga mulut. Posisi dan kemiringannya dapat dipengaruhi berbagai faktor genetik dan faktor eksternal. Karakteristik pola dentokraniofasial ini dapat diidentifikasi melalui analisis sefalometri. Tujuan: Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui nilai pengukuran posisi insisivus maksila siswa-siswi SMAN 12 Banjarmasin yang berasal dari etnis Banjar ditinjau dari radiografi sefalometri lateral dengan menggunakan analisis Steiner. Metode: Pengukuran sefalometri dilakukan dengan menggunakan metode analisis Steiner pada landmark gigi; UI-NA. Analisis data dilakukan dengan metode statistik deskriptif. Sampel dalam penelitian ini merupakan siswa SMAN 12 Banjarmasin yang merupakan suku Banjar murni yang ditandai dengan minimal dua generasi (ayah, ibu, kakek, dan nenek) yang tidak pernah atau tidak sedang melakukan perwatan orthodonti dan telah bersedia menjadi subjek dalam penelitian. Hasil: Nilai rata-rata pengukuran jarak U1-NA nilai pengukuran jarak U1-NA sebesar 4.47±1.66 mm dan nilai pengukuran sudut U1-NA sebesar 22.86˚±4.95˚. Kesimpulan: Nilai rata-rata posisi insisivus maksila pada siswa SMAN 12 Banjarmasin suku Banjar masih tergolong ideal namun cenderung proklinasi, rata-rata inklinasi nya juga masih tergolong ideal namun cenderung proklinasi dari standar nilain normal analisis Steiner. Kata kunci :  Analisis Steiner, Sefalometri, Sefalometri Lateral, Suku Banjar.
GAMBARAN KESEIMBANGAN UKURAN GIGI DENGAN ANALISIS BOLTON PADA PELAJAR SUKU BANJAR (USIA 15-18 TAHUN) Kholish Atikah Azzam; Diana Wibowo; Alexander Sitepu; Rosihan Adhani; Yusrinie Wasiaturrahmah
Dentin Vol 8, No 2 (2024)
Publisher : Universitas Lambung Mangkurat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20527/dentin.v8i2.13110

Abstract

ABSTRACTBackground: South Kalimantan recorded having a high incidence of dental and oral health problems around 59.6% and malocclusion cases around 12%. The population of Banjar tribe in South Kalimantan is around 90%. Banjar’s genetic factors can influence the development of tooth size therefore influence result of normal occlusion. Bolton analysis is an index needed to determine balance of tooth size of upper and lower jaw. Objective: The aim of this research is to describe the discrepancy sizes using Bolton analysis in Banjar students (aged 15-18 years). Method: This research is an observasional descriptive study with cross-sectional approach. Results: The results showed that the average balance value for the size of the 6 anterior teeth (Anterior Ratio) was 79.51% ± 8.67. It was found that 97.6% of the samples were unbalanced with the highest frequency of jaw discrepancies in the mandible and the average value for balance size of the 12 teeth. overall (Overall Ratio) 91.32 ± 5.17, it was found that 98.8% of the sample numbers were unbalanced with the highest frequency of jaw discrepancy in the maxilla, namely 46 people (56.1%). Conclusion: The balance of tooth size in the Banjar tribe based on the anterior Bolton ratio was found to be predominantly unbalanced with the highest imbalance located in the lower jaw (mandible) and the overall Bolton ratio was found to be predominantly unbalanced with the highest imbalance located in the upper jaw (maxilla).Keywords : Tooth Size Discrepancy; Bolton Analysis; Banjar tribe  ABSTRAK Latar Belakang: Kalimantan Selatan tercatat memiliki angka kejadian permasalahan kesehatan gigi dan mulut yang tinggi yaitu sekitar 59,6% dan kasus maloklusi sekitar 12%. Penduduk terbesar di Kalimantan Selatan adalah suku Banjar sekitar 90% dari populasi. Faktor genetik Suku Banjar dapat mempengaruhi perkembangan ukuran gigi sehingga dapat menentukan hasil oklusi normal. Analisis Bolton merupakan indeks yang sering digunakan dan diperlukan untuk menentukan keseimbangan ukuran gigi rahang atas dan bawah. Tujuan: Tujuan penelitian ini untuk mengambarkan keseimbangan ukuran gigi dengan analisis Bolton pada pelajar Suku Banjar (Usia 15-18 Tahun). Metode: Penelitian ini merupakan penelitian observasional deskriptif dengan pendekatan cross-sectional Hasil: Hasil penelitian menunjukan nilai rata-rata keseimbangan ukuran 6 gigi anterior (Anterior Rasio) 79,51% ± 8,67 didapati 97,6% jumlah sampel tidak seimbang dengan frekuensi rahang yang berdeskrepansi terbanyak pada mandibula dan nilai rata-rata keseimbangan ukuran 12 gigi keseluruhan (Overall Rasio) 91,32 ± 5,17 didapati 98,8% jumlah sampel tidak seimbang dengan frekuensi rahang yang berdeskrepansi terbanyak pada maksila yaitu 46 orang (56,1%). Kesimpulan: Keseimbangan ukuran gigi pada Suku Banjar berdasarkan rasio anterior Bolton didapati mayoritas tidak seimbang dengan letak ketidakseimbangan tertinggi pada rahang bawah (mandibula) dan rasio keseluruhan Bolton didapati mayoritas tidak seimbang dengan letak ketidakseimbangan tertinggi pada rahang atas (maksila). Kata kunci :  Analisis Bolton, Keseimbangan Ukuran Gigi, Suku Banjar 
Cover Dentin_Vol 8. No 2. 2024 Dentin FKG ULM
Dentin Vol 8, No 2 (2024)
Publisher : Universitas Lambung Mangkurat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20527/dentin.v8i2.13134

Abstract

PERBEDAAN UKURAN GIGI MOLAR PERTAMA MAKSILA DAN KANINUS MANDIBULA PERMANEN ANTARA MAHASISWA LAKI-LAKI DAN PEREMPUAN (Tinjauan pada Mahasiswa PSKG Suku Banjar) Siti Aulia Rahmah; Bayu Indra Sukmana; Irnamanda D.H
Dentin Vol 8, No 2 (2024)
Publisher : Universitas Lambung Mangkurat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20527/dentin.v8i2.13106

Abstract

ABSTRACTBackground: Natural disasters occur frequently in Indonesia. Gender identification is one of the important things in determining the identity of the victim. Gender can be identified based on the size of the teeth. Differences in tooth size are caused by differences in gender and race. Objective: To determine mean difference in the size of maxillary first molar teeth and mandibular caninus between males and females in Banjar tribe PSKG students. Methods This research is a analytic observational method. This study used 40 male and 40 female dental models that measured the mesiodistal and buccolingual width of the maxillary first molar and mandibular canine teeth using digital caliper. Results: The results of the normality test of normally distributed data, followed by an independent t-test, obtained a p value = 0.0001 <0.05 which shows that the hypothesis is accepted or there is a significant difference in the size of the mesiodistal and buccolingual teeth in the maxillary first molar and mandibular canine between male and female students of the Banjar tribe. Conclusion: There is a difference in the mesiodistal and buccolingual means of maxillary first molar and mandibular canine teeth between males and females in Banjar tribe PSKG students.Keywords: Sex identification, tooth size, mesiodistal, buccolingual, maxillary first molar, mandibular caninus ABSTRAKLatar Belakang : Bencana alam sering terjadi di Indonesia. Identifikasi jenis kelamin adalah salah satu hal penting dalam menentukan identitas korban. Jenis kelamin dapat diidentifikasi berdasarkan ukuran gigi geligi. Perbedaan ukuran gigi disebabkan oleh adanya perbedaan jenis kelamin dan ras. Tujuan: Untuk mengetahui perbedaan rerata ukuran gigi molar pertama maksila dan kaninus mandibula antara laki-laki dan perempuan pada mahasiswa PSKG suku Banjar. Metode: Penelitian ini merupakan metode observasional analitik. Penelitian ini menggunakan 40 model gigi laki-laki dan 40 model gigi perempuan yang diukur lebar mesiodistal dan bukolingual gigi molar pertama maksila dan kaninus mandibula menggunakan kaliper digital. Hasil: Hasil uji normalitas data berdistribusi normal, dilanjutkan dengan uji t-test independent didapatkan nilai p=0.0001<0.05 yang menunjukkan hipotesis diterima atau terdapat perbedaan signifikan ukuran gigi mesiodistal dan bukolingual pada gigi molar pertama maksila dan kaninus mandibula antara mahasiswa laki-laki dan perempuan suku Banjar. Kesimpulan: Terdapat perbedaan rerata ukuran gigi mesiodistal dan bukolingual pada gigi molar pertama maksila dan kaninus mandibula antara laki-laki dan perempuan pada mahasiswa PSKG suku Banjar. Kata kunci: Kaninus Mandibula, Bukolingual, Mesiodistal, Maksila, Jenis Kelamin, Ukuran Gigi.
UJI TOKSISITAS EKSTRAK DAUN KARAMUNTING (Rhodomyrtus tomentosa (Aiton) Hassk.) TERHADAP HATI TIKUS WISTAR Eka Dwita Natasya Fitri Siregar; Beta Widya Oktiani; Fajar Kusuma Dwi Kurniawan; Didit Aspriyanto; Ika Kusuma Wardani
Dentin Vol 8, No 2 (2024)
Publisher : Universitas Lambung Mangkurat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20527/dentin.v8i2.13117

Abstract

ABSTRACTBackground: Medicinal plants are types of plants that can ability to effectively treat illnesses. One such plant is caramunting leaves (Rhodomyrtus tomentosa (Aiton) Hassk). The substance in caramunting leaves includes an antibiotic that can counteract infections in the body. To determine the safe dosage of a drug, it is necessary to conduct toxicity tests in vivo on the liver of Wistar rats based on SGOT and SGPT levels. Objective: To analyze the toxic effects of administering caramunting leaf extract (Rhodomyrtus tomentosa (Aiton) Hassk.) in doses of 600 mg/kgBW, 1,200 mg/kgBW, and 2,400 mg/kgBW orally on rat liver based on SGOT and SPGT levels. Method: This study employed a true experimental posttest-only control group design to test the toxicity of caramunting leaf extract on SGOT and SGPT levels in the liver of Wistar rats given orally. Results: Following a 28-day experimental period on research animals, SGPT levels were observed to range from 34.9 to 218.1 U/L, while SGOT levels ranged from 56.1 to 201.9 U/L. These findings remain within the normal range, indicating that the extract does not have a toxic effect on SGPT and SGOT. Conclusion: Karamunting leaf extract at doses of 600 mg/kgBW, 1,200 mg/kgBW, and 2,400 mg/kgBW did not exhibit a toxic effect on SGPT and SGOT levels in Wistar rats.Keywords :     Karamunting, Toxicity, SGOT, SGPT, Antibiotic. ABSTRAK Latar Belakang: Tanaman obat adalah tanaman yang mempunyai khasiat menyembuhkan suatu penyakit. Tanaman yang memiliki potensi tersebut adalah daun karamunting (Rhodomyrtus tomentosa (Aiton) Hassk). Kandungan yang terdapat pada daun karamunting bersifat sebagai antibiotik yang mampu mengatasi infeksi dalam tubuh. Untuk mengetahui batas rasional suatu obat, maka diperlukan penelitian uji toksisitas secara in vivo pada hati tikus wistar berdasarkan kadar SGOT dan SGPT. Tujuan: menganalisis efek toksik pemberian ekstrak daun karamunting (Rhodomyrtus tomentosa (Aiton) Hassk.) dosis 600 mg/kgBB, 1.200 mg/kgBB, dan 2.400 mg/kgBB per oral pada hati tikus berdasarkan kadar SGOT dan SPGT. Metode: Penelitian ini menggunakan design true eksperimental dengan desain posttest-only with control design untuk menguji toksisitas ekstrak daun karamunting terhadap kadar SGOT dan SGPT pada hati tikus wistar yang diberikan secara oral. Hasil: Setelah dilakukan percobaan pada hewan penelitian selama 28 hari didapatkan kadar SGPT 34,9-218,1 U/L dan kadar SGOT 56,1–201,9 U/L. Nilai tersebut menunjukkan hasil tidak melebihi rentang normal yang mengartikan bahan penelitian tidak memiliki efek toksik pada SGPT dan SGOT. Kesimpulan: Ekstrak daun karamunting dengan dosis 600 mg/kgBB, 1.200 mg/kgBB, dan 2.400 mg/kgBB tidak memiliki efek toksik pada kadar SGPT dan SGOT tikus Wistar.Tidak terdapat efek toksik dari pemberian ekstrak daun karamunting dosis 600 mg/kgBB, 1.200 mg/kgBB, dan 2.400 mg/kgBB secara per oral terhadap kadar SGOT dan SGPT tikus Wistar. Kata kunci :  Antibiotik, Karamunting, SGOT, SGPT, Toksisitas
PERBANDINGAN POLA SIDIK BIBIR BERDASARKAN JENIS KELAMIN SEBAGAI IDENTIFIKASI ODONTOLOGI FORENSIK PADA ETNIS BANJAR Muhammad Khairul Ikhsan; Bayu Indra Sukmana; Debby Saputera; Irnamanda D.H; Huldani Huldani
Dentin Vol 8, No 2 (2024)
Publisher : Universitas Lambung Mangkurat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20527/dentin.v8i2.13107

Abstract

ABSTRACTBackground: Forensic identification for criminal investigations can utilize thebite record method. In certain cases where bite record data is unavailable, thetechnique of cheiloscopy can be employed. A forensic odontology identification method called cheiloscopy uses thelips' mucosal surface grooves and wrinkle patterns to identify individuals. Lip print patterns are distinctive and reliable evidence in criminal cases since they don't change from as early as six weeks of pregnancy until themoment of death. Purpose: Thepurpose of this study is to investigate thedifferences in lip print patterns between men and women. Methods: Theresearch methodology employed is an analytical survey with a cross-sectional design. Thestudy sample comprises 21 pairs of male and female active pre-clinical students from theclass of 2020-2022. Red lipstick was placed consistently to thevermilion border of therespondents' lips, and then printed with transparent tape. Thelip prints were analyzed by categorizing them into six quadrants using theSuzuki-Tsuchihasi classification method in order to identify thespecific lip print pattern. Results: Thechi-square test analysis revealed a statistically significant difference between thetwo groups, with a p-value below 0.05. Men had a higher prevalence of Type III lip prints, whereas women showed a higher prevalence of Type I lip prints. Conclusion: Men's and women's lip print patterns differ significantly from one another.Keywords : Lip Prints; Gender; Banjar Ethnic ABSTRAK Latar Belakang: Identifikasi forensik untuk investigasi kriminal dapat menggunakan metode catatan gigit, namun dalam kasus tertentu metode yang lain dapat digunakan jika data catatan gigit tidak tersedia ialah cheiloscopy. Cheiloscopy merupakan salah satu metode identifikasi odontologi forensik yang memerlukan media berupa pola sidik bibir yang terdapat pada mukosa bibir manusia sebagai sarana identifikasi.Pola sidik bibir dapat menjadi barang bukti dalam penanganan kasus kejahatan karena memiliki sifat yang unik dan stabil antar individu. Pola sidik bibir juga tidak dapat berubah sejak 6 minggu kehidupan seorang manusia pada masa kehamilan hingga meninggal dunia. Tujuan: Penelitian bertujuan untuk menganalisis perbandingan pola sidik bibir antara pria dan wanita. Metode Penelitian: Desain cross-sectional dan survei analitik adalah metode penelitian yang digunakan. Sebanyak 21 pasang mahasiswa preklinik aktif pria dan wanita dari preklinik angkatan tahun 2020-2022 menjadi sampel penelitian. Lipstik merah diaplikasikan secara merata pada batas vermilion bibir responden lalu dicetak dengan selotip bening dan hasil cetakan ditempelkan pada buku penelitian. Cetakan sidik bibir dianalisis dengan membagi menjadi 6 kuadran menggunakan metode klasifikasi Suzuki-Tsuchihasi untuk menentukan tipe pola sidik bibir. Hasil: Hasil analisis uji chi-square menunjukkan <0,05 sehingga terdapat perbedaan yang signifikan antara pria dengan wanita. Pola sidik bibir tipe III dominan pada pria dan tipe I pada wanita. Kesimpulan: Adanya perbedaan yang bermakna antara pola sidik bibir pria dan wanita. Kata kunci :  Etnis Banjar, Jenis Kelamin, Sidik Bibir
UJI TOKSISITAS EKSTRAK DAUN KARAMUNTING (Rhodomyrtus tomentosa (Aiton) Hassk.) TERHADAP GINJAL TIKUS WISTAR (Berdasarkan Ureum dan Kreatinin) M. Ridhotama Wibowo; Beta Widya Oktiani; Melisa Budipramana; Maharani Laillyza Apriasari; I Wayan Arya Krishnawan Firdaus
Dentin Vol 8, No 2 (2024)
Publisher : Universitas Lambung Mangkurat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20527/dentin.v8i2.13113

Abstract

ABSTRACTBackground: Karamunting leaf have been used among community as traditional medication. Karamunting leaf have many properties because they contain secondary metabolite compounds such as flavonoids, triterpenoids, phenols, saponins and tannins. Administration as medicine is usually through oral. Oral administration of karamunting leaf in high dosage is considered to damage kidney microscopically. In vivo toxicity testing can be done to determine the toxicity effects of caramunting leaf extract at doses 600, 1200, 2400 mg/kg body weight before being tested on humans. Purpose: This study was conducted to determine whether karamunting leaf extract is toxic to the kidneys of Wistar rats subchronically with the parameters ureum and creatinine. Methods: The Rhodomyrtus Tomentosa (Aiton) Hassk. leaf were extracted using 96% ethanol and then given to male Wistar strain (Rattus norvegicus) with a 600, 1200, and 2400 mg/kg/body weight two times a day for 28 days. Rat blood was taken to check the levels of urea and creatinine. Result: The kidney ureum levels of Wistar rats in all treatment groups were still normal and did not exceed the normal range of ureum (10-50 mg/dL) while creatinine levels in all treatment groups were potentially toxic because they exceeded normal limits (0.578-1.128 mg/dL). Conclusion: The parameters of ureum and creatinine levels are not toxic because both can reduce the average value of both levels although some decrease significantly and some do not.Keywords : Creatinine, Excretion, Karamunting leaf, Kidney, Toxicity, Ureum ABSTRAKLatar Belakang: Daun karamunting telah digunakan oleh masyarakat sebagai obat tradisional. Daun karamunting banyak memiliki khasiat karena memiliki kandungan senyawa metabolit sekunder seperti flavonoid, triterpenoid, fenol, saponin dan tanin. Pemberiannya sebagai obat biasanya melalui oral. Pemberian daun ini secara oral dengan dosis tinggi diduga dapat merusak ginjal secara mikroskopis. Pengujian toksisitas secara in vivo dapat dilakukan untuk mengetahui efek toksisitas ekstrak daun karamunting pada dosis 600, 1200, 2400 mg/kg BB sebelum diujikan pada manusia. Tujuan: Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui apakah ekstrak daun karamunting bersifat toksik terhadap ginjal tikus Wistar secara subkronik dengan parameter ureum dan kreatinin. Metode: Daun Rhodomyrtus Tomentosa (Aiton) Hassk. diekstraksi menggunakan etanol 96% dan kemudian diberikan pada tikus jantan galur Wistar (Rattus norvegicus) dengan dosis 600, 1200, dan 2400 mg/kg BB dua kali sehari selama 28 hari. Darah tikus diambil untuk memeriksa kadar urea dan kreatinin. Hasil: Kadar ureum ginjal tikus Wistar pada semua kelompok perlakuan masih normal dan tidak melebihi kisaran normal ureum (10-50 mg/dL), dan kadar kreatinin pada semua kelompok perlakuan juga normal karena tidak melebihi batas normal (0,578-1,128 mg/dL). Kesimpulan: Parameter kadar ureum dan kreatinin tidak toksik karena keduanya dapat menurunkan nilai rata-rata dari kedua kadar walaupun ada yang turun secara signifikan dan ada     yang tidak. Kata kunci: Ekskresi, Ekstrak Daun Karamunting, Ginjal, Kreatinin, Toksisitas, Ureum

Page 1 of 2 | Total Record : 11