cover
Contact Name
dentin
Contact Email
dentin.jtamfkg@ulm.ac.id
Phone
-
Journal Mail Official
dentin.jtamfkg@ulm.ac.id
Editorial Address
-
Location
Kota banjarmasin,
Kalimantan selatan
INDONESIA
Dentin
ISSN : 26140098     EISSN : -     DOI : -
Core Subject : Health,
Dentin [e-issn: 2614-0098] merupakan terbitan berkala ilmiah tugas akhir berbahasa Indonesia berisi artikel penelitian dan kajian literatur tentang kedokteran gigi. Kontributor Dentin adalah kalangan akademisi (dosen dan mahasiswa). Dikelola oleh Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Lambung Mangkurat dan terbit 3 (tiga) kali setahun setiap April, Agustus dan Desember.
Arjuna Subject : -
Articles 11 Documents
Search results for , issue "Vol 9, No 2 (2025)" : 11 Documents clear
EFFECTIVENESS OF DENTAL AND ORAL HEALTH PROMOTION ON IMPROVING KNOWLEDGE AND ATTITUDES OF ELEMENTARY SCHOOL CHILDREN Riska Nisaul Karimah; Rosihan Adhani; Aulia Azizah; R. Harry Dharmawan Setyawardhana; Nurdiana Dewi
Dentin Vol 9, No 2 (2025)
Publisher : Universitas Lambung Mangkurat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20527/dentin.v9i2.17739

Abstract

ABSTRACTBackground: Caries cases are very high, especially in school children. Data from Riskesdas 2018 showed that the incidence of caries in Banjarmasin was 37.62%. The high number of cases is due to lack of knowledge to maintain dental and oral hygiene. It can affect the learning and achievement of school students. Interventions to increase knowledge are needed as a solution to reduce caries cases in children. One of the educational interventions that can be given is the MOKEGI game application. Purpose: To analyze the effectiveness of health promotion using the MOKEGI educational game on the knowledge and attitudes of dental and oral health of school children. Method: The study used a quasi-experimental design with two group pre and post test. The intervention carried out was MOKEGI (Monopoly of Dental Health) which was carried out for 5 days in the control group and the intervention group. The statistical analysis used was the Wilcoxon and Mann-Whitney tests. Results: The study showed the results of the Wilcoxon attitude test, namely p-value 0.000 (pretest) and 0.248 (posttest). In addition, in the Wilcoxon attitude test, the p-value is 0.000 (pretest) and 0.384 (posttest). The results of the Mann-Whitney test showed a p-value of 0.000 (knowledge) and 0.013 (attitude). Conclusion: there is a significant difference in knowledge and attitudes about dental and oral health between before and after health promotion through the MOKEGI game application. The MOKEGI game application is effective in improving knowledge and attitudes about dental and oral health in school children.Keywords: Attitude, Knowledge, Mouth, Play, Teeth ABSTRAKLatar belakang: Kasus karies sangat tinggi terutama pada anak sekolah. Data Riskesdas 2018 didapatkan angka kejadian karies di Banjarmasin sebesar 37,62%. Tingginya kasus dikarenakan kurangnya pengetahuan untuk menjaga kebersihan gigi dan mulut. Jika hal ini terus terjadi dapat mempengaruhi pembelajaran dan prestasi siswa sekolah. Intervensi untuk meningkatkan pengetahuan sangat diperlukan sebagai solusi menurunkan kasus karies pada anak. Salah satu intervensi edukasi yang dapat diberikan adalah aplikasi permainan MOKEGI. Tujuan: Untuk menganalisis efektifitas promosi kesehatan menggunakan permainan edukasi MOKEGI terhadap pengetahuan dan sikap kesehatan gigi dan mulut anak sekolah. Metode: Penelitian menggunakan desain quasy experiment with two group pre and post test. Intervensi yang dilakukan adalah MOKEGI (Monopoli Kesehatan Gigi) yang dilakukan selama 5 hari pada kelompok kontrol dan kelompok intervensi. Analisis statistic yang digunakan adalah uji Wilcoxon dan Mann-Whitney. Hasil: Penelitian menunjukkan hasil uji Wilcoxon sikap yaitu p-value 0,000 (pretest) dan 0,248 (posttest). Selain itu, pada uji Wilcoxon sikap yaitu p-value 0,000 (pretest) dan 0,384 (posttest). Hasil uji Mann-Whitney menunjukkan p- value 0,000 (pengetahuan) dan 0,013 (sikap). Kesimpulan: terdapat perbedaan signifikan pada pengetahuan dan sikap kesehatan gigi dan mulut antara sebelum dan sesudah promosi kesehatan melalui aplikasi permainan MOKEGI. Aplikasi permainan MOKEGI efektif dalam meningkatkan pengetahuan dan sikap kesehatan gigi dan mulut pada anak sekolah. Kata kunci : Gigi, Mulut, Pengetahuan, Permainan, Sikap.
MEASUREMENT VALUE OF BANJAR ETHNIC MANDIBULAR INCISOR POSITION USING LATERAL CEPHALOMETRIC RADIOGRAPH Nor Helma Warni; Didit Aspriyanto; Agung Satria Wardhana; Isyana Erlita; Ika Kusuma Wardani
Dentin Vol 9, No 2 (2025)
Publisher : Universitas Lambung Mangkurat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20527/dentin.v9i2.17744

Abstract

ABSTRACTBackground: Appearance is one of the most important things for everyone in this modern era. Malocclusion, also known as tooth-jaw disharmony, can lead to a decline in a person's appearance. The position and inclination of the anterior teeth must be favorable to ensure maximum facial harmony. One common effort to achieve maximum facial harmony is orthodontic treatment. To support this treatment, x-rays are needed, one of which is the cephalometric technique with Steiner analysis. Purpose: This study aims to determine the measurement value of the mandibular incisor position of Banjarese students of SMAN 12 Banjarmasin from the lateral cephalometric radiograph using Steiner analysis. Method: Cephalometric measurements were carried out using the Steiner analysis method on the dental landmarks; L1-NB. Data analysis was carried out using descriptive statistical methods. The sample in this study was secondary data from previous research and took pure Banjarese students of SMAN 12 Banjarmasin, characterized by at least two generations (father, mother, grandfather, and grandmother) who had never or were not undergoing orthodontic treatment and were willing to be subjects in the study. Results: The average value of L1-NB distance measurement was 7.18±2.31 mm and the L1-NB inclination measurement was 30.22˚±6.16˚. Conclusion: The average value of mandibular incisor position in students of SMAN 12 Banjarmasin was classified as protrusion, and the average inclination was also included in the proclination group.Keywords: banjar ethnic, cephalometry, lateral cephalometry, steiner analysis ABSTRAK Latar belakang: Penampilan menjadi salah satu hal terpenting bagi setiap orang di era modern ini. Ketidakharmonisan relasi gigi dan rahang atau yang dikenal dengan maloklusi akan menyebabkan penurunan penampilan seseorang.Posisi dan kemiringan gigi anterior ini harus menguntungkan untuk memastikan keharmonisan wajah yang maksimal. Usaha yang biasa dilakukan untuk mendapatkan keharmonisan wajah yang maksimal salah satunya melakukan perawatan ortodonti.Untuk mendukung perawatan tersebut, perlu dilakukan rontgen salah satunya teknik sefalometri dengan analisis Steiner.Tujuan: Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui nilai pengukuran posisi insisif mandibula siswa SMAN 12 Banjarmasin yang berasal dari etnis Banjar ditinjau dari radiografi sefalometri lateral dengan menggunakan analisis Steiner. Metode: Pengukuran sefalometri dilakukan dengan menggunakan metode analisis Steiner pada landmark gigi; L1-NB. Analisis data dilakukan dengan metode statistik deskriptif. Sampel dalam penelitian ini merupakan data sekunder penelitian terdahulu dan mengambil siswa SMAN 12 Banjarmasin suku Banjar murni yang ditandai dengan minimal dua generasi (ayah, ibu, kakek, dan nenek) yang tidak pernah atau tidak sedang melakukan perawatan orthodonti dan telah bersedia menjadi subjek dalam penelitian. Hasil: Nilai rata-rata pengukuran jarak L1-NB sebesar 7.18±2.31 mm dan nilai pengukuran inklinasi L1-NB sebesar 30.22˚±6.16˚. Kesimpulan: Nilai rata-rata posisi insisif mandibula pada siswa SMAN 12 Banjarmasin tergolong protrusi, dan rata-rata inklinasi nya juga termasuk dalam golongan proklinasi. Kata kunci: analisis steiner, sefalometri, sefalometri lateral, suku banjar.
HUBUNGAN KESEIMBANGAN UKURAN GIGI GELIGI RAHANG ATAS DAN RAHANG BAWAH DENGAN TINGKAT KEPARAHAN MALOKLUSI Andi Qathrah Nadia Salsabila; Diana Wibowo; R. Harry Dharmawan Setyawardhana; Norlaila Sarifah; Alexander Sitepu
Dentin Vol 9, No 2 (2025)
Publisher : Universitas Lambung Mangkurat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20527/dentin.v9i2.17740

Abstract

ABSTRACTBackground: In South Kalimantan, the prevalence of oral health problems is 56.83% among those aged 15-18 years. The prevalence of malocclusion is quite high at 12%. One of the factors causing malocclusion is the imbalance in the size of the upper and lower teeth, which can be assessed using Bolton's analysis. The severity of malocclusion varies between individuals and can be measured using ICON. Purpose: To analyze the relationship between the balance of the size of the upper and lower arch teeth and the severity of malocclusion in high school students in non-urban areas of Banjarmasin. Methods: An observational analytical study with a cross-sectional approach. A total of 175 adolescents aged 15-18 years. Bolton's analysis was used to measure the balance of the size of the upper and lower arch teeth, and the ICON index was used to assess the severity of malocclusion. Results: The results show a weak relationship and a negative value, the higher the balance of the anterior tooth size ratio, the lower the severity of the malocclusion, and the results of the correlation test show a very weak relationship and a negative value, the higher the balance of the overall tooth size ratio, the lower the severity of the malocclusion. Conclusion: The balance of tooth size, anterior tooth ratio and overall ratio based on Bolton analysis in high school students/equivalent in Banjarmasin non-urban areas is mostly unbalanced and the severity of malocclusion based on the ICON index has the highest frequency, namely in the low category.Keywords: Banjarmasin Non-Urban Areas, Bolton Analysis, High school students, ICON, Malocclusion ABSTRAKLatar Belakang: Masalah kesehatan gigi dan mulut di Kalimantan Selatan memiliki prevalensi sebesar 56,83% pada usia 15-18 tahun. Masalah maloklusi cukup tinggi sebesar 12%. Salah satu faktor penyebab maloklusi adalah ketidakseimbangan ukuran gigi atas dan bawah, yang dapat dinilai menggunakan analisis Bolton. Tingkat keparahan maloklusi bervariasi antar individu dan dapat diukur dengan menggunakan ICON. Tujuan: Menganalisis hubungan antara keseimbangan ukuran gigi lengkung atas dan bawah dengan tingkat keparahan maloklusi pada siswa SMA di wilayah non perkotaan Banjarmasin. Metode: Penelitian ini bersifat observasional analitik dengan pendekatan cross sectional. Sampel yang digunakan sebanyak 175 remaja usia 15-18 tahun. Analisis Bolton digunakan untuk mengukur keseimbangan ukuran gigi lengkung atas dan bawah dan indeks ICON digunakan untuk menilai tingkat keparahan maloklusi. Hasil: Hasil uji korelasi terdapat hubungan yang lemah dan bernilai negatif, semakin tinggi keseimbangan ukuran gigi rasio anterior maka semakin rendah tingkat keparahan maloklusi, dan hasil uji korelasi terdapat hubungan yang sangat lemah dan bernilai negatif, semakin tinggi keseimbangan ukuran gigi rasio keseluruhan maka semakin rendah tingkat keparahan maloklusi. Kesimpulan: Keseimbangan ukuran gigi rasio gigi anterior dan rasio keseluruhan berdasarkan analisis Bolton pada siswa SMA/sederajat di Banjarmasin kawasan non perkotaan sebagian besar tidak seimbang dan tingkat keparahan maloklusi berdasarkan indeks ICON mempunyai frekuensi tertinggi yaitu pada kategori rendah. Kata kunci: Analisis Bolton, Banjarmasin Kawasan Non Perkotaan, ICON, Maloklusi, Pelajar SMA
UJI TOKSISITAS KAPSUL EKSTRAK IKAN TOMAN (Channa micropeltes) TERHADAP PERUBAHAN PROFIL DARAH TIKUS WISTAR Muhammad Ikhlasul Amal Sangadji; Amy Nindia Carabelly; Maharani Laillyza Apriasari; I Wayan Arya Krishnawan Firdaus
Dentin Vol 9, No 2 (2025)
Publisher : Universitas Lambung Mangkurat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20527/dentin.v9i2.17745

Abstract

ABSTACTBackground: The people of South Kalimantan traditionally use Haruan fish as an alternative medicine to accelerate wound healing. However, Haruan fish is difficult to cultivate, making Toman fish a potential alternative. Toman fish contains 5.35% albumin, whereas Haruan fish contains 4.35% albumin. Objective: To determine whether Toman fish extract capsules exert toxic effects on hematological profiles. Methods: This study consisted of three treatment groups: a group receiving Toman fish extract capsules at a dose of 0.7 grams, a positive control group receiving Haruan fish extract capsules at a dose of 0.7 grams, and a negative control group receiving only BR2 feed. The treatments were administered twice daily for 28 days. For administration, the capsule shells were opened, and 500 grams of dried extract were mixed with distilled water and given to Wistar rats using an oral gavage. After 28 days, blood samples were collected from the rats and analyzed using a Sysmax hematology analyzer. Results: The mean hemoglobin levels in the treatment, positive control, and negative control groups were 11.8 g/dl, 12.02 g/dl, and 12.12 g/dl, respectively. The mean erythrocyte counts in the treatment, positive control, and negative control groups were 6.46 million/mm³, 7.07 million/mm³, and 5.50 million/mm³, respectively. The mean leukocyte counts in the treatment, positive control, and negative control groups were 17.86 million/mm³, 13.62 million/mm³, and 9.24 million/mm³, respectively. Conclusion: Administration of Toman fish extract capsules at a dose of 0.7 grams produced negative effects on erythrocyte and leukocyte levels, while hemoglobin levels were not affected. These findings indicate that Toman fish extract capsules exhibit toxic effects on hematological profiles.Keywords: haruan fish, hematological profile, toman fish, toxicity test  ABSTRAK  Latar Belakang: Masyarakat Kalimantan Selatan menggunakan ikan Haruan sebagai obat alternatif mempercepat penyembuhan luka. Akan tetapi  ikan Haruan sulit dibudidayakan sehingga dipilih ikan Toman untuk alternatif. Ikan Toman mengandung albumin 5,35%, sedangkan ikan Haruan mengandung albumin 4,35%. Tujuan : Untuk mengetahui apakah kapsul ekstrak ikan Toman memiliki efek toksik terhadap profil hematologi. Metode : Penelitian ini meliputi tiga kelompok perlakuan yaitu pemberian kapsul ekstrak ikan Toman dosis 0,7 gram, kontrol positif berupa kapsul ekstrak ikan Haruan dosis 0,7 gram serta kontrol negatif yang hanya diberikan pakan BR2. Perlakuan dilakukan sebanyak 2 kali sehari selama 28 hari. Cara perlakuan adalah dengan membuka cangkang kapsul, kemudian ekstrak kering 500 gram ditambahkan aquades dan diberikan ke tikus Wistar menggunakan sonde lambung. Setelah 28 hari, tikus diambil sampel darah dan diuji menggunakan alat Hematology analyzer sysmax. Hasil : Rata-rata jumlah hemoglobin pada kelompok perlakuan, kelompok kontrol positif, dan kelompok kontrol negatif masing-masing adalah 11,8 g/dl, 12,02 g/dl, dan 12,12 g/dl. Rata-rata dari jumlah eritrosit pada kelompok perlakuan, kelompok kontrol positif, dan kelompok kontrol negatif masing-masing adalah 6,46 juta/mm3, 7,07 juta/mm3, dan 5,50  juta/mm3. Rata-rata dari jumlah leukosit pada kelompok perlakuan, kelompok kontrol positif, dan kelompok kontrol negatif masing-masing adalah 17,86 juta/mm3, 13,62 juta/mm3, dan 9,24 juta/mm3. Kesimpulan : Terdapat pengaruh negatif pemberian kapsul ekstrak ikan Toman dosis 0,7 gram terhadap perubahan kadar eritrosit dan leukosit, sedangkan pada hemoglobin tidak terdapat pengaruh. Hal ini menunjukkan bahwa kapsul ekstrak ikan Toman memiliki efek toksik terhadap profil darah.Kata Kunci : ikan haruan, ikan toman, uji toksisitas, profil hematologi
GAMBARAN KEJADIAN MALOKLUSI BERDASARKAN KEBIASAAN BURUK PADA PELAJAR SMA DI WILAYAH NON-PERKOTAAN BANJARMASIN Saidatun Nisa; Diana Wibowo; Riky Hamdani; Fajar Kusuma Dwi Kurniawan; Isnur Hatta
Dentin Vol 9, No 2 (2025)
Publisher : Universitas Lambung Mangkurat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20527/dentin.v9i2.17741

Abstract

ABSTRACT Background: Malocclusion is an abnormality in the growth and development of teeth that can be influenced by bad oral habits, such as mouth breathing, tongue thrusting, lip biting, thumb sucking, and bruxism. This condition is often not recognized by the individual, but can have a significant impact on oral function and aesthetics. Purpose: This study aims to describe the incidence of malocclusion based on the type of bad oral habits among high school students in non-urban Banjarmasin. Methods: This study is a descriptive study with a quantitative approach and a cross-sectional design. The sample consisted of 175 students selected using a simple random sampling technique. Data were collected through questionnaires and oral clinical examinations, then analyzed descriptively using frequency distribution and percentages. Results: The results showed that the most common bad habit found was mouth breathing (24%), and the majority of those affected were females, while bruxism was most common in males (12.00%). The most common type of malocclusion found was protrusive (25.91%), with the highest prevalence in females. There is a tendency that certain types of bad habits can lead to certain types of malocclusion. Conclusion: Malocclusions based on bad habits are still common in non-urban areas of Banjarmasin, so there is a need for increased education regarding bad habits that can cause malocclusion. Keywords: bad habits, malocclusion, students ABSTRAKLatar Belakang: Maloklusi merupakan kelainan pertumbuhan dan perkembangan gigi-geligi yang dapat dipengaruhi oleh kebiasaan buruk pada rongga mulut, seperti mouth breathing, tongue thrusting, lip biting, thumb sucking, dan bruxism. Kondisi ini sering tidak disadari oleh individu, namun dapat berdampak signifikan terhadap fungsi maupun estetika oral. Tujuan: Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui gambaran kejadian maloklusi berdasarkan jenis kebiasaan buruk pada rongga mulut di kalangan pelajar SMA/sederajat di wilayah non-perkotaan Banjarmasin. Metode: Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif dengan pendekatan kuantitatif dan desain cross-sectional. Sampel terdiri atas 175 pelajar yang dipilih menggunakan teknik simple random sampling. Data dikumpulkan melalui kuesioner dan pemeriksaan klinis rongga mulut, kemudian dianalisis secara deskriptif menggunakan distribusi frekuensi dan persentase.Hasil: Hasil menunjukkan bahwa kebiasaan buruk yang paling banyak ditemukan adalah mouth breathing (24%) dan mayoritas yang mengalami adalah perempuan, sementara bruxism paling banyak dialami oleh laki- laki (12,00%). Jenis maloklusi yang paling sering ditemukan adalah protrusif (25,91%), dengan prevalensi tertinggi pada perempuan. Terdapat kecenderungan bahwa jenis kebiasaan buruk tertentu dapat menyebabkan jenis maloklusi tertentu. Kesimpulan: Kejadian maloklusi berdasarkan kebiasan buruk masih banyak ditemukan di wilayah non- perkotaan Banjarmasin, sehingga perlu adanya peningkatan edukasi mengenai kebiasaan buruk yang dapat menyebabkan kejadian maloklusi.Kata kunci: kebiasaan buruk, maloklusi, pelajar
ANALISIS DAMPAK INDUSTRI PANDAI BESI TERHADAP KUALITAS AIR BERSIH DAN KESEHATAN MASYARAKAT DESA SUNGAI PINANG Maharani Laillyza Apriasari; Nurul Ikhsani Umar; Amy Nindia Carabelly
Dentin Vol 9, No 2 (2025)
Publisher : Universitas Lambung Mangkurat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20527/dentin.v9i2.17746

Abstract

ABSTACTBackground: River water and municipal water (PDAM) serve as primary sources of clean water for the residents of Sungai Pinang Village, Daha Selatan District, Hulu Sungai Selatan Regency, South Kalimantan Province. The presence of blacksmithing (metal forging) industries in the village has contributed to a decline in clean water quality, which in turn affects the health conditions of the local community. Objective: This study aims to analyze the impact of blacksmithing industries on clean water quality and to assess the resulting health effects on the residents of Sungai Pinang Village, Daha Selatan District, Hulu Sungai Selatan Regency. Methods: This descriptive quantitative study was conducted to illustrate the quality of clean water and the health status of the Sungai Pinang community. Research subjects were selected using purposive sampling, involving the Village Head, blacksmith industry workers, and residents knowledgeable about local health conditions and industrial activities. Data were collected through interviews, observations, and laboratory testing. The study applied the Pollution Index (IP) method, referring to the Decree of the Minister of Environment No. 115 of 2003 on Guidelines for Determining Water Quality Status. Results: Analysis using the Pollution Index (IP) method yielded a score of 4.6 for river water and 3.9 for municipal water (PDAM). Conclusion: Based on the Pollution Index (IP) calculation, both river water and municipal water (PDAM) in Sungai Pinang Village, Daha Selatan District, are categorized as Lightly Polluted.Keywords: blacksmithing industry, public health, water quality ABSTRAK  Latar Belakang: Air sungai dan air PDAM merupakan sumber air bersih yang dikonsumsi oleh masyarakat di Desa Sungai Pinang, Kecamatan Daha Selatan, Kabupaten Hulu Sungai Selatan (HSS), Provinsi Kalimantan Selatan. Keberadaan industri pandai besi yang dilakukan di desa tersebut berdampak pada penurunan kualitas air bersih sehingga berdampak pula bagi kondisi kesehatan masyarakat setempat. Tujuan: Tujuan penelitian ini ialah untuk menganalisis dampak industri pandai besi terhadap kualitas air bersih serta dampak kesehatan yang ditimbulkan dari industri pandai besi terhadap masyarakat Desa Sungai Pinang Kec. Daha Selatan Kab. Hulu Sungai Selatan. Metode: Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif kuantitatif yang bertujuan menggambarkan kualitas air bersih dan tingkat kesehatan masyarakat di Desa Sungai Pinang. Subjek penelitian ditentukan melalui teknik purposive sampling, melibatkan Kepala Desa, pekerja industri pandai besi, serta masyarakat yang memahami kondisi kesehatan dan aktivitas industri setempat. Pengumpulan data dilakukan melalui wawancara, observasi, dan uji laboratorium. Penelitian ini menggunakan Metode IP (Indeks Pencemaran) yang merujuk pada Keputusan Menteri Lingkungan Hidup No. 115 Tahun 2003 tentang Pedoman Penentuan Status Mutu Air. Hasil: Analisis data menggunakan metode IP (Indeks Pencemaran) menunjukkan skor 4,6 pada air sungai dan 3,9 pada air PDAM. Kesimpulan: Kualitas air sungai dan air PDAM di Desa Sungai Pinang Kec. Daha Selatan dikategorikan pada status Cemar Ringan berdasarkan perhitungan menggunakan Metode IP (Indeks Pencemaran). Kata kunci: industri pandai besi, kesehatan masyarakat, kualitas air
UJI EFEKTIVITAS ANTIBAKTERI EKSTRAK DAUN KALANGKALA (Litsea angulata) TERHADAP PERTUMBUHAN BAKTERI Porphyromonas gingivalis (In vitro) Nor Rahman Sugiarto; Yusrinie Wasiaturrahmah; Tri Nurrahman; Muhammad Yanuar Ichrom Nahzi; Juliyatin Putri Utami; Bayu Indra Sukmana
Dentin Vol 9, No 2 (2025)
Publisher : Universitas Lambung Mangkurat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20527/dentin.v9i2.17742

Abstract

ABSTRACTBackground: Dental and oral health has not been a major focus due to the low level of public awareness regarding the importance of maintaining dental and oral health in Indonesia. Periodontitis is a disease with a prevalence of 74.1% in Indonesia. The main cause of chronic periodontitis is the bacterium  Porphyromonas gingivalis. Chlorhexidin  0.2% is gold standard that preventing periodontitis. However Chlorhexidin  0.2% has long-term side effects such as tooth discolouration. Therefore, an alternative mouthwash that has antibacterial properties is needed. Kalangkala leaf (Litsea angulata) is known to have the potential to inhibit the growth of  Porphyromonas gingivalis bacteria. Objective: To determine the antibacterial effectiveness of kalangkala (Litsea angulata) leaf extract against  Porphyromonas gingivalis bacteria with concentrations of 6.25%, 12.5%, 25%, and 50% based on the minimum inhibitory Concentration (MIC) and minimum bactericidal Concentration(MBC). Methods: True experimental research with posttest-only with control group design. The sample consisted of 6 groups with Chlorhexidin 0.2% as positive control and distilled water as negative control with 4 samples each. Data were analysed using normality, homogeneity, Krusskall wallis, and Mann-whitney tests. Results: From the test results, there was no minimum inhibition 6.25%, 12.5%, 25%, and 50%. The testing was not pursued for MBC. Conclusion: There is no antibacterial effectiveness of kalangkala (Litsea angulata) leaf extract against Porphyromonas gingivalis.Keywords: antibacteria, leaf extract, litsea angulata,  porphyromonas gingivalis ABSTRAK Latar Belakang: Kesehatan gigi dan mulut belum menjadi fokus utama karena tingkat kesadaran masyarakat yang rendah terkait pentingnya merawat kesehatan gigi dan mulut di Indonesia Periodontitis merupakan penyakit dengan prevalensi 74,1% di Indonesia. Penyebab utama periodontitis kronis yaitu bakteri Porphyromonas gingivalis. Chlorhexidin 0,2% merupakan gold standard dalam mencegah terjadinya periodontitis, tetapi Chlorhexidin  0,2% memiliki efek samping jangka panjang seperti perubahan warna pada gigi. Untuk mencegah terjadinya efek jangka panjang tersebut perlu obat kumur alternatif yang memiliki sifat antibakteri. Daun kalangkala (Litsea angulata) diketahui memiliki potensi untuk menghambat pertumbuhan bakteri Porphyromonas gingivalis. Tujuan: Mengetahui efektivitas antibakteri ekstrak daun kalangkala (Litsea angulata) terhadap bakteri Porphyromonas gingivalis dengan konsentrasi 6,25%, 12,5%, 25%, dan 50% berdasarkan Kadar hambat minimum (KHM) dan kadar bunuh minimum (KBM) Metode: Penelitian eksperimen murni (True Experimental) dengan rancangan percobaan menggunakan posttest-only with control group design. Sampel terdiri dari 6 kelompok dengan Chlorhexidin 0,2% sebagai kontrol positif dan akuades sebagai kontrol negatif dengan pengulangan masing-masing sebanyak 4 sampel. Data dianalisis dengan uji normalitas, homogenitas, Krusskall wallis, dan uji Mann-whitney. Hasil: Hasil uji tidak terdapat KHM pada semua konsentrasi ekstrak kalangkala yaitu konsentrasi 6,25%, 12,5%, 25%, dan 50%, sehingga tidak dilanjutkan untuk pengujian KBM. Kesimpulan: Tidak terdapat efektifitas antibakteri ekstrak daun kalangkala (Litsea angulata) konsentrasi 6,25%, 12,5%, 25%, dan 50% terhadap bakteri Porphyromonas gingivalis.Kata Kunci: antibakteri, ekstrak daun, litsea angulata porphyromonas gingivalis
RADIOGRAPHY FOR FORENSIC ODONTOLOGY: A REVIEW Nabilah Shafiyyah Rahmayati
Dentin Vol 9, No 2 (2025)
Publisher : Universitas Lambung Mangkurat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20527/dentin.v9i2.17750

Abstract

ABSTRACT Background: Radiology is a branch of medicine that uses medical imaging technology to aid in the diagnosis and treatment of various diseases within the body. Radiography is a frequently performed supporting examination to help establish a diagnosis. Radiography in dentistry is divided into intraoral and extraoral. Radiographic techniques in dentistry are divided into two types: intraoral and extraoral techniques. Intraoral techniques involve examining teeth and surrounding tissues using radiography by placing a film inside the patient's oral cavity. Extraoral techniques involve radiography that is useful for viewing large areas of the skull and jaw by placing the film outside the oral cavity. The application of radiography with dentomaxillofacial imaging techniques, including 2-D periapical/panoramic radiography and 3-D imaging such as Cone-Beam CT (CBCT) and CT. This radiographic imaging can facilitate comparison between ante-mortem and post-mortem radiographic records in the individual identification process. Purpose: To report that radiography can contribute to forensic odontology Method: research design that will be used in this study is a literature review using the Preferred Reporting Items for Systematic Reviews. The literature search that will be used is the research results that have been obtained from previous researchers with the year of publication of the literature ranging from 2015-2025. Results: Articles included described role of radiography for forensic odontology Conclusion: Radiography plays a major role in the forensic odontology identification process.Keywords : forensic odontology, forensic science, radiography ABSTRAK Latar Belakang: Radiologi adalah cabang kedokteran yang menggunakan teknologi pencitraan medis untuk membantu dalam diagnosis dan pengobatan berbagai penyakit di dalam tubuh. Radiografi merupakan pemeriksaan penunjang yang sering dilakukan untuk membantu menegakkan suatu diagnosa. Radiografi pada kedokteran gigi dibagi menjadi intra oral dan ekstra oral. Teknik radiografi di kedokteran gigi terbagi menjadi dua jenis, yaitu teknik intraoral dan teknik ekstraoral. Teknik intraoral adalah pemeriksaan gigi beserta jaringan sekitarnya menggunakan radiografi dengan menempatkan film di dalam rongga mulut pasien. Teknik ekstraoral adalah pemeriksaan radiografi yang berguna untuk melihat area luas tengkorak kepala dan rahang dengan meletakkan film diluar rongga mulut. Penerapan radiografi dengan teknik pencitraan dentomaksilofasial yang meliputi radiografi periapikal/panoramik 2-D serta pencitraan 3-D seperti Cone-Beam CT (CBCT) dan CT. Pencitraan radiografi ini dapat memudahkan perbandingan antara rekam radiografis ante-mortem dan post-mortem dalam proses identifikasi individual Tujuan: Untuk melaporkan perean radiografi di odontologi forensik Metode: Desain penelitian yang akan digunakan dalam studi ini adalah tinjauan pustaka menggunakan langkah-langkah pelaporan dengan Tinjauan Sistematis. Penelusuran pustaka yang akan digunakan adalah hasil penelitian yang telah diperoleh dari peneliti sebelumnya dengan tahun publikasi pustaka berkisar antara 2015-2025. Hasil: Artikel yang disertakan menjelaskan peran Radiologi untuk tujuan odontologi forensik Kesimpulan: Radiografi berperan besar untuk proses identifikasi forensik odontologi. Kata kunci : forensik odontologi, ilmu forensic, radiologi
UJI KEBOCORAN MIKRO RESIN MODIFIED GLASS IONOMER CEMENT (RMGIC) SEBAGAI BAHAN BASIS PASKA OBTURASI SALURAN AKAR Fitri Kabeakan; Sherli Diana; Dewi Puspitasari; Agung Satria Wardhana; Norlaila Sarifah
Dentin Vol 9, No 2 (2025)
Publisher : Universitas Lambung Mangkurat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20527/dentin.v9i2.17738

Abstract

ABSTRACT Background: : Dental caries is a disease of the hard tissues of the teeth characterized by demineralization and destruction of tooth tissue. This damage begins on the tooth surface and can extend to the pulp. Root canal treatment must have a good fluid tight seal. This is achieved by using a post-root canal obturation base. This base  uses resin modified glass ionomer cement because it has good biocompatibility and setting time with dual cure. Purpose: To determine the microleakage of resin modified glass ionomer cement (RMGIC) as a post-root canal obturation base material with a base thickness of 1 mm and 2 mm. Method: This study was a pure experimental study with a post-test-only with control design. This study used 14 mandibular first premolars divided into 2 groups, namely group 1 with a base thickness of 1 mm and group 2 with a base thickness of 2 mm. Results: The average microleakage value on a 1 mm base thickness was 0.0629 and the microleakage value on a 2 mm base thickness was 0.3271. Conclution: The result of the unpaired T-test showed a significant difference in microleakage between the 1 mm base group and the 2 mm base group. The lowest microleakage was on a 1mm base and the highest microleakage was on a 2 mm base. Keywords: base, microleakage, resin modified glass ionomer cement ABSTRAKLatar belakang: Karies gigi adalah penyakit jaringan keras gigi yang ditandai demineralisasi dan kerusakan jaringan gigi. Kerusakan ini dimulai dari permukaan gigi dan dapat meluas ke arah pulpa. Perawatan saluran akar harus mempunyai fluid tight seal yang baik. Hal ini didapatkan dengan melakukan basis paska obturasi saluran akar. Basis ini menggunakan resin modified glass ionomer cement karena memiliki sifat biokompatibel yang baik dan setting time dengan dual cure.Tujuan: Mengetahui kebocoran mikro resin modified glass ionomer cement (RMGIC) sebagai bahan basis paska obturasi saluran akar dengan ketebalan basis 1 mm dan 2 mm. Metode: Penelitian ini merupakan eksperimental murni dengan rancangan post test-only with control design. Penelitian ini menggunakan 14 gigi premolar pertama rahang bawah dibagi menjadi 2 kelompok yaitu kelompok 1 dengan ketebalan basis 1 mm dan kelompok 2 dengan ketebalan basis 2 mm. Hasil:  Rata rata nilai kebocoran mikro pada basis ketebalan 1 mm adalah 0,0629 dan nilai kebocoran mikro pada basis dengan ketebalan 2 mm adalah 0,3271. Kesimpulan: Hasil uji T-test tidak berpasangan menunjukkan perbedaan kebocoran mikro yang bermakna antara kelompok basis dengan ketebalan 1mm dan kelompok basis dengan ketebalan 2 mm. Kebocoran mikro paling rendah pada basis 1mm dan kebocoran mikro paling tinggi pada basis 2 mm.Kata kunci : basis, kebocoran mikro, resin modified glass ionomer cement
PERBANDINGAN EFEKTIVITAS DENTAL HEALTH EDUCATION MEDIA BONEKA BERGIGI DAN FLIPCHART TERHADAP PENGETAHUAN KESEHATAN GIGI DAN MULUT Az Zahra Khairinisa; R. Harry Dharmawan Setyawardhana; Galuh Dwita Sari; Irnamanda D.H.; Beta Widya Oktiani
Dentin Vol 9, No 2 (2025)
Publisher : Universitas Lambung Mangkurat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20527/dentin.v9i2.17743

Abstract

ABSTRACTBackground: Based on the 2023 Indonesian Health Survey, the prevalence of dental caries in children aged 5–9 years reached 49.9%, while in South Kalimantan it was 43.9%. One of the main causes is the lack of children's knowledge about dental health. Educational interventions using appropriate media are very important to increase thatawareness. Purpose: To analyze the comparison of the effectiveness of Dental Health Education using tooth puppet media and flipchart media. Method: A quasi-experimental study with a nonequivalent pretest-posttest control group design involving 58 students aged 8–9 years at SDN Telaga Biru 1 Banjarmasin. The students were divided into two groups, each consisting of 29 students. The first group received education using flipchart media, the second group used tooth puppet media. The measurement was conducted using an 8-item questionnaire with the Guttman scale and analyzed using the Wilcoxon test and Mann- Whitney test. Result: In the flipchart group, 75.9% of students had high knowledge before the intervention and increased to 96.6% after the intervention. In the tooth puppet group, high knowledge increased from 79.3% to 100%. The Wilcoxon test showed a significant increase in knowledge in both groups. The Mann-Whitney test showed that the tooth puppet group had higher effectiveness compared to the flipchart, with a mean rank of 37.76 vs 21.24 (p = 0.000). Conclusion: Both educational media are effective in increasing students' knowledge about dental and oral health. Tooth puppet media is more recommended as the main choice in children's dental health education.Keywords: dental health education, flipchart, tooth puppet ABSTRAKLatar Belakang: Berdasarkan Survei Kesehatan Indonesia tahun 2023, prevalensi karies gigi pada anak usia 5–9 tahun mencapai 49,9%, sementara di Kalimantan Selatan sebesar 43,9%. Salah satu penyebab utamanya adalah rendahnya pengetahuan anak tentang kesehatan gigi. Intervensi edukatif menggunakan media yang sesuai sangat penting untuk meningkatkan kesadaran tersebut. Tujuan: Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis perbandingan efektivitas Dental Health Education menggunakan media boneka bergigi dan media flipchart. Metode: Penelitian ini merupakan studi kuasi-eksperimental dengan desain nonequivalent pretest-posttest control group yang melibatkan 58 siswa usia 8–9 tahun di SDN Telaga Biru 1 Banjarmasin. Siswa dibagi menjadi dua kelompok masing-masing berjumlah 29 orang. Kelompok pertama diberikan edukasi menggunakan media flipchart, sedangkan kelompok kedua menggunakan media boneka bergigi. Pengukuran dilakukan dengan kuesioner 8 item menggunakan skala Guttman, dianalisis dengan uji Wilcoxon dan uji Mann-Whitney. Hasil: Pada kelompok flipchart, 75,9% siswa memiliki pengetahuan tinggi sebelum intervensi dan meningkat menjadi 96,6% setelah intervensi. Pada kelompok boneka bergigi, pengetahuan tinggi meningkat dari 79,3% menjadi 100%. Uji Wilcoxon menunjukkan peningkatan pengetahuan yang signifikan pada kedua kelompok (p = 0,000). Uji Mann- Whitney menunjukkan bahwa kelompok boneka bergigi memiliki efektivitas yang lebih tinggi dibanding flipchart, dengan mean rank 37,76 vs 21,24 (p = 0,000). Kesimpulan: Kedua media edukasi efektif dalam meningkatkan pengetahuan siswa tentang kesehatan gigi dan mulut. Media boneka bergigi lebih direkomendasikan sebagai pilihan utama dalam edukasi kesehatan gigi anak.Kata kunci : boneka bergigi, edukasi kesehatan gigi, flipchart

Page 1 of 2 | Total Record : 11