cover
Contact Name
Fredi Setiawan
Contact Email
fredi@malahayati.ac.id
Phone
-
Journal Mail Official
jurnal.analisfarmasi@gmail.com
Editorial Address
-
Location
Kota bandar lampung,
Lampung
INDONESIA
Jurnal Analis Farmasi
ISSN : 2503233X     EISSN : 26567598     DOI : -
Core Subject : Health,
Berisikan berbagai kara ilmiah kefarmasian obat dan makanan, mulai terbit tahun 2016, terbit 4 kali setahun.
Arjuna Subject : -
Articles 228 Documents
Pengaruh Lama Penyimpanan Kapsul Kloramfenikol Yang Diperoleh Dari Puskesmas Kabupaten Pringsewu Terhadap Kadar Menggunakan Metode Nitrimetri Octonariz, Vito Zhafran; Purnama, Robby Candra
Jurnal Analis Farmasi Vol 9, No 2 (2024): JURNAL ANALIS FARMASI
Publisher : Program Studi Analisis Farmasi dan Makanan Universitas Malahayati

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/jaf.v9i2.17568

Abstract

Kloramfenikol merupakan antibiotik yang mempunyai spektrum luas terutama terhadap bakteri Gram positif dan Gram negatif. Kloramfenikol dipilih untuk mengobati penyakit demam tipus, paratifus, pneumonia, batuk kering, infeksi saluran kemih, infeksi berat yang disebabkan salmonella spp, Haemophilus influenza, Gram negatif yang menyebabkan bakterimia meningitis atau infeksi berat lainnya. Sampel diambil dari puskesmas yang ada di Kabupaten Pringsewu secara random sampling untuk mengetahui seberapa besar pengaruh lama penyimpanan kloramfenikol sediaan kapsul terhadap penurunan kadar. Metode penetapan kadar sampel yang digunakan adalah nitrimetri. Nitrimetri adalah reaksi diazotasi terbentuknya garam diazonium oleh reaksi senyawa amina primer aromatis atau alifatik dengan asam nitrit dalam lingkungan asam HCl, pada suhu rendah atau didinginkan. Dari hasil analisis kualitatif, semua sampel positif mengandung kloramfenikol. Sedangkan hasil analisis kuantitatif dengan lama penyimpanan 7 hari sampai 110 hari, sampel mengalami penurunan kadar, tetapi masih sesuai dengan standar Farmakope Indonesia Edisi III yaitu, tidak kurang dari 92,5% dan tidak lebih dari 107,5% dari jumlah yang tertera pada etiket. Berdasarkan hasil yang diperoleh, dapat disimpulkan lama penyimpanan kapsul kloramfenikol dapat mempengaruhi kadar kloramfenikol.
EFEKTIVITAS ANTIBAKTERI FORMULA SEDIAAN SABUN CAIR CUCI TANGAN EKSTRAK BUAH JERUK NIPIS TERHADAP Escherichia coli WATTIHELUW, MUHAMMAD HASAN; Amalia, Nadya
Jurnal Analis Farmasi Vol 9, No 2 (2024): JURNAL ANALIS FARMASI
Publisher : Program Studi Analisis Farmasi dan Makanan Universitas Malahayati

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/jaf.v9i2.14244

Abstract

Jeruk nipis (Citrus aurantifolia) merupakan bahan alam yang memiliki potensi dapat menghambat pertumbuhan bakteri. Mencuci dengan sabun cuci tangan cair akan lebih efektif untuk membunuh kuman karena sediaan sabun dalam bentuk cair memiliki sifat unggul seperti lebih ekonomis, higienis, mudah diproduksi, dan mengandung banyak busa. Pengujian sabun cair cuci tangan diharapkan sesuai SNI 2588:2017 pengujian yang dilakukan meliputi ph, bobot jenis, total bahan aktif, bahan yang tidak larut etanol, alkali bebas, asam lemak bebas, serta pengujian daya hambat terhadap bakteri Escherichia coli. Hasil penelitian formula sediaan sabun cair cuci tangan dari ekstrak Buah jeruk nipis menunjukkan rentan nilai pH 6,75-9,47, bobot jenis 0,980-1,042, bahan yang tidak larut etanol 0,992% – 1,181%, alkali bebas 1,323% – 2,978%, Asam lemak bebas 0,38-10,59%. Uji organoleptik menunjukkan semua formula memenuhi SNI. Pengujian mikrobiologi didapatkan zona hambat kategori cukup sampai kuat terhadap bakteri Escherichia coli. Kesimpulan formula sediaan sabun cair cuci tangan ekstrak buah jeruk nipis memiliki efektifitas terhadap bakteri Escherichia coli
Gambaran Pemberian Infusa Daun Sungkai (Peronema Canescens Jack) Terhadap Kadar CRP (C-Reactive Protein) Pada Mencit (Mus Musculus) Yang Diinduksi Ovalbumin Kirana, Kintan Candra; Sukarya, I Gede Andhika; Yusran, Dini Indriaty
Jurnal Analis Farmasi Vol 9, No 2 (2024): JURNAL ANALIS FARMASI
Publisher : Program Studi Analisis Farmasi dan Makanan Universitas Malahayati

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/jaf.v9i2.11592

Abstract

Alergi adalah reaksi hipersensitivitas yang diawali oleh mekanisme imunologis, yaitu akibat induksi oleh IgE yang spesifik terhadap alergen tertentu dan berikatan dengan sel mast. Reaksi alergi dapat menyebabkan inflamasi yang akan mempengaruhi aktivitas hati. Adanya respon inflamasi tersebut menyebabkan kadar CRP pada tubuh akan meningkat secara signifikan. Daun Sungkai memiliki kandungan senyawa bioaktif berupa alkaloid, flavonoid, saponin, dan tanin. Senyawa flavonoid pada Daun Sungkai memiliki aktivitas analgesik, anti-inflamasi, dan antipiretik. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui gambaran pemberian infusan Daun Sungkai terhadap Kadar CRP pada Mencit yang diinduksi ovalbumin. Jenis penelitian yang digunakan adalah True Experiment Research. Penelitian ini menggunakan 27 ekor mencit yang dibagi menjadi 3 kelompok yaitu kelompok ovalbumin, daun sungkai, dan kontrol. Analisis data yang digunakan adalah analisis univariat yang dilihat dari tabulasi data hasil pemeriksaan kadar CRP yang disajikan dalam bentuk grafik pada 3 kelompok mencit hari ke-8 dan ke-14. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kelompok yang diinduksi ovalbumin mengalami kenaikan kadar CRP pada hari ke-8. Pada kelompok ovalbumin mengalami kenaikan kadar CRP sebesar 170,66 mg/L dan pada kelompok Daun Sungkai terdapat respon penurunan kadar CRP pada hari ke-14 sebesar 85,33 mg/L jika dibandingkan dengan kelompok ovalbumin.
Gambaran Kadar Alkali Phospatase Pada Petani Kelapa Sawit Yang Menggunakan Pestisida Sulistiawati, Retri Yaumil; Aina, Ganea Qorry; Kusumawati, Nursalinda
Jurnal Analis Farmasi Vol 9, No 2 (2024): JURNAL ANALIS FARMASI
Publisher : Program Studi Analisis Farmasi dan Makanan Universitas Malahayati

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/jaf.v9i2.11580

Abstract

Pestisida merupakan golongan bahan kimia yang umum digunakan petani untuk membasmi hama dan gulma atau tanaman penganggu. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui gambaran kadar alkali phosphatase pada petani kelapa sawit yang menggunakan pestisida Populasi dalam penelitian ini adalah semua petani kelapa sawit di Kebun Pribadi Kelapa Sawit Milik Tn. D dan Kebun Milik Tn. H di Desa Kedang Ipil Kalimantan Timur sejumlah 20 petani. Penelitian ini dilakukan di Laboratorium Klinik Kumala Samarinda. Hasil penelitian dengan jumlah 20 responden memiliki kadar alkali phospatase normal 16 responden responden (80%) dan sisanya memilki kadar alkali phosphatase abnormal 4 responden (20%). Peningkatan aktivitas enzim alkali phosphatase tidak spesifik akibat kerusakan hati karena enzim ini juga di produksi di sel-sel lain dengan demikian mendiagnosa gangguan pada hati tidak dapat dilihat dari satu parameter pemeriksaan saja tetapi perlu dilakukan pemeriksaan lainnya seperti alanin transaminase (ALT), aspartate aminotransferase (AST), gamma glutamyl transferase (GGT) atau bilirubin.
Identifikasi Senyawa Aktif dan Aktivitas Antibakteri Ekstrak Daun Ketapang (Terminalia catappa L) terhadap Bakteri Staphylococcus aureus Kausar, Radho Al; Wulandari, Shinta
Jurnal Analis Farmasi Vol 10, No 1 (2025): JURNAL ANALIS FARMASI
Publisher : Program Studi Analisis Farmasi dan Makanan Universitas Malahayati

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/jaf.v10i1.20242

Abstract

Tanamana ketapang (Terminalia catappa L.) adalah jenis tanaman yang sangat mudah dibudidayakan dan dapat ditemukan hampir di sebagian besar wilayah Indonesia. Tumbuhan ketapang (Terminalia catappa L) dapat digunakan sebagai obat dalam untuk masalah pencernaan dan pernapasan serta sebagai obat luar untuk keseleo, sakit pinggang, kudis, dan gatal-gatal. Dikenal sebagai Terminalia catappa L, daun ketapang mengandung sejumlah senyawa kimia, termasuk flavonid, alkaloid, tanin, tetpenoid, steroid, resin, saponin, kuinon, dan fenolik. Diketahui bahwa tanin dan flavonoid daun ketapang bersifat antibakteri. Studi ini bertujuan untuk mengetahui metabolit sekunder yang terkandung dalam ekstrak daun ketapang (Terminalia catappa L) dan kemampuan untuk menghancurkan bakteri Staphylococcus aureus. Pada penelitian ini, pelarut etanol 96% dimaserasi dan kemudian dievaporasi untuk menghasilkan ekstrak kentalnya. Daerah jernih di sekitar kertas cakram yang digunakan media Nutrien Agar (NA) menunjukkan uji hambat. Ekstrak daun ketapang dengan kosentrasi 25%, 50%, 75%, 100%. Kontrol positif menggunakan tetrasiklin dan kontrol negatif menggunakan aquades. Zona hambat pada ekstrak daun ketapang konsentrasi 25% terdapat 18,47 mm, 50% terdapat 19,10 mm, 75% sebesar 20,77 mm, 100% sebesar 22,07 mm, pada kontrol positif di dapatkan 27,00 mm, dan kontrol negatif 0.
ANALISIS KADAR VITAMIN C PADA PETAI (Parkia speciosa Hassk) YANG DIBUDIDAYAKAN DI DESA GAYAM KECAMATAN KALIANDA KABUPATEN LAMPUNG SELATAN SECARA IODIMETRI Octonariz, Vito Zhafran; Purnama, Robby Candra
Jurnal Analis Farmasi Vol 10, No 1 (2025): JURNAL ANALIS FARMASI
Publisher : Program Studi Analisis Farmasi dan Makanan Universitas Malahayati

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/jaf.v10i1.20482

Abstract

Vitamin C merupakan salah satu zat gizi yang berperan sebagai antioksidan dan efektif mengatasi radikal bebas yang dapat merusak sel atau jaringan tubuh. Sumber vitamin C umumnya terdapat pada pangan yaitu sayuran dan buah-buahan segar. Beberapa pustaka mengatakan bahwa petai segar mengandung vitamin C dan dapat dijadikan pangan untuk memenuhi asupan vitamin C tubuh. Analisis Kadar Vitamin C pada petai (Parkia speciosa Hassk) yang dibudidayakan di Desa Gayam Kecamatan Kalianda Kabupaten Lampung Selatan secara Iodimetri. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kadar vitamin C pada sampel petai gajah dan petai kacang. Metode yang digunakan yaitu metode Iodimetri yang disebut juga titrasi langsung dimana zat uji langsung dititrasi dengan larutan iodium standar dan larutan amilum sebagai indikatornya. Hasil analisis kadar vitamin C pada sampel petai gajah dan petai kacang secara berturut-turut yaitu sebesar 40,05 dan 37,25 mg/100 g. Dari hasil analisis kadar tersebut diperoleh nilai uji presisi yang sudah memenuhi syarat keberterimaan dengan nilai koefisien variasi (KV) untuk sampel petai gajah dan petai kacang secara berturut-turut yaitu sebesar 1,76% dan 1,80%. Berdasarkan analisis tersebut petai mengandung vitamin C yang cukup tinggi dan petai dapat dijadikan salah satu pangan untuk memenuhi asupan vitamin C pada tubuh.
EFEKTIFITAS SEDIAAN HAIR TONIC EKSTRAK ETANOL KULIT PISANG AMBON (Musa paradisiaca L.) TERHADAP PERTUMBUHAN RAMBUT Susanti, Rostina Widia; Nofita, Nofita; Saputri, Gusti Ayu Rai
Jurnal Analis Farmasi Vol 10, No 1 (2025): JURNAL ANALIS FARMASI
Publisher : Program Studi Analisis Farmasi dan Makanan Universitas Malahayati

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/jaf.v10i1.20340

Abstract

Abstract: Hair loss can be treated with regular hair care using cosmetic products such as hair tonic. Hair tonics in circulation contain synthetic ingredients which, if used excessively, cause side effects. Ambon banana peel (Musa paradisiaca L.) has the potential to overcome hair loss because it contains antioxidant compounds, namely flavonoids, alkaloids, tannins, phenols and alkaloids which are scientifically effective in hair growth. The aim of this research is to make a hair tonic preparation containing Ambon banana peel extract, and to carry out a physical evaluation of the hair tonic preparation and test its effectiveness for the best hair growth. This research uses the maceration method in the process of making Ambon banana peel extract with 96% ethanol solvent as well as statistical analysis of the Repeated Measure Anova parametric test and the non-parametric Friedman test. Hair tonic is made with extract concentrations of 2% (F1), 4% (F2), and 8% (F3). Secondary metabolite compounds contained in Ambon banana peel extract (Musa paradisiaca L.) contain flavonoids, tannins, phenols and alkaloids. The three hair tonic preparations of Ambon banana peel extract (Musa paradisiaca L.) met good physical preparation evaluations including homogeneous preparations, pH, specific gravity and viscosity in accordance with SNI 16-4955-1998. All formulations have hair growth with a sig value of 0.000, (<0.05) which means there is a significant difference between groups. F3 has the best hair growth activity but is still significantly different from (K+) with an average hair length of 4.18 ± 4.0958 and a sig value of 0.000, (<0.05). After conducting research to test the effectiveness of hair tonic preparations, the ethanol extract of Ambon banana peel has an influence on hair growth.Keywords: Hair tonic, Ambon banana peel (Musa paradisiaca L.), Hair growth.Abstrak: Rambut rontok dapat diatasi dengan perawatan rambut secara teratur menggunakan produk kosmetik seperti hair tonic. Hair tonic yang beredar mengandung bahan-bahan sintesis yang kalau digunakan berlebihan menimbulkan efek samping. Kulit pisang ambon (Musa paradisiaca L.) berpotensi mengatasi kerontokan rambut karena mengandung senyawa antioksidan yaitu flavonoid, alkaloid, tanin, fenol dan alkaloid secara ilmiah memiliki efektifitas dalam pertumbuhan rambut. Tujuan penelitian ini adalah membuat sediaan hair tonic yang mengandung ekstrak kulit pisang ambon, dan melakukan evaluasi fisik sediaan hair tonic serta menguji efektifitas terhadap pertumbuhan rambut yang terbaik. Penelitian ini menggunakan metode maserasi pada proses pembuatan ekstrak kulit pisang ambon dengan pelarut etanol 96% serta analisis statistik uji parametrik Repeated Measure Anova dan uji non parametrik friedman. Hair tonic dibuat dengan konsentrasi ekstrak 2% (F1), 4% (F2), dan 8% (F3). Senyawa metabolit sekunder yang terkandung dalam ekstrak kulit pisang ambon (Musa paradisiaca L.) mengandung senyawa flavonoid, tanin, fenol, dan alkaloid. Ketiga sediaan hair tonic ekstrak kulit pisang ambon (Musa paradisiaca L.) memenuhi evaluasi sediaan fisik yang baik meliputi sediaan homogen, pH, bobot jenis, dan viskositas yang sesuai dengan SNI 16-4955-1998. Semua formulasi memiliki pertumbuhan rambut dengan nilai sig 0,000, (<0,05) yang berarti terdapat perbedaan yang signifikan antar kelompok. F3 memiliki aktivitas pertumbuhan rambut yang paling baik namun masih berbeda signifikan dengan (K+) dengan rata-rata panjang rambut 4,18 ± 4,0958 dan nilai sig 0,000, (<0,05). Setelah melakukan penelitian uji efektifitas sediaan hair tonic ekstrak etanol kulit pisang ambon memiliki pengaruh dalam pertumbuhan rambut.Kata kunci: Hair tonic, Kulit pisang ambon (Musa paradisiaca L.), Pertumbuhan rambut.
Uji Daya Hambat Formulasi Facial Wash Ekstrak Daun Pegagan (Centella asiatica (L) Urb) Sebagai Anti Jerawat Terhadap Bakteri Propionibacterium acne Dengan Metode Difusi Sumuran Feladita, Niken; Purnama, Robby Candra; Miharia, Rima Sari
Jurnal Analis Farmasi Vol 10, No 1 (2025): JURNAL ANALIS FARMASI
Publisher : Program Studi Analisis Farmasi dan Makanan Universitas Malahayati

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/jaf.v10i1.20475

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk menentukan efektivitas sediaan facial wash dengan bahan aktif ekstrak daun pegagan (Centella asiatica) sebagai antijerawat terhadap bakteri propionibacterium acnes. Ekstrak yang diperoleh dengan cara maserasi menggunakan pelarut etanol 96% dibuat dalam 3 seri konsentrasi 5%, 10% dan 15% dibuat kedalam sediaan facial wash dengan formula yang sama kemudian diujikan pada bakteri propionibacterium acne dengan menggunakan metode difusi sumuran. facial wash dengan bahan aktif ekstrak daun pegagan dinyatakan memenuhi syarat sediaan facial wash yang baik, setelah dilakukan beberapa parameter pengujian evaluasi sediaan facial wash. Dari hasil yang diperoleh dapat disimpulkan nilai Konsentrasi hambat minimum (KHM) ekstrak daun pegagan (Centella asiatica) yang dibuat dalam sediaan facial wash diperoleh pada konsentrasi 5% terhadap bakteri propionibacterium acne dengan diameter hambat 23,2866 mm.
Perbedaan Kadar Flavonoid Total Jus dan Infused Water Apel Hijau (Malus Sylvestris (L) Mill) dengan Metode Spektrofotometri UV-Vis Fadhila, Hanindya; Dhurhania, Crescentiana Emy
Jurnal Analis Farmasi Vol 10, No 1 (2025): JURNAL ANALIS FARMASI
Publisher : Program Studi Analisis Farmasi dan Makanan Universitas Malahayati

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/jaf.v10i1.15384

Abstract

Apel hijau (Malus sylvestris (L) Mill) mempunyai banyak antioksidan. Sistem yang dilindungi dari proses atau reaksi oksidasi dengan berbagai jenis bahan kimia yang dikenal sebagai antioksidan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kadar flavonoid total jus dan infused water apel hijau dengan menggunakan metode spektrofotometri UV-Vis. Analisis kualitatif dilakukan dengan HCl pekat ditambahkan logam Mg, NaOH 10% dan H₂SO₄ pekat dengan hasil yang didapatkan positif flavonoid. Analisis kuantitatif dilakukan dengan spektrofotometer UV-Vis pada operating time menit ke-30 dengan panjang gelombang maksimum 428 nm. Hasil kadar flavonoid jus buah apel hijau diperoleh 1,0442 mg QE/100 ml dan infused water buah apel hijau 0,4703 mg QE/100 ml. Hasil nilai signifikansi 0,000 < 0,05 maka terdapat perbedaan yang signifikan terhadap kadar flavonoid total jus dan infused water buah apel hijau.
UJI HEDONIK DAN PENETAPAN KADAR PROTEIN MINUMAN FUNGSIONAL TEPUNG DAUN KELOR, KACANG HIJAU, DAN PISANG MENGGUNAKAN METODE KJEDAHL Saputra, Diki; Winahyu, Diah Astika; Nusantari, Candra Saka
Jurnal Analis Farmasi Vol 10, No 1 (2025): JURNAL ANALIS FARMASI
Publisher : Program Studi Analisis Farmasi dan Makanan Universitas Malahayati

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/jaf.v10i1.20411

Abstract

Minuman fungsional merupakan minuman yang apabila dikonsumsi dapat memberikan pengaruh positif terhadap kesehatan tubuh sebab mengandung unsur-unsur zat gizi atau non zat gizi. Protein adalah nutrisi yang berperan besar dalam menyusun hampir semua sel tubuh, termasuk tulang, otot, paru-paru, rambut, hingga kulit. Kelor, kacang hijau dan pisang diketahui mengandung protein. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui uji hedonik dan penetapan kadar protein pada minuman fungsional tepung daun kelor (Moringa oleifera), kacang hijau (Vigna radiata) dan pisang (Musa paradisiaca). Penelitian ini dilakukan dengan membuat minuman fungsional tepung daun kelor, kacang hijau dan pisang pada F1, F2 dan F3. Minuman fungsional dilakukan uji organoleptik, uji hedonik dan uji penetapan kadar protein menggunakan Metode Kjeldahl. Dari penelitian yang telah dilakukan, hasil uji organoleptik pada warna F1, F2 dan F3 hijau sage. Rasa pada F1, F2 dan F3 perpaduan dau kelor, kacang hijau dan pisang. Aroma pada F1, F2 dan F3 yaitu aroma kelor. Tekstur pada F1, F2 dan F3 memiliki tekstur yang lembut. Hasil uji hedonik pada minuman fungsional tepung daun kelor, kacang hijau dan pisang bahwa F2 lebih banyak disukai panelis. Hasil uji penetapan kadar protein pada minuman fungsional tepung daun kelor, kacang hijau dan pisang memiliki nilai rata-rata pada F1 F2 dan F3 secara berturut-turut adalah 4,37%;  6,32%; dan 7,67%. Hasil penelitian ini yaitu Ho dapat diterima karena minuman fungsional tepung daun kelor, kacang hijau dan pisang mengandung protein.