cover
Contact Name
Okta Hadi Nurcahyono
Contact Email
okta.hadi@staff.uns.ac.id
Phone
-
Journal Mail Official
habitus@mail.uns.ac.id
Editorial Address
Pendidikan Sosiologi Antropologi Gedung C FKIP UNS. Jl Ir Sutami No.36A, Surakarta
Location
Kota surakarta,
Jawa tengah
INDONESIA
Habitus: Jurnal Pendidikan Sosiologi dan Antropologi
ISSN : -     EISSN : 25979264     DOI : https://doi.org/10.20961/habitus.v3i2.35716
Core Subject : Education, Social,
Habitus Journal is published by the Sociology-Anthropology Education Study Program, FKIP, Sebelas Maret University (UNS). Published twice a year ie 1st Edition: January-June and 2nd edition: July-December. The Habitus Journal focuses on theoretical studies and analysis of research results in the fields of education, social and culture.
Arjuna Subject : -
Articles 106 Documents
ADOK DALAM STATUS SOSIAL MASYARAKAT LAMPUNG PEPADUN DI DESA SUKARAJA NUBAN Maya Sari; Karsiwan karsiwan
Habitus : Jurnal Pendidikan, Sosiologi, dan Antropologi Vol 8, No 2 (2024): Habitus: Jurnal Pendidikan, Sosiologi, dan Antropologi
Publisher : Program Studi Pendidikan Soiologi Antropologi, FKIP-UNS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20961/habitus.v8i2.85358

Abstract

Begawi is a traditional ceremony for taking the highest title in the Lampung Pepadun tradition which has been carried out from time to time by the community to include cultural values. The aim of this research is to find out how to get adok in the traditional Lampung pepadun begawi in Sukaraja Nuban Village, Batanghari Nuban District, East Lampung Regency which is in the highland and inland areas of Lampung including the Abung, Way Kanan, Way Seputih (Pubian) areas. is ulun (person). Lampung Sukaraja Nuban people still adhere to their local wisdom, one of which is the ritual of giving traditional titles during or after marriage. This article aims to explain the process of giving traditional titles to the Lampung Saibatin people and find out how giving traditional titles affects the social status of the Lampung Saibatin people. With qualitative research methods, this research uses symbolic interactionism theory as an analytical study. The results of the research explain that the procession of awarding degrees goes through several processes, including paying traditional money such as lighting fees, kissing fees, and kibau. The meaning of giving traditional titles includes respect and social status in traditional ceremonies, regulation of relationships in kinship, symbols of maturity, as well as mechanisms for preserving culture carried out from generation to generation. The implications of traditional titles for social status include roles, social recognition in the community, and as social control.Keywords: adok, begawi, dan  social status AbstractBegawi merupakan sebuah upacara adat dalam pengambilan gelar tertinggi di adat lampung pepadun yang telah dilaksanakan dari zaman ke zaman oleh masyarakat dalam mencantumkan nilai-nilai kebudayaan. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui bagaimana cara mendapatkan adok dalam begawi adat lampung pepadun di Desa sukaraja nuban, Kecamatan Batanghari Nuban, Kabupaten Lampung Timur yang berada di daerah dataran tinggi dan pedalaman Lampung meliputi daerah Abung, Way Kanan, Way Seputih (Pubian) Mayoritas masyarakatnya adalah ulun (orang). Lampung Masyarakat Sukaraja Nuban masih berpegang teguh pada kearifan lokalnya, salah satunya adalah ritual pemberian gelar adat saat atau setelah perkawinan.Tulisan ini bertujuan untuk menjelaskan proses pemberian gelar adat pada masyarakat Lampung Saibatin dan mengetahui pemberian gelar adat terhadap status sosial masyarakat Lampung Saibatin. Dengan metode penelitian kualitatif, penelitian ini menggunakan teori interaksionisme simbolik sebagai kajian analisis. Hasil penelitian menjelaskan bahwa prosesi pemberian gelar melalui beberapa proses diantaranya membayar uang adat seperti dau penerangan, dau pengecupan, serta kibau. Makna dari pemberian gelar adat meliputi, penghormatan dan status sosial dalam upacara adat, pengaturan relasi dalam kekerabatan, simbol kedewasaan, serta mekanisme pelestarian budaya yang dilakukan secara turun temurun. Implikasi gelar adat terhadap status sosial meliputi, peran, pengakuan sosial dalam komunitas, dan sebagai kontrol social.Kata Kunci: adok, begawi, dan status sosial
MENANGANAI MESTRUASI: ANTARA PENGETAHAUN, PENDIDIKAN, DAN PERILAKU KESEHATAN Chusna Cahya Marhaeni; Shilvi Khusna Dilla Agatta
Habitus : Jurnal Pendidikan, Sosiologi, dan Antropologi Vol 8, No 2 (2024): Habitus: Jurnal Pendidikan, Sosiologi, dan Antropologi
Publisher : Program Studi Pendidikan Soiologi Antropologi, FKIP-UNS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20961/habitus.v8i2.94931

Abstract

Many different elements can influence how an individual acts when it comes to seeking health care. An individual's level of health knowledge is still a significant concern in this topic. This pertains to how knowledge can help reduce misconceptions or negative perceptions while providing information about the importance of healthcare. This research focuses on the reproductive health-seeking behavior of women. Where a lack of knowledge about reproductive health can be a barrier for individuals to obtain accurate information and proper care. The study seeks to answer questions about female students' knowledge of reproductive health and how their health-seeking behavior is related to this issue. Involving diverse master's students with various socio-cultural backgrounds, the study is expected to provide a deeper understanding of knowledge and reproductive health behavior and its correlation with their education. This study conducted over approximately 4 weeks, the research utilizes various data sources such as participant observation, in-depth interviews, and literature studies supporting field findings. The study reveals the complexity of the relationship between knowledge, education, and reproductive health-seeking behaviour, especially concerning menstruation. The lack of knowledge impacts the attitudes and behaviours of informants related to menstruation. However, even when knowledge exists, it does not always reflect optimal reproductive health-seeking behavior. That’s why thus knowledge and education are considered the initial foundation of health-seeking behaviour but do not always determine decisions related to reproductive health.Keywords: reproductive health, menstruation, sex education, health-seeking behavior  ABSTRAK Banyak elemen yang berbeda dapat mempengaruhi bagaimana seseorang bertindak dalam mencari perawatan kesehatan. Tingkat pengetahuan kesehatan seseorang masih menjadi perhatian penting dalam topik ini. Hal ini berkaitan dengan bagaimana pengetahuan dapat membantu mengurangi miskonsepsi atau persepsi negatif sambil memberikan informasi tentang pentingnya perawatan kesehatan. Penelitian ini berfokus pada perilaku pencarian kesehatan reproduksi perempuan. Dimana kurangnya pengetahuan tentang kesehatan reproduksi dapat menjadi penghalang bagi individu untuk mendapatkan informasi yang akurat dan perawatan yang tepat. Penelitian ini berusaha menjawab pertanyaan tentang pengetahuan mahasiswa perempuan tentang kesehatan reproduksi dan bagaimana perilaku pencarian kesehatan mereka terkait dengan masalah ini. Melibatkan beragam mahasiswi dengan berbagai latar belakang sosial budaya, penelitian ini diharapkan dapat memberikan pemahaman yang lebih mendalam mengenai pengetahuan dan perilaku kesehatan reproduksi serta korelasinya dengan pendidikan mereka. Penelitian yang dilakukan selama kurang lebih 4 minggu ini menggunakan berbagai sumber data seperti observasi partisipan, wawancara mendalam, dan studi literatur yang mendukung temuan di lapangan. Penelitian ini mengungkap kompleksitas hubungan antara pengetahuan, pendidikan, dan perilaku pencarian kesehatan reproduksi, khususnya terkait menstruasi. Minimnya pengetahuan berdampak pada sikap dan perilaku informan terkait menstruasi. Namun, bahkan ketika pengetahuan ada, tidak selalu mencerminkan perilaku pencarian kesehatan reproduksi yang optimal. Oleh karena itu, pengetahuan dan pendidikan dianggap sebagai fondasi awal dari perilaku pencarian kesehatan, namun tidak selalu menentukan keputusan terkait kesehatan reproduksi. Kata Kunci: kesehatan reproduksi, menstruasi, sex education, pencarian kesehatan
VIRTUAL SOCIETY: A NEW SPACE FOR SOCIAL IDENTITY FORMATION OR A FIELD OF ALIENATION? Rahma Hayati Harahap; Romasta Romasta
Habitus : Jurnal Pendidikan, Sosiologi, dan Antropologi Vol 9, No 2 (2025): Habitus: Jurnal Pendidikan, Sosiologi, dan Antropologi
Publisher : Program Studi Pendidikan Soiologi Antropologi, FKIP-UNS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20961/habitus.v9i2.110101

Abstract

The emergence of virtual society has created a new space for the formation of social identity that is fluid and performative. This study aims to analyze whether the online sphere provides freedom for identity expression or, conversely, fosters social alienation. Using a descriptive qualitative approach, this paper employs Erving Goffman's dramaturgical theory, Anthony Giddens’ concept of the reflexive self, and Karl Marx’s theory of alienation as its analytical framework. The findings reveal that identity in virtual society is shaped through continuous self-image negotiation, which can lead to a gap between the ideal self and the real self. The online space may serve as a platform for self-expression, yet it also has the potential to reinforce feelings of alienation, particularly when digital interactions replace genuine social closeness. This study highlights the importance of critical awareness in navigating the dynamics of identity formation in contemporary digital society. Keywords: Social identity, virtual society, dramaturgy, digital alienation, reflectivitas ABSTRAK Kemunculan masyarakat virtual telah membuka ruang baru bagi pembentukan identitas sosial yang bersifat cair dan performatif. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis apakah ruang daring memberi kebebasan ekspresi identitas atau justru menciptakan keterasingan sosial. Dengan pendekatan kualitatif deskriptif, tulisan ini menggunakan teori dramaturgi Erving Goffman, konsep “reflexive self” dari Anthony Giddens, dan teori alienasi Karl Marx sebagai kerangka analisis. Temuan menunjukkan bahwa identitas di masyarakat virtual dibentuk melalui proses negosiasi citra diri yang terus-menerus, namun berpotensi menimbulkan jarak antara diri ideal dan diri nyata. Ruang daring dapat menjadi wadah ekspresi, tetapi juga medan yang memperkuat perasaan keterasingan, terutama ketika interaksi digital menggantikan kedekatan sosial yang autentik. Penelitian ini menyoroti pentingnya kesadaran kritis terhadap dinamika pembentukan identitas dalam masyarakat digital kontemporer. Kata Kunci: Identitas sosial, masyarakat virtual, dramaturgi, alienasi digital, reflektivitas 
RELEVANSI PENDIDIKAN MORAL MENURUT EMILE DURKHEIM DENGAN PENDIDIKAN ILMU PENGETAHUAN SOSIAL DI TINGKAT SMP/MTS Anizar Anizar
Habitus : Jurnal Pendidikan, Sosiologi, dan Antropologi Vol 8, No 1 (2024): Habitus: Jurnal Pendidikan, Sosiologi, dan Antropologi
Publisher : Program Studi Pendidikan Soiologi Antropologi, FKIP-UNS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20961/habitus.v8i1.80169

Abstract

Fokus masalah penelitian ini adalah mengenai konsep pendidikan moral menurut Emile Durkheim dan relevansinya dengan Pendidikan Ilmu Pengetahuan Sosial di Madrasah Ainul Yaqin Batagak. Metode penelitian yang digunakan adalah penelitian pustaka dengan pendekatan kualitatif dan jenis penelitian deskriptif. Data primer yang digunakan dalam penelitian ini adalah buku berjudul "Pendidikan moral: suatu study teori dan aplikasi sosiologi Pendidikan" dan pengolahan data menggunakan metode dokumentasi. Analisis data dilakukan dengan metode analisis dan komparatif, dengan keabsahan data yang dijamin melalui teknik triangulasi sumber. Hasil penelitian menunjukkan bahwa konsep pendidikan moral menurut Emile Durkheim adalah kesepakatan antar kelompok manusia (masyarakat) yang menjunjung tinggi nilai-nilai luhur yang dihormati oleh manusia. Moralitas menurut Durkheim bersifat duniawi, berkaitan dengan masyarakat, dan tidak bersangkut pautkan dengan hal yang bersifat rohani atau religius. Relevansi pendidikan moral menurut Emile Durkheim dengan Pendidikan Ilmu Pengetahuan Sosial di Sekolah Menengah Pertama adalah bahwa pendidikan moral dipandang sebagai tindakan keteraturan, keterikatan terhadap kelompok, dan otonomi diri sendiri, dengan masyarakat sebagai subjek utama. Pendidikan moral dapat muncul melalui gejala dan krisis yang terjadi dalam masyarakat. Sementara Pendidikan Ilmu Pengetahuan Sosial mencakup berbagai disiplin ilmu sosial yang membahas masalah-masalah sosial, dan dalam materi bahan ajar IPS terdapat keterkaitan dengan gejala yang terjadi dalam masyarakat, sehingga pendidikan moral dapat diintegrasikan sebagai kurikulum tersembunyi dalam pembelajaran IPS. Kata Kunci: Pendidikan Moral, Emile Durkheim, Pendidikan Ilmu Pengetahuan Sosial  AbstractThe Focus Of This Research problem is the concept of moral education according to Emile Durkheim and its relevance to Social Sciences Education at Madrasah Ainul Yaqin Batagak. The research method used is library research with a qualitative approach and descriptive research type. The primary data used in this research is a book entitled "Moral education: a theoretical study and application of the sociologyof education" and data processing uses documentation methods. Data analysis was carried out using analytical and comparative methods, with the validity of the data guaranteed through source triangulation techniques. The research results show that the concept of moral education according to Emile Durkheim is an agreement between human groups (society) that upholds noble values that are respected by humans. According to Durkheim, morality is worldly, related to society, and has nothing to do with spiritual or religious matters. The relevance of moral education according to Emile Durkheim to Social Science Education in Junior High Schools is that moral education is seen as an act of order, attachment to groups, and self- autonomy, with society as the main subject. Moral education can emerge through symptoms and crises that occur in society. Meanwhile, Social Sciences Education includes various social science disciplines that discuss social problems, and in social studies teaching materials there is a connection with phenomena that occur in society, so that moral education can be integrated as a hidden curriculum in social studies learning. Keyword: Moral Education, Emile Durkheim, Social Science Education
MEDIA PEMBELAJARAN PENDIDIKAN SEKS PADA ANAK USIA DINI: TINJAUAN PUSTAKA Nadia Estu Ningtias; R Sri Martini Meilanie; Nurbiana Dhieni
Habitus : Jurnal Pendidikan, Sosiologi, dan Antropologi Vol 9, No 1 (2025): Habitus: Jurnal Pendidikan, Sosiologi, dan Antropologi
Publisher : Program Studi Pendidikan Soiologi Antropologi, FKIP-UNS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20961/habitus.v9i1.104238

Abstract

Pendidikan seks pada anak usia dini merupakan isu yang semakin mendapat perhatian dalam dunia pendidikan, terutama terkait upaya perlindungan diri anak sejak usia dini. Anak usia 5-6 tahun berada pada masa krusial dalam mengenal tubuhnya, memahami batasan, serta membentuk identitas diri. Namun, pendekatan dan media pembelajaran yang digunakan dalam mengenalkan pendidikan seks pada kelompok usia ini masih menjadi tantangan bagi pendidik dan orang tua. Artikel ini bertujuan untuk mengkaji berbagai media pembelajaran yang digunakan dalam pembelajaran pendidikan seks anak usia dini melalui metode literature review. Hasil penelitian menunjukkan bahwa media visual berbasis narasi, seperti buku cerita bergambar terbukti efektif dalam membantu anak memahami konsep tubuh pribadi, hak atas tubuh, serta keberanian melapor. Selain itu, media berbasis permainan dan diskusi terbimbing juga memiliki dampak positif terhadap pemahaman anak secara menyeluruh. Buku bergambar memungkinkan anak memaknai pesan melalui ilustrasi dan cerita sesuai dengan dunia mereka, sementara pendekatan bermain menciptakan suasana belajar yang menyenangkan. Kesimpulan dari kajian ini menegaskan bahwa pemilihan media pembelajaran yang interaktif, kontekstual, dan ramah anak sangat penting dalam mendukung efektivitas pendidikan seks di jenjang pendidikan anak usia dini. Kata Kunci: Anak Usia Dini, Pendidikan Seks, Media Pembelajaran  ABSTRCTSex education in early childhood is an issue that has received increasing attention in the world of education, especially related to efforts to protect children from an early age. Children aged 5-6 years are at a crucial time in recognizing their bodies, understanding boundaries, and forming self-identity. However, the approach and learning media used in introducing sex education in this age group is still a challenge for educators and parents. This article aims to examine various learning media used in learning early childhood sex education through the literature review method. The results show that narrative-based visual media, such as picture storybooks, are effective in helping children understand the concept of personal body, body rights, and the courage to report. In addition, game-based media and guided discussions also have a positive impact on children's overall understanding. Picture books allow children to interpret messages through illustrations and stories according to their world, while the play approach creates a fun learning atmosphere. The conclusion of this study confirms that the selection of interactive, contextual and child-friendly learning media is crucial in supporting the effectiveness of sex education in early childhood education.Keywords: Early Childhood, Sex Education, Learning Media 
PENGARUH MOTIVASI, KOMUNIKASI, DAN KOMPETENSI TERHADAP PRESTASI BELAJAR MATA PELAJARAN SOSIOLOGI PADA SISWA KELAS X DI SMAN 1 PANDEGLANG neng yayu padaniah; Wahid Abdul Kudus; Septi Kuntari
Habitus : Jurnal Pendidikan, Sosiologi, dan Antropologi Vol 7, No 1 (2023): Habitus: Jurnal Pendidikan, Sosiologi, dan Antropologi
Publisher : Program Studi Pendidikan Soiologi Antropologi, FKIP-UNS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20961/habitus.v7i1.66905

Abstract

Penelitian ini mengangkat data, fakta dan realita. Masalah yang di angkat terfokus pada inkonsistensi motivasi, komunikasi, dan kompetensi serta prestasi belajar siswa kelas x. Tujuannya guna meningkatkan kualitas pembelajaran dapat di lakukan dengan cara memotivasi peserta didik dalam belajar, membangun komunikasi secara interaktif, dan mengembangkan kompetensi sebagai hasil belajar yang dicapai oleh peserta didik. Penelitian ini menggunakan pendekatan Kuantitatif dengan metode deskriptif. Adapun Populasi sebanyak 137 Peserta Didik dengan menggunakan Probability Sampling dan Cluster Random Sampling. Sehingga, di peroleh sampel sebanyak 58 responden. Data yang dikumpulkan menggunakan pendekatan Observasi, Kuesioner dan Dokumentasi. Hasil dari penelitian dapat di simpulkan bahwa motivasi berpengaruh secara signifikan terhadap prestasi belajar mata pelajaran sosiologi pada siswa kelas X di SMAN 1 pandeglang. Komunikasi berpengaruh secara signifikan terhadap prestasi belajar mata pelajaran sosiologi pada siswa kelas X di SMAN 1 pandeglang. Kompetensi berpengaruh secara signifikan terhadap prestasi belajar mata pelajaran sosiologi pada siswa kelas X di SMAN 1 pandeglang. Motivasi, komunikasi, dan kompetensi berpengaruh secara simultan terhadap prestasi belajar.Kata Kunci: Kompetensi, Komunikasi, Motivasi, Prestasi Belajar. AbstractThis research raises data, facts and reality. The problems raised focused on the inconsistency of motivation, communication, and competence and learning achievement of class ten students. The goal is to improve the quality of learning can be done by motivating students in learning, building insssteractive communication, and developing competencies as learning outcomes achieved by students. This study used a quantitative approach with a descriptive method. The population is 137 students using Probability Sampling and Cluster Random Sampling. Thus, obtained a sample of 58 respondents. The data collected used the approach of Observation, Questionnaire and Documentation The results of this study can be concluded that motivation had a significant effect on learning achievement in sociology subjects in class ten students at SMAN 1 Pandeglang. Communication had a significant effect on learning achievement in sociology subjects in class ten students at SMAN 1 Pandeglang. Competence has a significant effect on learning achievement in sociology subjects in class ten students at SMAN 1 Pandeglang. Motivation, communication, and competence had a simultaneous effect on learning achievement.Keywords: Motivation, Communication, Competence, Learning Achievement.
TARI NENEMO SEBAGAI BUKTI KESENIAN MASYARAKAT LAMPUNG, TULANG BAWANG BARAT Rita Oktaviani; Karsiwan Karsiwan
Habitus : Jurnal Pendidikan, Sosiologi, dan Antropologi Vol 9, No 1 (2025): Habitus: Jurnal Pendidikan, Sosiologi, dan Antropologi
Publisher : Program Studi Pendidikan Soiologi Antropologi, FKIP-UNS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20961/habitus.v9i1.85838

Abstract

Kabupaten Tulang Bawang Barat di provinsi Lampung merupakan tempat asal mula tari Nenemo. Pada tahun 2016, Hartati menciptakan tarian ini. Tarian ini diciptakan dengan tiga konsep menurut koreografernya: masyarakat multikultural, aktivitas masyarakat Tulang Bawang Barat, dan makna dibalik istilah Nemen, Nendes, Nerimo. Ketika ide ini terwujud, terciptalah karya tari bernama Nenemo. Tarian Nenemo biasanya ditampilkan untuk mengawali acara-acara resmi dan informal. Seseorang dapat menampilkan tarian Nenemo secara solo, berkelompok, atau sebagai raksasa. Peneliti masih menyisakan banyak permasalahan yang belum terjawab dengan keberadaan tarian ini, khususnya mengenai koreografi tari Nenemo dan isinya, serta bagaimana dinamika proses kreatif tari tersebut dilihat dari sudut pandang sosial budaya. Tempat Tari Nenemo di Kabupaten Tulang Bawang Barat. Temuan penelitian ini memperjelas bahwa prosedur yang komprehensif dan inklusif yang melibatkan anggota semua lapisan masyarakat digunakan untuk menciptakan dan memproduksi tari Nenemo. Dibandingkan dengan tarian lain di Lampung, koreografi tari Nenemo tergolong baru. Keberadaan tari Nenemo di Tulang Bawang Barat menuntutnya melambangkan masyarakat multikultural, meskipun dalam hal ini diperlukan waktu lebih lama untuk mengukuhkan jati dirinya. Keywords: Tari Nenemo, Budaya Kesenian Lampung Tulang Bawang Barat ABSTRACTWest Tulang Bawang Regency in Lampung province is the origin of the Nenemo dance. In 2016, Hartati created this dance. This dance was created with three concepts according to the choreographer: multicultural society, activities of the West Tulang Bawang community, and the meaning behind the terms Nemen, Nendes, Nerimo. When this idea was realized, a dance work called Nenemo was created. The Nenemo dance is usually performed to start formal and informal events. One can perform the Nenemo dance solo, in a group, or as a giant. Researchers still have many unanswered problems regarding the existence of this dance, especially regarding the Nenemo dance choreography and its content, as well as how the dynamics of the dance's creative process are seen from a socio-cultural perspective. Nenemo Dance Place in West Tulang Bawang Regency. The findings of this research make it clear that comprehensive and inclusive procedures involving members of all levels of society were used to create and produce the Nenemo dance. Compared to other dances in Lampung, the Nenemo dance choreography is relatively new. The existence of the Nenemo dance in West Tulang Bawang requires it to symbolize a multicultural society, although in this case it takes longer to establish its identity. Keyword: Nenemo Dance, West Lampung Tulang Bawang Arts Culture 
MENGURAI NRIMO: STRATEGI COPING BUDAYA JAWA DALAM MENGHADAPI STRES DAN KETIDAKPASTIAN Meysella Al Firdha Hanim; Maghfira Nur Azizah; Niki Novitasari; Kintania Sura Hapsari
Habitus : Jurnal Pendidikan, Sosiologi, dan Antropologi Vol 8, No 2 (2024): Habitus: Jurnal Pendidikan, Sosiologi, dan Antropologi
Publisher : Program Studi Pendidikan Soiologi Antropologi, FKIP-UNS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20961/habitus.v8i2.92629

Abstract

This study explores the role of nrimo in Javanese culture as a stress and uncertainty management strategy in the context of Indigenous psychology. Nrimo is a philosophy of life that teaches the importance of acceptance and adjustment to situations that cannot be changed, which is often seen as a positive surrender to achieve inner calm. This study outlines how the values, meanings and beliefs associated with nrimo help individuals deal with uncertainty, as well as how this practice affects emotional balance and social relationships in Javanese society. In addition, the study discusses how this concept reflects the relationship between humans and nature and God, and how nrimo as an active practice can contribute to harmony and serenity in daily life.Keywords: Indigenous Psychology, Javanese Culture, Nrimo  ABSTRAK Penelitian ini mengeksplorasi peran konsep nrimo dalam budaya Jawa sebagai strategi pengelolaan stres dan ketidakpastian dalam konteks psikologi indigenous. Nrimo adalah filosofi hidup yang mengajarkan pentingnya penerimaan dan penyesuaian diri terhadap situasi yang tidak dapat diubah, yang seringkali dilihat sebagai penyerahan diri yang positif untuk mencapai ketenangan batin. Studi ini menguraikan bagaimana nilai, arti, dan kepercayaan yang terkait dengan nrimo membantu individu dalam menghadapi ketidakpastian, serta bagaimana praktik ini mempengaruhi keseimbangan emosional dan hubungan sosial dalam masyarakat Jawa. Selain itu, penelitian ini membahas bagaimana konsep ini mencerminkan hubungan antara manusia dengan alam dan Tuhan, dan bagaimana nrimo sebagai praktik aktif dapat berkontribusi pada keharmonisan dan ketenangan dalam kehidupan sehari-hari.Kata Kunci: Budaya Jawa, Nrimo, Psikologi Indigenous
SOLIDARITAS DAN INTEGRASI SOSIAL DALAM KONTEKS MANAJEMEN PENDIDIKAN: ANALISIS BERDASARKAN TEORI ÉMILE DURKHEIM Almuarif Almuarif; Silfia Hanani; Indra Devi
Habitus : Jurnal Pendidikan, Sosiologi, dan Antropologi Vol 8, No 1 (2024): Habitus: Jurnal Pendidikan, Sosiologi, dan Antropologi
Publisher : Program Studi Pendidikan Soiologi Antropologi, FKIP-UNS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20961/habitus.v8i1.80139

Abstract

Konsep solidaritas dan integrasi sosial memainkan peran penting dalam menciptakan lingkungan belajar yang efektif. Keduanya membentuk dasar pembelajaran, pembentukan karakter, dan persiapan siswa untuk berperan aktif dalam masyarakat yang semakin kompleks. Tujuan penelitian ini menjelaskan tentang Solidaritas Dan Integrasi Sosial Dalam Konteks Manajemen Pendidikan: Analisis Berdasarkan Teori Émile Durkheim. Metode yang digunakan dalam kajian ini menggunakan Penelitian ini memakai tata cara penelitian kualitatif dengan memakai pendekatan riset berbentuk studi pustaka. Sumber informasi dalam penelitian ini dikaji dari berbagai sumber novel literatur-literatur, laporan penelitian karangan karangan ilmiah, tesis, disertasi serta postingan baik cetak ataupun elektronik yang berkaitan dengan tentang Solidaritas Dan Integrasi Sosial Dalam Konteks Manajemen Pendidikan: Analisis Berdasarkan Teori Émile Durkheim. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa pemahaman tentang solidaritas dan integrasi sosial dalam konteks teori Durkheimian adalah penting. Konsep-konsep ini membantu memandu pendekatan dan praktik yang mempromosikan keseimbangan antara keseragaman dan keragaman, penghargaan terhadap norma-norma sosial bersama, dan pemahaman terhadap peran unik individu dalam mencapai tujuan bersama. Pendidikan, sebagai alat utama dalam membentuk masyarakat, memainkan peran penting dalam memfasilitasi integrasi sosial dan menciptakan solidaritas. Dalam manajemen pendidikan, pengembangan kurikulum, partisipasi siswa, kolaborasi antara pemangku kepentingan, pendekatan inklusif, dan pemahaman akan peran pendidikan dalam integrasi sosial adalah kunci dalam mencapai tujuan ini.Kata Kunci: Solidaritas; Integrasi Sosial; Manajemen Pendidikan; Teori Émile Durkheim. AbstractThe concepts of solidarity and social integration play an important role in creating an effective learning environment. They form the basis of learning, character building and preparing students to play an active role in an increasingly complex society. The purpose of this research is to explain about Solidarity and Social Integration in the Context of Education Management: An Analysis Based on Émile Durkheim's Theory. The method used in this study uses qualitative research procedures using a research approach in the form of a literature study. The sources of information in this study were reviewed from various novel sources of literature, research reports, scientific essays, theses, dissertations and posts both print and electronic related to Solidarity and Social Integration in the Context of Education Management: An Analysis Based on Émile Durkheim's Theory. The results of this study suggest that an understanding of solidarity and social integration in the context of Durkheimian theory is important. These concepts help guide approaches and practices that promote a balance between uniformity and diversity, respect for shared social norms, and understanding of the unique role of individuals in achieving common goals. Education, as a key tool in shaping society, plays an important role in facilitating social integration and creating solidarity. In education management, curriculum development, student participation, collaboration between stakeholders, inclusive approaches, and an understanding of the role of education in social integration are key in achieving this goal.Keywords: Solidarity; Social Integration; Education Management; Émile Durkheim's Theory
DOMINASI NYAI DALAM RELASI GURU-MURID DI PESANTREN (STUDI FENOMENOLOGIS PADA KEPATUHAN SANTRI PONDOK PESANTREN ANNUQAYAH) Zahrotul Jannah
Habitus : Jurnal Pendidikan, Sosiologi, dan Antropologi Vol 9, No 2 (2025): Habitus: Jurnal Pendidikan, Sosiologi, dan Antropologi
Publisher : Program Studi Pendidikan Soiologi Antropologi, FKIP-UNS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20961/habitus.v9i2.109222

Abstract

Penelitian ini bermaksud untuk mengetahui relasi guru-murid pada Nyai dan santri di PP. Annuqayah. Fokus kajian pada tulisan ini adalah dominasi Nyai dan kepatuhan para santri di PP. Annuqayah. Maka penelitian ini bermaksud   menjawab tiga pertanyaan berikut: Pertama, Bagaimana bentuk kepatuhan para santri terhadap Nyai di PP. Annuqayah? Kedua, Bagaimana ciri-ciri dominasi Nyai di pondok pesantren? Ketiga, Bagaimana dominasi Nyai dalam relasi guru-murid Madura? metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah kualitatif lapangan. Sedangkan desainnya adalah studi fenomenologis dengan sampel sebanyak empat puluh orang dari kalangan Nyai, santri aktif, pengurus dan santri alumni PP. Annuqayah. Teori yang digunakan sebagai pisau analasis pada penelitian ini adalah Dominasi Michel Foucault dalam memaknai kekuasaan Nyai dan teori kepatuhan dalam menganalisis prilaku para santri di PP. Annuqayah. Penelitian ini menemukan bahwa kepatuhan santri pada Nyai di PP. Annuqayah berlandaskan pada kebutuhannya kepada ilmu pengetahuan dan konsep barokah yang telah tertanam pada diri mereka sejak awal dimondokkan. Hal tersebut menjadi dasar dari pengabdian para santri pada Nyai. Namun, kepatuhan di sini hanya berfokus pada hal positif sesuai dengan konsep ramah pesantren. Kepatuhan para santri tersebut menjadi dasar dari terbangunnya dominasi para Nyai di PP. Annuqayah. Dominasi Nyai Annuqayah dapat dilihat dari kemampuannya dalam memerintah santri untuk melakaukan sesuatu; bertanggung jawab; kemampuan mempengaruhi para santri; memegang kendali pembicaraan dalam forum; serta mengambil solusi dan menyelesaikan  masalah dengan baik.  Dominasi Nyai ini berorientasi dalam ranah pembelajaran domistik. Semua perintah Nyai pada para santri berupa pembelajaran baik yang bersifat praktis ataupun teoritis dalam kehidupan, sehingga dominasi Nyai bukan untuk kepentingan pribadinya.Kata kunci: Dominasi, Kepatuhan, Nyai, Santri, Pondok Pesantren  Annuqayah.ABSTRACTThis study aims to examine the teacher–student relationship between nyai and santri at Annuqayah Islamic boarding school, with a particular focus on the dominance of the nyai and the obedience of the santri. The research employs a qualitative field approach using a phenomenological study design, involving forty participants consisting of nyai, active santri, administrators, and alumni of Annuqayah Islamic boarding school. The theoretical framework draws on Michel Foucault’s theory of domination to interpret the power of the nyai, alongside obedience theory to analyze santri behavior. The findings indicate that santri obedience toward the nyai is grounded in their need for knowledge and the concept of barakah (blessing), which has been internalized since their early years in the pesantren and forms the basis of their devotion to the nyai. However, this obedience is limited to positive actions in line with the pesantren’s values of compassion and ethical conduct. Such obedience becomes the foundation for the construction of nyai dominance at Annuqayah, which is reflected in her ability to give instructions, assume responsibility, influence santri, control discussions in forums, and effectively resolve problems. This dominance is oriented toward domestic and educational learning, as all instructions given by the nyai to the santri are educational in nature—both practical and theoretical—and are not exercised for personal interests. Keywords: Compliance, Domination, Nyai, Santri, Pondok Pesantren Annuqayah. ABSTRACT

Page 10 of 11 | Total Record : 106