cover
Contact Name
Okta Hadi Nurcahyono
Contact Email
okta.hadi@staff.uns.ac.id
Phone
-
Journal Mail Official
habitus@mail.uns.ac.id
Editorial Address
Pendidikan Sosiologi Antropologi Gedung C FKIP UNS. Jl Ir Sutami No.36A, Surakarta
Location
Kota surakarta,
Jawa tengah
INDONESIA
Habitus: Jurnal Pendidikan Sosiologi dan Antropologi
ISSN : -     EISSN : 25979264     DOI : https://doi.org/10.20961/habitus.v3i2.35716
Core Subject : Education, Social,
Habitus Journal is published by the Sociology-Anthropology Education Study Program, FKIP, Sebelas Maret University (UNS). Published twice a year ie 1st Edition: January-June and 2nd edition: July-December. The Habitus Journal focuses on theoretical studies and analysis of research results in the fields of education, social and culture.
Arjuna Subject : -
Articles 80 Documents
KARTINI DAN POTRET PEREMPUAN INDONESIA MASA KINI (Sebuah Tinjauan Antropologis) Siany Indria Liestyasari
Habitus : Jurnal Pendidikan, Sosiologi, dan Antropologi Vol 3, No 1 (2019): HABITUS:JURNAL PENDIDIKAN, SOSIOLOGI, DAN ANTROPOLOGI
Publisher : Program Studi Pendidikan Soiologi Antropologi, FKIP-UNS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20961/habitus.v3i1.31940

Abstract

Pemahaman mengenai Kartini harus dilihat dalam konteks lebih satu abad yang lalu. Orang sering salah mengartikan dengan mengatakan bahwa cita-cita Kartini sudah berhasil. Perempuan sudah sejajar dengan laki-laki, paling tidak perempuan sudah boleh mengenyam pendidikan yang sama seperti laki-laki. Kartini sebagai sosok ‘ibu’ dengan identitas kultural Jawa yang melekat pada sosoknya. Yang menjadi urgensi adalah melihat bagaimana pemikiran dan gagasan Kartini tentang perempuan dan tentang pembebasan perempuan. Kartini jelas telah berusaha mendobrak tatanan kultur yang ada patriarkal meskipun negara telah menyembunyikannya sedemikian rupa. Apabila gagasan dan pemikiran Kartini didengungkan baik di tingkat pendidikan maupun dalam masyarakat luas maka yakinlah bahwa Kartini bisa tersenyum melihat perempuan-perempuan dan bangsa Indonesia yang kritis, berpemikiran tajam, lepas dari bentuk penjajahan yang dilakukan oleh kapitalisme dan neoliberal. Perempuan Indonesia akan menjadi Kartini baru, atau mungkin serupa dengan sosok Nyai Ontosoroh dalam novel tetralogi Pramoedya, perempuan yang kritis, tajam dan tak kenal ampun dengan kultur yang menindas perempuan.
UPAYA PENINGKATAN HASIL BELAJAR DENGAN MENERAPKAN MODEL DISCOVERY LEARNING MELALUI LEARNING MANAGEMENT SYSTEM BERBASIS MOODLE Neni Setyaningsih
Habitus : Jurnal Pendidikan, Sosiologi, dan Antropologi Vol 4, No 1 (2020): Habitus:Jurnal Pendidikan, Sosiologi, dan Antropologi
Publisher : Program Studi Pendidikan Soiologi Antropologi, FKIP-UNS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20961/habitus.v4i1.45759

Abstract

Penelitian ini dilatarbelakangi oleh kurang aktifnya peserta didik saat pembelajaran jarak jauh dan kemampuan berpikir kritis yang rendah sehingga menyebabkan hasil belajar peserta didik tidak sesuai target. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan data mengenai peningkatan hasil belajar belajar peserta didik setelah menerapkan model discovery learning melalui Learning Management System berbasis moodle. Penelitian ini dilakukan dengan subjek penelitian kepada peserta didik kelas XII IPS 3 di SMAIT Nur Hidayah Sukoharjo sebanyak 26 siswi. Metode yang digunakan adalah Penelitian Tindakan Kelas (PTK) dengan desain penelitian menggunakan Kemmis dan Mac. Taggart yang terdiri dari tahap perencanaan, pelaksanaan, observasi dan refleksi. Teknik pengumpulan data dengan menggunakan wawancara, observasi, catatan lapangan dan tes. Hasil penelitian ini menunjukkan ketuntasan pra siklus melalui hasil Penilaian Tengah Semester Gasal adalah 46%. Setelah dilakukan tindakan terjadi peningkatan pada siklus I dan siklus II yaitu siklus I (69%) dan siklus II (85%). Kesimpulan dari penelitian ini adalah dengan menerapkan model discovery learning melalui Learning Management System berbasis moodle dapat meningkatkan hasil belajar peserta didik kelas XII IPS 3 SMAIT Nur Hidayah Sukoharjo.  Kata kunci: Discovery Learning; Hasil belajar; Learning Management System; Moodle
Pendidikan Multikultural dalam Keluarga Waria: Perjuangan dan Hak-Hak Minoritas Kaum Waria di Tanjungpinang Marisa Elsera
Habitus : Jurnal Pendidikan, Sosiologi, dan Antropologi Vol 2, No 1 (2018): HABITUS:JURNAL PENDIDIKAN, SOSIOLOGI, DAN ANTROPOLOGI
Publisher : Program Studi Pendidikan Soiologi Antropologi, FKIP-UNS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20961/habitus.v2i1.20194

Abstract

Pendidikan berarti proses pengembangan sikap dan tata laku seseorang atau kelompok dalam usaha mendewasakan melalui pengajaran, pelatihan, proses dan cara mendidik. Sementara multikultural diartikan sebagai keragaman kebudayaan, keanekaragaman nilai dan norma yang dianut masyarakat. Mengetengahkan konsep pendidikan multikultural berarti mengimplementasikan gagasan tentang keragaman kebudayaan dan aneka kesponan tersebut. Namun sebelum mempelajari multikultural, tentu harus dipahami tentang kultur, yakni sebuah budaya yang bersifat universal bagi manusia. Sehingga jelaslah bahwa masyarakat multikultural adalah masyarakat yang menganut sekumpulan simbol yang mengikat di dalam sebuah masyarakat untuk diterapkan seperti penjelasan Emile Durkheim dan Marcel Maus.Pendidikan multikultural perlu ditanamkan sejak dini, melalui sosialisasi primer dan sekunder seperti di sekolah. Misalnya dengan mempelajari simbol-simbol dan identitas yang beragam sebagai ciri masyarakat multikultural. Hal ini menjadi penting guna menghindari konflik sosial yang dewasa ini sering kali terjadi dalam bentuk kekerasan, konflik antaretnik hingga “legitimasi keagamaan” yang diajarkan dalam pendidikan agama di daerah yang rawan konflik tak terkecuali di daerah perbatasan. Konflik yang mengakar dan dikemas sebagai sebuah “keyakinan keagamaan” membuat konflik sosial yang biasanya berbentuk kekerasan dan anarkisme (termasuk bully dan kabar hoax) semakin sulit diatasi.Pendidikan multikultural menjadi sangat menarik ketika diteliti pada keluarga waria di Tanjungpinang. Penelitian ini berhasil menemukan bagaimana nilai dan norma yang beranekaragam dalam kebudayaan Indonesia ditanamkan dalam keluarga waria di Tanjungpinang sejak kecil. Tidak hanya pengajaran tentang menghargai keragaman budaya, tapi juga diajarkan tentang sosialisasi nilai kebhinekaan dalam keluarga. Sehingga realitas obyektif tentang pendidikan multicultural dapat terinternalisasi dengan cukup baik pada waria di Tanjungpinang, terbukti dengan kegiatan-kegiatan rutin bulanan dan insedentil yang dilakukan oleh waria. Keyword: Pendidikan, Kultur, Multikultural dan Etnik
PEMBERDAYAAN FORUM ANAK SURAKARTA SEBAGAI PEER EDUCATOR UNTUK MENGATASI TINDAK KEKERASAN TERHADAP ANAK Sri Yuliani; Rahesli Humsona; Sigit Pranawa
Habitus : Jurnal Pendidikan, Sosiologi, dan Antropologi Vol 2, No 2 (2018): HABITUS:JURNAL PENDIDIKAN, SOSIOLOGI, DAN ANTROPOLOGI
Publisher : Program Studi Pendidikan Soiologi Antropologi, FKIP-UNS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20961/habitus.v2i2.28798

Abstract

Kasus kekerasan terhadap perempuan dan anak di Kota Surakarta masih cukup tinggi, baik jumlah maupun kualitas kekerasannya. Meskipun di Kota Surakarta telah dibentuk lembaga Pelayanan Terpadu Perempuan dan Anak Surakarta (PTPAS), upaya menangani kasus-kasus kekerasan terhadap perempuan dan anak belum dapat dilakukan secara optimal. Banyaknya lembaga yang bergabung dengan PTPAS belum memberi jaminan perlindungan bagi korban kekerasan. Salah satu kendala upaya penanganan korban kekerasan terhadap anak adalah belum terbangunnya perspektif terhadap korban yang lebih baik. Anak korban kekerasan mengalami hambatan psikologis dan komunikasi untuk menyampaikan masalahnya baik dengan keluarga maupun pendamping korban dari LSM atau PTPAS. Forum Anak Surakarta (FAS) sebagai lembaga partisipasi anak dalam pembangunan selama ini telah menjadi media berbagi permasalahan dengan teman sebaya, termasuk masalah tindak kekerasan terhadap anak. Pemberdayaan Forum Anak Surakarta sebagai Peer Educator (pendidik sebaya) menjadi solusi efektif untuk memecahkan hambatan komunikasi dalam pendampingan anak korban kekerasan. Untuk itu pengabdian ini bertujuan memberikan skill pada FAS agar mampu berperan sebagai counselor bagi teman sebaya yang mengalami tindak kekerasan.Khalayak sasaran adalah 15 anak (usia 13-18 tahun) yang tergabung dalam Forum Anak Surakarta. Adapun kegiatan pengabdian meliputi : 1) Penyadaran tentang kekerasan anak dan hak perlindungan anak; 2) pelatihan sebagai advokator agar aspirasi anak korban kekerasan diakomodir dalam Musyawarah Perencanaan Pembangunan, dan 3) praktek atau simulasi konselor sebaya bagi anak korban kekerasan. Setelah mengikuti pelatihan dan praktek pendidikan sebaya, anak-anak yang tergabung dalam Forum Anak Surakarta menjadi : 1) semakin meningkat kesadarannya tentang dampak kekerasan anak dan pentingnya hak perlindungan anak dan 2) memahami mekanisme sebagai advokator dan mampu mempraktekkan tehnik Peer Educator bagi anak korban kekerasan. 
Penerapan Model Pembelajaran Discovery Learning Melalui Instagram untuk Meningkatkan Pembelajaran Daring pada Materi Globalisasi Vivin Rindawati
Habitus : Jurnal Pendidikan, Sosiologi, dan Antropologi Vol 4, No 1 (2020): Habitus:Jurnal Pendidikan, Sosiologi, dan Antropologi
Publisher : Program Studi Pendidikan Soiologi Antropologi, FKIP-UNS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20961/habitus.v4i1.45721

Abstract

Menerapkan konsep abstrak pada pembelajaran daring tidaklah mudah. Hal ini berdampak pada hasil pembelajaran yang tidak maksimal.  Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui partisipasi peserta didik dalam pembelajaran daring melalui jejaring social Instagram dengan model pembelajaran discovery learning. Subyek penelitian ini berjumlah 32 orang yaitu 26 perempuan dan 6 laki-laki. Peserta didik adalah kelas XII IPS 4 di SMA N 2 Cepu, Kabupaten Blora. Metode penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah deskriptif kualitatif  dari data yang diperoleh dalam siklus I dan siklus II Penelitian Tindakan Kelas. Teknik pengumpulan data menggunakan observasi, wawancara, dan hasil tes evaluasi di akhir pembelajaran. Hasil penelitian pada pra siklus melalui evaluasi pembelajaran menunjukkan peserta didik yang tidak tuntas adalah 22 peserta didik atau 68,75 % atau dari jumlah keseluruhan satu kelas yaitu 32. Pada siklus I jumlah peserta didik yang tidak tuntas sudah berkurang menjadi 53 % atau 17 orang dan pada siklus ke II peserta didik yang tidak tuntas berkurang hingga 18,75% atau 6 peserta didik . kesimpulan dari Penelitian Tindakan Kelas ini, dengan partisipasi penggunaan Instagram dalam pembelajaran daring materi globalisasi dapat mempermudah peserta didik dalam menemukan konsep sosiologi yang bersifat abstrak menjadi lebih konkret.
TRADISI TOLAK BALA SEBAGAI ADAPTASI MASYARAKAT DAYAK DESA UMIN DALAM MENGHADAPI PANDEMI DI KABUPATEN SINTANG Addrianus Josef LoisChoFeer; Diaz Restu Darmawan
Habitus : Jurnal Pendidikan, Sosiologi, dan Antropologi Vol 5, No 1 (2021): Habitus: Jurnal Pendidikan, Sosiologi, dan Antroplogi
Publisher : Program Studi Pendidikan Soiologi Antropologi, FKIP-UNS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20961/habitus.v5i1.53723

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui proses serta dampak dalam menghadapi pandemi covid melalui ritual tolak bala oleh masyarakat Dayak Desa Umin. Penelitian ini bersifat kualitatif deskriptif dengan metode etnografi. Sumber data yang terkumpul terdiri dari data primer dan data  sekunder yang diperoleh dari dari penelitian lapangan secara langsung. Hasil penelitian menunjukan bahwa proses pengambilan keputusan masyarakat pada tradisi tolak dilakukan melalui media patung dan persembahan yang berupa bagian tubuh hewan. Berlangsungnya tradisi tolak bala dipimpin oleh para pemimpin upacara dengan mantra-mantra khusus dalam bahasa Dayak Desa. Diakhir tradisi tolak bala akan diakhiri suatu keputusan besar yang akan bersifat wajib dilaksanakan oleh seluruh anggota masyarakat Daya Desa Umin apapun keputusan tersebut. Tradisi tolak bala ini merupakan bentuk kearifan lokal suku Dayak Desa yang terbentuk dari pandangan mereka yang terkontruksi dari pemahaman budaya, religi dan lingkungan mereka. Karena yang dihadapi adalah penyakit modern yang berbeda dengan penyakit-penyakit sebelumnya yang cenderung bersifat spiritual, menyebabkan proses tradisi tolak bala dilakukan dengan bebebapa inovasi baru walaupun pemahaman konsep sehat dan sakit yang diyakini masih menggunakan pandangan lokal Dayak Desa.
TINJAUAN SOSIOLOGIS TREND BERSEPEDA DI TENGAH PANDEMI VIRUS CORONA Sri Darsini
Habitus : Jurnal Pendidikan, Sosiologi, dan Antropologi Vol 5, No 1 (2021): Habitus: Jurnal Pendidikan, Sosiologi, dan Antroplogi
Publisher : Program Studi Pendidikan Soiologi Antropologi, FKIP-UNS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20961/habitus.v5i1.53526

Abstract

Di Indonesia pandemi di manfaatkan dengan bersepeda dengan tujuan awal agar sehat dan imunitas meningkat. Akan tetapi lambat laun tujuan ini tidak sesuai lagi. Bersepeda menjadi suatu trend dari berbagai kalangan dengan berbagai motif yang melatarbelakanginya. Penelitian ini adalah deskriptif kualitatif yang bertujuan untuk menjelaskan tinjauan sosiologis terhadap Trend Bersepeda Di Tengah Pandemi Virus Corona. Teknik pengumpulan data yang terdiri dari observasi, wawancara, dokumentasi kemudian dianalisis dengan perspektif teori Jean Paul Baudrillard tentang Nilai Tanda yang mana untuk tempat penelitian di fokuskan di Desa Karangtengah, Weru, Sukoharjo.Hasil penelitian menunjukkan bahwa tujuan awal dari olahraga bersepeda di tengah pandemi virus corona adalah masyarakat menginginkan agar badannya sehat jauh dari paparan virus corona. Setelah di kaji secara sosiologis dengan menggunakan perspektif teori Jean Paul Baudrillard hasil penelitian menunjukkan bahwa bersepeda bukan lagi bertujuan agar badan sehat akan tetapi bersepeda menjadi trend di kalangan masyarakat untuk menunjukkan status sosialnya. Masyarakat dari kalangan atas akan membeli sepeda dengan harga puluhan hingga ratusan juta. Sedangkan masyarakat menengah kebawah akan membeli sepeda sesuai dengan keuangannya. Hal ini yang peneliti dapatkan selama di lapangan bahwa dari sepeda yang dimiliki masing-masing pesepeda menunjukkan seberapa besar mereka memiliki uang. Dari pernyataan tersebut dapat diketahui bahwa tujuan seseorang olahraga bersepeda bukan lagi karena menginginkan badannya sehat, akan tetapi lebih kepada agar menunjukkan status sosial ekonomi mereka.
Eksplorasi Etnomatematika pada Bangunan Kamar Mandi di Pesantren Jeffa Lianto Van Bee; Elly Susanti; Imam Sujarwo
Habitus : Jurnal Pendidikan, Sosiologi, dan Antropologi Vol 5, No 1 (2021): Habitus: Jurnal Pendidikan, Sosiologi, dan Antroplogi
Publisher : Program Studi Pendidikan Soiologi Antropologi, FKIP-UNS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20961/habitus.v5i1.46757

Abstract

Layaknya dalam kebudayaan bangunan-bangunan seperti rumah adat, saung, masjid, dan sebagainya banyak etnomatematika yang diterapkan oleh masyarakat dan tanpa disadari bahwa budaya tersebut merupakan konsep dasar dari matematika. Termasuk salah satunya pada struktur bangunan kamar mandi di pesantren Nurul Ummah. Kegiatan santri tentunya tidak lepas dengan mencuci baju sendiri bahkan membersihkan badan (bersuci) dimana semua itu tidak boleh terlepas dari kaidah-kaidah yang sudah diajarkan dalam Agama Islam (fiqih). Keadaan tersebut menuntut pembangunan kamar mandi di pesantren haruslah dengan jumlah yang banyak dikarenakan jumlah santri di pesantren yang rata-rata juga berjumlah besar dan pasokan air yang harus memadai dan sesuai dengan hukum untuk bersuci.
UPAYA PENINGKATAN HASIL BELAJAR ILMU PENGETAHUAN SOSIAL SISWA DENGAN METODE FUN LEARNING DI KELAS VIIA4 SMP IT IBNU ABBAS KLATEN Jatmiko Suryo Gumilang
Habitus : Jurnal Pendidikan, Sosiologi, dan Antropologi Vol 5, No 1 (2021): Habitus: Jurnal Pendidikan, Sosiologi, dan Antroplogi
Publisher : Program Studi Pendidikan Soiologi Antropologi, FKIP-UNS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20961/habitus.v5i1.39275

Abstract

ABSTRAKPenelitian ini merupakan penelitian tindakan kelas, yang menjadi subjek pada penelitian adalah siswa kelas VIIA4 SMP IT Ibnu Abbas Klaten pada semester gasal tahun pelajaran 2019/2020 dengan jumlah siswa kelas eksperimen 30 siswa pengambilan data dilakukan melalui pemberian tes. Data penelitian dianalisis secara deskriftif, kualitatif, dan kuantitatif. Hasil analisis secara kuantitatif menunjukkan adanya peningkatan skor rata-rata hasil belajar Ilmu Pengetahuan Sosial siswa kelas VIIA4 SMP IT Ibnu Abbas Klaten pada siklus I skor rata-rata yang dicapai adalah 69,54 sedangkan pada siklus II skor rata-rata yang dicapai adalah 77,86 dari hasil analisis secara kualitatif menunjukkan terjadinya peningkatan hasil belajar pada siswa. Selama proses pembelajaran belangsung yaitu adanya perhatian yang serta merta, konsentrasi, siswa yang tidak terpengaruh gangguan dari luar kelas, siswa yang memiliki ingatan terhadap bahan pelajaran, siswa yang tidak miliki rasa bosan, yang semakin meningkat pada setiap pertemuannya. Hasil analisis data menunjukkan bahwa baik secara kuantitatif maupun kulitatif menunjukkan adanya peningkatan hasil belajar dan keefektifan siswa setelah di ajar dengan menggunakan pembelajaran bahasa indonesia melalui metode fun learning. Kata Kunci: Metode, fun learning, hasil belajar, dan Ilmu Pengetahuan Sosial  ABSTRACT This research was class action research, which became the subject of the study were students of class VIIA4 SMP IT Ibnu Abbas Klaten in the first semester of academic year 2019 / 2020 with number of students grade 30 students experimental data collection is done through the provision of a test. Data were analyzed by descriptive qualitative and quantitative. The results of quantitative analysis showed an increase in average scores Social Science learning outcomes of students of class VIIA4 SMP IT Ibnu Abbas Klaten district in the first cycle the average score achieved was 69,54 while in the second cycle the average score achieved was 77,86 of the results of a qualitative analysis shows that the increase in student learning outcomes. During the learning process lasts namely their attention immediately, concentration, students who are not affected by interference from outside the classroom, students who have a memory of learning materials, students who do not have a sense of boredom, increasing at each meeting. The results of data analysis showed that both quantitative and qualitative showed an increase learning outcomes and effectiveness in teaching students after using Indonesian learning through fun learning methods. Key words, Method, fun learning, teaching, and Social Science
Peran Keluarga dalam Pembelajaran Online Pada Masa Pandemi Covid-19 Halimatusa Diyah; Stevany Afrizal
Habitus : Jurnal Pendidikan, Sosiologi, dan Antropologi Vol 5, No 1 (2021): Habitus: Jurnal Pendidikan, Sosiologi, dan Antroplogi
Publisher : Program Studi Pendidikan Soiologi Antropologi, FKIP-UNS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20961/habitus.v5i1.51473

Abstract

Metode penelitian ini menggunakan metode kualitatif deskriptif, berupa penelitian dengan metode atau pendekatan studi kasus. Sumber data primer yang digunakan dalam penelitian ini adalah dua keluarga di desa Tambak, Kecamatan Kibin, Kabupaten Serang Banten. Sedangkan sumber data sekunder yang digunakan dalam penelitian ini adalah  literatur atau pustaka yang mendukung penelitian ini, diantaranya: buku-buku, jurnal, artikel, berita, dan regulasi atau Undang-Undang yang berlaku. Tujuan penulisan ini yaitu mengetahui seberapa besar peran keluarga saat pandemi ini. Hasil dari penelitian ini adalah pandemi Covid-19  berdampak  pada  berbagai  hal,  termasuk  perubahan  dalam  pola pendidikan  formal.  Perubahan-perubahan  tersebut  berdampak  pada  kesulitan  yang  dialami siswa ketika menjalani pola pembelajaran yang baru. Kesulitan terjadi salah satunya akibat dari  tidak di milikinya  kemampuan  adaptasi  yang  baik  dalam  diri  siswa.  Kemampuan-kemampuan  semacam  ini  perlu  dikembangkan  sejak  dari  keluarga.  Untuk  itulah  peran keluarga  menjadi  lebih  jelas  dengan  adanya  Pandemi Covid-19  ini.