cover
Contact Name
Moh Cholisatur Rizaq
Contact Email
deskovi@umaha.ac.id
Phone
-
Journal Mail Official
deskovi@umaha.ac.id
Editorial Address
-
Location
Kab. sidoarjo,
Jawa timur
INDONESIA
DESKOVI : Art and Design Journal
ISSN : 26545381     EISSN : 2655464X     DOI : -
Core Subject : Art,
DESKOVI : Art and Design Journal is a journal published officially by Universitas Maarif Hasyim Latif. The topics in DESKOVI cover the results of study and creation that can broaden knowledge in the field of art and design in general with a focus on the topic of design processes, design methodology, design development, design history, design discourse, art criticism, art anthropology, art sociology, creative industry and conceptual culture, education and research in the fields of art, performance, product design, interior design and visual communication design.
Arjuna Subject : -
Articles 263 Documents
THE PLANTING DAN PAYOFF YANG EFEKTIF DALAM NASKAH DAN PENYUTRADARAAN FILM AGAK LAEN; SEBUAH ANALISIS Edwin Shri Bimo
DESKOVI : Art and Design Journal Vol. 7 No. 1 (2024): JUNI 2024
Publisher : Universitas Maarif Hasyim Latif

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51804/deskovi.v7i1.16526

Abstract

Dalam ranah konstruksi penceritaan sinematik, penanaman dan pengungkapan, planting and payoff dan foreshadowing, berfungsi sebagai perangkat naratif yang sangat penting di mana petunjuk-petunjuk halus yang ditempatkan lebih awal dalam alur cerita berujung pada pengungkapan atau peristiwa penting, memperkaya keterlibatan dan pengalaman naratif penonton. "Agak Laen," sebuah film yang dengan mahir menggabungkan unsur-unsur komedi dengan tema-tema yang mendalam, memberikan kanvas yang sangat menarik untuk mengeksplorasi penerapan strategis dari penanaman dan pengungkapan. Penelitian ini secara cermat menguraikan lanskap naratif film, fokusnya pada hubungan simbiosis antara hiburan komedi dan gravitasi yang mendasarinya, yang difasilitasi oleh penyelarasan yang rumit dari teknik penanaman dan pengungkapan. Melalui analisis mendalam pada titik-titik penting dalam alur cerita, terutama kematian tidak disengaja di dalam rumah berhantu dan upaya untuk menutupinya, kami mengungkapkan lapisan-lapisan halus dari penanda awal yang tersemat dengan cermat dalam alur cerita. Sentral dalam penyelidikan kami adalah artefak simbolis yang ditinggalkan oleh almarhum, sebuah wadah obat dan topi kuning, masing-masing berfungsi sebagai katalis untuk serangkaian pengungkapan-pengungkapan penting, mulai dari keuntungan keuangan hingga pukulan emosional. Melalui pemeriksaan yang cermat, kami mengungkapkan dampak mendalam dari penanaman ini, yang tidak hanya meningkatkan kedalaman naratif film tetapi juga menegaskan kekayaan dan resonansi tematiknya. Penelitian ini menawarkan wawasan berharga tentang seni konstruksi naratif sinematik, menjelaskan bagaimana teknik-teknik penanaman dan pengungkapan meningkatkan pengalaman bercerita, terutama dalam film komedi dengan nuansa serius, seperti yang ditunjukkan oleh kisah berlapis dari "Agak Laen." In the realm of cinematic storytelling construction, planting and payoff, or foreshadowing, serves as a pivotal narrative device where subtle hints and clues laid out earlier in the plot culminate in significant revelations or events, enriching the audience's engagement and narrative experience. "Agak Laen," a film masterfully blending comedic elements with profound themes, offers a compelling canvas for exploring the strategic deployment of planting and payoff. This study meticulously dissects the film's narrative landscape, focusing on the symbiotic relationship between comedic relief and underlying gravity, facilitated by the intricate weaving of planting and payoff techniques. Through an in-depth analysis of pivotal plot points, notably the accidental death within a haunted house and the ensuing cover-up, we uncover the nuanced layers of foreshadowing meticulously embedded within the storyline. Central to our investigation are the symbolic artifacts left behind by the deceased, a medicine container and a yellow hat, each serving as catalysts for a cascade of consequential payoffs, ranging from financial windfalls to emotional reckonings. Through meticulous scrutiny, we unveil the profound impact of these plantings, which not only enhance the narrative depth of the film but also underscore its thematic richness and resonance. This study offers valuable insights into the artistry of cinematic narrative construction, elucidating how planting and payoff techniques elevate the storytelling experience, particularly in comedy films with serious undertones, as exemplified by the layered tapestry of "Agak Laen."
ORGANOLOGI INSTRUMEN MUSIK ALEE TUNJANG Berlian Denada; Abdul Rozak; Surya Rahman
DESKOVI : Art and Design Journal Vol. 7 No. 1 (2024): JUNI 2024
Publisher : Universitas Maarif Hasyim Latif

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51804/deskovi.v7i1.16538

Abstract

Alee Tunjang sebagai salah satu kesenian tradisi masyarakat Aceh yang mengandung unsur musik di dalamnya. Seiring berkembangnya zaman, keberadaan Alee Tunjang saat ini sangat jarang ditemukan. Pertunjukan kesenian ini hanya ditemukan pada beberapa wilayah di Kabupaten Aceh Utara. Alee Tunjang dimainkan dengan teknik memukulkan Alu ke dalam lesung, sehingga memunculkan warna suara yang khas. Alee Tunjang biasanya ditampilkan secara berkelompok dengan seorang syeh yang berperan sebagai vokal yang menyanyikan syair dengan menggunakan Bahasa Aceh. Dalam proses pelestarian Alee Tunjang perlu adanya dukungan dari pemerintah dan masyarakat sekitar. Selain pengenalan pada cara bermain, perlu adanya upaya memproduksi instrumen musik kesenian Alee Tunjang. Dalam proses produksi, Alee Tunjang tidak lepas dari pengetahuan terkait deskripsi alat musik yang dipakai yang disebut sebagai organologi musik. Oleh sebab itu penulis membuat artikel ini guna menjelaskan struktur organologi musik dari Alee Tunjang agar mempermudah seniman dan masyarakat dalam upaya pengenalan terhadap instrumen musik tersebut. Penelitian ini dilakukan dengan metode deskriptif dengan pendekatan kualitatif. Pendekatan dalam penelitian ini yaitu pendekatan kualitatif. Pendekatan ini dipilih berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh peneliti dilakukan dengan cara berinteraksi langsung dengan pelaku kesenian dalam proses pengumpulan data terhadap objek. Hasil penelitian ini terkait dengan deskripsi instrumen musik yang dipakai pada kesenian Alee Tunjang serta teknik permainan pada kesenian Alee Tunjang dalam menghasilkan bunyi. Alee Tunjang is one of the traditional arts of the Acehnese people that contains musical elements in it. Along with the development of the times, the existence of Alee Tunjang is currently very rare. This art performance is only found in several areas in North Aceh Regency. Alee Tunjang is played by beating the pestle into the mortar, giving rise to a distinctive sound color. Alee Tunjang is usually performed in groups with a syeh acting as a vocalist who sings verses in Acehnese. The preservation of Alee Tunjang requires support from the government and the local community. In addition to introducing how to play, there needs to be an effort to produce Alee Tunjang musical instruments. In the production process, Alee Tunjang cannot be separated from knowledge related to the description of the musical instruments used, which is called music organology. Therefore, the author created this article to explain the structure of Alee Tunjang's music organology in order to make it easier for artists and the public to recognize the instrument. This research was conducted using a descriptive method with a qualitative approach. The approach in this research is a qualitative approach. This approach was chosen based on the research conducted by the researcher by interacting directly with the performers in the process of collecting data on the object. The results of this research are related to the description of the musical instruments used in the Alee Tunjang art and the playing techniques in the Alee Tunjang art in producing sound.
DIDONG SEBAGAI INTI VOKAL GAYO: STUDI LAPANGAN VOKAL ACEH BERSAMA PENYANYI GAYO WIRATMADINATA DAN PETERIANA KOBAT Erlinda; Tria Ocktarizka; Berlian Denada
DESKOVI : Art and Design Journal Vol. 7 No. 1 (2024): JUNI 2024
Publisher : Universitas Maarif Hasyim Latif

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51804/deskovi.v7i1.16549

Abstract

Seni vokal tradisional Gayo, khususnya didong, merupakan komponen penting dari warisan budaya dan identitas etnis Aceh Tengah. Dalam konteks ini, pemutaran lagu-lagu etnik di Perpustakaan Aceh sangat penting untuk memperoleh pengetahuan komprehensif tentang makna didong dalam warisan vokal Gayo. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk menyelidiki dan menganalisis komponen utama didong, basis vokal tradisi Gayo, untuk lebih memahami pengaruhnya terhadap tradisi dan identitas etnis di wilayah tersebut. Metode penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif, dengan pengumpulan data melalui observasi langsung, wawancara, dan analisis teks. Kolaborasi dengan seniman ternama Gayo Wiratmadinata dan Peteriana Kobat memperkaya teknik studi lapangan dan menyampaikan pandangan langsung dari para praktisi seni. Hasil penelitian ini adalah menambah pemahaman kita mengenai seni vokal tradisional Gayo, khususnya didong, dan juga menyoroti sejarah budaya daerah tersebut yang luas. Temuan penelitian ini dapat digunakan untuk mengarahkan tindakan melestarikan dan mendorong seni vokal tradisional Gayo agar relevan dan dapat diterima di zaman modern. Traditional Gayo vocal arts, particularly didong, are significant components of Central Aceh's cultural legacy and ethnic identity. In this context, field screenings of ethnic songs in the Aceh Library are critical for gaining a comprehensive knowledge of the core significance of Didong in the Gayo vocal legacy. The purpose of this research is to investigate and analyze the primary components of didong, the vocal basis of Gayo tradition, in order to better understand the effect they have on tradition and ethnic identity in the region. This research method employs a qualitative approach, with data collected through direct observation, interviews, and text analysis. Collaboration with well-known artists Gayo Wiratmadinata and Peteriana Kobat enriches the field study technique and delivers firsthand viewpoints from artistic practitioners. As a result, this study adds significantly to our understanding of traditional Gayo vocal arts, particularly Didong, while also highlighting the region's extensive cultural past. The findings of this study can be used to direct actions to preserve and encourage Gayo traditional vocal arts so that they are relevant and acceptable in modern times.
BENTUK PENYAJIAN TARI RAPAI GELENG INONG DI KABUPATEN ACEH SELATAN Nadra Akbar Manalu; Abdul Rozak; Haria Nanda Pratama
DESKOVI : Art and Design Journal Vol. 7 No. 1 (2024): JUNI 2024
Publisher : Universitas Maarif Hasyim Latif

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51804/deskovi.v7i1.16573

Abstract

ABSTRACT Tari Rapai Geleng Inong adalah sebuah tarian etnis yang cukup populer dikalangan masyarakat Aceh pesisir.  Dulunya masyarakat Aceh hanya mengenal tari Rapai Geleng yang hanya ditarikan oleh penari laki-laki, namun di Aceh Selatan tari Rapai Geleng tidak hanya ditarikan oleh laki-laki, tarian ini juga ditarikan oleh perempuan yang kemudia dinamakan tari Rapai Geleng Inong, dimana penambahan kata Inong sendiri memiliki arti perempuan. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan tentang bagaimana bentuk penyajian tari Rapai Geleng Inong di Kabupaten Aceh Selatan. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif. Pengumpulan data dilakukan dengan metode observasi, wawancara, dan dokumentasi. Teknik analisis data yang digunakan ialah: a) reduksi data, b) display data, dan c) pengambilan keputusan. Hasil penelitian Tari Rapai Geleng Inong dalam penyajiannya memiliki 7 babak yaitu: pembukaan, aleum (salam), tahlil ( Laa ilaha illahllah), ie la’ot (air laut), peuraho dayong (perahu dayung), kisah (baik kisah Rasul, Nabi, raja dan ajaran agama), dan lani (penutup). Dalam penyajiannya juga menggunakan rias panggung, busana dengan warna khas Aceh. Pola lantai yang digunakan dalam tari Rapai Geleng Inong adalah desain dan pola lurus, segitiga (piramit), melingkar (elips) dan seroang kanan depan. Alat musik yang digunakan adalah Rapai, dan tempat pertunjukkan  dilakukakan di tempat terbuka dan tertutup. This research aims to describe how the Rapai Geleng Inong dance is presented in South Aceh Regency. The Rapai Geleng Inong dance has 7 rounds, namely: opening, aleum (greeting), tahlil (Laa ilaha illahllah), ie la'ot (sea water), peuraho dayong (rowing boat), story (both the story of the Apostle, Prophet, king and teachings). religion), and lani (covering), the make-up used is make-up that is not too thick or excessive, the clothes used are always covered and do not reveal the private parts as recommended in the Islamic religion, and the color of the clothes is not specifically recommended but must refer to on typical Acehnese color elements. The floor patterns used in the Rapai Geleng Inong dance are straight, triangular (pyramit), circular (ellipse) and right-front designs and patterns. The musical instrument used is the Rapai, and the performances are held in open and closed places. This research uses a qualitative approach. The population of this research is the Rapai Geleng Inong dance artist in Samadua District. The subjects of this research were Rapai dance artist Geleng Inong, the community, and the South Aceh district government. Data collection was carried out using observation, interviews and documentation methods. The data analysis techniques used are: a) data reduction, b) data display, and c) decision making.  
ANALISIS SEMIOTIK MOTIF PEUSIJUK PADA KARYA BATIK ACEH Sartika Sembiring; Fauziana Izzati; Putri Dahlia
DESKOVI : Art and Design Journal Vol. 7 No. 1 (2024): JUNI 2024
Publisher : Universitas Maarif Hasyim Latif

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51804/deskovi.v7i1.16574

Abstract

Batik merupakan salah satu hasil karya seni yang sudah menjadi bagian penting dalam masyarakat  Indonesia.  Propinsi  Aceh kaya akan berbagai tradisi yang sampai saat ini masih terus dilestarikan. Salah satunya adalah karya batik Aceh yang menggunakan motif peusijuk sebagai motif utama. Motif yang diterapkan merupakan penggambaran visual yang mengandung tatanan kehidupan masyarakat Aceh. Nilai-nilai pada prosesi peusijuk­ ditampilkan dalam sebuah karya batik yang secara langsung bisa menambah wawasan geransi muda Aceh. Penelitian merupakan jenis penelitian deskriptif kualitatif.  Teknis analisis data yang digunakan adalah teknis analisi deskriptif kualitatif menggunakan pendekatan  analisi menurut teori semiotika Pierce. Penelitian batik peusijuk ini bertujuan agar gerenasi muda Aceh semakin mengenal tradisi-tradisi yang ada khususnya peusijuk melalui sebuah karya seni  seperti batik. Semiotic analysis of the peusijuk motif in Acehnese batik artworks is an effort to delve into the profound meanings of the visual symbols it embodies. Peusijuk, as an inspiration for motifs in Acehnese batik, invites interpretations that encompass iconical, indexical, and symbolic analyses. This approach helps reveal cultural, historical, and philosophical values reflected in the geometric patterns and natural elements used in the motif. The research aims to broaden understanding of how motifs derived from the peusijuk tradition serve not only as visual decorations but also as significant mediums in preserving Acehnese cultural heritage through traditional textile art. The values in the peusijuk process are depicted in a batik artwork, which directly enhances insights into the younger generation of Aceh, one of which is the oen manek manue motif inspired by the leaf of a duck. The leaf of a duck is used as one of the media in the ceremony of peusijuk which symbolizes prosperity and coolness. The research is a type of qualitative descriptive study. The data analysis technique employed is qualitative descriptive analysis using the semiotic theory approach according to Pierce's analysis
THE FOOTWEAR DESIGN A THE FOOTWEAR DESIGN WITH THE UTILIZATION OF JAVA LURIK PEDAN FOR URBAN WOMEN IN JAKARTA Wenny Anggraini Natalia; Lisa Levina Kristanti; Felicia Gunawan
DESKOVI : Art and Design Journal Vol. 7 No. 1 (2024): JUNI 2024
Publisher : Universitas Maarif Hasyim Latif

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51804/deskovi.v7i1.16583

Abstract

Perkembangan fashion dewasa ini menjadikan masyarakat selektif di dalam menentukan gaya hidupnya. Gaya hidup sangat erat hubungannya dengan fashion, karena adanya fashion akan menunjang penampilan seseorang agar lebih menarik dan menjadi tren di masyarakat. Produk fashion termasuk produk yang dapat dikonsumsi dalam jangka panjang karena produk ini digunakan dengan pemakaian normal satu tahun. Produk fashion meliputi pakaian, sepatu, tas, aksesoris, dan lain-lain. Tujuan penelitian ini adalah untuk mempertahankan eksistensi tenun lurik dengan mengembangkan motif/ corak dan warna ke dalam bentuk desain produk alas kaki inovatif dengan mengembangkan kain tenun lurik Jawa Pedan ditujukan untuk kaum urban di Indonesia. Serta diharapkan memperkaya perkembangan produk fashion dengan nuansa budaya Indonesia sehingga dapat meningkatkan kemungkinan daya jual tenun lurik Jawa. Penelitian bersifat eksperimen dan kualitatif ini merupakan riset pustaka (literature research), karena kondisi pandemi Covid-19 tidak memungkinkan dilakukan riset lapangan. Data diperoleh dari buku cetak, sumber online, dan wawancara virtual. Data yang didapat akan dianalisis dengan metode eksperimen. Kesimpulan penelitian, diharapkan melalui kain Lurik ini terdapat pesan, nasihat dan panduan hidup yang ingin disampaikan, yang nantinya dapat terus menerus ditularkan kepada generasi berikutnya demi menjaga kelestarian kain tradisional Indonesia. Aplikasi pada kajian berikutnya dengan objek yang sejenis, masih sangat terbuka dan dapat dilanjutkan. The development of fashion today makes people selective in determining their lifestyle. Lifestyle is very closely related to fashion, because the existence of fashion will support one's appearance to make it more attractive and become a trend in society. Fashion products include products that can be consumed in the long term because these products are used with normal use for one year. Fashion products include clothing, shoes, bags, accessories, and others. The purpose of this research is to maintain the existence of lurik woven fabrics by developing motifs/ patterns and colors into the form of innovative footwear product designs by developing Javanese Pedan lurik woven fabrics aimed at urbanites in Indonesia. It is also hoped that it will enrich the development of fashion products with nuances of Indonesian culture so that it can increase the selling power of Javanese lurik woven fabric. This experimental and qualitative research is literature research, because the conditions of the Covid-19 pandemic make it impossible to conduct field research. Data were obtained from printed books, online sources and virtual interviews. The data obtained will be analyzed by experimental methods. The conclusion of the research is hoping through this Lurik cloth there will be messages, advice and life guidelines to be conveyed, which can later be continuously transmitted to the next generation in order to preserve Indonesian traditional cloth. Applications in subsequent studies with similar objects are still very open and can be continued.  
ESTETIKA SENI KALIGRAFI ISLAM PADA KUBAH MASJID AGUNG AL-MUNAWWARAH KOTA JANTHO Asdiana; Destri Wulanda; Alfikhairina Jamil
DESKOVI : Art and Design Journal Vol. 7 No. 1 (2024): JUNI 2024
Publisher : Universitas Maarif Hasyim Latif

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51804/deskovi.v7i1.16585

Abstract

Estetika yang mengkaji tentang keindahan akan menurun nilainya jika dikaitkan dengan kesenangan sensual atau duniawi. Sebaliknya, jika estetika dikaitkan dengan moral dan agama maka nilainya akan semakin tinggi. Kita dapat menemukan nilai estetika ini di dalam karya seni seperti karya Seni Kaligrafi atau Seni Khat. Seni Kaligrafi merupakan salah satu cabang seni rupa yang mampu memikat daya tarik seseorang dengan keindahan tulisannya. Dengan model Khat yang bermacam-macam Kaligrafi kemudian menjadi ornament bagi Masjid atau tempat-tempat suci lain dan menjadi bagian dari seni Arsitektur Islam. Macam-macam ukiran yang terdapat pada sisi dinding, tiang, bahkan atap Masjid menjadi Ikon ciri khas dari agama Islam. Kaligrafi mempunyai keistimewaan yang tidak dimiliki oleh karya seni lainnya. Khat murni lahir dari Seni Islam yang merupakan pengejawantahan firman Allah Swt yang suci. Tidak seperti karya seni lainnya yang mendapat pengaruh dari budaya non muslim seperti Musik, Arsitektur, Lukis dan lain sebagainya. Indonesia is a country rich in diversity, be it religion, ethnicity and culture. Aceh is one of the areas in Indonesia where the majority of the population is Muslim. This makes the Aceh region have many mosques with various shapes and beauty. The author will analyze the aesthetics of calligraphy at the Al Munawwarah Mosque in Jantho City. This mosque has a unique shape with a semicircular building with a very large dome. This study aims to examine the background of each calligraphy found on the inside of the dome of the Al Munawwarah Mosque in Jantho City. The research method uses a qualitative method by collecting data, direct observation of the research object and conducting interviews with sources from the mosque administrators and creators, collecting photo documentation. The results of this study indicate that on the dome of the Al Munawwarah Mosque in Jantho City there are 2 (two) types of calligraphy, namely tsuluts khat and kufi khat because they are easy to apply, especially on curved areas such as the area on the dome of the mosque. Using a dominant green color is preferred in Islam. Consists of the Al-Fatihah letter at the top which means umbrella and the main points of the contents of the Al-Quran as a guideline in our lives as Muslims. At the foot of the dome there is the Verse of the Chair as a reminder of the oneness of Allah SWT. And between the two are placed Asmaul Husna.
KARAWITAN TARI SEKAR PUDYASTUTI KARYA K.R.T. SASMINTADIPURA: STRUKTUR PENYAJIAN DAN GARAP KENDHANGAN Annisa Sari Megawati
DESKOVI : Art and Design Journal Vol. 7 No. 1 (2024): JUNI 2024
Publisher : Universitas Maarif Hasyim Latif

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51804/deskovi.v7i1.16590

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui serta mendeskripsikan pola penyajian dan garap kendhangan Tari Sekar Pudyastuti. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah deskriptif analisis, yaitu mendeskripsikan dan menganalisis struktur penyajian, bentuk gending, dan pola kendhangan yang digunakan dalam penyajian Tari Sekar Pudyastuti. Tari Sekar Pudyastuti merupakan sebuah tari klasik gaya Yogyakarta karya K.R.T. Sasmintadipura yang diciptakan pada tahun 1979, yang berfungsi sebagai tari permohonan dan berkembang menjadi tari penyambutan.Penyajian Karawitan Tari Sekar Pudyastuti diawali dengan Lagon Jugag Laras Pelog Pathet Barang yang digunakan untuk mengiringi kapang-kapang majeng dan dilanjutkan dengan Ladrang Srikaton Mataram, kemudian Bawa Sekar Kinanthi Mangu, dan Ladrang Mugi Rahayu serta diakhiri dengan Lagon Jugag Laras Pelog Pathet Barang untuk mengiringi kapang-kapang mundur. Sebagai iringan tari tunggal, Karawitan Tari Sekar Pudyastuti memiliki keunikan, satu tari yang menggunakan iringan dua gending bentuk yang sama yaitu bentuk ladrang.Hasil kesimpulan diperoleh bahwa garap kendhangan Tari Sekar Pudyastuti disesuaikan dengan struktur dan pola gerak tarinya yang merupakan pengembangan dari pola gerak dasar tari putri gaya Yogyakarta. Hal ini dapat diketahui dari sedikitnya sekaran kendhangan uyon-uyon yang diadopsi ke dalam Tari Sekar Pudyastuti meskipun bentuk dan struktur penyajiannya menggunakan garap uyon-uyon. This research aims to find out and describe the pattern of presenting and working kendhangan in the Sekar Pudyastuti Dance. The method used in this research is descriptive analysis, namely describing and analyzing the presentation structure, musical form, and kendhangan patterns used in the presentation of the Sekar Pudyastuti Dance. The Sekar Pudyastuti Dance is a Yogyakarta style classical dance by K.R.T. Sasmintadipura that was created in 1979, It functions as a supplication dance and has developed into a welcoming dance. The presentation of the Karawitan Sekar Pudyastuti Dance begins with Lagon Jugag Laras Pelog Pathet Barang which is used to accompany kapang – kapang majeng and continues with Ladrang Srikaton Mataram, then Bawa Sekar Kinanthi Mangu, and Ladrang Mugi Rahayu and ends with Lagon Jugag Laras Pelog Pathet Barang to accompany kapang – kapang back off. As a single dance accompaniment, Karawitan Tari Sekar Pudyastuti is unique, a dance that uses the accompaniment of two pieces of the same form, namely the ladrang form. The conclusion was that the work on the Sekar Pudyastuti Dance kendhangan was adapted to the structure and movement patterns of the dance, which was a development of the basic movement patterns of the Yogyakarta style women's dance. This can be seen from the small number of sekaran kendhangan uyon-uyon that have been adopted into the Sekar Pudyastuti Dance even though the form and structure of the presentation use garap uyon-uyon.
Perancangan Merchandise Sebagai Media Promosi Isbi Aceh Berbasis Ornament Aceh Andeska, Niko; Ghifari, Muhammad; Yuda, Rino
DESKOVI : Art and Design Journal Vol. 7 No. 2 (2024): DESEMBER 2024
Publisher : Universitas Maarif Hasyim Latif

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51804/deskovi.v7i2.15231

Abstract

Ornament sebagai salah satu sumber budaya Aceh selayaknya mendapatkan perhatian khusus dari berbagai pihak agar kehadiran ornament Aceh tetap terjaga, hal tersebut dapat dilakukan salah satunya melalui penciptaan cenderamata instansi pemerintahan. Institut Seni Budaya Indonesia sebagai salah satu instansi pemerintah dalam bidang pendidikan, peneliti menawarkan penerapan beberapa ornament Aceh yang pada karya cenderamata sebagai penguatan identitas visual Institut Seni Budaya Indonesia Aceh melalui keilmuan kriya dan desain dengan pendekatan estetik, merchandise yang akan diciptakan berupa plakat, selendang, pouch bag dan lainnya. Dengan demikian penciptaan cenderamata dengan menerapkan ornament Aceh dapat berfungsi sebagai pencitraan identitas visual Institut Seni Budaya Indonesia Aceh. Metode dan teknik dalam mewujudkan merchandise ini dengan menggunakan metode kreatif Design Thinking. Penelitian ini diawali membuat pattern yang kemudian ditransformasiken ke berbagai bentuk merchandise.
Makna Lirik dan Analisis Musikal Lagu Gending Sriwijaya Johanes Kristianto
DESKOVI : Art and Design Journal Vol. 7 No. 2 (2024): DESEMBER 2024
Publisher : Universitas Maarif Hasyim Latif

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51804/deskovi.v7i2.16293

Abstract

Penelitian ini bertujuan menganalisis lagu Gending Sriwijaya baik dari unsur musikal maupun makna pada lirik. Penelitian terhadap Lagu Gending Sriwijaya perlu dilakukan karena lagu ini banyak dinyanyikan dalam acara seremonial di institusi Buddhis, namun belum ada penelitian yang membahas tentang lagu ini, padahal lagu ini syarat nilai-nilai kesejarahan dan spiritual. Lagu Gending Sriwijaya merupakan bagian dari karya musik nusantara yang perlu diarsipkan karena memiliki kecenderungan hanya dituturkan tapi tidak ditulis ke dalam bentuk notasi, untuk itu perlu diarsipkan sebagai upaya pemajuan kebudayaan. Pemaknaan lirik juga perlu dilakukan dalam rangka upaya menginternalisasi nilai-nilai luhur ajaran Sang Buddha yang bersifat universal kepada umat manusia. Metode dalam penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif dengan berfokus pada analisis tekstual yang didukung melalui hasil wawancara pada 5 informan sebagai data sekunder. Untuk menginterpretasi makna pada lirik lagu Gending Sriwijaya menggunakan kajian semiotika Roland Barthes, terkhusus makna denotasi dan konotasi. Hasil wawancara informan ditranskrip verbatim dan direduksi, untuk nantinya dapat disajikan kepada pembaca. Hasil yang diperoleh melalui penelitian ini mengungkapkan makna denotasi dan konotasi dari masing-masing bait lagu Gending Sriwijaya, selain itu dari analisis aspek musikal diperoleh bahwa terdapat gerakan mix pada aspek melodi, terdapat pula dua jenis nilai not yang cenderung digunakan dalam lagu ini berupa nilai not satu ketuk dan setengah ketuk, terakhir lagu Gending Sriwijaya memiliki bentuk nyanyian tiga bagian, yang berbentuk A-B-A.