cover
Contact Name
Dr. Supian, S.Ag., M.Ag.
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
jurnaltitian.fib@unja.ac.id
Editorial Address
Gedung G, LT. III, Fakultas Ilmu Budaya Universitas Jambi, Mendalo, Jambi
Location
Kota jambi,
Jambi
INDONESIA
Titian: Jurnal Ilmu Humaniora
Published by Universitas Jambi
ISSN : 26153440     EISSN : 25977229     DOI : -
Titian merupakan jurnal ilmiah akademik dalam bidang kajian ilmu Humaniora (budaya) yang diterbitkan oleh Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Jambi. Penerbitan jurnal ini dimaksudkan untuk mempublikasikan berbagai artikel hasil penelitian, studi kepustakaan, studi lapangan, gagasan konseptual, kajian penerapan teori dalam bidang ilmu humaniora. Jurnal ini dapat ditulis dalam bahasa Indonesia, Inggris, maupun Arab. Jurnal ini mengutamakan pendekatan lintas disiplin yang menggabungkan ilmu bahasa (linguistik), ilmu sastra (Daerah, Indonesia, Inggris, Arab), Sejarah, Arkeologi, Seni, Sosiologi, Antropologi, Etnografi dan Agama. Jurnal Titian terbit secara berkala dua kali setahun pada bulan Juni dan Desember.
Articles 235 Documents
TRADISI GANDAI: DARI PERMAINAN ANAK SAMPAI MODAL KULTURAL MASYARAKAT KOTA JAMBI Defni Aulia; Mahdi Bahar; Indra Gunawan
Titian: Jurnal Ilmu Humaniora Vol. 2 No. 02 (2018): Desember 2018
Publisher : Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Jambi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (238.01 KB) | DOI: 10.22437/titian.v2i02.5801

Abstract

Begandai adalah tradisi musikal yang tumbuh di dalam masyarakat Dusun Jambu Kecamatan Lahan Panjang Kabupaten Tebo Ulu Provinsi Jambi. Kesenian tersebut merupakan aktifitas tradisi yang biasa dilakukan oleh anak-anak, dan secara satu kesatuan dapat digolongkan kedalam jenis musik perkusi. Akibat faktor fungsional akan kebutuhan masyarakat yang beragam, menyebabkan kesenian tersebut tidak dapat bertahan atau punah di dalam lingkungan masyarakat Dusun Jambu, namun, atas dasar kepedulian para kreator seni di Taman Budaya Jambi tentang perspektif kesenian sebagai kebutuhan dalam menjaga integrasi sosial masyarakat, membawa tradisi musikal Begandai yang punah di Dusun Jambu dapat tumbuh kembali dalam tempat dan wilayah baru, yaitu di Taman Budaya Jambi, Kota Jambi. Berdasarkan fenomena tersebut, dilakukan suatu pengamatan, wawancara, dan pengumpulan data secara intensif untuk mengetahui konkrisitas perubahan tradisi Begandai setelah direkreasikan oleh seniman di Taman Budaya Jambi, dan kemudian disusun dalam laporan penelitian kualitatif berbentuk skripsi. Hasil verifikasi dan analisa data secara signifikan, tradisi musikal tersebut mengalami perubahan inovatif pada struktur tekstual dan kontekstual, bahwa tradisi Begandai setelah diadaptasi mengalami pergantian nama menjadi Begandai Batok, dengan sistem penggarapan komposisi musik lebih variatif dari bentuk aslinya, juga lebih banyak menggunakan instrument musik perkusi klasifikasi idiophone dan membranophone, serta difungsikan sebagai sarana hiburan yang ditampilkan dan dipertontonkan dalam seni pertunjukan formal. Selain itu, kepunahan tradisi musikal dalam lingkungan masyarakat Dusun Jambu, kemudian diaktualisasikan ke dalam nuansa baru oleh kelompok masyarakat Kota Jambi, bukan hanya menjaga nilai luhur suatu identitas tradisi yang lahir dalam masyarakat saja, tetapi juga menjaga eksistensi kelompok masyarakat Kota Jambi dalam pluralitas pergaulan multi etnis.
UNGKAPAN TRADISIONAL MASYARAKAT KERINCI: KAJIAN BENTUK DAN TELAAH MAKNA sovia wulan wulandari; hadiyanto hadiyanto
Titian: Jurnal Ilmu Humaniora Vol. 2 No. 02 (2018): Desember 2018
Publisher : Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Jambi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (413.324 KB) | DOI: 10.22437/titian.v2i02.5802

Abstract

Hal yang melatarbelakangi penelitian ini adalah pentingnya untuk pendokementasian dan penginventarisasian ungkapan tradisional masyarakat kerinci sebagai bentuk pelestarian bahaya melayu Kerinci. Adapun yang menjadi tujuan penelitian ini adalah untuk mendeskripsikan bentuk dan makna ungkapan tradisional masyarakat Kerinci yang digunakan dalam kehidupan sehari-hari sebagai alat pendidikan informal dan kontrol sosial. Metode atau pendekatan yang digunakan adalah pendekatan kualitatif yang mengutamakan ketajaman analisis terhadap data. Berdasarkan hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa bentuk ungkapan yang terdokumentasi sebanyak 125 ungkapan. Ungkapan-ungkapan tersebut ada yang berbentuk peribasa, pepatah, dan kiasan.
Pemetaan Bahasa Daerah di Provinsi Jambi Ade Kusmana; Murfi saputra; Julisah Izar
Titian: Jurnal Ilmu Humaniora Vol. 2 No. 02 (2018): Desember 2018
Publisher : Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Jambi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (403.518 KB) | DOI: 10.22437/titian.v2i02.5810

Abstract

In general, this study aims to document the use of regional languages ​​in Jambi Province, especially in Tanjung Jabung Timur and Tanjung Jabung Barat Regency. The documentation was presented in the form of maps based on the ​​distribution area of the regional languages that was ​​researched. Then, the map contained the description of the use the regional languages ​​studied based on the social aspects of the speakers' community. Thus, it clearly illustrates the area of ​​language mapped and also as information for other researchers in conducting further research. This research in the field of sociolinguistics studies that used descriptive qualitative approach. The providing data were used observation and interviewing directly informants. Formally, the results of data analysis were presented in the form of a language region map, including information with the use of symbols or sign systems. Based on the results of the study showed, There were 5 regional languages, namely, Malay, Banjar, Bugis, Javanese, and Bajau (tungkal).
RAGAM ARSITEKTUR RUMAH TRADISIONAL MELAYU JAMBI: SUATU KAJIAN ARKEOLOGI ARSITEKTUR DALAM UPAYA PELESTARIAN WARISAN BUDAYA DAN PEMAJUAN KEBUDAYAAN MELAYU JAMBI Asyhadi Mufsi Sadzali; Yusdi Anra
Titian: Jurnal Ilmu Humaniora Vol. 2 No. 02 (2018): Desember 2018
Publisher : Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Jambi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1323.238 KB) | DOI: 10.22437/titian.v2i02.5812

Abstract

Rumah dalam kebudayaan masyarakat Melayu Jambi diposisikan tidak sebatas tempat tinggal, namun juga sebagai pandangan hidup dan ekspresi dari kehidupan itu sendiri. Landasan konseptual ini tertuang dalam seloko adat “Umah deh umah pateli, umah belampit balembago, ka ateh batutup dengan bubung pirak, kabawah ba aleh badendi gading. Ka ateh batutup dengan bubung pirak itu yang dinamokan syarak, di bawah ba aleh basendi gading itu dinamaokan adat, syarak mengato adat memakai”, yang secara garis besar berisi tentang pembelajaran dan penerapan aturan sosial masyarakat melayu Jambi yang dimulai dari rumah lalu ke lingkungan sekitar, serta dalam berinteraksi sosial antara individu dengan idividu, individu dengan alam, dan individu dengan tuhan sang pencipta. Namun pada masa belakangan ini, jumlah dan nilai penting arsitektur tradisional melayu Jambi secara perlahan terkikis moderninasisi dan terpinggirkan oleh arsitektur modern. Kelangkaan arsitektur tradisional melayu Jambi menjadi satu bukti atas fenomena terkini masyarakat melayu Jambi, sehingga memunculkan rumusan permasalahan penelitian yakni, 1) Bagaimana ragam bentuk, ornament serta motif hias pada arsitektur rumah tradisional melayu Jambi? 2) Bagaimana pola tata ruang arsitketur rumah tradisional melayu Jambi? 3) Nilai-nilai luhur apa saja yang terkandung dalam ragam arsitektur rumah tradisional melayu Jambi? Ppertanyaan peneletian ini akan dijawab dengan pendekatan metode arkeologi yang secara lebih spesifik terdiri dari; pengumpulan data arkeologis dan data literature, kemudian pengolahan data arsitktural baik bentuk, tata ruang, dan ornament hias, selanjutnya data yang diolah dijadikan landasan interpretasi untuk menjawab pertanyaan penelitian yang akan mengarahkan pemahaman masyarakat melayu Jambi atas nilai-nilai luhur dan pentingnya arsitketur tradisional melayu Jambi dalam mengutkan akar identitas maysrakat melayu Jambi.
KAJIAN SENI ISLAM ARSITEKTUR DAN RAGAM HIAS MESJID KUNO DI DATARAN TINGGI JAMBI: SUATU KAJIAN ARKEOLOGI ISLAM DALAM UPAYA MELESTARIKAN DAN MENGEMBANGKAN ISLAM MELAYU JAMBI. Asyhadi Mufsi Sadzali; Yundi Fitrah
Titian: Jurnal Ilmu Humaniora Vol. 2 No. 02 (2018): Desember 2018
Publisher : Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Jambi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (294.372 KB) | DOI: 10.22437/titian.v2i02.5813

Abstract

Islam adalah agama yang sangat tegas dalam akidah, kesesuaian Tuhan (Tauhid) serta ibadat. Tetapi dalam masalah-masalah kemasyarakatan (mu’amalat), Islam bersikap akomodatif. Demikiannlah terhadap hukum adat, misalnya Islam dapat menerima sepanjang tidak bertentangan dengan kaidah-kaidah dasar. Dalam sejarah Islam, hal di atas bisa dilihat misalnya dalam perkembangan komunitas Muslim di wilayah Indonesia yang mulai tumbuh dari kantung-kantung pemukiman berskala kecil. Pada masa-masa awal perkembangannya, proses Islamisasi ditandai dengan konversi keislaman para penguasa di wilayah pesisir atau kota pelabuhan, yang kemudian disusul peran mereka sebagai pelindung dan pengembangan pusat-pusat penyiaran agama Islam di wilayah masing-masing. Indonesia sebagai suatu negara dengan beragam suku bangsa, tentulah mempunyai beraneka ragam bentuk arsitektur mesjid kuno yang apabila dijumlahkan secara keseluruhan kurang lebih sama banyak dengan jumlah kabupaten/kota yang ada di Indonesia. Satu sama lain memiliki ragam bentuk, ornament yang berbeda-beda, namun diantaraya terkadang terdapat juga kesamaan. Ciri khas yang menjadi persamaan ini bisa kita lihat pada bagian umpak, lantai yang ditinggikan, atap berkemucak dengan bubungan pada atap yang dipanjangkan. Melalui penelitian ini, keberagaman arsitektur masjid kuno di wilayah dataran tinggi Jambi akan diungkap dengan metode arkeologi, ang lebih sepsifik arsitektur arkeologi. Adapun permasalahan yang dicoba diungkap meliputi, bagiamana ragam bentuk arsitketur, bagaiamana ragam hias dan ornament, bagaimana pola tata ruang,dan pemaknaan dibalik motif dan tataruang masjid. Hasil akumulasi analysis data, akan mampu menjawab nilai-nilai penting dan kearifan lokal masyarakat dataran tinggi kerinci dalam hal seni arsitektur islam.
EKSISTENSI DAN PENERAPAN HUKUM ADAT MELAYU DI KOTA JAMBI Fatonah Nurdin; Supian supian; Denny Defrianti
Titian: Jurnal Ilmu Humaniora Vol. 2 No. 02 (2018): Desember 2018
Publisher : Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Jambi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (329.227 KB) | DOI: 10.22437/titian.v2i02.6082

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk menghasilkan data kualitatif melalui pendekatan ekstrinsik, yaitu pandangan dan penilaian peneliti dari kacamata netral guna mengetahui dan memahami eksistensi dan penerapan hukum adat melayu di Kota Jambi, selain itu juga bertujuan untuk memahami sejarah hukum adat melayu Jambi. Fokus penelitian ini adalah eksistensi dan penerapan hukum adat melayu di kota Jambi. Dengan menggunakan metode deskriptif dalam ranah kebudayaan. Latar belakang dari penelitian ini adalah dimulai dari melihat proses lahirnya sejarah hukum adat melayu Jambi dan apa mendasari hukum adat bagi masyarakat melayu Jambi hingga eksistensi dan penerapannya. Jika hukum negara penerapannya hanya bisa menagati masalah. Maka hukum adat melayu mampu menyelesaikan masalah. Hasil penelitian ini memperlihatkan bahwa sejak masuknya di Jambi hukum adat melayu Jambi belandaskan pada ajaran Islam. Pucuk induk undang nan lima menjadi dasar hukum adat melayu Jambi. Selain itu dikenal empat ragam adat melayu Jambi. Semua ketentuan adat bersumber pada Al-qur’an dan hadist. Hal ini tercermin pada pepatah adat “adat bersendi syarak, syarak bersendi kitabullah.” Dan seloko adat “syarak mengato, adat memakai.” Simpulannya, Hukum adat melayu memiliki peranan yang sangat penting bagi mayarakat Jambi sebagai pedoman dan kontrol sosial masyarakat melayu di kota Jambi disamping hukum negara. Dengan demikian, dengan adanya kesadaran hukum adat sehingga terciptanya keselarasan dan ketertiban yang terdapat dalam masyarakat.
PEMILIHAN BAHASA DAN SIKAP BAHASA PADA MASYARAKAT PONDOK TINGGI KERINCI ERNANDA ERNANDA
Titian: Jurnal Ilmu Humaniora Vol. 2 No. 02 (2018): Desember 2018
Publisher : Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Jambi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (322.248 KB) | DOI: 10.22437/titian.v2i02.6087

Abstract

This study aims at investigating language choice and language attitudes among the Pondok Tinggi community, in the Kerinci region, Indonesia. The subjects of this study were two groups of informants consisting of 10 members of the older generation and 10 of the younger. A sociolinguistic questionnaire was used to explore the language choice of the informants and an interview was conducted to examine attitudes towards the languages they speak. The results of this study show that the older generation uses Pondok Tinggi in various domains and for different functions while most of the younger generation has started to leave it behind and instead uses the dominant languages, like Indonesian and Minangkabau. The language attitude of both generations towards Indonesian is very positive. It is considered to have economic value and is useful for the future. The old generation shows a neutral attitude towards Minangkabau. The attitude towards Minangkabau tends to be generally positive among the younger generation. It is considered as a social language. The younger generation expressed a negative attitude towards Pondok Tinggi, considering it unsophisticated and of no economic value. Although the older generation uses Pondok Tinggi in daily life, their attitude towards it is not positive. Parents do not transmit Pondok Tinggi to children in the home domain. When intergenerational transmission breaks down, there will be a sharp decline in the use of Pondok Tinggi. Sooner or later it will lose its speakers. Without speakers, it will die.
ANALISIS UNGKAPAN MAKIAN DALAM BAHASA KERINCI: STUDI SOSIOLINGUISTIK Ade Kusmana; Rengki Afria
Titian: Jurnal Ilmu Humaniora Vol. 2 No. 02 (2018): Desember 2018
Publisher : Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Jambi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (425.933 KB) | DOI: 10.22437/titian.v2i02.6090

Abstract

Penelitian ini mencoba menjawab bentuk dan karakteristik ungkapan Makian dalam bahasa Kerinci. Penelitian ini bertujuan untuk menjelaskan,, menganalisis dan mendeskripsikan ungkapan makian yang ada di Kabupaten Kerinci. Penelitian ini termasuk dalam jenis penelitian deskriptif kualitatif dengan pendekatan linguistik makro. Metode yang digunakan metode kualitatif. Objek penelitian ini ialah bahasa Kerinci, sasaran penelitian ini mencakupi tuturan yang bersumber penutur tersebut. Sumber data penelitian ini adalah data-data bahasa makian yang bersumber dari data lisan di lapangan. Instrumen yang digunakan adalah berupa alat rekam/kamera dan alat tulis.Metode dan teknik penyediaan data adalah metode cakap (teknik pancing dan teknik cakap semuka) dan metode simak (Teknik simak libat cakap dan teknik catat). Metode analisis data menggunakan metode analisis makna. Temuan data di lapangan referens dan bentuk penggunaan ungkapan makian dapat disimpulkan bahwa penggunaan bahasa makian di kabupaten Kerinci berdasarkan pemerolehan inventarisasi dan analisis data di lapangan didapatkan 7 bentuk makian, yaitu bentuk keadaan, kekerabatan, binatang, mahkluk halus, bagian tubuh, profesi, dan seruan. Jumlah dari semua data yang dihimpun dari 7 bentuk makian tersebut diperoleh 170 data makian. Dari temuan data tersebut didapatkan bahwa bentuk makian keadaan mendominasi data sebanyak 85 data (50%), hal ini disebabkan di dalam bentuk keadaan ini mempunyai turunan atau referensinya sebanyak 4 turunan, yakni tindakan, sifat, sumpah serapah, dan penyakit. Berikutnya adalah bentuk bagian tubuh sebanyak 21 data (12%); bentuk seruan sebanyak 18 data (11%); bentuk profesi sebanyak 13 data (8%); bentuk etnis 6 data (4%); dan terakhir bentuk mahkluk halus 4 data (2%). Dalam pengungkapan bahasa makian tersebut tentu ada beberapa factor penyebab munculnya makian, diantaranya adalah factor social dan situasional. Dengan adanya bahasa makian dan factor penyebabnya terdapat dampak penggunaan bahasa makian itu sendiri menurunnya kualitas bahasa dan rendahnya gejala-gejala social.
TARI SKIN SEBAGAI IDENTITAS KEHIDUPAN MASYARAKAT KABUPATEN MERANGIN Pamela Mikaresti Ramlan; Mahdi Bahar; Indra Gunawan
Titian: Jurnal Ilmu Humaniora Vol. 2 No. 02 (2018): Desember 2018
Publisher : Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Jambi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (297.91 KB) | DOI: 10.22437/titian.v2i02.6094

Abstract

Tari skin merupakan tarian rakyat Merangin yang merefleksikan kebudayaan dan keseharian masyarakat Kabupaten Merangin. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan identitas budaya masyarakat Kabupaten Merangin melalui latar belakang penciptaan tari skin. Metode penelitian ini menggunakan penelitian etnografi-kualitatif dalam pendekatan fenomenologi di mana data diperoleh melalui pengamatan langsung dengan cara observasi, wawancara, perekaman, pemotretan dan menyususn laporan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tari skin menggambarkan identitas budaya masyarakat Kabupaten Merangin khususnya melalui latar belakang penciptaan tari skin. Di setiap gerak pada tari skin menunjukkan gambaran identitas kehidupan perempuan Kabupaten Merangin. Hal ini dapat dilihat melalui karakteristik gerak tari skin yang menggambarkan perempuan-perempuan yang tangguh, kuat, dan mandiri.
MEMBANGUN KARAKTER ANAK MELALUI TEATER: PERTUNJUKAN TEATER LARI KE BULAN DAN DONGENG ANAK KARYA/SUTRADARA SYUHENDRI Monita Precilia
Titian: Jurnal Ilmu Humaniora Vol. 3 No. 1 (2019): Juni 2019
Publisher : Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Jambi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (405.307 KB) | DOI: 10.22437/titian.v3i1.7014

Abstract

Tujuan dari penelitian ini adalah menjelaskan pertunjukan teater Lari ke Bulan dan Dongeng Anak karya/sutradara Syuhendri merubah karakter anak yang tergabung dalam komunitas Tanah Ombak di Kampung Purus Padang. Penelitian ini menggunakan penelitian kualitatif bercorak reflektif yang terbagi ke dalam tiga bentuk yaitu (1) pendidikan seni, (2) fenomenologi refleksi, dan (3) penelitian heuristik. Hasil penelitian ini karya teater Lari ke Bulan dan Dongeng Anak mengandung suatu elemen atau paradoksal atau dialektika teater yang juga dinamakan sebagai dialektika ambiguitas. Pertunjukan Lari ke Bulan dan Dongeng Anak dapat dikatakan pertunjukan yang melihat dirinya sendiri (cermin). Cerita-cerita yang tercermin di dalamnya membuat orang-orang memberikan perhatian, membuat penonton menangis, tertawa atau mencapai suatu keputusan revolusi yang meningkat. Karya teater Lari ke Bulan dan Dongeng Anak memberikan transendensi dan relaksasi sedemikian rupa sehingga pertunjukan tersebut merupakan integral dari anak-anak tersebut. Pertunjukan Lari ke Bulan dan Dongeng Anak merupakan suatu ekspresi dari anak-anak yang mampu membangun karakter.

Page 4 of 24 | Total Record : 235