cover
Contact Name
Dr. Supian, S.Ag., M.Ag.
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
jurnaltitian.fib@unja.ac.id
Editorial Address
Gedung G, LT. III, Fakultas Ilmu Budaya Universitas Jambi, Mendalo, Jambi
Location
Kota jambi,
Jambi
INDONESIA
Titian: Jurnal Ilmu Humaniora
Published by Universitas Jambi
ISSN : 26153440     EISSN : 25977229     DOI : -
Titian merupakan jurnal ilmiah akademik dalam bidang kajian ilmu Humaniora (budaya) yang diterbitkan oleh Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Jambi. Penerbitan jurnal ini dimaksudkan untuk mempublikasikan berbagai artikel hasil penelitian, studi kepustakaan, studi lapangan, gagasan konseptual, kajian penerapan teori dalam bidang ilmu humaniora. Jurnal ini dapat ditulis dalam bahasa Indonesia, Inggris, maupun Arab. Jurnal ini mengutamakan pendekatan lintas disiplin yang menggabungkan ilmu bahasa (linguistik), ilmu sastra (Daerah, Indonesia, Inggris, Arab), Sejarah, Arkeologi, Seni, Sosiologi, Antropologi, Etnografi dan Agama. Jurnal Titian terbit secara berkala dua kali setahun pada bulan Juni dan Desember.
Articles 235 Documents
BUYA HAMKA: KETELADANAN MULTITALENTA TANAH MELAYU NUSANTARA Mahdi Bahar; Hartati M
Titian: Jurnal Ilmu Humaniora Vol. 3 No. 1 (2019): Juni 2019
Publisher : Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Jambi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (582.798 KB) | DOI: 10.22437/titian.v3i1.7022

Abstract

Buya HAMKA adalah tokoh Multi Talenta Nusantara banyak meninggalkan karya tulis, selain sebagai ulama, sastrawan, pendakwah, dan politikus. Sepanjang hayatnya senantiasa memperjuangkan ideologi berbasis ajaran tauhid. Suka dan duka, segudang pengalaman, pahit dan manis dijalani Buya HAMKA. Penghargaan demi pengahragaan diperolehnya, baik nasional maupun internasional. “Kebesaran” Buya HAMKA yang ditunjukkan melalui karya dan aktivitas semasa hidup, diteroka di tanah alam perjuangan mengisi kemerdekaan. Sekalipun perjuangan beresiko masuk penjara, namun akhirnya pemerintah Republik Indonesia menganugerahkan gelar Pahlawan Nasional kepada Buya HAMKA. Ketokohan Buya HAMKA merupakah anugerah yang patut ditauladani oleh para generasi di persada Nusantara.
ADAT PERKAWINAN SUKU BUGIS DI KOTA JAMBI: STUDI TENTANG PERUBAHAN SOSIAL Siti Syuhada; Apdelmi Apdelmi; Abd Rahman
Titian: Jurnal Ilmu Humaniora Vol. 3 No. 1 (2019): Juni 2019
Publisher : Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Jambi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (296.121 KB) | DOI: 10.22437/titian.v3i1.7023

Abstract

Masyarakat Bugis menganggap bahwa upacara perkawinan merupakan sesuatu hal yang sangat sakral, artinya mengandung nilai-nilai yang suci. Terdapat bagian-bagian tertentu pada rangkaian upacara tersebut yang bersifat tradisional. Dalam perkembangannya, masyarakat Bugis tidak hanya berdomisili di daerah Sulawesi saja akan tetapi telah menyebar ke berbagai wilayah Indonesia, salah satunya adalah di kota Jambi. Orang-orang Bugis membentuk komunitas tersendiri, dengan berbagai adat dan tradisi termasuk memelihara adat perkawinan yang masih berlaku sampai sekarang Dalam acara perkawinan pada masyarakat Bugis yang ada di kota Jambi ada dua tahap dalam proses pelaksanaan upacara perkawinan masyarakat Bugis yaitu, tahap sebelum dan sesudah akad perkawinan. Dalam tradisi masyarakat Bugis, pengadaan pesta perkawinan sangatlah diharuskan. Hal itu berkaitan erat dengan status sosial mereka dalam masyarakat. Semakin meriah penyelenggaraan pesta perkawinan, semakin tinggi status sosial mereka di masyarakat. Hukum adat perkawinan mengatur aturan hukum adat yang mengatur tentang bentuk-bentuk perkawinan, cara-cara pelamaran, upacara perkawinan. Suku Bugis yang ada di kota Jambi sangat memperhatikan adat perkawinan dan dianggap dapat menaikkan status sosial di masyarakat terutama di kota Jambi sehingga dapat mempertahankan adat-istiadat suatu kelompok masyarakat agar terhindar dari kepunahan dan sebagai bukti mencintai serta menghargai adat perkawinan yang diperoleh dari daerah asal masyarakat suku Bugis yaitu dari Sulawesi Selatan.
BAHASO JAEK DALAM MASYARAKAT SIULAK KERINCI: KAJIAN PRAGMATIK Yelnim Yelnim
Titian: Jurnal Ilmu Humaniora Vol. 3 No. 1 (2019): Juni 2019
Publisher : Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Jambi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (406.431 KB) | DOI: 10.22437/titian.v3i1.7024

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis bahaso jaek digunakan oleh penutur bahasa Siulak di Kerinci. Analisis ini berfokus pada fungsi jaek bahaso. Data dikumpulkan dengan menggunakan metode observasional dengan wawancara, catatan, dan mencatat teknik. Analisis dilakukan dengan menggunakan metode distribusional dengan substitusi, penghapusan, dan teknik penyisipan untuk mengetahui bentuk jaek bahaso. Data juga dianalisis dengan menggunakan translasi, referensial, dan metode identitas pragmatis untuk menggambarkan arti, dan fungsi bahaso jaek. Analisis ini berkaitan dengan konsep yang diajukan oleh Chaer (1994); dan Wardhaugh (1986); dan Searle (1969) hasil an menunjukkan bahwa ada tiga fungsi bahaso Jaek. Mereka adalah (1) perwakilan, (2) direktif, dan (3) ekspresif. Ekspresif digunakan sebagai frekuensi tertinggi. Ini berarti bahwa melalui fungsi ini, perasaan pembicara dapat dinyatakan mendalam.
SIMETRIS PRESISI: WAJAH ARSITEKTUR KOLONIAL KOTA TAMBANG SAWAHLUNTO Asyhadi Mufsi Sadzali
Titian: Jurnal Ilmu Humaniora Vol. 3 No. 1 (2019): Juni 2019
Publisher : Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Jambi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (796.707 KB) | DOI: 10.22437/titian.v3i1.7025

Abstract

Banyak kota di dunia yang secara massive mengembangkan konsep arsitektur yang dilandasi oleh beragam faktor, semisal konsep arsitketur yang dipengaruhi faktor lingkungan, gaya hidup filosofis religi, aspek simbolis tradisional, juga terkiat fungsi guna lahan semisal pertambangan. Pada landasan faktor terkahir, mamunculkan beberapa contoh kota tambang yang secara konsep oleh para arsiteknya diberi wajah kota yang khas sesuai dengan fungsi lahan ‘yakni tambang’. Pada pendalaman kajian arsitektur yang dilakukan, maka dalam hal ini peneliti menguraikan data arkeologi berupa bangunan kolonial dengan menggunakan metode arkeologi, yang selanjutnya secara spesifik terdiri dari tahap pengumpulan data pustaka, pengumpulan data arkeologi, identifikasi data arsitektur, analysis data (morfologi, fungsi bangunan, dan gaya arsitektur), sehingga kemudian dapat ditarik suatu kesimpulan. Hipotesa yang ditemukan bahwa wajah kota tambang kolonial Sawahlunto dihiasi oleh gaya bangunan yang lahir dari adaptasi antara gaya Eropa, dan campuran lokal, namun besar juga dipengauruhi efiseinsi fungsi bangunan. Aspek seni estetis tidak terlalu dimunculkan, sehingga bentuk presisi simetris adalah gaya yang paling menonjol dalam wajah-wajah orang-orang tambang Sawahlunto tempo dulu.
ANALISIS ASPEK GRAMATIKAL DAN LEKSIKAL PADA CERPEN KETEK IJO KARYA M. FAJAR KUSUMA julisah izar; Rengki Afria; Dimas Sanjaya
Titian: Jurnal Ilmu Humaniora Vol. 3 No. 1 (2019): Juni 2019
Publisher : Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Jambi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (470.946 KB) | DOI: 10.22437/titian.v3i1.7026

Abstract

Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui: (1) Bagaimana bentuk kohesi gramatikal yang terdapat pada cerpen Ketek Ijo karya M.Fajar Kusuma dan (2) Bagaimana bentuk kohesi leksikal pada cerpen Ketek Ijo karya M.Fajar Kusuma Jenis penelitian ini adalah kualitatif deskriptif. Data dianalisis dengan menggunakan metode padan dan agih. Metode padan yang digunakan adalah metode padan referensial dengan teknik lanjutan unsur pilah penentu (PUP), yaitu dengan memilah kalimat-kalimat yang memiliki penanda kohesi gramatikal dan leksikal. Teknik dasar yang digunakan dalam metode agih adalah bagi unsur langsung (BUL). Keabsahan data diperoleh dari ketekunan pengamatan dan triangulasi. Instrumen penelitian adalah humant instrument. Peneliti menjadi alat pengumpul data utama sekaligus menganalisis langsung data yang telah dikumpul tersebut Hasil penelitian menunjukkan hal-hal berikut. Pertama, bentuk penanda kohesi gramatikal yang muncul adalah referensi, substitusi, konjungsi, dan elipsis. Kedua, bentuk kohesi leksikal yang muncul adalah repetisi, sinonimi, antonimi, hiponimi, kolokasi dan metonimia.
PRASASTI-PRASASTI SAPATHA SRIWIJAYA: KAJIAN PANOPTISISME FOUCAULT Nainunis Aulia Izza
Titian: Jurnal Ilmu Humaniora Vol. 3 No. 1 (2019): Juni 2019
Publisher : Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Jambi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (811.791 KB) | DOI: 10.22437/titian.v3i1.7027

Abstract

Kajian ini dilakukan guna menelaah prasasti-prasasti sapatha Sriwijaya melalui perspektif panopticon Michel Foucault. Tujuannya adalah untuk menganalisis latar belakang pencantuman kutukan atau sapatha pada prasasti-prasasti tertua Sriwijaya dan hubungannya dengan pemikiran Foucault mengenai panoptisisme. Berdasarkan pembahasan yang telah dilakukan, pertama pencantuman sapatha pada prasasti-prasasti tertua Sriwijaya bertujuan sebagai upaya melakukan kontrol terhadap wilayah dan penduduk yang berada di wilayah Sriwijaya. Kedua, sapatha pada prasasti-prasasti tertua Sriwijaya dapat dikaitkan dengan upaya mempertahankan wilayah-wilayah strategis dengan menempatkan pihak-pihak yang dikuasai sebagai subjek yang selalu diintai sapatha jika melakukan kejahatan dan pengkhianatan.
NILAI-NILAI YANG TERKANDUNG DALAM TRADISI LISAN BIDUK SAYAK MASYARAKAT DESA JERNIH Irma Suryani; Dwi Rahariyoso; Rio Yudha Maulana
Titian: Jurnal Ilmu Humaniora Vol. 3 No. 1 (2019): Juni 2019
Publisher : Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Jambi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (463.707 KB) | DOI: 10.22437/titian.v3i1.7028

Abstract

Tujuan penelitian ini mendeskripsikan nilai-nilai yang terkandung dalam tradisi lisan Biduk Sayak masyarakat desa Jernih. Penelitian ini dilakukan di Desa Jernih Kecamatan Air Hitam Kabupaten Sarolangun Provinsi Jambi. Unsur-unsur yang terkandung dalam tradisi lisan biduk sayak, terdiri atas seniman tradisi lisan biduk sayak, alat musik, waktu dan tempat pertunjukan, kostum pemain, penonton, dan lagu yang disajikan dalam pementasan tradisi lisan biduk sayak. Keunikan tradisi lisan biduk sayak antara lain, Senimannya terdiri atas: pemain biola dengan senar tiga, pemain kicer/kecir, penggendang ketipung, penggendang celiti, dan vokalis atau penyanyi. Keunikan selanjutnya yaitu, Lirik lagu bentuk seperti pantun dan satu baid dengan baid lainnya saling terkait. Lirik-lirik suatu lagu pada suatu acara misalnya pernikahan, bisa saja digunakan untuk acara turun mandi, yang penting maknanya sampai dan cocok. Nilai-nilai yang terkandung dalam tradisi lisan biduk sayak yaitu nilai budaya, moral, dan religius. Nilai budaya yang ditemukan yaitu ketakwaan, bersyukur, kerukunan, kasih sayang, harapan, pengorbanan, keikhlasan, kesopanan, dan memberi nasihat, Selanjutnya nilai moral yang ditemukan dalam tradisi lisan biduk sayak yaitu tolong menolong dan saling menghargai. Nilai religius yang ditemukan ialah akhlak, keikhlasan, dan kedisiplinan.
LEGITIMASI SENIMAN DAN KARYA SENI DI TAMAN BUDAYA JAMBI (TINJAUAN SOSIOLOGI SENI) Defni Aulia; Mahdi Bahar; M Ardhi Gunawan; Indra Gunawan; Wahyu Pratomo; Muhammad Alfath
Titian: Jurnal Ilmu Humaniora Vol. 3 No. 1 (2019): Juni 2019
Publisher : Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Jambi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (369.393 KB) | DOI: 10.22437/titian.v3i1.7029

Abstract

Seniman dan karya seni bernuansa tradisional yang berada pada tatanan kode kultural masyarakat Jambi, adalah akumulasi modal kultural yang dilegitimasi pemerintah Provinsi Jambi untuk membentuk identifikasi distingtif sebagai citra kultural di luar batas teritorial Provinsi Jambi. Suatu mekanisme tindakan deviasi diferensial yang dilakukan oleh pemerintah dalam menjalankan otoritas otonom atau desentralisasi politik lokal, yang merupakan upaya untuk membedakan diri dari lajur Kebudayaan Minangkabau dan Melayu Islami yang selama ini sudah menyatu dan mendominasi dalam struktur sosial masyarakat Jambi.
SENI PERTUNJUKAN TARI ZAPIN API DI RUPAT UTARA BENGKALIS PROVINSI RIAU Nike Suryani; Laila Fitriah
Titian: Jurnal Ilmu Humaniora Vol. 3 No. 1 (2019): Juni 2019
Publisher : Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Jambi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (318.93 KB) | DOI: 10.22437/titian.v3i1.7030

Abstract

Tari zapin adalah salah satu jenis tarian yang ada di daearah Riau, hampir diseluruh kabupaten mempunyai tari zapin. Salah satunya tari zapin api, merupakan tradisi asli dari daerah Rupat Utara Tari zapin ini merupakan salah satu budaya lokal yang memiliki keunikan dan perbedaan dengan zapin lainnya. Tari Zapin Api adalah salah satu seni pertunjukan yang sangat terkenal di Kabupaten Bengkalis khususnya di daerah Rupat Utara. Tari Zapin Api merupakan sebuah pertunjukan yang menggabungkan tari dan musik dalam penampilannya. Tari zapin ini sangat erat hubungannya dengan alat musik gambus,. Berdasarkan fenomena tersebut, penulis merasa perlu untuk melakukan penelitian yang lebih mendalam mengenai Unsur-unsur Tari Dan Unsur-unsur Musik pada tari Zapin Api. Dengan tujuan untuk mengetahui unsur tari Zapin Api dan unsur-unsur Musik. Teori dalam penulisan ini adalah teori seni pertunjukan memiliki fungsi yang sangat komplek dalam kehidupan manusia. Curh, nt Sachs mengutarakan, bahwa ada dua fungsi utama tari, yaitu (1) untuk tujuan-tujuan magis: dan (2) sebagai tontonan. Hal ini juga berhubungan dengan teori dari (Alan P. Merriam, 1987: 219-226) 10 fungsi musik yaitu: (1) pengungkapan emosional (2) pemuas rasa keindahan (3) hiburan (4) sarana komunikasi (5) persembahan simbolis (6) respon fisik (7) penguat norma-norma social (8) pengukuhan institusional dan upacara agama (9) sarana kelangsungan dan stabilitas kebudayaan, (10) perekat masyarakat. Subjek Penelitian 6 orang. Dalam buku Metodologi Penelitian Seni Pertunjukan dan Seni Rupa ( R.M. Soedarsono, 2001: 170) membagi seni pertunjukan ke dalam dua kelompok utama, yaitu fungsi primer dan sekunder dari seni pertunjukan. Subjek Penelitian 6 orang. Metode penelitian ini adalah jenis penelitian yang digunakan bersifat kualitatif dengan pendekatan etnokoreologi dan etnomusikologi.
Quo Vadis Sastra Lisan Etnis: Profanisasi Fungsi Paseng dalam Komunitas Bugis Perantauan di Kota Jambi Mohd. Arifullah Ashaf
Titian: Jurnal Ilmu Humaniora Vol. 3 No. 2 (2019): Desember 2019
Publisher : Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Jambi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (439.818 KB) | DOI: 10.22437/titian.v3i2.8078

Abstract

Paseng sebagai tutur lisan masyarakat Bugis dengan fungsinya sebagai gugus nilai ternyata tidak lagi lestari, paseng di dihadapkan pada tantangan modernitas yang menjadi gugus nilai baru, sehingga paseng sebagai tradisi lisan mengalami hambatan dalam proses transmisinya kepada generasi ke dua. Hal ini juga terkait dengan proses profanisasi atau desakralisasi terhadap fungsi paseng yang menjadi persoalan yang coba penulis ketengahkan dalam artikel ini, dengan menggunakan teori dampak modernitasnya Anthony Gramsci dan transformasi budayanya Riene Eisler. Adapun metode yang penulis gunakan dalam analisa karya ini adalah metode penelitian kualitatif dalam pendekatan folklor yang dinaungan ethnography, sehingga penelitian ini dapat memberikan gambaran holistik yang dapat merinci kejadian. Hasilnya penulis menemukan bahwa telah terjadi profanisasi terhadap fungsi paseng dalam komunitas masyarakat Bugis perantauan Kota Jambi yang disebabkan oleh beberapa kondisi, khususnya sebagai dampak modernitas yang telah menggerus tradisi lokal dalam kehidupan generasi muda Bugis Kota Jambi, yang memberikan sumbangsih pada kurangnya penggunaan bahasa induk sebagai bahasa keseharian, yang akhirnya mengakibatkan tidak terwariskannya tradisi pada generasi kedua. Kondisi inilah yang kemudian membutuhkan revitalisasi terhadap tradisi paseng dalam kehidupan masyarakat Bugis perantauan di Kota Jambi.

Page 5 of 24 | Total Record : 235