cover
Contact Name
I Komang Badra
Contact Email
-
Phone
+6285238148283
Journal Mail Official
pdpt.stkipamlapura@gmail.com
Editorial Address
Jalan Ngurah Rai Nomor 35 Amlapura
Location
Kota denpasar,
Bali
INDONESIA
Lampuhyang
ISSN : 20870760     EISSN : 27455661     DOI : -
Core Subject : Education,
Jurnal LAMPUHYANG Jurnal Ilmiah Pendidikan, Agama dan Kebudayaan merupakan jurnal ilmiah yang diterbitkan oleh Lembaga Penjamin Mutu STKIP Agama Hindu Amlapura. Jurnal LAMPUHYANG terbit dua kali dalam setahun yaitu bulan Januari dan Juli.
Articles 238 Documents
MAKNA NGUSABHA GEDEBONGDI DESA ADAT NGIS KECAMATAN MANGGIS KABUPATEN KARANGASEM I Ketut Dani Budiantara; I Gede Sugiarka
LAMPUHYANG Vol 13 No 1 (2022)
Publisher : Lembaga Penjaminan Mutu STKIP Agama Hindu Amlapura

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47730/jurnallampuhyang.v13i1.296

Abstract

Desa Adat Ngis sampai saat ini masih melestarikan adat dan budaya leluhur. Hal ini terlihat dalam kegiatan yang berkaitan dengan upacara adat terutama dalam melaksanakan upacara Panca Yadnya. Ngusabha Gedebong merupakan salah satu upacara Panca Yadnya yang dilaksanakan umat Hindu di Desa Adat Ngis. Sesuai dengan namanya Ngusabha Gedebong sarana utama upakaranya menggunakan sarana gedebong ( batang pohon pisang). Ngusabha Gedebong dilaksanakan setahun sekali setiap Sasih Kaulu. Disamping unik, juga belum pernah dilakukan kajian mendalam tentang bentuk, dan makna Ngusabha Gedebong di desa Adat Ngis. Berkaitan dengan itu, kajian difokuskan untuk mendeskripsikan bentuk, dan makna Ngusabha Gedebong di Desa Adat Ngis tersebut. Penelitian ini menggunakan teknik pendekatan empiris. Jenis penelitian kualitatif, penentuan subjek penelitian purposive sampling. Jenis data digunakan data kualitatif, sumber data primer dan sekunder. Data dikumpulkan dengan teknik observasi, wawancara, dan pencatatan dokumen; serta analisis data deskriptif dengan teknik induksi dan argumentasi. Berdasarkan hasil pembahasan disimpulkan bahwa bentuk Ngusabha Gedebong di Desa Adat Ngis yaitu merupakan jenis Dewa Yadnya yang dilaksanakan setiap satu tahun sekali, tepatnya pada purnamaning sasih kawulu, dengan sarana upacara terdiri dari : Bayuhan 1 tanding, bayuhan berisi piser/tumpeng yang terbuat dari nasi jit kuskusan dan di ujungnya berisi garam/uyah yang beralaskan kojong, bayuhan berisi belayag 11 (solas) buah,tehenan atanding berisi beras, benang putih, porosan, segau ( daun dapdap yang dialuskan/ditumbuk ),Ungkab Lawang atanding berisi beras, kelapa yang dikupas kulitnya, sampiyan pakecuan,kerik keramas, berisi segau atangkih, kunyit mekihkih atangkih, kapas dan minyak, gegine metunu atangkih, buah lemo atangkih, suah sunggar sebagai pensucian,segehan putih kuning,buu,petabuh yaitu : tuak, arak, bere,.toya anyar ( air suci yang masih sukla ), api takepan, tegteg yaitu : wakul berisi jajan, biu, tumpeng, kasa putih, sampian kejingjing, banten pejatian yang dihaturkan di Bale Agung, ajuman dan canang sari, dengan proses pelaksanaan meliputi tahap persiapan, pelaksanaan dan penutup. Sedangkan makna Nngusabha Gedebong di Desa Adat Ngis yaitu bermakna mohon kemakmuran, dan wujud syukur.
Kedwibahasaan dalam Keluarga Perkawinan Campur pada Etnik Hindu di Bali Kade Restika Dewi; I Gusti Ngurah Wahyu Bawa Saputra
LAMPUHYANG Vol 13 No 1 (2022)
Publisher : Lembaga Penjaminan Mutu STKIP Agama Hindu Amlapura

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47730/jurnallampuhyang.v13i1.297

Abstract

Penelitian ini adalah penelitian kualitatif dengan menggunakan pendekatan sosiolinguistik. Penelitian ini bertujuan untuk (1) mendeskripsikan bentuk kedwibahasaan dalam keluarga kawin campur pada etnik Hindu di Bali; (2) mendeskripsikan dominasi penggunaan bahasa (bilingual) dalam keluarga kawin campur pada etnik Hindu di Bali; (3) mendeskripsikan dampak penggunaan bilingual dlm keluarga kawin campur pd etnik Hindu di Bali; (4) mendeskripsikan faktor apa saja yang memengaruhi penggunaan bilingual dalam keluarga kawin campur pada etnik Hindu di Bali. Subjek penelitian ini adalah 3 (tiga) pasang keluarga perkawinan campur etnik Hindu Bali dan Warga Negara Asing (WNA). Data dikumpulkan dengan menggunakan metode wawancara dan observasi. Berdasarkan hasil anaalisis data ditemukan bahwa (1) Bentuk kedwibahasaan dalam keluarga kawin campur pada etnik Hindu di Bali yaitu campur kode dan alih kode; (2) Dominasi penggunaan bahasa (bilingual) dalam keluarga kawin campur pada etnik Hindu di Bali yaitu Bahasa Inggris; (3) Dampak penggunaan bilingual dlm keluarga kawin campur pada etnik Hindu di Bali yaitu dampak edukatif, sosial dan budaya; dan (4) Faktor yang memengaruhi penggunaan dwibahasa dalam keluarga kawin campur pada etnik Hindu di Bali yaitu penutur, lawan tutur, ingin menjelaskan maksud tertentu, situasi dan menjalin keakraban.
TANTANGAN IMPLEMENTASI MERDEKA BELAJAR PADA ERA NEW NORMAL COVID-19 DAN ERA SOCIETY 5.0 Ni Komang Suni Astini
LAMPUHYANG Vol 13 No 1 (2022)
Publisher : Lembaga Penjaminan Mutu STKIP Agama Hindu Amlapura

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47730/jurnallampuhyang.v13i1.298

Abstract

Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui tantangan pendidik dalam mengimplementasikan merdeka belajar pada era new normal covid-19 dan era society 5.0 untuk menciptakan generasi yang berkualitas. Penelitian ini tergolong ke dalam jenis penelitian deskriptif Kuantitatif dengan metode pengumpulan data library research. Untuk menghadapi era society 5.0 ini satuan pendidikan pun dibutuhkan adanya perubahan paradigma pendidikan. Diantaranya pendidik meminimalkan peran sebagai learning material provider, pendidik menjadi penginspirasi bagi tumbuhnya kreativitas peserta didik. Pendidik berperan sebagai fasilitator, tutor, penginspirasi dan pembelajar sejati yang memotivasi peserta didik untuk Merdeka Belajar. Kebijakan program “Merdeka Belajar” meliputi empat pokok kebijakan yaitu Penilaian USBN Komprehensif, UN diganti dengan assessment penilaian, Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) dipersingkat dan zonasi Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) lebih fleksibel. Merdeka belajar akan menciptakan pendidikan berkualitas bagi seluruh rakyat Indonesia. Peningkatan sumber daya manusia, baik guru maupun kepala sekolah, diperlukan pembinaan baik lokal maupun internasional yang berkelanjutan sehingga mampu menjawab tantangan dunia menghadapi era revolusi industry 4.0 menuju era society 5.0. Penerapan merdeka belajar pada Era Society 5.0 tentunya memiliki banyak tantangan terutama bagi para pendidik. Pendidik harus memanfaatkan berbagai inovasi seperti Internet on Things (internet untuk segala sesuatu), Artificial Intelligence (kecerdasan buatan), Big Data (data dalam jumlah besar), dan robot untuk meningkatkan kualitas hidup manusia. Hadirnya era society 5.0 yang merupakan penyempurnaan era 4.0 adalah problem besar sekaligus kesempatan besar wajah pendidikan kita. Guru yang menjadi penggerak dalam pendidikan era society 5.0 harus mempunyai kompetensi memadai. Guru harus cakap dalam memberikan materi pelajaran serta mampu menggerakkan siswa untuk berpikir kritis dan kreatif.
AJARAN SUSILA DALAM SATUA LEAK MASLIKUAN Ni Komang Aryani
LAMPUHYANG Vol 13 No 1 (2022)
Publisher : Lembaga Penjaminan Mutu STKIP Agama Hindu Amlapura

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47730/jurnallampuhyang.v13i1.299

Abstract

Satua Bali merupakan salah satu jenis kesusastraan Bali yang dalam penyampaiannya menggunakan bahasa lisan dan di dalamnya mengandung nilai-nilai pendidikan Agama Hindu yang luhur seperti misalnya: nilai religius, nilai budaya, nilai etika atau susila, nilai estetika atau seni, serta tattwa atau filsafat. Dulu satua-satua Bali diperdengarkan atau diceritakan para orang tua kepada anak-anaknya untuk memberikan pelajaran sederhana tentang apa yang terkandung dalam satua tersebut. Sejalan dengan kemajuan teknologi pada zaman globalisasi ini, satua Bali dan bahasa Bali yang digunakan sebagai alat komunikasi sudah semakin dilupakan. Perkembangan satua Bali pada zaman sekarang hanya sebatas pada materi pelajaran bahasa daerah Bali yang hanya mendapatkan waktu yang singkat jika dibandingkan dengan pelajaran lainnya yang didapat di sekolah-sekolah formal. Berdasarkan hal tersebut dianggap penting untuk diadakannya penelitian tentang satua. Satua Leak Maslikuan dipilih sebagai objek penelitian karena jalan ceritanya menarik untuk dikaji serta karya sastra ini mengungkapkan aspek-aspek kehidupan sosial yang terdapat dalam masyarakat. Selain itu, dalam karya sastra Satua Leak Maslikuan tersirat nilai-nilai Pendidikan khususnya ajaran susila, yang selama ini masih banyak masyarakat Hindu yang belum memahami betul nilai-nilai yang terkandung di dalam cerita tersebut. Pada penelitian ini akan membahas tentang ajaran Susila yang terdapat dalam satua Leak Maslikuan. Jenis penelitian ini adalah penelitian kualitatif. Pendekatan yang digunakan adalah pendekatan mitopik. Jenis data yang digunakan adalah data kualitatif dan sumber data menggunakan data primer dan sekunder. Metode pengumpulan data yang digunakan adalah metode pencatatan dokumen. Hasil analisis data disajikan dengan metode formal dan informal. Berdasarkan analisis data yang dilakukan, dapat disimpulkan bahwa Ajaran Susila yang terkandung dalam satua Leak Maslikuan adalah 1) Tri Kaya Parisudha yaitu ajaran kayika parisudha dan wacika parisudha 2) Panca Yama Brata yaitu ajaran Asteya, 3) Catur Paramitha yaitu ajaran Maitri, 4) Sad Ripu yaitu krodha , dan 5) Tri Guna yaitu sifat rajas, 6) Sad Atatayi yaitu Atharwa, 7) Sapta Timira yaitu ajaran Dhana.
Asesmen Otentik dalam Pembelajaran Bahasa Indonesia Putu Andyka Putra Gotama; Ni Komang Suni Astini
LAMPUHYANG Vol 13 No 2 (2022)
Publisher : Lembaga Penjaminan Mutu STKIP Agama Hindu Amlapura

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47730/jurnallampuhyang.v13i2.305

Abstract

Pendidikan yang relevan harus bersandar pada empat pilar pendidikan, yaitu (1) learning to know, yakni peserta didik mempelajari pengetahuan, (2) learning to do, yakni peserta didik menggunakan pengetahuannya untuk mengembangkan keterampilan, (3) learning to be, yakni peserta didik belajar menggunakan pengetahuan dan keterampilannya untuk hidup, dan (4) learning to live together, yakni peserta didik belajar untuk menyadari bahwa adanya saling ketergantungan sehingga diperlukan adanya saling menghargai antara sesama manusia. Dengan demikian, pendidikan saat ini harus mampu membekali setiap peserta didik dengan pengetahuan, keterampilan, serta nilai-nilai dan sikap, yang mana proses belajar bukan semata-mata mencerminkan pengetahuan (knowledge-based) tetapi mencerminkan keempat pilar di atas. Melalui keempat pilar itulah dapat terbentuk kompetensi. Kompetensi adalah pengetahuan, keterampilan, sikap dan nilai yang dimiliki dan dikuasai peserta didik yang dapat tertampilkan secara nyata dalam memecahkan/menyelesaikan tugas-tugas dalam kehidupan. Kompetensi ini hendaknya benar-benar bisa diukur dengan bentuk evaluasi yang valid. Hal ini disebabkan karena kompetensi merupakan produk akhir dari sebuah pembelajaran, termasuk pembelajaran bahasa Indonesia. Salah satu assesmen yang bisa digunakan adalah Asesmen Otentik. Artikel ini ditulis untuk mengetahui bentuk dan jenis assesmen otentik dalam pembelajaran bahasa Indonesia. Berdasarkan pembahasan, diperoleh hasil bahwa asesmen otentik merupakan penilaian yang terintegrasi dalam kegiatan belajar dan mengajar di kelas (berbasis kelas) melalui pengumpulan karya siswa (portofolio), hasil karya (produk), penugasan (proyek), kinerja (performance) dan tes tertulis (paper and pencil test). Beberapa prinsip yang harus diperhatikan guru mencakup (1) valid, (2) mendidik, (3) berorientasi pada kompetensi, (4) adil terbuka, (5) berkesinambungan, (6) menyeluruh dan, (7) bermakna. Kemudian, ada beberapa jenis assesmen otentik yaitu Wawancara lisan, Menceritakan kembali teks atau cerita, observasi guru, Portofolio, dan Rubrik. Seluruh jenis asesmen otentik ini sangat relevan jika digunakan untuk mengukur kompetensi peserta didik dalam pembelajaran bahasa Indonesia. Berdasarkan hasil tersebut di atas, maka saran ingin diberikan kepada Lembaga pencetak tenaga pendidik agar memberikan penekanan pada model-model asesmen yang bisa dipakai karena asesmen adalah ujung tombak dari keberhasilan suatu pembelajaran. Kemudian, kepada guru bahasa Indonesia agar memahami isi artikel guna menambah pengetahuan mengenai evaluasi pengajaran bahasa Indonesia, dan bagi peneliti lain tentunya dapat melakukan penelitian-penelitian sejenis untuk mengembangkan pengetahuan terutama dalam bidang evaluasi pembelajaran bahasa Indonesia.
Bhairawa Tantra Dalam Upacara Penyalonarangan Di Pura Pesamuan Agung Desa Adat Padangbai Kecamatan Manggis Kabupaten Karangasem Ni Putu Gatriyani
LAMPUHYANG Vol 13 No 2 (2022)
Publisher : Lembaga Penjaminan Mutu STKIP Agama Hindu Amlapura

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47730/jurnallampuhyang.v13i2.307

Abstract

Tradisi di suatu wilayah merupakan tata cara/pelaksanaan dari turun-temurun sesuai dresta di masyarakat setempat yang berhubungan dengan keyakinan beragama untuk penghormatan kepada Ida Sang Hyang Widhi Wasa beserta Manifestasinya. Halnya seperti Bhairawa Tantra dalam pelaksanaan Upacara Penyalonarangan di Pura Pasamuhan Agung Desa Adat Padangbai, Kecamatan Manggis, Kabupaten Karangasem dilaksanakan pada sasih kalima dalam aci kajeng kliwon dipercaya memiliki unsur spiritual melawan kekuatan magis yang bersifat negatif dan memberikan spirit dalam meningkatkan rasa bhakti.Berdasarkan latar belakang tersebut, maka dapat dirumuskan permasalahan sebagai berikut yaitu : (1).Bagaimana prosesi Upacara Penyalonarangan di Pura Pesamuhan Agung Desa Adat Padangbai, Kecamatan Manggis, Kabupaten Karangasem terkait bhairawa tantra?.(2). Apa Implikasi Upacara Penyalonarangan di Pura Pesamuhan Agung Desa Adat Padangbai, Kecamatan Manggis, Kabupaten Karangasem?. Tujuan dari penulisan ini adalah: (1). Untuk menganalisis prosesi Upacara Penyalonarangan di Pura Pesamuhan Agung Desa Adat Padangbai, Kecamatan Manggis, Kabupaten Karangasem terkait bhairawa tantra (2). Untuk menganalisis implikasi dari Upacara Penyalonarangan di Pura Pesamuhan Agung terhadap kehidupan sosial masyarakat di Desa Adat Padangbai, Kecamatan Manggis, Kabupaten Karangasem. Landasan Teori dalam penelitian ini menggunakan Teori relegi, Teori Interpretasi dan Teori Fungsional Struktural. Jenis penelitian ini adalah penelitian kualitatif. Teknik pengumpulan data diperoleh dari hasil wawancara. Prosesi Upacara Penyalonarangan terdiri atas tiga bagian, yakni upacara awal, yaitu diawali dengan prosesi ngadegang Ida Bhatara di Pura Pasamuhan Agung, yang dilaksanakan setiap kajeng dan kliwon pada sasihkalima, melaksanakan pecaruan di catuspata. Upacara inti tapakan-tapakan Ida Bhatara disolahkan berupa rangda, yang diyakini dari wujud Sang Hyang Bhairawi yaitu Durga merupakan sakti dari Dewa Siwa, tantra bhairawa terlihat dimana masyarakat memuja Sakti Siwa yaitu Dewi Durga dalam segala bentuk rupa dan wujud yang menyeramkan seperti : Bhatara Dalem Ped, Bhatara Lingsir, Bhatara Nyeneng, Bhatara Rangda, Bhatara Madu Segara, Rarung, Lenda, Lendi, wok sisya, Jaran guyang dan Jatayu (paksi agung). Ada yang disebut daratan yang merupakan orang kesurupan/ tidak sadarkan diri, diyakini tubuhnya telah dirasuki oleh abdi bhatari Durga, dalam ritualnya ada yang ingin dipersembahkan berupa arak (minuman keras), ada pula yang ingin dipersembahkan berupa ayam mentah yang masih hidup untuk dimakan darahnya. Implikasi Upacara Penyalonarangan di Desa Adat Padangbai adalahKeharmonisan Bhuana Agung dan Bhuana Alit, Penolak Wabah Penyakit,Pelestarian Seni, Adat (tradisi) dan Budaya, dan Penanaman Nilai Tatwa, Etika dan Susila.
Sesayut Pancoran Pada Ngusabha Dalem Di Desa Pakraman Seraya Kecamatan Karangasem Kabupaten Karangasem I Gede Sugiarka; I Ketut Dani Budiantara
LAMPUHYANG Vol 13 No 2 (2022)
Publisher : Lembaga Penjaminan Mutu STKIP Agama Hindu Amlapura

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47730/jurnallampuhyang.v13i2.308

Abstract

Proses pelaksanaan upacara yadnya selalu mempergunakan sarana-sarana pendukung. Salah satu sarana yang digunakan adalah banten. Banten Sesayut Pancoran pada Usabha Dalem merupakan banten yang jarang dipergunakan, tetapi penting karena masyarakat tidak mengetahui dan memahami bentuk, fungsi dan makna yang dikandungnya. Untuk itu perlu dikaji bentuk, fungsi dan makna banten Sesayut Pancoran pada Usabha Dalem yang nantinya masyarakat Hindu di Desa Pakraman Seraya menjadi paham. Rumusan masalah yang diperoleh dari latar belakang tersebut sebagai berikut. (1) Bagaimana bentuk Sesayut Pancoran pada Usabha Dalem di Desa Pakraman Seraya, Kecamatan Karangasem, Kabupaten Karangasem? (2) Apa Fungsi Sesayut Pancoran pada Usabha Dalem di Desa Pakraman Seraya, Kecamatan Karangasem, Kabupaten Karangasem? (3) Apa Makna Sesayut Pancoran pada Usabha Dalem di Desa Pakraman Seraya, Kecamatan Karangasem, Kabupaten Karangasem?. Jenis penelitian ini adalah penelitian kualitatif, metode yang digunakan adalah metode pendekatan subjek penelitian dengan menggunakan metode pendekatan empiris, metode penentuan subjek penelitian dengan teknik purposive sampling, jenis data yang dipakai adalah data kualitatif dengan sumber data primer dan sekunder. Metode pengumpulan data yang digunakan adalah metode wawancara dan pencatatan dokumen. Setelah data terkumpul dilakukan analisa data melalui metode deskriptif dengan teknik induksi dan argumentasi. Adapun hasil penelitian yang diperoleh, yaitu: (1) Bentuk Sesayut Pancoran pada Ngusabha Dalem di Desa Pakraman Seraya Kecamatan Karangsem, Kabupaten Karangsem adalah susunan banten yang terdiri atas: dulang, alas sesayut, tumpeng, telur ayam, galan (belayag), kelampet, kacang saur, buratwangi, jajan, buah-buahan, dan sampiyan nagasari, (2) Fungsi Sesayut Pancoran pada Ngusabha Dalem di Desa Pakraman Seraya, meliputi: fungsi religius, fungsi pendidikan, fungsi sosial ekonomi dan fungsi penyucian, (3) Makna Sesayut Pancoran pada Ngusabha Dalem di Desa Pakraman Seraya adalah sebagai anugrah, wujud sembah bhakti dan sthana Sang Hyang Widhi beserta manifestasi-Nya dalam memberikan pancaran anugerah untuk membersihkan diri dari pengaruh Sad Ripu dan untuk meleburkan segala kekotoran (mala) yang ada di bumi maupun dalam diri manusia yang muncul dari pikiran, perkataan, dan tingkah laku (Tri Kaya Parisudha) yang dapat mengakibatkan suatu penderitaan dalam hidup.
Afiksasi Dalam Gaguritan Sutasoma Jilid 1 Karya I Ketut Ruma (Tinjauan Morfologi Bahasa Bali) I Komang Simpen; I Wayan Jatiyasa; Ni Wayan Apriani
LAMPUHYANG Vol 13 No 2 (2022)
Publisher : Lembaga Penjaminan Mutu STKIP Agama Hindu Amlapura

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47730/jurnallampuhyang.v13i2.309

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk untuk mendeskripsikan bentuk, fungsi, dan makna afiksasi bahasa Bali dalam Gaguritan Sutasoma Jilid 1 karya I Ketut Ruma. Penelitian ini termasuk penelitian kualitatif, dengan pendekatan penelitian empiris, yaitu pendekatan yang digunakan terhadap gejala yang telah ada secara alamiah dimana gejala-gejala yang diselidiki telah ada secara wajar dalam kehidupan sehari-hari. Gejala yang terjadi dimaksud adalah penggunaan afiksasi bahasa Bali yang digunakan dalam teks Gaguritan Sutasoma Jilid 1 karya I Ketut Ruma. Jenis data yang dikumpulkan adalah data primer dan data sekunder dengan data yang bersifat kualitatif. Sedangkan metode yang digunakan dalam pengumpulan data adalah metode pencatatan dokumen. Data dianalisis dengan metode analisis deskriptif kualitatif dengan langkah-langka reduksi awal, display data, conclusion drawing (penyimpulan). Hasil penelitian menunjukkan bahwa: 1) Bentuk afiksasi bahasa Bali dalam Gaguritan Sutasoma Jilid 1 karya I Ketut Ruma, yaitu: 1) prefiks N-, ma-, ka-, pa-, sa-, pra-, pari-, pati-, dan maka-; 2) sufiks -ang, -in, -an, -e, -n, dan -ing; 3) infiks –um- dan –in-; 4) konfiks pa-an, ma-an, dan ka-an; 5) Simulfiks ma-N dan pa-N; serta 6) kombinasi afiks ma-an, ma-N-in, dan ma-N-ang. 2) Fungsi afiksasi bahasa Bali dalam Gaguritan Sutasoma Jilid 1 karya I Ketut Ruma, yaitu berfungsi membentuk nomina, verba (verba tanggap dan tindak atau verba berobjek penerima dan berobjek penderita ), adjektiva, numerial, dan adverbial. 3) Makna afiksasi bahasa Bali dalam Gaguritan Sutasoma Jilid 1 karya I Ketut Ruma, yaitu: 1) melakukan pekerjaan (baik diri sendiri, untuk orang lain, dan bersama-sama), mengeluarkan, menghasilkan, mengandung, dan menjadi dalam keadaan yang tersebut dalam bentuk dasar/asal; dan 2) menyatakan pelaku, cara/alat, hal, persamaan waktu, arah, seluruh, tiba-tiba, berulang-ulang, rutin, serta mempertegas yang tersebut dalam bentuk dasar/asal.
Penerapan Supervisi Pendidikan Sebagai Upaya Peningkatan Mutu Pendidik di Sekolah Kejuruan Ni Putu Diah Untari Ningsih; I Putu Oky Ariartha
LAMPUHYANG Vol 13 No 2 (2022)
Publisher : Lembaga Penjaminan Mutu STKIP Agama Hindu Amlapura

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47730/jurnallampuhyang.v13i2.310

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui upaya menghasilkan lulusan yang kompeten, tenaga pendidik memiliki peran yang sangat penting dalam penyelenggaraan pendidikan berbasis kompetensi. Sehingga mutu pendidik sangat berpengaruh besar dalam peningkatan mutu dari pendidikan itu sendiri. Supaya mempunyai lulusan peserta didik yang diharapkan maka sekolah harus bisa meningkatkan mutu pendidiknya. Peningkatan kompetensi profesional yang dimiliki oleh tenaga pendidik di suatu sekolah, khususnya pada sekolah kejuruan dipengaruhi oleh penerapan supervisi pendidikan. Penelitian didasarkan pada bagaimata penerapan supervisi di sekolah kejuruan jika dibandingkan dengan sekolah lain dalam meningkatkan kualitas pendidikan serta bagaimana pengaruh supervisi di sekolah kejuruan terhadap daya kerja pendidik untuk menghasilkan lulusan yang sesuai dengan standar kompetensi. Dari pemaparan teori serta analisis yang telah dilakukan oleh peneliti, dapat disimpulkan bahwa : 1). Meningkatkan mutu pendidikan harus dibarengi dengan meningkatkan mutu guru, karena guru merupakan kunci penting dalam pelaksanaan pendidikan di lapangan, 2). Dengan dilaksanakannya kegiatan supervisi, guru dibantu dalam meningkatkan kompetensinya untuk meningkatkan hasil belajar siswa, 3). Penerapan supervisi di Sekolah Kejuruan tidak jauh berbeda dengan sekolah lainnya yang memiliki tujuan yang sama yakni untuk meningkatkan mutu guru sehingga menghasilkan lulusan yang kompeten.
Metode Membaca Tanpa Mengeja sebagai Metode Pembelajaran Bahasa bagi Anak Berkebutuhan Khusus Disleksia Sang Ayu Putu Nilayani; I Gusti Ayu Adi Rahayuni
LAMPUHYANG Vol 13 No 2 (2022)
Publisher : Lembaga Penjaminan Mutu STKIP Agama Hindu Amlapura

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Makalah ini membahas tentang metode Membaca Tanpa Mengeja sebagai metode pembelajaran bahasa bagi anak berkebutuhan khusus disleksia. Metode membaca tanpa mengeja ini adalah suatu metode membaca tanpa memperkenalkan huruf dan bunyi tetapi langsung memperkenalkan suku kata menjadi kata dengan cara pembelajarann diulang-ulang dan bertahap. Disleksia merupakan suatu gangguan belajar pada anak-anak yang ditandai dengan kesulitan membaca, menulis, mengeja, atau berbicara dengan jelas. Berdasarkan penelitian-penelitian yang ada, penggunaan metode tanpa mengeja untuk anak berkebutuhan khusus disleksia ini dirasa cukup tepat digunakan. Hal ini dapat dilihat dari hasil penelitian-penelitian yang menunjukkan bahwa melalui metode membaca tanpa mngeja, kemampuan membaca anak berkebutuhan khusus disleksia mengalami peningkatan. Permasalahan pada makalah ini adalah mengenai bagaimanakah metode membaca tanpa mengeja, serta bagaimana penggunaan metode Membaca Tanpa Mengeja sebagai metode pembelajaran bahasa bagi anak berkebutuhan khusus disleksia. Tujuan makalah ini sesuai dengan permasalahan. Makalah ini diharapkan dapat dijadikan sebagai sumber pengetahuan mengenai membaca tanpa mengeja dan mengenai anak berkebutuhan khusus disleksia. Makalah ini juga diharapkan dapat dijadikan pedoman bagi pembaca dalam menangani permasalahan membaca, menulis, mengeja, dan berbicara pada anak disleksia. Metode membaca tanpa mengeja untuk anak disleksia diawali dengan mengenalkan suku kata per suku kata. Anak dilarang keras diajarkan mengeja. Setelah anak disleksia mampu membaca, anak baru boleh dikenalkan dengan huruf. Penggunaan metode ini dikarenakan anak berkebutuhan khusus disleksia mengalami beberapa masalah, seperti kesulitan membedakan huruf dan bunyi, kesulitan mengingat kata atau huruf yang berurutan, serta kesulitan memahami tata bahasa.