cover
Contact Name
Widodo Kushartomo
Contact Email
widodokushartomo@gmail.com
Phone
+628176869150
Journal Mail Official
jmts@untar.ac.id
Editorial Address
Jl. Letjen S. Parman No. 1, Jakarta 11440
Location
Kota adm. jakarta barat,
Dki jakarta
INDONESIA
JMTS: Jurnal Mitra Teknik Sipil
ISSN : -     EISSN : 2622545X     DOI : http://dx.doi.org/10.24912/jmts
Core Subject : Engineering,
JMTS: Jurnal Mitra Teknik Sipil dikelola oleh Program Studi Sarjana Teknik Sipil, Fakultas Teknik, Universitas Tarumanagara. JMTS: Jurnal Mitra Teknik Sipil merupakan media publikasi hasil penelitian dan studi ilmiah dalam bidang Teknik Sipil yang diterbitkan 4 kali dalam setahun, yaitu pada bulan Februari, Mei, Agustus, dan November. Jurnal ini terbit pertama kali pada 1 Agustus 2018.
Articles 861 Documents
EVALUASI KAPASITAS DIMENSI KOLAM STABILISASI INSTALASI PENGOLAHAN AIR LIMBAH BOJONGSOANG BANDUNG Yustiana, Fransiska; Bhuwana, Almer Patuinanugrahan Shira
JMTS: Jurnal Mitra Teknik Sipil Volume 8, Nomor 2, Mei 2025
Publisher : Prodi Sarjana Teknik Sipil, FT, Universitas Tarumanagara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/jmts.v8i2.31987

Abstract

Bojongsoang wastewater treatment plant (WWTP) has been operating since 1992 which treats domestic wastewater from 17 sub-district of Bandung City.  Bandung has potential challenges, in population growth. Population growth will increase fresh water consumption that result In increasing the quantity of domestic wastewater. The purpose of this study was to evaluate the capacity of the Bojongsoang WWTP stabilization pond, whether the existing pond capacity is sufficient for the projected population of 10 years to come by following the design of predetermined waste treatment parameters. The results of the study stated that the Bojongsoang WWTP must add volume of anaerobic pond as 23,132.8 m2 and volume of facultative pond 73,410 m2 so that the Bojongsoang WWTP continues to operate according to the parameter design of detailed technical SPLAD-T guidelines in 2018. Abstrak Instalasi pengolahan air limbah (IPAL) Bojongsoang beroperasi sejak tahun 1992, yang mengolah limbah domestik dari 17 kecamatan di Kota Bandung. Kota Bandung memiliki potensi sekaligus tantangan, yaitu berupa pertumbuhan penduduk. Pertumbuhan penduduk selalu berpotensi pada peningkatan kebutuhan air bersih dan juga peningkatan kuantitas air limbah domestik. Tujuan penelitian Ini adalah melakukan evaluasi pada kapasitas kolam stabilisasi IPAL bojongsoang, apakah kapasitas kolam yang ada masih mencukupi untuk  proyeksi penduduk 10 tahun yang akan datang dengan mengikuti desain parameter pengolahan limbah yang sudah ditetapkan. Hasil penelitian menyatakan bahwa IPAL bojongsoang harus menambah kolam anaerob dengan volume 23.132,8 m2 dan kolam fakultatif dengan volume 73.410 m2 sehingga IPAL Bojongsoang tetap beroperasi sesuai desain parameter yang sesuai pedoman SPLAD-T teknik terinci tahun 2018.
EVALUASI STRUKTUR STRUTTING BAJA SEBAGAI TEMPORARY SUPPORT PADA PELAKSANAAN KONSTRUKSI DINDING PENAHAN TANAH PROYEK X Arissaputra, Sofian; Darmawan, Muhammad Fikri
JMTS: Jurnal Mitra Teknik Sipil Volume 8, Nomor 2, Mei 2025
Publisher : Prodi Sarjana Teknik Sipil, FT, Universitas Tarumanagara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/jmts.v8i2.32188

Abstract

This study evaluates steel strutting as temporary support for the X Building project in South Jakarta using a quantitive method. Strutting analysis was conducted for each construction stages using data from strutting plans, construction methods, and SPT test results. The analysis included lateral earth pressure calculations, preliminary strutting design, and steel strutting evaluation using ETABS 18 (2020). Before evaluation, SB1 (IWF 400×200×8×13). profiles did not fail at stage 1 to 4 but failed at stages 5 to 6. After  evaluation, no failure occurred, and a revised steel strutting design met SNI 1729:2020 standards. After that, manual checks were carried out for the tensile and compression members. In conclusion, after the evaluation, steel strutting has a new dimension that can reduce the construction cost of the project with the weight of the material before and after evaluation resulting in savings of 333,822.48 kg or 68.812% and the comparison of material costs resulting in savings of Rp7,639,817,669.62 or 71.413%. This study suggests the need to take into account the loads that occur around the strutting and take into account the joints and welds from the evaluation results so that the analysis is more accurate. Abstrak Penelitian ini bertujuan untuk melakukan evaluasi strutting baja sebagai temprorary support pada proyek Gedung X di Jakarta Selatan. Penelitian ini menggunakan metode kuantitatif dengan melakukan analisis strutting untuk setiap tahapan metode konstruksinya. Data diambil dari denah strutting, data metode konstruksi, dan data pengujian SPT. Analisis data dilakukan dengan menghitung tekanan tanah lateral dan preliminary design untuk strutting serta analisis strutting baja menggunakan ETABS 18 versi 2020. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sebelum dievaluasi, profil SB1 (IWF 400×200×8×13) tidak mengalami kegagalan pada tahap 1 hingga 4 dan mengalami kegagalan pada tahap 5 hingga 6. Setelah dilakukannya evaluasi, didapat bahwa tidak terjadi kegagalan dan didapatkan hasil desain strutting baja terbaru dengan tetap memenuhi persyaratan dalam SNI 1729:2020. Kemudian, dilakukan pengecekan untuk batang tarik dan batang tekan secara manual. Kesimpulannya, setelah dilakukannya evaluasi, strutting baja memiliki dimensi baru yang dapat menekan biaya pembangunan proyek tersebut dengan berat material sebelum dievaluasi dan setelah dievaluasi menghasilkan penghematan sebesar 333.822,48 kg atau 68,812% dan perbandingan biaya material menghasilkan penghematan sebesar Rp7.639.817.669,62 atau 71,413%. Penelitian ini menunjukkan bahwa perlunya memperhitungkan beban-beban yang terjadi di sekitar strutting dan memperhitungkan sambungan dan las agar analisis lebih akurat.
ANALISIS SERAPAN LARUTAN KARBONAT PADA BETON MUTU TINGGI MEMADAT MANDIRI DENGAN VARIASI SUBSTITUSI METAKAOLIN Deni, Delista Putri; Santosa, Ignatia Wahyu Listyorini; Rahmi, Ardia Tiara; Pratiwi, Kholis Hapsari
JMTS: Jurnal Mitra Teknik Sipil Volume 8, Nomor 2, Mei 2025
Publisher : Prodi Sarjana Teknik Sipil, FT, Universitas Tarumanagara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/jmts.v8i2.32259

Abstract

Concrete is often exposed to extreme environmental conditions that affect its durability. One of them is when carbon dioxide in an environment with a certain humidity reacts with hydrated cement minerals and results in carbonation of concrete. Carbonation will penetrate the concrete surface and further result in corrosion of the reinforcement. One method of testing the carbonation of concrete is to expose it to 4% carbonate solution. Therefore, the absorption of carbonate solution in concrete and its relationship with carbonation need to be identified. This study aims to analyze the absorption of carbonate solution and its relationship with the nominal carbonation coefficient of concrete. The object of the study was high strength self-compacting concrete with metakaolin substitution variations of 0%; 10%; 12.5%; 15%; 17.5%; and 20% by weight of cement. The method used was laboratory-based experimental method. The absorption test was conducted based on SNI 03-2914-1992 by soaking 75 mm diameter and 150 mm height concrete cylinder specimens into 4% carbonate solution for 10+0.5 minutes and 24 hours. The results showed that the absorption of carbonate solution in concrete was influenced by the variation of metakaolin substitution and gave a positive correlation with the nominal carbonation coefficient of concrete. Concrete with 15% metakaolin substitution gave the lowest 10+0.5 min and 24 h absorption values of 0.82% and 2.21%, respectively, and the lowest nominal carbonation coefficient of 3.71 mm/year1/2. Abstrak Beton seringkali terekspos pada kondisi lingkungan cukup ekstrem yang berpengaruh terhadap durabilitasnya. Salah satunya adalah ketika karbondioksida pada kelembaban tertentu di lingkungan bereaksi dengan mineral semen terhidrasi dan mengakibatkan terjadinya karbonasi beton. Karbonasi akan menembus permukaan beton dan selanjutnya mengakibatkan terjadinya korosi pada tulangan. Salah satu metode pengujian karbonasi beton adalah dengan memaparkannya pada larutan karbonat 4%. Oleh karena itu, penyerapan larutan karbonat pada beton dan hubungannya dengan karbonasi perlu diidentifikasi. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis serapan larutan karbonat dan hubungannya dengan koefisien karbonasi nominal beton. Objek penelitian adalah beton mutu tinggi memadat mandiri dengan variasi substitusi metakaolin sebesar 0%; 10%; 12,5%; 15%; 17,5%; dan 20% terhadap berat semen. Metode yang digunakan adalah metode eksperimental berbasis laboratorium. Pengujian serapan dilakukan berdasarkan SNI 03-2914-1992 dengan merendam benda uji silinder beton berdiameter 75 mm dan tinggi 150 mm ke dalam larutan karbonat 4% selama 10+0,5 menit dan 24 jam. Hasil penelitian menunjukkan bahwa serapan larutan karbonat pada beton dipengaruhi oleh variasi substitusi metakaolin dan memberikan korelasi positif dengan koefisien karbonasi nominal beton. Beton dengan variasi substitusi metakaolin 15% memberikan nilai serapan 10+0,5 menit dan 24 jam terendah yaitu 0,82% dan 2,21%, serta nilai koefisien karbonasi nominal terendah yaitu 3,71 mm/tahun1/2.
PEMANFAATAN LIMBAH CANGKANG KERANG DARA SEBAGAI SUBSTITUSI SEMEN TERHADAP KUAT TEKAN BETON Rahmadani, Ifal; Nurmeyliandari, Revianty; Amalia, Ghina
JMTS: Jurnal Mitra Teknik Sipil Volume 8, Nomor 2, Mei 2025
Publisher : Prodi Sarjana Teknik Sipil, FT, Universitas Tarumanagara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/jmts.v8i2.32276

Abstract

The development of construction technology, especially concrete, involves ongoing experimentation with concrete mix additives to achieve the desired quality and compressive strength of concrete. One such approach is using waste sea shell powder as a concrete mix additive. Sea shell powder contains chemical compounds with pozzolanic properties, such as silica, alumina, and lime, which can be used as concrete components and are expected to influence the compressive strength of concrete. This study aims to determine the effect of using sea shell powder as a partial substitute for cement. The research method used is a laboratory experimental approach with sea shell powder variations of 3%, 5%, and 7%. The results show that the compressive strength of concrete at 28 days increased by 0.08 MPa, 0.72 MPa, and 2.06 MPa for each variation compared to normal concrete. The optimal usage of sea shell powder is 7%, which achieved the highest compressive strength of 28.16 MPa. The findings indicate that sea shell powder can be used as a concrete component and as a partial substitute for cement, as it enhances the compressive strength of normal concrete. Abstrak Perkembangan teknologi konstruksi khususnya beton untuk uji coba campuran bahan tambah beton terus dilakukan supaya mendapatkan mutu dan kuat tekan beton yang diinginkan. Salah satunya yaitu dapat menggunakan limbah cangkang kerang dara sebagai bahan tambah campuran beton. Pada cangkang kerang dara mengandung senyawa kimia yang bersifat pozzolan yaitu silika, alumina, dan zat kapur yang dapat digunakan sebagai bahan penyusun beton sehingga diharapkan dapat mempengaruhi kuat tekan beton. Penelitian ini dilakukan bertujuan untuk megetahui pengaruh penggunaan serbuk cangkang kerang dara sebagai subtitusi sebagian semen. Metode penelitian yang digunakan adalah metode eksperimental laboratorium menggunakan serbuk cangkang kerang dara variasi 3%, 5%, dan 7%. Hasil penelitian didapat kuat tekan beton umur 28 hari meningkat secara berturut-turut sebesar 0,08 MPa, 0,72 MPa, dan 2,06 MPa pada masing-masing variasi terhadap beton normal. Penggunaan serbuk cangkang kerang dara optimum adalah sebesar 7% memiliki nilai kuat tekan tertinggi sebesar 28,16 MPa. Hasil penelitian ini telah menunjukkan bahwa penggunan serbuk cangkang kerang dara dapat digunakan sebagai bahan penyusun beton yaitu sebagai subtitusi sebagian semen karena dapat meningkatkan kuat tekan dari beton normal.
METODE PELAKSANAAN GSRW DI TANAH CLAYSHALE STUDI KASUS : PROYEK KAMPUS 2 POLMAN MAJALENGKA Theodora, Amanda Greta; Iskandar, Ali
JMTS: Jurnal Mitra Teknik Sipil Volume 8, Nomor 2, Mei 2025
Publisher : Prodi Sarjana Teknik Sipil, FT, Universitas Tarumanagara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/jmts.v8i2.32524

Abstract

In the construction of retaining walls, the method of field implementation is crucial, especially on soils with poor characteristics, such as clayshale. Clayshale soil is known as a type of soil with unstable geotechnical properties, due to its expansive nature and tendency to crumble when saturated with water. The Geoforce Segmental Retaining Wall (GSRW) is one solution that offers flexibility in construction. It is a retaining wall made of modular materials arranged segmentally and reinforced with geosynthetics, which increases soil stability in landslide-prone areas. This study explains the stages of the GSRW project on clayshale soil, starting from the planning phase, preparation, to special handling on-site. The case discussed is the GSRW project at Polman Majalengka Campus 2, where clayshale soil conditions were the main concern. The methods used in the development of this journal include field observations and interviews with parties involved in the project. The research results show that the installation of GSRW on clayshale soil affects many technical aspects. Therefore, the implementation method must be adjusted to field conditions to ensure optimal results. Abstrak Dalam konstruksi dinding penahan tanah metode pelaksanaan pengerjaan di lapangan sangat penting, terutama pada tanah yang memiliki karakteristik buruk seperti clayshale. tanah clayshale dikenal sebagai jenis tanah dengan sifat geoteknik yang kurang stabil, disebabkan oleh karakteristiknya yang ekspansif dan mudah hancur ketika jenuh air. Geoforce segemental retaining wall (GSRW) merupakan salah satu solusi yang menawarkan fleksibilitas dalam konstruksi. Sebuah dinding penahan dengan material modular yang disusun secara segmental dan menggunakan bahan geosintetik sebagai penguat, sehingga meningkatkan kestabilan tanah di area yang rentan longsor. Studi ini menjelaskan tahapan-tahapan pengerjaan proyek GSRW pada tanah clayshale mulai dari tahap perencanaan, persiapan hingga penanganan khusus di lapangan. Kasus yang dibahas adalah proyek GSRW Kampus 2 Polman Majalengka, dimana kondisi tanah clayshale menjadi perhatian utama. Metode yang digunakan dalam pembuatan jurnal ini meliputi pengamatan pada lapangan dan wawancara pada pihak yang terlibat dalam proyek. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pemasangan GSRW diatas tanah clayshale mempengaruhi banyak aspek teknis. Oleh karena itu, metode pelaksanaanya harus disesuaikan dengan konsidi lapangan untuk memastikan hasil yang optimal.
KORELASI FAKTOR PENGARUH PERILAKU MENGEMBANG TANAH TERHADAP NILAI SWELLING PRESSURE Tuhumury, Joan Nathasya; Iskandar, Ali
JMTS: Jurnal Mitra Teknik Sipil Volume 8, Nomor 2, Mei 2025
Publisher : Prodi Sarjana Teknik Sipil, FT, Universitas Tarumanagara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/jmts.v8i2.32598

Abstract

There are numerous challenges faced by geotechnical engineers in ensuring the construction of safe and durable infrastructure, one of which is the presence of expansive soils. Expansive soil refers to any soil or rock material that has the potential to shrink or swell due to changes in moisture conditions. However, moisture content is not the only factor affecting soil expansion behavior; Plastic limit, Liquid limit, Plasticity Index, Clay Percentage and Fine Content Percentage also play significant roles.Under certain conditions, these parameters may not directly influence the degree of soil expansion. These parameters significantly impact soil swelling when expansive minerals like montmorillonite or vermiculite are present. In this study, while X-Ray Diffraction Analysis was not conducted to identify soil minerals, the coefficients of determination indicate that dry density, water content, natural void ratio, initial void ratio, and fine content percentage are the most influential factors affecting swelling pressure, respectively. However, variations in samples may lead to differing conclusions due to the lack of information regarding the mineral composition of each sample. Abstrak Terdapat banyak tantangan bagi insinyur geoteknik dalam pelaksanaan pembangunan infrastruktur yang aman dan tahan lama, salah satunya adalah keberadaan tanah ekspansif. Tanah ekspansif adalah istilah yang diterapkan pada material tanah atau batuan apa pun yang berpotensi menyusut atau membengkak karena kondisi kelembapan yang berubah. Namun tidak hanya kelembaban yang memengaruhi perilaku mengembang tanah, rasio pori tanah, Plastic limit, Liquid limit, Plasticity Index, Clay Percentage, dan Fine Content Percentage juga memengaruhinya. Pada kondisi tertentu beberapa parameter ini tidak semata mata memengaruhi besarnya pengembangan tanah. Parameter-parameter tersebut akan berpengaruh secara signifikan apabila diiringi dengan kondisi tanah lempung yang mengandung mineral ekspansif seperti montmorillonite atau vermiculite. Pada penelitian ini tidak dilakukan X-Ray Diffraction Analysis sehingga tidak ada data mengenai mineral yang terkandung dalam sampel tanah, namun dari nilai masing-masing koefisien determinasi dapat disimpulkan bahwa secara berurutan, dry density, water content, natural void ratio, initial void ratio, dan %fine content adalah yang paling memengaruhi nilai swelling pressure.
ANALISIS KINERJA EXPANDED POLYSTYRENE (EPS) GEOFOAM SEBAGAI MATERIAL TIMBUNAN Andrawan; Prihatiningsih, Aniek; James. W; Johan, Albert
JMTS: Jurnal Mitra Teknik Sipil Volume 8, Nomor 2, Mei 2025
Publisher : Prodi Sarjana Teknik Sipil, FT, Universitas Tarumanagara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/jmts.v8i2.32614

Abstract

Expanded Polystyrene (EPS) Geofoam is a geosynthetic material that has a light weight but remains strong. This advantage makes it a popular alternative choice in many countries. This research focuses on the utilization of EPS geofoam to improve slope stability, with analysis conducted using Plaxis 2D software. The case study was taken from a slope in West Java that is prone to ground movement. The data analyzed included slope subgrade characteristics, EPS geofoam, and soil backfill as a parameter for comparison of EPS geofoam effectiveness. Slope protection was performed using a retaining wall structure, and analysis was performed on the backfill material consisting of soil and EPS geofoam. The analysis showed that EPS geofoam can improve slope stability as a result of higher factor of safety values compared to the use of soil fill. In addition, the use of EPS geofoam can also reduce the need for additional reinforcement in the retaining wall structure. These findings indicate that the use of EPS geofoam as backfill material can reduce the risk of landslides and speed up the construction time for slope protection. Abstrak Expanded Polystyrene (EPS) Geofoam adalah material geosintetik yang memiliki berat ringan namun tetap kuat. Keunggulan ini menjadikannya pilihan alternatif yang populer di berbagai negara. Penelitian ini berfokus pada pemanfaatan EPS geofoam untuk meningkatkan stabilitas lereng, dengan analisis yang dilakukan menggunakan  software Plaxis 2D. Studi kasus diambil dari lereng di Jawa Barat yang rentan terhadap pergerakan tanah. Data yang dianalisis mencakup karakteristik tanah dasar lereng, EPS geofoam, dan timbunan tanah sebagai parameter perbandingan efektivitas EPS geofoam. Proteksi lereng dilakukan dengan menggunakan struktur dinding penahan tanah, dan analisis dilakukan terhadap material penimbun yang terdiri dari tanah dan EPS geofoam. Hasil analisis menunjukkan bahwa EPS geofoam dapat meningkatkan stabilitas lereng hasil dari nilai faktor keamanan yang lebih tinggi dibandingkan dengan penggunaan timbunan tanah. Selain itu, penggunaan EPS geofoam juga dapat mengurangi kebutuhan perkuatan tambahan pada struktur dinding penahan tanah. Temuan ini mengindikasikan bahwa penggunaan EPS geofoam sebagai material timbunan dapat mengurangi risiko longsoran dan mempercepat waktu konstruksi untuk perlindungan lereng.
ANALISIS KOMPARATIF PEMAKAIAN TWO-WAY SLAB DAN FLAT SLAB TERHADAP KINERJA SEISMIK GEDUNG “LP” Gusanto, Steven; Sandjaya, Arif
JMTS: Jurnal Mitra Teknik Sipil Volume 8, Nomor 2, Mei 2025
Publisher : Prodi Sarjana Teknik Sipil, FT, Universitas Tarumanagara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/jmts.v8i2.32725

Abstract

Indonesia is located in a seismically active region due to the presence of the Eurasian Plate and the Indo-Australian Plate. This means that buildings and non-building structures must be designed to withstand seismic forces. One of the critical elements in resisting earthquakes in a building is the floor slab. In addition to resisting seismic forces, the floor slab also serves as a walking and activity area for people. There are several types of floor slab construction, for example flat slab and two-way slab. When considering which type of floor slab construction to use in a building, a seismic performance analysis of the slabs is necessary to evaluate their effectiveness under gravitational loads and lateral forces. This study examines seismic performance indicators such as base shear, story shear, story displacement, and story drift that occur in each type of floor slab. The dimensions and specifications of the slabs used will be adjusted according to minimal requirements. The seismic analysis is conducted in three dimensions using response spectrum analysis. Based on the analysis results, it can be concluded that two-way slabs exhibit higher seismic resistance compared to flat slabs, as they result in greater base shear, story shear, story displacement, and story drift. Consequently, the design of buildings with two-way slabs will be safer against larger seismic loads than those with flat slabs. Abstrak Indonesia berada pada daerah rawan bencana gempa karena dilewati oleh lempeng Eurasia dan lempeng Indo-Australia. Hal ini berarti bangunan gedung maupun non gedung hraus dirancang menahan gaya gempa. Salah satu elemen yang membantu menyalurkan beban lateral gempa adalah pelat lantai. Selain itu, pelat lantai juga berfungsi sebagai tempat berpijak dan beraktivitas bagi manusia. Terdapat beberapa jenis konstruksi pelat lantai, contohnya adalah flat slab dan two-way slab. Dalam mempertimbangkan jenis konstruksi pelat lantai yang akan digunakan pada bangunan, dibutuhkan analisis kinerja seismik dari pelat yang dapat bekerja dan seberapa optimal mereka saat dibebani gravitasi dan gaya lateral. Penelitian ini mengkaji kinerja seismik seperti base shear, story shear, story displacement, dan story drift yang terjadi pada masing-masing jenis pelat lantai. Dimensi dan spesifikasi pelat yang digunakan akan disesuaikan dengan kebutuhan minimal. Analisis gempa dilakukan secara tiga dimensi menggunakan analisis respons spektrum. Berdasarkan hasil analisis dapat disimpulkan bahwa two-way slab memiliki ketahanan seismik yang lebih tinggi dibandingkan dengan flat slab karena menghasilkan base shear, story shear, story displacement, dan story drift yang lebih besar. Hal ini mengakibatkan desain dari bangunan konstruksi two-way slab akan lebih aman terhadap beban gempa yang lebih besar dibandingkan dengan flat slab.
EVALUASI KINERJA STRUKTUR BANGUNAN GEDUNG PERKANTORAN 7 LANTAI DENGAN ANALISIS PUSHOVER Sungkana, Kennard Evan; Prabowo, Andy; Christianto, Daniel
JMTS: Jurnal Mitra Teknik Sipil Volume 8, Nomor 2, Mei 2025
Publisher : Prodi Sarjana Teknik Sipil, FT, Universitas Tarumanagara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/jmts.v8i2.32771

Abstract

Earthquakes are natural events that cannot be predicted in terms of when and where they will occur. Seismic vibrations damage buildings on the surface and can cause structural failures, resulting not only material losses but also casualties. Therefore, the design of both building and non-building structures must adopt earthquake-resistant structures to prevent building collapse. SNI 1726:2019 provides values of structural ductility parameters, namely R, Ω0, and Cd, for each seismic load-bearing structural system, such as special moment resisting frames (SRMF). The achievement of these three ductility parameter values in new and existing building structures can be evaluated for the achievement of ductility parameter values from the result capacity design. The analysis result shows that the structure in question, based on Vdesign­, has values of R = 9.11, Ω0 = 9.31, and Cd = 3.99 for the X direction and R = 5.18, Ω0 = 2.15, and Cd = 3.92 for the Y direction. While the analysis results based on Vyield­ have values of R = 1.56, Ω0 = 1.59 and Cd = 2.867 for the X direction, and R = 3.63, Ω0 = 2.26, and Cd = 4.06 for the Y direction. Based on the Capacity Spectrum Method (CSM) analysis, the performance level of the structure in the X direction is in the A – IO category, and in the Y direction is LS – CP. However, according to the Displacement Coefficient Method (DCM) analysis, the performance level of the structure in the X direction is in the A – IO category, and in the Y direction is IO – LS category. Abstrak Gempa bumi merupakan peristiwa alam yang tidak dapat diperkirakan kapan dan dimana terjadinya. Getaran gempa merusak bangunan yang berada dipermukaan dan dapat mengakibatkan kegagalan struktur yang dapat merugikan tidak hanya materi, namun juga dapat menimbulkan korban jiwa. Oleh karena itu, perencanaan struktur gedung maupun non-gedung haruslah menerapkan struktur tahan gempa sehingga tidak menimbulkan keruntuhan bangunan. SNI 1726:2019 memberikan nilai-nilai parameter daktilitas struktur, yaitu R, Ω0 , dan Cd untuk setiap sistem struktur pemikul beban gempa, seperti pada sistem rangka pemikul momen khusus (SRPMK). Tercapainya ketiga nilai parameter daktilitas tersebut pada struktur bangunan gedung baru maupun eksisting, dapat dievaluasi menggunakan analisis pushover. Pada jurnal ini struktur gedung baru yang menggunakan SRPMK dievaluasi ketercapaian nilai parameter daktilitas dari hasil perancangan desain kapasitas. Hasil analisis menunjukan bahwa struktur bangunan yang ditinjau berdasarkan Vdesign memiliki nilai R = 9,11, Ω0 = 9,31, dan Cd = 3,99 untuk arah X, dan R = 5,18, Ω0 = 2,15, dan Cd = 3,92 untuk arah Y. Sedangkan hasil analisis dintinjau berdasarkan Vyield memiliki nilai R = 1,56, Ω0 = 1,59, dan Cd = 2,87 untuk arah X, dan R = 3,63, Ω0 = 2,26, dan Cd = 4,06 untuk arah Y Berdasarkan analisis metode kapasitas spektrum (CSM),  tingkat kinerja struktur arah X adalah dalam kategori A – IO, dan arah Y adalah LS-CP. Namun, menurut analisis metode koefisien perpindahan (DCM), tingkat kinerja struktur arah X adalah dalam katergori A-IO dan arah Y adalah IO-LS.
PEMANFAATAN LIMBAH PLASTIK POLYETHYLENE THEREPTHALETE (PET) UNTUK CAMPURAN ASPHALT CONCRETE - WEARING COURSE (AC – WC) Pristyawati, Tantin; Susilo, Hery; Adhi, Bagas Wahyu
JMTS: Jurnal Mitra Teknik Sipil Volume 8, Nomor 2, Mei 2025
Publisher : Prodi Sarjana Teknik Sipil, FT, Universitas Tarumanagara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/jmts.v8i2.33112

Abstract

This research is an innovation to reduce asphalt use by adding PET plastic waste to the asphalt mixture. The asphalt mix design uses 60/70 pen asphalt with a certain percentage as well as PET waste. The aim of the research is to  find out what is the optimal percentage of using PET in the pen 60/70 asphalt mixture to produce an asphalt mixture that meets the criteria or specifications and what are the stability and flow values ​​with this mixed innovation.  The use of PET is being considered because this is expected to reduce plastic waste. Apart from that, PET's properties include being strong, water resistant and easy to recycle. It is hoped that it will be able to contribute to the mixture in terms of ease of implementation in the mixture and providing strength to the mixture. The implementation used the experimental method with data taken directly where the aggregate data, the average density of fine and coarse aggregates was 2.7 and 2.6, gradation analysis using a combination of coarse aggregates (CA): medium aggregates (MA): fine aggregates (FA) obtained 19%: 34%: 46%. Asphalt pen 60/70 which meets specifications and PET waste with percentages of 2%, 4%, 6%, 8% and 10%. The test results of the mixture obtained a stability value between 1100 to 1300 kg and a flow value ranging from 3.00 – 3.70. Abstrak Penelitian ini merupakan salah satu inovasi untuk mengurangi penggunaan aspal dengan menambahkan limbah plastik PET pada campuran aspal. Desain campuran aspal menggunakan aspal pen 60/70 dengan persentase tertentu begitu juga limbah PET. Tujuan untuk mengetahui berapa persentase optimal penggunaan PET padacampuran  aspal pen 60/70 untuk menghasilkan campuran aspal yang memenuhi kriteria atau spesifikasi dan berapa nilai stability dan flow dengan inovasi campuran tersebut. Penggunaan PET dipertimbangkan karena dengan ini diharapkan dapat mengurangi  limbah  plastic, selain itu sifat yang dimiliki PET antara lain kuat, tahan air dan mudah di daur ulang diharapkan mampu memberikan kemudahan pelaksanaan dalam campuran dan memberikan tambahan kekuatan pada campuran aspal. Pelaksanaan menggunakan metode experiment dengan data yang diambil secara langsung dimana data agregat berat jenis rata – rata agregat halus juga kasar adalah  2,7 dan 2,6,  analisa gradasi dengan kombinasi coarse agregates (CA) : agregat medium (MA) : agregat halus (FA) diperoleh 19% : 34% : 46%. Aspal pen 60/70 yang memenuhi spesifikasi dan limbah PET dengan persentase 2%, 4%, 6%, 8% dan 10 %. Hasil uji dari campuran  diperoleh nilai stabilitas di antara 1100 sampai 1300 kg dan nilai flow rentang 3,00 – 3,70.