cover
Contact Name
Lira Mufti Azzahri Isnaeni
Contact Email
liramuftiazzahri.isnaeni@gmail.com
Phone
+6285271651482
Journal Mail Official
prepotifjurnalkesmas.up@gmail.com
Editorial Address
Jl. Tuanku Tambusai 23 Bangkinang, Kampar, Riau
Location
Kab. kampar,
Riau
INDONESIA
PREPOTIF : Jurnal Kesehatan Masyarakat
ISSN : 26231573     EISSN : 26231581     DOI : https://doi.org/10.31004/prepotif
Core Subject : Health,
PREPOTIF Jurnal Kesehatan Masyarakat adalah bidang kesehatan yang luas seperti kesehatan masyarakat, Keselamatan dan Kesehatan Kerja, Epidemiologi, keperawatan, kebidanan, kedokteran, farmasi, psikologi kesehatan, nutrisi, teknologi kesehatan, analisis kesehatan, sistem informasi kesehatan, hukum kesehatan, rumah sakit manajemen, Ekonomi Kesehatan, Kebijakan Kesehatan, kesehatan lingkungan dan sebagainya.
Articles 2,264 Documents
HUBUNGAN KONSUMSI SUGAR-SWEETENED BEVERAGES DENGAN DURASI MENSTRUASI PADA REMAJA PUTRI Ekayanti, Ni Wayan Sri; Wijaya, Putu Austin Widyasari; Evayanti, Luh Gde; Ekayani, Ni Wayan Diana; Trisnia, Putu Ayunda
PREPOTIF : JURNAL KESEHATAN MASYARAKAT Vol. 10 No. 1 (2026): APRIL 2026
Publisher : Universitas Pahlawan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/prepotif.v10i1.56718

Abstract

Konsumsi minuman manis yang tinggi merupakan kebiasaan yang umum pada remaja dan berpotensi memengaruhi berbagai aspek kesehatan, termasuk fungsi reproduksi. Menstruasi merupakan salah satu indikator penting kesehatan endokrin pada remaja putri. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis hubungan antara tingkat konsumsi minuman manis dan durasi menstruasi pada remaja putri. Penelitian ini menggunakan desain cross-sectional dengan melibatkan 76 responden remaja putri yang dipilih menggunakan teknik simple random sampling. Konsumsi minuman manis diukur menggunakan Food Frequency Questionnaire (FFQ) dan dikategorikan menjadi rendah (≤2 kali/minggu), sedang (3–5 kali/minggu), dan tinggi (>5 kali/minggu). Durasi menstruasi dikategorikan menjadi singkat (<3 hari), normal (3–7 hari), dan panjang (>7 hari). Analisis bivariat dilakukan menggunakan uji Chi-square, dengan koreksi Fisher’s exact test pada sel dengan expected count kecil. Kekuatan hubungan dianalisis menggunakan koefisien Cramer’s V. Hasil penelitian menunjukkan adanya hubungan yang signifikan antara tingkat konsumsi minuman manis dan durasi menstruasi pada remaja putri (χ² = 11.82; p = 0.019). Namun kekuatan hubungan tergolong lemah (Cramer’s V = 0.28). Temuan ini menunjukkan bahwa konsumsi minuman manis berpotensi berkontribusi terhadap variasi durasi menstruasi pada remaja putri, meskipun faktor lain kemungkinan memiliki pengaruh yang lebih besar.
PREVALENSI DAN PROFIL KOMORBIDITAS PADA PASIEN DIABETES MELLITUS PROGRAM RUJUK BALIK KLINIK PRATAMA MAKMUR JAYA, TANGERANG SELATAN TAHUN 2025 Rahayu, Ayat; Komalasari, Komalasari; Muzzammil, Fajr; Ramadhaniah, Sakinah Mawaddah; Amiyanti, Nurul Fathia Shafira; Rahman, Abdul
PREPOTIF : JURNAL KESEHATAN MASYARAKAT Vol. 10 No. 1 (2026): APRIL 2026
Publisher : Universitas Pahlawan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/prepotif.v10i1.56730

Abstract

Diabetes mellitus (DM) merupakan salah satu penyakit tidak menular yang menjadi masalah kesehatan global dengan prevalensi kasus yang terus meningkat setiap tahun. Di Indonesia, DM merupakan salah satu penyakit kronis dengan prevalensi tinggi yang banyak ditemukan di fasilitas pelayanan kesehatan tingkat pertama (FKTP). Namun demikian, data mengenai prevalensi dan pola komorbiditas pada pasien DM di FKTP masih terbatas. Penelitian ini bertujuan untuk menghitung prevalensi dan profil komorbiditas pada pasien DM peserta program pasien rujuk balik (PRB) di Klinik Pratama Makmur Jaya, Tangerang Selatan, tahun 2025. Penelitian deskriptif desain retrospektif dilakukan berdasarkan data rekam medis pasien PRB-DM. Terdapat 104 pasien DM (n=104) di Klinik Pratama Makmur Jaya yang sebagian besar berada pada kelompok usia >60 tahun (n=72; 69,2%), diikuti oleh kelompok usia 45–59 tahun (n=26; 25,0%) dan <45 tahun (n=6; 5,8%). Berdasarkan jenis kelamin, pasien lebih banyak perempuan (n=57; 52,9%) dibandingkan dengan laki-laki (n=47; 47,1%). Komorbiditas yang paling sering ditemukan adalah hipertensi (n=28; 26,9%), diikuti penyakit jantung (n=25; 24,0%) dan stroke (n=13; 12,5%), sedangkan komorbiditas respirasi seperti penyakit paru obstruktif kronik/PPOK (n=5; 4,8%) dan asma (n=1; 1,0%) ditemukan dalam proporsi yang lebih kecil. Secara keseluruhan, hasil ini menunjukkan bahwa komorbiditas kardiovaskular merupakan komorbiditas yang paling dominan pada pasien DM dalam penelitian ini.
HUBUNGAN PENGETAHUAN LEUKOREA DENGAN PERILAKU VULVA HYGIENE MAHASISWI KEPERAWATAN UNAI Aritonang, Fitri Sabatri; angin, 1. Mori Agustina Br. Perangin-
PREPOTIF : JURNAL KESEHATAN MASYARAKAT Vol. 10 No. 1 (2026): APRIL 2026
Publisher : Universitas Pahlawan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/prepotif.v10i1.56800

Abstract

Masalah kesehatan reproduksi yang kerap dialami oleh perempuan dalam masa produktif adalah keputihan, atau yang secara medis disebut leukorea. Keputihan patologis dapat menjadi tanda infeksi dan sering berkaitan dengan perilaku kebersihan area genital yang kurang tepat. Pengetahuan tentang leukorea dan vulva hygiene berperan penting dalam upaya pencegahan. Mahasiswi yang tinggal di asrama memiliki risiko lebih tinggi terhadap gangguan kebersihan organ reproduksi karena penggunaan fasilitas bersama dan keterbatasan sanitasi. Penelitian ini mengkaji mahasiswi Fakultas Ilmu Keperawatan yang menetap di asrama Universitas Advent Indonesia guna mengidentifikasi gambaran pengetahuan leukorea, penerapan vulva hygiene, dan keterkaitan antara keduanya. Penelitian kuantitatif cross-sectional ini melibatkan 116 responden melalui teknik total sampling. Data pengetahuan (25 butir) dan perilaku (15 butir skala Likert) dikumpulkan melalui kuesioner, lalu dianalisis menggunakan uji korelasi Spearman untuk melihat hubungan antar variabel. Hasil studi menunjukkan bahwa pengetahuan (56,9%) dan perilaku vulva hygiene (69,8%) responden dominan berada pada kategori cukup. Uji Spearman mengonfirmasi adanya hubungan positif yang signifikan namun lemah (r = 0,286; p = 0,002) antara kedua variabel. Disimpulkan bahwa pengetahuan tentang leukorea berhubungan langsung dengan perilaku kebersihan mahasiswi di asrama. Peningkatan pengetahuan cenderung diikuti oleh peningkatan perilaku, meskipun pengetahuan bukan satu-satunya faktor yang memengaruhi praktik kebersihan vulva.
PARESE NERVUS OCULOMOTOR AKIBAT MASSA PADA AREA INTRASELLA : CASE REPORT Nursalim, Agla Awal; Sasangko, Hari Andang; Wahyuni, Octavia Dwi
PREPOTIF : JURNAL KESEHATAN MASYARAKAT Vol. 10 No. 1 (2026): APRIL 2026
Publisher : Universitas Pahlawan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/prepotif.v10i1.56801

Abstract

Parese nervus okulomotor (CN III) merupakan gangguan neurologis yang dapat disebabkan oleh berbagai kondisi intrakranial, termasuk lesi pada area sinus kavernosus dan sella turcica. Salah satu penyebabnya adalah massa pada area intrasella, seperti adenoma pituitari. Adenoma pituitari merupakan tumor intrakranial yang relatif sering ditemukan dan dapat menimbulkan gejala akibat efek massa terhadap struktur di sekitarnya, termasuk gangguan saraf kranial dan gangguan lapang pandang. Laporan kasus ini bertujuan untuk menggambarkan manifestasi klinis parese nervus okulomotor yang disebabkan oleh massa pada area intrasella. Seorang laki-laki usia 43 tahun datang dengan keluhan kelopak mata sulit terbuka, gangguan pergerakan bola mata, nyeri kepala, dan kebas pada wajah. Pemeriksaan neurologis menunjukkan adanya ptosis serta penurunan lapang pandang. Hasil MRI kepala non kontras menunjukkan gambaran massa intrasella dengan kemungkinan microadenoma pituitari. Pasien mendapatkan terapi simptomatik dan direncanakan evaluasi hormon serta rujukan ke bedah saraf untuk penatalaksanaan lebih lanjut. Massa pada area intrasella, seperti adenoma pituitari, dapat menimbulkan gejala neurologis berupa parese nervus okulomotor dan gangguan lapang pandang akibat efek penekanan struktur sekitarnya. Identifikasi dini melalui evaluasi klinis dan pemeriksaan penunjang sangat penting untuk menegakkan diagnosis dan menentukan tatalaksana yang tepat.