Articles
14 Documents
Search results for
, issue
"Vol. 5 No. 1 (2023): Juni"
:
14 Documents
clear
Korelasi karies gigi dan status gizi pada anak usia 3-5 tahun
Wibowo, Angga Arjuno;
Rusip, Gusbakti;
Erawati, Suci
Jurnal Prima Medika Sains Vol. 5 No. 1 (2023): Juni
Publisher : Program Studi Magister Kesehatan Masyarakat Universitas Prima Indonesia
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.34012/jpms.v5i1.3428
Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis hubungan karies gigi dengan status gizi. Penelitian ini merupakan jenis penelitian observasional analitik dengan desain cross-sectional. Penelitian ini dilakukan di Desa Araskabu, Kecamatan Beringin, Kabupaten Deli Serdang pada bulan Oktober 2022 hingga Desember 2022. Besar sampel pada studi ini sebanyak 70 orang. Pengumpulan data dilakukan dengan menggunakan kuisioner serta dilakukan pemeriksaan indeks DMF-T berdasarkan WHO melalui pemeriksaan klinis pada rongga mulut menggunakan diagnostic set disposable dan pencahayaan dari headlamp. Analisis data yang digunakan dalam penelitian ini adalah analisis univariat dan bivariat (uji Chi Square). Hasil penelitian menunjukkan bahwa tidak ada kaitan antara karies gigi dengan status gizi pada anak usia 3-5 tahun (p=0,357). Namun dengan tingginya prevalensi karies gigi (61,1%) maka perlu adanya perhatian khusus untuk mengintervensi melalui pemantauan berkala, memperhatikan konsumsi makanan anak dan memberikan edukasi pada orang tua dan pihak sekolah.
Tren kematian ibu di Provinsi Sumatera Utara Tahun 2018 – 2020
Bancin, Lamtiur Junita;
Hasibuan, Fakhrial Mirwan;
Elisa, Elisa;
Maha, Eko Armando
Jurnal Prima Medika Sains Vol. 5 No. 1 (2023): Juni
Publisher : Program Studi Magister Kesehatan Masyarakat Universitas Prima Indonesia
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.34012/jpms.v5i1.3507
Kesejahteraan ibu perlu mendapat perhatian, khususnya dari aspek pelayanan kesehatan ibu. Indikator kesejahteraan ibu tergambar dari Angka Kematian Ibu (AKI), yaitu indikator yang dapat menggambarkan kondisi/status kesehatan ibu selama hamil, melahirkan, maupun 42 hari paska persalinan (masa nifas). Penelitian ini bertujuan untuk menggambarkan tren jumlah kematian ibu di Provinsi Sumatera Utara Tahun 2018-2020; mendeskripsikan jumlah kematian ibu berdasarkan usia, periode kematian, dan penyebab kematian; menggambarkan sebaran kematian ibu di 33 kabupaten/kota Tahun 2018-2020; serta mendeskripsikan program/kegiatan yang mendukung kesehatan ibu. Penelitian ini menggunakan rancangan data kuantitatif dan pendekatan deskriptif dengan mengambil data sekunder tahun 2018-2020 dari Dinas Kesehatan Provinsi Sumatera Utara dengan populasi seluruh ibu yang meninggal pada saat hamil, bersalin, maupun nifas dengan pengambilan total sampling. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa kondisi kematian ibu tertinggi selama kurun waktu tersebut (2018-2020) adalah pada masa bersalin dengan usia ibu 20-34 tahun, di mana penyebab kematian adalah perdarahan dan hipertensi. Untuk sebaran data per kabupaten/kota, Kabupaten Asahan dan Deli Serdang merupakan daerah dengan kategori tinggi selama 3 (tiga) tahun berturut-turut. Kemitraan dan kolaborasi lintas sektoral dalam pelayanan kesehatan ibu perlu ditingkatkan mengingat masalah kesehatan ibu tidak hanya melibatkan sektor kesehatan saja, tetapi juga memerlukan penguatan ekonomi keluarga serta peran dan dukungan dari keluarga dan orang-orang sekitar. Peran Dinas Kesehatan Provinsi dan Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota dalam monitoring dan evaluasi kegiatan pelayanan kesehatan ibu juga perlu ditingkatkan, di samping tetap konsisten untuk menyelenggarakan kegiatan pelayanan kesehatan ibu dan peningkatan sumber daya tenaga kesehatan dalam pelayanan kesehatan ibu.
Penyesuaian dosis obat pada pasien penyakit ginjal kronis serta hubungannya dengan outcome terapi
Panggabean, Aminah;
Fatma Sriwahyuni;
Aldi, Yufri
Jurnal Prima Medika Sains Vol. 5 No. 1 (2023): Juni
Publisher : Program Studi Magister Kesehatan Masyarakat Universitas Prima Indonesia
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.34012/jpms.v5i1.3552
Salah satu strategi pemberian obat pada pasien penyakit ginjal kronis (PGK) dapat dilakukan dengan penyesuaian dosis obat untuk memastikan outcome terapi yang optimal. Penelitian ini bertujuan mengetahui hubungan penyesuaian dosis obat dengan outcome terapi pada pasien PGK rawat inap. Penelitian ini bersifat observational dengan desain cross sectional. Teknik pengambilan sampel menggunakan teknik purposive sampling. Sebanyak 73 rekam medis pasien PGK rawat inap periode Januari-Desember 2022 di RSUD Padangsidimpuan. Penyesuaian dosis dihitung berdasarkan fungsi ginjal dengan estimasi GFR (Glomerular Filtration Rate) menggunakan formula Chronic Kidney Disease Epidemiology Collaboration (CKD-epi). Hubungan antara penyesuaian dosis dengan outcome terapi obat menggunakan analisis Chi-Square. Hasil penelitian menunjukkan terdapat 655 obat yang diresepkan, 271 ( 41,4%) obat membutuhkan penyesuaian dosis, di mana 142 (52.4%) obat diberikan dengan penyesuaian dosis dan 129 (47.6%) obat diberikan tanpa penyesuaian dosis. Dari analisis outcome terapi yang dilakukan, terdapat 72 (73,5%) obat diberikan dengan penyesuaian dosis, 56 (77,8%) obat memberikan outcome terapi membaik dan 16 (22,2%) obat memberikan outcome terapi tidak membaik. Sedangkan 26 (26,5%) obat diberi tanpa penyesuaian dosis terdapat 11 (42,3%) obat memberikan outcome terapi membaik dan 14 (53,8%) obat memberikan outcome terapi tidak membaik. Terdapat hubungan yang signifikan antara penyesuaian dosis obat dengan outcome terapi pada pasien PGK rawat inap (p=0,003).
Gambaran derajat keparahan neuropati perifer pada pasien diabetes melitus tipe 2
Nurjannah, Nurjannah;
Saputra, Bayu;
Erianti, Susi
Jurnal Prima Medika Sains Vol. 5 No. 1 (2023): Juni
Publisher : Program Studi Magister Kesehatan Masyarakat Universitas Prima Indonesia
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.34012/jpms.v5i1.3562
Penyakit diabetes melitus merupakan salah satu penyakit tidak menular dengan prevalensi kasus yang selalu mengalami kenaikan di dunia. Neuropati merupakan suatu kondisi di mana kerusakan saraf terjadi pada pasien diabetes melitus, kondisi ini paling sering terjadi pada kaki. Neuropati mengacu pada sekelompok penyakit yang menyerang semua jenis saraf, termasuk saraf sensorik, motorik dan otonom. Sering ditemukan pada bagian perifer tubuh atau dikenal sebagai neruropati perifer. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui gambaran derajat keparahan neuropati perifer dengan jumlah populasi 46 orang responden dengan menggunakan kuesioner. Jenis penelitian yang digunakan yaitu kuantitatif dengan pendekatan deskriptif. Jumlah sampel penelitian ini adalah 46 orang diambil dengan teknik total sampling. Analisis yang digunakan dalam penelitian ini adalah analisis univariat yaitu usia, jenis kelamin, lama menderita diabetes melitus dan derajat keparahan neuropati perifer. Hasil analisis menunjukkan bahwa penderita yang mengalami neuropati perifer yaitu mayoritas berjenis kelamin perempuan berjumlah 33 orang (71,7%). Responden telah menderita diabetes melitus selama 1-5 tahun yaitu berjumlah 27 orang (56,7%) dan derajat keparahan neuropati berat yaitu berjumlah 23 orang (50,0%).
Uji antibakteri gel hand sanitizer ekstrak etanol bunga krisan (Chrysanthemum segetum) terhadap bakteri Staphylococcus aureus
Rumanti, Ruth Mayana;
Nasution, Rizka Hasmi;
Naldi, Jefri
Jurnal Prima Medika Sains Vol. 5 No. 1 (2023): Juni
Publisher : Program Studi Magister Kesehatan Masyarakat Universitas Prima Indonesia
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.34012/jpms.v5i1.3595
Gel hand sanitizer memiliki kemampuan aktivitas bakteriosida yang baik terhadap bakteri dikulit. Adanya kandungan senyawa flavonoida dalam bunga krisan (Chrysanthemum segetum) berperan sebagai antibakteri aktif dalam menghambat pertumbuhan bakteri Staphylococcus aureus. Studi ini bertujuan untuk menguji aktivitas antibakteri sediaan gel antiseptik tangan (hand sanitizer) ekstrak etanol bunga krisan terhadap bakteri Staphylococcus aureus. Prosedur meliputi pengumpulan, pembuatan simplisia, karakterisasi simplisia, pembuatan ekstrak dengan metode maserasi, sediaan gel dibuat menjadi konsentrasi 10%, 15% dan 20% dilanjutkan pengujian antibakteri metode difusi agar. Hasil uji zona hambat bakteri pada konsentrasi 10% dengan nilai rata-rata 3,76 mm, konsentrasi 15% sebesar 4,71 mm dan konsentrasi 20% sebesar 5,31 mm dengan kategori sedang.
Penentuan kadar total fenolik, total flavonoid, dan uji aktivitas antibakteri ekstrak etanol daun kerai payung (Filicium decipiens) terhadap bakteri Propionibacterium acnes dan Staphylococcus epidermis
Hoswari, Cindy Natasya;
Br Karo, Reh Malem;
Yudha, M
Jurnal Prima Medika Sains Vol. 5 No. 1 (2023): Juni
Publisher : Program Studi Magister Kesehatan Masyarakat Universitas Prima Indonesia
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.34012/jpms.v5i1.3699
Tanaman kerai payung (Filicium decipiens) merupakan salah satu jenis tanaman yang dapat digunakan sebagai bahan alternatif dalam pembuatan obat. Tanaman ini mengandung berbagai senyawa metabolit sekunder seperti senyawa fenolik, flavonoid, tanin, alkaloid, saponin dan terpenoid. Adapun tujuan penelitian ini adalah untuk menentukan kadar total fenolik, total flavonoid ekstrak etanol daun Filicium decipiens serta aktivitasnya terhadap bakteri Propionibacterium acnes dan Staphylococcus epidermis. Ekstrak etanol daun Filicium secipiens diperoleh melalui metode ekstraksi secara maserasi dengan pelarut etanol. Kadar total fenolik dan flavonoid ekstrak etanol daun Filicium decipiens ditentukan dengan menggunakan metode spektrofotometri UV-Visible. Penentuan kadar total fenolik dan flavonoid masing-masing menggunakan pereaksi Folin-Ciocalteau dan . Ekstrak dibuat dalam variasi konsentrasi (25%,50%%,100%) dan dilakukan pengujian aktivitas antibakteri dengan menggunakan metode difusi cakram. Berdasarkan pada hasil penelitian diperoleh bahwa kadar total fenolik dan flavonoid ekstrak etanol daun Kerai Payung masing-masing adalah 234,79 mg/GAE/g dan 4,5905 mg/QE/g. Hasil uji aktivitas antibakteri pada berbagai variasi konsentrasi ekstrak terhadap bakteri Propionibacterium acnes dan Staphylococcus epidermis diperoleh masing-masing zona hambat terbesar pada konsentrasi ekstrak 100% yaitu 17,72 mm untuk Propionibacterium acnes dan 18,18 mm untuk Staphylococcus epidermis. Zona hambat yang dihasilkan tersebut tergolong kuat.
Aktivitas antibakteri bakteri endofit daun kelapa sawit (Elaeis guineensis) terhadap Escherichia coli dan Staphylococcus aureus
Harmileni, Harmileni;
Saragih, Gimelliya;
Hidayani, Tengku Rachmi;
Mirnandaulia, Meutia
Jurnal Prima Medika Sains Vol. 5 No. 1 (2023): Juni
Publisher : Program Studi Magister Kesehatan Masyarakat Universitas Prima Indonesia
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.34012/jpms.v5i1.3755
Mikroorganisme endofit adalah mikroorganisme yang terdapat dalam jaringan tanaman dan memiliki kemiripan sifat senyawa bioaktif dengan tanaman inangnya. Daun kelapa sawit diketahui memiliki aktivitas antibakteri, tetapi penelitian mengenai aktivitas antibakteri bakteri endofitnya belum pernah dilaporkan. Tujuan penelitian ini adalah mengisolasi bakteri endofit dari daun kelapa sawit serta menentukan aktivitas antibakteri terhadap Escherichia coli dan Staphylococcus aureus. Delapan isolat bakteri endofit berhasil diisolasi dari daun kelapa sawit. Satu isolat termasuk bakteri Gram negatif dan tujuh isolat adalah bakteri Gram positif. Analisa morfologi menunjukkan satu isolat berbentuk basil dan yang lain berbentuk kokus. Uji antibakteri menunjukkan satu isolat (IDS18) menunjukkan aktivitas antibakteri yang kuat terhadap S.aureus dengan zona hambat 13 mm, tetapi tidak menunjukkan aktivitas antibakteri terhadap E. coli. Sementara lima isolat yaitu IDS1, IDS10, IDS11, IDS14 dan IDS16 menunjukkan aktivitas yang lemah terhadap E.coli, tetapi tidak memiliki aktivitas terhadap S.aureus. Hasil penelitian menunjukkan bahwa bakteri endofit daun kelapa sawit berpotensi sebagai penghasil senyawa antibakteri. Diperlukan penelitian lebih lanjut mengenai optimasi produksi senyawa bioaktif antibakteri serta karakterisasinya.
Pengaruh penggunaan posisi orthopnea terhadap penurunan sesak nafas pada pasien TB paru
Empraninta, Hanna Ester;
Supardi, Supardi;
Mahdalena, Piyanti Saurina
Jurnal Prima Medika Sains Vol. 5 No. 1 (2023): Juni
Publisher : Program Studi Magister Kesehatan Masyarakat Universitas Prima Indonesia
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.34012/jpms.v5i1.3783
TB paru dapat menyebabkan kerusakan atau fibrosis pada saluran pernapasan dan jaringan paru-paru, yang ditandai dengan kesulitan bernafas dan batuk. Studi ini bermaksud untuk menelaah lebih lanjut tentang efektifitas posisi orthopnea terhadap penurunan sesak nafas pada pasien TB paru. Studi ini merupakan penelitian kuantitatif dengan metode quasy experiment dengan rancangan two group pretest posttest design yang bertujuan mengukur penurunan sesak nafas pada pasien TB paru sebelum dan sesudah intervensi. Penelitian ini dilakukan di Rumah Sakit Pringadi Medan, pada bulan Agustus 2022. Subyek penelitian ini adalah 50 orang penderita penyakit TB yang dibagi menjadi dua kelompok yaitu kelompok yang diberikan intervensi sebanyak 25 orang dan kelompok kontrol sebanyak 25 orang. Subjek penelitian direkrut dengan menggunakan teknik purposive sampling. Pengumpulan data dilakukan dengan tahap pretest dan postest dengan menggunakan stopwatch untuk mengukur frekuensi pernapasan sebelum dan sesudah diberikan intervensi orthopnea. Analisis data menggunakan uji T-Dependent untuk mengetahui perbedaan rerata frekuensi pernapasan sebelum dan sesudah melakukan posisi orthopnea, serta mengetahui perbedaan rerata frekuensi pernapasan antara kelompok intervensi dengan kelompok kontrol. Hasil penelitian menyimpulkan bahwa terdapat perbedaan frekuensi pernapasan pada kelompok intervensi sebelum dan sesudah diberikan posisi orthopnea (p <0,001). Tidak terdapat perbedaan frekuensi pernasapan pada kelompok kontrol sebelum dan sesudah diberikan posisi orthopnea (p= 0,057). Nilai rerata skor frekuensi pernapasan dan pada kelompok intervensi melalui pemberian posisi orthopnea menurun secara signifikan dibandingkan dengan kelompok kontrol. Kepatuhan responden ketika diberikan intervensi juga membantu optimalisasi penurunan gejala sesak nafas.
Ketidakpatuhan minum obat pada pasien TB paru: Studi kualitatif
Pasaribu, Grace Florita;
Handini, Myrnawati Crie;
Manurung, Jasmen;
Manurung, Kesaktian;
Sembiring, Rinawati;
Siagian, Mindo Tua
Jurnal Prima Medika Sains Vol. 5 No. 1 (2023): Juni
Publisher : Program Studi Magister Kesehatan Masyarakat Universitas Prima Indonesia
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.34012/jpms.v5i1.3788
Tidak tuntasnya pengobatan dapat menyebabkan kemungkinan terjadinya resistensi terhadap obat anti TBC. Oleh karena tingkat kepatuhan minum obat oleh penderita tuberkulosis paru (TB paru) menjadi kunci dalam keberhasilan pengobatan TB paru. Tujuan penelitian ini adalah menggali lebih dalam terjadinya ketidakpatuhan minum obat pada pasien TB paru. Penelitian ini merupakan penelitian kualitatif dengan rancangan studi fenomenologi melalui wawancara mendalam (in depth interview). Informan terdiri dari penderita TB paru, Pengawas Minum Obat (PMO), Pengelola Program TB dan Kepala Puskesmas Siatas Barita. Analisis data dilakukan dengan metode Miles dan Hubberman. Hasil penelitian menunjukkan bahwa alasan terjadinya ketidakpatuhan minum obat pada pasien TB paru terutama disebabkan oleh efek samping obat yang dirasakan sehingga menyebabkan ketidaknyamanan terhadap kondisi tubuh, lupa minum obat dan jumlah obat yang banyak dikonsumsi karena menderita penyakit penyerta lainnya. PMO sangat berperan untuk meningkatkan kepatuhan minum obat tidak hanya dengan mengingatkan minum obat tetapi dengan mengawasi langsung saat minum obat, mendampingi pasien saat kontrol dan ambil obat ke puskesmas serta memberi semangat dan motivasi sehingga pasien merasa termotivasi untuk sembuh. Upaya dari manajemen puskesmas untuk meningkatkan kepatuhan minum obat pada pasien TB paru adalah dengan melakukan penyuluhan cara minum obat, lama pengobatan, efek samping obat, monitoring efek samping obat dan melakukan home visit/kunjungan rumah untuk pemantauan pasien TB paru.
Dampak konsumsi biskuit kelor dan plasebo pada siswi dengan kebiasaan konsumsi teh sesudah makan terhadap peningkatan kadar hemoglobin
Hasugian, Debora Katarina;
Handini, Myrnawati Crie;
Sembiring, Rinawati;
Ketaren, Otniel;
Sinaga, Janno;
Sitorus, Mido Ester J
Jurnal Prima Medika Sains Vol. 5 No. 1 (2023): Juni
Publisher : Program Studi Magister Kesehatan Masyarakat Universitas Prima Indonesia
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.34012/jpms.v5i1.3835
Remaja putri yang mengalami penurunan hemoglobin (Hb) masih menjadi masalah kesehatan di Indonesia. Kebiasan konsumsi biskuit kelor merupakan salah satu alternatif untuk meningkatkan kadar Hb pada remaja putri. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui dampak konsumsi biskuit kelor dan placebo pada siswi dengan kebiasaan konsusmi teh sesudah makan terhadap peningkatan kadar Hb. Studi ini menggunakan metode quasy experiment dengan rancangan non randomized pretest-postest control group design. Lokasi penelitian dilakukan di kelas 2 SMP Negeri 1 Siatas Barita, Kecamatan Siatas Barita Kabupaten Tapanulis Utara, Maret 2023. Subjek penelitian adalah seluruh siswi kelas 2 SMP Negeri 1 Siatas Barita sebanyak 100 orang yang dibagi dalam dua kelompok yaitu kelompok intervensi sebanyak 50 orang dan kelompok kontrol sebanyak 50 orang yang diperoleh dengan menggunakan teknik purposive sampling. Intervensi penelitian berupa pemberian biskuit kelor dan placebo. Pengumpulan data dilakukan dengan tahap pre-test dan post-test dengan menggunakan Quik Check Hb untuk mengukur kadar Hb sebelum dan sesudah intervensi konsumsi biskuit kelor dan plasebo selama 1 bulan. Analisis data menggunakan uji T-Dependent dan T-Independent. Hasil penelitian melaporkan bahwa rerata kadar Hb yang mengkonsumsi biskuit kelor dengan kebiasaan tidak suka minum teh, mengalami perubahan kadar Hb yang signifikan. Terdapat perbedaan kadar Hb pada kelompok intervensi sebelum dan sesudah konsumsi biskuit kelor antara siswi yang suka dan tidak suka minum teh (p < 0,001). Tidak terdapat perbedaan kadar Hb pada kelompok kontrol sebelum dan sesudah konsumsi biskuit plasebo antara siswi yang suka dan tidak suka minum teh (p > 0,05). Konsumsi biskuit kelor dapat meningkatkan kadar Hb remaja putri yang tidak suka minum teh setelah makan.