cover
Contact Name
Elsi Dwi Hapsari
Contact Email
elsidhapsari2@gmail.com
Phone
+6287839259788
Journal Mail Official
elsidhapsari2@gmail.com
Editorial Address
Sekretariat DPP PPNI Graha PPNI Jl. Lenteng Agung Raya No 64, Kec. Jagakarsa, RT 006 RW O8, Jakarta Selatan
Location
Unknown,
Unknown
INDONESIA
Jurnal Persatuan Perawat Nasional Indonesia (JPPNI)
ISSN : 25031376     EISSN : 25498576     DOI : http://dx.doi.org/10.32419/jppni.v4i3
Jurnal Persatuan Perawat Nasional Indonesia (JPPNI) merupakan jurnal resmi Persatuan Perawat Nasional Indonesia (PPNI). Jurnal Persatuan Perawat Nasional Indonesia ini merupakan jurnal dengan peer-review yang diterbitkan secara berkala setiap 4 bulan sekali (April, Agustus, Desember), berfokus pada pengembangan keperawatan di Indonesia. Tujuan diterbitkan JPPNI adalah untuk mewujudkan keperawatan sebagai suatu profesi yang ditandai oleh kegiatan ilmiah yaitu kegiatan penelitian yang dilakukan oleh perawat di Indonesia, dikomunikasikan melalui media jurnal yang dikelola oleh organisasi profesi, dan didistribusikan ke kalangan perawat, pemangku kepentingan, dan masyarakat.
Articles 10 Documents
Search results for , issue "Vol 10, No 2 (2025)" : 10 Documents clear
RESPONS EMOSIONAL DAN STRATEGI KOPING MAHASISWA KEPERAWATAN UNIVERSITAS ISLAM NEGERI JAKARTA Ernawati, Ernawati; Ardiyati, Adelina Vidya; Pelawati, Ratna; Kadir, Afrizal Nur
Jurnal Persatuan Perawat Nasional Indonesia (JPPNI) Vol 10, No 2 (2025)
Publisher : Persatuan Perawat Nasional Indonesia (JPPNI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32419/jppni.v10i2.686

Abstract

Tujuan: mengetahui gambaran respons emosional yang dirasakan serta strategi koping yang digunakan mahasiswa dalam menghadapi pembelajaran daring. Metode: Jenis penelitian ini ialah kuantitatif deskriptif berupa studi observasional dengan pendekatan cross sectional. Sampel berjumlah 205 mahasiswa yang terdiri atas 4 angkatan berbeda yang diambil menggunakan teknik quota sampling. Instrumen yang digunakan dalam penelitian ini yaitu PANAS-SF (Positive Affect Negative Affect Schedule-Short Form) untuk respons emosional dan ACS(Academic Coping Strategies) Scale untuk strategi koping. Pengambilan data dilakukan pada bulan Mei–Juni 2021. Analisis data dilakukan dengan uji chi square. Hasil: Penelitian diperoleh 205 responden dengan persebaran berdasarkan jenis kelamin yaitu 188 perempuan (91,7%) dan 17 laki-laki (8,3%). Respons emosional berupa afeksi positif sebanyak 126 mahasiswa (61,5%) dan afeksi negatif sebanyak 79 mahasiswa (38,5%). Strategi koping yang digunakan berupa approach coping sebanyak 154 mahasiswa (75,1%), avoidance coping sebanyak 24 mahasiswa (11,7%), social support coping sebanyak 27 mahasiswa (13,2%). Hasil uji statistik menunjukkan bahwa terdapat hubungan yang signifikan antara respons emosional dan strategi koping mahasiswa (p-value < 0,05). Mahasiswa yang menggunakan approach dan social support coping sebagian besar adalah mereka yang memiliki afeksi positif, sedangkan yang menggunakan avoidance coping sebagian besar adalah mereka yang memiliki afeksi negatif. Diskusi: Mahasiswa yang menggunakan approach dan social support coping sebagian besar adalah mereka yang memiliki afeksi positif, sedangkan yang menggunakan avoidance coping sebagian besar adalah mereka yang memiliki afeksi negatif. Hasil penelitian ini juga menunjukkan sebagian besar mahasiswa memiliki respons emosional positif dan cenderung menggunakan strategi koping pendekatan (approach coping), yang berhubungan dengan kemampuan regulasi emosi, resiliensi, dan kesejahteraan psikologis yang lebih baik selama perkuliahan daring.  Kesimpulan: Penelitian ini merupakan temuan awal atau case identification terkait rincian respons emosional dan strategi koping mahasiswa sehingga dapat menjadi bahan pertimbangan dan dasar penelitian selanjutnya yang lebih rinci.  Kata Kunci: Pembelajaran Daring, Respons Emosional, Strategi Koping Emotional Responses and Coping Strategies Among Nursing Students At The State Islamic University Of Jakarta ABSTRACTObjective: This research aims to explore the emotional responses experienced and coping strategies employed by nursing students in facing online learning. Methods: This research employed a quantitative descriptive design using an observational cross-sectional approach. The sample consisted of 205 students across four academic cohorts, selected using a quota sampling technique. The instruments used were the Positive Affect and Negative Affect Schedule–Short Form (PANAS-SF) to assess emotional responses and the Academic Coping Strategies (ACS) Scale to assess coping strategies. Data collection took place from May to June 2021. Data were analyzed using the Chi-Square test. Results: Of the 205 respondents, 188 (91.7%) were female and 17 (8.3%) were male. A total of 126 students (61.5%) experienced positive affect, while 79 students (38.5%) reported negative affect. Regarding coping strategies, 154 students (75.1%) used approach coping, 24 (11.7%) used avoidance coping, and 27 (13.2%) employed social support coping. Statistical analysis revealed a significant correlation between emotional responses and coping strategies (p < 0.05). Most students who used approach and social support coping strategies reported positive affect, whereas those who employed avoidance coping predominantly reported negative affect. Discussion: Students who used approach and social support coping were mostly those with positive affect, while those who used avoidance coping were mostly those with negative affect. The results of this study also showed that most students had positive emotional responses and tended to use approach coping strategies, which are associated with better emotional regulation, resilience, and psychological well-being during online lectures.  Conclusion: This research serves as a preliminary finding or case identification regarding nursing students’ emotional responses and coping strategies, providing a foundation for future, more in-depth research.Keywords: online learning, emotional response, coping strategies
Dampak Workshop CPR Berkualitas Tinggi terhadap Kompetensi Perawat di Fasilitas Kesehatan Primer: Studi Praeksperimental di Indonesia Yustilawati, Eva; Budiyanto, Andi; Adhiwijaya, Ardian; Zahrani, Gina
Jurnal Persatuan Perawat Nasional Indonesia (JPPNI) Vol 10, No 2 (2025)
Publisher : Persatuan Perawat Nasional Indonesia (JPPNI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32419/jppni.v10i2.651

Abstract

ABSTRAKResusitasi jantung paru (CPR) sangat penting dalam menyelamatkan nyawa saat henti jantung. Namun, kompetensi perawat dalam melakukan high quality cardio pulmonary resuscitation (HQ-CPR) masih menjadi tantangan, terutama di fasilitas kesehatan primer. Tujuan penelitian: Studi ini bertujuan mengevaluasi dampak workshop HQ-CPR terhadap kompetensi perawat di pusat layanan kesehatan primer di Indonesia. Metode: Desain praeksperimental pretest-posttest satu kelompok digunakan. Sebanyak 28 perawat mengikuti workshop. Kompetensi dinilai menggunakan kuesioner dan lembar observasi yang telah divalidasi. Intervensi dilakukan pada bulan Juni 2024 selama 9 jam. Pretestdilakukan selama 30 menit, kemudian dilanjutkan dengan penyampaian materi, kemudian istirahat, dan dilanjutkan dengan posttest selama 30 menit. Instrumen untuk mengukur kompetensi berupa kuesioner yang telah valid dan reliabel dan lembar observasi SOP HQ-CPR. Data dianalisis menggunakan uji Wilcoxon. Hasil: Hasil menunjukkan peningkatan signifikan dalam kompetensi perawat setelah workshop (p = 0,001). Sebelum dilakukan intervensi, hanya 16 perawat yang kompeten dan setelah dilakukan intervensi, seluruh perawat kompeten. Semua peserta menunjukkan peningkatan pengetahuan dan keterampilan, dengan 100% mencapai kompetensi setelah workshop. Diskusi: Hasil penelitian ini mendukung teori andragogi yang menyatakan bahwa pembelajaran akan lebih efektif bila berbasis pada pengalaman, partisipatif, dan relevan dengan praktik. Workshop HQ-CPR sebagai metode edukasi yang mampu mentransfer pengetahuan sekaligus meningkatkan keterampilan praktis, terutama dalam keterampilan kritis seperti HQ-CPR. Kesimpulan: Workshop HQ-CPR secara efektif meningkatkan kompetensi perawat dan menekankan perlunya pelatihan rutin untuk mempertahankan standar tinggi dalam perawatan darurat. Kata Kunci: kompetensi, resusitasi jantung paru (RJP), workshop The Impact of A High-Quality CPR Workshop on Nurses’ Competence in Primary Health Care Settings: A Pre-Experimental Study in Indonesia ABSTRACTCardiopulmonary resuscitation (CPR) plays a critical role in saving lives during cardiac arrest. However, nurses’ competence in performing High-Quality CPR (HQ-CPR) remains a challenge, particularly in primary healthcare facilities. Research Objective: This research aims to evaluate the impact of an HQ-CPR workshop on nurses’ competence in primary healthcare centers in Indonesia. Methods: A one-group pretest-posttest pre-experimental design was employed. A total of 28 nurses participated in the workshop. Competence was assessed using validated questionnaires and observation checklists. The intervention was conducted in June 2024 over a duration of 9 hours. A 30-minute pre-test was administered, followed by material delivery, a break, and then a 30-minute post-test. Competence was measured using a validated and reliable questionnaire and a standard HQ-CPR procedural observation checklist. Data were analyzed using the Wilcoxon test. Results: The findings revealed a significant improvement in nurses’ competence following the workshop (p = 0.001). Prior to the intervention, only 16 nurses were deemed competent; following the intervention, all 28 participants achieved competency. All participants demonstrated increased knowledge and practical skills, with 100% achieving competence after the workshop. Discussion: These results support the principles of andragogy, which suggest that adult learning is more effective when it is experience-based, participatory, and relevant to practice. The HQ-CPR workshop proved to be an effective educational strategy for transferring knowledge and enhancing practical skills, particularly in critical procedures such as HQ-CPR. Conclusion: The HQ-CPR workshop effectively enhances nurses’ competence, highlighting the importance of routine training to maintain high standards in emergency care.Keywords: competence, cardiopulmonary resuscitation (CPR), workshop
Manajeman Syok Hipovolemia pada Pasien Plasenta Akreta dengan Tindakan Caesarean Hysterectomy di Kamar Operasi Nurhasanah, Erna; Effendy, Christantie; Shodiq, Abror; Hapsari, Elsi Dwi
Jurnal Persatuan Perawat Nasional Indonesia (JPPNI) Vol 10, No 2 (2025)
Publisher : Persatuan Perawat Nasional Indonesia (JPPNI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32419/jppni.v10i2.691

Abstract

Latar Belakang: Plasenta akreta merupakan komplikasi obstetrik yang jarang, tetapi sangat berisiko karena berpotensi menimbulkan perdarahan masif intraoperatif yang dapat meningkatkan angka morbiditas dan mortalitas. Oleh sebab itu, penanganan syok hipovolemia sangat penting untuk mempertahankan kestabilan hemodinamik dan mendukung hasil pembedahan yang optimal. Laporan ini membahas penanganan syok hipovolemia pada pasien plasenta akreta yang menjalani operasi caesarean hysterectomy/histerektomi sesar. Keluhan Utama Pasien:  Pasien perempuan usia 27 tahun mengalami perdarahan 4.000 ml selama histerektomi sesar hingga mengalami syok hipovolemik. Tindakan keperawatan meliputi pemasangan tiga IV-line besar (16G, 14G, 18G), pemasangan kateter, resusitasi cairan, dan transfusi 7 PRC, 5 FFP, 5 TC, pemberian norepinefrin dan asam traneksamat. Hasil: Setelah perdarahan masif berhasil diatasi, total cairan yang masuk dan keluar selama prosedur operasi dihitung untuk mengevaluasi efektivitas terapi cairan yang diberikan. Total cairan masuk 6.750 ml, cairan keluar 6.352 ml, dengan keseimbangan +398 ml. Monitoring hemodinamik dilakukan ketat, urine output 0,877 ml/kg/jam. Kesimpulan: Manajemen cairan terintegrasi dengan pemantauan intensif dan kolaborasi tim sangat penting untuk menghindari komplikasi syok dan disfungsi organ.Kata Kunci: cairan intraoperatif, perdarahan masif, plasenta akreta, syok hipovolemiaABSTRACTBackground: Placenta accreta is a rare but high-risk obstetric condition due to the potential for massive intraoperative hemorrhage, which can significantly increase maternal morbidity and mortality. Effective management of hypovolemic shock is essential to maintain hemodynamic stability and ensure optimal surgical outcomes. This case report discusses the management of hypovolemic shock in a patient with placenta accreta undergoing cesarean hysterectomy. Methods: This case report describes intraoperative fluid management in a patient with placenta accreta who experienced massive hemorrhage during surgery. The data include the type and volume of fluids administered—crystalloids, colloids, and blood components—as well as total fluid output during the procedure. Results: A 27-year-old female experienced 4,000 ml of blood loss during cesarean hysterectomy, resulting in hypovolemic shock. Nursing interventions included insertion of three large-bore IV lines (16G, 14G, 18G), urinary catheterization, fluid resuscitation, and administration of 7 PRC, 5 FFP, 5 TC, norepinephrine, and tranexamic acid. Total fluid intake was 6,750 ml (2,300 ml blood components, 3,200 ml crystalloids, 1,250 ml colloids), with an output of 6,352 ml and a positive balance of +398 ml. Hemodynamic parameters were closely monitored using invasive arterial pressure monitoring. Urine output reached 0.877 ml/kg/hr, indicating preserved renal function despite severe physiological stress. Conclusion: Intraoperative fluid management in placenta accreta requires a well-coordinated approach combining crystalloids, colloids, and blood components. Intensive monitoring and multidisciplinary collaboration are crucial to prevent complications such as hypovolemic shock and organ failure.Keywords: placenta accreta, hypovolemic shock management, massive hemorrhage, intraoperative fluid therapy
Hubungan Self Acceptance dan Kepatuhan Diet dengan Kadar Glukosa Darah Penyandang Diabetes Melitus Tipe 2 Fiana, Melia Viva Norma; Ismonah, Ismonah; Hartoyo, Mugi
Jurnal Persatuan Perawat Nasional Indonesia (JPPNI) Vol 10, No 2 (2025)
Publisher : Persatuan Perawat Nasional Indonesia (JPPNI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32419/jppni.v10i2.687

Abstract

Tujuan Penelitian: Mengetahui hubungan self acceptance dan kepatuhan diet dengan kadar glukosa darah penyandang DM tipe 2. Metode: Kuantitatif dengan pendekatan cross-sectional. Sampel dipilih dengan accidental sampling, 42 responden dari pasien Prolanis di Puskesmas Karangayu pada Maret 2023. Pengambilan data menggunakan kuesioner USAQ (Unconditional Self Acceptance Questionare), kepatuhan diet, serta hasil glukosa darah puasa (GDP). Data dianalisis dengan Pearson product moment dan Spearman’s rank. Hasil: Penyandang DM tipe 2 terbanyak adalah perempuan (64,3%), usia lansia akhir 40,5%, berpendidikan SD 31,0%, dan lama menderita mayoritas selama < 5 tahun dan 5–10 tahun, masing-masing 35,7%, kebanyakan sudah tidak bekerja (52,4%). Responden kebanyakan memiliki self acceptance yang sedang (68,95), memiliki kepatuhan diet dengan nilai 50,48 (cukup), dan memiliki kadar glukosa darah dengan nilai 139,33 (buruk). Uji Spearman rank menunjukkan adanya hubungan self acceptance dengan kestabilan kadar glukosa darah, dengan arah korelasi (–) dan kekuatan hubungan sedang (p-value = 0,003; r = –0,449). Sementara itu, uji Pearson product moment menunjukkan adanya hubungan kepatuhan diet dengan kestabilan kadar glukosa darah, dengan arah korelasi (–) dan kekuatan hubungan sedang (p-value = 0,009; r = –0,401). Diskusi: Self acceptancedan kepatuhan diet yang baik, memiliki hubungan dengan kestabilan kadar glukosa darah. Semakin baik self acceptance dan kepatuhan diet, semakin baik juga kadar glukosa darah pasien DM tipe 2 di Puskesmas Karangayu. Kesimpulan: Terdapat hubungan self acceptance dan kepatuhan diet dengan kestabilan kadar glukosa darah. Dari hasil penelitian, direkomendasikan agar peneliti selanjutnya meneliti faktor lain yang memengaruhi kestabilan kadar glukosa darah, seperti obesitas, faktor genetik, prediabetes, pola hidup, dan aktivitas fisik.Kata Kunci: DM tipe 2, kadar glukosa darah,  kepatuhan diet, self acceptanceCorrelation Between Self-Acceptance and Dietary Compliance with Blood Glucose Levels in Patients with Type 2 Diabetes Mellitus ABSTRACTResearch Objective: This research aims to identify the correlation between self-acceptance and dietary compliance with blood glucose levels in patients with type 2 diabetes mellitus (T2DM). Methods: A quantitative research design with a cross-sectional approach was employed. The sample consisted of 42 respondents selected through accidental sampling, drawn from PROLANIS participants at Karangayu Public Health Center in March 2023. Data were collected using the Unconditional Self-Acceptance Questionnaire (USAQ), a dietary compliance questionnaire, and fasting blood glucose test results. Data analysis was conducted using Pearson Product Moment and Spearman Rank correlation tests. Results: The majority of T2DM patients were female (64.3%), in the late elderly age category (40.5%), with elementary school education (31.0%), and had been diagnosed for less than 5 years or 5–10 years (35.7% each). Most were no longer employed (52.4%). Respondents predominantly exhibited moderate self-acceptance (mean score: 68.95), moderate dietary compliance (mean score: 50.48), and poor fasting blood glucose control (mean level: 139.33 mg/dL). The Spearman rank test revealed a significant negative moderate correlation between self-acceptance and blood glucose levels (p = 0.003; r = –0.449). The Pearson correlation test also showed a significant negative moderate correlation between dietary compliance and blood glucose levels (p = 0.009; r = –0.401). Discussion: Higher levels of self-acceptance and better dietary compliance were correlated with more stable blood glucose levels. Improved self-acceptance and adherence to dietary recommendations contribute to better glycemic control among T2DM patients at Karangayu Public Health Center. Conclusion: There is a significant correlation between self-acceptance and dietary compliance with blood glucose stability. Future research is recommended to explore additional factors influencing blood glucose levels, such as obesity, genetic predisposition, prediabetes, lifestyle habits, and physical activity.Keywords: self-acceptance, dietary compliance, blood glucose level, type 2 diabetes mellitus
HUBUNGAN COGNITIVE EMOTION REGULATION DENGAN POSTTRAUMATIC GROWTH PADA REMAJA YANG MENGALAMI STRES AKADEMIK Oktavia, Maynah; Mustikasari, Mustikasari
Jurnal Persatuan Perawat Nasional Indonesia (JPPNI) Vol 10, No 2 (2025)
Publisher : Persatuan Perawat Nasional Indonesia (JPPNI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32419/jppni.v10i2.695

Abstract

Masa remaja merupakan masa transisi dimana individu mudah mengalami stres termasuk stres akademik yang berdampak pada kemampuan menghadapi tekanan dikenal dengan Posttraumatic Growth (PTG), hal disebakan karena Cognitive Emotion Regulation (CER). Penelitian bertujuan menganalisis hubungan antara CER dan PTG pada remaja yang mengalami stres akademik di Depok. Desain penelitian kuantitatif korelasi dengan pendekatan cross sectional pada 340 remaja berusia 15-18 tahun dengan menggunakan teknik probability sampling. Instrumen yang digunakan meliputi Educational Stress Scale for Adolescent (ESSA), Cognitive Emotion Regulation Questionnaire (CERQ), dan Posttraumatic Growth Inventory-Revised for Children and Adolescents (PTGI-RC). Hasil analisis menunjukkan mayoritas remaja mengalami stres akademik tingkat sedang (50.6%), CER yang paling dominan refocus on planning, aspek PTG tertinggi relating to others. Terdapat hubungan yang signifikan dan memiliki korelasi positif antara Cognitive emotion regulation (CER): refocus on planning dengan PTG, pada remaja yang mengalami stres akademik (ρ = 0.359, p < 0.001). Peningkatan CER yang adaptif seperti refocus on planning pada remaja diharapkan dapat mengurangi stres akademik berupa menumbuhkan pertumbuhan positif yaitu relating to others selain personal strength.Kata Kunci: Cognitive Emotion Regulation, Posttraumatic Growth, Stres Akademik, Remaja
The Correlation between Self-esteem and Self-diagnosis Behavior Regarding Mental Health among Adolescents at Senior High School X in Jakarta Hia, Panca Sinar Prapenta; Pasaribu, Jesika
Jurnal Persatuan Perawat Nasional Indonesia (JPPNI) Vol 10, No 2 (2025)
Publisher : Persatuan Perawat Nasional Indonesia (JPPNI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32419/jppni.v10i2.706

Abstract

Research objective: Currently, adolescents tend to self-diagnose due to the influence of their environment and a lack of knowledge about mental health. A key driver factor for adolescents to engage in self-diagnosis is that they are still in the stage of understanding self-concept. The purpose of this study was to determine the relationship between self-esteem and self-diagnosis behaviour regarding mental health in adolescents. Method: The research method used was descriptive correlation. The inclusion criteria for this study were students in grades XI and XII at SMA X Jakarta. Data collection was conducted from October to December 2024. The research instruments used were the Rosenberg Self-Esteem Scale, which had a Cronbach's alpha (ɑ=0.86), and the Self-Identification of Having Mental Illness (SELF-I), which had a Cronbach's alpha (ɑ=0.90). Univariate analysis was conducted by processing central tendency data for self-esteem and self-diagnosis, while bivariate analysis was performed using Kendall's tau-b correlation test. Results: The bivariate test showed a significant relationship between self-esteem and self-diagnosis behaviour (p-value 0.001). Discussion: The study's results indicate the importance of adolescents having high self-esteem to reduce the risk of self-diagnosis behavior. Adolescents need to have good self-esteem to maintain mental health in the future. Conclusion: Respondents are advised to increase their mental health awareness, be more discerning when filtering information from unofficial sources to avoid misinformation and seek professional help immediately. Schools need to implement mental health literacy programs that cover the dangers of self-diagnosis and how to access professional help.Keywords: adolescent, mental health, self-diagnosis, self-esteem
Hubungan Kelekatan Orang Tua-Anak dengan Regulasi Emosi pada Remaja di Jakarta Amellia, Najwa; Putri, Yossie Susanti Eka
Jurnal Persatuan Perawat Nasional Indonesia (JPPNI) Vol 10, No 2 (2025)
Publisher : Persatuan Perawat Nasional Indonesia (JPPNI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32419/jppni.v10i2.700

Abstract

Kelekatan orang tua-anak merujuk pada kualitas hubungan emosional yang dibangun melalui interaksi yang hangat, responsif, dan konsisten yang berperan penting dalam perkembangan kemampuan regulasi emosi remaja. Tujuan Penelitian: Mengetahui hubungan kelekatan orang tua-anak dengan regulasi emosi pada remaja di Jakarta. Metode: Penelitian ini menggunakan desain cross-sectional analitik. Pengambilan sampel menggunakan teknik probability sampling dengan metode cluster sampling, melibatkan 428 responden berusia 13–19 tahun di beberapa sekolah menengah di Jakarta. Instrumen yang digunakan mencakup Inventory of Parent and Peer Attachment-Revised (IPPA-R) dan Emotion Regulation Questionnaire for Children and Adolescents (ERQ-CA). Pengumpulan data dilakukan melalui pengisian kuesioner selama bulan Februari–Maret 2025, dan analisis bivariat menggunakan uji korelasi Pearson. Hasil: Rata-rata skor kelekatan orang tua-anak adalah 55,34. Sebanyak 239 remaja (55,8%) memiliki tingkat kelekatan yang tinggi, sementara 189 remaja (44,2%) memiliki tingkat kelekatan yang rendah. Dimensi kelekatan yang paling dominan dimiliki responden ialah kepercayaan (56,8%), diikuti keterasingan (24,4%), dan komunikasi (18,8%). Terdapat hubungan yang signifikan antara kelekatan orang tua-anak dan regulasi emosi pada remaja dengan arah korelasi negatif (p-value = 0,036; r = –0,101). Diskusi: Kelekatan yang tinggi tidak secara otomatis menyebabkan rendahnya regulasi emosi, melainkan mencerminkan ketidakseimbangan dimensi kelekatan, khususnya tingginya keterasingan dan rendahnya komunikasi, yang menghambat remaja dalam mengelola emosi secara adaptif. Simpulan: Perawat perlu melakukan skrining keterasingan emosional pada remaja dan mengembangkan intervensi berbasis keluarga yang berfokus pada peningkatan komunikasi dan pengurangan keterasingan. Integrasi materi kelekatan dalam kurikulum sekolah serta kampanye digital diperlukan sebagai upaya promotif kesehatan mental remaja.Kata Kunci: kelekatan orang tua-anak, regulasi emosi, remaja Correlation Between Parent–Child Attachment and Emotion Regulation Among Adolescents in Jakarta ABSTRACTParent–child attachment refers to the quality of the emotional bond developed through warm, responsive, and consistent interactions, which plays a crucial role in the development of adolescents’ emotional regulation abilities. Objective: This research aims to examine the correlation between parent–child attachment and emotion regulation among adolescents in Jakarta. Methods: This was an analytical cross-sectional research. The sample was selected using probability sampling through a cluster sampling technique, involving 428 adolescents aged 13–19 years from several secondary schools in Jakarta. Data were collected using the Inventory of Parent and Peer Attachment–Revised (IPPA-R) and the Emotion Regulation Questionnaire for Children and Adolescents (ERQ-CA). The survey was conducted between February and March 2025, and bivariate analysis was performed using Pearson correlation tests. Results: The average parent–child attachment score was 55.34. A total of 239 adolescents (55.8%) had high attachment levels, while 189 adolescents (44.2%) had low levels of attachment. The most dominant attachment dimension was trust (56.8%), followed by alienation (24.4%) and communication (18.8%). A significant negative correlation was found between parent–child attachment and emotion regulation (p = 0.036; r = –0.101). Discussion: High attachment levels do not automatically lead to better emotional regulation; rather, the imbalance among attachment dimensions—particularly high alienation and low communication—may hinder adolescents’ ability to regulate emotions adaptively. Conclusion: Nurses are encouraged to conduct emotional alienation screening among adolescents and develop family-based interventions focusing on enhancing communication and reducing alienation. Integration of attachment-focused content into school curricula and digital campaigns is recommended as part of adolescent mental health promotion efforts.Keywords: parent–child attachment, emotion regulation, adolescents
Literature Review: Identitas Profesional Perawat bagi Mahasiswa Sarjana Keperawatan Mediawati, Ati Surya; Aulia, Syifa Nurul; Agustina, Hana Rizmadewi; Dheandra, Putri Vidahlia
Jurnal Persatuan Perawat Nasional Indonesia (JPPNI) Vol 10, No 2 (2025)
Publisher : Persatuan Perawat Nasional Indonesia (JPPNI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32419/jppni.v10i2.627

Abstract

Undang-Undang No 17 tahun 2023 menjelaskan bahwa yang dibutuhkan untuk membangun kesehatan masyarakat adalah sumber daya manusia yang berkualitas dan produktif. Hal tersebut bisa didapatkan dari identitas profesional perawat yang baik. Identitas profesional perlu ditanamkan sejak mahasiswa karena akan berpengaruh pada identitas profesional saat ia menjadi perawat sehingga mempengaruhi pemberian layanan keperawatan, kinerja perawat, dan kolaborasi perawat dengan tenaga kesehatan lainnya. Tujuan: Studi literatur ini bertujuanmengetahui bagaimana identitas profesional perawat bagi mahasiswa sarjana keperawatan. Metode: Metodepada penelitian ini adalah literature review dari database elektronik yaitu PubMed, Scopus, dan Ebsco yang dipublikasikan tahun 2020-2024. Pencarian artikel menggunakan pendekatan Population, Concept, dan Context (PCC) yaitu Population: Mahasiswa Tingkat Sarjana Keperawatan; Concept: Identitas Profesional Perawat; dan Context: Pendidikan Keperawatan Tingkat Sarjana. Hasil: Analisis dari 8 Artikel menunjukan sebagian besar mahasiswa tingkat sarjana keperawatan memiliki identitas profesional yang rendah. Diskusi: Identitas profesional dapat meningkat saat adanya kondisi tanggap darurat seperti pada pandemi Covid-19. Setelah menjalani perkuliahan selama 3 tahun identitas profesional juga dapat meningkat. Lingkungan akademik, sistem dan model pembelajaran dari kampus, perencanaan karir, pengalaman magang, jenis kelamin, usia, kepedulian, tekanan kerja, dan dukungan sosial dari masyarakat berpengaruh pada pembentukan identitas profesional. Kesimpulan: Identitas profesional pada mahasiswa keperawatan menunjukkan hasil yang berbeda. Oleh karena itu, institusi pendidikan perlu melakukan upaya untuk menumbuhkan identitas profesional yang kuat pada mahasiswanya.
HUBUNGAN ANTARA PERSEPSI DENGAN MOTIVASI KADER POSYANDU LANSIA DALAM MELENGKAPI PENGISIAN KARTU MENUJU SEHAT Alifah, Yosiana Nur; Iskandar, Asep; Kusumawardani, Lita Heni
Jurnal Persatuan Perawat Nasional Indonesia (JPPNI) Vol 10, No 2 (2025)
Publisher : Persatuan Perawat Nasional Indonesia (JPPNI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32419/jppni.v10i2.640

Abstract

Tujuan penelitian: Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis hubungan antara persepsi dengan motivasi kader posyandu lansia dalam melengkapi pengisian Kartu Menuju Sehat (KMS). Metode: Jenis penelitian ini merupakan penelitian kuantitatif dengan desain cross sectional. Teknik sampling menggunakan total sampling dengan jumlah responden 103 orang. Instrumen penelitian berupa kuesioner persepsi dan motivasi yang menggunakan skala likert. Analisis menggunakan analisis univariat dan analisis bivariat dengan uji Somers’d. Hasil: Hasil univariat menunjukkan karakteristik responden mayoritas berusia 45 – 55 tahun. Mayoritas kader berpendidikan terakhir SMA ibu rumah tangga dengan pendapatan < UMK Banyumas tahun 2024. Mayoritas kader sudah menjabat ≥ 3 tahun. Kader sudah pernah mengikuti pelatihan mengenai tata cara pengisian KMS lansia. Selain itu, semua kader telah mendapatkan insentif dan mayoritas mendapatkan satu tahun sekali. Mayoritas kader memiliki persepsi dengan kategori sedang sebesar 85,4% dan motivasi dengan kategori rendah sebesar 56,3%. Analisis uji Somers’d diperoleh hasil nilai p-value = 0,001 (p<0,05) yang menunjukkan terdapat hubungan yang bermakna antara persepsi dan motivasi kader dalam melengkapi pengisian KMS. Kekuatan hubungan termasuk dalam kategori sedang dengan nilai r = 0,429 dan menunjukkan arah hubungan positif. Diskusi: Motivasi kader posyandu lansia yang rendah dalam melengkapi pengisian KMS menghambat pemantauan kesehatan lansia. Motivasi ini dipengaruhi oleh persepsi keyakinan diri kader terhadap kemampuan yang dimiliki. Kesimpulan: Semakin baik persepsi kader, maka motivasi kader dalam melengkapi pengisian KMS cenderung meningkat.Kata Kunci: Kader, Kartu Menuju Sehat (KMS), motivasi, persepsi, posyandu lansia.
Pola Menyusui dan Permulaan Laktasi dengan Kejadian Hiperbilirubinemia Wardani, Eva Cahya; Aprilina, Happy Dwi; Elsanti, Devita; Ekawati, Endah
Jurnal Persatuan Perawat Nasional Indonesia (JPPNI) Vol 10, No 2 (2025)
Publisher : Persatuan Perawat Nasional Indonesia (JPPNI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32419/jppni.v10i2.679

Abstract

ABSTRAKHiperbilirubinemia merupakan masalah kesehatan yang sering terjadi pada bayi baru lahir dan berisiko menimbulkan komplikasi neurologis. Faktor yang berkontribusi terhadap kejadian hiperbilirubinemia ialah pola menyusui dan permulaan laktasi. Tujuan: Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis hubungan pola menyusui dan permulaan laktasi dengan kejadian hiperbilirubinemia pada bayi baru lahir di RSUD Prof. Dr. Margono Soekarjo. Metode: Penelitian ini menggunakan desain kuantitatif dengan metode cross-sectional. Sampel terdiri dari 54 ibu postpartum yang dipilih menggunakan teknik purposive sampling. Data dikumpulkan melalui kuesioner pola menyusui, lembar observasi, dan pengukuran kadar bilirubin menggunakan alat transcutaneus bilirubin (TcB). Analisis data dilakukan menggunakan uji Fisher exact. Hasil: Hasil penelitian menunjukkan bahwa sebagian besar responden (74,1%) memiliki pola menyusui yang kurang baik, dan 87% mengalami permulaan laktasi pada hari kedua. Angka kejadian hiperbilirubinemia pada bayi baru lahir mencapai 50%. Uji statistik menunjukkan hubungan signifikan antara pola menyusui dan kejadian hiperbilirubinemia (p = 0,028) serta antara permulaan laktasi dan kejadian hiperbilirubinemia (p = 0,010). Diskusi: Temuan ini menunjukkan bahwa keterlambatan dalam pemberian ASI dan pola menyusui yang tidak optimal dapat memperlambat proses eliminasi bilirubin pada bayi sehingga meningkatkan risiko hiperbilirubinemia. Hal ini menegaskan pentingnya inisiasi menyusui dini dan pendampingan menyusui yang efektif sejak awal kelahiran. Kesimpulan: Pola menyusui yang kurang baik dan permulaan laktasi yang terlambat meningkatkan risiko hiperbilirubinemia pada bayi baru lahir. Oleh karena itu, edukasi laktasi bagi ibu postpartum perlu ditingkatkan untuk mencegah kejadian hiperbilirubinemia. Kata Kunci: ASI eksklusif,  bayi baru lahir, hiperbilirubinemia, permulaan laktasi, pola menyusui Breastfeeding Patterns and Initiation of Lactation in Relation to the Incidence of Hyperbilirubinemia ABSTRACTHyperbilirubinemia is a common health issue in newborns and poses a risk of neurological complications. Two contributing factors to the incidence of hyperbilirubinemia are breastfeeding patterns and the timing of lactation initiation. Objective: This research aims to analyze the correlation between breastfeeding patterns and the initiation of lactation with the incidence of hyperbilirubinemia in newborns at Prof. Dr. Margono Soekarjo Regional General Hospital. Methods: This research employed a quantitative design with a cross-sectional method. The sample consisted of 54 postpartum mothers selected through purposive sampling. Data were collected using a breastfeeding pattern questionnaire, observation sheets, and measurement of bilirubin levels using a Transcutaneous Bilirubinometer (TcB). Data analysis was conducted using the Fisher’s Exact Test. Results: The findings revealed that the majority of respondents (74.1%) exhibited poor breastfeeding patterns, and 87% initiated lactation on the second day postpartum. The incidence of hyperbilirubinemia in newborns reached 50%. Statistical analysis showed a significant correlation between breastfeeding patterns and the incidence of hyperbilirubinemia (p = 0.028), as well as between the timing of lactation initiation and hyperbilirubinemia (p = 0.010). Discussion: These results suggest that delayed breastfeeding initiation and suboptimal breastfeeding patterns may hinder the elimination of bilirubin in newborns, thereby increasing the risk of hyperbilirubinemia. This underscores the importance of early initiation of breastfeeding and effective lactation support from the beginning of birth. Conclusion: Inadequate breastfeeding patterns and delayed initiation of lactation elevate the risk of hyperbilirubinemia in newborns. Therefore, enhanced lactation education for postpartum mothers is essential to prevent the occurrence of hyperbilirubinemia.Keywords: exclusive breastfeeding, newborn, hyperbilirubinemia, initiation of lactation, breastfeeding pattern

Page 1 of 1 | Total Record : 10