cover
Contact Name
Titik Respati
Contact Email
jiks.unisba@gmail.com
Phone
081312135687
Journal Mail Official
jiks.unisba@gmail.com
Editorial Address
Jalan Hariangbanga No. 2, Tamansari, Bandung 40116
Location
Kota bandung,
Jawa barat
INDONESIA
Jurnal Integrasi Kesehatan dan Sains
ISSN : "_"     EISSN : 26568438     DOI : -
Core Subject : Health,
Jurnal Integrasi Kesehatan & Sains (JIKS) adalah jurnal yang memublikasikan artikel ilmiah kedokteran dan kesehatan yang terbit setiap 6 (enam) bulan. Artikel berupa penelitian asli, laporan kasus, studi kasus, dan kajian pustaka yang perlu disebarluaskan dan ditulis dalam bahasa Indonesia dengan memperhatikan Pedoman Umum Ejaan Bahasa Indonesia. Jurnal Integrasi Kesehatan & Sains (JIKS) ini merupakan salah satu jurnal yang diterbitkan oleh Fakultas Kedokteran Universitas Islam Bandung (Unisba) selain Global Medical & Health Communication yang telah bereputasi nasional dan internasional.
Articles 211 Documents
Kejadian Miopia pada Penggunaan Gawai Siswa SMAN 1 Cibadak Kabupaten Sukabumi Bhatara, Tryando; Santosa, Dicky; Suriadi, Ghiffari Muhammad
Jurnal Integrasi Kesehatan dan Sains Vol 6, No 2 (2024): Jurnal Integrasi Kesehatan dan Sains
Publisher : Universitas Islam Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29313/jiks.v6i2.13580

Abstract

AbstrakMiopia merupakan kelainan refraksi yang menjadi masalah kesehatan masyarakat di dunia yang disebabkan oleh peningkatan panjang aksial bola mata sehingga cahaya tidak terfokus pada retina dan penglihatan menjadi kabur. Penggunaan gawai yang berkepanjangan dapat berkaitan dengan miopia. Kelainan refraksi di Indonesia mencapai 15% yang didoinasi anak usia sekolah dengan prevalensi 22,1%. Kelainan refraksi adalah suatu masalah yang harus diperhatikan pada anak usia sekolah yang mayoritas menggunakan gawai. Penelitian ini bertujuan menganalisis hubungan intensitas penggunaan gawai dengan kejadian miopia pada siswa SMAN 1 Cibadak Kabupaten Sukabumi selama bulan Februari 2022. Jenis penelitian ini adalah penelitian kuantitatif dengan metode observasional analitik yang disertai dengan pendekatan potong lintang. Sebanyak 92 responden didapatkan dengan metode simple random sampling. Pengambilan data dilakukan secara subjektif menggunakan kuesioner dan objektif dengan menggunakan autorefractometer dan snellen chart. Hasil dianalisis dengan Fisher's Exact test. Hasil penelitian menunjukkan sebagian besar memiliki intensitas penggunaan gawai tinggi, yaitu sebanyak 78 orang (85%) serta kejadian miopia, yaitu sebanyak 65 orang (71%). Nilai p penelitian ini didapatkan hasil sebesar 0,004. Simpulan penelitian ini terdapat hubungan antara intensitas penggunaan gawai dan kejadian miopia pada siswa SMAN 1 Cibadak Kabupaten Sukabumi.Incidence of Myopia in the Use of Gadget for Students of SMAN 1 Cibadak, Sukabumi RegencyAbstractMyopia or nearsightedness is a refractive error that is a public health problem in the world caused by an increase in the axial length of the eyeball so that light does not focus on the retina and vision becomes blurry. Prolonged use of devices can be associated with myopia. In Indonesia, 15% of school-aged children suffer from refractive errors, with a population prevalence of around 22%. This refractive error is problematic and needs to be paid attention to in school-aged children, most of whom use devices. This study aims to analyze the relationship between the intensity of device use and the incidence of myopia in students at SMAN 1 Cibadak, Sukabumi Regency, in February 2022. This type of research is quantitative, with analytical observational methods and a cross-sectional approach. A total of 92 respondents were obtained using the simple random sampling method. Data collection was carried out subjectively using a questionnaire and objectively using an autorefractometer and Snellen chart. Results of analysis using Fisher's Exact test. The research results showed that the majority had a high intensity of device use, namely 78 people (85%), and the incidence of myopia, namely 65 people (71%). The p-value of this research was 0.004. This study concludes that there is a relationship between the intensity of device use and the incidence of myopia in students at SMAN 1 Cibadak, Sukabumi Regency.
Scoping review: Identifikasi Kandungan Minyak Atsiri pada Beberapa Jenis Tumbuhan yang Berpotensi sebagai Repelan terhadap Nyamuk Salsabila, Isyana; Lestari, Sepiyani Ayu; Nihan, Yumareta Anggun; Windari, Welly; Oktavianti, Alfina
Jurnal Integrasi Kesehatan dan Sains Vol 6, No 2 (2024): Jurnal Integrasi Kesehatan dan Sains
Publisher : Universitas Islam Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29313/jiks.v6i2.13754

Abstract

AbstrakNyamuk adalah vektor yang membawa berbagai patogen penyebab penyakit seperti malaria, demam kuning, dan demam berdarah. Penyebaran penyakit demam berdarah dengue juga terjadi secara luas. Oleh karena itu, pengembangan penolak nyamuk yang efektif sangat penting. Salah satu alternatif yang digunakan adalah minyak atsiri dari berbagai jenis tumbuhan yang memiliki aktivitas antinyamuk. Tujuan penelitian ini mengidentifikasi kandungan minyak atsiri pada berbagai jenis tumbuhan yang berpotensi sebagai pengusir nyamuk. Penelitian ini menggunakan metode scoping review terhadap artikel ilmiah yang dipublikasikan antara tahun 2019–2024 berasal dari penelusuran data base Google Scholar dan Pubmed dengan kata kunci ”kandungan minyak atsiri penolak nyamuk”, ”aktivitas repelan minyak atsiri”, ”repellent essential oil” dan ”repellent mosquito essential oil”. PICOS pada penelitian ini, yaitu Population (populasi yang berpotensi dan terinfeksi penyakit demam berdarah dengue), Intervention (penggunaan repelan minyak atsiri dari tumbuhan yang memiliki aktivitas pengusir nyamuk), Comparation (pemberian kontrol repelan sintetik DEET), Outcome (minyak atsiri dari berbagai jenis tumbuhan dengan aktivitas penolak nyamuk dapat memberikan perlindungan terhadap gigitan nyamuk tanpa menimbulkan reaksi alergi), dan Study (eksperimental murni laboratorium). Hasil scoping review diperoleh 7 jurnal terpilih, menunjukkan bahwa tanaman Illicium verum, Moringa oleifera L., Mentha arvensis L., Eucalyptus globulus, Syzygium aromaticum, Carpesium abrotanoides, Perilla frutescens (L.) Britt, dan Leucas stachydiformis (Hochst.ex Benth.) memiliki kandungan minyak atsiri yang bersifat sebagai penolak nyamuk dengan konstituen senyawa seperti 1,8-cineol, linalool, mentol, caryophyllene, dan 2-heksanoylfuran. Penelitian ini memberikan informasi penting untuk mengembangkan penolak nyamuk alami yang efektif sebagai alternatif pengganti repelan sintetik.Scoping Review: Identification of Essential Oil Content in Several Types of Plants that are Potentially Repellent Against MosquitoesAbstractMosquitoes are vectors that carry various pathogens that cause diseases such as malaria, yellow fever, and dengue fever. The spread of dengue-hemorrhagic fever is also widespread. Therefore, the development of effective mosquito repellents is essential. One alternative is essential oils from various plants that have anti-mosquito activity. This research aims to identify the essential oil content of various types of plants that have the potential to act as mosquito repellents. This research uses a scoping review method on scientific articles published between 2019 and 2024 originating from Google Scholar and Pubmed database searches with the keywords "mosquito repellent essential oil content," "essential oil repellent activity," "repellent essential oil" and "repellent essential oil." PICOS in this study is population (potential population infected with dengue hemorrhagic fever), Intervention (use of essential oil repellants from plants that have mosquito repellent activity), Comparison (administration of DEET synthetic repellent control), Outcome (essential oils from various types of plants with mosquito repellent activity can provide protection against mosquito bites without causing allergic reactions), and study (purely laboratory experimental). The results of the scoping review obtained from 7 selected journals showed that the plants Illicium verum, Moringa oleifera L., Mentha arvensis L., Eucalyptus globulus, Syzygium aromaticum, Carpesium abrotanoides, Perilla frutescens (L.) Britt and Leucas stachydiformis (Hochst. ex Benth.) contain essential oils that act as mosquito repellents with compound constituents such as 1,8-cineol, linalool, menthol, caryophyllene, and 2-hexanoylfuran. This research provides essential information for developing effective natural mosquito repellents as an alternative to synthetic repellants.
Pengaruh Video Infografis Edukasi Anemia terhadap Pengetahuan dan Sikap tentang Anemia pada Remaja Putri di SMPN 49 Kota Bandung Maharani, Nadya Puspa; Nurchasanah, Yuni; Pulungan, Yulinda; Wibowo, Judiono
Jurnal Integrasi Kesehatan dan Sains Vol 6, No 1 (2024): Jurnal Integrasi Kesehatan dan Sains
Publisher : Universitas Islam Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29313/jiks.v6i1.13032

Abstract

Remaja putri menjadi kelompok yang rentan anemia karena remaja putri mengalami haid yang menyebabkan kehilangan darah setiap bulan. Beberapa faktor penyebab anemia pada remaja adalah kurang pengetahuan remaja mengenai anemia, gejala, dampak, dan cara mencegahnya. Pemberian edukasi pada usia remaja dianggap paling efektif karena pada usia ini rasa ingin tahu remaja sangat tinggi. Video infografis merupakan salah satu media yang dapat membantu remaja putri meningkatkan pengetahuan dan sikap remaja menjadi lebih positif. Tujuan penelitian ini adalah mengindentifikasi pengaruh pemberian edukasi menggunakan video infografis terhadap pengetahuan dan sikap remaja putri di SMPN 49 Bandung. Penelitian ini merupakan jenis penelitian kuantitif menggunakan desain quasi experimental dengan rancangan pretest-posttest design with control group yang dilaksanakan selama Maret 2023. Pengambilan sampel menggunakan teknik purposive sampling dengan jumlah sampel 35 orang untuk kelompok intervensi maupun kelompok kontrol remaja putri yang memenuhi inklusi dan tidak termasuk eksklusi. Uji hipotesis menggunakan uji Wilcoxon dan Mann Whitney. Hasil penelitian menggunakan uji Wilcoxon mendapatkan hasil ada pengaruh pemberian video infografis terhadap pengetahuan dan sikap remaja putri dengan nilai p 0,000 <0,05. Pada uji beda Mann Whitney didapatkan hasil rerata nilai pengetahuan dan sikap kelompok yang diberikan video lebih tinggi dibanding dengan kelompok yang diberikan e-leaflet dengan selisih mean rank pengetahuan adalah 16,48 dengan nilai p 0,001 pada sikap 15,3 dengan nilai p 0,003. Simpulan, media video infografis lebih efektif meningkatkan pengetahuan dan sikap remaja putri tentang anemia. The Effect of Anemia Education Infographic Video on Knowledge an Attitudes of Young Girls at SMPN 49 BandungAbstractAdolescents are the cluster that is prone to anemia because young women got menstruation, which causes blood loss every month. One of the factors causing anemia in adolescents is the lack of knowledge about anemia, its symptoms, and how to prevent it. Providing education at a young age is considered the most effective because at this age the curiosity of adolescents is very high. Video infographics is one of any methode that can help young women increase their knowledge and attitudes to become more positive. The purpose of this study was to identify the effect of providing education using infographic videos on the knowledge and attitudes of young women at SMPN 49 Bandung. This research is a type of quantitative research using a quasi-experimental design with a pretest-posttest design with a control group during March 2023. Sampling used a purposive sampling technique with a total sample of 35 people for the intervention group and the control group for female adolescents who met the inclusion and exclusion criteria. The results of the study using the Wilcoxon test showed that there was an influence from providing infographic videos on the knowledge and attitudes of young women with p value 0.000 <0.05. In the Mann Whitney different test, the mean value of knowledge and attitudes of the group given the video was higher than the group given the e-leaflet with the difference in the mean rank of knowledge being 16.48 with pvalue 0.001 at an attitude of 15.3 with p value 0.003. From these results it can be concluded that infographic video media has proven to be more effective in increasing the knowledge and attitudes of young women about anemia.
Formulasi dan Evaluasi Sediaan Cleansing Stick dengan Kombinasi Sodium Cocoyl Isethionate dan Cocamidopropyl Betaine sebagai Surfaktan Anggraini, Shafira Intan; Sholih, Mally Ghinan; Zahra, Aliya Azkia
Jurnal Integrasi Kesehatan dan Sains Vol 6, No 2 (2024): Jurnal Integrasi Kesehatan dan Sains
Publisher : Universitas Islam Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29313/jiks.v6i2.13713

Abstract

AbstrakKulit wajah adalah salah satu organ tubuh yang terlihat pertama kali ketika timbul permasalahan pada kulit, seperti wajah kusam. Wajah kusam biasanya disebabkan oleh pengaruh radiasi sinar matahari dan polusi udara sehingga diperlukan perawatan kulit, salah satunya menggunakan sabun pembersih wajah. Kulit wajah memiliki pH yang sedikit asam sehingga penggunaan produk yang bersifat basa, salah satunya sabun akan menimbulkan efek negatif pada kulit wajah. Synthetic detergents (syndets) merupakan pembersih bebas sabun yang tidak melibatkan penggunaan basa kuat sehingga pH produk yang dihasilkan mendekati pH kulit. Metode penelitian yang digunakan adalah eskperimental laboratorium dengan memformulasikan sediaan cleansing stick yang dilakukan di Laboratorium Fakultas Ilmu Kesehatan Universitas Singaperbangsa Karawang pada bulan November 2023–Februari 2024. Penelitian ini bertujuan untuk memformulasikan dan mengevaluasi sediaan pembersih wajah menggunakan kombinasi surfaktan sodium cocoyl isethionate dan cocamidopropyl betaine dalam bentuk stick. Hasil evaluasi sediaan memenuhi persyaratan pada uji organoleptis, homogenitas, tinggi busa, dan stabilitas busa. Sediaan cleansing stick yang dihasilkan memiliki nilai pH yang sesuai dengan rentang pH kulit wajah, yaitu 5,16–5,43. Efektivitas daya pembersihan pada semua formulasi sediaan cleansing stick memenuhi persyaratan, dengan F1 memiliki efek pembersihan terbaik (66%). Pengujian keamanan menunjukkan hasil bahwa sediaan cleansing stick tidak menimbulkan reaksi iritasi pada kulit sehingga aman untuk digunakan. Dengan demikian, sediaan cleansing stick dapat menjadi alternatif yang aman dan efektif sebagai perawatan kulit wajah.Formulation and Evaluation of Cleansing Stick With a Combination of Sodium Cocoyl Isethionate and Cocamidopropyl Betaine as SurfactantsAbstractThe facial skin is one of the first visible organs of the body when problems arise on the skin, such as a dull face. The cause of a dull face is usually the influence of sun radiation and air pollution, which necessitates using skin care products, such as facial cleansing soap. The pH of facial skin is slightly acidic, which means using alkaline products, such as soap, will negatively affect facial skin. Synthetic detergents (synsets) are soap-free cleansers that do not contain strong bases, resulting in a pH similar to the skins. This research aims to formulate a facial cleansing product using a combination of sodium cocoyl isethionate and cocamidopropyl betaine surfactants in stick form. The evaluation results met the organoleptic test requirements, including homogeneity, foam height, and foam stability. The pH value of the cleansing stick preparation was found to be within the pH range of facial skin, which is 5.16 to 5.43. The effectiveness of cleaning power in all cleansing stick formulations met the requirements, with F1 having the best cleaning effect (66%). The safety test demonstrated that the cleansing stick did not elicit any irritation reactions on the skin, thereby confirming its safety for use. Hence, the cleansing stick formulation can be a safe and effective alternative for facial skincare.
Budaya Organisasi dan Etos Kerja Islami di Rumah Sakit A Bandung Sakinah, R Kince; Muhardi, Muhardi; Kusnadi, Dadang
Jurnal Integrasi Kesehatan dan Sains Vol 6, No 1 (2024): Jurnal Integrasi Kesehatan dan Sains
Publisher : Universitas Islam Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29313/jiks.v6i1.13044

Abstract

Rumah Sakit A sebagai rumah sakit swasta yang cukup berkembang di Bandung mengalami penurunan jumlah pasien beberapa tahun terakhir sejak tahun 2014. Penurunan jumlah pasien ini diduga sebabnya adalah penurunan kinerja dokter. Penelitian ini bertujuan mengkaji faktor-faktor budaya organisasi etos kerja islami yang secara parsial dan simultan memengaruhi kinerja dokter di Rumah Sakit A. Metode penelitian yang digunakan adalah studi kasus dengan jenis penelitian analisis kuantitatif menggunakan rancangan cross sectional verifikatif. Populasi penelitian ini adalah dokter yang bekerja di Rumah Sakit A baik itu di Instalasi Rawat Jalan, Instalasi Rawat Inap dan Intersive Care Unit, yaitu sebanyak 90 orang yang terdiri dari dokter, dokter gigi, dan spesialis. Waktu penelitian dilaksanakan Juli–Desember 2016. Teknik pengumpulan data dilakukan dengan membagikan kuesioner, melihat rekam medik, dan melalui observasi. Model analisis data pada penelitian ini, yaitu path analysis atau analisis jalur. Hasil analisis data menunjukkan bahwa dari faktor-faktor budaya organisasi (inovasi, perhatian terhadap detil, orientasi kerja, keagresifan, stabilitas) dan etos kerja islami (berorientasi waktu/Wal’Ashri, bekerja sebaik-baiknya/Itqan, kepemimpinan/Khalifah Fil’Ardh) berpengaruh terhadap kinerja dokter. Hasil analisis jalur menunjukkan bahwa terdapat hubungan parsial antara budaya organisasi dan kinerja dokter sebanyak 0,493 dan etos kerja islami terhadap kinerja dokter sebanyak 0,467. Juga terdapat hubungan simultan budaya organisasi dan etos kerja Islami secara simultan dengan kinerja dokter sebanyak 0,756 di RS A. Simpulan menunjukkan budaya organisasi dan etos kerja Islami meningkatkan kinerja dokter di RS A.AbstractThe A Hospital is one of the leading private hospitals in Bandung had been experiencing a decrease in numbers of patients since 2014, that’s possibly caused by the doctor’s performance. This study was conduct to understand organizational culture and Islamic work ethic that affected doctor’s performance partially and simultaneouly in the A Hospital. The research method was to study cases with quantitative analysis using a cross sectional and verified design. The research population here are the doctors of the inpatient care unit, outpatient care unit, intensive care unit, and emergency care unit in the A Hospital. 90 samples were taken consist of doctors, dentists and specialized. During July – December 2016. The data analysis technique used in this research was path analysis. The data analysis showed that all dimentions organizational cultures (innovation, job detail job orientation, agressivity, stabilization), Islamic work ethic (time orientation/wal’ashri, hard work/itqon, leadership/khalifah fil’ardh) affected the doctors performances. The result of the path analysis showed that organizational cultures affected partially to performance as much as 0.493, Islamic work ethic affected partially to performance as much as 0.467, and simultaneously affected the doctor’s performances as much as 0.756 in the A Hospital. In conclusion, organizational culture and Islamic work ethic improved doctor performance.
Efek Sitokin Proinflamasi TnF - Alpha pada Penyakit Diabetes Melitus Tipe 2: Tinjauan Literatur Yusuf, Khaidir; Legiran, Legiran
Jurnal Integrasi Kesehatan dan Sains Vol 6, No 1 (2024): Jurnal Integrasi Kesehatan dan Sains
Publisher : Universitas Islam Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29313/jiks.v6i1.12780

Abstract

Tumor necrosis factor alpha (TNF-α) salah satu mediator proinflamasi terpenting yang secara kritis terlibat dalam perkembangan resistensi insulin dan patogenesis diabetes melitus tipe II (T2DM). Peningkatan kadar TNF-α menginduksi resistensi insulin pada adiposit dan jaringan perifer. Tinjaun literatur pada penelitian ini menggunakan database PubMed dan Science direct terhadap artikel yang membahas TNF-alpha pada diabetes melitus tipe 2 dalam 5–10 tahun terakhir. Kata kunci dicari dengan satu kata atau dikombinasikan dengan kata kunci lainnya. Penyaringan dilakukan dari artikel berbahasa inggris. Tnf-alpha dan penyakit diabetes melitus tipe 2 ada keterkaitan. Pada literatur dikatakan patogenesis diabetes mellitus tipe 2 (DMT2) dan perkembangan resistensi insulin ditandai oleh beberapa faktor stimulasi, terutama pembentukan spesies oksigen reaktif (ROS) dan peningkatan berbagai sitokin pro-inflamasi. Tumor necrosis factor-alpha (TNF-α) adalah salah satu mediator proinflamasi terpenting yang terlibat dalam perkembangan resistensi insulin dan patogenesis T2DM. Tumor necrosis factor-α (TNF-α) terlibat dalam banyak patologi manusia, termasuk penyakit autoimun, resistensi insulin terkait obesitas, komplikasi kardiovaskular dan kanker, serta berperan terjadi peradangan kronis pada ginjal yang merupakan bentuk komplikasi diabetes tipe 2. Pada penelitian lain juga menguatkan pendapat peneliti dijelaskan bahwa efek sitokin pro inflamasi dan anti-inflamasi (TNF-a) dapat mengganggu jalur persinyalan insulin sehingga menyebabkan resitensi insulin pada sel B-pancreas. Simpulan penelitian ini adalah TNF-α menyebabkan resistensi insulin dan menyebabkan seseorang menderita diabetes melitus tipe 2. Tumor necrosis factor-alpha (TNF-α) is one of the most crucial proinflammatory mediators critically involved in the development of insulin resistance and the pathogenesis of type 2 diabetes mellitus (T2DM). Elevated levels of TNF-α induce insulin resistance in adipocytes and peripheral tissues. A literature review was conducted using databases such as PubMed and Science direct to explore articles discussing TNF-Alpha in type 2 diabetes over the past 5–10 years. Keywords were searched individually or in combination with others, and articles in English were screened. The literature reveals a connection between TNF-alpha and type 2 diabetes mellitus. The pathogenesis of type 2 diabetes mellitus (T2DM) and the development of insulin resistance are characterized by various stimulating factors, particularly the formation of reactive oxygen species (ROS) and an increase in various pro-inflammatory cytokines. Tumor necrosis factor-alpha (TNF-α) is identified as one of the key proinflammatory mediators involved in insulin resistance development and T2DM pathogenesis. TNF-α is implicated in various human pathologies, including autoimmune diseases, obesity-related insulin resistance, cardiovascular complications, cancer, and plays a role in the occurrence of chronic inflammation in the kidneys, a form of complication in type 2 diabetes. Other studies support the notion that the effects of pro-inflammatory and anti-inflammatory cytokines (TNF-α) can disrupt insulin signaling pathways, leading to insulin resistance in pancreatic B cells. In conclusion, this research indicates that Tumor necrosis factor-alpha (TNF-α) can induce insulin resistance, contributing to the onset of type 2 diabetes.
Efektivitas Pengobatan Pasien Melasma dengan Modalitas Kombinasi (Penggunaan Tabir Surya, Obat Topikal, Obat Sistemik, Peeling, Laser, dan Skin Booster): Laporan Kasus Andarini, Mia Yasmina; Yuwita, Wulan; Harsono, Rosalin Naomi; Virdiono, Primedhia; Reginata, Gabriela
Jurnal Integrasi Kesehatan dan Sains Vol 6, No 2 (2024): Jurnal Integrasi Kesehatan dan Sains
Publisher : Universitas Islam Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29313/jiks.v6i2.13687

Abstract

AbstrakTata laksana melasma masih merupakan tantangan karena sering terjadi rekurensi setelah penghentian pengobatan. Prinsip dasar pengobatan melasma adalah dengan supresi aktivitas melanosit melalui penggunaan tabir surya. Supresi sintesis melanin dilakukan melalui penggunaan obat berbahan depigmentasi. Peeling kimiawi dilakukan untuk mengurangi produksi melanin. Penggunaan laser dapat membantu memecah granul melanin. Skin booster dapat mencegah proses solar elastosis karena aktivitas metaloproteinase dihambat. Dilaporkan tiga kasus melasma tipe campuran. Pada ketiga kasus ini pengobatan melasma dilakukan melalui penggunaan tabir surya, kombinasi bahan depigmentasi (hidrokuinon 4% dan tretinoin 0,025–0,1%) secara bertahap, traneksamid oral 2x250 mg, laser Yellow 577-nm Diode, dan peeling kimiawi asam glikolat 35%, serta non-cross linked asam hialuronat skin booster sebagai terapi lanjutan. Sementara itu, pada pasien melasma yang tidak menunjukkan gejala klinis eritema dan teleangiektasia diberikan pengobatan kombinasi yang sama, tetapi dengan penggunaan laser QS NdYAG. Simpulan, pengobatan melasma menggunakan modalitas kombinasi dengan penggunaan tabir surya, bahan depigmentasi, traneksamid oral, laser, peeling kimiawi, dan skin booster diketahui efektif dan tidak ada tanda rekurensi berdasarkan penurunan skor MASI setelah dua tahun pengamatan.The Effectiveness of Treatment for Melasma Patients with Combination Modalities (Using Sun Protection, Topical, Systemic Medication, Peeling, Laser, and Skin Booster): A Case ReportAbstractThe management of melasma continues to be challenging due to frequent relapses following discontinuation of the medication. The basic principles of treating melasma include the suppression of the activity of melanocytes by applying sunscreen. Depigmenting agents are used to suppress melanin synthesis. Chemical peeling can decrease melanin production, whereas laser treatment scatters melanin granules. Skin boosters protect against solar elastosis, which can reduce metalloproteinase activity. Reports indicated three cases of mixed-type melasma. In these three cases, we treated melasma using sun protection, a combination of depigmentation (4% hydroquinone and 0.025–0.1% tretinoin) gradually, 2x250 mg oral tranexamic, a 577-nm yellow light diode laser, and chemical peeling glycolic acid (35%), as well as non-cross-linked hyaluronic acid as a maintenance therapy. A patient with clinical symptoms of melasma, who does not exhibit erythema and telangiectasia, receives the same combination therapy but uses QS NdYAG laser. In conclusion, the treatment of melasma using combination modalities with sun protection, depigmentation ingredients, oral tranexamic, laser, chemical peeling, and skin booster is effective, and there is no sign of recurrence based on the reduction of the MASI score after two years of observations.
Scoping Review: Status Periodontal pada Pasien yang Menderita Gangguan Makan Khaerani, Naufis Puteri; Astuti, Luki
Jurnal Integrasi Kesehatan dan Sains Vol 6, No 2 (2024): Jurnal Integrasi Kesehatan dan Sains
Publisher : Universitas Islam Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29313/jiks.v6i2.13455

Abstract

AbstrakGangguan makan ditandai dengan perilaku makan yang tidak normal atau masalah dengan pengendalian berat badan. Pasien dengan gangguan makan cenderung memiliki kebersihan mulut buruk yang dapat menyebabkan akumulasi plak dan kalkulus sehingga dapat menyebabkan penyakit periodontal. Hal ini dapat memengaruhi status periodontal penderita gangguan makan. Tujuan penelitian ini mengetahui gambaran literatur mengenai status periodontal pada pasien dengan gangguan makan. Jenis penelitian ini adalah scoping review, sampel berasal dari jurnal nasional dan internasional yang berkaitan dengan status periodontal pada pasien gangguan makan. Penelitian dilakukan menggunakan diagram PRISMA pada basis data PubMed, Unbound MEDLINE, dan Wiley. Jumlah artikel yang didapat sebanyak 345 artikel. Hasil skrining pada artikel yang sesuai dengan kriteria inklusi sebanyak 5 artikel. Artikel yang termasuk dalam kriteria eksklusi sebanyak 248 artikel. Kriteria PCC dalam penelitian ini adalah Population (individu dengan gangguan makan), Concept (gambaran status periodontal pada penderita gangguan makan), dan Context (status periodontal pada penderita gangguan makan dilihat dari parameter klinis, yaitu perdarahan gingiva, kedalaman poket, dan kehilangan perlekatan). Hasil terdapat lima artikel yang sesuai dan digunakan dalam penelitian ini. Tiga artikel melaporkan skor status periodontal yang lebih tinggi, sedangkan satu studi menemukan skor status periodontal yang lebih rendah, dan satu studi tidak menemukan perbedaan yang signifikan. Simpulan penelitian ini adalah pasien gangguan makan cenderung memiliki status periodontal yang lebih buruk dibanding dengan individu yang sehat serta dapat dipengaruhi oleh kebersihan mulut yang buruk dan kurang efisien dalam hal praktik kebersihan mulut.Periodontal Status in Patients with Eating DisordersAbstractEating disorders are characterized by abnormal eating behavior or problems with weight control. Patients with eating disorders tend to have poor oral hygiene, which can lead to plaque and calculus accumulation, thus leading to periodontal disease. It can affect the periodontal status of patients with eating disorders. The purpose of this study was to determine the literature overview regarding periodontal status in patients with eating disorders. This type of research is a scoping review; the sample comes from national and international journals related to periodontal status in patients with eating disorders. The study used the PRISMA diagram on the PubMed, Unbound MEDLINE, and Wiley databases. The number of articles obtained was 345 articles. The screening results for articles included with the inclusion criteria were five. Articles included in the exclusion criteria were 248 articles. PCC criteria in this study are population (individuals with eating disorders), Concept (description of periodontal status in people with eating disorders), and Context (periodontal status in people with eating disorders seen from clinical parameters, namely gingival bleeding, pocket depth, and attachment loss). Results showed five articles were suitable for use in this study. Three articles reported higher periodontal status scores, one study found lower periodontal status scores, and one found no significant difference. This study concludes that eating disorder patients tend to have worse periodontal status compared to healthy individuals, which may be influenced by poor oral hygiene and less efficient oral hygiene practices.
Pengaruh Terpenoid pada Bunga Telang (Clitoria Ternatea L.) dalam Proses Penyembuhan Luka: Tinjauan Literatur Yusuf, Khaidir Yusuf; Basir, Salni; Maritska, Ziske; Layal, Kamalia
Jurnal Integrasi Kesehatan dan Sains Vol 7, No 1 (2025): Jurnal Integrasi Kesehatan dan Sains (in progress)
Publisher : Universitas Islam Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29313/jiks.v7i1.14251

Abstract

Luka terjadi ketika integritas jaringan terganggu akibat cedera atau pembedahan dan dapat dikelompokkan berdasarkan struktur, proses penyembuhan, dan waktu sembuh. Saat kulit terluka, tubuh merespons dengan menghentikan pendarahan melalui vasokonstriksi dan pembentukan gumpalan darah. Bunga telang merupakan tanaman obat tradisional yang dapat meningkatkan kesehatan kulit dan mendukung regenerasi jaringan berkat kandungan terpenoid sebagai komponen bioaktif. Terpenoid merupakan senyawa organik dengan berbagai fungsi yang berkontribusi signifikan terhadap khasiat penyembuhan. Senyawa ini memiliki berbagai efek biologis, seperti efek anti-inflamasi, antioksidan, dan antibakteri yang sangat penting untuk penyembuhan luka. Tinjaun literatur pada penelitian ini dengan menggunakan protokol PRISMA-ScR (Scoping Review). Ulasan dilakukan pada artikel yang membahas tentang pengaruh terpenoid dalam proses penyembuhan luka. Pencarian literatur menggunakan database PubMed, ScienceDirect, Google Scholar dan MDPI (Multidisciplinary Digital Publishing Institute).Artikel dalam bahasa Inggris dan Indonesia dengan rentang waktu sepuluh tahun terakhir. Didapatkan hasil empat artikel yang sesuai dengan kriteria penelitian. Simpulan penelitian ini adalah terpenoid dapat mempercepat proses penyembuhan luka dengan mendorong angiogenesis yang membantu aliran oksigen dan nutrisi ke area yang terluka. Selain mengurangi peradangan, terpenoid juga mendukung metabolisme sel yang terlibat dalam penyembuhan luka.The Role of Terpenoids in Butterfly Pea (Clitoria ternatea L.) in the Wound Healing Process: A Literature ReviewAbstractWounds occur when the integrity of the tissue is compromised due to injury or surgery and can be grouped based on structure, healing process, and healing time. When the skin is injured, the body responds by stopping bleeding through vasoconstriction and the formation of blood clots. Telang flower is a traditional medicinal plant that can improve skin health and support tissue regeneration thanks to the content of terpenoids as bioactive components. Terpenoids are organic compounds with various functions that contribute significantly to healing properties. These compounds have various biological effects, such as anti-inflammatory, antioxidant, and antibacterial effects essential for wound healing. The literature review in this study uses the PRISMA-ScR (Scoping Review) protocol. The review was conducted in an article that discusses the influence of terpenoids in the wound-healing process. A literature search was conducted, and articles published in PubMed, ScienceDirect, Google Scholar, and MDPI (Multidisciplinary Digital Publishing Institute) were used. Articles in English and Indonesian have been published for the last ten years. The results of four articles were obtained following the research criteria. This study concludes that terpenoids can speed up the wound-healing process by promoting angiogenesis, which helps flow oxygen and nutrients to the injured area. In addition to reducing inflammation, terpenoids also support the metabolism of cells involved in wound healing.
Review Article: Peran Reactive Oxygen Species pada Patogenesis Preeklamsia Kurniasari, Febriana Kurniasari; Effendi, Jusuf Sulaeman; Budiarti, Indri
Jurnal Integrasi Kesehatan dan Sains Vol 7, No 1 (2025): Jurnal Integrasi Kesehatan dan Sains (in progress)
Publisher : Universitas Islam Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29313/jiks.v7i1.14514

Abstract

Preeklamsia merupakan penyakit multifaktorial pada kehamilan yang ditandai dengan onset baru hipertensi pada kehamilan dengan atau tanpa proteinuria atau kegagalan organ pada usia gestasi lebih dari 20 minggu. Preeklamsia merupakan salah satu penyebab morbiditas dan mortalitas yang memengaruhi 3–7% kehamilan di seluruh dunia. Patogenesis preeklamsia berkaitan dengan abnormalitas plasentasi akibat defek pada invasi trofoblas dan gangguan remodeling arteri spiralis pada uterus sehingga menyebabkan sirkulasi uteroplasenta yang buruk. Penelitian ini bertujuan mendeskripsikan peran reactive oxygen species (ROS) pada patogenesis preeklamsia. Penelitian ini menggunakan metode kepustakaan literature review dengan mengumpulkan beberapa hasil penelitian, yaitu berupa artikel yang kredibel dan lengkap seperti GoogleScholar, ScienceDirect, dan PubMed dengan kata kunci preeklamsia, reactive oxygen species, dan antioksidan. Assessment dilaksanakan berdasarkan kelayakan terhadap kriteria inklusi dan eksklusi didapatkan sebanyak 14 artikel yang digunakan dalam literature review ini. Dari 14 penelitian didapatkan 5 artikel ilmiah yang dijadikan sebagai acuan utama untuk diteliti pada literture review. Dari 5 penelitian tersebut menunjukkan bahwa ROS diperlukan pada awal kehamilan untuk proses angiogenesis dan proliferasi serta pematangan sel yang diperlukan untuk pemeliharaan kehamilan dan perkembangan embrio. Namun, peningkatan level ROS pada kehamilan lanjut dapat menyebabkan kondisi patologis. Simpulan pada penelitian ini adalah stres oksidatif merupakan penyebab utama pelepasan sitokin dan faktor antiangiogenik ke sirkulasi maternal sehingga menyebabkan disfungsi endotel dan inflamasi bersamaan dengan penurunan bioavaibilitas nitrit oksida (NO) dan disfungsi aktivitas endothelial nitric oxide synthase (eNOS) di plasenta. Review Article: The Role of Reactive Oxygen Species in the Pathogenesis of PreeclampsiaAbstractPreeclampsia is a multifactorial disease in pregnancy characterized by a new onset of gestational hypertension with or without proteinuria or end-organ failure after the 20th week of pregnancy. Preeclampsia is a leading cause of morbidity and mortality that affects 3-7% of pregnancies worldwide. The pathogenesis of preeclampsia is related to abnormal placentation due to trophoblast invasion and spiral artery remodeling disorder in the uterus, thus causing poor circulation of the uteroplacental. This study aims to describe the role of ROS in the pathogenesis of preeclampsia. This research uses the literature review method by collecting several research results, namely in the form of credible and complete articles such as Google Scholar, ScienceDirect, and PubMed, with keywords preeclampsia, reactive oxygen species, and antioxidants. The assessment was based on the suitability of the inclusion and exclusion criteria for 14 articles used in this literature review. From 14 studies, five scientific articles were obtained, which were used as the primary reference for research in the literature review. These five studies show that ROS are needed in early pregnancy for the processes of angiogenesis and proliferation and cell requirements required for pregnancy maintenance and embryo development. However, increased ROS levels in late pregnancy can cause pathological conditions. This study concludes that oxidative stress is the leading cause of the release of cytokines and antiangiogenic factors into the maternal circulation, causing endothelial dysfunction and inflammation along with decreased nitric oxide (NO) bioavailability and dysfunction of endothelial nitric oxide synthase (eNOS) activity in the placenta.