cover
Contact Name
Asep Amam
Contact Email
jurnalwahanapendidikan@gmail.com
Phone
+6285220520401
Journal Mail Official
jurnalwahanapendidikan@gmail.com
Editorial Address
Jln. R.E. Martadinata No. 150 Tlp. (0265) 772192
Location
Kab. ciamis,
Jawa barat
INDONESIA
Jurnal Wahana Pendidikan
Published by Universitas Galuh
ISSN : 23552425     EISSN : 27156796     DOI : 10.25157
Core Subject : Education,
Jurnal Wahana Pendidikan merupakan Jurnal Ilmiah Nasional yang memuat artikel penelitian (research article) di bidang pengembangan proses pembelajaran, praktikum, pengembangan bahan ajar, peningkatan kompetensi guru, dan pengembangan manajemen sekolah. Jurnal Wahana Pendidikan diterbitkan secara berkala dua kali dalam setahun (Januari dan Agustus). P-ISSN: 2355-2425 dan E-ISSN : 2715-6796 Wahana Pendidikan is a high-quality open access peer-reviewed research journal published by the Teaching and Education Faculty of Galuh University (UNIGAL). Wahana Pendidikan provides a platform that welcomes and recognizes high-quality original empirical research articles on education written by researchers, academics, professionals and practitioners from around the world.
Articles 24 Documents
Search results for , issue "Vol 13, No 1 (2026)" : 24 Documents clear
A Preliminary Study on The Speaking Confidence of Non-Formal Learners in Indonesia through TikTok-Based Learning Damayanti, Difanti Alfina; Herda, Rozanah Katrina; Wendt, Sara
Wahana Pendidikan Vol 13, No 1 (2026)
Publisher : Universitas Galuh

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25157/jwp.v13i1.22152

Abstract

In the 21st century, education requires learners to develop cognitive knowledge alongside critical thinking, creativity, collaboration, and communication skills, with English serving as a key medium for global interaction and professional growth. Adult learners in non-formal settings, such as a non-formal education institution in Magelang, Indonesia, often face challenges in speaking due to anxiety, limited exposure, low self-efficacy, and competing work–family responsibilities. This descriptive qualitative study aimed to describe classroom conditions and learner participation, identify indicators of speaking confidence, and explore the potential of TikTok from a teacher's perspective. Data were collected through classroom observations and semi-structured interviews, and then analysed thematically. Findings revealed that psychological barriers, teacher-centred instruction, minimal feedback, and contextual fatigue hinder participation and fluency, while TikTok promotes confidence through rehearsal, creativity, peer interaction, and reduced performance pressure. The study concludes that supportive feedback, learner-centred approaches, and careful digital integration can enhance motivation and speaking skills. The implications emphasise the need for emotionally safe learning environments, teacher development in providing constructive feedback, and attention to digital privacy. Future research should employ mixed-methods, longitudinal tracking, and multi-site frameworks to explore how digital platforms and teacher assistance can further enhance speaking confidence in diverse non-formal EFL contexts.
Transformasi Paradigma Pengajaran di SD lewat Pembelajaran Kontekstual: Kajian Mixed Methods tentang Kesiapan Guru dan Dukungan Ekosistem Sekolah Falasifah, Farah; Abidin, Yunus; Herlambang, Yusuf Tri
Wahana Pendidikan Vol 13, No 1 (2026)
Publisher : Universitas Galuh

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25157/jwp.v13i1.23082

Abstract

Implementasi pembelajaran kontekstual dalam pengajaran ilmu pengetahuan di Sekolah Dasar (SD) dinilai krusial untuk menciptakan pembelajaran yang bermakna. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis secara komprehensif proses, tantangan, dan faktor pendukung implementasi paradigma tersebut di tingkat kelas. Dengan menggunakan pendekatan metode campuran (mixed methods) model eksploratori sekuensial, data dikumpulkan melalui wawancara mendalam dengan guru, kepala sekolah, dan pengawas; observasi partisipatif di dalam kelas; serta kajian dokumen berupa Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP), bahan ajar, dan hasil karya siswa. Temuan penelitian mengungkap tiga hal utama: (1) Kesenjangan antara pemahaman konseptual guru dan kemampuan operasional dalam merancang serta menilai pembelajaran kontekstual; (2) Spektrum strategi adaptasi sumber daya oleh guru, mulai dari penggunaan sumber jadi hingga pengembangan bahan berbasis kearifan lokal; (3) Faktor pendukung sistemik yang determinatif, khususnya peran kepemimpinan instruksional kepala sekolah dan kebijakan alokasi sumber daya. Hasil penelitian menunjukkan bahwa meskipun efektif meningkatkan keterlibatan dan pemahaman siswa, keberhasilan pembelajaran kontekstual sangat bergantung pada kapasitas guru dalam mendesain pembelajaran dan adanya dukungan ekosistem sekolah yang memadai. Implikasi dari studi ini menekankan pentingnya pendampingan yang berfokus pada aspek perancangan pembelajaran dan pengembangan instrumen asesmen yang autentik, di samping penguatan kolaborasi seluruh pemangku kepentingan di tingkat satuan pendidikan.
Analisis Kemampuan Berpikir Kritis Siswa Ditinjau dari Gaya Kognitif pada Materi Penjumlahan dan Pengurangan Pecahan Sari, Devi Kartika; Sari, Filian Yunita
Wahana Pendidikan Vol 13, No 1 (2026)
Publisher : Universitas Galuh

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25157/jwp.v13i1.18776

Abstract

Kemampuan berpikir kritis penting dimiliki agar dapat dimanfaatkan ketika melakukan penyelesaian matematika. Penelitian kualitatif deskriptif ini bertujuan menganalisis kemampuan berpikir kritis siswa berdasarkan gaya kognitif pada materi penjumlahan dan pengurangan pecahan. Penelitian dilakukan secara mendalam pada 4 siswa kelas V SDN 01 Srikaton yang dipilih melalui purposive sampling, dengan 2 subjek dari setiap gaya kognitif untuk memungkinkan eksplorasi komprehensif terhadap pola kognitif individual dan triangulasi data lintas subjek. Instrumen penelitian meliputi tes kemampuan berpikir kritis, GEFT, dan wawancara mendalam. Analisis data menggunakan pendekatan Miles dan Huberman. Hasil penelitian menunjukkan disparitas signifikan: siswa Field Independent (FI) memenuhi seluruh indikator berpikir kritis (interpretasi, analisis, evaluasi, inferensi) dengan akurasi sempurna, mendemonstrasikan strategi metakognitif seperti self-verification dan autonomous problem restructuring. Sebaliknya, siswa Field Dependent (FD) hanya memenuhi sebagian indikator dengan akurasi rendah, menunjukkan keterbatasan pada interpretasi (informasi tidak lengkap), analisis (kesulitan menyusun penyelesaian), evaluasi (lemah dalam monitoring prosedural), dan gagal dalam inferensi. Temuan krusial mengungkap siswa FD mengalami illusion of understanding dan cascading errors. Karakteristik analitik gaya kognitif FI terbukti bersinergi dengan tuntutan kognitif berpikir kritis dalam konteks pecahan. Kemampuan berpikir kritis berbeda-beda bergantung pada gaya kognitif yang dimiliki.
AI Tools for Personalized English Learning: Bridging the Gap Between Technology and Language Acquisition Kafabih, Abdullah; Apriliana, Morista Sasi; Putri, Nanda Ardianing; Wardoyo, Eko; Retnani, Siki Tyas; Herda, Rozanah Katrina; Majid, Sheikha
Wahana Pendidikan Vol 13, No 1 (2026)
Publisher : Universitas Galuh

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25157/jwp.v13i1.22475

Abstract

Language learning has become increasingly effective with the support of artificial intelligence, particularly in English language learning contexts. This study aims to explore how English as a Foreign Language learners utilize artificial intelligence to support personalized learning and to examine their perceptions of this technology. The study employed an explanatory sequential mixed methods design, beginning with quantitative data collection followed by qualitative exploration. Quantitative data were collected through a structured questionnaire involving 200 undergraduate learners from the English Education Department of a public university in Indonesia, while qualitative data were obtained through semi structured interviews with 10 selected participants. Quantitative data were analyzed using descriptive statistics and qualitative data were examined through thematic analysis. The findings indicate that artificial intelligence features such as real time feedback, adaptive content, voice recognition, and gamified tasks contribute to improvements in learners’ writing, reading, speaking, and listening skills. In addition, artificial intelligence provides interactive and accessible learning support that allows learners to engage flexibly in personalized learning. However, limitations related to meaningful interaction and contextual understanding remain challenges when artificial intelligence is not used judiciously.
Implementasi Kebijakan Digitalisasi Pengelolaan Kinerja pada Guru Sekolah Dasar (Studi Deskriptif Kualitatif pada KKG Se-Kecamatan Tamansari Kota Tasikmalaya) Afifi, Ruhana; Utami, Mulatsih Sri; Taupik, Asep Hamjah; Ishak, Deding; Helmawati, Helmawati; Gumelar, Wahyu Satya
Wahana Pendidikan Vol 13, No 1 (2026)
Publisher : Universitas Galuh

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25157/jwp.v13i1.22771

Abstract

Transformasi digital di bidang pendidikan telah mengubah manajemen dan pengelolaan kinerja guru, dengan digitalisasi kinerja sebagai upaya meningkatkan efisiensi, akuntabilitas, dan transparansi. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis perencanaan (planning), pengorganisasian (organizing), pelaksanaan (actuating), dan pengawasan (controlling) digitalisasi kinerja guru sekolah dasar di KKG Se-Kecamatan Tamansari Kota Tasikmalaya. Metode penelitian yang digunakan adalah deskriptif kualitatif, dengan pengumpulan data melalui wawancara, observasi, dan studi dokumentasi, serta analisis data secara interaktif menggunakan model Miles dan Huberman melalui reduksi, penyajian, dan penarikan kesimpulan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa: (1) perencanaan telah dilakukan melalui penetapan tujuan, identifikasi kebutuhan, dan penyusunan SOP digital, tetapi masih berfokus pada pemenuhan administrasi; (2) pengorganisasian menunjukkan adanya pembagian peran dan struktur kerja, namun koordinasi dan kejelasan tanggung jawab belum sepenuhnya terintegrasi; (3) pelaksanaan dilakukan melalui penggunaan aplikasi SIMPKB, e-Kinerja, dan Ruang GTK dengan dukungan kepala sekolah dan kolaborasi guru, meski kedisiplinan input data masih dipengaruhi beban kerja dan pemahaman teknis; serta (4) pengawasan dilakukan melalui monitoring, evaluasi, validasi, dan audit data digital, namun lebih menekankan kelengkapan data daripada peningkatan kinerja reflektif. Secara keseluruhan, digitalisasi telah berjalan, tetapi orientasinya masih administratif sehingga belum sepenuhnya meningkatkan kualitas kinerja dan profesionalisme guru. Implikasinya, digitalisasi kinerja guru perlu dikelola secara strategis dan kolaboratif, berbasis data untuk pengembangan profesional dan peningkatan kualitas kinerja, didukung SOP reflektif, pemerataan TIK, serta pelatihan berkelanjutan agar tidak sekadar bersifat administratif.
Pengaruh Akses Teknologi dan Literasi Digital Terhadap Prestasi Studi Sosial Melalui Minat Belajar Sulastri, Sulastri; Kadeni, Kadeni; Dirgantoro, Ajar
Wahana Pendidikan Vol 13, No 1 (2026)
Publisher : Universitas Galuh

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25157/jwp.v13i1.20593

Abstract

Penerapan teknologi pembelajaran di sekolah dasar telah memberikan dampak yang signifikan terhadap proses  belajar  mengajar dan  prestasi  belajar  siswa. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pengaruh akses teknologi dan literasi digital terhadap prestasi belajar IPS siswa kelas VI melalui minat belajar sebagai variabel mediasi. Metode yang digunakan adalah kuantitatif dengan pendekatan survei. Sampel penelitian berjumlah 210 siswa kelas 6, yang dipilih secara cluster sampling. Temuan penelitian ini diperoleh dari data yang dikumpulkan melalui kuesioner yang telah diuji validitas dan reliabilitasnya serta dianalisis menggunakan PLS-SEM. Hasil penelitian menunjukkan bahwa akses teknologi berpengaruh positif terhadap minat belajar siswa, karena ketersediaan perangkat digital dan akses internet yang memadai mendorong keterlibatan yang lebih tinggi dalam kegiatan pembelajaran. Literasi digital juga meningkatkan minat belajar dengan membantu siswa dalam mengakses dan mengevaluasi informasi secara efektif. Akses teknologi secara langsung meningkatkan prestasi belajar, sedangkan literasi digital berpengaruh secara tidak langsung melalui minat belajar. Secara keseluruhan, minat belajar menjadi faktor paling berpengaruh dalam menentukan prestasi akademik siswa.. Temuan ini menunjukkan bahwa minat belajar berperan sebagai variabel mediasi, yang memperkuat dampak Akses Teknologi dan Literasi Digital terhadap hasil belajar siswa. Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa Akses Teknologi dan Literasi Digital memiliki peran penting dalam meningkatkan Prestasi Belajar siswa, baik secara langsung maupun tidak langsung melalui Minat Belajar. Temuan dari penelitian ini diharapkan adanya pemerataan sarana teknologi serta penguatan program literasi digital di lingkungan sekolah dasar.
Menuju Kolaborasi Pedagogi-Ekologi: Memahami Preferensi Siswa terhadap Ecoliteracy di Cultural Landscape Pesisir Cilacap Sudarto, Sudarto; Nurholis, Egi; Brata, Yat Rospia; Saefudin, Arif; Ramdani, Dadan
Wahana Pendidikan Vol 13, No 1 (2026)
Publisher : Universitas Galuh

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25157/jwp.v13i1.23437

Abstract

Penelitian bertujuan memahami preferensi siswa sekolah dasar dalam mengeksplorasi lanskap budaya pesisir Cilacap, menganalisis pengetahuan mereka tentang makhluk hidup lokal, serta menggali pemahaman interaksi ekologis antarspesies. Pendekatan pedagogi-ekologi esensial untuk mengembangkan ecoliteracy berkelanjutan di kawasan pesisir yang kaya biodiversitas namun rentan degradasi lingkungan. Metode kualitatif partisipatif diterapkan melalui observasi partisipatif, wawancara semi-terstruktur, dan analisis dokumen pada siswa di SD Negeri Ujungalang 01 & 02, Desa Ujungalang, Kecamatan Kampung Laut, Cilacap. Hasil mengungkap preferensi eksplorasi utama via aktivitas bermain alamiah dan interaksi langsung dengan biota pesisir, diiringi kesenjangan pemahaman ekologis mendalam. Implikasi praktis mencakup desain kurikulum kolaboratif pedagogi-ekologi, seperti modul pembelajaran berbasis eksplorasi lapangan terintegrasi dengan narasi budaya lokal, pelatihan guru untuk fasilitasi interaksi siswa-biota, serta rekomendasi kebijakan pendidikan lingkungan berbasis komunitas pesisir guna memperkuat ecoliteracy dan resiliensi ekosistem sejak dini.
Transformasi Pembelajaran Sejarah di Era Education 4.0: Tinjauan Kritis Atas Integrasi Teori Belajar Bermakna Ausubel dan Teknologi Digital Huda, Khoirul
Wahana Pendidikan Vol 13, No 1 (2026)
Publisher : Universitas Galuh

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25157/jwp.v13i1.18459

Abstract

Studi ini bertujuan untuk secara kritis mengkaji integrasi teori pembelajaran bermakna Ausubel dalam pembelajaran sejarah dalam kerangka Pendidikan 4.0 dengan mengidentifikasi kesenjangan teoretis dan praktis dalam implementasi pendekatan pembelajaran bermakna menggunakan teknologi digital. Pendidikan 4.0 menekankan penggunaan alat digital, pembelajaran personal dan pedagogi kolaborasi sehingga menghadirkan tantangan dan peluang bagi pendidik sejarah. Urgensi studi ini terletak pada kenyataan bahwa pembelajaran sejarah masih didominasi hafalan, sementara siswa dituntut mengembangkan penalaran historis, berpikir kritis dan literasi digital. Teori Ausubel memberikan landasan konseptual untuk memperdalam pemahaman sejarah. Metode menggunakan tinjauan literatur melalui Scopus yang melibatkan analisis tematik antara tahun 2010 dan 2024. Hasil penelitian menunjukkan keberhasilan penggunaan pengorganisir awal berbasis digital, teknologi imersif dan platform digital kolaboratif. Studi ini memberikan strategi praktis bagi guru, seperti mengintegrasikan pengorganisir awal yang ditingkatkan teknologi dan kolaborasi berbasis penyelidikan dan menekankan perlunya pengembangan profesional dan dukungan kebijakan. Temuan tersebut menegaskan potensi teori pembelajaran bermakna mendukung pengajaran sejarah yang dinamis, reflektif dan terlibat secara kritis yang selaras dengan kompetensi abad ke-21
Analisis Diglosia Pada Pemilihan Bahasa Indonesia, Sunda, dan Jawa dalam Interaksi Siswa Herdiana, H. R; Andi Mulyadi, U.; Ekapasha, Marissa
Wahana Pendidikan Vol 13, No 1 (2026)
Publisher : Universitas Galuh

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25157/jwp.v13i1.22837

Abstract

Dalam suatu wilayah dinamika kebahasaan masih sering ditemukan, terutama di sekolah yang berada di daerah perbatasan budaya dan bahasa, seperti wilayah peralihan antara Jawa Tengah dan Jawa Barat. Hal ini mengakibatkan adanya fenomena diglosia, yaitu keadaan ketika dua variasi bahasa atau lebih digunakan dalam satu komunitas dengan fungsi yang berbeda dan relatif terpisah.  Penelitian ini bertujuan mendeskripsikan fenomena diglosia yang terjadi di SMA Negeri 2 Banjar, khususnya dalam penggunaan bahasa Indonesia sebagai ragam tinggi (High/H), serta bahasa Sunda dan Jawa sebagai ragam rendah (Low/L). Penelitian ini menggunakan gabungan dua jenis data yaitu mix method baik data kuantitatif dan data kualitatif, untuk memperoleh gambaran yang komprehensif mengenai fenomena diglosia di lingkungan SMA Negeri 2 Banjar. Oleh karena itu, teknik pengumpulan data dan sumber data disesuaikan dengan karakteristik masing-masing jenis data yang diperoleh dari hasil penyebaran angket melalui google form kepada 50 siswa kelas XII. Hasil penelitian menunjukkan angka lebih banyak menggunakan bahasa Indonesia dalam konteks formal, 58% siswa memilih bahasa tersebut karena lebih nyaman digunakan dan 58% faktornya disebabkan oleh lawan biara.Temuan kualitatif menunjukkan bahwa siswa secara sadar membedakan penggunaan bahasa berdasarkan konteks komunikasi. Bahasa Indonesia dipersepsikan sebagai bahasa resmi dan sopan sehingga dominan digunakan dalam situasi formal dan akademik, sedangkan bahasa Sunda dan Jawa digunakan untuk membangun kedekatan dan kenyamanan dalam interaksi nonformal. Penelitian ini menegaskan pentingnya literasi kebahasaan agar siswa mampu menggunakan bahasa secara tepat sesuai konteks.
Manusia Sebagai Animal Educandum Dalam Dimensi Pedagogik Pendidikan Dasar Kusnandi, Kusnandi; Ibrahim, Malik
Wahana Pendidikan Vol 13, No 1 (2026)
Publisher : Universitas Galuh

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25157/jwp.v13i1.23367

Abstract

Penulisan artikel bertujuan untuk mendeskripsikan hakikat manusia sebagai animal educandum ditinjau dari perspektif pedagogik pada fase perkembangan anak usia pendidikan dasar dan implikaisnya. Metode penulisan artikel ini dengan pendekatan deskriptif kualitatif melalui kajian pustaka, telaah dokumentasi terkait, dan diskusi keilmuan pedagogik dengan mahasiswa S2 Prodi Administrasi Pendidikan Pascasarjana Unigal. Temuan dari kajian ini, secara fisik dan struktur tubuh, manusia memiliki beberapa persamaan dengan hewan lainnya terutama yang tergolong dalam kelas mamalia atau primata . Perbedaan mencolok antara manusia dengan hewan adalah pada otak.  Dengan struktur, bagian, dan fungsi otak yang dikembangkan dengan sempurna, maka potensi manusia akan maksimal untuk mencapai posisi tertinggi sesuai dengan fitrahnya. Berdasarkan teori multiple intelegences, manusia memiliki delapan kecerdasan yang dapat dikembangkan. Kedelapan jenis kecerdasan tersebut adalah kecerdasan: linguistic-verbal, matematis-logis, visual-spasial, musical, intrapersonal. interpersonal, kinestetis, dan naturalis. Untuk dapat mencapai potensi terbaiknya, maka manusia harus dididik dengan berbagai cabang keilmuan dan keterampilan menggunakan alat.  Berangkat dari potensi dan kebutuhan belajar manusia, maka lahirlah aliran-aliran  pendidikan seperti nativisme, empirisme dan konvergensi. Manusia sebagai 'animal educandum' yang mengandung makna bahwa manusia merupakan mahkluk yang perlu atau harus dididik, karena saat dilahirkan kondisinya sangat tidak berdaya sama sekali, padahal memilki berbagai potensi yang apabila dibantu dengan pendidikan akan menjadi manusia yang paripurna yang akan sangat berbeda dengan hewan Bertolak dari pandangan tersebut, secara implisit terlihat pula bahwa tidak mungkin manusia dipandang sebagai mahkluk yang harus di didik, apabila manusia bukan mahkluk yang dapat di didik.

Page 2 of 3 | Total Record : 24