cover
Contact Name
Arif Rahman Hikam
Contact Email
bioeksakta@gmail.com
Phone
+6285741954045
Journal Mail Official
bioeksakta@gmail.com
Editorial Address
Fakultas Biologi Universitas Jenderal Soedirman Jl. dr. Soeparno No. 63 Purwokerto, Kabupaten Banyumas Kode Pos 53122
Location
Kab. banyumas,
Jawa tengah
INDONESIA
BioEksakta : Jurnal Ilmiah Biologi Unsoed
ISSN : -     EISSN : 27148564     DOI : -
Jurnal BioEksakta menerbitkan artikel ilmiah hasil penelitian dalam bidang biologi umum termasuk Ekologi dan konservasi, Taksonomi dan Struktur, Biogeografi, Evolusi, Biodeversitas, Fisiologi dan Reproduksi, Biologi sel, Biologi Molekuler dan Genetika.
Articles 401 Documents
Optimasi Dosis Fungi Mikoriza Arbuskula (FMA) pada Tanah Lahan Bekas Tambang Batubara terhadap Tanaman Jagung (Zea mays) Yunita, Dewi; Dewi, Ratna Stia; Ahmad, Riza Zainuddin
BioEksakta : Jurnal Ilmiah Biologi Unsoed Vol 5 No 2 (2023): BioEksakta
Publisher : Fakultas Biologi Universitas Jenderal Soedirman

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20884/1.bioe.2023.5.2.5455

Abstract

Pertambangan batubara di Indonesia umumnya dilakukan dengan sistem tambang terbuka sehingga menyebabkan pertumbuhan tanaman kurang optimal. Salah satu strategi untuk mengatasi hal tersebut adalah dengan penggunaan Fungi Mikoriza Arbuskula (FMA). Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh pemberian inokulum FMA terhadap pertumbuhan tanaman jagung dan mengetahui dosis optimum FMA terhadap pertumbuhan tanaman jagung dengan media tanam tanah bekas lahan tambang. Penelitian ini menggunakan metode eksperimental dengan Rancangan Acak Lengkap (RAL) yaitu 4 dosis FMA (0, 100, 150, 200 g) pada medium tanah bekas tambang batubara dengan 3 kali ulangan. Variabel bebas yang digunakan yaitu dosis FMA dan variabel terikat yaitu kemampuan FMA dalam menginfeksi akar. Parameter utama yang diamati yaitu derajat infeksi akar, parameter pendukung yaitu bobot kering tanaman, jumlah daun dan tinggi tanaman jagung. Data dianalisa menggunakan uji Analisis Ragam (ANOVA) dengan standar kesalahan 5% dan dilanjutkan Beda Nyata Jujur (BNJ). Hasil penelitian menunjukkan bahwa perlakuan dosis FMA pada tanah lahan bekas tambang batubara memberikan pengaruh terhadap pertumbuhan tanaman jagung umur 42 hari setelah tanam (HST). FMA memberikan pengaruh positif terhadap pertumbuhan tanaman jagung. Dosis 100 g/polybag merupakan dosis efektif meningkatkan pertumbuhan tanaman jagung pada tanah bekas tambang batubara. Dosis 200 g/polybag memberikan hasil terbaik terhadap tinggi tanaman, jumlah daun dan bobot kering tanaman jagung.
Efektivitas Pemberian PEG terhadap Pertumbuhan dan Hasil beberapa Varietas Kedelai untuk Mendapat Kedelai Toleran Kekeringan Puspitadewi, Nur Aini Kurnia; Budisantoso, Iman; Juwarno, Juwarno
BioEksakta : Jurnal Ilmiah Biologi Unsoed Vol 5 No 1 (2023): BioEksakta
Publisher : Fakultas Biologi Universitas Jenderal Soedirman

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20884/1.bioe.2023.5.1.5760

Abstract

Kedelai (Glycine max (L.) Merr.) merupakan tanaman pangan yang kurang tahan terhadap kekeringan dan kelebihan air. Kedelai lebih sensitif terhadap kekeringan daripada jenis kacang-kacangan yang lain sehingga kondisi cekaman kekeringan yang dialami kedelai akan menjadi kendala terhadap pertumbuhan dan produksi jika penyediaan air tidak tersedia. Pengaruh cekaman kekeringan pada kedelai dapat diketahui dengan pemberian Polietilena glikol (PEG) dengan cara PEG yang dilarutkan dalam air dapat digunakan untuk menstimulasikan besar potensial air. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh PEG terhadap pertumbuhan dan hasil tanaman kedelai dan untuk mengetahui tanaman kedelai yang paling toleran terhadap kekeringan. Penelitian ini dilakukan secara eksperimental dengan rancangan percobaan Rancangan Acak Kelompok (RAK) faktorial 2 faktor. Faktor 1 adalah varietas kedelai yang terdiri atas 3 varietas yaitu DEJA 1, DEGA 1, dan DENA 1. Faktor 2 adalah konsentrasi PEG yaitu 0% (kontrol), 5%, 10% dan 15% dengan 3 kali ulangan sehingga terdapat 36 unit percobaan. Pengamatan pertumbuhan tanaman dilakukan secara destruktif pada hari ke 20, 40, dan 60 hst (hari setelah tanam) dan hasil tanam atau produksi dilakukan di akhir penelitian. Parameter yang diamati meliputi bobot basah, bobot kering, bobot biji per tanaman, luas daun, dan laju asimilasi bersih (LAB). Data yang diperoleh dianalisis menggunakan analisis ragam. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pemberian PEG mempengaruhi pertumbuhan berupa bobot basah, bobot kering, luas daun, LAB, dan hasil beberapa varietas kedelai berupa bobot biji per tanaman. Varietas kedelai yang toleran terhadap cekaman kekeringan adalah varietas DEGA 1.
Utilization of Pleurotus ostreatus And Lentinus squarrosulus In The Manufacture of Mycelium-Based Biocomposite Using Sugarcane Bagasse And Cornstalk Media Wardaya, Yasenia Sandra; Mumpuni, Aris; Ekowati, Nuraeni
BioEksakta : Jurnal Ilmiah Biologi Unsoed Vol 5 No 2 (2023): BioEksakta
Publisher : Fakultas Biologi Universitas Jenderal Soedirman

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20884/1.bioe.2023.5.2.6669

Abstract

Biocomposite is a type of composite consisting of a polymer matrix material and natural fiber reinforcement. Biocomposite technology, especially natural fibers, is currently in demand. The reasons are environmentally friendly, availability of many raw materials, low production costs, biodegradable, and recyclable. Natural fibers used in the form of agricultural waste such as sugarcane bagasse and corn stalks while the mycelium of the fungus Pleurotus ostreatus and Lentinus squarrosulus are used as natural adhesives. The objectives of this research were to determine the effect of the type of white-rot fungus and the composition of the lignocellulosic material of agricultural waste that affects the quality of the resulting biocomposite board and to obtain the optimal type of white-rot fungus and the optimal composition of lignocellulosic material from agricultural waste to manufacture mycelium-based biocomposite board. The research method used a completely randomized design with ten treatments with three replications. The treatments used 2 types of mushroom (P. ostreatus and L. squarrosulus) with 2 types of Lignocellulosic materials (Sugarcane bagasse and Cornstalk) and each lignocellulosic material has 4 types of compositions (100%, 75%, 50%, and 25%). The main parameter was analyzed using Analysis of Variance (ANOVA) with an error rate of 5%, then further tested with post hoc Duncan at 95% confidence level to compare the effect between treatments. The results showed that the treatment of the type of fungus and the lignocellulosic material used affects the quality of the resulting biocomposite board. L. squarrosulus in 100% sugarcane bagasse media is the optimal type of white-rot fungus and the optimal composition of lignocellulosic material to manufacture mycelium-based biocomposite board.
PENGARUH PAKLOBUTRAZOL DAN GA3 TERHADAP PERTUMBUHAN DAN PEMBUNGAAN PADA TANAMAN CABAI (Capsicum annum L.) Adilah, Rahma; Rochmatino, Rochmatino; Prayoga, Lucky
BioEksakta : Jurnal Ilmiah Biologi Unsoed Vol 2 No 1 (2020): BioEksakta
Publisher : Fakultas Biologi Universitas Jenderal Soedirman

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20884/1.bioe.2020.2.1.1733

Abstract

Cabai merupakan komoditas hortikultura yang memiliki peran penting dalam memenuhi kebutuhan pangan di Indonesia. Hal ini dikarenakan cabai dapat dikonsumsi dalam keadaan segar atau olahan. Paklobutrazol merupakan salah satu zat penghambat tumbuh atau retardan yang peranannya menyebabkan nutrisi dan energi tanaman akan diarahkan mencapai fase generatif lebih cepat, sehingga dapat meningkatkan produksi. Tujuan yang ingin dicapai pada penelitian ini adalah mengetahui pengaruh paklobutrazol dan GA3 terhadap pertumbuhan dan pembungaan cabai dan menentukan konsentrasi paklobutrazol dan GA3 yang tepat terhadap pertumbuhan dan pembungaan cabai . Metode penelitian dilakukan secara eksperimental dengan Rancangan Acak Lengkap (RAL) pola perlakuan faktorial. Faktor pertama yaitu konsentrasi Paklobutrazol (P) dengan 4 taraf yaitu P0 : 0 ppm, P1 : 250 ppm, P2 : 500 ppm, dan P3 750 ppm. Faktor kedua yaitu konsentrasi GA (G) dengan 3 taraf yaitu G0 : 0 ppm, G1 : 50 ppm, G2 : 100 ppm dan G3 : 150 ppm. Kombinasi kedua faktor menghasilkan 16 pelakuan. Setiap kombinasi perlakukan diulang sebanyak 3 kali, sehingga terdapat 48 unit percobaan. Parameter yang diamati dalam penelitian ini adalah tinggi tanaman (cm), jumlah daun, waktu pembungaan (hari) dan jumlah bunga. Data yang diperoleh dianalisis dengan Analisis Ragam dengan tingkat kepercayaan 95% dan dilanjutkan uji Beda Nyata Terkecil (BNT) pada tingkat kesalahan 5%. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pemberian Paklobutrazol dan GA3 berpengaruh pada pertumbuhan dan pembungaan tanaman cabai apabila diaplikasikan secara mendiri. Paklobutrazol dengan konsentrasi 250 ppm dan GA3 dengan konsentrasi 50 ppm merupakan konsentrasi terbaik untuk pertumbuhan dan pembungaan pada tanaman cabai . Kata kunci : Capsium annum L., paklobutrazol, GA3
TMR Pengaruh Pengunjung terhadap Aktivitas Harian Gajah Sumatra (Elephas maximus sumatranus) di Taman Margasatwa Ragunan Jakarta Selatan Evitasari, Silvia Herera; Nasution, Erie Kolya; Muchsinin, Achmmad
BioEksakta : Jurnal Ilmiah Biologi Unsoed Vol 2 No 2 (2020): BioEksakta
Publisher : Fakultas Biologi Universitas Jenderal Soedirman

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20884/1.bioe.2020.2.2.1737

Abstract

Taman Margasatwa Ragunan adalah kebun binatang pertama yang didirikan di Indonesia tahun 1864 dengan nama Planten En Dierentuin. Pengunjung yang datang ke kandang Gajah Sumatra, kemungkinan akan memberikan dampak bagi aktivitas harian Gajah Sumatra. Berdasarkan penelitian studi pengaruh pengunjung terhadap keberadaan Gajah Sumatra di Pusat Pendidikan Konservasi Alam Bodogol pada tahun 2003 menunjukkan bahwa respon Gajah Sumatra ketika berjumpa dengan pengunjung bersuara ataupun tidak bersuara, sebesar 85% berlari. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui pengaruh pengunjung terhadap aktivitas harian Gajah Sumatra (Elephas maximus sumatranus) di Taman Margasatwa Ragunan. Penelitian aktivitas harian dilakukan selama satu bulan. Metode yang digunakan adalah survei. Pengambilan data dilakukan dengan Teknik Ad libitium sampling dan Focal animal sampling. Parameter yang diamati meliputi pengaruh pengunjung terhadap aktivitas harian, yaitu gerak berpindah, makan, istirahat, dan sosial seperti agonistic, grooming, kopulasi, bersuara, bermain (playing), duduk berdekatan (huddle) dan kasih sayang (affection). Pengamatan aktivitas harian Gajah Sumatra dilakukan dengan interval waktu 15 menit, dimulai pukul 08.00 sampai dengan pukul 16.00 WIB di Taman Margasatwa Ragunan. Data aktivitas harian di analisis dalam bentuk prosentase dan data pengaruh pengunjung dianalisis dengan uji Mann-Whitney. Hasil penelitian menunjukkan bahwa frehuensi aktivitas harian gajah Sumatera tertinggi adalah makan yang dilakukan betina dewasa dan jantan dewasa. Aktivitas lain yang dilakukan jantan dewasa dan betina dewasa selain makan yaitu pergerakan, sementara anakan jantan dan betina menghabiskan waktu bermain bersama induknya. Aktivitas harian gajah Sumatera tidak terdapat perbedaan dan pengunjung Taman Margasatwa Ragunan tidak berpengaruh terhadap aktivitas harian gajah Sumatera. Kata kunci: Taman Margatsatwa Ragunan, akktivitas harian, Gajah Sumatra, pengunjung
Karakterisasi Isolat Khamir Gf1 Terhadap Kondisi Asam Saluran Pencernaan Unggas Ainillah, Awwaluz Zahroh Mahya; Ekowati, Nuraeni; Suryani, Ade Erma
BioEksakta : Jurnal Ilmiah Biologi Unsoed Vol 2 No 1 (2020): BioEksakta
Publisher : Fakultas Biologi Universitas Jenderal Soedirman

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20884/1.bioe.2020.2.1.1745

Abstract

Probiotik merupakan mikroorganisme yang dapat memperbaiki mikroekologi usus yang berdampak positif terhadap kesehatan inang. Kandidat probiotik merupakan mikroorganisme yang memiliki potensi sebagai probiotik, seperti menghasilkan enzim fitase sehingga mampu mengoptimalkan kondisi saluran pencernaan. Salah satu mikroorganisme sebagai kandidat probiotik adalah khamir penghasil enzim fitase. Khamir penghasil fitase telah diisolasi oleh BPTBA-LIPI Yogyakarta asal makanan fermentasi tradisional Indonesia yaitu gathot.Pengujian khamir fitase sebagai kandidat probiotik dilakukan dengan menstimulasikan kondisi saluran pencernaan seperti kondisi asam yaitu pada pH rendah dan kondisi asam lambung. Kondisi pH yang rendah dan asam lambungmerupakan suatu penghalang masuknya mikroorganisme ke saluran gastrointestinal, oleh karena itu pengujian terhadap asam dilakukan untuk mengetahui karakteristik mikroorganisme yang akan digunakan sebagai kandidat probiotik. Pengujian dilakukan secara invitro dengan menguji ketahanan khamir pada kondisi asam dengan nilai pH 2 dan 3 serta kondisi asam lambung dengan menggunakan pepsin 0,3%. Hasil penelitian menunjukkan bahwa isolat khamir GF1 asal makanan tradisional fermentasi mampu tahan terhadap kondisi asam karena mampu mempertahankan viabilitasnya pada pH 3 dan kondisi asam lambung.
Diversity and Evenness of Medicinal Plants in Bantarbolang Nature Reserve Block 19-21, Pemalang, Central Java Muhyi, Mufadila Day; Yani, Edy; Widodo, Pudji
BioEksakta : Jurnal Ilmiah Biologi Unsoed Vol 2 No 1 (2020): BioEksakta
Publisher : Fakultas Biologi Universitas Jenderal Soedirman

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20884/1.bioe.2020.2.1.1752

Abstract

This study was conducted in Bantarbolang Nature Reserve located in Kebon Gede village, Bantarbolang sub-district, Pemalang Regency. Bantarbolang is one of the nature reserves that have the structure and composition of complex vegetation so that there is a diversity of plants which can grow in a conservation area, such as medicinal plants diversity. The objectives of this study were to know the various species of medicinal plants in the Bantarbolang nature reserve block 19-21 and to know the evenness of medicinal plants in the Bantarbolang nature reserve block 19-21. This study was conducted with survey methods and sampling using a systematic square plot. The variables observed consists of dependent variables i.e. the species of medicinal plant and independent variables include environmental factors i.e. temperature, light intensity, humidity, canopy cover, and soil pH. The parameters observed are the number of species and individual number of medicinal plants. The data were analyzed using the Important Value Index (IVI), Diversity Index (H'), Evenness Index (e) and Similarity Index (IS). The plant samples were made into voucher herbarium and stored in PUNS for future references. The results of the study showed that the diversity of medicinal plants in the Bantarbolang Nature Reserve Block 19-21 was high (H’≥0) with 48 species from the 33 families of medicinal plants. Evenness of medicinal plants in Bantarbolang nature reserve block 19-21 is low (e closer to 0). Alocasia cucullata is a dominant species of medicinal plant of a distance of 0-200 meters from the forest edge. Keywords: Bantarbolang nature reserve, diversity, medicinal plant
KEKERABATAN MOLEKULER DARI KULTIVAR BUNGA MATAHARI TEDDY BEAR, SKYSCRAPER, LEOM QUEEN DAN BUNGA MATAHARI MENGGUNAKAN MARKA RAPD Tanudharma, Gabriella Ashari; Sasongko, Nurtjahjo Dwi; Yuniaty, Alice
BioEksakta : Jurnal Ilmiah Biologi Unsoed Vol 2 No 1 (2020): BioEksakta
Publisher : Fakultas Biologi Universitas Jenderal Soedirman

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20884/1.bioe.2020.2.1.1762

Abstract

Helianthus or sunflower is a genus of plant comprising about 70 species. Common sunflower and other members of Helianthae are cultivated in temperate regions and some tropical regions as food crops for humans, cattle, poultry, and as ornamental plants. The common sunflower is valuable with respect of economic and ornamental point of view. There are many cultivars of sunflower including teddy bear, skyscraper, and lemon queen. Variation among these cultivars has been studied using molecular techniques and the result were used to develop the phylogeny among them. Random Amplified Polymorphic DNA (RAPD) is one of molecular techniques that were used for this purpose. The purpose of this study was to contruct the phylogeny of three sunflower cultivars and common sunflower based on RAPD markers. The RAPD primers used in this study were OPA-2, OPA-9, OPA-13, OPB-2, OPB-4, OPB5, OPB-7, and OPB-11. Data analysis based on molecular data showed that genetic relationship among Lemon Queen, Skyscraper, Teddy Bear and Common sunflower based on RAPD markers shows that the cultivars studied are grouped into three main groups, namely: Group I Lemon Queen and Skyscraper, Group II Teddy Bear, and Group III Common sunflower; the closest kinship is shown between Lemon Queen and Skyscraper.
Keanekaragaman Semut (Hymenoptera: Formicidae) di Kawasan Cagar Alam Bantarbolang Pemalang Jawa Tengah Rhodiyah, Annisa Fadwa; Darsono, Darsono; Riwidiharso, Edy
BioEksakta : Jurnal Ilmiah Biologi Unsoed Vol 2 No 1 (2020): BioEksakta
Publisher : Fakultas Biologi Universitas Jenderal Soedirman

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20884/1.bioe.2020.2.1.1764

Abstract

Cagar Alam Bantarbolang, Pemalang, Jawa Tengah memiliki keanekaragaman yang tinggi baik itu flora maupun faunanya Salah satu indikator kestabilan ekosistem yang baik di suatu ekosistem hutan yaitu adanya keanekaragaman semut. Semut berperan penting dalam ekosistem terestrial sebagai predator, herbivor, detrivor, dan granivor. Semakin tinggi keanekaragaman semut, semakin tinggipula tingkat kesehatan hutan tersebut.Tujuan dari penelitian ini adalah mengetahui keanekaragaman, kemerataan, dan dominansi spesies semutdi Cagar Alam Bantarbolang, Pemalang, Jawa Tengah. Penelitian ini menggunakan metode survey dengan teknik pengambilan sampel perangkap jebak (pitfall trap) denganukuranplot1 m x 1 m sebanyak 8 plot. Pada masing-masing plotdibuat 4 subplot untuk pemasangan pitfall trap yang berisi air gula.Semut diambil dari gelas plastik yang berukuran diameter 7,5 cm dan tinggi 10,5 cm yang ditanam setengah dari tinggi gelas plastik dari permukaan tanah, dipasang setiap minggu selama satu bulan kemudian didokumentasikan dan dilakukan identifikasi. Data yang didapat dianalisis menggunakan indeks keanekaragaman Shannon-Wiener dan Indeks dominansi. Hasil penelitian menunjukan bahwa ditemukan 982 individu yang berasal dari 1 familia yang terbagi menjadi 4 subfamilia. Adapun tingkat keanekaragaman semut dari ordo Hymenoptera dan familia Formicidae yang ada diCagar Alam Bantarbolang, Pemalang, Jawa Tengah menunjukkan nilai indeks keragaman Shannon (H’) berkisar antara 1,394 - 1,855, indeks kemerataan Evenness (E) berkisar antara 0,448 - 0,7101, sedangkan dominasi Simpson (D) yaitu sebesar 0,6363 - 0,8125.
Toksisitas Subletal Limbah Cair Batik Hasil Biosorpsi Terhadap Struktur Histologis Ginjal Ikan Mas (Cyprinus carpio) Sani, Khalil Ibrahim; Lestari, Sri; Atang, Atang
BioEksakta : Jurnal Ilmiah Biologi Unsoed Vol 2 No 1 (2020): BioEksakta
Publisher : Fakultas Biologi Universitas Jenderal Soedirman

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20884/1.bioe.2020.2.1.1769

Abstract

Histopathological studies related to the kidney of fish exposed to batik wastewater resulted from the biosorption process are necessary because the kidney is an target organ that plays an important role in maintaining water balance and osmoregulation. This research aims to determine the effect of batik wastewater resulted from the biosorption process exposure on kidney histology of Carp (Cyprinus carpio) and determine the concentration that has the most effect on it. The treatment consists of K0 (control) and three treatments of batik wastewater resulted from the biosorption process with different concentration from 25 %, 50 %, and 75 % LC50 96h, ie K1 1,32; K2 2,64, and K3 3,96 % v.v-1. The carp were exposed to batik wastewater resulted from the biosorption process for 7 days, and on the 8th day the fish was dissected, and the kidney was taken for histology process. The result of the research shows that exposure to batik wastewater resulted from the biosorption process with different concentrations give negative impact on the carp kidney such as tubular hypertrophy, tubular necrosis, and glomerular necrosis.