cover
Contact Name
Muhammad Shidiq
Contact Email
shidiqmuhammad17393@gmail.com
Phone
+6281222979930
Journal Mail Official
jurnalatrat@gmail.com
Editorial Address
Jalan Buah Batu No.212, Cijagra, Kec. Lengkong, Kota Bandung, Jawa Barat, kode pos: 40265
Location
Kota bandung,
Jawa barat
INDONESIA
Atrat: Jurnal Seni Rupa
ISSN : 23391642     EISSN : 27227200     DOI : http://dx.doi.org/10.26742
Atrat is a Journal of Visual Arts containing scientific papers which includes Fine Art and Design, publisher by Jurusan Seni Rupa STSI Bandung (p-ISSN 2339-1642 & e-issn 2722-7200). Jurnal Atrat also embodies the results of various forms of scientific research as well as the creation of artworks, which can become new knowledge published in scientific articles, so it is worthy to be read and understood by readers. Atrat aims to give land to Artists, Designers, Art Students, Teachers/ Lecturers, and Fine Arts Society to exchange insights.
Articles 389 Documents
MAKNA SIMBOL VISUAL PIYAMA DALAM FILM "THE BOY WITH THE STRIPPED PAJAMAS" Prasanti, Ditha; Indriani, Sri Seti
ATRAT: Jurnal Seni Rupa Vol 4, No 3 (2016): KEARIFAN LOKAL DALAM TRANSFORMASI VISUAL
Publisher : Jurusan Seni Rupa STSI Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Film is an audiovisual tool that departs from visual mass communication. Movies can also influence attitudes, behavior, and expectations of the people who watch it in all over the world. 'The boy with the striped pajamas' is a sad film that tells how pride oneself on one’s own race could be a deadly boomerang. The film recalls what happened to the Jews in the second world war in Germany under the rule of 'the Führer' Adolf Hitler. This study intends to look at the meaning of pajamas as visual symbols in the film relating to racism. The study used qualitative approach and semiotic analysis method of Roland Barthes. The semiotic method is employed to analyze the phenomenon in terms of signs and meanings. The results of this study indicate that the meaning of signs and markers in the movie The Boy with the Stripped Pajamas can be studied from the meaning of denotation, connotation, and myth. Denotation meaning of Pajamas as visual symbols in the film is the emphasized clothes symbol because they are always worn by the child. Connotation meaning of pajamas as visual symbols in this film is not limited to clothes, but rather a symbol of racism arising from the difference between the two tribes. Myth meaning of pajamas as visual symbols in this film is being barred in a prison, the child who wears this is considered a criminal who has no freedom and must be punished.Keywords: Meanings, symbols, Pajamas, Semiotics, Film________________________________________________________________ Film merupakan sebuah alat audiovisual yang bergerak dari komunikasi massa visual. Film juga dapat  mempengaruhi sikap, perilaku, dan harapan orang-orang yang menontonnya di belahan dunia. Film ‘The boy with the stripped pajamas’ adalah film yang sangat memilukan, diceritakan bagaimana ‘kebanggaan’ terhadap ras sendiri bisa menjadi bumerang tajam yang mematikan. Film ini mengangkat kembali apa yang terjadi dengan kaum yahudi pada perang dunia kedua di Jerman di bawah kekuasaan ‘the Furrer’ Adoilf Hitler. Penelitian ini bermaksud untuk melihat makna simbol visual Piyama dari film tersebut yang berkaitan dengan rasisme. Pendekatan penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah pendekatan kualitatif dengan metode semiotika analisis Roland Barthes. Metode semiotika ini menganalisis fenomena dari segi tanda dan makna. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa  makna tanda dan penanda dalam film The Boy with the Stripped Pajamas dapat dikaji dari makna denotasi, makna konotasi, dan makna mitos. Makna denotasi dari simbol visual Piyama dalam film ini adalah simbol pakaian yang selalu ditonjolkan karena digunakan oleh anak tersebut. Makna konotasi dari simbol visual Piyama dalam film ini adalah tidak sebatas pakaian, melainkan sebuah simbol rasisme yang dimunculkan dari perbedaan kedua suku yang ada. Makna mitos dari simbol visual Piyama dalam film ini adalah terkurung dalam penjara, anak yang memakainya dianggap penjahat, tidak memiliki kebebasan, dan harus dihukum.Kata Kunci: Makna, Simbol, Piyama, Semiotika, Film
MORFOLOGI VISUAL DALAM KESENIAN BADOGAR SANGGAR GENTRA SAWARGI KABUPATEN GARUT Rahayu, Suci; Sujana, Anis; Ramli, Zaenudin
ATRAT: Jurnal Seni Rupa Vol 8, No 1 (2020): REPRESENTASI, PARTISIPASI, DAN GERAKAN SENI
Publisher : Jurusan Seni Rupa STSI Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Badogar is an acronym for Barong Domba Garut (Barong of Garut Sheep). It is a new art in Garut Regency resulted from creativities of its creators, namely Cecep Surachman and artists of Sanggar Gentra Sawargi. This study aims to describe the visual morphology in the art of Badogar that underwent changes in visual forms of the sheep’s head and the barong’s head. The approaches used in the study were aesthetic morphology and synchronous history. Results of the study focusing on visual morphology in Badogar art by Cecep Surachman and Sanggar Gentra Sawargi artists show two visual form structures of the Sheep’s head and the Barong’s head. Visual morphology in Badogar art is said to have gone through modification of forms in which its newly-created forms do not change the characterization of its original forms. Basically, the modification of these forms took place without any rules or standards so that changes and evelopment could be done according to the wishes of its creator and its artists.Keywords: Morphology, Visual, Badogar Art________________________________________________________________ Kesenian Badogar merupakan singkatan dari Barong Domba Garut. Kesenian Badogar merupakan kesenian baru di Kabupaten Garut yang merupakan hasil pemikiran kreator penciptanya yaitu Cecep Surachman dan seniman Sanggar Gentra Sawargi. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan morfologi visual dalam kesenian Badogar yang mengalami perubahan bentuk visual pada Kepala Domba dan Kepala Barong. Pendekatan penelitian yang dilakukan adalah pendekatan morfologi estetik dan sejarah sinkronik. Hasil penelitian terhadap morfologi visual dalam kesenian Badogar karya Cecep Surachman dan seniman Sanggar Gentra Sawargi ini menunjukkan dua struktur bentuk visual Kepala Domba dan Kepala Barong. Morfologi visual dalam kesenian Badogar dikatakan mengalami modifikasi bentuk dimana bentuknya diciptakan terjadi tidak merubah perwatakan bentuk asal. Pada dasarnya modifikasi bentuk ini terjadi tanpa adanya pakem atau aturan, menjadikan perubahan dan untuk pengembangan dilakukan kebebasam sesuai keinginan pencipta dan senimannya sendiri.Kata Kunci: Morfologi, Visual, Kesenian Badogar
BENTUK GERABAH KARAT DALAM KONTEKS TRADISI GERABAH PLERED Winata, Gita
ATRAT: Jurnal Seni Rupa Vol 3, No 3 (2015): DIALEKTIKA RUPA DALAM KEBUDAYAAN KONTEMPORER
Publisher : Jurusan Seni Rupa STSI Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Gerabah Karat (Rusty pottery) is one type of pottery in Plered pottery tradition that has a rust of a metal surface character which gives ancient or antiques impression. The phenomenon of this form indicates a new symptom in the Plered pottery tradition, especially in the ideas related with the material and production process. This research tries to identify the characteristic of rusty pottery form, factors that influence the material usage and production processes, also the connection with Plered pottery tradition. In terms of these purposes, this research uses aesthetical approaches to analyze the visual, technical approaches to analyze the making process and the material, and cultural approach to see the relation within the context of Plered pottery tradition. The result of this analysis shows, with several new kind of materials and different techniques could gives rusty pottery a new unique characteristic in forms, colors, textures, structures, contours and proportions. The achievement of characteristic in rusty pottery form is a result of material exploration and technical experiment in making process. Rusty pottery is an effort to enrich Plered pottery products that stays oriented to the knowledge of pottery making heritage in Plered. Rusty pottery shows an active participation in Plered pottery tradition and gives a positive result in developing personal characteristic and also the economics of people in Plered.Keywords: Forms, Material, Production, Rusty Pottery, Tradition___________________________________________________________________Gerabah karat merupakan salah satu jenis gerabah dalam tradisi gerabah Plered yang memiliki karakteristik permukaan yang menyerupai karat logam yang menimbulkan kesan kuno atau antik. Fenomena bentuk ini menunjukkan adanya gejala yang baru dalam tradisi gerabah Plered secara umum terutama dari segi gagasan yang berkaitan dengan material dan proses produksi. Penelitian ini berupaya untuk mengidentifikasi karakteristik bentuk gerabah karat, faktor-faktor terkait material dan proses produksi, serta bagaimana hubungannya dengan tradisi gerabah Plered. Dalam kerangka tujuan tersebut penelitian ini menggunakan pendekatan estetik untuk menganalisis visual, pendekatan teknis untuk menganalisa material dan proses produksinya, dan pendekatan budaya untuk melihat hubungan secara umum dalam konteks tradisi gerabah Plered. Dari hasil analisis menunjukkan bahwa secara umum gerabah karat memiliki karakteristik bentuk yang khas pada jenis, warna, tekstur, struktur, kontur, dan proporsi, dengan menggunakan beberapa material dan teknik baru dalam proses produksinya. Pencapaian karakteristik bentuk tersebut diperoleh dari hasil eksplorasi material dan eksperimentasi teknik dalam proses produksinya. Bentuk gerabah karat merupakan upaya pengembangan ragam jenis produk gerabah Plered dengan tetap berorientasi pada pengetahuan dari pewarisan tradisi pembuatan gerabah Plered sebelumnya. Gerabah karat menunjukkan partisipasi aktif dalam tradisi gerabah Plered, yang berdampak positif dalam pengembangan karakter personal dan perekonomian masyarakat pengrajin gerabah Plered pada umumnya.Kata Kunci: Bentuk, Material, Produksi, Gerabah Karat, Tradisi
ASPEK ESTETIKA-EKONOMI SEBAGAI PENDORONG PERKEMBANGAN LUKISAN DI DESA JELEKONG KABUPATEN BANDUNG Cahyana, Agus
ATRAT: Jurnal Seni Rupa Vol 1, No 3 (2013): REPRESENTASI POTENSI DAN ESTETIKA SENI RUPA
Publisher : Jurusan Seni Rupa STSI Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Jelekong Village in Bandung Regency is a center of painting industry that produces works in accordance with customers’ needs. This is because paintings are not regarded as medium of painters’ personal expressions. Instead, paintings are valued as craftwork produced to meet market demands. Based on the identification of paintings that have been developed in Jelekong, Jelekong paintings can be classified into nine major themes and five major techniques. By using aesthetics-economy approach which bases on efficiency, competitiveness and price factors, it can be identified that themes of nature, environment and animal are the most desired themes that they are highly produced to meet the customers demands. The influence of aesthetic-economy factor has encouraged Jelekong painters to promote painting material so easily and inexpensively produced that the paintings can be sold with economy price. In terms of technique, Jelekong painters develop easy and efficient methods that can increase the quantity of paintings produced to meet the market demands widely.Keywords: Efficient, Competitiveness, Aesthetics, Economy________________________________________________________________ Desa Jelekong yang terletak di kabupaten Bandung merupakan salah satu sentra lukisan yang mampu menghasilkan karya yang sesuai dengan minat konsumen. Hal ini disebabkan karena lukisan tidak ditujukan untuk kepentingan ekspresi personal pelukis, tetapi lukisan dianggap sebagai barang kerajinan yang diproduksi untuk memenuhi kebutuhan pasar. Berdasarkan identifikasi pada karya lukis yang berkembang di Jelekong, maka lukisan Jelekong dapat diklasifikasikan berdasarkan tema menjadi sembilan tema utama dan lima teknik utama. Melalui Pendekatan estetik ekonomi yang berdasarkan pada faktor efisiensi, daya saing, dan harga, maka dapat diidentifikasikan bahwa tema pemandangan alam, suasana dan hewan merupakan tema yang memiliki daya saing paling tinggi sehingga paling banyak diproduksi untuk memenuhi permintaan konsumen. Pengaruh faktor estetik ekonomi terhadap lukisan Jelekong mendorong para pelukis untuk mengembangkan material lukis yang mudah dan murah untuk diproduksi, sehingga lukisan yang dihasilkan dapat dijual dengan harga yang ekonomis. Sedangkan dari segi teknik dikembangkan metode melukis yang mudah dan efisien sehingga dapat mendorong peningkatan produksi lukisan yang pada akhirnya dapat memenuhi permintaan konsumen secara lebih luas.Kata Kunci: Efisien, Daya Saing, Estetika, Ekonomi
SIRKULASI, DISPLAY, PENCAHAYAAN DALAM UPAYA TERCAPAI KESELARASAN Rachmat, Gerry
ATRAT: Jurnal Seni Rupa Vol 1, No 2 (2013): JERAT TRADISI DALAM KONTEMPORER
Publisher : Jurusan Seni Rupa STSI Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

General nature and is easily seen in most types of physical britle or ceramic is fragile , it can be seen on traditional types such as ceramic tableware, cups, jugs, pottery and so on, try to drop the plates are made of ceramic compared with plates of metals, ceramics certainly fragile, although this trait does not apply to certain types of ceramics, especially the type of ceramic sintering results , and the mix between the ceramic to metal sintering. Other properties is high temperature resistant, for example, traditional ceramics consisting of clay, flint and feldfar temperature resistant up to 1200 C, engineering ceramics such as ceramic oxides can stand temperatures up to 2000 C. High compressive strength, this trait is one factor that makes research on ceramics continues to grow. Of the nature of these ceramics can we identify that as a commodity item that close to the world of art and nature is fragile, it would require special handling in the placement, organizing/ pengelompkkan display layout to fit the dimensions , weight and shape are also aesthetic. Not only there, the support of the layout includes floor, wall, ceiling (the ceiling) and the light will be very supportive in order to bring up the atmosphere/ ambience desired.Keyword: Circulation, Display, Lighting, Harmony________________________________________________________________Sifat yang umum dan mudah dilihat secara fisik pada kebanyakan jenis keramik adalah britle atau rapuh, hal ini dapat kita lihat pada keramik jenis tradisional seperti barang pecah belah, gelas, kendi, gerabah dan sebagainya, coba jatuhkan piring yang terbuat dari keramik bandingkan dengan piring dari logam, pasti keramik mudah pecah, walaupun sifat ini tidak berlaku pada jenis keramik tertentu, terutama jenis keramik hasil sintering, dan campuran sintering antara keramik dengan logam. Sifat lainya adalah tahan suhu tinggi, sebagai contoh keramik tradisional yang terdiri dari clay, flint dan feldfar tahan sampai dengan suhu 1200 C, keramik engineering seperti keramik oksida mampu tahan sampai dengan suhu 2000 C. Kekuatan tekan tinggi, sifat ini merupakan salah satu faktor yang membuat penelitian tentang keramik terus berkembang. Dari sifat keramik tersebut dapat kita identifikasi bahwa sebagai barang komoditi yang dekat sekali dengan dunia seni serta sifatnya yang rapuh, maka diperlukan penanganan khusus dalam penempatan, pengorganisasian/ pengelompkkan letak pajang agar sesuai dengan dimensi, berat serta bentuk juga estetika. Tidak hanya sampai disitu, dukungan dari tata ruang yang meliputi lantai, dinding, plafon (langit-langit) serta cahaya akan sangat mendukung guna memunculkan atmosphere/suasana yang diinginkan. Keywords: Sirkulasi, Display, Pencahayaan, Keselarasan
PRODUK TRADISIONAL SUNDA SEBAGAI ELEMEN DEKORATIF PADA DESAIN INTERIOR Savitri, Savitri; Sriwardani, Nani
ATRAT: Jurnal Seni Rupa Vol 6, No 2 (2018): REFLEKSI TRADISI DALAM ESTETIKA RUPA
Publisher : Jurusan Seni Rupa STSI Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

The era advancement encourages the invention of new material that is more durable and practical to be used. This may cause the traditional equipments previously used to cook, farm, play, etc. to disappear. One of the attempts to promote traditional products so that people would still love to use them is by giving new functions to them. They can be used as decorative elements through modification. Yet, in doing so, the primary material and salient shapes are maintained. Viewed from aesthetic aspect, the natural material contained in traditional products can be additional value if the products are used as decorative elements in a room with contemporary interior design. The decorative elements using traditional Sundanese products can be easily found in commercial properties with Sundanese or West Java concept, such as hotels, restaurants, gift shops and resorts in Bandung. Literature study and survey on present traditional Sundanese designs would be done. Survey was conducted on properties with contemporary Sundanese interiors. The study is expected to show the existing traditional Sundanese products and their potencies to be modified as decorative elements in interiors.Keywords: Sundanese Traditional Equipment, Decorative Element, Interior Design___________________________________________________________________ Kemajuan jaman mengakibatkan berkembangnya material baru yang lebih tahan lama dan praktis untuk digunakan. Hal ini mengakibatkan tergesernya perangkat tradisional sebagai perangkat keseharian untuk memasak, bertani, bermain dan lain sebagainya. Salah satu upaya untuk mengangkat kembali produk tradisional agar tetap dapat digunakan adalah dengan cara memberikan fungsi baru sebagai elemen dekoratif dengan tetap mempertahankan material dan bentuk utamanya. Material alami yang ada pada produk tradisional secara estetika dapat menjadi nilai tambah apabila perabot tersebut dimanfaatkan sebegai elemen dekoratif pada ruangan dengan konsep interior kontemporer. Elemen dekoratif dengan menggunakan produk tradisional Sunda sudah dapat kita temukan di bangunan-bangunan komersial bertemakan Sunda atau Jawa Barat, seperti hotel, restoran, toko souvenir dan resort di kota Bandung. Proses penelitian ini meliputi studi literatur dan survey pada rancangan yang sudah ada mengenai elemen dekoratif interior bertemakan tradisional sunda. Survey dilakukan pada bangunan dengan rancangan desain interior kontemporer sunda. Hasil penelitian ini diharapkan akan memberikan masukan data mengenai produk tradisonal yang memiliki potensi untuk menjadi elemen dekoratif interior.Kata Kunci: Perabot Tradisional Sunda, Elemen Dekoratif, Desain Interior
PENERAPAN TEKNIK ENGINEERED PRINTING PADA BUSANA DEMI COUTURE Mandagi, Mohamad Otto Ridwan; Nursasari, Faradillah
ATRAT: Jurnal Seni Rupa Vol 7, No 1 (2019): IDENTITAS BUDAYA VISUAL: APRESIASI DAN EKSPLORASI
Publisher : Jurusan Seni Rupa STSI Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Technology of garment production has developed significantly. Today, designers are able to process clothing pattern digitally to make production process easier. Digital pattern making can be used to produce clothing with engineered printing. Engineered printing is a surface pattern design, which directly applies motif on the clothing pattern, so that when the printed fabric is sewn, its motif will be connected, and look seamless. It is potential to be applied on demi couture because high accuracy is required in using this technique (Bowles, 2012). The study is aimed to serve as a reference of engineered printing technique application for academics or designers who want to carry out an experiment with this technique. It uses qualitative method and data are collected through literature review, observation and experiment. The results of this study are three pieces of demi couture for women with engineered printing.Keywords: Engineered Printing, Clothing, Demi Couture________________________________________________________________ Perkembangan teknologi produksi busana saat sudah sangat berkembang. Desainer sudah dapat memproses pola secara digital untuk mempermudah proses produksi. Dalam pengaplikaiannya pembuatan pola secara digital dapat digunakan untuk menciptakan busana dengan aplikasi engineered printing. Aplikasi engineered printing adalah aplikasi imbuh printing motif dimana motif yang digunakan diaplikasikan secara langsung ke dalam pola busana, sehingga ketika hasil print yang berupa pola dijahit, motif yang dihasilkan akan tersambung dan terlihat seamless. Aplikasi engineered print memiliki potensi untuk diaplikasikan pada busana demi couture karena tingkat ketelitian tinggi yang diperlukan untuk mengaplikaikan teknik ini. Kajian ini dibuat dengan tujuan untuk memberi referensi aplikasi teknik engineered printing untuk kalangan akademis dan desainer yang ingin mencoba atau bereksperimen dengan teknik ini. Metode yang digunakan adalah metode kualitatif dengan mengandalkan data literatur, data hasil observasi, dan data eksperimen. Hasill dari eksperimen berupa 3 busana demi couture untuk wanita dengan aplikasi engineered print.Kata Kunci: Engineered Printing, Busana, Demi Couture
PENGAPLIKASIAN AKSARA BALI PADA MATERIAL DENIM SEBAGAI PRODUK FESYEN Rahman, Nanda Nataya; Hendrawan, Aldi
ATRAT: Jurnal Seni Rupa Vol 5, No 3 (2017): EKSPLORASI RAGAM HIAS DAN BUSANA KONTEMPORER
Publisher : Jurusan Seni Rupa STSI Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Bali alphabet is gradually rarely used nowadays. Though Latin alphabet is more familiar and dominantly used in Indonesia, it did not originally belong to Nusantara society. Before it became so popular in Indonesia, Nusantara people used local ancient alphabet in writing. This went on for centuries. Therefore, it is necessary to reintroduce Bali alphabet to the young generation, so that they can recognize and use it to mantain the existence of Bali alphabet.The method used to reintroduce the Bali alphabet is applying it to fashion products. Since the application of Bali alphabet in fashion products is hardly developed, applying Bali alphabet in fashion products, especially bags, is potential. In order to be accepted by the present-day young generation, it needs to be combined with some material that is popular in current generation of youth. The material that suits the criteria is denim because it gives youthful impression to people who wear it, which in this case is the young generation. The technique used in processing denim material is bleaching technique because it retains the potency of denim itself.Keywords: Bali Alphabet, Young Generation, Denim, Bleaching___________________________________________________________________Aksara Bali sedikit demi sedikit mulai minim digunakan saat ini.   Meskipun aksara Latin lebih dikenal dan dominan digunakan di tanah air, aksara latin bukanlah aksara milik masyarakat Nusantara. Sebelum aksara latin menjadi begitu popular di Indonesia, masyarakat Nusantara terbiasa mengggunakan aksara kuno setempat dalam menulis. Hal ini berlangsung selama berabad-abad.  Oleh karena itu, perlu adanya pengenalan kembali aksara Bali agar generasi muda Bali  kembali mengenal dan menggunakannya sehingga eksistensinya tetap terjaga. Metode yang dilakukan untuk mengenalkan kembali aksara Bali yaitu dengan mengaplikasikannya pada produk fashion. Karena penerapannya pada bidang fashion sampai saat ini masih minim dikembangkan, maka terdapat potensi untuk mengaplikasikan Aksara Bali pada produk fashion, khususnya tas. Agar dapat diterima oleh generasi muda saat ini, dibutuhkan kombinasi dengan suatu  material yang masih menjadi material trend di generasi muda saat ini. Media yang sesuai dengan kriteria tersebut  adalah material denim karena denim merupakan material trend yang memberikan kesan jiwa muda bagi pemakainya, yang dalam hal ini adalah  kalangan generasi muda. Teknik yang digunakan dalam mengolah material denim adalah teknik bleaching karena teknik ini mempertahankan potensi yang dimiliki material denim itu sendiri.Kata Kunci: Aksara Bali, Generasi Muda, Denim, Bleaching
PENGOLAHAN SERAT KENAF MENGGUNAKAN TEKNIK MAKRAME UNTUK PRODUK FESYEN Handayani, Fitri; Puspitasari, Citra
ATRAT: Jurnal Seni Rupa Vol 7, No 2 (2019): POTENSI TRADISI DALAM BUDAYA KONTEMPORER
Publisher : Jurusan Seni Rupa STSI Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

The study focuses on developing raw material processing of kenaf fiber intended for macramé techniques which  was not recommended by a previous research because the rope was not so strong for the macramé technique that it tended to break when being knotted. It uses qualitative method through literature studies, observations and interviews related to the processing of kenaf fibers and types of knots in  macramé , The knots were applied through experiments using the  structural technique of  macramé with kenaf fiber material. The experiment has succeeded in producing strong kenaf fiber materials with a slightly filamentous texture. Thus, it can unleash the potential to develop raw material processing of kenaf fiber intended for macramé techniques that are applied to fashion products, such as bags inspired by the combination of the characteristics of kenaf fiber and woven motifs in Indonesia.Keywords: Kenaf, Fiber, Textile, Makrame, Fashion Products________________________________________________________________ Mengangkat potensi mengembangkan pengolahan bahan baku serat kenaf dengan teknik makrame yang  kurang direkomendasikan oleh penelitian sebelumnya dikarenakan tali yang digunakan untuk teknik makrame tidak terlalu kuat sehingga lebih mudah terputus ketika proses menyimpul. Penelitian ini dilakukan dengan metode kualitatif yaitu dengan melakukan studi pustaka, observasi dan wawancara mengenai proses pengolahan serat kenaf serta jenis-jenis ikatan pada teknik makrame, kemudian diterapkan melalui eksperimen dengan menggunakan teknik rekarakit yaitu teknik makrame dengan material serat kenaf. Hasil dari eskplorasi ini mampu menghasilkan material serat kenaf yang kuat, dan menghasilkan tekstur sedikit berserabut. Maka dengan demikian, hal tersebut dapat membuka potensi untuk mengembangkan pengolahan bahan baku serat kenaf untuk teknik makrame yang diaplikasikan ke produk fesyen yaitu tas yang terinspirasi dari perpaduan hasil karakteristik serat kenaf dan motif anyaman di Indonesia. Kata Kunci: Kenaf, Serat, Tekstil, Makrame, Produk Fesyen
PERANCANGAN GAUN PESTA BAHAN LIMBAH KARUNG PLASTIK DENGAN APLIKASI MOTIF BATIK MEGAMENDUNG Midawati, Midawati; Winarno, Ari; Marlianti, Mira
ATRAT: Jurnal Seni Rupa Vol 5, No 1 (2017): EKSPLORASI SENI DALAM PANGGUNG DAN RUPA
Publisher : Jurusan Seni Rupa STSI Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Design party gown waste materials sacks plastic with application a batik megamendung is an effort environment preservation and cultural integrated in a party gown. The benefit of the idea that the minimize waste sacks plastic difficult to decompose and reappointed a batik megamendung in a new look. And open new perseps that party gown not always have to use fancy material and expensive. As for levels that is 1. The design process among others making sketch design, master design, hanger design, hanger material, until real work 2. The production process among others clean waste, makes pattern gown, cut materials, sewing, and apply a batik megamendung of sequin in gown. The fashion show employed to deliver messages on the public especially woman and is expected to be an inspiration and motivation to achieve the environmental concervation efforts and Indonesian culture. Keyword: Party Gown, Waste Sacks Plastic, Motive, Batik, Megamendung________________________________________________________________ Perancangan  gaun pesta bahan limbah karung plastik dengan aplikasi motif batik megamendung merupakan upaya pelestarian lingkungan dan budaya yang dipadukan dalam sebuah gaun pesta. Manfaat dari gagasan tersebut yaitu meminimalisir limbah karung pastik yang sulit terurai dan mengangkat kembali motif batik megamendung dalam tampilan baru. Serta membuka persepsi baru bahwa gaun pesta tidak selalu harus menggunakan bahan mewah dan mahal. Adapun tahapannya yaitu 1) proses desain antara lain membuat sketsa desain, master desain, hanger desain, hanger material, hingga karya nyata; 2) Proses produksi antara lain membersihkan limbah, membuat pola gaun, memotong bahan, menjahit, dan mengaplikasikan motif batik mega mendung dari payet pada gaun. Fashion show digunakan untuk menyampaikan pesan pada masyarakat umum khususnya wanita dewasa dan diharapkan menjadi inspirasi sekaligus motivasi dalam mewujudkan upaya pelestarian lingkungan dan budaya Indonesia.Kata Kunci: Gaun Pesta, Limbah Karung Plastik, Motif, Batik, Mega Mendung

Page 9 of 39 | Total Record : 389


Filter by Year

2013 2025


Filter By Issues
All Issue Vol 13 No 1 (2025): INOVASI DAN KREATIVITAS DALAM KARYA DESAIN Vol 12 No 2 (2024): KREATIVITAS DAN INOVASI SENI VISUAL DALAM KARYA DESAIN Vol 12 No 1 (2024): TRADISI KARYA RUPA DESAIN Vol 12, No 1 (2024): TRADISI KARYA RUPA DESAIN Vol 11, No 3 (2023): KARYA RUPA DALAM BINGKAI TRADISI DAN BUDAYA Vol 11 No 3 (2023): KARYA RUPA DALAM BINGKAI TRADISI DAN BUDAYA Vol 11 No 2 (2023): KARAKTERISTIK RUPA DALAM TRADISI DAN BUDAYA Vol 11, No 2 (2023): KARAKTERISTIK RUPA DALAM TRADISI DAN BUDAYA Vol 11, No 1 (2023): INOVASI DAN APLIKASI PADA KARYA VISUAL Vol 11 No 1 (2023): INOVASI DAN APLIKASI PADA KARYA VISUAL Vol 10 No 3 (2022): EKSISTENSI SENI DAN BUDAYA DALAM INTERPRETASI VISUAL Vol 10, No 3 (2022): EKSISTENSI SENI DAN BUDAYA DALAM INTERPRETASI VISUAL Vol 10 No 2 (2022): ESTETIKA DALAM MAKNA, MEDIA, DAN TEKNIK VISUAL Vol 10, No 2 (2022): ESTETIKA DALAM MAKNA, MEDIA, DAN TEKNIK VISUAL Vol 10, No 1 (2022): TEKNIK DAN TEKNOLOGI MEDIA KARYA VISUAL Vol 10 No 1 (2022): MEDIA PENERAPAN KARYA RUPA DALAM TEKNIK DAN TEKNOLOGI Vol 9, No 3 (2021): EKSPLORASI DAN IMPLEMENTASI POTENSI RUPA Vol 9 No 3 (2021): EKSPLORASI DAN IMPLEMENTASI POTENSI RUPA Vol 9, No 2 (2021): VISUAL ARTISTIK DALAM TEKNIK DAN POLA RUPA Vol 9, No 1 (2021): KARYA RUPA DALAM PERSPEKTIF MAKNA, FUNGSI, DAN IMPLEMENTASI Vol 8, No 3 (2020): MOTIF, MAKNA, DAN MEDIA DALAM TEKNIK KARYA RUPA Vol 8, No 2 (2020): ANALISIS MAKNA KARYA VISUAL DALAM SENI PUBLIK Vol 8, No 1 (2020): REPRESENTASI, PARTISIPASI, DAN GERAKAN SENI Vol 7, No 3 (2019): IMPLEMENTASI IDENTITAS BUDAYA LOKAL Vol 7, No 2 (2019): POTENSI TRADISI DALAM BUDAYA KONTEMPORER Vol 7, No 1 (2019): IDENTITAS BUDAYA VISUAL: APRESIASI DAN EKSPLORASI Vol 6, No 3 (2018): IMPLEMENTASI MEDIA DAN TEKNIK DALAM KARYA RUPA Vol 6, No 2 (2018): REFLEKSI TRADISI DALAM ESTETIKA RUPA Vol 6, No 1 (2018): APLIKASI, STRATEGI, DAN ORIENTASI SENI DALAM RUPA, MEDIA, DAN WACANA Vol 5, No 3 (2017): EKSPLORASI RAGAM HIAS DAN BUSANA KONTEMPORER Vol 5, No 1 (2017): EKSPLORASI SENI DALAM PANGGUNG DAN RUPA Vol 4, No 3 (2016): KEARIFAN LOKAL DALAM TRANSFORMASI VISUAL Vol 3, No 3 (2015): DIALEKTIKA RUPA DALAM KEBUDAYAAN KONTEMPORER Vol 3, No 1 (2015): REALITAS TRADISI DALAM PERSEPSI VISUAL Vol 1, No 3 (2013): REPRESENTASI POTENSI DAN ESTETIKA SENI RUPA Vol 1, No 2 (2013): JERAT TRADISI DALAM KONTEMPORER Vol 1, No 1 (2013): MEDIA DALAM BUDAYA RUPA More Issue