cover
Contact Name
Made Gautama Jayadiningrat
Contact Email
jurnaladatdanbudayaindonesia@gmail.com
Phone
+6287762961886
Journal Mail Official
jurnaladatdanbudayaindonesia@gmail.com
Editorial Address
Jl. Udayana Kampus Tengah Singaraja, Bali, Indonesia 81116
Location
Kota denpasar,
Bali
INDONESIA
Jurnal Adat dan Budaya Indonesia
ISSN : 26156113     EISSN : 26156156     DOI : http://dx.doi.org/10.23887/jabi.v1i1
Jurnal ini memuat hasil penelitian dan pemikiran tentang adat istiadat dan budaya. Jurnal ini bertujuan untuk mewadahi artikel-artikel hasil penelitian dan hasil pengabdian kepada masyarakat dibidang adat dan kajian budaya.
Articles 145 Documents
Budaya Carok Dalam Perspektif Lanskap Alam Pulau Madura: Sebuah Pendekatan Ekologi Sejarah Razy, Mohammad Refi Omar Ar; Faruk, Umar
Jurnal Adat dan Budaya Indonesia Vol. 6 No. 2 (2024)
Publisher : Universitas Pendidikan Ganesha

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23887/jabi.v6i2.75810

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis lanskap alam pulau Madura yang menjadi latar belakang lahirnya budaya Carok. Carok adalah budaya di Madura yang melibatkan pembunuhan satu sama lain dengan menggunakan senjata tajam, dan dipandang sebagai cara untuk menegakkan kehormatan dan harga diri. Penelitian-penelitian sebelumnya melihat carok sebagai manifestasi dari kekejaman dalam masyarakat Madura yang dipengaruhi oleh berbagai faktor seperti kondisi sosial-ekonomi, agama, dan pendidikan. Namun, penelitian ini berargumen bahwa budaya carok sangat dipengaruhi oleh lanskap alam Madura yang gersang. Minimnya sumber daya alam di pulau ini telah menyebabkan kesulitan hidup yang pada gilirannya memunculkan budaya yang keras. Untuk mendukung argumen ini, kami menganalisis mengenai kondisi lanskap alam di pulau Madura, signifikansi carok sebagai budaya Madura, dan perkembangan tradisi carok. Secara keseluruhan, penelitian ini menunjukkan bahwa lingkungan alam yang menantang memainkan peran penting dalam membentuk budaya carok di Madura.
Narasi Religiositas, Spiritualitas, dan Proses Kreatif Wawan Susetya sebagai Pegiat Sastra dan Kebudayaan Jawa Faizun, Mochammad; Rohmah, Nurul Baiti; Rejo, Uman
Jurnal Adat dan Budaya Indonesia Vol. 6 No. 2 (2024)
Publisher : Universitas Pendidikan Ganesha

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23887/jabi.v6i2.75951

Abstract

Wawan Susetya merupakan pegiat sastra Jawa dan kebudayaan Jawa yang hingga saat ini masih produktif berkarya. Penelitian ini bertujuan untuk mengungkap dan mendeskripsikan narasi religiositas, spiritualitas, dan proses kreatif Wawan Susetya. Wawan Susetya dijadikan sebagai sasaran kajian karena sampai sekarang masih aktif dan produktif menelurkan karya-karya fiksi dan nonfiksi berbagai genre yang mengangkat kejawaaan dan keislaman. Metode yang digunakan dalam penelitian adalah metode kombinasi atau mixed method dengan menggunakan kacamata teoretis sebagai perspektif overaching, yakni kajian psikologi kearifan lokal dalam konteks kebudayaan Jawa dan biografi yang di dalamnya ada data kualitatif dan kuantitatif. Hasil dan bahasan menunjukkan sebagai berikut. Pertama, dari segi religiositas, Wawan Susetya menganut agama Islam yang yakin adanya Tuhan dan berusaha mengamalkan ritual agama, serta mengamalkan ajaran agama dalam kehidupan bermasyarakat. Kedua, dari segi spiritualitas, Wawan Susetya memiliki spirit yang berasal dari diri sendiri dan dari luar dirinya. Spirit yang berasal dari diri sendiri merupakan spirit utama dalammenghasilkan karya-karya, karena spirit tersebut sebagai titik tolak dari kerja keras dan usaha untuk menciptakan setiap karya sastra. Adapun spirit yang berasal dari luar mayoritas didayakan sebagai pembangun ide-ide dan gagasan dalam menulis karya sastra. Ketiga, dari segi proses kreatif, Wawan Susetya dipengaruhi oleh kepribadian pegiat sastra ditambah dengan pengetahuan dan pengalaman hidupnya. Dalam menulis karya, diawali dengan merenung untuk menentukan tema. Selanjutnya mencari referensi, menulis, merevisi atau melakukan review (pembacaan ulang) dengan teliti jangan sampai ada salah ketik, apalagi salah dalampembahasan buku tersebut. Tahap terakhir adalah mengirim ke media massa untuk diterbitkan dan dapat dibaca masyarakat luas.
Makna Adat Sulang-Sulang Hariapan pada Masyarakat Batak Toba Pardosi, Novia Marissa Valerina; Dinda, Adinda Nabila; Br. Nainggolan, Intan; Saragih, Yati Virma; Siallagan, Lasenna; Simanjuntak, Siska Monika
Jurnal Adat dan Budaya Indonesia Vol. 6 No. 2 (2024)
Publisher : Universitas Pendidikan Ganesha

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23887/jabi.v6i2.78726

Abstract

Tujuan dari penelitian ini melihat nilai teologis pada ritual sulang-sulang hariapan sehingga saat ini masyarakat Batak Toba bisa menjaga adat sulang-sulang hariapan. Metodologi yang digunakan adalah penelitian kualitatif dengan metode penelitian data. Informasi yang diperoleh dari data terkait nama tersebut kemudian dijadikan landasan berpikir dengan menggunakan teknik analisis isi. Penulis kemudianmelakukan penelitian teologis untuk menemukan nilai teologis. Data riset ini  dikumpulkan melalui wawancara. Penulis melakukan wawancara publik tanpa batasan narasumber menyampaikan pemahaman masyarakat tentang adat Sulang-sulang Hariapan. Hasil penelitian yang penulis lakukan kepada tokoh- tokoh adat serta parhata dalam melakukan adat Sulang-sulang Hariapan serta hubungan pemaknaan terhadap Titah Ke-lima dalam agama. Artikel ini dapat menyimpulkan bahwa setiap adat istiadat pasti mempunyai nilai-nilai yang sangat penting yaitu berbakti dan menghormati orangtua. Hal ini terlihat dari pelaksanaan ritual adat Batak yang dilakukan oleh semua anak dan keluarga besar untuk orang tuanya, meskipun proses membutuhkan waktu yang lama dan biaya yang tidak sedikit serta merupakan cara yang baik untuk merawatnya. Hal ini merupakan bukti dedikasi dan rasa hormat masyarakat Batak Toba khususnya di Porsea terhadap orang tua.
Fenomena Pencarian Objek Diduga Cagar Budaya Sebagai Konten Youtube Suwindiatrini, Komang Ayu; Nayati, Widya
Jurnal Adat dan Budaya Indonesia Vol. 6 No. 2 (2024)
Publisher : Universitas Pendidikan Ganesha

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23887/jabi.v6i2.78744

Abstract

Pencarian Objek Diduga Cagar Budaya (ODCB) semakin sering dilakukan oleh masyarakat dengan memanfaatkan perkembangan digital dan teknologi lalu diunggah ke Youtube. Menggunakan alat metal detector dan magnet fishing, para kreator konten melakukan pencarian benda-benda purbakala. Fenomena ini cukup diminati oleh kalangan tertentu tapi kondisi ini bertentangan dengan yang diamanatkan dalam peraturan. Masalah dalam tulisan ini difokuskan pada alasan dibalik pencarian ODCB sebagai konten Youtubelalu dicari penyelesaian yang tepat untuk mengatasi fenomena ini. Tulisan ini bertujuan untuk mengajak masyarakat dan juga pemerintah untuk menyadari fenomena ini. Metode yang dipakai yaitu kualitatif dengan pendekatan etnografi, yang berusaha mempelajari yang terjadi di masyarakat sekaligus belajar dari masyarakat. Kesimpulan yang diperoleh yaitu ada faktor ekonomi yang mendorong maraknya pencarian ODCB dan aktivitas tersebut diunggah ke media sosial juga untuk mendapatkan penghasilan lainnya.Yang terpenting juga dirumuskan strategi untuk mengatasi fenomena yang terjadi.
Memaknai Pemikiran Masyarakat Adat Kasepuhan Ciptagelar Melalui Program Acara CIGA TV Supiarza, Hery; Tjahjodiningrat, Harry
Jurnal Adat dan Budaya Indonesia Vol. 6 No. 2 (2024)
Publisher : Universitas Pendidikan Ganesha

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23887/jabi.v6i2.78965

Abstract

Ciptagelar merupakan kampung adat yang sangat terbuka dengan kemajuan teknologi, tapi tetap arif dan patuh dalam mempertahankan ajaran-ajaran leluhur, terdapat puluhan kampung adat di Indonesia, hanya Ciptagelar yang memiliki program televisi yang memuat program acara dari masyarakat dan untuk masyarakatnya. Program acara dengan tagline tayangan informasi keseharian atau dokumentasi sadidinten merupakan praktik media komunikasi yang menarik untuk dikaji secara komprehensif dengan tujuan untuk mendalami sejauh mana pesan leluhur tersebut berdampak pada masyarakat adat kasepuhan Ciptagelar. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan analisis konten. Seluruh data akan diperoleh melalui dokumentasi kemudian dilakukan pengklasisfikasian dan kodefikasi dari konten yang didapatkan melalui berbagai macam sumber elektronik. Penelitian ini pada prinsipnya telah mendapatkan data awal melalui tayangan program CIGA TV di platform media sosial yakni Youtube dan Instagram. Kemudian untuk mendapatkan data yang terkomfirmasi diperlukan data utama berbentuk wawancara langsung dengan masyarakat dan pengelola CIGA TV di wilayah adat kasepuhan Ciptagelar, melalui data yang komprehensif,penelitian ini mendapatkan temuan bahwa CIGA TV merupakan media komunikasi untuk mempererat silaturahmi warga kasepuhan melalui tayangan berbasis request (pesanan) acara. Warga dapat memesan acara yang diinginkan untuk melihat orang tua, teman atau sosok penting dalam mengobati kerinduan yang terdokumentasikan pada setiap kegiatan di masa lalu. akan menjadi khasanah baru bagi dunia penyiaran televisi di Indonesia. Selain itu penelitian ini akan berdampak pada kalangan akademik, khususnya programstudi film dan televisi yang ada diseantero Indonesia.
Tradisi Memeakhon Batu Ojahan dalam Membangun Rumah Masyarakat Etnis Batak Toba di Humbang Hasundutan Hutasoit , Friska Yani Natalia; Panggabean, Natasya Poronika; Nahampun, Debiyanti; Siallagan , Lasenna; Febriana , Ika
Jurnal Adat dan Budaya Indonesia Vol. 6 No. 2 (2024)
Publisher : Universitas Pendidikan Ganesha

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23887/jabi.v6i2.79393

Abstract

Tradisi Memeakhon Batu Ojahan merupakan ritual sakral dalam masyarakat Batak Toba di Humbang Hasundutan yang melekat pada proses pembangunan rumah. Penelitian ini bertujuan untuk mengungkap makna mendalam dari tradisi tersebut, meliputi tahapan pelaksanaan, larangan, serta nilai-nilai filosofis, spiritual, dan sosial yang terkandung di dalamnya. Melalui pendekatan kualitatif, penelitian ini melibatkan observasi, wawancara, dan studi dokumentasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Tradisi Memeakhon Batu Ojahan bukan sekadar upacara peletakan batu pertama, tetapi merupakan simbol penciptaan, keberlanjutan, dan keseimbangan kehidupan. Ritual ini melibatkan doa, persembahan sesaji, dan partisipasi komunitas, yang melambangkan hubungan manusia dengan leluhur, alam, dan Tuhan. Nilai-nilai yang terkandung di dalamnya meliputi penghormatan terhadap tradisi, pentingnya keluarga dan komunitas, serta keharmonisan dengan alam. Tradisi ini tidak hanya memperkuat identitas budaya Batak Toba, tetapi juga berfungsi sebagai sarana untuk menjaga nilai-nilai luhur dan memperkuat ikatan sosial
Deviasi Peran To'o sebagai Negosiator dalam Ruang Negosiasi Penentuan Belis Budaya Rote - Nusa Tenggara Timur Pellokila, Cynoura Marveline Paula; Sailana, Khatrin Wandelmud; Tampake, Toni Robert Christian; Kristinawati, Wahyuni
Jurnal Adat dan Budaya Indonesia Vol. 6 No. 2 (2024)
Publisher : Universitas Pendidikan Ganesha

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23887/jabi.v6i2.82249

Abstract

Artikel ini bertujuan mengargumentasikan dinamika dalam penentuan belis dalam budaya Rote, khusunya peran to’o (panggilan untuk kakak laki-laki dari ibu) sebagai negosiator dalam penentuan belis (mahar) dalam budaya Rote. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode penelitian kualitatif, melalui teknik pengambilan data wawancara dan data sekunder. Melalui perspektif negosiator, penelitian ini menemukan bahwa dengan peran to’o yang cukup besar dalam ruang negosiasi, tidak jarang ditemukan adanya deviasi perilaku yang menyebabkan konflik ketika penentuan belis. Meskipun ditemukan dalam beberapa acara adat banyak juga to’o yang menjalankan perannya dengan baik, karena adanya perkembangan jaman, ekonomi dan beberapa kondisi dalam beberapa prosesi adat ditemukan penyimpangan perilaku yang tidak sesuai dengan peran to’o yang semestinya. Keluarga laki-laki maupun perempuan yang akan melaksanakan pernikahan tentu akan melewati lika-liku seperti ini dalam proses adat. Hal ini tentunya yang membuat relasi antar kedua pihak mengalami perselisihan. Berangkat dari hasil penelitian, permasalahan yang diteliti adalah deviasi peran to’o sebagai negosiator dalam ruang negosiasi penentuan belis budaya Rote terjadi karena adanya tuntutan kebutuhan, penyalahgunaan peran hingga salah dalam memaknai peran mereka. Kembali memaknai belis dan peran dalam keluargalah yang kemudian hadir menjadi resolusi konflik dalam proses penetapan belis dalam Budaya Rote.
Menggali Eskalasi Pemaknaan Secara Eksistensial terhadap Topo “Tanda Keperkasaan Laki-Laki Numba” Boko, Irenius Pita Raja; Boe, Maria Roswita; Vianey, Watu Yohanes
Jurnal Adat dan Budaya Indonesia Vol. 6 No. 2 (2024)
Publisher : Universitas Pendidikan Ganesha

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23887/jabi.v6i2.83663

Abstract

Manusia adalah objek sekaligus subjek kebudayaan. Sebagai objek, manusia hidup dan mewujudkan kebudayaan. Sebagai subjek, manusia menciptakan kebudayaan untuk kelangsungan hidupnya. Melalui kebudayaan, benda-benda alami diubah menjadi benda-benda budaya. Ketika menjadi benda budaya, akan terjadi peningkatan makna pada benda-benda budaya tersebut. Problemnya, pengaruh globalisasi menjadikan benda-benda budaya tidak dimaknai secara lebih itensif dan sesuai dengan substansinya. Oleh karena itu, peningkatan makna dari semua kebudayaan memiliki niat positif bagi manusia. Dengan menggunakan metode kualitatif yang dibantu oleh teori difusi budaya, artikel ini ingin mengkaji benda-benda budaya, khususnya Topo, yang telah mengalami peningkatan makna dalam kehidupan masyarakat Numba. Topo dalam kebudayaan masyarakat Numba tidak hanya digunakan sebagai alat berkebun dan kegiatan lainnya. Sebaliknya, Topo dimaknai sebagai tanda kekuatan pria Numba.
Nilai Religius dalam Tarian Bedhaya Tunggal Jiwa Sufiana, Shoumul Lail; Ismaya, Erik Aditia; Fardani, Much Arsyad
Jurnal Adat dan Budaya Indonesia Vol. 6 No. 2 (2024)
Publisher : Universitas Pendidikan Ganesha

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23887/jabi.v6i2.83833

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui nilai religius dalam tarian Bedhaya Tunggal Jiwa yang diselenggarakan di Pendopo Kabupaten Demak. Karakter ini terbentuk melalui nilai-nilai budaya yang secara turun temurun diwariskan melalui tradisi. Tradisi yang ada di Indonesia, khususnya di Pulau Jawa yang harus dijaga dan dilestarikan supaya tidak hilang dan tergeser akibat perkembangan budaya negara lain adalah Tradisi Grebeg Besar Demak. Grebeg Besar Demak merupakan bentuk pelestarian budaya dengan ikut serta meramaikan dan mengikuti rangkaian acara dalam tradisi Grebeg Besar. Tradisi Grebeg Besar merupakan perwujudan rasa syukur terhadap perjuangan para wali yang telah berjasa menyebarkan agama Islam di Demak terutama Sunan Kalijaga. Berdaarkan hasil dari penelitian ini dapat disimpulkan bahwa tarian Bedhaya Tunggal Jiwa yang mempunyai arti Manunggaling kawula Gusti yaitu semua yang diciptakan dan hidup akan kembali kepada Tuhan Yang Maha Esa. Terciptanya tari Bedhaya Tunggal Jiwa dengan tema keagamaan terdapat pembelajaran Islami yang mempunyai arti untuk senantiasa mengingatkan manusia agar selalu berbuat baik kepada masyarakat agar terjalin silaturahmi dengan baik. Dalam penelitian ini menggunakan metode penelitian kualitatif dengan pendekatan fenomenologi. Penelitian ini akan dilaksanakan di Kecamatan Demak Kabupaten Demak dengan subjek tokoh penari tarian Bedhaya Tunggal Jiwa, penanggung jawab tarian Bedhaya Tunggal Jiwa dan Dinas Pariwisata. Dalam penelitian ini menggunakan teknik pengumpulan data yang meliputi tahap observasi, wawancara, dokumentasi, dan pencatatan.
Kedudukan Perempuan Mabalu dalam Budaya Batak Toba Simanjuntak, Firman Matias; Manullang, Thria Damayanti; Situmorang, Yuni Yolanda; Sitorus, Rut Yemima; Siallagan, Lasenna
Jurnal Adat dan Budaya Indonesia Vol. 6 No. 2 (2024)
Publisher : Universitas Pendidikan Ganesha

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23887/jabi.v6i2.84211

Abstract

Bagi perempuan mabalu, kematian suami seringkali dikaitkan dengan keterasingan mereka dari budaya Batak Toba. Namun, tentu saja hal tersebut bertentangan dengan konsep budaya Batak Toba. Adapun tujuan penelitian ini ialah untuk mengemukakan fenomena ideasional dan tingkah laku kebudayaan mengenai kedudukan perempuan mabalu dalam budaya Batak Toba. Kedudukan yang dimaksud adalah hak dan kewajiban perempuan dalam pelaksanaan adat dan budaya yang diperoleh pasca menjadi janda (mabalu). Penelitian ini dilakukan di Porsea dan Medan dengan menggunakan metode kualitatif untuk memperoleh data melalui observasi, wawancara, dan dokumentasi. Temuan penelitian mencakup esensi perempuan mabalu yang hanya didasarkan pada ketiadaan suami bagi mereka. Ada beberapa hal yang menjadi alasan perempuan mabalu tidak dapat ditiadakan dalam pelaksanaan adat Batak Toba, yaitu (1) keberadaan anak, (2) posisi suami dalam adat yang melekat pada istri, (3) pentingnya perempuan, dan (4) perempuan sebagai boru ni raja yang berharga. Oleh karena itu, perempuan mabalu tetap mempunyai peran, hak, dan kewajiban yang setara dengan kedudukannya dalam acara adat Batak Toba.

Page 11 of 15 | Total Record : 145