cover
Contact Name
Jerry Fred Salamena
Contact Email
agrinimal@gmail.com
Phone
+6285243549419
Journal Mail Official
agrinimal@gmail.com
Editorial Address
Jl. Ir. M. Putuhena, Kampus Poka, Ambon 97233
Location
Kota ambon,
Maluku
INDONESIA
Agrinimal Jurnal Ilmu Ternak dan Tanaman
Published by Universitas Pattimura
ISSN : 20883609     EISSN : 27232697     DOI : https://doi.org/10.30598/ajitt
Agrinimal journal accommodates articles / scientific works which has not been published yet. Fields of journal cover both aspects of animal sciences and agriculture sciences: animal feed and nutrition, feed science and technology, feed additive technology, ; animal reproduction and physiology, genetics, animal production; animal behaviour, welfare, livestock farming system; socio-economic and policy; and animal products science and technology.
Articles 121 Documents
KUALITAS FISIK DENDENG KAMBING YANG DITAMBAHKAN TEPUNG MAGGOT BLACK SOLDIER FLY DENGAN KONSENTRASI BERBEDA Putri, Teya Prasetyo; Utama, Dicky Tri; Hidayati, Yuli Astuti; Marlina, Eulis Tanti
Agrinimal Jurnal Ilmu Ternak dan Tanaman Vol 13 No 2 (2025): Agrinimal Jurnal Ilmu Ternak dan Tanaman
Publisher : Jurusan Peternakan Fakultas Pertanian Universitas Pattimura

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30598/ajitt.2025.13.2.78-87

Abstract

Daging kambing dapat diolah menjadi dendeng untuk memberikan variasi pada dendeng yang dijual di pasaran. Dendeng juga ditambahkan dengan tepung maggot black soldier fly (BSF) sebagai pendekatan dalam mengenalkan serangga sebagai sumber protein berkelanjutan di masa depan. Maggot BSF memiliki kemampuan untuk mematikan bakteri patogen dan virus dari pakan yang dikonsumsi sehingga cenderung lebih aman dari serangga lain, serta kaya akan kitin dan peptida antimikroba yang bagus untuk kesehatan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh penambahan tepung maggot BSF terhadap kualitas fisik dendeng giling daging kambing yang meliputi rendemen, pH, keempukan, dan warna. Metode penelitian yang digunakan adalah rancangan acak lengkap yang terdiri dari 4 perlakuan (0%, 5%, 10%, 15%) dengan 5 kali pengulangan. Data dianalisis menggunakan analisis sidik ragam dan dilanjutkan dengan Duncan’s Multiple Range Test. Hasilnya, penambahan tepung maggot BSF tidak berpengaruh signifikan terhadap rendemen dan keempukan, tetapi berpengaruh signifikan terhadap pH dan warna. Perlakuan terbaik terdapat pada penambahan sebanyak 5% dengan karakteristik dendeng yang dihasilkan yaitu rendemen sebanyak 85,17 %, pH 5,92, keempukan 20,90 N, L* (kecerahan) 38,86, a* (kemerahan) 4,42, b* (kekuningan) 15,02, chromaticity 15,66, dan hue angle 1,28°. ABSTRACT Goat meat can be processed into jerky to provide variation to the jerky sold in the market. Jerky is also added with black soldier fly (BSF) maggot flour as an approach to introducing insects as a sustainable protein source in the future. BSF maggots have the ability to kill pathogenic bacteria and viruses from the feed consumed, so that they tend to be safer than other insects, and are rich in chitin and antimicrobial peptides, which are good for health. This study aims to determine the effect of adding BSF maggot flour on the physical quality of ground goat meat jerky, including yield, pH, tenderness, and color. The research method used was a completely randomized design consisting of 4 treatments (0%, 5%, 10%, 15%) with 5 repetitions. Data were analyzed using analysis of variance and continued with Duncan's Multiple Range Test. The results showed that the addition of BSF maggot flour did not have a significant effect on yield and tenderness, but had a significant effect on pH and color. The best treatment was found in the addition of 5% with the characteristics of the resulting jerky, namely a yield of 85.17%, pH 5.92, tenderness 20.90 N, L* (brightness) 38.86, a* (redness) 4.42, b* (yellowness) 15.02, chromaticity 15.66, and hue angle 1.28°.
RENDEMEN DAN SKRINING FITOKIMIA EKSTRAK KULIT MANGGIS MENGGUNAKAN METODE EKSTRAKSI DAN PELARUT BERBEDA SEBAGAI ALTERNATIF SUPLEMEN PAKAN UNGGAS Walid, Rifan Afrian Nur; Kusmayadi, Andri; Frasiska, Nurul; Mardianingrum, Richa
Agrinimal Jurnal Ilmu Ternak dan Tanaman Vol 13 No 1 (2025): Agrinimal Jurnal Ilmu Ternak dan Tanaman
Publisher : Jurusan Peternakan Fakultas Pertanian Universitas Pattimura

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30598/ajitt.2025.13.1.50-56

Abstract

Kulit buah manggis (Garcinia mangostana L.) telah diketahui mengandung banyak senyawa yang memiliki aktivitas antioksidan dan antibakteri. Kulit buah manggis dalam proses ekstraksi dilakukan dengan metode ekstraksi dan pelarut yang beragam. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh metode ekstraksi menggunakan pelarut berbeda terhadap rendemen dan skrining fitokimia ekstrak kulit buah manggis yang ditunjukan sebagai suplemen pakan ternak unggas. Metode penelitian ini yaitu eksperimental dengan Rancangan Acak Lengkap (RAL) pola faktorial 3x2. Faktor pertama adalah pelarut (faktor A) A1 = etanol 96%, A2 = etil asetat, A3 = n-heksan. Faktor kedua adalah metode (faktor B) B1 = metode maserasi dan B2 = metode sokletasi yang menghasilkan 6 perlakuan. Parameter yang diamati adalah persentase rendemen dan skrining fitokimia ekstrak kulit manggis. Hasil dari penelitian ini yaitu persentase rendemen menunjukkan hasil yang berbeda sangat nyata (P<0,01). Adapun pada pengujian skrining fitokimia menunjukkan adanya kandungan tannin, polifenol, dan triterpenoid. Kesimpulan dari penelitian ini yaitu metode maserasi dengan pelarut etanol 96% menunjukkan persentase rendemen yang terbaik. Hasil dari penelitian ini dapat bermanfaat sebagai antioksidan alami bagi ternak khususnya unggas. ABSTRACT Mangosteen peel (Garcinia mangostana L.) has been known to contain many compounds that have antioxidant and antibacterial activity. Mangosteen peel in the extraction process is carried out with various extraction methods and solvents. This study aims to determine the effect of extraction methods using different solvents on the yield and phytochemical screening of mangosteen peel extract which is indicated as a poultry feed supplement. This research method is experimental with a Completely Randomized Design (CRD) factorial pattern 3x2. The first factor is the solvent (factor A) A1 = 96% ethanol, A2 = ethyl acetate, A3 = n-hexane. The second factor is the method (factor B) B1 = maceration method and B2 = soxhletation method which produces 6 treatments. The parameters observed are the percentage of yield and phytochemical screening of mangosteen peel extract. The results of this study, namely the percentage of yield showed very significant results (P<0.01). The phytochemical screening test showed the presence of tannin, polyphenols, and triterpenoids. The conclusion of this study is that the maceration method with 96% ethanol solvent shows the best yield percentage. The results of this study can be useful as a natural antioxidant for livestock, especially poultry.
KUALITAS FISIK LIMBAH TAUGE KACANG HIJAU YANG DIFERMENTASI EFFECTIVE MICROORGANISM-4 DENGAN LEVEL BERBEDA Fajari, Widi Mahdar; Ardigurnita, Firgian; Kusmayadi, Andri
Agrinimal Jurnal Ilmu Ternak dan Tanaman Vol 13 No 1 (2025): Agrinimal Jurnal Ilmu Ternak dan Tanaman
Publisher : Jurusan Peternakan Fakultas Pertanian Universitas Pattimura

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30598/ajitt.2025.13.1.65-71

Abstract

Pemanfaatan limbah tauge kacang hijau baik digunakan sebagai bahan pakan alternatif untuk ternak, namun karena mengandung serat kasar cukup tinggi dan daya simpan tidak dapat bertahan lama maka proses fermentasi perlu dilakukan untuk mengawetkan dan memperbaiki nilai nutrisi bahan pakan sehingga dapat dimanfaatkan di masa yang akan datang. Tujuan penelitian untuk mengetahui pengaruh effective microorganism-4 (EM-4) sebagai starter pada fermentasi limbah tauge kacang hijau dan mengetahui level optimal EM-4 pada proses fermentasi terhadap kualitas fisik (warna, aroma, tekstur dan pH) limbah tauge kacang hijau. Penelitian menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL) dengan 4 perlakuan yaitu P0 = Limbah Tauge + 0 ml EM-4 + 0 ml molases, P1 = Limbah Tauge + 2 ml EM-4 + 2 ml molases, P2 = Limbah Tauge + 4 ml EM-4 + 4 ml molases, dan P3 = Limbah Tauge + 6 ml EM-4 + 6 ml molases dan masing-masing perlakuan memiliki 5 ulangan. Hasil penelitian menunjukkan penambahan EM-4 pada fermentasi limbah tauge kacang hijau berpengaruh nyata (P<0,05) terhadap kualitas fisik aroma, tekstur dan pH. Level pemberian EM-4 sebesar 6 ml (P3) menghasilkan fermentasi optimal terhadap kualitas fisik warna (2,95), aroma (3,75), tekstur (2,35) dan pH (6,52). ABSTRACT Mung bean sprout waste is good for use as an alternative feed for livestock. Still, because it contains quite high crude fiber and the shelf life cannot last long, the fermentation process needs to be carried out to preserve and improve the nutritional value of the feed material so that it can be used in the future. The purpose of the study was to determine the effect of effective microorganism-4 (EM-4) as a starter in the fermentation of mung bean sprout waste and to determine the optimal level of EM-4 in the fermentation process on the physical quality (color, aroma, texture, and pH) of mung bean sprout waste. The study used a Completely Randomized Design (CRD) with four treatments, namely P0 = Bean Sprouts Waste + 0 ml EM-4 + 0 ml molasses, P1 = Bean Sprouts Waste + 2 ml EM-4 + 2 ml molasses, P2 = Bean Sprouts Waste + 4 ml EM-4 + 4 ml molasses, and P3 = Bean Sprouts Waste + 6 ml EM-4 + 6 ml molasses and each treatment had 5 replications. The study results showed that the addition of EM-4 to the fermentation of mung bean waste had a significant effect (P<0.05) on the physical quality of aroma, texture, and pH. The level of EM-4 administration of 6 ml (P3) resulted in optimal fermentation on the physical quality of color (2.95), aroma (3.75), texture (2.35), and pH (6.52).
KOLESTEROL DAN ASAM LEMAK OMEGA-3 BAKSO DAGING SAPI YANG DISUBSTITUSI DAGING IKAN TUNA Tiven, Nafly Comilo; Simanjorang, Tienni Mariana
Agrinimal Jurnal Ilmu Ternak dan Tanaman Vol 13 No 1 (2025): Agrinimal Jurnal Ilmu Ternak dan Tanaman
Publisher : Jurusan Peternakan Fakultas Pertanian Universitas Pattimura

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30598/ajitt.2025.13.1.72-77

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh substitusi daging sapi dengan daging ikan tuna terhadap kadar kolesterol dan asam lemak omega-3 bakso. Sebanyak 1.000 g adonan bakso dibuat dengan komposisi 600 g daging sapi, 200 g tepung tapioka, 160 g es batu, 20 g garam halus, 12 g bawang putih, 5 g lada halus, dan 3 g putih telur. Daging sapi disubstitusi dengan daging ikan tuna, dengan perlakuan 0%, 15%, dan 30%. Seluruh bahan digiling halus membentuk adonan, kemudian dibentuk pentolan (± 2 cm), direbus dalam air mendidih sampai matang, Parameters yang diuji, yaitu kadar kolesterol dan kandungan asam lemak omega-3 bakso. Data yang diperoleh dianalisis ragam menggunakan rancangan acak lengkap. Perbedaan antar perlakuan diuji lanjut menggunakan uji Duncan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa substitusi daging sapi dengan daging ikan tuna menurunkan (P<0,01) kadar kolesterol dan meningkatkan (P<0,01) total asam lemak omega-3 bakso. Bakso dengan kadar kolesterol terendah, tetapi mempunyai total asam lema omega-3 tertinggi ada pada bakso yang disubstitusi dengan 30% daging ikan tuna. Dapat disimpulkan bahwa makin tinggi level daging ikan tuna yang digunakan untuk mensubstitusi daging sapi, dapat menurunkan kadar kolesterol, tetapi meningkatkan kadar total asam lemak omega-3 bakso daging sapi. Level terbaik daging ikan tuna untuk mensubstitusi daging sapi adalah 30%. ABSTRACT This study aims to determine the effect of substitution of beef with tuna meat on cholesterol and omega-3 fatty acid of meatballs. A total of 1,000 g of meatball dough is made with a composition of 600 g beef, 200 g tapioca flour, 160 g ice cubes, 20 g fine salt, 12 g garlic, 5 g fine pepper, and 3 g egg whites. Beef was substituted with tuna meat, with treatments 0%, 15%, and 30%. All ingredients are finely ground to form a dough, then formed a meatball (± 2 cm), boiled in boiling water until cooked. The parameters tested, namely cholesterol levels and omega-3 fatty acid content of meatballs. The data obtained were analyzed using a complete random design. The differences between treatments were further tested using the Duncan test. The results showed that the substitution of beef with 40% tuna meat and tapioca flour with purslane flour with different levels, decreasing (P<0.01) cholesterol levels and increasing (P<0.01) total omega-3 fatty acids of meatballs. The meatballs with the lowest cholesterol, but the highest total omega-3 are meatballs with substituted by 30% tuna meat. It can be concluded that the higher the level of tuna meat used to substitute beef, can decrease cholesterol content, but increase the total level of omega-3 fatty acids in beef meatballs. The best level of tuna meat to substitute beef is 30%.
KONTRIBUSI USAHA TERNAK SAPI PERAH DAN PENGARUH FAKTOR SOSIAL EKONOMI TERHADAP KETAHANAN PANGAN RUMAH TANGGA PETERNAK (STUDI KASUS DI TPK CIBEDUG KPSBU LEMBANG, KABUPATEN BANDUNG BARAT) Izza, Nadira Nurul; Herlina, Linda; Firmansyah, Cecep
Agrinimal Jurnal Ilmu Ternak dan Tanaman Vol 13 No 1 (2025): Agrinimal Jurnal Ilmu Ternak dan Tanaman
Publisher : Jurusan Peternakan Fakultas Pertanian Universitas Pattimura

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30598/ajitt.2025.13.1.40-49

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kondisi ketahanan pangan rumah tangga peternak, kontribusi pendapatan usahaternak sapi perah terhadap belanja pangan serta faktor sosial ekonomi yang mempengaruhi ketahanan pangan rumah tangga peternak di TPK Cibedug KPSBU Lembang. Daerah sampel ditentukan secara purposive dan sampel 60 peternak ditentukan secara proposional alocation sampling. Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif dengan analisis data berupa persentase kontribusi pendapatan usahaternak sapi perah terhadap belanja pangan rumah tangga peternak dan analisis regresi logistik ordinal. Hasil penelitian menunjukkan rumah tangga peternak di TPK Cibedug berada dalam kategori “tahan pangan”. Pendapatan dari usahaternak sapi perah berkontribusi sebesar 194,47% terhadap belanja pangan rumah tangga, artinya pendapatan dari usaha ternak sapi perah tidak hanya mampu mencukupi kebutuhan pangan rumah tangga, tetapi juga memberikan sisa pendapatan yang dapat digunakan untuk memenuhi kebutuhan non-pangan. Faktor sosial ekonomi yang paling dominan mempengaruhi tingkat ketahanan pangan yaitu pendapatan, jumlah tanggungan keluarga, dan pengeluaran rumah tangga yang memiliki peluang lebih besar dibandingkan pendidikan dan usia kepala rumah tangga. ABSTRACT This study aims to determine the condition of food security of farmer households, the contribution of dairy farming income to food expenditure and socio-economic factors that affect the food security of farmer households in TPK Cibedug KPSBU Lembang. The sample area was determined purposive and a sample of 60 farmers was determined by proportional alocation sampling. This study used a quantitative approach with data analysis in the form of percentage contribution of income to food expenditure of farmer households and ordinal logistic regression analysis. The results showed that farmer households in TPK Cibedug were in the Food Security category. Income from dairy cattle farming contributes 194.47% to household food expenditure, meaning that income from dairy cattle business is not only able to meet household food needs, but also provides residual income that can be used to meet non-food needs. The most dominant socioeconomic factors affecting the level of food security are income, number of family dependents, and household expenditure which have a greater chance than education and age of the head of the family.
STUDI LITERATUR: TINGKAT KEBERHASILAN KEBUNTINGAN SAPI POTONG ANTARA KAWIN ALAMI DAN INSEMINASI BUATAN Lutfi, Alfian Ibnu; Prayudha, Muhammad Rokhim Akbar; Kurnianudin, Dimas; Ridlo, Muhammad Rosyid
Agrinimal Jurnal Ilmu Ternak dan Tanaman Vol 13 No 2 (2025): Agrinimal Jurnal Ilmu Ternak dan Tanaman
Publisher : Jurusan Peternakan Fakultas Pertanian Universitas Pattimura

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30598/ajitt.2025.13.2.111-118

Abstract

Meningkatnya praktik Inseminasi buatan (IB) menggantikan kawin alam pada perkembangbiakan sapi potong menjadi pertanyaan, apakah pelaksanaan IB lebih baik dari kawin alam. Studi literatur ini bertujuan untuk mengetahui perbandingan keberhasilan antara inseminasi buatan dan kawin alami pada sapi potong. Penelitian melibatkan pengumpulan dan analisis literatur yang diambil dari Google scholar dan Google books. Sumber yang digunakan adalah jurnal hasil publikasi 10 tahun terakhir dan buku dengan tahun terbit maksimal tahun 2000. Variabel meliputi non return rate (NRR), conception rate (CR), dan service per conception (S/C). Hasil studi diperoleh nilai NRR, CR, dan S/C pada perkawinan alami berturut-turut adalah 74,4%, 67,8%, dan 1,43, sedangkan nilai NRR, CR, dan S/C pada IB berturut-turut adalah 70,4%, 67,8%, dan 1,65. Disimpulkan bahwa perkawinan alami memiliki NRR dan CR yang lebih tinggi dari IB. Angka S/C kawin alam lebih efisien dibandingkan dengan IB. Hal tersebut dapat memberikan informasi bahwa perkawinan alami lebih baik dari pada IB dalam hal angka kebuntingan dan efisiensi perkawinan. Secara kuantitatif nilai efektifitas IB terlihat lebih rendah daripada perkawinan alami, namun di samping NRR, CR dan S/C, inseminasi buatan masih memiliki keunggulan lain dan layak diaplikasikan di lapangan untuk mendukung peningkatan produktifitas ternak. ABSTRACT Artificial insemination (AI) is a breeeding method in cattle by inserting semen into the female reproductive organ by using insemination gun operated by human. Several factors that influence the success of AI include semen quality, female reproductive physiology, and inseminator. As a natural mating, female cows were mated directly with males. Natural cattle mating is a physiological method of cattle breeding. However, the decline in the practice of natural mating, which is replaced by IB, raises the question of whether AI is better than natural mating. This literature review aims to examine the comparison of success parameters between artificial insemination and natural mating in beef cattle. The method used was literature collection obtained from Google scholar and Google books. The sources used were journals with publication periods before 10 years and books with a maximum publication year of 2000. The variables observed in this review were Non Return Rate (NRR), Service per Conception (S/C) and Conception Rate (CR). The results obtained NRR, S/C and CR values in natural mating were 74.4%; 1.4; 70.4%, respectively. Meanwhile, the NRR, S/C and CR values in artificial insemination were 67.8%; 1.6; 67.8%, respectively. Based on the results, it can be concluded that natural mating has a higher NRR and CR than AI. The S/C rate of natural mating was more efficient than AI. This information revealed that natural mating was better than IB in terms of pregnancy rate and mating efficiency. Quantitatively, the effectiveness of IB is lower, but in addition to NRR, CR and S/C, artificial insemination has advantages and is still feasible to be applied in the field to support increased livestock productivity.
MUSIC FOR DAIRY CATTLE: ITS IMPACT ON PHYSIOLOGICAL CONDITIONS, BEHAVIOR, AND MILK PRODUCTION—A REVIEW Nasihin, Ahmad; Kurniawan, Farhan Fadhli
Agrinimal Jurnal Ilmu Ternak dan Tanaman Vol 13 No 2 (2025): Agrinimal Jurnal Ilmu Ternak dan Tanaman
Publisher : Jurusan Peternakan Fakultas Pertanian Universitas Pattimura

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30598/ajitt.2025.13.2.88-94

Abstract

Music, as a form of environmental enrichment, has considerable potential to enhance the welfare and productivity of dairy cattle. This study aimed to synthesize and analyze research findings from the past decade regarding the effects of music exposure on the physiological conditions, behavior, and milk production of dairy cattle. A literature review methodology was employed, involving the collection of scientific articles, theses, and conference proceedings published between 2015 and 2025, followed by descriptive analysis. The findings indicate that several studies have reported slow-tempo music typically 70–100 beats per minute (BPM), which measures beat frequency, and volumes below 70 decibels (dB), which quantify sound intensity, can reduce stress hormones such as cortisol, elevate serotonin levels, enhance feed consumption and feed efficiency, improve milking behavior, and increase milk production. However, other studies have also reported no significant effects or adverse outcomes associated with using fast-tempo or high-volume music. These inconsistencies highlight the need for more standardized research that considers factors such as individual cow variability, environmental conditions, and variations in music delivery methods. Music presents a promising, innovative, and animal-friendly strategy for improving dairy farm performance, although its successful implementation depends on stronger and more consistent scientific validation.
RENDEMEN, pH, DAN PROFIL FITOKIMIA POLLARD SEBAGAI SUMBER BETAIN PADA LAMA MASERASI BERBEDA DENGAN PELARUT METANOL Febria, Najwa Ezza; Mushawwir, Andi; Abun, Abun
Agrinimal Jurnal Ilmu Ternak dan Tanaman Vol 13 No 2 (2025): Agrinimal Jurnal Ilmu Ternak dan Tanaman
Publisher : Jurusan Peternakan Fakultas Pertanian Universitas Pattimura

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30598/ajitt.2025.13.2.95-101

Abstract

Pollard merupakan hasil samping penggilingan gandum yang berpotensi sebagai sumber betain alami untuk pakan fungsional. Penelitian ini bertujuan menganalisis pengaruh lama maserasi pollard menggunakan pelarut metanol terhadap rendemen, pH, dan profil fitokimia. Penelitian dilaksanakan di Laboratorium Riset dan Pengujian Bioteknologi Fakultas Peternakan Universitas Padjadjaran menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL) dengan empat perlakuan waktu maserasi (24, 36, 48, dan 72 jam) dan lima ulangan. Data rendemen dan pH dianalisis menggunakan ANOVA dan uji Duncan, serta data profil fitokimia dianalisis secara kualitatif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa lama maserasi selama 48 jam menghasilkan rendemen tertinggi sebesar 6,60% dan menghasilkan pH maserasi dan ekstrak tertinggi. Profil fitokimia menunjukkan kandungan senyawa bioaktif paling optimal pada lama maserasi 48 jam, sementara pada perlakuan 72 jam mengalami penurunan kandungan senyawa bioaktif. Disimpulkan bahwa lama maserasi selama 48 jam merupakan waktu optimal untuk memperoleh ekstrak pollard. ABSTRACT Pollard is a byproduct of wheat milling that has the potential to be a source of natural betaine for functional feed. This study aims to analyze the effect of pollard maceration time using methanol solvent on yield, pH, and phytochemical profile. The study was conducted at the Biotechnology Research and Testing Laboratory, Faculty of Animal Husbandry, Padjadjaran University, using a Completely Randomized Design (CRD) with four maceration time treatments (24, 36, 48, and 72 hours) and five replications. Yield and pH data were analyzed using ANOVA and Duncan's test, and phytochemical profile data were analyzed qualitatively. The results showed that a maceration time of 48 hours produced the highest yield of 6.60% and produced the highest maceration pH and extract. The phytochemical profile showed the most optimal bioactive compound content at a maceration time of 48 hours, while the 72-hour treatment experienced a decrease in bioactive compound content. It was concluded that a maceration time of 48 hours is the optimal time to obtain pollard extract.
KECERNAAN DAN FERMENTABILITAS IN VITRO RUMEN PADA RANSUM YANG MENGANDUNG KULIT MANGGA Triana, Mega Eva; Susilawati, Iin; Tanuwiria, Ujang Hidayat
Agrinimal Jurnal Ilmu Ternak dan Tanaman Vol 13 No 2 (2025): Agrinimal Jurnal Ilmu Ternak dan Tanaman
Publisher : Jurusan Peternakan Fakultas Pertanian Universitas Pattimura

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30598/ajitt.2025.13.2.102-110

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh penambahan kulit mangga (Mangifera indica L.) dalam ransum terhadap kecernaan dan fermentabilitas pakan dalam rumen domba secara in vitro. Percobaan dirancang menggunakan Rancangan Acak Lengkap dengan lima perlakuan dan lima ulangan. Perlakuan terdiri dari R0 (60% rumput + 40% konsentrat), R1 (10% kulit mangga + 50% rumput + 40% konsentrat), R2 (20% kulit mangga + 40% rumput + 40% konsentrat), R3 (30% kulit mangga + 30% rumput + 40% konsentrat), dan R4 (40% kulit mangga + 20% rumput + 40% konsentrat). Variabel yang diamati meliputi kecernaan bahan kering dan bahan organik, produksi volatile fatty acids (VFA), dan konsentrasi amonia (NH3). Analisis data menggunakan analisis ragam dan dilanjutkan dengan Uji Duncan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penambahan kulit mangga dalam ransum memiliki pengaruh nyata (P<0,05) terhadap kecernaan bahan kering dan bahan organik, produksi volatile fatty acids (VFA), dan konsentrasi amonia (NH3). Peningkatan proporsi kulit mangga dalam ransum meningkatkan nilai kecernaan bahan kering dari 54,70% (R0) menjadi 61,66% (R4) dan kecernaan bahan organik dari 67,22% (R0) menjadi 74,29% (R4). Konsentrasi VFA menunjukkan peningkatan signifikan dengan nilai tertinggi pada perlakuan R4 sebesar 187,26 mM, sementara konsentrasi NH3 mnurun namun tetap berada dalam kisaran optimal untuk pertumbuhan mikroba rumen (5,49-8,88 mM). Berdasarkan hasil tersebut dapat disimpulkan bahwa kulit manga berpotensi sebagai bahan pakan alternatif yang dapat dimanfaatkan hingga level 40% dalam ransum. ABSTRACT This study was conducted to evaluate the effects of mango peel (Mangifera indica L.) incorporation in rations on digestibility and fermentability parameters in the sheep rumen using an in vitro method. The experiment employed a Completely Randomized Design with five treatments and five replications. Treatment formulations consisted of R0 (60% grass + 40% concentrate), R1 (10% mango peel + 50% grass + 40% concentrate), R2 (20% mango peel + 40% grass + 40% concentrate), R3 (30% mango peel + 30% grass + 40% concentrate), and R4 (40% mango peel + 20% grass + 40% concentrate). Variables observed included dry matter and organic digestibility, volatile fatty acids (VFA) production, and ammonia (NH3) concentration. Data were analyzed using Analysis of Variance, followed by Duncan's Multiple Range Test for treatments showing significant differences. Results demonstrated that mango peel supplementation had significant effects (P<0,05) on all measured parameters. Progressive increases in mango peel proportion systematically improved dry matter digestibility from 54,70% (R0) to 61,66% (R4) and organic matter digestibility from 67,22% (R0) to 74,29% (R4). VFA concentration exhibited significant enhancement with the highest value recorded in treatment R4 at 187,26 mM, while NH3 concentration decreased but remained within the optimal range for rumen microbial proliferation (5,49-8,88 mM). These findings suggest that mango peel shows considerable potential as an alternative feed ingredient that can be effectively incorporated up to 40% level in ruminant rations.
KONSENTRASI DAN KEMURNIAN DNA HASIL EKSTRAKSI RUMPUT ODOT, JAGUNG HIBRIDA, PADI IR64 DAN PADI CIHERANG Rahmah, Vita Amalia; Tanuwiria, Ujang Hidayat; Islami, Romi Zamhir
Agrinimal Jurnal Ilmu Ternak dan Tanaman Vol 13 No 2 (2025): Agrinimal Jurnal Ilmu Ternak dan Tanaman
Publisher : Jurusan Peternakan Fakultas Pertanian Universitas Pattimura

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30598/ajitt.2025.13.2.119-126

Abstract

Pemahaman terhadap karakteristik genetik tanaman sangat dibutuhkan dalam pengembangan varietas unggul guna mendukung ketersediaan pakan ternak berkualitas, yang salah satunya dapat dilakukan melalui analisis DNA. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis konsentrasi dan kemurnian DNA empat jenis tanaman pakan, yaitu rumput odot, jagung hibrida, padi IR64, dan padi Ciherang. Metode yang digunakan dalam penelitian ini meliputi ekstraksi DNA menggunakan Genomic DNA Mini Kit (Plant) dari Geneaid, diikuti dengan pengukuran konsentrasi dan kemurnian DNA menggunakan spektrofotometer NanoDrop. Hasil penelitian menunjukkan bahwa DNA dari seluruh sampel memiliki konsentrasi yang cukup untuk analisis molekuler, yaitu antara 12,5 hingga 75,9 ng/μL. Rasio A260/A280 menunjukkan bahwa DNA jagung hibrida, padi IR64, dan padi Ciherang memiliki tingkat kemurnian yang sesuai standar (1,8–2,0), sementara DNA rumput odot menunjukkan rasio kemurnian rata-rata 1,44 berada di bawah standar kemurnian dan mengindikasikan adanya kontaminasi protein. Dengan demikian, metode ekstraksi menggunakan kit dari Geneaid cukup efektif dalam menghasilkan DNA berkualitas dan siap untuk dilakukan analisis lebih lanjut meskipun untuk rumput odot perlu optimasi lebih lanjut guna memperoleh DNA dengan kemurnian optimal. ABSTRACT Understanding the genetic characteristics of these plants is essential for the development of superior varieties to ensure the availability of quality animal feed, which can be achieved through DNA analysis. This study aimed to analyze the concentration and purity of DNA from four types of forage crops: Pennisetum purpureum cv. Odot (odot grass), hybrid corn, IR64 rice, and Ciherang rice. The methods used included DNA extraction using the Geneaid Genomic DNA Mini Kit (Plant), followed by measurement of DNA concentration and purity using a NanoDrop spectrophotometer. The results showed that all samples yielded DNA with sufficient concentration for molecular analysis, ranging from 12.5 to 75.9 ng/μL. The A260/A280 ratio indicated that the DNA from hybrid corn, IR64 rice, and Ciherang rice met the standard purity range (1.8–2.0), while the DNA from odot grass showed an average purity ratio of 1.44, suggesting protein contamination. Therefore, the Geneaid extraction kit was effective in producing high-quality DNA suitable for further molecular analyses, although additional optimization is required for odot grass to obtain DNA with optimal purity.

Page 11 of 13 | Total Record : 121