cover
Contact Name
Sofyan Musyabiq Wijaya
Contact Email
obiqwijaya@gmail.com
Phone
+6281559678993
Journal Mail Official
jkunila@gmail.com
Editorial Address
Jl Prof.Dr.Soemantri Brojonegoro No 1 , Bandar Lampung, Lampung
Location
Kota bandar lampung,
Lampung
INDONESIA
JK Unila (Jurnal Kedokteran Universitas Lampung)
Published by Universitas Lampung
ISSN : 25273612     EISSN : 26146991     DOI : 10.23960/jku
Jurnal Kedokteran Universitas Lampung (JK Unila) is a journal of scientific publications published every six months using a peer review system for article selection. Jurnal Kedokteran Universitas Lampung (JK Unila) can receive original research articles relevant to medicine and health, meta-analysis , case reports and medical science update.
Articles 294 Documents
Persepsi Tingkat Kesiapan Dokter Muda di Rotasi Klinik RSI Unisma dan RS Mardi Waluyo Marindra Firmansyah
Jurnal Kedokteran Universitas Lampung Vol 1, No 2 (2016): JK UNILA
Publisher : Fakultas Kedokteran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23960/jk unila.v1i2.1640

Abstract

Sebuah penelitian menunjukkan bahwa para mahasiswa kedokteran yang sudah lulus di pre-klinik pada saat memasuki rotasi klinik merasa tidak cukup siap untuk melakukan kegiatan rotasi klinik. Masalah tersebut timbul karena adanya perbedaan antara fase pre-klinik dan klinik. Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui gambaran tentang kesiapanmahasiswa di rotasi klinik secara kuantitatif. Pada awal rotasi klinis mahasiswa di Fakultas Kedokteran Universitas Islam Malang (FK Unisma) dilakukan survei dengan kuesioner yang sudah tervalidasi yang terbagi menjadi lima kategori yaitu masa transisi dan sosialisasi profesi, beban kerja, kontak dengan pasien, aplikasi pengetahuan dan keterampilan, pembelajaran dan pendidikan. Tingkat respon kuesioner sebesar 100%. Mayoritas mahasiswa merasa cemas. Mahasiswa mengalami peningkatan beban kerja yang cukup banyak dan kurangnya waktu untuk belajar namun hal tersebut tidak membuat mahasiswa putus asa untuk berhenti belajar. Mereka menganggap diri mereka cukup siap dalam hal sikap dan dalam keterampilan komunikasi maupun keterampilan anamnesis. Mahasiswa merasa dengan belajar menggunakan pasien simulasi dapat membantu proses belajar di klinik. Pada penelitian ini para mahasiswa mengalami masalah yang berkaitan dengan fase transisi yaitu merasa cemas. Beban kerja yang tinggi pada mahasiswa tidak membuat mahasiswa putus asa dalam menjalankan pedidikan klinik. Model Problem-Based Learning (PBL) telah mampu membuat mahasiswa belajarmandiri dan memiliki keterampilan anamnesis yang baik, namun untuk pemeriksaan fisik dan kesimpulan patologis masih kurang. [JK Unila. 2016; 1(2)]Kata Kunci : kesiapan mahasiswa, masa transisi, rotasi klinik
Potensi Vaksin Hemagglutinin Stem berbasis HA-Ferritin Nanopartikel sebagai Inovasi Vaksin Influenza Universal Yulia Cahya Khasanah; Dara Marissa Widya Purnama; Fadel Muhammad
Jurnal Kedokteran Universitas Lampung Vol 1, No 2 (2016): JK UNILA
Publisher : Fakultas Kedokteran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23960/jk unila.v1i2.1656

Abstract

Influenza merupakan penyakit pernapasan dengan morbiditas dan mortalitas yang tinggi di seluruh dunia. Setiap tahun terdapat 3-5 juta kasus influenza berat dan 250.000 sampai 500.000 diantaranya mengalami kematian. Penanganan kasus influenza menekankan pada upaya preventif yaitu vaksin. Namun, kelemahan vaksin konvensional adalah pembuatannya harus disesuaikan dengan strain influenza yang berkembang pada musim berikutnya. Karakteristik utama dari virusinfluenza terdapat pada hemagglutinin (HA) dan neuraminidase (NA). Target vaksin influenza universal adalah HA stem region yang memiliki sifat tidak mengalami perubahan genetik. HA stem influenza memiliki epitop konservatif penginduksi broad neutralizing antibodies (bnAbs). Namun, aktivitas induksinya sering terganggu karena adanya HA head region. Oleh karena itu, perlu dilakukan pemotongan HA head region melalui teknik Polymerase Chain Reaction (PCR) untuk mendapatHA stem region murni. Antibodi yang diinduksi oleh HA termodifikasi ini adalah broad neutralizing antibodies (bnAbs). Broadly neutralizing antibodies dapat bereaksi silang dengan influenza varian lainnya. Keunggulan bnAbs tersebut berpotensi untuk menetralisir semua strain influenza baik yang sudah ada ataupun yang baru muncul. Untuk meningkatkan efektivitas vaksin, digunakan nanopartikel ferritin sebagai pelindung vaksin yang potensial. HA stem digabungkan denganferritin melalui teknik rekayasa genetika dengan cara bio-active sehingga terbentuk HA stem yang memanjang pada permukaan ferritin. Berdasar uraian tersebut, vaksin hemagglutinin stem berbasis HA-ferritin nanopartikel berpotensi sebagai vaksin universal protektif jangka panjang. [JK Unila. 2016; 1(2)]Kata kunci: ferritin nanopartikel, HA stem region, vaksin influenza
Korelasi Imunoekspresi EGFR dan mTOR dengan Grading Histopatologi Astrocytoma Friede Rismayanti Saragih; Sri Suryanti; Bethy S Hernowo
Jurnal Kedokteran Universitas Lampung Vol 1, No 3 (2017): JK UNILA
Publisher : Fakultas Kedokteran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23960/jk unila.v1i3.1672

Abstract

Astrocytoma adalah tumor otak tersering pada susunan saraf pusat terutama terjadi pada usia dewasa, lebih banyak ditemukan pada laki-laki dibanding perempuan. Secara klinis dan berdasarkan gambaran histopatologi astrocytoma dibagi menjadi 4 grade yaitu grade I dan II disebut low grade, grade III dan IV disebut high grade. Grading astrocytoma dilihat berdasarkan derajat diferensiasi sel, selularitas sel, atipia inti, aktivitas proliferasi (mitosis), proliferasi vaskular dan nekrosis.EGFR (Epidermal Growth Factor Receptor) dan mTOR (mammalian Target of Rapamycin) yang berfungsi sebagai agen proliferasi dan regulator apoptosis yang dianggap memegang peranan pada patogenesis dan progresifitas astrocytoma. Tujuan dari studi penelitian ini adalah untuk mencari korelasi antara imunoekspresi EGFR dan mTOR dengan gradinghistopatologi astrocytoma. Penelitian ini merupakan penelitian studi observasional, cross sectional, dengan analisa korelasional terhadap 32 sampel blok parafin kasus astrocytoma terdiri dari 16 kasus low grade dan 16 kasus high grade dari Departemen Patologi Anatomi RSUP Dr. Hasan Sadikin Bandung kemudian seluruh sampel dilakukan pulasanimunohistokimia EGFR dan mTOR. Hasil dari penelitian ini adalah terdapat hubungan yang signifikan secara statistik antara imunoekspresi EGFR dan mTOR dengan grading histopatologi yang memiliki p value masing – masing sebesar 0,05 dan 0,048. Grading secara signifikan dipengaruhi oleh EGFR dan mTOR dengan imunoekspresi mTOR sebagai variabel yangpaling berpengaruh. Berdasarkan hasil penelitian ini dapat disimpulkan bahwa grading histopatologi dipengaruhi oleh proliferasi dan apoptosis yang dapat dinilai dengan pemeriksaan imunoekspresi EGFR dan mTOR, dimana semakin tinggi imunoekspresi EGFR dan mTOR maka semakin tinggi grading histopatologi.Kata Kunci : astrocytoma, EGFR, grading, mTOR
Talasemia pada Kehamilan Rodiani Rodiani; Agam Anggoro
Jurnal Kedokteran Universitas Lampung Vol 1, No 3 (2017): JK UNILA
Publisher : Fakultas Kedokteran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23960/jk unila.v1i3.1724

Abstract

Talasemia merupakan defek genetik yang mengakibatkan berkurang atau tidak adanya sama sekali sintesis satu atau lebih rantai globin. Talasemia ditandai anemia mikrositik hipokrom dengan berbagai derajat keparahan. Talasemia dapat ditemukan hampir di seluruh dunia. Di Indonesia, prevalensi talasemia di tiap daerah berbeda-beda, dengan rerata prevalensi sebesar 0,1%. Penderita talasemia umumnya datang dengan keluhan pucat, tidak nafsu makan dan perut membesar. Pada ibu hamil yang menderita talasemia, gejala anemia dapat lebih buruk dimana kebutuhan transfusi akan meningkat dan kadar hemoglobin harus tetap terjaga ≥ 10 g/dl, terutama pada talasemia β mayor. Selain itu, perludilakukan observasi fungsi jantung pasien dan ultrasonografi (USG) serial untuk mengetahui kondisi janin . Bagi penderita talasemia penting untuk melakukan skrining sebelum atau saat kehamilan. Skrining pada penderita talasemia bertujuan untuk mengurangi mortalitas dan morbiditas karena talasemia. Talasemia merupakan penyakit genetik yang diturunkan secara autosomall resesif dimana semua perubahan genetik yang terjadi diturunkan dari ibu maupun ayah. Sehingga selainmenangani gejala dari sang ibu, janin yang dikandung oleh sang ibu pun perlu dipertimbangkan. Perencanaan kehamilan, penanganan dan pemeriksaan selama kehamilan sangat penting bagi wanita dengan talasemia agar dapat ditangani dengan sebaik mungkin.Kata Kunci: kehamilan, kelainan genetik, talasemia
Paracetamol Menyebabkan Steven Johnson Syndrome pada Wanita Berusia 24 Tahun Yulisna Yulisna; Nyoman Sundari Arti
Jurnal Kedokteran Universitas Lampung Vol 2, No 1 (2018): JK UNILA
Publisher : Fakultas Kedokteran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23960/jk unila.v2i1.1903

Abstract

Stevens Johnson Syndrome (SJS) merupakan reaksi hipersentivitas berat yang disebabkan oleh infeksi, seperti virus Herpes simplex atau Mycoplasma, vaksinasi, penyakit sistemik, agen-agen tertentu, makanan dan obat-obatan. Insidensi SJS diperkirakan 2-3% per juta populasi per tahun di Amerika Serikat dan di negara-negara Eropa, sedangkan di Indonesia kasus SJS terjadi sekitar 12 kasus per tahun. Patofisiologi dari SJS sendiri masih belum diketahui, namun penyebab utama SJS adalah alergi obat. Paracetamol merupakan salah satu obat yang paling sering digunakan dan relatif aman, namun dapat menyebabkan efek samping berupa reaksi hipersensitivitas kutan. Laporan kasus ini membahas tentang SJS yang timbul pada wanita berusia 24 tahun akibat pemberian paracetamol infus karena demam pasca operasi. Pada pasien timbul vesikel eritematosa, bula eritematosa, plak eritematosa, erosi, krusta, purpura, krusta hemoragik, sedikit tebal, sulit dilepas, batas ireguler, multipel, ukuran 0,5 sampai 1 cm pada regio palpebra, mukosa bibir, regio coli, regio brachii dextra et sinistra, dan regio thorax. Pasien dalam kasus ini diberikan terapi kortikosteroid topikal dan sistemik, silver sulfodiazin pada luka di tubuh serta antibiotik sistemik. Setelah diberikan terapi tersebut, kondisi pasien perlahan membaik. Kata kunci:Paracetamol, reaksi alergi, Steven Johnson Syndrome
Kerasionalan Pengobatan Tuberkulosis dan Konversi Sputum BTA terhadap Kesembuhan Tuberkulosis di Puskesmas Segala Mider Bandar Lampung Rasmi Zakiah Oktarlina; Sutarto Sutarto
Jurnal Kedokteran Universitas Lampung Vol 2, No 2 (2018): Jk Unila
Publisher : Fakultas Kedokteran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23960/jk unila.v2i2.1946

Abstract

Tuberkulosis (TB) merupakan suatu masalah kesehatan dunia terutama di Negaraberkembang. Penyakit ini adalah suatu penyakit infeksius yang disebabkan oleh Mycobacterium tuberculosis, yang merupakan kuman aerob yang dapat hidup terutama di organ paru dan dapat juga ditularkan ke berbagai organ tubuh lainnya.Kasus TB definitif adalah kasus dengan salah satu dari spesimen biologis positif dengan pemeriksaan mikroskopis apusan dahak, biakan atau dengan diagnostik cepat sedangkan, Kasus TB diagnosis klinisadalah kasus TB yang tidak dapat memenuhi kriteria konfirmasi bakteriologis walau telah diupayakan maksimal tetapi ditegakkan diagnosis TB aktif oleh klinisi yang memutuskan untuk memberikan pengobatan TB berdasarkan foto toraks abnormal, histologi sugestif dan kasus ekstraparu. Pengobatan yang tidak benar akan akan mengkibatkan terjadinya resistensi bakteri TB terhadap obat yang diberikan. Hal ini akan mengakibatkan masalah yang cukup besar, pasien akan menularkan kuman yang resisten kepada orang lain (primary drug resistance). Seorang dokter harus tahu dengan benar tentang terapi rasional tuberkulosis sesuai dengan kategori yang sudah ditentukan dan selalu mengusahakan agar pasien tetap patuh mengikuti pengobatan hingga selesai dan dinyatakan sembuh. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui hubungan ketepatan dosis dan konversi sputum BTA terhadap kesembuhan pasien tuberculosis paru di Puskesmas Segala Mider Bandar Lampung. Terdapat sebanyak 39 responden yang termasuk dalam penelitian ini. Metode penelitian ini menggunakan pendekatan cross sectional. Pada hasil univariat karakteristik responden yaitu laki-laki sebanyak 25(64,1%) sedangkan untuk perempuan sebanyak 14(31,4%). Hasil ketepatan dosis yaitu dosis yang tepat sebanyak 34(87,2%) dan yang tidak tepat sebanyak 5(12,8%) sedangkan untuk hasil konversi sputum BTA yang mengalami konversi sputum BTA sebanyak 27(69,2%) dan yang tidak mengalami konversi sputum BTA sebanyak 12(30,8%).Terdapat hubungan antaraKerasionalan Pengobatan Tuberkulosis dan Konversi Sputum BTA Terhadap Kesembuhan Tuberkulosis Di Puskesmas Segala Mider Bandar Lampung dengan diperoleh hasil α=0,001 (P>0,05). Kesimpulannya adalah terdapat hubungan bermakna pada penelitian ini. Kata Kunci : KetepatanDosis, Konversi Sputum BTA, Tuberkulosis.
Overload Cairan pada Anak dengan Nefritis Lupus Roro Rukmi Windi; Risti Graharti
Jurnal Kedokteran Universitas Lampung Vol 2, No 2 (2018): Jk Unila
Publisher : Fakultas Kedokteran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23960/jk unila.v2i2.1957

Abstract

Systemic lupus erythematosus (SLE) merupakan kelainan autoimun multisistem dengan karakteristik disregulasi sistem imun, pembentukan autoantibodi dan kompleks imun. Nefritis lupus adalah komplikasi ginjal pada SLE. Penyakit ini ditandai periode remisi dan episode serangan akut dengan gambaran klinis yang beragam dengan berbagai organ yang terlibat. Penyebab kematian pasien dengan SLE onset anak merupakan multifaktorial. Penyebab paling umum meliputi infeksi, gagal ginjal, dan penyakit kardiopulmoner.Pada laporan kasus kematian ini, dilaporkan kasus seorang anak perempuan usia 12 tahun 3 bulan yang menderita nefritis lupus dengan komorbiditas, selama perawatan terjadi overload cairan memperburuk fungsi respirasi serta kontraktilitas jantung. Pada anamnesis didapatkan bahwa 1,5 tahun pertama kali muncul keluhan demam naik turun, pucat, nyeri sendi, bercak merah di telapak tangan, pipi dan dahi, juga didapatkan sariawan di mulut..Keterlibatan mukokutan terjadi pada hampir 90% pasien dengan SLE. Terdapat tiga ruam yang dijelaskan dalam kriteria klasifikasi SLE, termasuk fotosensitivitas. The malar rash atau “butterfly” rash merupakan manifestasi kulit yang umum ditemukan dan merupakan ciri khas dari penyakit ini. Terjadi pada eminensia malar dan melintasi hidung tapi tidak melewati lipatan nasolabial. Dahi dan dagu juga mungkin akan terpengaruh. Ruam dapat muncul sebagai blush atau erupsi makulopapular bersisik dan biasanya tidak gatal. Anamnesis pasien didapatkan bahwa pasien tersebut mengalami adanya bercak kemerahan pada pipi dandahi. Pada perawatan saat ini didapatkan ulkus yang tersebar di mukosa mulut. Kata kunci: anak, komplikasi, nefritis lupus.
Kecemasan Wanita Premenopause dalam Menghadapi Masa Menopause,Sebuah Studi Crossectional Juminten Saimin; Cici Hudfaizah; Indria Hafizah
Jurnal Kedokteran Universitas Lampung Vol 1, No 2 (2016): JK UNILA
Publisher : Fakultas Kedokteran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23960/jk unila.v1i2.1619

Abstract

Jumlah dan proporsi penduduk wanita yang memasuki usia menopause terus mengalami peningkatan yang signifikan. Ada banyak kekhawatiran yang menyelubungi pikiran wanita ketika memasuki masamenopause. Masalah psikis yang paling sering dialami adalah rasa cemas. Kecemasan tersebut berupa perasaaan menjadi tua, tidak menarik lagi, mudah tersinggung, khawatir keinginan seksual menurun, merasa tidak berguna dan tidak menghasilkan sesuatu. Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif analitik dengan pendekatan cross sectional yang dilakukan pada 205 wanita premenopause berusia 40-50 tahun di Kota Kendari. Pengambilan sampel dilakukan secara simple random sampling. Teknik pengumpulan data menggunakan kuisioner dan mengacu pada Taylor Manifest Anxiety Scale (T-MAS). Data dianalisis menggunakan uji Chisquare dengan nilai kemaknaan p = 0,05. Hasil penelitian didapatkan bahwa112 responden (54,6%)mengalami kecemasan. Usia terbanyak yang mengalami kecemasan adalah usia 40-45 tahun sebanyak 69 responden (33,7%), namun tidak terdapat hubungan antara usia dengan kecemasan (p = 0,606).Kecemasan terbanyak didapatkan pada pendidikan rendah yaitu 107 responden (52,2%) dan terdapat hubungan antara tingkat pendidikan dengan kecemasan (p = 0,000). Kelompok tidak bekerja terbanyak mengalami kecemasan yaitu 69 responden (33,7%) dan terdapat hubungan antara pekerjaan dengan kecemasan(p = 0,001). Kelompok yang tinggal dengan pasangan terbanyak mengalami kecemasan yaitu 60 responden (35,1%), namun tidak terdapat hubungan antara status tinggal dengan kecemasan (p = 0,941). Kecemasan terbanyak pada kelompok dengan aktivitas fisik berat yaitu 96 responden (46,8%) dan terdapat hubungan antara aktivitas fisik dengan kecemasan (p = 0,000). Kelompok dengan berat badan lebih terbanyak mengalami kecemasan yaitu 67 responden (32,7%), tetapi tidak terdapathubungan antara indeks massa tubuhdengan kecemasan (p = 0,396). Simpulan : Terdapat hubungan antara tingkat pendidikan, pekerjaan, dan aktivitas fisik dengan kecemasan pada wanita premenopause. [JK Unila. 2016; 1(2)]Kata kunci : aktivitas fisik, kecemasan, pekerjaan, tingkat pendidikan, wanita premenopause,
Implementasi Kompetensi Sistem Reproduksi dalam Standard Kompetensi Dokter Indonesia (SKDI) 2012 pada Kurikulum Berbasis Kompetensi (KBK) 2011 FK UII Dewi Retno; Yeny Dyah Cahyaningrum
Jurnal Kedokteran Universitas Lampung Vol 1, No 2 (2016): JK UNILA
Publisher : Fakultas Kedokteran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23960/jk unila.v1i2.1635

Abstract

KBK 2011 FK UII merupakan kurikulum yang disusun dengan pendekatan spiral model kurikulum, yang berasal dari kompetensi SKDI dan masukan pakar departemen terkait. Pada penelitian ini dilakukan evaluasi terhadap rancangan spiralitas kompetensi yang terimplementasi dalam KBK 2011 FK UII. Penelitian ini bersifat deskriptif yang bertujuan meninjau ketercakupan daftar penyakit dan ketrampilan klinis yang harus dikuasai dokter umum sesuai dengan SKDI 2012 dalam KBK 2011. Data diambil dari implementasi kurikulum terkait kompetensi sistem reproduksi KBK 2011 dibandingkan dengan daftar penyakit dan ketrampilan klinis pada SKDI 2012. Daftar penyakit sesuai SKDI 2012 yang sudah tercakup padakurikulum KBK 2011 sebesar 99,94%, dan sebesar 0,06% materi yang belum tercakup. Ketrampilan klinis sesuai SKDI 2012 dengan tingkat kemampuan 4 sebesar 75,68% didapat melalui ketrampilan medik, dan 24,32% melalui kuliah dan tutorial. Sebagian besar (99,94%) kompetensi sistem reproduksi dalam SKDI 2012 sudah tercakup di dalam KBK 2011. Beberapa materi yang belum tercakup terutama level kompetensi 3 dan 4 diharapkan dapat ditambahkan dalam pembelajaran. [JKUnila. 2016; 1(2)]Keyword: spiral kurikulum, kompetensi, reproduksi
Degenerasi Kognitif pada Stres Kronik Eka Febri Zulissetiana; Puji Rizki Suryani
Jurnal Kedokteran Universitas Lampung Vol 1, No 2 (2016): JK UNILA
Publisher : Fakultas Kedokteran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23960/jk unila.v1i2.1651

Abstract

Alzheimer dan Parkinson adalah penyakit neurodegeneratif yang paling sering dijumpai di seluruh dunia dan merupakan penyebab utama penurunan fungsi kognitif pada usia lanjut. Insidensi Alzheimer dan Parkinson semakin meningkat setiap tahunnya sehingga menjadi salah satu masalah serius di sistem pelayanan kesehatan.Penurunan fungsi kognitif ini akan berdampak pada tingginya risiko disabilitas fisik, penurunan kualitas hidup dan kematian. Perawatan jangka panjang danseringnya hospitalisasi pada penderita ini menyebabkan tingginya biaya dan beban ekonomi pada keluarga maupun negara. Hingga saat ini penyebab pasti dari penurunan fungsi kognitif belum diketahui tetapi diduga diperantarai oleh interaksi yang kompleks antara faktor usia, genetik dan lingkungan seperti stres. Tinjauan pustaka ini bertujuan untuk mengetahui efek stres kronik pada penurunan fungsi kognitif.Beberapa hasil penelitian memperlihatkan paparan stress kronik akan menyebabkan peningkatan kadar kortisol jangka panjang yang akan menimbulkan efek yang merugikan di berbagai regio otak khususnya hipokampus yang memegang peranan penting dalam proses belajar dan penyimpanan memori. Peningkatan kadar kortisol akan memperantarai proses apoptosis neuron dan menurunkan ekspresi berbagai neurothropin. Kortisol juga dapat menyebabkan perubahan dalam homeostasis kalsium, transmisi glutamat, meningkatkan proses long term depression(LTD) dan gangguan pada proses induksi Long Term Potentiation (LTP) sehingga akan menurunkan eksitabilitas hipokampus. Dengan demikian, Stres diyakini sebagai penyebab berbagai gangguan neuropsikiatri dan mempengaruhi perkembangan dan onset timbulnya penyakit neurodegeneratif. [JK Unila. 2016; 1(2)]Kata kunci: hipokampus, kognitif, kortisol, neurodegeneratif, stres