cover
Contact Name
Sofyan Musyabiq Wijaya
Contact Email
obiqwijaya@gmail.com
Phone
+6281559678993
Journal Mail Official
jkunila@gmail.com
Editorial Address
Jl Prof.Dr.Soemantri Brojonegoro No 1 , Bandar Lampung, Lampung
Location
Kota bandar lampung,
Lampung
INDONESIA
JK Unila (Jurnal Kedokteran Universitas Lampung)
Published by Universitas Lampung
ISSN : 25273612     EISSN : 26146991     DOI : 10.23960/jku
Jurnal Kedokteran Universitas Lampung (JK Unila) is a journal of scientific publications published every six months using a peer review system for article selection. Jurnal Kedokteran Universitas Lampung (JK Unila) can receive original research articles relevant to medicine and health, meta-analysis , case reports and medical science update.
Articles 294 Documents
Faktor Risiko Penyakit Ginjal Kronik Pada Pasien Diabetes Shaffa Aulia Shabrina; Fitria Saftarina; Bayu Anggileo Pramesona
Jurnal Kedokteran Universitas Lampung Vol 6, No 2 (2022): JK Unila
Publisher : Fakultas Kedokteran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23960/jkunila6258-62

Abstract

Penyakit ginjal kronik (PGK) merupakan suatu proses patofisiologis dengan etiologi beragam sehingga dapat menyebabkanpenurunan fungsi ginjal secara progresif yang ditandai dengan penurunan laju filtrasi glomerulus (LFG) secara perlahan dalam jangka waktu yang lama. Pada PGK kegagalan fungsi ginjal menyebabkan terganggunya metabolisme dankeseimbangan cairan sehingga terjadi penumpukan hasil metabolisme. Penyebab dari penyakit ginjal kronis salah satunyaberupa nefropati diabetik, sebagai komplikasi dari diabetes. PGK yang disebakan oleh nefropati diabetik dipengaruhi olehfaktor yang dapat dimodifikasi dan tidak dapat dimodifikasi. Faktor yang dapat dimodifikasi yaitu berupa albuminuria dalam jumlah yang besar, peningkatan kadar glikemi, tekanan arteri tingkat tinggi, dislipidemia, obesitas, merokok, stres oksidatifdan inflamasi. Untuk faktor yang tidak dapat dimodifikasi seperti genetika, ras, hiperfiltasi glomerulus, usia, jenis kelamin, dan lama terkena diabetes. PGK masih menjadi masalah kesehatan masyarakat global karena prevalensi dan insidensi gagalginjal yang terus meningkat, serta memiliki prognosis yang buruk dan biaya pengobatan yang tinggi. Prevalensi PGKmeningkat seiring meningkatnya usia dan kejadian diabetes melitus. Di Indonesia, pembiayaan perawatan penyakit ginjalmenempati peringkat kedua terbesar dari BPJS kesehatan setelah penyakit jantung. Ada beberapa kemungkinan faktorrisiko PGK pada pasien diabetes berupa albuminuria tinggi, hiperglikemia, hipertensi, dislipidemia, obesitas, merokok, stresoksidatif dan inflamasi. Faktor risiko yang paling berpengaruh terhadap kejadian PGK bagi penderita diabetes adalah hipertensi. Kata kunci: Diabetes, Faktor risiko, PGK
Gambaran Lama Rawat Inap Pada Pasien Skizofrenia dengan Terapi Kombinasi Antipsikotik dan Kombinasi Antipsikotik dengan Mood-stabilizer Di Rumah Sakit Jiwa Provinsi Lampung Dwi Aulia Ramdini; Lilik Koernia; Fitri Dwi Antari
Jurnal Kedokteran Universitas Lampung Vol 6, No 2 (2022): JK Unila
Publisher : Fakultas Kedokteran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23960/jkunila6289-93

Abstract

Skizofrenia adalah gangguan kesehatan mental kronis dan parah yang terkait dengan masalah kesehatan jangka panjang dan beban ekonomi. Antipsikotik menjadi terapi utama dalam pengobatan skizofrenia, yang biasanya diberikan secara kombinasi. Golongan mood-stabilzer merupakan salah satu terapi tambahan pada pasien skizofrenia. Penelitian ini bertujuan untuk melakukan evaluasi lama rawat inap pasien skizofrenia yang menggunakan antipsikotik risperidon-klorpromazin dan kombinasirisperidon-klorpromazin-asam valproat pada pasien rawat inap di rumah sakit jiwa Provinsi Lampung pada tahun 2018-2019. Penelitian ini adalah penelitian observasional dengan menggunakan data retrospektif dari rekam medis pasien skizofrenia, dengan teknik pengambilan purposive sampling. Data rata-rata hari lama rawat inap dianalisis dengan uji chi-square. Berdasarkan data sosiodemografi pada 71 sampel pasien skizofrenia, rentang usia terbanyak yaitu 20-29 tahun (45%), berpendidikan terakhir yaitu SMA (44%), status tidak bekerja (54%), dan status belum menikah (83%). Rata-rata lama hari rawat terapi kombinasi risperidon- klorpromazin pada fase akut psikotik adalah 4,12 hari dan pasca fase akut psikotik adalah 36,08 hari, sedangkan pada terapi kombinasi risperidon-klorpromazin-asam valproat pada fase akut adalah 3,05 hari dan pada pasca akut psikotik yaitu selama 27,62 hari. Hasil pemeriksaan enzim hati, pada terapi risperidon-klorpromazin terdapat peningkatan SGOT sebanyak 46% pasien, dan peningkatan SGPT sebesar 16% pasien. Pasien yang menerima risperidon-klorpromazin-asamvalproat juga mengalami peningkatan enzim SGPT sebanyak 62% dan SGOT 14% pasien. Hasil ini menggambarkan bahwa terdapat hubungan antara penggunaan kombinasi antipsikotik mood-stabilizer dengan lama hari rawat inap. Diperlukan monitoring fungsi hati serta kemungkinan efek samping lain dari penggunaan obat secara berkala.  Kata Kunci : Antipsikotik, Fungsi hati, Lama rawat, Mood-stabilizer, Skizofrenia
Pendekatan Klinis dan Tata Laksana Peritonitis Sekunder Helsa Apty Tamara; Rizki Hanriko
Jurnal Kedokteran Universitas Lampung Vol 6, No 2 (2022): JK Unila
Publisher : Fakultas Kedokteran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23960/jkunila6263-68

Abstract

Peritonitis adalah peradangan yang terjadi pada peritoneum. Peritonitis salah satu keadaan gawat darurat yang memerlukan diagnosis cepat dan harus segera ditangani. Mortalitas kasus ini secara keseluruhan adalah 6%, tetapi kematian meningkat menjadi 35% pada pasien yang mengalami sepsis berat. Peritonitis sekunder disebabkan hilangnya integritas saluran cerna atau organ visceral lainnya. Tanda-tanda klinis pada pasien dengan peritonitis mungkin ringan sampai berat dan seringkali tidak spesifik. Pemeriksaan penunjanng yang dapat dilakukan meliputi pemeriksaan laboratorium darah lengkap dan pencitraan. Tatalaksana berupa stabilisasi, pemberian antibiotik, dan nutrisi. Tindakan operatif berupa laparotomi eksplorasi dengan debridement dan lavage bedah. Drainase peritoneal terbuka atau drainase hisap tertutup harus dipertimbangkan untuk penatalaksanaan peritonitis.  Pentingnya diagnosisperitonitis sekunder secara tepat dan cepat memicu penulis untuk memperdalam pengetahuan mengenai peritonitis sekunder, meliputi definisi, epidemiologi, etiologi, gejala klinis dan pemeriksaan penunjang tentang peritonitis sekunder. Kata kunci: Peritonitis Sekunder, Laparotomi Eksplorasi, Drainase
Hubungan Tingkat Pendidikan dengan Perilaku Prevensi saat Pandemi Covid 19 pada Masyarakat Seputih Raman Lampung Tengah Tahun 2022 Mirza Junando; Nurmasuri Nurmasuri; Rasmi Zakiah Oktarlina; Pius Ave Rafael Silalahi; Axcellia Theresa; Roviq Umam S
Jurnal Kedokteran Universitas Lampung Vol 6, No 2 (2022): JK Unila
Publisher : Fakultas Kedokteran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23960/jkunila6269-74

Abstract

Perilaku prevensi sudah banyak diajarkan bahkan sedari kecil seperti ajakan mencuci tangan  sebelum makan. Perilaku prevensi ini sangat berpengaruh kepada kesehatan baik dalam jangka panjang misal gaya hidup sehat bagi penyakit kronis maupun pada penyakit menular. Denganadanya pandemi Covid-19, perilaku preventif kembali digalakkan dan CDC pun memberikan anjuran dengan menerapkan beberapa sikap yang kemudian dapat dilihat pada skala clean and condition. Selain dengan perilaku prevensi, vaksinasi menjadi salah satu cara pemerintah untukmeningkatkan kekebalan kelompok dan mengurangi angka morbiditas dan mortalitas. Masyarakat juga dikenal luas sering melakukan swamedikasi atau tindakan mengobati diri sendiri tanpa resep dokter. Hal ini dilakukan untuk meningkatkan  imunitas tubuh maupun untukmengatasi gejala sakit ringan. Tindakan swamedikasi baiknya tetap dilakukan dengan rasional. Berbagai ajakan sosialisasi maupun pengadaan posko Covid-19 dan penyemprotan desinfektan sudah dilakukan di berbagai daerah di Lampung Tengah. Pada penelitian ini ingin dilihat apakah upaya pemerintah dan Gugus Covid-19 telah cukup untuk menciptakan perilaku sehat yang baik di masyarakat dengan mengukurnya menggunakan kuesioner. Hasil dari penelitian ini diharapkandapat dilihat gambaran perilaku prevensi, penerimaan vaksinasi, serta swamedikasi yang dilakukan oleh masyarakat Lampung Tengah selama masa pandemi Covid-19.    Kata kunci: perilaku prevensi, Covid-19.
Middle Lobe Syndrome Wayan Ferly Aryana; Tito Tri Saputra; Adityo Wibowo
Jurnal Kedokteran Universitas Lampung Vol 7, No 1 (2023): JURNAL KEDOKTERAN UNIVERSITAS LAMPUNG
Publisher : Fakultas Kedokteran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23960/jkunila7114-17

Abstract

Middle Lobe Syndrome (MLS) is a rare condition with significant clinical implications. MLS is characterized by a recurrent or chronic collapse of the right middle lobe of the right lung. MLS is more common in women, with a ratio ranging from 1.5 to 3. MLS is divided into two types: obstructive MLS, caused by enlarged peribronchial lymph nodes, and non-obstructive MLS, which is frequently associated with airway inflammation. Clinical symptoms of MLS include chest pain, chronic cough, excessive sputum, and dyspnea. Symptomatic medication such as mucolytics and bronchodilators, chest physiotherapy, fiberoptic bronchoscopy, and surgery are commonly used as a management of MLS.  Keywords: Medial Lobe Syndrome, Obstructive, Chronic Cough  
Tuberkulosis Paru Dengan Pneumonia Komunitas, Paraparese Inferior, Dan Penyakit Jantung Koroner: Laporan Kasus Syazili Mustofa; Mia Esta Poetri Afdal Faisal; Retno Ariza S Soemarwoto; Hetti Rusmini; David Tongon Silaen
Jurnal Kedokteran Universitas Lampung Vol 7, No 1 (2023): JURNAL KEDOKTERAN UNIVERSITAS LAMPUNG
Publisher : Fakultas Kedokteran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23960/jkunila7118-24

Abstract

Abstrak: Tuberkulosis Paru dengan Pneumonia Komunitas, Paraparesis Inferior, dan Penyakit Jantung Koroner. Pasien tuberkulosis paru dapat mengalami komplikasi kardiovaskular termasuk penyakit jantung koroner. Kondisi seperti pneumonia komunitas dan paraparesis inferior yang dicurigai akibat spondilitis tuberkulosis juga merupakan kondisi komorbid terhadap pasien tersebut. Telah dilaporkansatu kasus di RSUD dr. H. Abdul Moeloek Lampung dengan keluhan utama sesak napas pada seorang perempuan berusia 37 tahun yang ditegakkan diagnosisnya berdasarkan anamnesis, pemeriksaan fisik, dan pemeriksaan penunjang. Diberikan penanganan baik secara farmakologis maupun nonfarmakologis, terimasuk intervensi koroner  perkutaneus. Kata Kunci: Tuberkulosis Paru, Pneumonia Komunitas, Paraparesis, Penyakit Jantung Koroner.
Preferensi Penggunaan Obat Tradisional dan Obat Modern pada Masyarakat Desa Umbul Natar Lampung Selatan Muhammad Iqbal; Dwi Aulia Ramdini; Ramadhan Triyandi; Suharmanto Suharmanto
Jurnal Kedokteran Universitas Lampung Vol 6, No 2 (2022): JK Unila
Publisher : Fakultas Kedokteran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23960/jkunila6294-105

Abstract

Penggunaan obat tradisional semakin berkembang di dunia, baik digunakan sebagai terapi komplementer maupun sebagai terapi utama kesehatan. Daya minat penggunaan obat tradisional dan modern cukup bervariasi antar populasi. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis lebih jauh tentang perilaku masyarakat dalam preferensi penggunaan obat tradisional dan obat modern berdasarkan aspek sumber informasi, ekonomi, dan sosial budaya. Penelitian ini bersifat deskriptif analitik dengan pendekatan cross-sectional. Target populasi studi adalah masyarakat di Desa Umbul Natar Kelurahan Jati Mulyo Kecamatan Jati Agung Lampung Selatan. Pengumpulan data dilakukan dengan menggunakan kuesioner. Analisis hubungan antara sumber informasi : keluarga inti (p<0,001), informasi orang terdekat (p<0,001), dan media sosial (p=0,040) berhubungan terhadap preferensi pemilihan obat. Faktor sosial budaya dalam indikator persepsi dan kepercayaan berhubungan dengan preferensi pemilihan obat.  Faktor ekonomi dalam persepsi murahnya pilihan obat (p=0,001) dan lama waktu pengobatan (p=0,049) berhubungan terhadap preferensi pemilihan obat. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa faktor sumber informasi, sosial budaya, dan ekonomi merupakan prediktor yang mempengaruhi preferensi pemilihan obat masyarakat.
Manajemen Pasien Infark Miokardium Akut Dengan Elevasi Segmen ST (IMA-EST) Anterior Onset Lebih dari 48 Jam Tanpa Tindakan Reperfusi di Bangsal Perawatan Jantung Iswandi Darwis; Anggoro Budi Hartopo; Muhammad Gahan Sarwiko
Jurnal Kedokteran Universitas Lampung Vol 7, No 1 (2023): JURNAL KEDOKTERAN UNIVERSITAS LAMPUNG
Publisher : Fakultas Kedokteran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23960/jkunila7125-36

Abstract

Latar Belakang. Sindrom koroner akut merupakan penyakit utama penyebab kematian di dunia. Infark miokardium akut dengan elevasi segmen ST merupakan salah satu SKA yang banyak menimbulkan kematian. Tatalaksana reperfusidengan IKP primer sesuai dengan onset nyeri dada menjadi tatalaksana utama untuk menurunkan morbiditas danmortalitas. Kasus. Pasien laki-laki 62 tahun dengan diagnosis IMA-EST anterior onset lebih dari 48 jam berdasarkan keluhan nyeri dada khas angina dan sesak nafas. Pada pemeriksaan EKG didapatkan irama sinus, frekuensi 120 x/menit, dengan aksisnormal, terdapat elevasi segmen ST pada lead V1-V4 dan Q patologis pada lead V1-V3 serta terdapat peningkatan enzim hs-Troponin I. Pasien didapatkan kondisi infeksi paru dan terjadi perbaikan selama perawatan di bangsal. Pasien tidakdilakukan reperfusi karena menurut rekomendasi pada pasien IMA-EST onset lebih dari 48 jam rekomendasi III untuk dilakukan reperfusi. Pasien diterapi dengan pemberian vasodilator, penyekat beta, statin, heparinisasi dan kontrolkomorbid infeksi pada pasien merupakan tatalaksana lanjutan pada pasien di bangsal perawatan jantung. Pasien dirawat selama 7 hari di RS dan didapatkan perbaikan klinis. Pasien dilakukan 6MWT sebagai dasar penilaian untukaktivitas fisik pasien di rumah. Aktivitas fisik pasca SKA sangat diperlukan untuk memperbaiki luaran klinis, menurunkan angka mortalitas dan rehospitalisasi dan mencegah kejadian reinfark pada pasien di kemudian hari. Tes viabilitasjantung diperlukan untuk mengetahui apakah didapatkan perbaikan fungsi mikardium bila dilakukan reperfusi. Pada pasien direncanakan untuk tes viabilitas dengan menggunakan DSE.Kesimpulan.  Pasien dengan diagnosis IMA-EST onset lebih dari 48 jam tanpa ada keluhan nyeri dada, hemodinamik stabil dan tidak ada kelainan irama jantung yang mengancam jiwa tidak direkomendasikan untuk dilakukan reperfusi. Kata kunci: Infark miokardium akut dengan elevasi segmen ST, onset 48 jam, Repefusi
Potensi Rambut Jagung (Zea mays L.) sebagai Antibiotik Alami Siti Khalimatus Sa&#039;diah; Rasmi Zakiah oktarlina; Femmy Andrifianie; Andi Nafisah Tendri Ajeng Malarangeng
Jurnal Kedokteran Universitas Lampung Vol 7, No 1 (2023): JURNAL KEDOKTERAN UNIVERSITAS LAMPUNG
Publisher : Fakultas Kedokteran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23960/jkunila711-3

Abstract

Resistensi antibiotik dalam kehidupan saat ini menjadi masalah utama kesehatan pada abad ke-21 yang mengancam pencegahan maupun pengobatan yang efektif. Setiap tahunnya, terdapat 700 ribu kasus kematian yang diakibatkan olehresistensi antibiotik dan diperkirakan akan meningkat pada tahun 2050 menjadi 10 juta jiwa di dunia. Hal yang perlu diperhatikan dalam terapi antibiotik adalah keamanan penggunaan antibiotik dalam menghambat pertumbuhan bakteri,namun tidak akan membahayakan inang manusia. Salah satu upaya yang dilakukan untuk mencegah risiko terjadinya resistensi antibiotik adalah dengan menggunakan antibiotik alami. Rambut jagung dapat digunakan sebagai antibakteridikarenakan adanya kandungan senyawa golongan fenolik, flavonoid, saponin, steroid, dan alkaloid. Aktivitas antibakteri pada rambut jagung dibuktikan dengan kemampuannya dalam menghambat bakteri Streptococcus mutans danPorphyromonas gingivalis, Bacillus cereus, B. subtilis, Staphylococcus aureus, Pseudomonas aeruginosa, Shigella sonnei, S. flexneri, Proteus vulgaris, P. mirabilis, Enterobacter aerogenes, Salmonella typhi, S. paratyphi, dan E. coli yang telah diujikan dengan beberapa pelarut seperti etanol, metanol, kloroform, etil asetat, dan petroleum eter. Beberapa penelitian menunjukkan hasil positif yaitu adanya aktivitas antibakteri pada ekstrak rambut jagung, sehingga rambut jagung dapatdigunakan sebagai alternatif pengobatan bakteri (antibiotik alami) pada pengobatan berbasis herbal yang mampu menghindari resistensi obat ganda (multiple drug), efek samping dan munculnya organisme resisten obat ganda (multipledrug).Kata Kunci: antibakteri, antibiotik, rambut jagung, resistensi
Kejadian Drug Induced Renal Disease pada Pasien Pediatri Ervina Damayanti; Afriyani Afriyani; Femmy Andrifianie; Suryadi Islami; Ergidona Nurizqi; Syiffatulhaya Syiffatulhaya; Winda Winda; Luhut Uji Arto Naenggolan; Natasya Karren Zeta
Jurnal Kedokteran Universitas Lampung Vol 7, No 1 (2023): JURNAL KEDOKTERAN UNIVERSITAS LAMPUNG
Publisher : Fakultas Kedokteran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23960/jkunila7137-42

Abstract

Drug induced renal disease adalah penyakit ginjal yang diinduksi oleh obat – obatan. Beberapa obat-obatan dapat menyebabkan gagal ginjal akut, obstruksi intrarenal, nefritis interstitial, sindrom nefrotik serta gangguan kesetimbangan asam basa dan cairan elektrolit. Obat-obatan seperti antimikroba, obat antiinflamasi non steroid (OAINS) dan agen kemoterapi dapat menginduksi terjadinya gagal ginjal pada anak – anak. Artikel ini akan membahas lebih lanjut terkait informasi mengenai kejadian dan mekanisme drug-induced renal disease yang penting diketahui untuk mencegah kejadian gagal ginjal pada anak - anak. Penelusuran artikel ilmiah dilakukan melalui database elektronik dari berbagai terbitan jurnal nasional maupun internasional seperti PubMed/MEDLINE, EMBASE, EBSCO, Scopus, Cochrane Central Register of Controlled Trials, dan database pencarian Google Scholardengan kata kunci seperti obat induksi, gagal ginjal, nefrotoksisitas, dan anak-anak. Sumber data yang digunakan adalah hasil publikasi dari tahun 2013 sampai 2022.Berdasarkan hasil reviu dari 25 artikel, didapatkan bahwa kejadian gagal ginjal pada anak dapat disebabkan oleh beberapa obat-obatan seperti antimikroba (aminoglikosida dan amfoterisin B), obat antiinflamasi non steroid (OAINS) dan agen kemoterapi (ifosfamid, sisplatin dan metotreksat). Kerusakan ginjal yang diinduksi oleh obat biasanya melibatkan sel-sel tubular ginjal karena sebagian besar berada pada kondisi hipoksia untuk mengatasi kebutuhan metabolisme yang tinggi yang diperlukan dalam proses reabsorpsi elektrolit dan mengendalikan hidrasi.Kata Kunci: gagal ginjal, nefrotoksisitas, induksi obat, pediatri