cover
Contact Name
Rido Latuheru
Contact Email
latuheru.rido@gmail.com
Phone
+6285243060741
Journal Mail Official
latuheru.rido@gmail.com
Editorial Address
Jalan Ot Pattimaipauw, Kampus UKIM, Kota Ambon
Location
Kota ambon,
Maluku
INDONESIA
Jurnal Badati
ISSN : 19075340     EISSN : 27223248     DOI : https://doi.org/10.38012/jb.v2i1
Core Subject : Education, Social,
JURNAL BADATI diterbitkan oleh Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, Universitas Kristen Indonesia Maluku. KATA BADATI adalah sebuah nama yang berasal dari kosa-kata bahasa daerah Maluku Tengah, tepatnya masyarakat Ambon dan Lease. Badati, secara singkat, adalah suatu suasana yang tumbuh dan terpelihara bergenerasi dalam keseharian aktivitas bersama secara kekeluargaan di mana setiap orang atau keluarga, baik dalam pendekatan orang per orang, keluarga (baik dalam garis lurus atau menyimpang), atau anak negeri/masyarakat dalam satu negeri/desa, menunjukkan kepeduliannya untuk turut menanggung suatu beban (biasanya secara material) bersama yang sebelumnya tidak bisa ditanggung oleh seseorang atau suatu keluarga. Pilihan nama BADATI mengandung makna filosofi, yakni menunjuk pada upaya untuk mencerdaskan dan memberdayakan orang demi kesejahteraannya (individu, kelompok dan masyarakat) melalui pikiran-pikiran dari hasil penelitian kajian teoritik tidak dapat dilakukan secara sendiri-sendiri tanpa bekerja bersama dengan melibatkan pihak lain sebagai sistem sumber (Jejaring). Di dalam prinsip bekerja bersama itu, secara esensial, bertujuan untuk memandirikan orang (individu, kelompok dan masyarakat) sebagai subyek dengan menggali dan memaksimalkan potensi yang dimilikinya secara bermartabat. BADATI memiliki nomor ISSN 1907-5340 (cetak) diterbitkan secara cetak sejak tahun 2007 dan pada tahun 2019 Jurnal Badati diterbitkan secara online sejak Volume 1 no 1 tahun 2019 dengan no ISSN 2722-3248 (online) oleh Fakultas Ilmu Sosial & Ilmu Politik sampai sekarang. Dengan tujuan untuk mempublikasikan hasil kajian ilmiah dan penelitian dalam bidang ilmu Sosial dan Humaniora. BADATI menerima tulisan berbentuk riset kuantitatif maupun kualitatif dari akademisi, praktisi, peneliti yang relevan dengan topik ilmu sosial dan humaniora. Artikel yang dikirimkan haruslah belum pernah atau tidak sedang dalam proses dimuat pada jurnal lainnya. Artikel yang masuk harus sesuai dengan petunjuk penulisan atau format yang telah ditetapkan. Editor akan menolak artikel yang tidak memenuhi persyaratan tanpa proses lebih lanjut. Artikel yang telah memenuhi persyaratan akan dinilai kelayakannya oleh reviewer melalui proses blind-review. BADATI terbit dua kali dalam satu tahun, April dan November.
Articles 273 Documents
Pengaruh Live Streaming Commerce Terhadap Impulse Buying di Tiktok Shop Susana Magdalena Welly Muskita; Marleen Muskita; Imanuel Braen Pattiapon; Rivalda Stevia Gaspersz
JURNAL BADATI Vol. 8 No. 1 (2026)
Publisher : Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pengaruh Live Streaming Commerce terhadap perilaku Impulse Buying (pembelian impulsif) pada pengguna platform TikTok Shop di Kota Sorong. Fenomena belanja melalui siaran langsung telah mengubah paradigma belanja masyarakat dari terencana menjadi spontan, terutama di wilayah yang sedang berkembang secara digital seperti Papua Barat Daya.Metode penelitian yang digunakan adalah pendekatan kuantitatif dengan desain kausalitas. Pengumpulan data dilakukan melalui kuesioner yang disebarkan kepada pengguna TikTok Shop di Kota Sorong. Teknik analisis data menggunakan uji hipotesis (uji-t) dan analisis koefisien determinasi untuk mengukur sejauh mana variabel independen menjelaskan variabel dependen. Hasil penelitian menunjukkan bahwa hipotesis diterima, yang berarti Live Streaming Commerce memiliki pengaruh yang positif dan signifikan terhadap Impulse Buying di TikTok Shop. Hal ini dibuktikan dengan nilai t-hitung sebesar 28,569, yang jauh lebih besar dari nilai t-tabel sebesar 1,673. Hasil pengujian koefisien determinasi menunjukkan bahwa variabel Live Streaming Commerce memberikan kontribusi sebesar 93,4% terhadap variasi perilaku impulse buying. Sementara itu, sisanya sebesar 6,6% dipengaruhi oleh variabel lain yang tidak dijelaskan dalam model penelitian ini. Tingginya pengaruh ini mengindikasikan bahwa elemen interaktivitas, informativitas, dan kehadiran sosial dalam sesi live di TikTok Shop merupakan pendorong utama keputusan belanja seketika bagi konsumen di Kota Sorong. Hasil ini diharapkan dapat menjadi rujukan bagi pelaku usaha di Sorong dalam mengoptimalkan strategi pemasaran digital berbasis live streaming.
BUDAYA ANAK HARTA DALAM MASYARAKAT ADAT Ervin Rumailay
JURNAL BADATI Vol. 8 No. 1 (2026)
Publisher : Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Masyarakat Maluku pada dasarnya merupakan masyarakat adat yang senantiasa memelihara dan menerapkan adat istiadat dalam kehidupan sehari-hari, yang diwariskan secara turun-temurun hingga saat ini. Bagi masyarakat Maluku, adat berfungsi sebagai sarana kontrol sosial, di mana tindakan yang dianggap benar adalah tindakan yang selaras dengan tradisi. Salah satu adat yang masih hidup di tengah masyarakat Desa Rumalait, Maluku Tengah, adalah adat 'anak harta'. Istilah 'anak harta' merujuk pada anak pertama baik laki-laki maupun perempuan yang diserahkan oleh keluarga mempelai pria kepada keluarga mempelai wanita guna memenuhi ketentuan adat pernikahan. Masyarakat Desa Rumalait termasuk dalam kelompok masyarakat adat yang melestarikan tradisi sebagai pewaris adat istiadat leluhur mereka. Permasalahan terkait praktik 'anak harta' di Desa Rumalait saat ini adalah adanya ketidakpatuhan terhadap hukum adat, khususnya mengenai ketiadaan kesepakatan awal untuk menyerahkan anak pertama. Sebaliknya, mereka justru menyerahkan anak kedua, ketiga, dan seterusnya untuk berstatus sebagai 'anak harta', guna menggantikan posisi sang ibu yang berasal dari Desa Rumalait. Fenomena praktik 'anak harta' di Desa Rumalait, Kecamatan Teluk Elpaputih, Maluku Tengah ini menjadi objek kajian peneliti untuk memahami praktik-praktik yang berlaku dalam masyarakat adat tersebut. Penelitian ini bertujuan untuk menjelaskan praktik budaya 'anak harta' atau penyerahan 'anak harta' di Desa Rumalait, Maluku Tengah.
KOMUNIKASI PEMERINTAH DAERAH BERBASIS KANAL DIGITAL: ANTARA TRANSPARANSI DAN PERFORMATIVITAS Junus Kwelju
JURNAL BADATI Vol. 8 No. 1 (2026)
Publisher : Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Pemerintah daerah di Indonesia telah membangun perangkat kanal digital yang luas, namun hubungan antara pertumbuhan kanal dan keterbukaan yang substantif belum terjawab tuntas. Artikel ini mempersoalkan bagaimana komunikasi pemerintah daerah berbasis kanal digital terbentuk sebagai praktik komunikatif, serta pada kondisi seperti apa praktik tersebut bergeser dari menyampaikan transparansi menjadi memeragakannya. Penelitian menggunakan desain kualitatif yang memadukan sintesis literatur sistematis dengan analisis dokumen kebijakan dan data resmi atas korpus tujuh belas sumber yang dihimpun secara purposif: dua belas studi bersaksama sejawat terbitan 2010-2025 serta lima instrumen kebijakan dan laporan pengukuran resmi terbitan 2008-2026. Analisis tematik mengikuti model interaktif Miles, Huberman, dan Saldana, disertai triangulasi sumber dan jejak audit yang eksplisit. Lima temuan mengemuka. Pertama, terdapat asimetri antara kapasitas produksi konten dan kapasitas merespons: kanal digital tumbuh sebagai infrastruktur publikasi sementara perangkat penutup lingkar umpan balik warga tetap tipis. Kedua, indeks kematangan dan indeks keterbukaan bergerak berlawanan arah, yang menandakan kepatuhan formal dapat menanjak tanpa disertai kenaikan keterpakaian informasi yang dirasakan publik. Ketiga, kanal institusional makin dipersonalisasi di sekitar figur kepala daerah, sehingga instrumen akuntabilitas berubah menjadi panggung reproduksi citra. Keempat, metrik keterlibatan diadopsi sebagai proksi kinerja komunikasi, sehingga keberhasilan teatrikal menjadi terukur sementara keresponsifan substantif tetap tak terukur. Kelima, di wilayah kepulauan ongkos performativitas berlipat, karena sebagian warga secara struktural absen dari kanal tempat keterbukaan itu dipentaskan. Artikel ini mengajukan model Transparansi Substantif Kepulauan yang bertumpu pada empat pilar: aktabilitas informasi, resiprositas terjadwal, verifikasi silang luring-daring melalui pranata pewartaan adat, serta tata kelola metrik. Kontribusinya terletak pada pembingkaian ulang transparansi pemerintah daerah sebagai kewajiban komunikatif yang harus dituntaskan, bukan sebagai volume konten yang harus diterbitkan.
KOMUNIKASI PUBLIK DIGITAL DAN IMPLEMENTASI KEBIJAKAN PERAN TIK DALAM MENINGKATKAN TRANSPARANSI DAN AKUNTABILITAS PEMERINTAH Samson Laurens; Rido Latuheru
JURNAL BADATI Vol. 8 No. 1 (2026)
Publisher : Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Artikel ini mengkaji peran Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK) dalam memperkuat transparansi dan akuntabilitas pemerintah melalui komunikasi publik digital dan implementasi kebijakan. Penelitian ini menggunakan pendekatan analisis literatur komprehensif untuk mengidentifikasi bagaimana inovasi TIK, termasuk e-government dan media sosial, telah mengubah komunikasi antara pemerintah dan warga negara. Temuan menunjukkan bahwa implementasi TIK yang efektif dapat meningkatkan transparansi informasi, partisipasi publik, dan akuntabilitas dalam tata kelola pemerintahan. Namun, penelitian juga mengidentifikasi tantangan signifikan termasuk kesenjangan digital, keterbatasan infrastruktur, dan kurangnya kerangka hukum yang komprehensif. Artikel ini memberikan perspektif teoretis dan praktis yang dapat membantu pengambil kebijakan dalam mengembangkan strategi komunikasi publik digital dan implementasi TIK yang efektif untuk meningkatkan transparansi dan akuntabilitas pemerintah.
STRATEGI KOMUNIKASI PENYULUH AGAMA DAN DAMPAKNYA BAGI KARAKTER ANAK BINAAN DI LEMBAGA PEMBINAAN KHUSUS ANAK KELAS II DI AMBON Frity Christin Talle; Amelia Tahitu; Demsy Wattimena
JURNAL BADATI Vol. 8 No. 1 (2026)
Publisher : Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui dan menganalisis strategi komunikasi penyuluh agama serta dampaknya terhadap pembinaan karakter anak binaan di Lembaga Pembinaan Khusus Anak (LPKA) Kelas II Ambon. Latar belakang penelitian ini didasari oleh meningkatnya jumlah anak yang berhadapan dengan hukum. Penelitian ini menggunakan metode kuantitatif dengan teknik pengumpulan data melalui kuesioner yang disebarkan kepada 39 responden yang merupakan seluruh populasi anak binaan (total sampling). Analisis data dilakukan menggunakan uji validitas, reliabilitas, uji normalitas, regresi linear sederhana, uji t, uji F, dan koefisien determinasi dengan bantuan program SPSS. Hasil penelitian menunjukkan bahwa seluruh item pernyataan dinyatakan valid dan reliabel. Selain itu, hasil analisis regresi linear sederhana menunjukkan bahwa strategi komunikasi penyuluh agama memiliki pengaruh positif dan signifikan terhadap karakter anak binaan. Hal ini dibuktikan melalui uji t dan uji F yang menunjukkan nilai signifikansi < 0,05, sehingga hipotesis alternatif (Ha) diterima. Dengan demikian, semakin baik strategi komunikasi yang digunakan oleh penyuluh agama, maka semakin baik pula pembentukan karakter anak binaan, yang meliputi kesadaran moral, tanggung jawab pribadi, dan kesiapan untuk kembali ke masyarakat. Penelitian ini menyimpulkan bahwa strategi komunikasi yang bersifat persuasif, empatik, dan dialogis sangat efektif dalam proses pembinaan karakter anak binaan. Oleh karena itu, penyuluh agama diharapkan dapat terus mengembangkan strategi komunikasi yang adaptif dan sesuai dengan kondisi psikologis anak binaan guna mendukung proses rehabilitasi yang lebih optimal.
Simbol dan Narasi Lokal: Public Relations Pembentuk Ekuitas Merek Destinasi Maluku Marleen Muskita; Vitalona Crysantini Paays; Chriselda Erina Dewi Winarto
JURNAL BADATI Vol. 8 No. 1 (2026)
Publisher : Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Maluku memiliki persediaan simbol budaya yang luar biasa padat, namun provinsi ini belum berhasil mengonversi kekayaan simbolik tersebut menjadi nilai yang bertahan bagi merek destinasinya. Artikel ini mempersoalkan bagaimana simbol dan narasi lokal digerakkan di dalam praktik kehumasan daerah, serta pada kondisi seperti apa penggerakan itu menghasilkan ekuitas merek destinasi alih-alih sekadar pameran simbolik. Penelitian menggunakan desain kualitatif yang memadukan sintesis literatur sistematis dengan analisis dokumen atas korpus dua puluh dua sumber yang dihimpun secara purposif: lima belas studi bersaksama sejawat terbitan 1973-2025 serta tujuh instrumen kebijakan, rilis statistik resmi, dan rekaman kelembagaan terbitan 2009-2026. Analisis tematik mengikuti model interaktif Miles, Huberman, dan Saldana, dengan triangulasi sumber dan jejak audit yang eksplisit. Lima temuan mengemuka. Pertama, simbol lokal beredar terutama sebagai atribut promosi, bukan sebagai janji merek yang dapat ditagih oleh pengunjung. Kedua, rantai ekuitas terputus antara kesadaran dan kualitas: pengakuan internasional menaikkan keterkenalan destinasi tanpa menggerakkan indikator mutu pengalaman maupun kesetiaan. Ketiga, narasi lokal diproduksi tanpa penuturnya, sehingga komunitas adat ditempatkan sebagai objek representasi alih-alih sebagai penulis bersama, dan destinasi terpapar risiko keaslian yang dipanggungkan serta komodifikasi. Keempat, kehumasan daerah secara kelembagaan diletakkan sebagai fungsi publisitas, bukan fungsi relasi, sehingga tidak tersedia mekanisme tata kelola merek bersama. Kelima, struktur kepulauan melipatgandakan ongkos inkoherensi, karena tiap kabupaten membangun sub-merek tanpa arsitektur merek payung. Artikel ini mengajukan model Kehumasan Identitas Berbasis Pranata Adat yang bertumpu pada empat pilar: kedaulatan narasi, penerjemahan simbol menjadi janji layanan yang dapat diverifikasi, pranata pewartaan adat sebagai kanal relasi, serta arsitektur merek kepulauan dengan metrik berbasis ekuitas. Kontribusinya terletak pada pembingkaian ulang identitas budaya sebagai aset relasional yang ditatakelola, bukan sebagai ornamen promosi.
KEBERLANJUTAN MEDIA LOKAL DI TENGAH KONVERGENSI: STRATEGI KOMUNIKASI ORGANISASI NEWSROOM DAERAH DALAM MODEL BISNIS BARU Demsy Wattimena
JURNAL BADATI Vol. 8 No. 1 (2026)
Publisher : Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Media lokal di Indonesia terjepit antara basis pendapatan warisan yang runtuh dan agenda konvergensi yang tidak dapat ditunda. Artikel ini mempersoalkan bagaimana ruang redaksi daerah menerjemahkan konvergensi menjadi strategi komunikasi organisasi yang mampu menopang model bisnis yang berkelanjutan, serta bentuk apa yang diambil strategi tersebut di provinsi kepulauan seperti Maluku. Penelitian menggunakan desain kualitatif yang memadukan sintesis literatur sistematis dengan analisis dokumen kebijakan atas korpus dua belas sumber yang dihimpun secara purposif: delapan studi bersaksama sejawat mengenai ruang redaksi media lokal dan regional Indonesia terbitan 2017-2024, serta empat dokumen kebijakan dan industri terbitan 2024-2026. Analisis tematik mengikuti model interaktif Miles, Huberman, dan Saldana, disertai triangulasi sumber dan jejak audit yang eksplisit. Lima temuan mengemuka. Pertama, kedalaman konvergensi ruang redaksi tidak berbanding lurus dengan skala organisasi media; sebuah koran kabupaten justru mengoperasikan redaksi terintegrasi penuh sementara kelompok media regional yang lebih besar bertahan pada tahap lintas media. Kedua, diversifikasi multiplatform berfungsi terutama sebagai perangkat efisiensi biaya, bukan sebagai pembangkit pendapatan. Ketiga, hibridisasi redaksional- komersial bekerja sebagai mekanisme bertahan yang dinegosiasikan, bukan penyerahan norma profesional secara menyeluruh. Keempat, ongkos terberat konvergensi ditanggung di ruang internal, berupa intensifikasi beban kerja dan pengikisan sekat redaksi. Kelima, ketergantungan struktural pada platform digital bertahan meskipun telah ada intervensi regulasi. Artikel ini mengajukan model Konvergensi Adaptif Kepulauan yang bertumpu pada empat pilar: kedekatan kultural, hibriditas terkelola, efisiensi multiplatform, dan tata kelola transparansi. Kontribusinya terletak pada pembingkaian ulang konvergensi sebagai praktik komunikatif pemaknaan organisasi, bukan sekadar peningkatan teknologi.
KOMUNIKASI DIGITAL SP4N–LAPOR DALAM PERSPEKTIF KESEJAHTERAAN SOSIAL (STUDI KASUS KOTA AMBON) Hobarth Williams Soselisa
JURNAL BADATI Vol. 8 No. 1 (2026)
Publisher : Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Artikel ini menganalisis peran komunikasi digital melalui Sistem Pengelolaan Pengaduan Pelayanan Publik Nasional – Layanan Aspirasi dan Pengaduan Online Rakyat (SP4N–LAPOR) dalam mewujudkan kesejahteraan sosial, dengan fokus pada praktik pengelolaan pengaduan di Kota Ambon sebagai salah satu role model di Provinsi Maluku. Dengan menggunakan pendekatan kualitatif studi kasus, data dikumpulkan melalui studi dokumentasi, wawancara mendalam, dan analisis konten laporan pengaduan yang terkait pelayanan dasar dan perlindungan sosial. Temuan menunjukkan bahwa SP4N–LAPOR memperkuat transparansi, akuntabilitas, dan responsivitas pelayanan publik, serta memberikan kanal formal bagi warga untuk mengoreksi layanan yang menghambat pemenuhan hak-hak kesejahteraan sosial. Namun, pemanfaatan data pengaduan sebagai dasar kebijakan kesejahteraan sosial masih cenderung bersifat evaluatif-operasional dan belum sepenuhnya terintegrasi ke dalam perencanaan program secara struktural. Artikel ini merekomendasikan penguatan inklusivitas akses, integrasi data pengaduan ke siklus kebijakan, dan peningkatan kapasitas kelembagaan di Kota Ambon untuk memaksimalkan fungsi SP4N–LAPOR dalam sistem kesejahteraan sosial lokal.
Employee Advocacy sebagai Strategi PR Internal: Efektivitas Karyawan sebagai Juru Bicara Organisasi di Media Sosial Rido Latuheru; Jason Yoses Tomasoa
JURNAL BADATI Vol. 8 No. 1 (2026)
Publisher : Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Pemberi kerja masih menjadi lembaga yang paling dipercaya di dunia, dan karyawan mereka adalah suara paling kredibel yang mereka miliki, namun organisasi terus menyalurkan komunikasi publiknya melalui kanal korporat yang justru paling kurang dipercaya. Artikel ini mempersoalkan bagaimana employee advocacy bekerja sebagai strategi kehumasan internal, serta pada kondisi seperti apa karyawan menjadi juru bicara organisasi yang efektif di media sosial alih-alih menjadi beban reputasi. Penelitian menggunakan desain kualitatif yang memadukan sintesis literatur sistematis dengan analisis dokumen atas korpus dua puluh delapan sumber yang dihimpun secara purposif: dua puluh satu studi bersaksama sejawat terbitan 1984-2026 serta tujuh laporan industri, rilis statistik, dan rujukan metodologis terbitan 1985-2026. Analisis tematik mengikuti kerangka enam langkah Braun dan Clarke, dengan triangulasi sumber dan jejak audit yang eksplisit. Lima temuan mengemuka. Pertama, organisasi memperlakukan advokasi sebagai kanal distribusi sementara literatur menempatkan sumber kausalnya pada mutu hubungan karyawan-organisasi, sehingga program mengoptimalkan variabel yang keliru. Kedua, kredibilitas karyawan tidak dapat dipindahtangankan: begitu konten advokasi diskripkan, dijadwalkan, dan dikorporatisasi, otentisitas yang menjadi alasan keberadaan program itu justru musnah, dan lahirlah paradoks otentisitas. Ketiga, megafon bekerja dua arah, dan komunikasi eksternal yang positif maupun negatif berakar pada satu sumber relasional yang sama, sehingga memanen sisi positif tanpa memperbaiki sisi negatif memperbesar keterpaparan, bukan reputasi. Keempat, motif advokasi berbeda menurut platform dan menurut arsitektur platform nasional, sehingga model advokasi yang diturunkan dari LinkedIn sukar dipindahkan ke Indonesia, tempat aplikasi perpesanan mendominasi dan jejaring profesional hanya menjangkau segmen sempit. Kelima, tata kelola bersifat defensif dan pengukuran bersifat jangkauan, sehingga organisasi memiliki larangan alih-alih kapasitas, dan memiliki tayangan alih-alih indikator relasional. Artikel ini mengajukan model Advokasi Karyawan Berbasis Relasi yang bertumpu pada empat pilar: prasyarat relasional, kedaulatan suara, tata kelola yang memampukan, serta metrik berbasis kepercayaan. Kontribusinya terletak pada pembingkaian ulang employee advocacy sebagai capaian relasional yang ditatakelola, bukan sebagai taktik penggandaan jangkauan berbiaya murah.
DUKUNGAN SOSIAL KAMPUS DAN INTENSI PUTUS KULIAH: STUDI SOSIO-PSIKOLOGIS PADA MAHASISWA TAHUN PERTAMA DALAM INTERVENSI KRISIS Costantinus Sahanaya; Costansa Glory Lessil
JURNAL BADATI Vol. 8 No. 1 (2026)
Publisher : Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Tahun pertama perkuliahan merupakan periode paling rentan bagi terbentuknya niat meninggalkan studi, namun perhatian institusional di Indonesia masih lebih banyak diarahkan pada penanganan administratif setelah mahasiswa dinyatakan putus kuliah. Penelitian ini bertujuan menganalisis hubungan dukungan sosial kampus dengan intensi putus kuliah pada mahasiswa tahun pertama, serta merumuskan implikasinya bagi penyelenggaraan intervensi krisis di perguruan tinggi. Penelitian menggunakan pendekatan campuran (mixed methods) dengan desain sekuensial eksplanatoris. Tahap kuantitatif melibatkan 214 mahasiswa tahun pertama Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Kristen Indonesia Maluku yang dipilih melalui proportionate stratified random sampling, dengan instrumen adaptasi Multidimensional Scale of Perceived Social Support, Skala Dukungan Sosial Kampus, Skala Rasa Memiliki Institusional, dan Skala Intensi Putus Kuliah. Tahap kualitatif dilakukan melalui wawancara mendalam terhadap 18 informan dan dianalisis secara tematik. Hasil penelitian menunjukkan bahwa dukungan sosial kampus berhubungan negatif secara signifikan dengan intensi putus kuliah, dan pengaruhnya sebagian dimediasi oleh rasa memiliki institusional. Dukungan yang bersumber dari dosen pembimbing akademik dan teman sebaya terbukti lebih kuat memprediksi rendahnya intensi putus kuliah dibandingkan dukungan keluarga. Temuan kualitatif memperlihatkan bahwa krisis mahasiswa tahun pertama umumnya bersifat majemuk, muncul mendadak, dan ditangani secara improvisatif karena kampus belum memiliki kanal krisis yang terstruktur. Penelitian ini menawarkan model intervensi krisis kampus berlapis yang mengintegrasikan deteksi dini, respons cepat, pendampingan, dan rujukan, serta memanfaatkan modal sosial kolektif masyarakat Maluku sebagai basis dukungan sebaya yang berkelanjutan.