cover
Contact Name
Hendi Hidayat
Contact Email
hendihidayat@stit-buntetpesantren.ac.id
Phone
+6285224368212
Journal Mail Official
tsaqafatuna@stit-buntetpesantren.ac.id
Editorial Address
Jl. YLPI Buntet Pesantren Desa Mertapadakulon Kecamatan Astanajapura Kabupaten Cirebon
Location
Kab. cirebon,
Jawa barat
INDONESIA
Tsaqafatuna: Jurnal Ilmu Pendidikan Islam
ISSN : 26545322     EISSN : 26545330     DOI : https://doi.org/10.54213
Jurnal ilmiah berkala terbuka yang dikelola oleh STIT Buntet Pesantren Cirebon. Jurnal ini memuat artikel-artikel ilmiah terseleksi dengan frekuensi penerbitan 2 kali setahun yaitu bulan Mei dan Oktober. Fokus kajian bertemakan pendidikan agama islam dari beragam aspek, baik metode dan teknik pembelajaran, media dan desain pembelajaran, materi dan kurikulum pembelajaran pendidikan agama islam, Manajemen Pendidikan Islam, serta Psikologi Pendidikan Islam.
Articles 141 Documents
Identifikasi Miskonsepsi Peserta Didik pada Materi Kalimat Thayyibah Masyaallah dan Subhanallah Kelas IV MI Bustanul Ulum Badas Sumobito Jombang: Miskonsepsi, Kalimat Thayyibah, Masya Allah, Subhanallah Nur Atiqoh, Amalia; Fathur Rofi'i; Abdul Natsir
TSAQAFATUNA : Jurnal Ilmu Pendidikan Islam Vol. 6 No. 2 (2024): Strategi Pembelajaran Pendidikan Islam: Membangun Karakter dan Kompetensi Relig
Publisher : Sekolah Tinggi Ilmu Tarbiyah Buntet Pesantren Cirebon

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.54213/tsaqafatuna.v6i2.484

Abstract

Peneitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi Miskonsepsi Peserta Didik Pada Materi Kalimat Thayyibah Masyaallah Dan Subhanallah Kelas IV MI Bustanul Ulum Badas Sumobito Jombang. Adapun fokus penelitian ini yakni mengetahui jenis miskonsepsi peserta didik yang terjadi pada materi Kalimat Thayyibah Masyaallah dan Subhanallah di kelas 4 MI Bustanul Ulum Badas Sumobito Jombang serta mengetahui faktor penyebab terjadinya miskonsepsi peserta didik yang terjadi pada materi Kalimat Thayyibah Masyaallah dan Subhanallah di kelas 4 MI Bustanul Ulum Badas Sumobito Jombang. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan deskriptif dengan metode pengumpulan datamenggunakan metode observasi, wawancara, Three Tier Test, dan dokumentasi. Kemudian teknik analisis data dengan cara pengumpulan data, mereduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan. Hasil penelitian ini menunjukan bahwa, Jenis miskonsepsi peserta didik yang terjadi pada mata pelajaran Aqidah Akhlak materi Kalimat Thayyibah Masya Allah dan Subhanallah di kelas 4 MI Bustanul Ulum Badas adalah miskonsepsi False Negative sebesar (39,66%). Adapaun faktor penyebab terjadinya miskonsepsi berupa Reasoning atau penalaran peserta didik yang tidak lengkap dan Sumber pembelajaran berdasarkan buku paket Akidah Akhlak yang memiliki makna ganda dalam penggunaan kalimat Thayyibah Masya Allah dan Subhanallah.
Implementasi Budaya Religius Berorientasi pada Pola Pembelajaran Merdeka di SMPN 13 Malang Dwita, Feby; Mahira, Najwa Balqis; Firdausy, Rosalina
TSAQAFATUNA : Jurnal Ilmu Pendidikan Islam Vol. 6 No. 2 (2024): Strategi Pembelajaran Pendidikan Islam: Membangun Karakter dan Kompetensi Relig
Publisher : Sekolah Tinggi Ilmu Tarbiyah Buntet Pesantren Cirebon

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.54213/tsaqafatuna.v6i2.488

Abstract

Di SMPN 13 Malang mengadakan kegiatan keputrian, khususnya untuk siswa perempuan, untuk meningkatkan pengetahuan dan pemahaman siswa tentang masalah perempuan dan keterampilan perempuan. Wawancara, observasi, dan dokumentasi adalah metode pengumpulan data. Hasil penelitian menunjukkan bahwa koordinator perempuan berkomunikasi dengan pemateri tentang kesiapan guru perempuan, menetapkan bahan, dan mengatur jadwal. Kegiatan guru perempuan pertama menyampaikan informasi melalui pusat audio dan lokasi di setiap kelas. Guru kemudian membuka kegiatan dan menjelaskan materi atau materi. Siswa kemudian berlatih sesuai dengan penjelasan guru. Setelah plating selesai, guru menilai dan menentukan pemenang. Untuk menilai kegiatan keputrian, guru menggunakan alat evaluasi non-instrumen, yaitu pengamatan atau observasi yang dilakukan oleh guru untuk mengevaluasi tingkat pemahaman siswa dan perilaku terkait keterampilan sebelum dan sesudah.
Penerapan Budaya Malu Berbasis Nilai Kearifan Lokal di Sekolah SMP Negeri 13 Malang Guna Membangun Karakter Disiplin Siswa Lutnul Musthofa, Moch.Hafidhotul Mustofa; El-Wafie, Rayhan Syarif; Rahman , Zulyadi
TSAQAFATUNA : Jurnal Ilmu Pendidikan Islam Vol. 6 No. 2 (2024): Strategi Pembelajaran Pendidikan Islam: Membangun Karakter dan Kompetensi Relig
Publisher : Sekolah Tinggi Ilmu Tarbiyah Buntet Pesantren Cirebon

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.54213/tsaqafatuna.v6i2.489

Abstract

Kesadaran moral anak dan guru sangat penting dikembangkan dan dibudayakan sejak dini melalui penerapan budaya malu. Penelitian ini bertujuan untuk menggambarkan kondisi atau peristiwa berdasarkan persepsi dan pengalaman subjek penelitian mengenai budaya malu di SMPN 13 Malang. Penelitian ini menggunakan penelitian kualitatif deskriptif dengan pendekatan kajian kepustakaan. Teknik pengumpulan data menggunakan wawancara mendalam, observasi dan dokumentasi. Alat pengumpulan data adalah panduan wawancara rekaman suara dan dokumen. Analisis data menggunakan analisis fenomenologi. Subyek penelitian adalah siswa. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kedisiplinan siswa dan guru terpacu pada budaya malu yang ditanamkan dalam pembelajaran maupun melalui pembiasaan. Praktik budaya malu telah menumbuhkan aspek penting dalam diri siswa dan guru yakni karakter dapat membangun karakteristik disiplin disekolah. Agar karakter disiplin tumbuh dengan baik di sekolah maka diperlukan penerapan budaya malu yang terarah terhadap penguatan identitas personal dan sosial siswa secara moral.
Implementasi Pendidikan Budi Pekerti pada Sekolah di Surabaya: Studi Kasus SMPN 26 Surabaya Izzah, Syahrina Nurul; Iksan, Iksan
TSAQAFATUNA : Jurnal Ilmu Pendidikan Islam Vol. 6 No. 2 (2024): Strategi Pembelajaran Pendidikan Islam: Membangun Karakter dan Kompetensi Relig
Publisher : Sekolah Tinggi Ilmu Tarbiyah Buntet Pesantren Cirebon

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.54213/tsaqafatuna.v6i2.500

Abstract

Penelitian ini menyelidiki pelaksanaan pendidikan karakter di SMPN 26 Surabaya, dengan fokus pada integrasinya ke dalam kegiatan sekolah dan kurikulum. Penelitian ini bertujuan untuk menggambarkan bentuk-bentuk pendidikan karakter, mengidentifikasi hambatan, dan mengusulkan solusi untuk meningkatkan efektivitasnya. Data dikumpulkan melalui metode kualitatif, termasuk pengamatan, wawancara, dan dokumentasi, yang melibatkan informan utama seperti kepala sekolah, guru, dan siswa dari kelas 7 hingga 9. Temuan mengungkapkan bahwa pendidikan karakter tertanam dalam berbagai kegiatan sekolah, seperti doa komunal, upacara bendera, dan program ekstrakurikuler, mempromosikan nilai-nilai seperti disiplin, rasa hormat, dan tanggung jawab sosial. Namun, tantangan muncul dari kedua faktor internal, seperti ketidakstabilan emosional siswa, dan pengaruh eksternal, seperti globalisasi dan lingkungan teman sebaya yang negatif . Untuk mengatasi masalah ini, penelitian ini menyarankan memberikan bimbingan, membina komunikasi yang baik antara orang tua dan sekolah, dan memastikan guru memodelkan perilaku positif. Pada akhirnya, penelitian menyimpulkan bahwa pendidikan karakter yang efektif di SMPN 26 Surabaya membutuhkan pendekatan holistik yang menggabungkan nilai-nilai moral ke dalam semua aspek kehidupan sekolah, sehingga membentuk karakter dan perilaku siswa secara positif.
Etika Politik dalam Perspektif Pendidikan Agama Islam Akmal Haris, Mohammad; Sapari, Sapari
TSAQAFATUNA : Jurnal Ilmu Pendidikan Islam Vol. 6 No. 2 (2024): Strategi Pembelajaran Pendidikan Islam: Membangun Karakter dan Kompetensi Relig
Publisher : Sekolah Tinggi Ilmu Tarbiyah Buntet Pesantren Cirebon

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.54213/tsaqafatuna.v6i2.501

Abstract

Tantangan yang sering dihadapi dalam menerapkan Pendidikan Agama Islam sebagai fondasi etika politik beberapa di antaranya adalah dualisme sistem pendidikan, di mana di beberapa negara, terdapat pemisahan antara pendidikan agama dan pendidikan umum, yang menyebabkan nilai-nilai agama Islam tidak selalu diintegrasikan dalam pendidikan politik. Kedua, pragmatisme politik, dalam praktik politik yang sering kali pragmatis, penerapan nilai-nilai etika agama Islam bisa menjadi tantangan, terutama ketika kekuasaan menjadi tujuan utama. Ketiga, globalisasi dan sekularisme, tantangan globalisasi dan sekularisme sering kali mendorong masyarakat untuk menjauh dari nilai-nilai agama Islam dalam kehidupan publik dan politik, sehingga Pendidikan Agama Islam perlu beradaptasi dengan konteks modern tanpa kehilangan esensinya. Kajian tentang etika politik dalam perspektif Pendidikan Agama Islam ini menggunakan pendekatan kualitatif. Pendekatan ini digunakan untuk memahami fenomena secara mendalam berdasarkan interpretasi dan makna yang terkandung dalam ajaran Islam serta penerapannya dalam konteks politik. Langkah-langkah umum dalam pendekatan kualitatif tersebut antara lain melalui kajian literatur, mengkaji secara mendalam sumber-sumber primer (Al-Qur’an dan Hadis) serta literatur sekunder (pendapat para ulama, buku, jurnal) tentang etika politik dalam Islam. Kemudian analisis isi (content analysis), menganalisis teks-teks ajaran agama Islam yang relevan dengan etika politik, seperti prinsip keadilan, amanah, syura, dan maslahat. Hasil kajian ini menyimpulkan bahwa Pendidikan Agama Islam merupakan landasan penting dalam pembentukan etika politik yang berkarakter dan bermoral. Melalui Pendidikan Agama Islam, individu dan masyarakat dibentuk untuk memahami nilai-nilai keadilan, kejujuran, tanggung jawab, dan amanah yang menjadi dasar dari politik yang beretika. Pendidikan Agama Islam tidak hanya membentuk pemimpin yang berintegritas, tetapi juga mendorong partisipasi politik yang sehat dan bertanggung jawab di kalangan masyarakat.
Peran Guru Akidah Akhlak dalam Menggunakan Metode Concept Mapping di Madrasah Ibtidaiah Fathurrahman Batang Tumu Kabupaten Indragiri Hilir Zulkifli, Zulkifli
TSAQAFATUNA : Jurnal Ilmu Pendidikan Islam Vol. 6 No. 2 (2024): Strategi Pembelajaran Pendidikan Islam: Membangun Karakter dan Kompetensi Relig
Publisher : Sekolah Tinggi Ilmu Tarbiyah Buntet Pesantren Cirebon

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.54213/tsaqafatuna.v6i2.505

Abstract

Metode concept mapping adalah metode yang diterapkan dalam proses pembelajaran pada mata pelajaran akidah akhlak, permasalahan dalam penelitian ini Peran Guru Akidah Akhlak dalam Menggunakan metode concept mapping di Madrasah Ibtidaiah Fathurrahman Batang Tumu Kabupaten Indragiri Hilir. Jenis penelitian ini adalah deskriptif kuantitatif, Data dikumpulkan dengan menggunakan teknik observasi, wawancara, dan dokumentasi, analisis data mengunaka Milles and Huberman. Realisasi metode concept mapping (peta konsep) pada mata Akidah Akhlak di Madrasah Ibtidaiah Fathurrahman Batang Tumu Kabupaten Indragiri Hilir, hasil observasi mencapai angka 72,22% dan dikategorikan baik, karena terletak pada interval 61% - 80%. Sedangkan hasil wawancara adalah sebagai berikut: Tujuan pembelajaran mencakup aspek kognitif, afektif, dan psikomotor. Kompleksitas pencapaian tujuan ditentukan oleh tingkat kesulitan materi. Kegiatan pembelajaran didukung dengan buku-buku sumber yang relevan.
Manajemen Inovasi Digital melalui Aplikasi SIMAPEL: : Transformasi Budaya Kerja Guru di MANU Putra Buntet Pesantren Wawan Shofwani; Dewi Shinta Nuriyah; Moh. Ali; Dewi Cahyani
TSAQAFATUNA : Jurnal Ilmu Pendidikan Islam Vol. 7 No. 1 (2025): Pendidikan Islam Berbasis Kritis, Kolaboratif, dan Kontekstual
Publisher : Sekolah Tinggi Ilmu Tarbiyah Buntet Pesantren Cirebon

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.54213/tsaqafatuna.v7i1.613

Abstract

The transformation of teachers' work culture has become one of the main challenges in the era of educational digitalization. Digital innovations based on management information systems (MIS) are believed to enhance work efficiency, discipline, and accountability in educational environments, including madrasahs. This study aims to explore how digital innovation management through the implementation of the Simapel application (Educational Service Management Information System) contributes to changes in the work culture of teachers at MANU Putra Buntet Pesantren. In this study, a qualitative approach with a case study design was used, involving research subjects consisting of teachers, the head of the madrasah, and Simapel application operators. Data were collected through in-depth interviews, observations, and documentation. Data analysis was conducted using the interactive model of Miles and Huberman, which includes data reduction, data presentation, and conclusion drawing. The research results indicate that the use of Simapel encourages a positive transformation in the teachers' work culture, particularly in terms of discipline, punctuality in reporting, more structured work communication, and increased digital literacy. Madrasah management plays an important role in initiating, directing, and facilitating this digital innovation process through policies, training, and ongoing evaluation. However, challenges such as initial resistance, technical limitations, and the need to adapt remain part of the transformation process. This study concludes that digital innovation management through Simapel not only serves as an administrative tool but also as a strategic instrument in shaping a professional work culture within the madrasah environment. This study recommends the need for broader system integration, strengthening user training, and sustainable policy support in the implementation of educational SIM.
Indikator Partisipasi Mahasiswa dalam Perencanaan Studi di Perguruan Tinggi Berdasarkan Perspektif Kesetaraan Gender: Penelitian di STAI Yapata Al-Jawami Bandung Oktaviani, Nia
TSAQAFATUNA : Jurnal Ilmu Pendidikan Islam Vol. 7 No. 1 (2025): Pendidikan Islam Berbasis Kritis, Kolaboratif, dan Kontekstual
Publisher : Sekolah Tinggi Ilmu Tarbiyah Buntet Pesantren Cirebon

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.54213/tsaqafatuna.v7i1.507

Abstract

The concept of gender refers to men and women in their roles, behaviors, activities, and socially constructed attributes. Fairness between the two will eliminate this difference. This study aims to analyze student participation in study planning in higher education based on several indicators: goals, motivation, basis, personal desires, reasons for choosing a study program, and expectations. This study uses a qualitative descriptive research method using a gender equality perspective and a focused group discussion (FGD) technique with thematic analysis to identify data according to the theme. The study results show differences between male and female students in terms of the purpose of continuing their studies, where female students aim more to get a diploma, while male students have more diverse goals, such as increasing knowledge or increasing religious knowledge. The main motivation for students is the demands of work and the desire to be successful, with additional motivation for female students to be good mothers. Most students' main basis for continuing their studies is improving their quality of life and the desire to practice knowledge. Most students are internally motivated to pursue higher education, indicating a strong personal drive without significant external influences. The choice of study program is based on the desire to become a professional, such as becoming a teacher for the PAI Study Program and deepening Islamic economic law for the HESy Study Program. Expectations after completing studies include the desire to become a useful individual in society, with male students tending to want to continue to the Masters level, while female students are more likely to work immediately. Active participation in this planning shows that clear motivation and goals are important indicators of the success of students' studies in higher education. Keywords: gender equity, study planning, higher education
Implementasi Metode Auzan dalam Membaca Kitab Taqrib di Pondok Pesantren Assalafie Babakan Ciwaringin Cirebon Syukron, Syukron Makmun; Mohammad Akmal Haris
TSAQAFATUNA : Jurnal Ilmu Pendidikan Islam Vol. 7 No. 1 (2025): Pendidikan Islam Berbasis Kritis, Kolaboratif, dan Kontekstual
Publisher : Sekolah Tinggi Ilmu Tarbiyah Buntet Pesantren Cirebon

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.54213/tsaqafatuna.v7i1.574

Abstract

Abstract The book of Taqrib is the first book for mubtadiin in understanding the science of fiqh, because the book of taqrib includes all the discussions studied in the science of fiqh, namely 'ubudiyah, mu'amalah, munakahat and jinayat. The purpose of this study was to implement the Auzan method in reading the book of taqrib, using descriptive qualitative research methods with case studies, data collection using interviews, observation and documentation. The result is that the Auzan method has three levels in reading and understanding the yellow book in this study focused on the taqrib book, namely the qiro'ah, tarjamah and insya levels with the characteristics of the tartibul masail, tamyizul masail and li qodri hajat approaches. And a student is enough with only 1 year to be able to read the yellow book, and the second year is able to understand it. Keywords: Auzan Method, Fiqh, Taqrib Book. Abstrak Kitab Taqrib merupakan kitab pertama bagi mubtadiin dalam memahami ilmu fiqih, karena kitab taqrib sudah mencakup semua pembahasan yang dikaji dalam ilmu fiqih, yakni ‘ubudiyah, mu’amalah, munakahat dan jinayat. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengimplementasikan metode Auzan dalam membaca kitab taqrib, dengan menggunakan metode penelitian deskriptif kualitatif dengan jenis studi kasus, pengumpulan data menggunakan wawancara, observasi dan dokumentasi. Yang menghasilkan bahwasannya metode Auzan mempunyai tiga tingkatan dalam membaca dan memahami kitab kuning dalam penelitian ini terfokus pada kitab taqrib, yakni tingkatan qiro’ah, tarjamah dan insya dengan karakteristik pendekatan tartibul masail, tamyizul masail dan li qodri hajat. Dan seorang santri cukup hanya dengan 1 tahun sudah mampu membaca kitab kuning, dan tahun ke 2 mampu untuk memahaminya. Kata Kunci: Metode Auzan, Fiqih, Kitab Taqrib.
Perkembangan Penalaran Moral Anak Laki-Laki dan Perempuan di Madrasah Ibtidaiyah Dhiya El Haq Cirebon Azis, Ahmad Azis Badruudin Abdussallam; Septi Gumiandari, Septi Gumiandari
TSAQAFATUNA : Jurnal Ilmu Pendidikan Islam Vol. 7 No. 1 (2025): Pendidikan Islam Berbasis Kritis, Kolaboratif, dan Kontekstual
Publisher : Sekolah Tinggi Ilmu Tarbiyah Buntet Pesantren Cirebon

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.54213/tsaqafatuna.v7i1.581

Abstract

AbstractMoral reasoning is a crucial aspect of character development among students, particularly at the elementary Islamic school level (madrasah ibtidaiyah). This study is motivated by indication of differences in the level of moral development between male and female students at MI Dhiya El Haq Cirebon, focusing on six key aspects: honesty, discipline, responsibility, politeness, empathy, and self-confidence. Employing a qualitative phenomenological approach, the study explores the dynamics of moral reasoning among fifth- and sixth-grade students. Data were collected through observation, interviews, and documentation. The findings indicate that both boys and girls generally exhibit moral reasoning at the pre-conventional to early conventional stages. Although they are at similar developmental levels, girls display greater stability in moral aspects, particularly honesty and social empathy. Similarities were found in the situational nature of moral behavior and the generally low levels of responsibility and confidence in expressing opinions. However, significant differences reveal that girls tend to be more morally independent, while boys remain more dependent on external guidance.