cover
Contact Name
Johan Winarni
Contact Email
jardik.jurnalakrab@gmail.com
Phone
+6281314950038
Journal Mail Official
jardik.jurnalakrab@gmail.com
Editorial Address
Jalan RS Fatmawati, Cipete Selatan, Cilandak, RT.6/RW.5, Cipete Sel., Kec. Cilandak, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12410 +62 21-7693262/7657156
Location
Kota adm. jakarta pusat,
Dki jakarta
INDONESIA
Jurnal Akrab (Aksara agar Berdaya)
ISSN : 25800795     EISSN : 27162648     DOI : -
Core Subject : Education,
JURNAL AKRAB (Aksara agar Berdaya) adalah jurnal untuk mempublikasikan tulisan ilmiah populer, hasil penelitian/pengkajian, dan pengembangan model pembelajaran di bidang pendidikan nonformal, khususnya pendidikan keaksaraan dan pengembangan budaya baca masyarakat. Pengguna Jurnal adalah tenaga fungsional dari unsur Perguruan Tinggi, UPT PAUD dan Dikmas. Sanggar Kegiatan Belajar, dan para praktisi pendidikan nonformal. Jurnal Akrab diterbitkan oleh Direktorat Pembinaan Pendidikan Keaksaraan dan Kesetaraan, Ditjen PAUD dan Dikmas, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan. Jurnal AKRAB menerima seluruh hasil penelitian dan pengembangan model pembelajaran meliputi bidang: Pendidikan keaksaraan dasar Pendidikan keaksaraan usaha mandiri Pendidikan multikeaksaraan Pengembangan budaya baca dan literasi masyarakat
Articles 224 Documents
KEAKSARAAN DASAR (KD) PADA KOMUNITAS ADAT TERPENCIL (KAT) Melalui Budaya Pasang Pada Komunitas Adat Suku Kajang Kabupaten Bulukumba, Sulawesi Selatan NFN Ridawati
Jurnal AKRAB Vol. 8 No. 2 (2017): Desember 2017
Publisher : Direktorat Pendidikan Masyarakat dan Pendidikan Khusus, Direktorat Jenderal PAUD, Pendidikan Dasar, dan Pendidikan Menengah

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51495/jurnalakrab.v8i2.156

Abstract

Fokus masalah adalah bagaimana keberhasilan penyelenggaraan pendidikan keaksaraan dasar melalui “Budaya Pasang”? Tujuannya adalah untuk mendeskripsikan keberhasilan KD KAT melalui pendekatan budaya Pasang. Penyelenggaraan KD KAT di Komunitas Adat Kajang menggunakan pendekatan kualitatif selama penyelenggaraan dilakukan observasi, wawancara dan tes pada awal pembelajaran, proses pembelajaran dan akhir pembelajaran dengan mengacu pada Standar Kompetensi Kelulusan (SKL) pendidikan keaksaraan Dasar. Pada proses pembelajaran tutor membelajarkan dengan tematema budaya Pasang yang mengatur pola kehidupan manusia secara holistik, pasang merupakan pesan yang dijunjung tinggi oleh masyarakat Adat Kajang sebagai tuntunan hidup menuntun manusia untuk berbuat baik meliputi: kejujuran (lambusu), kesabaran (Risabbara), ketegasan (Rigattan), kesederhanaan dan keikhlasn dalam hidup (Appisona). Hasil yang dicapai dalam penyelenggaraan KD KAT dengan pendekatan budaya “Pasang” sangat efektif dalam waktu 4 bulan warga belajar yang dibelajarkan sejumlah 100 orang dengan tutor 10 setelah dilakukan evaluasi oleh Dinas pendidikan yang dilaksanakan oleh penilik rata-rata sudah menguasai SKL keaksaraan Dasar atau sudah lulus dan mendapat SUKMA.
LITERASI BUDAYA DAN KEWARGAAN SEBAGAI ENKULTURASI MULTIKULTURALISME Agus Ramdani
Jurnal AKRAB Vol. 8 No. 2 (2017): Desember 2017
Publisher : Direktorat Pendidikan Masyarakat dan Pendidikan Khusus, Direktorat Jenderal PAUD, Pendidikan Dasar, dan Pendidikan Menengah

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51495/jurnalakrab.v8i2.157

Abstract

Indonesia yang secara konsepsional memiliki motto “Bhinneka Tunggal Ika” sebagai falsafah kehidupan bernegara, dapat dikategorikan ke yang realitas etnik dan budayanya heterogen serta menerima ide dan menerapkan kebijakan multikulturalisme, namun jika dilihat dalam implementasinya terutama zaman orde lama dan orde baru, cenderung pada uniformitas (keseragaman) budaya yang lebih menekankan pada aspek kesamaan yang mengakibatkan pengikisan secara kuantitas dan kualitas budaya lokal khususnya bahasa daerah yang makin mundur dan kehilangan daya gunanya secara pragmatik. Multikulturalisme sebetulnya sekarang ini sangat memungkinkan untuk berkembang terutama dengan berlakunya Undang-undang Otonomi Daerah. Sebab dalam multikulturalisme, menuntut pengembangan budaya lokal secara wajar serta tumbuhnya pemikiran yang sangat kaya dengan keunikan masing-masing budaya. Semua elemen itu tidak mungkin dapat diapresiasi dengan pendekatan terpusat (top down), melainkan hanya dengan mengembangkan pendekatan bottom up yang desentralistik. Melalui pengembangan literasi budaya dan kewargaan, diharapkan pemikiran pluralistik etnis, budaya, agama, seni, bahasa, dapat melakukan respons kreatif yang signifi kan dengan tuntutan transformasi masyarakat yang terjadi.
Deviasi Peran Dan Komunikasi Pengasuhan Dalam Keluarga Anak -Anak Marjinal (Kajian Lapangan pada Anak-Anak Pengamen Kota Cirebon) ATWAR BAJARI
Jurnal AKRAB Vol. 2 No. 2 (2011): Agustus 2011
Publisher : Direktorat Pendidikan Masyarakat dan Pendidikan Khusus, Direktorat Jenderal PAUD, Pendidikan Dasar, dan Pendidikan Menengah

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51495/jurnalakrab.v2i2.158

Abstract

Salah satu agenda penting Direktur Pembinaan Pendidikan Masyarakat dalam kurun 2010- 2014 adalah memperluas jangkauan layanan dan keberpihakan kepada masyarakat marjinal. Demikian juga halnya dengan parenting, program ini mesti diarahkan untuk menjangkau kelompok masyarakat marjinal ini. Persoalannya, kultur masyarakat marjinal (misalnya, cara mendefinisikan diri, pandangannya terhadap keluarga dan lingkungan, perilaku berkomunikasi, dan sebagainya) berbeda dengan kultur masyarakat pada umumnya. Sehingga, pola-pola parenting yang' berlaku umum sering tidak bisa diterapkan dengan mudah pada masyarakat marjinal ini. Dengan demikian, masyarakat marjinal membutuhkan pola-pola parenting yang unik dan sesuai dengan kulturnya. Tulisan ini mencoba mengupas kultur khas masyarakat marjinal tersebut pada anak-anak pengamen jalanan di Kota Cirebon. Tulisan ini berisi tentang bagaimana anak pengamen memaknai dirinya, memaknai perannya bagi keluarga dan lingkungan, serta pola komunikasi yang terjadi antara dirinya dengan keluarga, lingkungan, dan teman di jalanan. HasiL-hasil penelitian ini merekomendasikan beberapa syarat bagi keberhasilan program parenting pada masyarakat marjinal komunitas pengamen jalanan. Parenting, pada anak-anak ini, harus dibarengi dengan penguatan kecakapan keorangtuaan, peningkatan peran sekolah sebagai pendamping, dan perubaban cara pandang pemerintah terbadap mereka.
EFEKTIFITAS PENGGUNAAN TEMA SENI NASYID TERHADAP HASIL BELAJAR DI PENDIDIKAN MULTIKEAKSARAAN Sarwo Edy
Jurnal AKRAB Vol. 8 No. 2 (2017): Desember 2017
Publisher : Direktorat Pendidikan Masyarakat dan Pendidikan Khusus, Direktorat Jenderal PAUD, Pendidikan Dasar, dan Pendidikan Menengah

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51495/jurnalakrab.v8i2.163

Abstract

Pengkajian ini bertujuan untuk mendiskripsikan hasil belajar dipendidikan multikeaksaraan dengan tema seni nasyid sebagai keragaman keberaksaraan dalam pembelajaran di kelompok belajar Nurul Iman yang diselenggarakan PKBM Daarul Ishlah dikecamatan Batang Kuis Kabupaten Deli Serdang. Subjek pengkajian yakni 1 kelompok belajar multikeaksaraan yang berjumlah 15 peserta didik. Pengumpulan data mengunakan teknik observasi,tes tertulis dan studi dokumentasi untuk mendapatkan data standart pendidikan penyelengaraan program multikeaksaraan dan hasil belajar berupa kompetensi Calistung dan karya dalam bentuk bermain seni Nasyid. Analisis data dilakukan dengan analisis kuantitatip. Hasil kajian terhadap standar pendidikan penyelenggaraan program multikeaksaraan yang dijabarkan pada sembilan aspek dengan 30 butir sub aspek penilaian, pada akhir penyelenggaraan program diperoleh nilai 2635 dari nilai maksimal 3000, dengan nilai rata-ratanya 87,83 dengan kategori kesesuai dengan standar pendidikan sangat baik. Selanjutnya Hasil penilaian calistung diawal dengan rata-rata 54,69 dan penilaian akhir dengan rata-rata 67,41 dengan peningkatan nilai sebanyak rata-rata 12,67. Setelah dilakukan analisis dengan uji t metode wilcoxon dengan aplikasi SPSS didapat hasil penggunaan tema seni nasyid dalam pembelajaran multikeaksaraan efektif untuk diterapkan. Untuk penampilan karya dari sembilan kriteria penilaian didapat nilai 86,11 dengan berkategori baik . Berdasarkan hasil penilaian pada ketiga komponen diatas dapat disimpulkan bahwa penerapan tema seni nasyid dalam pembelajaran dapat meningkatkan hasil belajar di Pendidikan multikeaksaraan. Hal memberikan informasi bahwa bila standar penyelenggaraan program multikeaksaraan yang ditetapkan pada etiap aspek penyelenggaraan program multikeaksaraan dipenuhi dipastikan hasil pembelajaran yang diterapkan dilapangan dapat mencapai tujuan yang diharapkan.
PENGUATAN KEBERAKSARAAN PEREMPUAN SUKU DAYAK SIANG DI DESA BAHITOM MELALUI PENDEKATAN KETERAMPILAN Muhama Affandi
Jurnal AKRAB Vol. 8 No. 2 (2017): Desember 2017
Publisher : Direktorat Pendidikan Masyarakat dan Pendidikan Khusus, Direktorat Jenderal PAUD, Pendidikan Dasar, dan Pendidikan Menengah

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51495/jurnalakrab.v8i2.164

Abstract

Dewasa ini, keaksaraan dipandang sebagai hal yang sangat urgent dan bahkan menjadi salah satu tolak ukur kesejahteraan suatu negara melalui penilaian Human Development Index (HDI) yang dilakukan oleh UNDP. Untuk meningkatkan SDM tersebut tentunya perlu dilakukan bukan hanya pendidikan keaksaraan yang sekedar mendidik masyarakat mampu membaca, menulis dan berhitung, tetapi juga pendidikan keaksaraan untuk pengembangan kemampuan individu agar mampu mengatasi persoalan kehidupan. Perbedaan adat istiadat serta kebudayaan seringkali menjadi jurang pemisah antara pendidikan dan masyarakat. Perbedaan tingkat kesejahteraan serta kebiasaan leluhur setempat menjadi tantangan tersendiri dalam menurunkan angka buta aksara melalui pendidikan. Kondisi seperti itu seringkali dijumpai pada masyarakat adat terpencil. Adapun yang menjadi sasaran di wilayah tersebut ialah 20 orang perempuan usia produktif dengan rentang usia 15-59 tahun. Pendekatan yang digunakan ialah kualitatif dengan menggunakan pedoman wawancara, lembar observasi serta dokumentasi sebagai instrumen pengumpul datanya. Dalam menganalisis data, digunakan teknik reduksi, display serta penarikan kesimpulan. Berdasarkan pada hasil pengamatan serta analisis data di lapangan, diperoleh hasil bahwa: fl ash card bersifat efektif mengenalkan warga belajar pada huruf dan angka; Warga belajar juga mampu mengenal dengan cepat nama dari alat dan bahan yang diperlukan untuk membuat olahan nugget ikan maupun pembuatan bros. Adapun kelemahannya ialah tutor tidak menguasai dengan fasih bahasa Dayak Siang yang dijadikan bahasa ibu oleh warga desa Bahitom, sehingga perlu penerjemah pada beberapa konteks kalimat. Hal tersebut cukup menyita efesisensi waktu pembelajaran.
PENGEMBANGAN KECAKAPAN LITERASI BUDAYA MELALUI PROGRAM TELUSUR RESEP MASAKAN TRADISIONAL DAYAK Ety Ariani; NFN Amniah; NFN Elli
Jurnal AKRAB Vol. 8 No. 2 (2017): Desember 2017
Publisher : Direktorat Pendidikan Masyarakat dan Pendidikan Khusus, Direktorat Jenderal PAUD, Pendidikan Dasar, dan Pendidikan Menengah

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51495/jurnalakrab.v8i2.165

Abstract

Kondisi sosial masyarakat yang sebagian besar pendatang, tidak semuanya penduduk asli tanah Dayak, mendukung pelaksanaan program pendidikan multikeaksaraan yang berbasis pelestarian kearifan budaya lokal. Kegiatan pembelajaran ini bertujuan untuk mengembangkan kecakapan literasi budaya peserta didik disamping melestarikan keberaksaraan mereka. Penggalian resep masakan tradisional Dayak yang kebanyakan berasal dari bahasa tutur dikumpulkan sebagai bahan untuk kegiatan pembelajaran dan pada akhirnya dikompilasi sebagai kumpulan resep hasil karya peserta didik yang dapat dimanfaatkan untuk memperkaya bahan bacaan pada program pendidikan keaksaraan. Berdasarkan hasil analisis data diperoleh nilai rata-rata jawaban responden terhadap kelayakan model adalah 81,40 berada pada rentang nilai 84 – 82. Sehingga dapat dikategorikan bahwa Model Kecakapan Literasi Budaya Melalui Telusur Resep Masakan Tradisional Dayak pada Program Multikeaksaraan” layak untuk diterapkan. Hasil studi eksplorasi pada PKBM Berdikari dan PKBM Mawar Merah di Kabupaten Kapuas Provinsi Kalimantan Tengah menunjukkan warga masyarakat telah menyelesaikan pendidikan keaksaraan dasar. Kemelekaksaraan yang sudah mereka miliki perlu dipertahankan dan dilestarikan agar kemampuan keberaksaraan mereka tidak hilang atau buta aksara kembali. Untuk itulah diperlukan program keaksaraan lanjutan yang menjadi wadah bagi warga masyarakat untuk memelihara kemampuan keberaksaraan mereka.Melalui program ini mereka memiliki kemampuan baca-tulishitung yang bermanfaat bagi kehidupan mereka sehari-hari. Adanya Model Kecakapan Literasi Budaya Melalui Telusur Resep Masakan Tradisional Dayak pada pembelajaran multikeaksaraan dapat dijadikan panduan oleh pengelola dan pendidik dalam melaksanakan pembelajaran multikekasaraan. Pengelola dan pendidik dapat melaksanakan pembelajaran multikeaksaraan, karena pengelola dan pendidik memahami cara pembelajaran multikeaksaraan dengan pendekatan seni budaya.
MODEL PEMBELAJARAN MULTIKEAKSARAAN SADAR HUKUM DI KABUPATEN NGAWI JAWA TIMUR Udik Pudjianto
Jurnal AKRAB Vol. 8 No. 2 (2017): Desember 2017
Publisher : Direktorat Pendidikan Masyarakat dan Pendidikan Khusus, Direktorat Jenderal PAUD, Pendidikan Dasar, dan Pendidikan Menengah

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51495/jurnalakrab.v8i2.166

Abstract

Pembelajaran multikeaksaraan merupakan suatu kegiatan untuk mengembangkan kemampuan masyarakat dalam membaca, menulis, berhitung dan mengembangkan keterampilannya untuk meningkatkan kualitas hidup. Pengembangan model pembelajaran multikeaksaraan sadar hukum bertujuan (1)menemukan bentuk model pembelajaran sadar hukum yang sesuai dengan kebutuhan daerah dan sumber daya lokal. (2) mengembangkan perangkat pembelajaran multikeaksaraan sadar hukum yang sesuai kebutuhan daerah, (3) mengembangkan bahan ajar pembelajaran multikeaksaraan sadar hukum yang sesuai kebutuhan daerah. Lokasi pelaksanaan kegiatan pengembangan model ini adalah wilayah pinggiran hutan di kecamatan Bringin, kabupaten Ngawi provinsi Jawa Timur yang disana terdapat Pusat Kegiatan belajar Masyarakat (PKBM) Surya Jaya. Adapun hasil pengembangan model multikeaksaraan sadar hukun ini adalah (1) naskah model penyelenggaraan pembelajaran multikekasaraan sadar hukum yang sesuai kebutuhan daerah dan sumber daya lokal, (2)naskah bahan ajar pembelajaran multikekasaraan sadar hukum yang sesuai kebutuhan daerah dan sumber daya lokal. Hasil analisis penyelenggaraan ujicoba pembelajaran multikeaksaraan yaitu sebagai berikut [a] naskah model, nilai rata rata kemenarikan adalah 15,2, nilai rata rata kesesuaian 16,4, nilai rata rata kemudahan 14,3. [b] Hasil analisis ujicoba bahan ajar menunjukkan nilai rata rata ke-menarikan adalah 13,2, nilai rata rata kesesuaian 14,3, nilai rata rata kemudahan 10,42 dikategorikan mudah. [c] Hasil analisis ujicoba naskah panduan pembelajaran menunjukkan nilai rata rata kemenari-kan adalah 12,7, Pembelajaran multikeaksaraan merupakan suatu kegiatan untuk mengembangkan kemampuan masyarakat dalam membaca, menulis, berhitung dan mengembangkan keterampilannya untuk meningkatkan kualitas hidup. Pengembangan model pembelajaran multikeaksaraan sadar hukum bertujuan (1)menemukan bentuk model pembelajaran sadar hukum yang sesuai dengan kebutuhan daerah dan sumber daya lokal. (2) mengembangkan perangkat pembelajaran multikeaksaraan sadar hukum yang sesuai kebutuhan daerah, (3) mengembangkan bahan ajar pembelajaran multikeaksaraan sadar hukum yang sesuai kebutuhan daerah. Lokasi pelaksanaan kegiatan pengembangan model ini adalah wilayah pinggiran hutan di kecamatan Bringin, kabupaten Ngawi provinsi Jawa Timur yang disana terdapat Pusat Kegiatan belajar Masyarakat (PKBM) Surya Jaya. Adapun hasil pengembangan model multikeaksaraan sadar hukun ini adalah (1) naskah model penyelenggaraan pembelajaran multikekasaraan sadar hukum yang sesuai kebutuhan daerah dan sumber daya lokal, (2)naskah bahan ajar pembelajaran multikekasaraan sadar hukum yang sesuai kebutuhan daerah dan sumber daya lokal. Hasil analisis penyelenggaraan ujicoba pembelajaran multikeaksaraan yaitu sebagai berikut [a] naskah model, nilai rata rata kemenarikan adalah 15,2, nilai rata rata kesesuaian 16,4, nilai rata rata kemudahan 14,3. [b] Hasil analisis ujicoba bahan ajar menunjukkan nilai rata rata ke-menarikan adalah 13,2, nilai rata rata kesesuaian 14,3, nilai rata rata kemudahan 10,42 dikategorikan mudah. [c] Hasil analisis ujicoba naskah panduan pembelajaran menunjukkan nilai rata rata kemenari-kan adalah 12,7, Pembelajaran multikeaksaraan merupakan suatu kegiatan untuk mengembangkan kemampuan masyarakat dalam membaca, menulis, berhitung dan mengembangkan keterampilannya untuk meningkatkan kualitas hidup. Pengembangan model pembelajaran multikeaksaraan sadar hukum bertujuan (1)menemukan bentuk model pembelajaran sadar hukum yang sesuai dengan kebutuhan daerah dan sumber daya lokal. (2) mengembangkan perangkat pembelajaran multikeaksaraan sadar hukum yang sesuai kebutuhan daerah, (3) mengembangkan bahan ajar pembelajaran multikeaksaraan sadar hukum yang sesuai kebutuhan daerah. Lokasi pelaksanaan kegiatan pengembangan model ini adalah wilayah pinggiran hutan di kecamatan Bringin, kabupaten Ngawi provinsi Jawa Timur yang disana terdapat Pusat Kegiatan belajar Masyarakat (PKBM) Surya Jaya. Adapun hasil pengembangan model multikeaksaraan sadar hukun ini adalah (1) naskah model penyelenggaraan pembelajaran multikekasaraan sadar hukum yang sesuai kebutuhan daerah dan sumber daya lokal, (2)naskah bahan ajar pembelajaran multikekasaraan sadar hukum yang sesuai kebutuhan daerah dan sumber daya lokal. Hasil analisis penyelenggaraan ujicoba pembelajaran multikeaksaraan yaitu sebagai berikut [a] naskah model, nilai rata rata kemenarikan adalah 15,2, nilai rata rata kesesuaian 16,4, nilai rata rata kemudahan 14,3. [b] Hasil analisis ujicoba bahan ajar menunjukkan nilai rata rata ke-menarikan adalah 13,2, nilai rata rata kesesuaian 14,3, nilai rata rata kemudahan 10,42 dikategorikan mudah. [c] Hasil analisis ujicoba naskah panduan pembelajaran menunjukkan nilai rata rata kemenari-kan adalah 12,7, nilai rata rata kesesuaian 17,4, nilai rata rata kemu-dahan 15,3 dikategorikan mudah. Berdasar hasil tes akhir diperoleh bahwa 3 orang (30%) memperoleh hasil sangat baik, 5 orang (50%) memperoleh hasil baik, 2 orang (20%) memperoleh hasil cukup baik.
STUDI DESKRIPTIF PENINGKATAN LITERASI BUD MEMELIHARA LINGKUNGAN DI KOTA DKI JAKARTA Puji Hadiyanti
Jurnal AKRAB Vol. 8 No. 2 (2017): Desember 2017
Publisher : Direktorat Pendidikan Masyarakat dan Pendidikan Khusus, Direktorat Jenderal PAUD, Pendidikan Dasar, dan Pendidikan Menengah

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51495/jurnalakrab.v8i2.167

Abstract

Konsep pengentasan kemiskinan oleh pemerintah mengalami perubahan, yakni penanggulangan kemiskinan secara terpadu dengan basis pemberdayaan masyarakat. Konsep pengentasan kemiskinan berbasis pemberdayaan masyarakat digunakan karena diyakini sumber masalah kemiskinan dan keterbelakangan adalah ketidakberdayaan. DKI Jakarta memiliki berbagai permasalahan, diantaranya adalah masalah kemiskinan dan masalah sampah yang berdampak pada degradasi lingkungan. Di kota DKI Jakarta terdapat komunitas yang peduli akan masalah lingkungan, keberadaan komunitas tersebut bertujuan mengatasi masalah kemiskinan dan masalah sampah dengan melakukan peningkatan literasi budaya menjaga lingkungan bagi anggotanya. Kajian ini berupaya untuk mendeskripsikan suatu fenomena peran aktif suatu komunitas dalam peningkatan literasi budaya menjaga lingkungan (sampah) dengan mensinergikan antara kebutuhan melek teknologi dengan perkembangan teknologi-informasi sekaligus peningkatan pendapatan melalui kegiatan literasi memelihara lingkungan. Pada kajian ini, pendekatan yang digunakan ialah kualitatif dengan menggunakan pedoman wawancara, lembar observasi serta dokumentasi sebagai instrumen pengumpul datanya. Adapun dalam menganalisis data, digunakan teknik reduksi, display data serta penarikan kesimpulan dan verifi kasi. Hasil kajian ini yakni mendapatkan deskripsi data berupa fenomena bahwa system daur ulang sampah yang diterapkan pada komunitas tersebut berorientasi pada peningkatan pendapatan rumah tangga sekaligus memberikan penguatan (reinforcement) dalam hal pengenalan teknologi kepada masyarakat itu sendiri melalui kegiatan literasi memelihara lingkungan sehingga literasi budaya memelihara lingkungan dari para anggota meningkat.
PEMBELAJARAN PROYEK PADA KEAKSARAAN USAHA MANDIRI (KUM) BINAAN SANGGAR KEGIATAN BELAJAR KOTA MAKASSAR Kartini Marzuki
Jurnal AKRAB Vol. 8 No. 2 (2017): Desember 2017
Publisher : Direktorat Pendidikan Masyarakat dan Pendidikan Khusus, Direktorat Jenderal PAUD, Pendidikan Dasar, dan Pendidikan Menengah

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51495/jurnalakrab.v8i2.168

Abstract

Masalah dalam penelitian ini adalah masih kurangnya kemampuan warga belajar dalam merancang dan melaksanakan suatu kegiatan usaha dalam proses pembelajaran Keaksaraan Usaha Mandiri (KUM). Pembelajaran proyek merupakan salah satu alternative model pembelajaran yang dapat membantu warga belajar untuk dapat mengembangkan kompetensinya dalam merancang, melaksanakan dan mengevaluasi secara kooperatif kegiatan yang berbasis proyek. Rumusan masalah dalam penelitian ini adalah bagaimanakah pelaksanaan pembelajaran pada program keaksaraan usaha mandiri binaan Sanggar Kegiatan Belajar Sawerigading Kota Makassar. Penelitian ini merupakan penelitian kualitatif. Informan penelitian adalah tutor dan warga belajar KUM. Teknik pengumpulan data melalui observasi, wawancara dan dokumentasi. Data dianalisis dengan analisis deskripti kualitatif. Untuk mengukur keabsahan data dilakukan dengan teknik triangulasi sumber. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pembelajaran proyek dilaksanakan melalui tahapan perencanaan dimana aktivitas tersebut berupa penyusunan RPP yang melibatkan salah seorang Warga Belajar sebagai bagian dari identifi kasi kebutuhan, tahap pelaksanaan pembelajaran diawali dengan memberi pertanyaan pancingan sebagai bahan diskusi untuk merencanakan proyek yang dilanjutkan dengan diskusi dan aksi pelaksanaan proyek, adapun evaluasi dilaksanakan secara terus menerus selama proyek berlangsung hingga evaluasi tertulis untuk mengukur tingkat pengetahuan warga belajar.
MENINGKATKAN LITERASI BUDAYA PESERTA DIDIK PENDIDIKAN KESETARAAN MELALUI PEMBELAJARAN SOSIOLOGI Dadang Sunarwan
Jurnal AKRAB Vol. 8 No. 2 (2017): Desember 2017
Publisher : Direktorat Pendidikan Masyarakat dan Pendidikan Khusus, Direktorat Jenderal PAUD, Pendidikan Dasar, dan Pendidikan Menengah

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51495/jurnalakrab.v8i2.169

Abstract

Literasi budaya merupakan salah satu jenis li terasi dasar selain literasi baca-tulis-berhitung, sains, teknologi informasi dan komunikasi (TIK), keuangan, dan kewarganegaraan. Literasi budaya dalam arti luas merupakan kemampuan, bukan hanya sekedar kemampuan untuk membaca dan menulis namun menambah pengetahuan, keterampilan dan kemampuan yang dapat membuat seseorang memiliki kemampuan berpikir kritis, mampu memecahkan masalah dalam berbagai konteks, mampu berkomunikasi secara efektif dan mampu mengembangkan potensi dan berpartisipasi aktif dalam kehidupan bermasyarakat. Dalam kaitan ini literasi budaya yang akan diteliti adalah peningkatan literasi budaya peserta didik pendidikan nonformal-kesetaraan dalam proses pembelajaran sosiologi. Dengan metode deskriptif analitik menggunaikan teknik wawancara, observasi dan studi dokumentasi diperoleh hasil bahwa peserta didik meningkat literasi budaya dengan fokus pada penguasaan pengetahuan produk budaya bangsa dan lokal Indonesia berbentuk benda dan tata nilai dari 7 aspek kebudayaan yaitu bahasa, sistem pengetahuan, sistem kemasyarakatan, sistem peralatan hidup dan teknologi, sistem matapencaharian, sistem religi, dan kesenian. Hanya dalam menerapkan budaya dalam keseharian perlu diperhatikan faktor pihak yang menfasilitasi, faktor fi gure dan faktor minat peserta didik.

Page 11 of 23 | Total Record : 224