cover
Contact Name
Dr. Kaswanto, SP, MSi
Contact Email
kaswanto@apps.ipb.ac.id
Phone
+628121939739
Journal Mail Official
jkebijakan@apps.ipb.ac.id
Editorial Address
Pusat Studi Pembangunan Pertanian dan Pedesaan Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat Institut Pertanian Bogor (PSP3-LPPM IPB), Gedung Utama Kampus IPB Baranangsiang, Jl. Raya Pajajaran No.7, Bogor 16129, Jawa Barat
Location
Kota bogor,
Jawa barat
INDONESIA
Jurnal Risalah Kebijakan Pertanian dan Lingkungan
ISSN : 23556226     EISSN : 24770299     DOI : https://doi.org/10.29244/jkebijakan
Jurnal Risalah Kebijakan Pertanian dan Lingkungan merupakan jurnal terbitan kerjasama antara Pusat Studi Pembangunan Pertanian dan Pedesaan Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat Institut Pertanian Bogor (PSP3-LPPM IPB) dan Perhimpunan Ekonomi Pertanian Indonesia (PERHEPI) Alamat Penerbit Pusat Studi Pembangunan Pertanian dan Pedesaan Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat Institut Pertanian Bogor (PSP3-LPPM IPB), Gedung Utama Kampus IPB Baranagsiang, Jl. Raya Pajajaran No.7, RT.02/RW.05, Tegallega, Kecamatan Bogor Tengah, Kota Bogor, Jawa Barat 16129 P: +62 251 8345 724 F: +62 251 8344 113 E: psp3@apps.ipb.ac.id
Articles 191 Documents
STUDI IDENTIFIKASI RELOKASI ATAU REKONSTRUKSI TEMPAT TINGGAL SEBAGAI SEBUAH PILIHAN PENANGANAN PASCA GEMPA CIANJUR 2022 BERBASIS PERSPEKTIF MASYARAKAT Doni Yusri; Agung Setiawan; Rabiatul Adwiyah; Heti Mulyati
RISALAH KEBIJAKAN PERTANIAN DAN LINGKUNGAN Rumusan Kajian Strategis Bidang Pertanian dan Lingkungan Vol 10 No 2 (2023): Agustus
Publisher : Pusat Studi Pembangunan Pertanian dan Pedesaan (PSP3)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29244/jkebijakan.v10i2.48467

Abstract

Pada tanggal 21 November 2022 pukul 13:21:10 WIB, telah terjadi Gempa Bumi Cianjur. Episenter gempa berada pada koordinat 6,84 LS–107,05 dan kedalaman 11 km dengan magnitudo (M5,6). Sampai dengan tanggal 28 November 2022, pukul 07.00 WIB, Badan Meteorologi, Klimatologi dan Gefosifika (BMKG) telah mencatat 297 gempa susulan dengan magnitudo terbesar M4,2 dan terkecil M1,0. Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mencatat sebanyak 334 orang meninggal dunia, 1.000 orang cidera, 20 hilang, dan 58.000 orang mengungsi. Pasca gempa, terjadi perubahan kondisi bentangan alam. Berbagai sarana prasarana lingkungan termasuk infrastruktur mengalami kerusakan. Hasil penelitian didapatkan bahwa dari 150 responden diperoleh bahwa 75% responden memiliki rumahnya sendiri. Rata-rata bangunan yang terkena dampak memiliki luasan kurang dari 72 m2, sedangkan jalan utama 56% masih bisa dilalui. Saat terjadi gempa bumi masyarakat tidak mengalami kesulitan dalam pengadaan air minum, dan kondisi persawahan sebagai lahan untuk mencari nafkah, warga hanya mengalami kerusakan sebesar 19% saja. Hasil signifikan lain terkait dengan kerusakan bangunan dan infrastruktur akibat Gempa Bumi Cianjur dirasakan tidak terlalu mengkhawatirkan. Sehingga diperoleh hasil bahwa ketidaksetujuan warga masyarakat terhadap relokasi mencapai 77%. Rekonstruksi dapat dilakukan apabila pada suatu lokasi tertentu di suatu wilayah memiliki ancaman risiko bencana skala kecil, periode ulang tidak terlalu sering, dan tingkat risiko tersebut masih dapat diminimalisir melalui sebuah kebijakan/pembangunan. Ketika pertimbangan nilai kerugian yang akan dirasakan oleh masyarakat jauh lebih besar maka relokasi menjadi alternatif terbaik.
EMISI ENERGI DAN KEBIJAKAN KENDARAAN LISTRIK: STUDI KOMPARASI ANTARA CHINA DAN INDONESIA Al Qodri, Muhammad Iqbal; Widyastutik
RISALAH KEBIJAKAN PERTANIAN DAN LINGKUNGAN Rumusan Kajian Strategis Bidang Pertanian dan Lingkungan Vol 10 No 3 (2023): Desember
Publisher : Pusat Studi Pembangunan Pertanian dan Pedesaan (PSP3)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29244/jkebijakan.v10i3.48350

Abstract

China and Indonesia are countries with large populations and contributors to world carbon dioxide emissions. One step to reduce emissions is through the adoption of electric vehicle policies. The penetration rate of electric vehicles in China and Indonesia can differ due to the policy approach used. In this study, the analysis method is a bilateral comparative study with a literature review. Based on the results of the analysis, China has adopted an electric vehicle policy since 2001 accompanied by sustainable programs and incentives. Meanwhile, Indonesia has only focused on electric vehicles, especially battery-based electric motor vehicles since 2019. Through the market approach (demand and supply) and infrastructure approach, different policy conditions in China and Indonesia are obtained, and can be used as a benchmark for decision-making for the Indonesian government. The policy implications of the analysis are increasing monetary and non-monetary incentives for producers and consumers, increasing local government participation, and clarifying the steps to execute Indonesia's electric vehicle roadmap.
HUBUNGAN FAKTOR LINGKUNGAN TERHADAP PRODUKSI SERASAH MANGROVE TELING TOMBARIRI, TAMAN NASIONAL BUNAKEN Langi, Martina A.; Nurmawan, Wawan
RISALAH KEBIJAKAN PERTANIAN DAN LINGKUNGAN Rumusan Kajian Strategis Bidang Pertanian dan Lingkungan Vol 10 No 3 (2023): Desember
Publisher : Pusat Studi Pembangunan Pertanian dan Pedesaan (PSP3)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29244/jkebijakan.v10i3.48394

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk membandingkan produktivitas ekosistem berdasarkan laju produksi serasah yang dikaitkan dengan jenis pohon dan parameter iklim di Mangrove Teling Tombariri, Taman Nasional Bunaken, Sulawesi Utara. Pengumpulan serasah dilakukan selama 12 bulan di tiga zona penyusun utama mangrove. Serasah kemudian dianalisis berdasarkan fraksi dan jenis. Produksi serasah kemudian dikorelasikan dengan curah hujan, suhu, dan kelembaban udara menggunakan koefisien korelasi sederhana. Korelasi linier antara produksi serasah bulanan fraksi daun, ranting, buah-bunga (fraksi reproduktif) dari setiap spesies mangrove dan parameter iklim bulanan (suhu, curah hujan, dan kelembaban) dihitung dengan menggunakan Korelasi Pearson p<0,01. Hasil menunjukkan bahwa laju produksi serasah di Mangrove Teling Tombariri Taman Nasional Bunaken didapatkan tertinggi pada jenis Sonneratia alba, diikuti oleh Rhizophora apiculata, dan terakhir Bruguiera gymnorhiza. Fraksi serasah terbesar adalah komponen daun, diikuti oleh ranting, dan komponen reproduktif (bunga dan buah), kecuali pada Sonneratia alba di mana fraksi komponen reproduktif lebih tinggi daripada komponen ranting. Selanjutnya faktor lingkungan yang menunjukkan korelasi paling kuat terhadap produksi serasah adalah curah hujan dan hal ini berlaku untuk ketiga jenis penyusun utama Mangrove Teling Tombariri.
TEKNOLOGI REKLAMASI LAHAN BEKAS TAMBANG NIKEL UNTUK MEMPERCEPAT KEBERHASILAN REKLAMASI Suwardi; Randrikasari, Octaviana
RISALAH KEBIJAKAN PERTANIAN DAN LINGKUNGAN Rumusan Kajian Strategis Bidang Pertanian dan Lingkungan Vol 10 No 3 (2023): Desember
Publisher : Pusat Studi Pembangunan Pertanian dan Pedesaan (PSP3)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29244/jkebijakan.v10i3.50866

Abstract

Nickel is formed through the weathering of ultrabasic or ultramafic rocks originating from oceanic crust which is transferred to the surface of continental crust. This formation process took millions of years, starting when ultramafic rocks were exposed on the earth's surface. Nickel mining plays an important role in the electric vehicle battery industry and economy in Indonesia, but its impact on the environment often results in mined land with unique characteristics that is difficult to reclaim. Ex-mining land often has a Mg/Ca ratio higher than one. In addition, the soil on ex-nickel mining land is usually shallow and hydrophobic, making it difficult to absorb water. Reclamation of ex-mining land is the focus to restore, increase the soil's water absorption capacity and land productivity. With an approach to improving physical, chemical, and biological properties, reclamation technology includes the method of making planting holes measuring 60x60x60 cm, composting organic materials, and using Super Absorbent Polymer (SAP) to increase the soil's water absorption capacity. In this context, reclamation technology is the key to accelerating the successful reclamation of ex-nickel mining land in a sustainable manner and optimizing the utilization of nickel mining resources in Indonesia.
DETERMINAN PRODUKSI DAN ANALISIS KELAYAKAN USAHATANI CABAI MERAH: STUDI KASUS DESA TANJUNG IBUS KECAMATAN SECANGGANG KABUPATEN LANGKAT Rahayu, Putri; Simanullang, Endang Sari
RISALAH KEBIJAKAN PERTANIAN DAN LINGKUNGAN Rumusan Kajian Strategis Bidang Pertanian dan Lingkungan Vol 10 No 3 (2023): Desember
Publisher : Pusat Studi Pembangunan Pertanian dan Pedesaan (PSP3)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29244/jkebijakan.v10i3.51050

Abstract

Komoditas yang potensial diproduksi oleh petani di Desa Tanjung Ibus adalah cabai merah. Ketersediaan dan harga faktor produksi yang terbatas dan fluktuatif merupakan permasalahan dalam kegiatan produksi cabai merah. Analisis determinan produksi cabai merah penting sebagai rekomendasi kebijakan peningkatan produksi cabai merah. Perbandingan pendapatan dan biaya usahatani menentukan kelayakan usahatani. Analisis kelayakan usahatani penting dilaksanakan dalam pengembangan cabai merah. Penelitian ini bertujuan menganalisis determinan produksi dan kelayakan usahatani cabai merah. Jumlah sampel pada penelitian ini yaitu 42 petani. Penelitian ini menggunakan metode analisis fungsi produksi Cobb-Douglas dan B/C Ratio. Hasil penelitian menunjukkan bahwa lahan, benih dan pupuk merupakan faktor-faktor produksi yang signifikan dan positif mempengaruhi produksi usahatani cabai merah. Nilai B/C ratio usahatani cabai merah adalah 2,6 artinya usahatani cabai merah dalam penelitian ini layak. Rekomendasi kebijakan penelitian ini adalah penetapan kebijakan subsidi pupuk, inovasi pemupukan dengan kombinasi penggunaan pupuk kimia maupun non kimia, dan bantuan teknologi traktor.
KOMPARASI DAN IMPLEMENTASI KEBIJAKAN DIGITALISASI PERTANIAN: PELUANG DAN TANTANGAN Azis, Miftahul; Suryana, Esty Asriyana
RISALAH KEBIJAKAN PERTANIAN DAN LINGKUNGAN Rumusan Kajian Strategis Bidang Pertanian dan Lingkungan Vol 10 No 3 (2023): Desember
Publisher : Pusat Studi Pembangunan Pertanian dan Pedesaan (PSP3)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29244/jkebijakan.v10i3.51083

Abstract

Kemajuan teknologi digital yang pesat telah membawa peluang dan tantangan signifikan bagi digitalisasi sektor pertanian. Penelitian ini memiliki tujuan yang komprehensif, yaitu: 1) mengidentifikasi berbagai kebijakan pemerintah yang mendukung implementasi digitalisasi pertanian, 2) melakukan analisis mendalam terhadap besarnya peluang yang ditawarkan oleh digitalisasi pertanian dengan mempertimbangkan potensi serta hambatan yang ada, dan 3) memberikan rekomendasi kebijakan untuk perkembangan digitalisasi pertanian. Melalui analisis menyeluruh terhadap beragam kebijakan dan inisiatif yang telah ada, tinjauan ini berhasil mengidentifikasi strategi-strategi yang sukses dalam mendorong digitalisasi pertanian. Kolaborasi antara lembaga pemerintah, perusahaan teknologi, dan organisasi pertanian dipandang sebagai kunci dalam memfasilitasi pengembangan serta implementasi solusi-solusi inovatif yang disesuaikan dengan kebutuhan sektor pertanian. Secara keseluruhan, digitalisasi pertanian memberikan peluang besar untuk mengubah sektor pertanian dan mengatasi tantangan terkait dengan ketahanan pangan, keberlanjutan, serta mata pencaharian petani. Namun, diperlukan pertimbangan yang cermat terhadap kebijakan dan penerapannya agar hasil yang efektif dapat dicapai.
EFEKTIVITAS BUDIDAYA IKAN LELE DENGAN RECIRCULATING AQUACULTURE SYSTEM (RAS) DI SUJAFISH FARM, KECAMATAN CIKOLE, KOTA SUKABUMI Indriastuti, Cecilia Eny; Kusumanti, Ima; Ramadhani, Dian Eka; Tunisa, Risma Arafah; Maulana, Achmad Zidan Akmal; Sasmita, Galih Amar Taufiqurrahman; Rizky, M. Fizry Alnur; Wiyoto, Wiyoto; Adycha, Pricila Aurora; Ihsan, Muhammad Fajar Maulana; Firdausi, Amalia Putri
RISALAH KEBIJAKAN PERTANIAN DAN LINGKUNGAN Rumusan Kajian Strategis Bidang Pertanian dan Lingkungan Vol 11 No 1 (2024): April
Publisher : Pusat Studi Pembangunan Pertanian dan Pedesaan (PSP3) dan Ilmu Pengelolaan Sumberdaya Alam dan Lingkungan (PSL)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29244/jkebijakan.v11i1.51105

Abstract

Ikan lele mulai dibudidayakan oleh UMKM Sujafish Farm Kecamatan Cikole, Kota Sukabumi pada awal tahun 2023. Lahan budidaya perkotaan yang semakin sempit, biaya pakan semakin mahal, dan ketersediaan air yang terbatas menjadi kendala pengembangan budidaya ikan air tawar di Kota Sukabumi. Salah satu solusi untuk menyiasati hal tersebut adalah pengembangan teknologi Recirculating Aquaculture System (RAS). RAS adalah teknologi budidaya dimana air dapat digunakan kembali setelah difilter secara mekanis dan biologis. Wadah pemeliharaan menggunakan bak bulat berdiameter 2 m dan diisi air dengan ketinggian 0,8 m berjumlah 6 bak. Volume air dalam setiap bak yaitu 2.152 L air. Benih yang digunakan berukuran 8–10 cm dengan kepadatan per bak 318 ekor/m2. Parameter pengamatan yang dilihat adalah suhu, pH, DO, amoniak, nitrit, nitrat, dan pertumbuhan ikan. Aplikasi RAS membuktikan dapat menjaga kualitas air suhu, pH, DO, dan amoniak. Nilai pertumbuhan dan kelangsungan hidup sistem RAS lebih tinggi dibandingkan sistem sirkulasi, sehingga teknologi RAS dapat menjadi alternatif solusi teknologi budidaya ramah lingkungan di daerah perkotaan.
IDENTIFIKASI FAKTOR PEMBATAS LINGKUNGAN PADA PERTUMBUHAN BAYAM MERAH Indrawan, Muhammad; Candraningtyas, Callista
RISALAH KEBIJAKAN PERTANIAN DAN LINGKUNGAN Rumusan Kajian Strategis Bidang Pertanian dan Lingkungan Vol 11 No 1 (2024): April
Publisher : Pusat Studi Pembangunan Pertanian dan Pedesaan (PSP3) dan Ilmu Pengelolaan Sumberdaya Alam dan Lingkungan (PSL)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29244/jkebijakan.v11i1.51151

Abstract

Faktor pembatas sangat penting terhadap pertumbuhan tanaman. Tujuan penelitian faktor pembatas lingkungan adalah untuk mengkaji beberapa faktor pembatas dan mengidentifikasi seberapa signifikan peran faktor pembatas terhadap pertumbuhan tanaman. Cara kerja yang dilakukan adalah dengan mengamati 4 variasi yang akan diberi perlakuan yang berbeda. Metode yang digunakan adalah studi eksperimental dengan analisis kuantitatif, yaitu setiap data yang ada diolah dalam tabel dan dijelaskan. Hasil dari penelitian ini menunjukkan perbedaan yang signifikan yakni variasi A1 memiliki tinggi 6,9 cm dan jumlah daun 7 helai, variasi A2 memiliki tinggi 19,8 cm dengan jumlah daun 72 helai, variasi A3 memiliki tinggi 5,3 cm dan jumlah daun 7 helai, dan variasi A4 memiliki tinggi sebesar 9,3 cm dan jumlah daun 24 helai. Dari semua variasi yang dilakukan, terbukti jika air, tanah, udara, suhu, dan sinar matahari berperan penting dalam pertumbuhan tumbuhan. Rekomendasi kebijakan yang dapat dilakukan adalah dengan penggunaan screen house. Screen house merupakan bangunan yang terbuat dari plastik yang berfungsi untuk melindungi serangan hama dan mendukung pemaparan sinar matahari secara langsung terhadap tanaman.
DATA PENELITIAN KEONG MAS DI INDONESIA SEBAGAI DASAR KEBIJAKAN BERBASIS SAINS Muttaqin, Mafrikhul
RISALAH KEBIJAKAN PERTANIAN DAN LINGKUNGAN Rumusan Kajian Strategis Bidang Pertanian dan Lingkungan Vol 11 No 1 (2024): April
Publisher : Pusat Studi Pembangunan Pertanian dan Pedesaan (PSP3) dan Ilmu Pengelolaan Sumberdaya Alam dan Lingkungan (PSL)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29244/jkebijakan.v11i1.51210

Abstract

Keong mas, Pomacea canaliculata, adalah salah satu hama padi di Indonesia. Berbagai penelitian terkait hama tersebut telah banyak dilakukan di Indonesia dan negara lainnya. Untuk memberikan masukan kebijakan berbasis sains, penelitian ini membandingkan basis data penelitian keong mas di Indonesia dan negara lainnya. Analisis menunjukkan tren penelitian keong mas sebagai pakan ternak di Indonesia. Penelitian moluskisida keong mas secara umum lebih populer di dunia. Penelitian bertema keong mas lain di Indonesia masih perlu dilakukan bersamaan dengan peningkatan kualitasnya, seperti penggunaan metode eksperimen dan analisis terkini. Selanjutnya, perlu dilakukan upaya peningkatan partisipasi masyarakat dalam manajemen informasi distribusi keong mas dan kearifan lokal penanganannya. Hal-hal tersebut dapat menjadi dasar untuk formulasi penelitian lanjutan, kebijakan, dan manajemen keong mas berkelanjutan.
TEKNOLOGI REKLAMASI LAHAN BEKAS TAMBANG BAUKSIT MENGGUNAKAN SEEDBALL TANAMAN ADAPTIF DAN KOMPOS DIPERKAYA FABA Putri, Aulya; Suwardi, Suwardi; Suryaningtyas, Dyah Tjahyandari; Oktariani, Putri; Widjaja, Hermanu; Randrikasari , Octaviana
RISALAH KEBIJAKAN PERTANIAN DAN LINGKUNGAN Rumusan Kajian Strategis Bidang Pertanian dan Lingkungan Vol 11 No 1 (2024): April
Publisher : Pusat Studi Pembangunan Pertanian dan Pedesaan (PSP3) dan Ilmu Pengelolaan Sumberdaya Alam dan Lingkungan (PSL)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29244/jkebijakan.v11i1.53149

Abstract

Bauxite is one of the most mined minerals in the world and plays an important role as a raw material for aluminum production. The implementation of bauxite downstream policy has an impact on the expansion of bauxite mining area and bauxite post-mining land. The expansion of mining activities can cause an increase in the impact of environmental damage, one of which is the emergence of critical land in post-mining areas. Bauxite post-mining land often experiences problems with soil physical and chemical properties, which cause soil unable to support growth and fulfill plant nutrition needs. Alternatives that can be implemented is the use of adaptive plant seedball and Fly Ash-Bottom Ash (FABA) enriched compost utilization as ameliorant material. Post-mining land reclamation technology is the key to achieve successful reclamation and support the optimization of sustainable bauxite downstream programs in Indonesia.