cover
Contact Name
LIRA MUFTI AZZAHRI ISNAENI
Contact Email
liramuftiazzahri.isnaeni@gmail.com
Phone
+6285271651482
Journal Mail Official
jurnalkesehatantambusai@gmail.com
Editorial Address
Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai Jalan Tuanku Tambusai 23 Bangkinang, Kampar, Riau, Indonesia Pos Code 28411 Telp. 0762 21677
Location
Kab. kampar,
Riau
INDONESIA
Jurnal Kesehatan Tambusai
ISSN : -     EISSN : 27745848     DOI : 10.31004/jkt.v1i2.1104
Core Subject : Health,
JURNAL KESEHATAN TAMBUSAI Adalah jurnal yang mempublikasikan hasil penelitian kesehatan yang terintegrasi dengan bidang kesehatan Jurnal ini berguna bagi tenaga kesehatan di dinas kesehatan, puskesmas, rumah sakit, mahasiswa kesehatan, tenaga pengajar bidang kesehatan lainnya pada umumnya. Jurnal kesehatan tambusai naskah dalam bentuk hasil penelitian baik dalam bahasa Indonesia maupun bahasa Inggris. Naskah yang diterima adalah naskah yang belum pernah dipublikasikan sebelumnya. Kami berharap artikel-artikel pada edisi ini bermanfaat bagi dunia ilmu kesehatan
Articles 4,916 Documents
EDUKASI DIET TERHADAP INDEKS MASSA TUBUH dan KUALITAS HIDUP PASIEN HEMODIALISIS: PILOT STUDI Atikah Fatmawati; Fitria Wahyu Ariyanti; Devi Permoni Suci
Jurnal Kesehatan Tambusai Vol. 7 No. 2 (2026): JUNI 2026
Publisher : Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/jkt.v7i2.58895

Abstract

Pasien hemodialisis (HD) sering mengalami masalah nutrisi dan penurunan kualitas hidup terkait kesehatan (health-related quality of life / HRQoL) akibat pembatasan diet yang kompleks serta beban pengobatan jangka panjang. Edukasi diet dianggap sebagai strategi penting untuk meningkatkan status nutrisi dan kesejahteraan pasien. Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi pengaruh program edukasi diet terhadap Indeks Massa Tubuh (IMT) dan HRQoL pada pasien HD. Pilot studi ini menggunakan desain one-group pre-test and post-test yang melibatkan 20 pasien hemodialisis yang dipilih menggunakan teknik purposive sampling di Rumah Sakit Lavalette, Malang, Indonesia. Edukasi kesehatan mengenai diet diberikan selama satu bulan dengan frekuensi dua sesi per minggu menggunakan media leaflet dan video. IMT diukur menggunakan data tinggi dan berat badan pasien, sedangkan HRQoL dinilai menggunakan kuesioner Kidney Disease Quality of Life (KDQoL) Versi 1.2. Data dianalisis menggunakan uji statistik berpasangan dengan tingkat signifikansi p < 0,05. Hasil penelitian menunjukkan bahwa rerata skor IMT meningkat secara signifikan dari 23,43 ± 4,75 sebelum intervensi menjadi 24,63 ± 3,69 setelah intervensi (p = 0,016). Rerata skor HRQoL meningkat secara signifikan dari 74,53 ± 7,55 menjadi 78,32 ± 5,54 setelah intervensi (p = 0,039). Program edukasi diet secara signifikan meningkatkan IMT dan HRQoL pada pasien hemodialisis. Edukasi diet yang terstruktur dapat mendukung pengelolaan nutrisi yang lebih baik serta meningkatkan kualitas hidup pasien.
HUBUNGAN DUKUNGAN SUAMI TERHADAP PEMILIHAN PENGGUNAAN ALAT KONTRASEPSI DI WILAYAH KERJA PUSKESMAS NAGRAK DESA NAGRAK KECAMATAN CIANJUR KABUPATEN CIANJUR Rifan Irawan; Papat Patimah; Ricko Dwi Hryanto
Jurnal Kesehatan Tambusai Vol. 7 No. 2 (2026): JUNI 2026
Publisher : Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/jkt.v7i2.58909

Abstract

Program Keluarga Berencana (KB) merupakan pilar utama dalam menekan laju pertumbuhan penduduk, namun pola pemilihan kontrasepsi masih didominasi oleh metode jangka pendek. Hambatan psikososial berupa rendahnya keterlibatan pria sering kali dianggap membatasi otonomi istri dalam menentukan metode yang ideal. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis hubungan antara dukungan suami dengan pemilihan penggunaan alat kontrasepsi pada Pasangan Usia Subur (PUS) di Wilayah Kerja Puskesmas Nagrak, Kabupaten Cianjur. Jenis penelitian ini menggunakan desain korelasional dengan pendekatan cross-sectional. Populasi penelitian mencakup seluruh PUS yang berdomisili di Desa Nagrak sebanyak 1.533 orang. Sampel berukuran 94 responden dipilih berdasarkan kriteria eligibilitas menggunakan teknik purposive sampling. Variabel independen adalah dukungan suami dan variabel dependen adalah pemilihan penggunaan alat kontrasepsi. Pengumpulan data menggunakan kuesioner data demografi serta kuesioner terstruktur dukungan suami (16 butir pertanyaan). Analisis data dijalankan melalui uji statistik Chi-Square ( α = 0,05). Distribusi univariat menunjukkan mayoritas responden berada pada usia reproduksi sehat 21–35 tahun (51,1%), berstatus akseptor aktif (75,5%), dan didominasi pengguna kontrasepsi Suntik (42,6%). Sebagian besar responden memiliki tingkat pemilihan kontrasepsi kategori sedang (86,2%), meskipun persentase dukungan suami berada pada kategori rendah (43,6%). Hasil uji bivariat Chi-Square menghasilkan nilai signifikansi p-value = 0,257 (p > 0,05). Tidak terdapat hubungan yang signifikan antara dukungan suami dengan pemilihan penggunaan alat kontrasepsi di Wilayah Kerja Puskesmas Nagrak. Keputusan ber-KB lebih didominasi otonomi personal istri serta efektivitas konseling dari tenaga kesehatan lokal.
EVALUASI PENGGUNAAN ANTIDEPRESAN PADA PASIEN DEPRESI DI INSTALASI RAWAT JALAN SOEROJO HOSPITAL Elisabeth Hanindita Putri; Nugrahaningsih WH
Jurnal Kesehatan Tambusai Vol. 7 No. 2 (2026): JUNI 2026
Publisher : Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/jkt.v7i2.58912

Abstract

Depresi merupakan suatu kondisi gangguan mental dimana terjadi perubahan suasana hati yang ekstrem dan dapat memengaruhi hubungan sosial serta produktivitas seseorang. Salah satu terapi depresi adalah menggunakan antidepresan. Keberhasilan terapi sangat dipengaruhi oleh rasionalitas penggunaan obat yang meliputi ketepatan indikasi, ketepatan pasien, ketepatan pemilihan obat, ketepatan dosis, dan ketepatan interval pemberian. Penelitian ini dilaksanakan dengan tujuan mengevaluasi kerasionalan obat antidepresan pada pasien dengan gangguan depresi di Instalasi Rawat Jalan Soerojo Hospital Magelang. Pelaksanaan penelitian menggunakan rancangan cross-sectional dengan data sekunder, yaitu catatan rekam medis di Instalasi Rawat Jalan Soerojo Hospital Magelang selama periode Januari–Juni 2025. Jumlah populasi dalam penelitian ini sebanyak 2.234 pasien. Sampel diambil secara purposive sampling dengan kriteria inklusi berikut: pasien berusia 18–59 tahun dengan diagnosis utama depresi baik dengan penyakit penyerta maupun tidak. Berdasarkan kriteria tersebut, diperoleh sampel sebanyak 120 pasien. Pengumpulan data menggunakan lembar pengumpulan data dan lembar rekapitulasi data. Analisis data secara deskriptif dan hasil penelitian disajikan dalam bentuk persentase. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pola terapi yang digunakan meliputi terapi tunggal sebanyak 25 pasien dan terapi kombinasi sebanyak 95 pasien. Terapi tunggal terbanyak menggunakan sertralin (44%), sedangkan terapi kombinasi Selective Serotonin Reuptake Inhibitor (SSRI) dengan antipsikotik menjadi pilihan terbanyak (32,63%). Evaluasi kerasionalan penggunaan antidepresan menunjukkan ketepatan indikasi sebesar 100%, ketepatan pasien sebesar 100%, ketepatan pemilihan obat sebesar 100%, ketepatan dosis sebesar 100%, dan ketepatan interval pemberian sebesar 100%. Dengan demikian, kerasionalan obat antidepresan pada pasien gangguan depresi di Instalasi Rawat Jalan Soerojo Hospital Magelang telah memenuhi parameter penggunaan obat yang rasional.
LITERATURE REVIEW : FAKTOR PENYEBAB PENDING KLAIM BPJS KESEHATAN DI RUMAH SAKIT Nuril Fauziyah Febriyani; Lilik Afifah; Achmad Jaelani Rusdi
Jurnal Kesehatan Tambusai Vol. 7 No. 2 (2026): JUNI 2026
Publisher : Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/jkt.v7i2.58928

Abstract

Pending klaim BPJS Kesehatan masih menjadi permasalahan yang sering terjadi di rumah sakit dan berdampak pada keterlambatan pencairan dana klaim, sehingga dapat memengaruhi stabilitas keuangan serta kualitas pelayanan kesehatan. Permasalahan ini disebabkan oleh berbagai faktor yang terjadi dalam proses pengajuan dan verifikasi klaim. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi dan menganalisis faktor-faktor penyebab pending klaim BPJS Kesehatan di rumah sakit berdasarkan hasil penelitian yang telah dipublikasikan. Metode penelitian yang digunakan adalah literature review dengan sumber data berupa artikel ilmiah yang diperoleh melalui Google Scholar pada rentang tahun 2022–2025. Pemilihan artikel dilakukan menggunakan teknik purposive sampling berdasarkan kriteria inklusi dan eksklusi yang telah ditetapkan. Dari hasil proses seleksi diperoleh 12 artikel yang relevan untuk dianalisis. Data dikumpulkan melalui studi dokumentasi dan dianalisis secara deskriptif. Hasil kajian menunjukkan bahwa faktor utama penyebab pending klaim BPJS Kesehatan meliputi ketidaklengkapan dokumen administrasi, ketidaktepatan pengkodean diagnosis, ketidaklengkapan rekam medis, keterbatasan sumber daya manusia, pengelolaan klaim yang belum optimal, serta kendala pada sistem informasi rumah sakit. Faktor-faktor tersebut saling berkaitan dan berpengaruh terhadap proses verifikasi serta penyelesaian klaim. Simpulan penelitian ini adalah pending klaim BPJS Kesehatan merupakan masalah yang kompleks sehingga diperlukan peningkatan kualitas pengelolaan dokumen, ketepatan koding diagnosis, kompetensi petugas, manajemen klaim, dan optimalisasi sistem informasi untuk mendukung kelancaran proses klaim.
PERBEDAAN INDEKS SEHGAL DAN INDEKS MENTZER DALAM SKRINING AWAL TALASEMIA-β (BETA) PADA REMAJA Muhammad Irsyad Kamaludin; M. Dodik Prastiyo; Sifa Fauziah
Jurnal Kesehatan Tambusai Vol. 7 No. 2 (2026): JUNI 2026
Publisher : Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/jkt.v7i2.58931

Abstract

PERBEDAAN INDEKS SEHGAL DAN INDEKS MENTZER DALAM SKRINING AWAL TALASEMIA-β (BETA) PADA REMAJA   Muhammad Irsyad Kamaludin1*, M. Dodik Prastiyo2, Sifa Fauziah3 Program Studi Ilmu Keperawatan, STIKes Permata Nusantara1,2,3 *Corresponding Author : irsyadkmkz@gmail.com   ABSTRAK Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui perbedaan hasil skrining awal talasemia-β antara Indeks Sehgal dan Indeks Mentzer pada remaja di SMK Kesehatan Cianjur. Penelitian ini menggunakan metode observasional analitik dengan pendekatan potong lintang (cross-sectional). Sebanyak 28 responden dipilih menggunakan teknik purposive sampling dari siswa kelas 10 berusia 14-17 tahun. Sampel darah dianalisis menggunakan Hematology Analyzer untuk memperoleh parameter CBC (Hb, RBC, MCV, MCH). Indeks Mentzer (MCV÷RBC) dan Indeks Sehgal (MCV×MCH÷RBC) dihitung untuk setiap responden dan dianalisis menggunakan uji paired sample t-test dan analisis kurva Receiver Operating Characteristic (ROC). Dari 28 responden, mayoritas berusia 16 tahun (50,0%) dan berjenis kelamin perempuan (92,9%). Nilai rata-rata Indeks Mentzer adalah 16,86±2,31 (rentang 12,32–22,74) dan Indeks Sehgal sebesar 462,57±89,56 (rentang 220,56-664,11), yang mengarah pada kemungkinan anemia defisiensi besi. Uji paired sample t-test menunjukkan perbedaan signifikan antara kedua indeks (p-value = 0,000 <0,05). Analisis kurva ROC menunjukkan kedua indeks memiliki nilai Area Under the Curve (AUC) sebesar 1,000 dengan nilai cut-off optimal ≤12,90 (Indeks Mentzer) dan ≤269,92 (Indeks Sehgal). Indeks Mentzer dan Indeks Sehgal menunjukkan performa diagnostik yang setara dan sangat baik dalam skrining awal talasemia-β pada remaja. Indeks Mentzer direkomendasikan sebagai alat skrining awal yang praktis, sederhana, dan ekonomis di pelayanan kesehatan primer maupun program kesehatan berbasis sekolah.   Kata kunci    : indeks mentzer, indeks sehgal, remaja, skrining awal, talasemia-β   ABSTRACT This study aimed to determine the difference between the Sehgal Index and the Mentzer Index in early screening of thalassemia-β among adolescents at SMK Kesehatan Cianjur. This study employed an observational analytic method with a cross-sectional design. A total of 28 respondents were selected using purposive sampling from Class 10 students aged 14-17 years. Blood samples were analyzed using a Hematology Analyzer to obtain CBC parameters (Hb, RBC, MCV, MCH). The Mentzer Index (MCV÷RBC) and Sehgal Index (MCV×MCH÷RBC) were calculated and analyzed using paired sample t-test and Receiver Operating Characteristic (ROC) curve analysis. Of 28 respondents, the majority were 16 years old (50.0%) and female (92.9%). The mean Mentzer Index was 16.86±2.31 (range 12.32–22.74) and the mean Sehgal Index was 462.57±89.56 (range 220.56-664.11), indicating iron deficiency anemia rather than thalassemia trait. The paired sample t-test demonstrated a statistically significant difference between the two indices (p-value = 0.000 <0.05). ROC curve analysis revealed that both indices achieved an Area Under the Curve (AUC) value of 1.000, with optimal cut-off values of ≤12.90 and ≤269.92, respectively. Both the Mentzer Index and Sehgal Index demonstrated equivalent and excellent diagnostic performance in early thalassemia-β screening among.   Keywords      : adolescents, early screening, mentzer index, sehgal index, thalassemia-β     PENDAHULUAN   Talasemia merupakan kelainan hemoglobin herediter yang diakui oleh World Health Organization (WHO) sebagai salah satu masalah kesehatan masyarakat global yang paling signifikan. Sekitar 7% populasi dunia diperkirakan merupakan pembawa (carrier) kelainan hemoglobin, termasuk talasemia (Jilek et al., 2024). Berdasarkan analisis Global Burden of Disease (GBD) 2021, hemoglobinopati termasuk talasemia menyumbang 3,4% dari total kematian anak di bawah usia lima tahun secara global, dengan beban terbesar di kawasan Mediterania, Timur Tengah, dan Asia Tenggara (Tuo et al., 2024). WHO memperkirakan bahwa insiden pembawa sifat talasemia di Indonesia berkisar 6-10%, artinya dari setiap 100 orang penduduk terdapat 6-10 orang merupakan pembawa sifat talasemia (Wahidiyat et al., 2022). Pada tahun 2021, jumlah penderita talasemia-β mayor di Indonesia sebanyak 10.973 orang atau sekitar 3,59% dari jumlah populasi, sehingga pemerintah mendorong pelaksanaan skrining sejak dini (Kementerian Kesehatan RI, 2022). Data Perhimpunan Orang Tua Penderita Talasemia Indonesia (POPTI) Jawa Barat Tahun 2024 mencatat sekitar 40% penyandang talasemia berat di Jawa Barat atau 5.417 kasus, menjadikan Jawa Barat sebagai provinsi dengan prevalensi tertinggi di Indonesia (Bappeda Jabar, 2025). Talasemia-β merupakan penyakit genetik yang ditandai dengan kekurangan sintesis hemoglobin akibat kelainan β-globin sehingga mengakibatkan produksi eritrosit yang tidak efektif(Tuo et al., 2024). Remaja yang merupakan pembawa sifat talasemia-β atau yang terkena talasemia-β mayor biasanya menghadapi rasa lelah, hambatan pertumbuhan, dan bahkan kerusakan organ tubuh (Rediyanto, 2023). Sejumlah remaja tidak terdeteksi skrining anemia akibat minimnya pengetahuan dan keterbatasan akses ke fasilitas kesehatan (Wahidiyat et al., 2022). Skrining gen β-talasemia yang dilakukan pada remaja usia sekolah di berbagai wilayah Indonesia menunjukkan prevalensi pembawa sifat (carrier) berkisar antara 5 hingga 12% (Adhiyanto et al., 2017). Oleh karena itu, metode skrining yang sederhana namun efektif perlu dikembangkan agar dapat digunakan di tingkat sekolah guna meningkatkan skrining dini (Rastogi & AS, 2020). Penggunaan indeks hematologi sederhana seperti Indeks Mentzer dan Indeks Sehgal menjadi alternatif yang relevan dan terjangkau untuk mendukung skrining dini talasemia-β pada remaja karena dapat dihitung dari pemeriksaan darah lengkap yang sudah umum tersedia (Rastogi & AS, 2020). Studi evaluasi diagnostik menunjukkan bahwa Indeks Mentzer memiliki sensitivitas sekitar 74% dan spesifisitas 63%, dengan Negative Predictive Value (NPV) mencapai 98%, sehingga efektif untuk deteksi kemungkinan talasemia-β (AlQarni et al., 2024). Sementara itu, Indeks Sehgal dilaporkan memiliki NPV tertinggi sebesar 95,96% serta sensitivitas yang baik dalam membedakan pembawa sifat talasemia-β dari kondisi anemia lainnya (Rastogi & AS, 2020). Hingga saat ini, belum terdapat penelitian yang secara khusus membandingkan hasil skrining Indeks Mentzer dan Indeks Sehgal pada remaja di SMK Kesehatan Cianjur sebagai upaya skrining dini berbasis sekolah. Berdasarkan latar belakang tersebut, penelitian ini bertujuan untuk mengetahui perbedaan hasil skrining awal talasemia-β antara Indeks Sehgal dan Indeks Mentzer pada remaja di SMK Kesehatan Cianjur.   METODE   Penelitian ini menggunakan metode observasional analitik dengan pendekatan potong lintang (cross-sectional), yang dilaksanakan pada bulan Februari 2026 di SMK Kesehatan Cianjur. Desain ini dipilih karena bertujuan membandingkan hasil skrining talasemia-β menggunakan dua indeks dalam satu kali pengambilan data. Populasi penelitian adalah seluruh siswa kelas 10 yang berjumlah 94 orang. Teknik penentuan sampel menggunakan purposive sampling dengan rumus Slovin (toleransi kesalahan 15%), menghasilkan sampel minimal 30 orang ditambah asumsi drop out 10% sehingga total 33 orang. Pada pelaksanaannya, diperoleh 28 responden yang memenuhi kriteria. Kriteria inklusi meliputi: siswa SMK Kesehatan Cianjur kelas 10 berusia 14-17 tahun, tidak memiliki penyakit kronis atau akut yang memengaruhi kadar hemoglobin, bersedia berpartisipasi dengan menandatangani lembar informed consent, bersedia menjalani pemeriksaan darah, dan dalam kondisi kesehatan umum yang stabil. Kriteria eksklusi meliputi: riwayat penyakit kronis atau akut yang memengaruhi parameter hematologi, pernah menjalani transfusi darah dalam tiga bulan terakhir, sedang mengonsumsi obat-obatan yang memengaruhi kadar hemoglobin, memiliki data pemeriksaan darah tidak lengkap, serta menolak atau menarik diri dari penelitian. Variabel independen dalam penelitian ini adalah Indeks Mentzer dan Indeks Sehgal, sedangkan variabel dependen adalah hasil skrining awal talasemia-β pada remaja. Pengumpulan data dilakukan melalui pemeriksaan laboratorium darah lengkap Complete Blood Count (CBC) menggunakan alat Hematology Analyzer otomatis untuk memperoleh parameter Hb, RBC, MCV, dan MCH. Indeks Mentzer dihitung dengan rumus MCV÷RBC, dengan nilai cut-off <13 mengarah pada kemungkinan β-talasemia trait dan ≥13 mengarah pada anemia defisiensi besi Indeks Sehgal dihitung dengan rumus (MCV×MCH)÷RBC, dengan nilai cut-off <300 menunjukkan kemungkinan β-talasemia trait dan ≥300 menunjukkan kemungkinan anemia defisiensi besi. Analisis data meliputi analisis univariat untuk menggambarkan distribusi demografis dan nilai indeks, uji paired sample t-test untuk membandingkan rata-rata kedua indeks pada subjek yang sama, dan analisis kurva Receiver Operating Characteristic (ROC) untuk menilai kemampuan diagnostik masing-masing indeks melalui nilai Area Under the Curve (AUC). Penelitian ini telah memperoleh sertifikat Lolos Kaji Etik dari Komite Etik Penelitian Kesehatan (KEPK) STIKes Permata Nusantara dengan Ref: 092/9.V/KEPK-PERNUS/III/2026.   HASIL   Penelitian ini melibatkan 28 responden siswa-siswi dari SMK Kesehatan Cianjur. Berikut disajikan hasil analisis univariat, t-test dependen dan roc.   Tabel 1.         Distribusi Data Demografi Responden (n=28) Data Demografi Kategori n % Usia 15 tahun 10 35,7   16 tahun 14 50,0   17 tahun 4 14,3   Total 28 100 Jenis Kelamin Laki-laki 2 7,1   Perempuan 26 92,9   Total 28 100   Berdasarkan tabel 1, mayoritas responden berusia 16 tahun (50,0%), diikuti usia 15 tahun (35,7%) dan 17 tahun (14,3%). Sebagian besar responden berjenis kelamin perempuan (92,9%) dan hanya 2 orang (7,1%) berjenis kelamin laki-laki.   Tabel 2.         Hasil Pemeriksaan Indeks Eritrosit Responden (n=28) Parameter Mean±SD Minimun Maksimum MCV 82,35±5,35 60,50 88,70 MCH 27,22±5,35 19,80 29,70 RBC 4,93±0,44 3,90 5,70   Berdasarkan tabel 2, nilai rata-rata MCV sebesar 82,35±5,35 fL, MCH sebesar 27,22±5,35 pg, dan RBC sebesar 4,93±0,44 ×10¹²/L, yang secara keseluruhan masih dalam rentang normal atau batas bawah normal.   Tabel 3.         Nilai Indeks Skrining Awal Talasemia (n=28) Indeks Skrining Mean±SD Minimun Maksimum Indeks Mentzer 16±2,31 12,32 22,74 Indeks Sehgal 462,57±89,56 220,56 664,11   Berdasarkan tabel 3, nilai rata-rata Indeks Mentzer sebesar 16,86±2,31 (rentang 12,32-22,74). Nilai rata-rata ini berada di atas cut-off ≥13, menunjukkan bahwa sebagian besar responden lebih mengarah pada anemia defisiensi besi. Nilai rata-rata Indeks Sehgal sebesar 462,57±89,56 (rentang 220,56-664,11), berada di atas cut-off ≥300, yang juga mengarah pada kemungkinan anemia defisiensi besi.   Tabel 4.         Hasil Uji Paired Sample T-test dan Uji Normalitas (Shapiro-Wilk) Indikator Mean±SD N Shapiro-Wilk (p) p-value Indeks Mentzer 16,86±2,31 28 0,804 0,000* Indeks Sehgal 462,57±89,56 28 0,559 *Signifikan pada p < 0,05   Berdasarkan tabel 4, uji normalitas Shapiro-Wilk menunjukkan data terdistribusi normal (p > 0,05), sehingga uji paired sample t-test dapat digunakan. Hasil uji menunjukkan terdapat perbedaan yang signifikan antara Indeks Mentzer (mean 16,86±2,31) dan Indeks Sehgal (mean 462,57±89,56) dengan p-value = 0,000 < 0,05. Perbedaan ini mencerminkan perbedaan skala numerik antara kedua indeks, bukan perbedaan kemampuan diagnostiknya.   Tabel 5.         Nilai Area Under Curve (AUC) Indeks Mentzer dan Indeks Sehgal Variabel AUC Std.Error Asymptotic Sig. Cutt-off Optimal Indeks Mentzer 1,000 0,000 0,095 ≤12,90 Indeks Sehgal 1,000 0,000 0,095 ≤269,92   Berdasarkan tabel 5, analisis kurva ROC menunjukkan bahwa Indeks Mentzer dan Indeks Sehgal sama-sama menghasilkan nilai AUC sebesar 1,000 dengan standar error 0,000. Nilai AUC sebesar 1,000 mengindikasikan kemampuan diskriminasi yang sempurna (excellent) dalam membedakan anemia defisiensi besi dan β-talasemia trait. Nilai Asymptotic Significance sebesar 0,095 (p > 0,05) menunjukkan tidak terdapat perbedaan kemampuan diagnostik yang bermakna secara statistik antara kedua indeks. Berdasarkan gambar 6 memperlihatkan curva ROC dengan nilai sensitivity dan specifity di mana nilai sensitivity dan specificity membentuk garis diagonal  dari titik (0,0) hingga (1,0). Hal ini menunjukkan bahwa nilai AUC mendekati 1,0  sehingga kemampuan diskriminasi indeks dalam membedakan talasemia dan non talasemia yang sempurna di mana untuk nilai sensitivity dan specificity  0,9-1,0 =sangat baik 0,8-0,89=baik 0,7-0,79 =cukup 06-0,69=lemah 0,5-0,59=sangat lemah 0,50 =tidak ada kemampuan diskriminasi. Meskipun hasil AUC menunjukkan nilai sempurna (1,0), namun jumlah sampel hanya 1 orang yang positif. Hal ini menyebabkan kurva ROC menjadi sangat sensitif terhadap nilai 1 orang tersebut, maka dari itu diperlukan penambahan jumlah positif dimasa mendatang untuk memvalidasi apakah akurasi sempurna ini tetap konsisten pada populasi yang lebih luas.   Gambar 1. Curva Roc PEMBAHASAN   Hasil penelitian menunjukkan nilai rata-rata Indeks Mentzer sebesar 16,86±2,31, di mana mayoritas responden memiliki nilai ≥13 sehingga lebih mengarah pada anemia defisiensi besi dibandingkan β-talasemia trait. Secara teoritis, Indeks Mentzer yang merupakan rasio antara MCV dan jumlah eritrosit (RBC) digunakan untuk membedakan anemia mikrositik, di mana nilai <13 cenderung menunjukkan β-talasemia trait akibat RBC relatif tinggi meskipun MCV rendah, sedangkan nilai ≥13 menunjukkan anemia defisiensi besi (Bahraen, 2021). Nilai rata-rata yang tinggi pada penelitian ini memperkuat bahwa gambaran eritrosit responden lebih konsisten dengan anemia defisiensi besi, sebagaimana juga dilaporkan pada penelitian sebelumnya di populasi remaja (Yanti et al., 2023). Berbagai studi menyebutkan bahwa Indeks Mentzer merupakan metode skrining yang sederhana dan ekonomis dengan nilai NPV mencapai 98% ketika hasilnya ≥13 (AlQarni et al., 2024; Sahiratmadja E. et al., 2021). Nilai rata-rata Indeks Sehgal sebesar 462,57±89,56 dengan rentang 220,56-664,11 menunjukkan bahwa hampir seluruh responden memiliki nilai ≥300, sehingga secara deskriptif lebih mengarah pada anemia defisiensi besi dan bukan β-talasemia trait (Indrasari et al., 2021). Hasil ini konsisten dengan Indeks Mentzer pada penelitian yang sama, sehingga kedua indeks secara bersamaan memperkuat kesimpulan bahwa pola anemia yang terjadi lebih mengarah pada anemia defisiensi besi (Tabassum et al., 2022). Namun demikian, terdapat satu responden dengan nilai mendekati cut-off yang perlu diperhatikan, karena indeks diskriminan hanya berfungsi sebagai skrining awal dan tidak dapat menegakkan diagnosis definitif tanpa pemeriksaan lanjutan seperti elektroforesis hemoglobin (Yanti et al., 2023) Berdasarkan hasil analisis ROC, Indeks Mentzer dan Indeks Sehgal sama-sama menunjukkan nilai AUC sebesar 1,000. Nilai AUC mendekati 1,0 menandakan performa diagnostik kategori excellent dalam membedakan anemia defisiensi besi (ADB) dan beta-thalassemia trait (BTT) pada remaja (Suman et al., 2022). Namun temuan ini harus diinterpretasikan secara hati-hati karena dari total 28 responden hanya terdapat satu sampel positif talasemia, sehingga kurva ROC menjadi sangat sensitif terhadap satu nilai tersebut, yang berpotensi menyebabkan overestimasi nilai AUC (Çorbacıoğlu & Aksel, 2023). Nilai Asymptotic Significance sebesar 0,095 (p > 0,05) mengkonfirmasi tidak terdapat perbedaan kemampuan diskriminasi yang bermakna secara statistik antara kedua indeks (Wu et al., 2024). Temuan ini sejalan dengan penelitian Suman (2022)yang melaporkan bahwa Indeks Mentzer dan Indeks Sehgal sama-sama memiliki performa diskriminatif tinggi karena keduanya memanfaatkan parameter eritrosit yang sensitif terhadap perubahan mikrositik. Apabila ditinjau dari aspek penerapan klinis, Indeks Mentzer dinilai lebih praktis karena menggunakan rumus sederhana (MCV÷RBC), sehingga lebih mudah dihitung, diinterpretasikan, dan telah digunakan secara luas di berbagai fasilitas kesehatan. Di sisi lain, Indeks Sehgal merupakan indeks diskriminan yang lebih komprehensif karena melibatkan tiga parameter hematologi (MCV, MCH, RBC), sehingga berpotensi lebih unggul pada kasus talasemia mikrositik kompleks (Sehgal et al., 2015). Tingginya prevalensi anemia pada remaja di Indonesia 48,9% pada remaja putri usia 15-24 tahun berdasarkan Riskesdas, (2018) menunjukkan pentingnya program skrining dini yang ekonomis. Penggunaan indeks diskriminan sederhana seperti Indeks Mentzer dan Indeks Sehgal menjadi langkah awal yang efektif karena seluruh parameter berasal dari pemeriksaan CBC rutin tanpa memerlukan reagen tambahan (Alkamali et al., 2024). Selain itu, perawat memiliki peran penting dalam pelaksanaan skrining talasemia, baik sebagai edukator, konselor, maupun koordinator pemeriksaan darah lengkap di fasilitas kesehatan primer (Handian et al., 2025). Penelitian ini memiliki beberapa keterbatasan. Pertama, jumlah sampel yang relatif terbatas dan distribusi data tidak seimbang (hanya satu sampel positif talasemia) menyebabkan nilai AUC sempurna yang perlu diinterpretasikan secara hati-hati. Kedua, desain cross-sectional hanya menggambarkan kondisi responden pada satu waktu pengamatan. Ketiga, penelitian belum dilengkapi pemeriksaan konfirmasi seperti elektroforesis hemoglobin atau HPLC sebagai gold standard. Keempat, beberapa faktor perancu seperti status gizi dan riwayat konsumsi suplemen zat besi belum dikendalikan. Oleh karena itu, penelitian lanjutan dengan sampel lebih besar, distribusi data yang lebih seimbang, dan pemeriksaan konfirmasi definitif sangat diperlukan.   KESIMPULAN   Indeks Mentzer dan Indeks Sehgal menunjukkan performa diagnostik yang setara dan sangat baik dalam skrining awal talasemia-β pada remaja di SMK Kesehatan Cianjur, ditandai dengan nilai AUC sebesar 1,000 pada kedua indeks. Tidak terdapat perbedaan kemampuan diskriminasi yang bermakna secara statistik antara kedua indeks (Asymptotic Significance = 0,095; p > 0,05). Nilai rata-rata Indeks Mentzer (16,86±2,31) dan Indeks Sehgal (462,57±89,56) pada responden menunjukkan pola yang lebih mengarah pada anemia defisiensi besi dibandingkan talasemia-β. Terdapat perbedaan signifikan secara numerik antara kedua indeks (p-value = 0,000), yang mencerminkan perbedaan skala pengukuran bukan kemampuan diagnostik. Secara praktis, Indeks Mentzer direkomendasikan sebagai alat skrining awal yang sederhana, ekonomis, dan efektif di pelayanan kesehatan primer maupun program kesehatan berbasis sekolah. Penelitian lanjutan dengan sampel lebih besar dan konfirmasi elektroforesis hemoglobin sangat disarankan untuk memvalidasi temuan ini.   UCAPAN TERIMAKASIH   Penulis mengucapkan terima kasih kepada dosen pembimbing, dosen penguji, Ketua STIKes Permata Nusantara, pihak SMK Kesehatan Cianjur, seluruh responden penelitian, serta keluarga dan teman-teman seperjuangan yang telah memberikan dukungan selama proses penelitian dan penulisan artikel ini.   DAFTAR PUSTAKA     Adhiyanto, C. … Mustafa, A. (2017). Screening of ß-Globin Gene Mutations in Adolescent Schoolgirls in Rural Malang and Sukabumi City, Java Province, Indonesia. 10(ICHLaS), 183–186. https://doi.org/10.2991/ichlas-17.2017.47 Alkamali, A. … Mazahir, F. (2024). Evaluating the Mentzer Index for Screening of Iron Deficiency Anemia and Beta Thalassemia Among Infants Visiting Primary Health Centers in Dubai, United Arab Emirates: A Retrospective Study. Cureus, 16(8), 6–12. https://doi.org/10.7759/cureus.66286 AlQarni, A. M. … Alreedy, A. H. (2024). Diagnostic test performance of the Mentzer index in evaluating Saudi children with microcytosis. Frontiers in Medicine, July, 1–7. https://doi.org/10.3389/fmed.2024.1361805 Bappeda Jabar. (2025). Jabar Komitmen Tekan Prevalensi Thalassemia. April, 7–10. Çorbacıoğlu, Ş. K., & Aksel, G. (2023). Receiver operating characteristic curve analysis in diagnostic accuracy studies: A guide to interpreting the area under the curve value. Turkish Journal of Emergency Medicine, 23(4), 195–198. https://doi.org/10.4103/tjem.tjem_182_23 Handian, F. I. … Thein, T. T. (2025). Exploring Public Attitude and Barriers toward Thalassemia Screening Strategies: A Systematic Review of Qualitative Studies. Nurse Media Journal of Nursing, 15(3), 439–457. https://doi.org/10.14710/nmjn.v15i3.61797 Indrasari, Y. N. … Yusoff, N. M. (2021). Reliability of different RBC indices and formulas in the discrimination of β-thalassemia minor and iron deficiency anemia in Surabaya, Indonesia. Indian Journal of Forensic Medicine and Toxicology, 15(1), 984–989. https://doi.org/10.37506/ijfmt.v15i1.13543 Jilek, R. … Tung, M. L. (2024). Iowa Newborn Screening Program Experience with Hemoglobinopathy Screening over the Last Two Decades and Its Increasing Global Relevance. International Journal of Neonatal Screening, 10(1). https://doi.org/10.3390/ijns10010021 Kementerian Kesehatan RI. (2022). Talasemia Penyakit Keturunan , Hindari dengan Deteksi Dini (Issue 021, pp. 2–4). Ministry of Health Republict of Indonesia. Novilla, A. … Romlah, S. (2024). Skrining Talasemia Pada Mahasiswa TLM ( D3 ) Fakultas Ilmu Dan Teknologi Kesehatan Universitas Jenderal Achmad Yani Cimahi Abstrak. Jurnal Ilmiah Kesehatan, 16(September), 356–363. https://doi.org/https://doi.org/10.37012/jik.v16i2.2327 Rastogi, N., & AS, B. (2020). Sehgal index and its comparison with Mentzer’s index and Green and King index in assessment of peripheral blood smear with marked anisopoikilocytosis. International Journal of Research in Medical Sciences. https://www.academia.edu/download/121136247/5882.pdf Riskesdas. (2018). Aksi Bergizi : Gerakan Sehat untuk Remaja Masa Kini. Kementrian Kesehatan Republik Indonesia. https://www.kemkes.go.id/id/aksi-bergizi--gerakan-sehat-untuk-remaja-masa-kini#:~:text=Menanggulangi hal tersebut%2C pemerintah telah melakukan berbagai upaya,fortifikasi pangan%2C dan suplementasi Tablet Tambah Darah %28TTD%29. Sahiratmadja E., S. M. M. V. … R., P. (2021). Challenges in Thalassemia Carrier Detection in a Low Resource Setting Area of Eastern Indonesia : the Use of Erythrocyte Indices. Mediterranean Journal of Hematology and Infectious Diseases, 2–5. https://doi.org/http://dx.doi.org/10.4084/MJHID.2021.003 Sehgal, K. … Khodaiji, S. (2015). Sehgal index : A new index and its comparison with other complete blood count-based indices for screening of beta thalassemia trait in a tertiary care hospital. Indian Journal of Pathology and Microbiology, 58(3). https://doi.org/10.4103/0377-4929.162862 Suman, F. R. … Balasubramanian, J. (2022). Screening for Beta Thalassemia Carrier State Among Women Attending Antenatal Clinic in a Tertiary Care Centre and Framing a Model Program for the Prevention of Beta Thalassemia. Cureus, 14(2), 2–7. https://doi.org/10.7759/cureus.22209 Tabassum, S. … Taj, N. (2022). Role of Mentzer index for differentiating iron deficiency anemia and beta thalassemia trait in pregnant women. Pakistan Journal of Medical Sciences, 38(4). https://doi.org/https://doi.org/10.12669/pjms.38.4.4635 Tuo, Y. … He, Z. (2024). Global, regional, and national burden of thalassemia, 1990–2021: a systematic analysis for the global burden of disease study 2021. EClinicalMedicine, 72(May), 102619. https://doi.org/10.1016/j.eclinm.2024.102619 Wahidiyat, P. A. … Lubis, A. M. (2022). Thalassemia in Indonesia Hemoglobin Thalassemia in Indonesia. International Journal for Hemoglobin Research, 46(1), 39–44. https://doi.org/10.1080/03630269.2021.2023565 Wu, T. … Chen, Y. (2024). The value of Mentzer index in the diagnosis of children thalassemia minor. Hematology, 8454, 1–5. https://doi.org/10.1080/16078454.2024.2405750 Yanti, M. A. … Muhlisin, A. (2023). Perbedaan Nilai Indeks Mentzer,HBA2 Dan Status Besi Pada Anemia Defiesiensi Besi Dan Thalasemia Pada Pasien Anak Di Rsud Ulin Banjarmasin. Jurnal Analisis Labolatorium Medik, 8(1), 27–44. https://doi.org/https://doi.org/10.51544/jalm.v8i1.3818  
EFFECT FOOT REFLEXOLOGY ON REDUCING PAIN AND ANXIETY SCORES IN CARDIAC SURGERY PATIENTS: SYSTEMATIC LITERATURE REVIEW Madia Yuni Ardani
Jurnal Kesehatan Tambusai Vol. 7 No. 2 (2026): JUNI 2026
Publisher : Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/jkt.v7i2.58942

Abstract

Nyeri dan kecemasan pada pasien bedah jantung saling mempengaruhi secara signifikan, yang berdampak langsung pada stabilitas hemodinamik dan proses pemulihan pascaoperasi. Kecemasan preoperasi dapat meningkatkan persepsi nyeri melalui aktivitas sistem saraf simpatis dan peningkatan respons stress fisiologis. Penanganan terpadu terhadap nyeri dan kecemasan sangat penting dalam mendukung kualitas perawatan perioperatif secara optimal. Tinjauan sistematis ini bertujuan untuk menganalisis terapi nonfarmakologis yang digunakan guna menentukan efek refleksiologi kaki dalam mengurangi skor kecemasan dan nyeri pada pasien bedah jantung. Tinjauan sistematis ini menggunakan artikel dari tahun 2014 hingga 2025 dari basis data PubMed, Science Direct, dan Google Scholar. Kata kunci yang digunakan untuk mencari berbagai literatur adalah “Refleksologi kaki” AND “Manajemen Nyeri” AND ‘Kecemasan’ AND “Bedah Jantung” OR “Bedah Jantung Terbuka”. Proses seleksi artikel dilakukan berdasarkan kriteria inklusi dan eksklusi yang telah ditetapkan sebelumnya. Berdasarkan enam artikel yang ditinjau terkait pijat kaki untuk mengurangi skor kecemasan, nyeri, dan stabilisasi indikator fisiologis. Hasil statistik menunjukkan nilai p < 0,05 (p < α, α = 0,05), yang berarti refleksiologi kaki secara efektif mengurangi skor nyeri dan kecemasan. Titik pijat yang direkomendasikan adalah pleksus solar, hipotalamus, kelenjar pituitari, diafragma, dan kelenjar adrenal. Kesimpulan: Refleksiologi kaki dapat mengurangi skor kecemasan dan nyeri, menstabilkan hemodinamika, serta meningkatkan kualitas tidur, sehingga meningkatkan kualitas hidup.
ANALISIS PENGARUH PENGETAHUAN PASIEN DEWASA TERHADAP PERILAKU SWAMEDIKASI DEMAM DI RT. 30 TAMBAK SARI KOTA JAMBI Iradat Gustiani; Siti Marwah Lestari; Rahmadevi Rahmadevi
Jurnal Kesehatan Tambusai Vol. 7 No. 2 (2026): JUNI 2026
Publisher : Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/jkt.v7i2.58948

Abstract

Pengetahuan memiliki keterkaitan yang kuat dengan perilaku swamedikasi, Semakin besar pengetahuan, maka perilaku swamedikasi juga semakin meningkat. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk menganalisis keterkaitan antara pengetahuan dengan perilaku swamedikasi demam dalam masyarakat RT. 30 Desa Tambak Sari Kota Jambi. Metode yang diterapkan adalah cross-sectional yang menganalisis hubungan pengetahuan dengan perilaku swamedikasi demam dengan pemanfaatan sampel sebanyak 75 responden. teknik pengumpulan data menggunakan kuesioner, menganalisis informasi dengan uji statistik chi-squere. Hasil penelitian yang melibatkan 75 responden menunjukkan bahwa swamedikasi demam lebih banyak dilakukan oleh perempuan dengan persentase sebesar 78,7%. Berdasarkan kelompok usia, responden terbanyak berada pada rentang 36–45 tahun yaitu sebesar 38,7%, sedangkan tingkat pendidikan terakhir didominasi oleh lulusan SMA/sederajat sebanyak 44%. Tingkat pengetahuan responden sebagian besar berada pada kategori baik (49,3%), begitu pula perilaku swamedikasi yang mayoritas termasuk kategori baik (44%).  Hubungan antara tingkat pengetahuan dan perilaku swamedikasi demam menunjukkan kategori baik sebesar 49,3%, kategori cukup 32,0%, dan kategori kurang 18,7%. Berdasarkan Chi-Square Test, diperoleh nilai sig 0,000 sehingga disimpulkan ada hubungan pengetahuan dengan perilaku swamedikasi demam di masyarkat RT. 30 Tambak Sari Kota Jambi.
PENGARUH PAPARAN PORNOGRAFI MELALUI GADGET TERHADAP KUALITAS TIDUR REMAJA DI KOTA BANDAR LAMPUNG Harun Al rasyid; Octa Reni Setiawati; Yuniastini Yuniastini; Dessy Hermawan
Jurnal Kesehatan Tambusai Vol. 7 No. 2 (2026): JUNI 2026
Publisher : Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/jkt.v7i2.58970

Abstract

Kualitas tidur merupakan kebutuhan dasar yang sangat penting bagi remaja karena berperan dalam menjaga kesehatan fisik, fungsi kognitif, serta kestabilan emosionalSeiring perkembangan teknologi, penggunaan gadget di kalangan remaja semakin meningkat dan memberikan kemudahan dalam mengakses berbagai informasi, termasuk konten negatif seperti pornografi. Paparan konten pornografi melalui gadget diduga dapat memengaruhi kondisi psikologis dan kebiasaan tidur remaja, seperti meningkatkan stimulasi otak, menunda waktu tidur, serta menurunkan kualitas tidur. Tingginya akses internet tanpa pengawasan yang memadai dapat memperbesar risiko remaja terpapar konten tersebut. Maka penting untuk mengkaji apakah paparan pornografi melalui gadget memiliki hubungan dengan kualitas tidur remaja. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara paparan pornografi melalui gadget dengan kualitas tidur remaja di Kota Bandar Lampung. Penelitian ini menggunakan desain kuantitatif dengan pendekatan cross sectional. Sampel penelitian berjumlah 282 siswa SMP Negeri 2 Bandar Lampung yang dipilih menggunakan teknik cluster sampling. Data dikumpulkan melalui kuesioner paparan pornografi dan Pittsburgh Sleep Quality Index (PSQI). Analisis data dilakukan secara univariat dan bivariat menggunakan uji Chi-Square. Sebagian besar responden tidak terpapar pornografi (63,2%), sedangkan 36,8% terpapar. Mayoritas responden memiliki kualitas tidur baik (94,7%). Hasil uji Chi-Square menunjukkan nilai p = 0,057 (p > 0,05), yang berarti tidak terdapat hubungan yang signifikan antara paparan pornografi melalui gadget dengan kualitas tidur remaja. Meskipun secara deskriptif remaja yang terpapar memiliki proporsi kualitas tidur buruk lebih tinggi, hubungan tersebut tergolong lemah (Cramer’s V = 0,142). Tidak terdapat hubungan yang signifikan antara paparan pornografi melalui gadget dengan kualitas tidur remaja di Kota Bandar Lampung, meskipun terdapat kecenderungan penurunan kualitas tidur pada remaja yang terpapar.
LITERATUR REVIEW : ANALISIS PENERAPAN KESELAMATAN DAN KESEHATAN KERJA DI PUSKESMAS iman Gunawan; Dyah Suryani; Heni Trisnowati
Jurnal Kesehatan Tambusai Vol. 7 No. 2 (2026): JUNI 2026
Publisher : Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/jkt.v7i2.58978

Abstract

Penerapan Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3) di Puskesmas sangat penting untuk memastikan kualitas layanan kesehatan dan melindungi tenaga kesehatan dari potensi kecelakaan dan penyakit yang terkait dengan pekerjaan. Penelitian ini adalah sebuah studi literatur sistematis yang bertujuan untuk mengevaluasi implementasi K3 di berbagai Puskesmas di Indonesia dengan mengikuti pedoman PRISMA. Pencarian artikel dilakukan melalui platform seperti Google Scholar, PubMed, dan Garuda, dengan syarat artikel yang diterbitkan antara tahun 2021–2024, akses terbuka, teks lengkap, dan fokus pada penerapan K3 di Puskesmas. Dari total 1.066 artikel yang diidentifikasi, hanya 6 artikel yang memenuhi syarat untuk dianalisis. Hasil analisis menunjukkan bahwa hanya satu Puskesmas yang menerapkan K3 secara maksimal sesuai dengan Peraturan Menteri Kesehatan No. 52 Tahun 2018, sedangkan lima yang lain masih menghadapi berbagai hambatan seperti kekurangan tenaga kerja, anggaran yang tidak memadai, infrastruktur yang kurang baik, serta lemahnya kebijakan internal. Di samping itu, beberapa standar penting seperti pemeriksaan kesehatan rutin untuk tenaga kesehatan, imunisasi, dan kesiapsiagaan menghadapi bencana belum dilaksanakan secara konsisten. Temuan ini menunjukkan bahwa penerapan K3 di Puskesmas masih belum optimal dalam hal perencanaan, pelaksanaan, pemantauan, serta dukungan dari kebijakan. Penelitian ini merekomendasikan perlunya penguatan regulasi, peningkatan kapasitas tenaga kesehatan, dan evaluasi agar penerapan K3 dapat berjalan efektif.
FAKTOR – FAKTOR YANG BERHUBUNGAN DENGAN KELUHAN MUSCULOSKELETAL DISORDERS (MSDs) PADA PEKERJA PEMANEN KELAPA SAWIT DI KECAMATAN PURIALA KABUPATEN KONAWE Ernis Ernis; Hariati Lestari; Febriana Muchtar
Jurnal Kesehatan Tambusai Vol. 7 No. 2 (2026): JUNI 2026
Publisher : Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/jkt.v7i2.58988

Abstract

Musculoskeletal Disorder (MSDs) merupakan keluhan pada otot skeletal yang menerima beban statis secara terus menerus dan dalam waktu yang lama serta dapat menimbulkan keluhan berupa nyeri pada sendi, ligamen dan tendon. Tujuan dalam penelitian ini untuk mengetahui Faktor-Faktor Yang Berhubungan Dengan Keluhan Musculoskeletal disorders (MSDs) Pada Pekerja Pemanen Kelapa Sawit Di Kecamatan Puriala Kabupaten Konawe. Penelitian ini merupakan penelitian kuantitatif yang menggunakan metode observasional analitik dengan pendekatan cross sectional. Populasi pada penelitian ini adalah seluruh pekerja pemanen kelapa sawit di Kecamatan Puriala Kabupaten Konawe sebanyak 827 orang, dengan jumlah sampel sebanyak 263 responden pemanen kelapa sawit yang diperoleh menggunakan teknik propotional random sampling. Instrumen penelitian menggunakan kuesioner, Nordic Body Map (NBM) dan Rapid Entire Body Assessment (REBA). Analisis data menggunakan uji Chi-square dan Fisher Exact dengan tingkat kepercayaan 95% (α = 0,05). Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa tidak terdapat hubungan antara masa kerja p-value = 0,954, durasi kerja p-value = 0,635 dan postur kerja p-value = 0,481 dengan keluhan Musculoskeletal disorders (MSDs) pada pekerja pemanen kelapa sawit di Kecamatan Puriala Kabupaten Konawe. Namun terdapat hubungan antara usia p-value = 0,016 beban kerja fisik p-value = 0,000 dengan keluhan Musculoskeletal disorders (MSDs). Kesimpulan penelitian ini adalah usia dan beban kerja fisik merupakan faktor yang berhubungan dengan keluhan Musculoskeletal disorders (MSDs) pada pekerja pemanen kelapa sawit di Kecamatan Puriala Kabupaten Konawe.