cover
Contact Name
Apriana Vinasyiam
Contact Email
akuakultur.indonesia@gmail.com
Phone
-
Journal Mail Official
akuakultur.indonesia@gmail.com
Editorial Address
-
Location
Kota bogor,
Jawa barat
INDONESIA
Jurnal Akuakultur Indonesia
ISSN : 14125269     EISSN : 23546700     DOI : -
Core Subject : Agriculture,
Jurnal Akuakultur Indonesia (JAI) merupakan salah satu sarana penyebarluasan informasi hasil-hasil penelitian serta kemajuan iptek dalam bidang akuakultur yang dikelola oleh Departemen Budidaya Perairan, FPIK–IPB. Sejak tahun 2005 penerbitan jurnal dilakukan 2 kali per tahun setiap bulan Januari dan Juli. Jumlah naskah yang diterbitkan per tahun relatif konsisten yaitu 23–30 naskah per tahun atau minimal 200 halaman.
Arjuna Subject : -
Articles 582 Documents
Growth of green catfish seed fed on sludge worm and artificial feed combination Aryani, Netti; Pamungkas, Niken Ayu; Adelina, .
Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 12 No. 1 (2013): Jurnal Akuakultur Indonesia
Publisher : Indonesian Society of Scientific Aquaculture (ISSA)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (2774.188 KB) | DOI: 10.19027/jai.12.18-24

Abstract

ABSTRACT This research aimed to obtain information of growth and survival of green catfish (Mystus nemurus) juvenile fed with sludge worm (Tubifex sp.; T) and artificial diet (PB) and added with the combination of 50% soybean pulp waste and 50% freshwater trash fish. Feeding was performed in several variation of time during 40 days of fish rearing. Average body length of juvenile was 12 mm and weight 2.8±0.0 mg, maintained at a density of 30 individuals/aquarium. The treatment in this research was T10PB30 (8–18 days old juvenile were fed with sludge worm and 18–48 days old fish were fed with artificial diet), T20PB20 (8–28 days old juvenile were fed with sludge worm and 28–48 days old were fed with artificial diet), T30PB10 (8–38 days old juvenile were fed with sludge worm and 38–48 days old were given artificial diet), PB40 (8–48 days old juvenile were fed artificial diet), T40 (8–48 days old juvenile were fed with sludge worm). The results indicated that the treatment of 40 days feeding with sludge worm provided the best growth and survival as daily growth rate of 16.4±28.0 g/day, the growth of the absolute length was 43.60±0.01 mm, the absolute body weight 2,047.2±35.0 mg and the survival rate was 96.44%. The best artificial feeding treatment was feeding with sludge worm for 30 days and with 10 days of artificial diet, results in daily growth rate of 4.53±0,25 mm/day, the growth of the absolute length 40.00±0.04 mm, the absolute body weight 1,447.2±15.0 mg, and the survival rate 94.44±2.60%. Keywords: artificial feed, sludge worm, growth, green catfish  ABSTRAK Penelitian ini bertujuan untuk mendapatkan informasi pertumbuhan dan sintasan benih ikan baung (Mystus nemurus) dengan pemberian cacing sutra (Tubifex sp.; T) dan pakan buatan (PB) kombinasi 50% limbah ampas tahu dan 50% ikan rucah air tawar. Pakan diberikan dengan variasi lama waktu berbeda selama pemeliharaan 40 hari. Rerata panjang awal benih adalah 12 mm dan bobot tubuh 2,8±0,0 mg, dipelihara dengan kepadatan 30 ekor/akuarium. Perlakuan dalam penelitian ini adalah T10PB30 (benih umur 8–18 hari diberi pakan cacing sutra dan umur 18–48 hari pakan buatan), T20PB20 (benih umur 8–28 hari diberi cacing sutra dan umur 28–48 pakan buatan), T30PB10 (benih umur 8–38 diberi pakan cacing sutra dan umur 38–48 diberi pakan buatan), PB40 (benih umur 8–48 hari diberi pakan buatan), T40 (benih umur 8–48 hari diberi pakan cacing sutra). Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa perbedaan lama waktu pemberian cacing sutra dan pakan buatan yang terbaik adalah pemberian pakan cacing sutra selama 40 hari dengan laju pertumbuhan harian 16,4±28,0 g/hari, pertumbuhan panjang mutlak 43,60±0,01 mm, bobot mutlak 2.047,2±35,0 mg, dan sintasan 96,44%. Selanjutnya variasi lama waktu pemberian pakan buatan yang terbaik adalah pemberian cacing sutra selama 30 hari dan pakan buatan sepuluh hari dengan laju pertumbuhan harian sebesar 4,53±0,25 mm/hari, pertumbuhan panjang mutlak 40,00±0,04 mm, bobot mutlak 1.447,2±15,0 mg, dan sintasan 94,44±2,60%. Kata kunci: pakan buatan, cacing sutra, pertumbuhan, ikan baung 
Phenotype characterization of interspecific hybrid abalone Haliotis asinina and Haliotis squamata seed Soelistyowati, Dinar Tri; Kusumawardhani, Aldilla; Junior, Muhammad Zairin
Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 12 No. 1 (2013): Jurnal Akuakultur Indonesia
Publisher : Indonesian Society of Scientific Aquaculture (ISSA)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (3892.198 KB) | DOI: 10.19027/jai.12.25-30

Abstract

ABSTRACT Abalone is one of sea-water aquaculture commodity that having relatively low in growth and survival. Interspesific hybridization between abalone Haliotis asinina and Haliotis squamata is required to produce hybrid seeds having a better phenotype inherited from their parents. Crossbreeding of abalone was done in the reciprocal procedure with a natural spawning technique on mass scale. The hybrid seeds showed higher similarity with female brood (98,69%), while  the larvae from H. squamata × H. asinina were abnormal on trocophore until early veliger phase then dead occurred the next phase. The results showed that hybridization between male H. asinina and female H. squamata had higher fertilization and hatching rate than its reciprocal i.e. 76.01±6.15% and 60.14±4.80%. Keywords: interspesific hybridization, phenotype, Haliotis asinina, Haliotis squamata, abalone  ABSTRAK Abalon merupakan komoditas budidaya laut dengan pertumbuhan yang relatif lambat dan kelangsungan hidupnya rendah. Rekayasa persilangan interspesifik antara abalon Haliotis asinina dan Haliotis squamata diharapkan mampu mengatasi permasalahan benih dan memiliki fenotipe unggul yang diwariskan dari tetuanya. Persilangan abalon dilakukan secara resiprok dengan teknik pemijahan alami skala massal. Hasil penelitian menunjukkan bahwa benih hibrida menunjukkan kemiripan dengan induknya sebesar 98,69%, sedangkan larva hibrida antara jantan H. squamata × H. asinina menunjukkan bentuk abnormal pada fase trokofor hingga veliger awal dan kematian pada fase lanjut. Hibridisasi antara jantan H. asinina dan betina H. squamata memiliki derajat pembuahan dan derajat penetasan yang lebih tinggi dibandingkan resiprokalnya, yaitu berturut-turut 76,01±6,15% dan 60,14±4,80%. Kata kunci: hibridisasi interspesifik, fenotipe, Haliotis asinina, Haliotis squamata, abalon  
Effectivity of thyroxine and recombinant growth hormone on the growth of Siam-catfish larvae Sudrajat, Agus Oman; Muttaqin, Muhammad; Alimuddin, .
Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 12 No. 1 (2013): Jurnal Akuakultur Indonesia
Publisher : Indonesian Society of Scientific Aquaculture (ISSA)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (3071.371 KB) | DOI: 10.19027/jai.12.31-39

Abstract

ABSTRACT Catfish hatchery requires technology and engineering to maximize the development and growth of fish. In this research the hormone thyroxine (T4), recombinant growth hormone (G) and mix of thyroxine and growth hormones (GT) were administered by immersion to enhance the development and growth of stripped catfish larvae. Research was using completely randomized design, with four treatments and five replications; A, control; B, thyroxine hormone (T4) 0.1 mg/L; C, T4 and G (GT) (0.1 mg/L and 10 mg/L); and D, G 10 mg/L. Immersion was performed for one hour. Results showed that the rate of yolk absorption at 16 hours post immersion was higher (P<0.05) in treatment B (96.98%) compared with treatments A (18.54%), C (20.59%), and D (32.90%). Larval growth of treatments B (24.85 mm) and C (24.00 mm) was higher (P<0.05) compared with treatments A (21.71 mm) and D (23.18 mm). Survival among treatments were similar (P>0.05). The size of liver cell and cytoplasm of treated larvae were larger than the control. Behavior of fish in the treatments B and C showed more active than the treatments A and D. Thus, combination of thyroxine and recombinant growth hormone treatment (C) has an efficient of yolk utilization, and higher in development and growth of stripped catfish larvae. Keywords: thyroxine, growth hormone, yolk absorption, growth, stripped catfish  ABSTRAK Pembenihan ikan patin membutuhkan teknologi dan rekayasa untuk memaksimumkan perkembangan, dan pertumbuhan ikan. Pada penelitian ini dilakukan pemberian hormon tiroksin (T4), hormon pertumbuhan rekombinan (G) serta hormon gabungan antara hormon tiroksin dan hormon pertumbuhan (GT) melalui perendaman untuk memacu perkembangan dan pertumbuhan larva ikan patin siam. Penelitian menggunakan rancangan acak lengkap, dengan empat perlakuan dan lima kali ulangan; A, kontrol; B, hormon tiroksin (T4) 0,1 mg/L; C, T4 dan G (GT) (0,1 mg/L dan 10 mg/L); dan D, G 10 mg/L. Perendaman dilakukan selama satu jam. Hasil penelitian menunjukkan bahwa laju penyerapan kuning telur pada jam ke-16 setelah perendaman lebih cepat (P<0,05) pada perlakuan B (96,98%) dibandingkan dengan perlakuan A (18,54%), C (20,59%), dan D (32,90%). Pertumbuhan larva yang diberi perlakuan B (24,85 mm) dan C (24,00 mm) lebih tinggi (P<0,05) dibandingkan dengan perlakuan A (21,71 mm) dan D (23,18 mm). Tingkat kelangsungan hidup antarperlakuan tidak berbeda (P>0,05). Ukuran sel dan sitoplasma hati ikan perlakuan relatif lebih besar dibandingkan kontrol. Tingkah laku ikan pada perlakuan B dan C lebih aktif dibandingkan perlakuan A dan D. Dengan demikian kombinasi hormon tiroksin dan hormon pertumbuhan rekombinan secara bersama (C) memiliki efisiensi pemanfaatan kuning telur, perkembangan, dan pertumbuhan lebih tinggi pada larva ikan patin. Kata kunci: tiroksin, hormon pertumbuhan, penyerapan kuning telur, pertumbuhan, ikan patin siam 
Improvement of cocoa-pod husk using sheep rumen liquor for tilapia diet Jusadi, Dedi; Ekasari, Julie; Kurniansyah, Azis
Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 12 No. 1 (2013): Jurnal Akuakultur Indonesia
Publisher : Indonesian Society of Scientific Aquaculture (ISSA)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (2802.845 KB) | DOI: 10.19027/jai.12.40-47

Abstract

ABSTRACT Two experiments were conducted to evaluate the effect of sheep rumen liquor enzyme addition on the reduction of cocoa-pod husk meal (CPHM) fiber content, and the digestibility of hydrolyzed CPHM for tilapia Oreochromis niloticus. In the first trial, sheep rumen liquor enzyme was added with various concentration, i.e. 0, 50, 100 and 150 mL/kg CPHM with three different incubation periods, namely 0, 12, and 24 hours. In the second trial, digestibility was determined by the addition of Cr2O3 as the indicator in both reference and experimental diets, i.e. feed with hydrolyzed CPHM and unhydrolyzed CPHM. Tilapia with an average body weight of 3.86±0.44 g were stocked at a density of 15 fish/aquarium and were maintained for 15 days. In the first trial, CPHM hydrolyzed with 150 mL/kg and incubated for 12 and 24 hour showed the lowest crude fiber content (21.38% and 21.67%). Apparent digestibility coefficient of hydrolyzed CPHM was 33.95%, which was higher than unhydrolyzed CPHM (10.97%). As conclusions sheep rumen liquor enzyme addition was effective to decrease crude fiber content of CPHM and improve the apparent digestibility coefficient of CPHM for tilapia diet. Keywords: sheep rumen liquor enzyme, cocoa-pod husk meal, digestibility, tilapia  ABSTRAK Dua tahap penelitian dilakukan untuk mengevaluasi penambahan enzim cairan rumen domba dalam menurunkan kandungan serat kasar kulit buah kakao (KBK) dan mengevaluasi ketercernaan KBK yang telah dihidrolisis dengan enzim cairan rumen domba dalam pakan ikan nila Oreochromis niloticus. Pada penelitian tahap satu, enzim cairan rumen domba ditambahkan dengan konsentrasi yang berbeda yaitu 0, 50, 100, dan 150 mL/kg KBK dengan lama inkubasi yang berbeda yaitu 0, 12, dan 24 jam. Pada penelitian tahap dua, nilai ketercernaan ditentukan dengan menggunakan indikator Cr2O3 yang ditambahkan ke dalam pakan acuan dan pakan perlakuan, yaitu pakan dengan penambahan KBK yang telah dihidrolisis dengan dosis terbaik pada penelitian tahap satu (KBKe) dan kulit buah kakao tanpa hidrolisis (KBK). Ikan nila yang digunakan mempunyai bobot rata-rata 3,86±0,44 g ditebar dengan kepadatan 15 ekor/akuarium dan dipelihara selama 15 hari. Hasil penelitian tahap satu menunjukkan hidrolisis KBK dengan menggunakan cairan rumen 150 mL/kg dan lama waktu inkubasi 12 jam dan 24 jam mempunyai nilai serat kasar KBK terendah yaitu sebesar 21,38% dan 21,67%. Pada uji ketercernaan terlihat bahwa nilai ketercernaan bahan KBKe lebih tinggi (33,95%) dibandingkan dengan KBK (10,97%). Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa penambahan enzim cairan rumen domba dapat menurunkan kandungan serat kasar kulit buah kakao dan meningkatkan ketercernaan kulit buah kakao pada pakan ikan nila. Kata kunci: enzim cairan rumen domba, kulit buah kakao, ketercernaan, ikan nila
The growth of red tilapia fed on organic-selenium supplemented diet Suprayudi, Muhammad Agus; Faisal, Burhanudin; Setiawati, Mia
Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 12 No. 1 (2013): Jurnal Akuakultur Indonesia
Publisher : Indonesian Society of Scientific Aquaculture (ISSA)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (2742.874 KB) | DOI: 10.19027/jai.12.48-53

Abstract

ABSTRACT The experiment was conducted to evaluate the level of organic selenium in the diet on the growth performance of red tilapia Oreochromis sp. Four levels of organic selenium namely 0, 1, 2, and 4 g Se/kg diet were used as a treatment, and the selenium content on the diets are 0.12, 0.19, 1.05, and 1.42 mg Se/kg respectively. This experiment were used randomized design with four treatments and two replications. All the diet was formulated to have similar protein and energy. Juvenile red tilapia with average body weight of 9.49±0.94 g were reared in the 80×40×40 cm3 aquarium with density of 10 fish/aquarium. Fish were reared for 40 days and feed four times daily at satiation levels. The result of this study showed that fish fed diet containing 4 g organic Se/kg diet (1,42 mg Se/kg) had the best growth performance. Keywords: organic selenium, growth, red tilapia  ABSTRAK Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh dosis selenium organik pada pakan terhadap kinerja pertumbuhan ikan nila merah Oreochromis sp. Empat macam dosis selenium organik yang digunakan adalah 0, 1, 2, dan 4 g Se/kg pakan. Kandungan selenium pada setiap pakan berturut-turut adalah 0,12; 0,19; 1,05; dan 1,42 mg Se/kg pakan. Penelitian ini menggunakan rancangan acak dengan empat perlakuan dan dua ulangan. Semua pakan diformulasikan memiliki protein dan energi yang sama. Ikan yang digunakan adalah juvenil nila merah dengan bobot rata-rata 9,49±0,95 g yang dipelihara dalam akuarium berukuran 80×40×40 cm3 dengan kepadatan 10 ekor/akuarium. Ikan tersebut dipelihara selama 40 hari dengan frekuensi pemberian pakan empat kali sehari secara at satiation. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa ikan yang diberi pakan yang mengandung 4 g Se organik/kg pakan (1,42 mg Se/kg) memperlihatkan kinerja pertumbuhan terbaik. Kata kunci: selenium organik, pertumbuhan, nila merah 
Artemia sp. as a DNA vaccine vector for common carp Cyprinus carpio larvae Nuryati, Sri; Hadiwibowo, Sekar Sulistyaning; Alimuddin, .
Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 12 No. 1 (2013): Jurnal Akuakultur Indonesia
Publisher : Indonesian Society of Scientific Aquaculture (ISSA)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (2846.28 KB) | DOI: 10.19027/jai.12.54-61

Abstract

ABSTRACT Koi herpes virus (KHV) is one of the most common impetuses for disease on common carp Cyprinus carpio. Generally, viral disease is difficult to cure because virus is intra-cellular parasite, that virus survives, multiplies, and lives only if it on the host cell. Oral vaccine delivery through Artemia sp. is of one alternative way to overcome this problem. This experiment was carried out by analysis DNA vaccine expression encoding of glycoprotein gene (GP-11) on C. carpio. Bacteria containing plasmid Krt-GP-11 as vaccine is served through Artemia sp. as a vector. Artemia sp. was given for one and two times a week to three weeks old common carp. Organs of fish fed by Artemia sp. were analyzed every three days after vaccination. The expression of GP-11 in kidney in each treatment is also observed by the use of RT-PCR method, within ten days after vaccination. The experiment showed that dose of DNA vaccine in whole bacteria could be expressed is 106 cfu/mL in a once or twice provisions a week. DNA vaccine could be detected in three organs. RT-PCR analysis also showed that the expression of GP-11 can be detected in all tested organs. In conclusion, Artemia sp. can be used as a vector to carry plasmid GP-11 vaccine for common carp Cyprinus carpio larvae. Keywords: DNA vaccine, KHV, Artemia sp., common carp  ABSTRAK Salah satu penyakit pada ikan mas (Cyprinus carpio) yang disebabkan oleh virus adalah koi herpes virus (KHV). Penyakit yang disebabkan oleh virus umumnya sulit untuk disembuhkan karena virus merupakan parasit intraseluler, yaitu virus hanya dapat hidup, bertahan hidup, dan memperbanyak diri di dalam sel inang. Metode pemberian vaksin DNA secara oral melalui Artemia sp. merupakan salah satu alternatif pengobatan yang diharapkan dapat menangani permasalahan penyakit pada ikan yang disebabkan oleh virus. Pada penelitian ini dilakukan uji ekspresi vaksin DNA yang menyandikan glikoprotein 11 (GP-11) pada ikan mas. Bakteri yang mengandung plasmid Krt-GP-11 sebagai vaksin diberikan melalui Artemia sp. sebagai pembawa vaksin. Pemberian Artemia sp. dilakukan satu dan dua kali seminggu pada ikan mas umur tiga minggu. Keberadaan DNA vaksin di usus, ginjal, dan insang dianalisis menggunakan metode PCR. Organ diambil setiap tiga hari setelah pemberian vaksin. Ekspresi gen GP-11 juga diamati pada organ ginjal di setiap perlakuan dengan menggunakan metode RT-PCR, pada sepuluh hari setelah pemberian vaksin. Hasil penelitian menunjukkan bahwa DNA vaksin yang diberikan dengan dosis 106 cfu/mL pada perlakuan satu dan dua kali seminggu dapat terdeteksi pada ketiga organ. Hasil RT-PCR menunjukkan bahwa ekspresi GP-11 dapat terdeteksi pada semua organ uji di setiap perlakuan. Dengan demikian Artemia sp. dapat digunakan sebagai vektor pembawa vaksin plasmid GP-11 dengan frekuensi pemberian vaksin untuk larva ikan mas. Kata kunci: vaksin DNA, KHV, Artemia sp., ikan mas
Protein digestibility and ammonia excretion in catfish Clarias gariepinus culture Gunadi, Bambang; Harris, Enang; Supriyono, Eddy; Sukenda, .; Budiardi, Tatag
Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 12 No. 1 (2013): Jurnal Akuakultur Indonesia
Publisher : Indonesian Society of Scientific Aquaculture (ISSA)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (2781.888 KB) | DOI: 10.19027/jai.12.62-69

Abstract

ABSTRACT A series of experiments was performed to analyze protein digestibility, ammonia excretion, and also heterothropic bacteria and phytoplankton dynamics in the catfish Clarias gariepinus culture. In the digestibility experiment, catfish with an individual initial size of 43.67±0.83 g were stocked into 120 L conical fiberglass tanks at a density of 20 fish per tank. Fish were fed on with commercial diet supplemented with Cr2O3 indicator at a concentration of 1%. In the ammonia excretion experiment, catfish with an individual size of 111.6±9.5 and 40.6±3.4 g, respectively,  were placed into a 10 L chamber filled with 8 L of water. Total ammonia nitrogen (TAN) in the chambers were monitored every hour for six consecutive hours. In the bacteria and phytoplankton dynamics experiment, catfish were stocked in the 25 m2 concrete tanks which was divided into two compartments (catfish 10 m2, and heterotrof compartments 15 m2). Catfish with individual size of 42,5±0 g were stocked into the tanks at a density of 100 fish per tank. Water was recirculated from catfish compartments to heterotrophic compartments. Fish were fed with floating feed. Molasses as carbon source for heterotrophic bacteria was applied daily. The experiment was conducted for six weeks. The results showed that the protein digestibility was 61.97±7.24%. Larger fish (size of 111.6 g) excreted ammonia at a rate of 0.008±0.003 mg TAN/g fish-weight/hour, which was lower than that of the smaller catfish (size of 40.6 g), i.e. 0.012±0.004 mg TAN/g fish-weight/hour. Keywords: protein digestibility, ammonia excretion, catfish  ABSTRAK Serangkaian penelitian telah dilakukan untuk menganalisis ketercernaan pakan dan protein, ekskresi amonia, serta dinamika bakteri dan fitoplankton pada budidaya ikan lele (Clarias gariepinus). Pada penelitian ketercernaan pakan, ikan lele berukuran 43,67±0,83 g/ekor dipelihara dalam bak fiberglas berbentuk corong berukuran 120 L dengan kepadatan 20 ekor/bak. Ikan diberi pakan berupa pelet yang diberi indikator Cr2O3 sebanyak 1%. Pada penelitian ekskresi amonia, ikan lele berukuran 111,6±9,5 dan 40,6±3,4 g/ekor yang telah diberi makan sampai kenyang dimasukkan ke dalam stoples berisi 8 L air. Kadar amonia total (total ammonia nitrogen, TAN) di dalam stoples diukur setiap jam selama enam jam. Pada penelitian dinamika bakteri dan fitoplankton, ikan lele dipelihara pada bak beton berukuran 25 m2 yang disekat menjadi dua bagian yaitu bagian ikan lele (10 m2) dan bagian heterotrof (15 m2). Ikan lele dengan bobot awal 42,5 g/ekor ditebar ke dalam bak dengan kepadatan 100 ekor/bak. Air mengalir secara resirkulasi dari bagian ikan lele ke bagian heterotrofik dengan bantuan pompa. Pakan yang diberikan berupa pelet apung komersial. Molase ditambahkan setiap hari sebagai sumber karbon untuk pertumbuhan bakteri heterotrofik. Penelitian dilaksanakan selama enam minggu. Hasil pengamatan menunjukkan bahwa ketercernaan protein dari pakan yang diuji adalah 61,97±7,24%. Ikan lele berukuran besar (111,6 g/ekor) menghasilkan amonia sebanyak 0,008±0,003 mg TAN/g ikan/jam, lebih rendah dibandingkan dengan ikan yang berukuran lebih kecil (40,6 g/ekor), yaitu 0,012±0,004 mg TAN/g ikan/jam.  Kata kunci: ketercernaan protein, ekskresi amonia, ikan lele
Kappa-carrageenan as immunostimulant to control infectious myonecrosis (IMN) disease in white shrimp Litopenaeus vannamei Febriani, Dian; Sukenda, .; Nuryati, Sri
Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 12 No. 1 (2013): Jurnal Akuakultur Indonesia
Publisher : Indonesian Society of Scientific Aquaculture (ISSA)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (2869.063 KB) | DOI: 10.19027/jai.12.70-78

Abstract

ABSTRACT This study evaluated the modulation of non-specific immune response, growth, and disease resistance of white shrimp,  Litopenaeus vannamei against infectious myonecrosis virus (IMNV). The first stage of this study evaluated the different dose of k-carrageenan administration i.e. 5, 10, and 15 g/kg feed for four weeks of rearing period, while the later studied evaluated about the frequency of administration i.e. daily, seven days interval, and 14-days interval for five weeks of rearing period. Both stages had positive and negative control and performed in complete randomized design. The parameters of observation consisted of immune parameters, clinical symptoms, growth, and survival. Shrimp were fed three times a day at feeding rate of 4–5% of body weight/day. IMNV Challenge test was performed by feeding the shrimp via oral route at a level 10% of body weight for three consecutive days, followed by 14-days observation. The results showed that shrimp administered with k-carrageenan at a concentration of 15 g/kg feed showed the best performance of all concentration tested. The shrimp’s haemocyte count, phagocytes activity, phenoloxidase activity, and relative growth were 12±0.72×106 cell/mL; 34.67±0.58%; 0.511±0.10; and 86.15% respectively. After challenged, the survival was 85±7.07%. Moreover, application in 14 days at 7-days interval gave 88.57% relative growth and 93±5,8% survival, which were higher than other treatments. The administration of k-carrageenan at concentration of 15 g/kg with 14 days interval on white shrimp juveniles showed higher immunostimulatory effect and better protection against IMNV. Keywords: kappa-carrageenan, immunostimulant, IMNV, Litopenaeus vannamei  ABSTRAK Penelitian ini mempelajari pemberian kappa-karagenan dalam memodulasi respons imun nonspesifik, pertumbuhan, dan resistensi udang vaname Litopenaeus vannamei terhadap infeksi infectious myonecrosis virus (IMNV). Tahap pertama mengetahui dosis pemberian k-karagenan sebesar 5, 10, dan 15 g/kg pakan selama empat minggu pemeliharaan, sedangkan tahap kedua mengevaluasi frekuensi pemberian k-karagenan, yaitu setiap hari, tujuh hari, dan 14 hari secara berulang dengan interval tujuh hari selama lima minggu pemeliharaan. Kedua tahap penelitian menggunakan kontrol positif dan negatif dalam rancangan acak lengkap. Parameter pengamatan terdiri atas respons imun, gejala klinis, pertumbuhan dan kelangsungan hidup udang vaname. Udang diberi makan tiga kali sehari dengan FR 4–5% biomassa/hari. Infeksi IMNV dilakukan secara oral sebesar 10% biomassa selama tiga hari berturut-turut, dan diamati selama 14 hari. Hasil penelitian menunjukkan bahwa udang yang diberikan k-karagenan 15 g/kg pakan memperoleh hasil terbaik. Total hemosit, aktivitas fagositosis, aktivitas phenoloxidase, dan pertumbuhan relatif udang masing-masing adalah 12±0,72×106 sel/mL; 34,67±0,58%; 0,511±0,10 dan 86,15%, dengan kelangsungan hidup udang setelah diinfeksi IMNV sebesar 85±7,07%. Frekuensi pemberian 14 hari secara berulang dengan interval tujuh hari memberikan hasil kelangsungan hidup terbaik sebesar 88,57% dan pertumbuhan relatif sebesar 93±5,8%. Kesimpulan dari penelitian ini bahwa, pemberian k-karagenan 15 g/kg dan interval 14 hari menunjukkan respons imun dan perlindungan yang lebih baik terhadap IMNV. Kata kunci: kappa-karagenan, imunostimulan, IMNV, Litopenaeus vannamei
Growth of tiger shrimp Penaeus monodon post-larvae fed on Artemia containing Vibrio SKT-b probiotic Widanarni, .; Hadiroseyani, Yani; Sutanti, Asri
Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 12 No. 1 (2013): Jurnal Akuakultur Indonesia
Publisher : Indonesian Society of Scientific Aquaculture (ISSA)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (2764.225 KB) | DOI: 10.19027/jai.12.79-85

Abstract

ABSTRACT Application of probiotic bacteria is an alternative technology to increase shrimp production in an environmentally friendly aquaculture. Administration of probiotic bacteria can be conducted through artificial feed or live food such as Artemia. This study was done to examine the effectiveness of various doses of probiotic Vibrio SKT-b through Artemia on the growth and survival of post-larval shrimp. Tiger shrimp at a stage of PL 10 was reared in glass jars filled with 2 L of sea water at a density of 10 larva/L. The study consisted of five probiotic concentrations control (0 cfu/mL), A (103 cfu/mL), B (104 cfu/mL), C (105 cfu/mL), and D (106 cfu/mL). Administration of various doses of probiotic bacteria Vibrio SKT-b through Artemia significantly increased the growth rate in term of the length and weight, but had no effect on survival. The results found that treatment D (106 cfu/mL) gave an increase in body weight, length and survival rate of 22.53%/day, 0.080 cm/day and 95%, respectively. Keywords: probiotic, Artemia, tiger shrimp  ABSTRAK Aplikasi bakteri probiotik merupakan salah satu alternatif teknologi untuk meningkatkan produksi budidaya udang yang ramah lingkungan. Pemberian bakteri probiotik dapat dilakukan melalui pakan buatan atau pakan alami seperti Artemia. Penelitian ini bertujuan untuk menguji efektivitas pemberian berbagai dosis bakteri probiotik Vibrio SKT-b melalui Artemia terhadap pertumbuhan dan kelangsungan hidup pascalarva udang windu. Stadia udang windu yang digunakan adalah pascalarva (PL) 10. Udang dipelihara dalam wadah kaca volume 3 L yang diisi air laut 2 L dengan kepadatan 10 ekor/L. Penelitian ini terdiri atas lima perlakuan yaitu kontrol (dosis bakteri probiotik 0 cfu/mL), A (103 cfu/mL), B (104 cfu/mL), C (105 cfu/mL), dan D (106 cfu/mL). Hasil penelitian menunjukkan bahwa pemberian berbagai dosis bakteri probiotik Vibrio SKT-b melalui Artemia berpengaruh nyata terhadap laju pertumbuhan panjang dan bobot, namun tidak berpengaruh terhadap nilai kelangsungan hidup. Hasil terbaik diperoleh pada perlakuan D (106 cfu/mL) dengan pertumbuhan bobot 22,53%/hari, pertumbuhan panjang 0,08 cm/hari, dan sintasan 95%. Kata kunci: probiotik, Artemia, udang windu
Prevention of Aeromonas hydrophila on catfish juvenile using garlic and shatterstone herb Wahjuningrum, Dinamella; Astrini, Retno; Setiawati, Mia
Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 12 No. 1 (2013): Jurnal Akuakultur Indonesia
Publisher : Indonesian Society of Scientific Aquaculture (ISSA)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (2843.985 KB) | DOI: 10.19027/jai.12.86-94

Abstract

ABSTRACT This study aimed to determine the dose of garlic and shatterstone herb mixed into the feed in 11-day old catfish juvenile (body length 1.53±0.26 cm, body weight of 40±16 mg). The study was divided into two steps, the first step was dose determination and the second step was the dose testing. The treatment was carried out for 21 days, then the challenge test was conducted by immersion method for 60 minutes in A. hydrophila density of 104 cfu/mL. Parameters of observation were survival, feed intake, relative growth rate, morphology of the liver, and water quality. The result showed that garlic at 25 g/kg and shatterstone herb at 5 g/kg provided higher fish viability (81.11±3.85%) compared with the control (23.00±5.77%). Feed intake and relative growth rate were not different among the treatments. Whereas the liver condition in positive control was paler than other treatments. Thus, prevention of A. hydrophila infection on catfish juvenile was effectively achieved by feeding with diet supplemented by garlic 25 g/kg and shatterstone herb 5 g/kg. Keywords: garlic, shatterstone herb, Aeromonas hydrophila, juvenile, catfish  ABSTRAK  Penelitian ini bertujuan untuk menentukan dosis bawang putih dan meniran yang dicampur ke pakan dalam bentuk tepung pada benih lele berumur 11 hari (berukuran panjang 1,53±0,26 cm dan bobot 40±16 mg). Penelitian ini terbagi menjadi dua tahap, pertama adalah tahap penentuan dosis (dosis 20 ppt bawang putih+5 ppt meniran dan 25 ppt bawang putih+5 ppt meniran) dan kedua adalah tahap pengujian dosis. Perlakuan diberikan selama 21 hari, kemudian uji tantang dilakukan dengan metode perendaman selama 60 menit dengan kepadatan bakteri A. hydrophila 104 cfu/mL. Parameter yang diamati adalah kelangsungan hidup, jumlah konsumsi pakan, pertumbuhan relatif, morfologi organ hati, dan kualitas air. Hasil penelitian membuktikan bahwa perlakuan bawang putih 25 g/kg dan meniran 5 g/kg memberikan kelangsungan hidup benih lele sebesar 81,11±3,85%, sedangkan kontrol positif 23,00±5,77%. Jumlah konsumsi pakan dan pertumbuhan relatif tidak berbeda antarperlakuan, sedangkan organ hati berwarna pucat pada kontrol positif. Pencegahan infeksi bakteri A. hydrophila dengan pakan campuran bawang putih 25 g/kg dan meniran 5 g/kg efektif dilakukan pada benih ikan lele. Kata kunci: bawang putih, meniran, Aeromonas hydrophila, benih, ikan lele 

Filter by Year

2002 2026


Filter By Issues
All Issue Vol. 25 No. 1 (2026): Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 24 No. 2 (2025): Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 24 No. 1 (2025): Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 23 No. 2 (2024): Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 23 No. 1 (2024): Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 22 No. 2 (2023): Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 22 No. 1 (2023): Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 21 No. 2 (2022): Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 21 No. 1 (2022): Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 20 No. 2 (2021): Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 20 No. 1 (2021): Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 19 No. 2 (2020): Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 19 No. 1 (2020): Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 18 No. 2 (2019): Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 18 No. 1 (2019): Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 17 No. 2 (2018): Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 17 No. 1 (2018): Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 16 No. 2 (2017): Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 16 No. 1 (2017): Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 15 No. 2 (2016): Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 15 No. 1 (2016): Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 14 No. 2 (2015): Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 14 No. 1 (2015): Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 13 No. 2 (2014): Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 13 No. 1 (2014): Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 12 No. 2 (2013): Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 12 No. 1 (2013): Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 11 No. 2 (2012): Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 11 No. 1 (2012): Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 10 No. 2 (2011): Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 10 No. 1 (2011): Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 9 No. 2 (2010): Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 9 No. 1 (2010): Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 8 No. 2 (2009): Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 8 No. 1 (2009): Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 7 No. 2 (2008): Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 7 No. 1 (2008): Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 6 No. 2 (2007): Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 6 No. 1 (2007): Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 5 No. 2 (2006): Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 5 No. 1 (2006): Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 4 No. 2 (2005): Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 4 No. 1 (2005): Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 3 No. 3 (2004): Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 3 No. 2 (2004): Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 3 No. 1 (2004): Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 2 No. 2 (2003): Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 2 No. 1 (2003): Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 1 No. 3 (2002): Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 1 No. 2 (2002): Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 1 No. 1 (2002): Jurnal Akuakultur Indonesia More Issue