cover
Contact Name
Apriana Vinasyiam
Contact Email
akuakultur.indonesia@gmail.com
Phone
-
Journal Mail Official
akuakultur.indonesia@gmail.com
Editorial Address
-
Location
Kota bogor,
Jawa barat
INDONESIA
Jurnal Akuakultur Indonesia
ISSN : 14125269     EISSN : 23546700     DOI : -
Core Subject : Agriculture,
Jurnal Akuakultur Indonesia (JAI) merupakan salah satu sarana penyebarluasan informasi hasil-hasil penelitian serta kemajuan iptek dalam bidang akuakultur yang dikelola oleh Departemen Budidaya Perairan, FPIK–IPB. Sejak tahun 2005 penerbitan jurnal dilakukan 2 kali per tahun setiap bulan Januari dan Juli. Jumlah naskah yang diterbitkan per tahun relatif konsisten yaitu 23–30 naskah per tahun atau minimal 200 halaman.
Arjuna Subject : -
Articles 569 Documents
Profile in various organic soil depth shrimp pond, Tambak Inti Rakyat, Karawang Hastuti, Yuni Puji; Novita, Lena; Widiyanto, Tri; Rusmana, Iman
Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 10 No. 2 (2011): Jurnal Akuakultur Indonesia
Publisher : Indonesian Society of Scientific Aquaculture (ISSA)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (256.583 KB) | DOI: 10.19027/jai.10.183-191

Abstract

ABSTRACTOrganic material in the bottom of the pond is part of the land is a complex and dynamic system, which is sourced from the rest of the feed, plants, and or animals found in the soil that continuously change shape, because it is influenced by biology, physics, and chemistry. This study was aimed to see the profile of organic material consisting of C, N, and C/N ratio and phosphate in different depths of pond with different culture systems. Observation were conducted at Tambak Inti Rakyat, Karawang in traditional, semi-intensive and intensive culture systems. Observation at mangrove area was also observed as control. Sediment samples at the inlet and outlet at three different depths (0‒5 cm, 5‒10 cm, and 10‒15 cm) was taken every 30 days to measure the content of C, N, C/N ratio, and total phosphate. During the 120 day maintenance period could be known that in all pond systems were used (traditional, semi-intensive, and intensive) the concentration of C-organic and organic-N on average was located in the bottom layer which is a layer of 10‒15 cm. The lack of human intervention from ground pond system, the more diverse the type and amount of organic material contained therein.Keywords: organic materials, subgrade, depth, aquaculture systems, long maintenanceABSTRAKBahan organik di dasar tambak merupakan bagian dari tanah yang merupakan suatu sistem kompleks dan dinamis, yang bersumber dari sisa pakan, tanaman, dan atau binatang yang terdapat di dalam tanah yang terus menerus mengalami perubahan bentuk, karena dipengaruhi oleh faktor biologi, fisika, dan kimia. Penelitian ini bertujuan untuk melihat profil bahan organik yang terdiri dari C, N, dan C/N rasio serta fosfat pada kedalaman tambak yang berbeda dengan sistem budidaya yang berbeda pula. Pengamatan dilakukan di Tambak Inti Rakyat Karawang pada sistem budidaya tradisional, semi intensif, dan intensif. Pengamatan di daerah mangrove diamati pula sebagai kontrol. Sampel sedimen di inlet dan outlet pada tiga kedalaman yang berbeda (0‒5 cm, 5‒10 cm, dan 10‒15 cm) diambil setiap 30 hari sekali untuk diukur kandungan C, N, C/N rasio, dan total fosfatnya. Selama 120 hari masa pemeliharaan dapat diketahui bahwa pada semua sistem tambak yang digunakan (tradisional, semi intensif, dan intensif) nilai konsentrasi C-organik dan N-organik rata-rata terletak pada lapisan paling bawah yaitu lapisan 10‒15 cm. Minimnya campur tangan manusia dari tanah sistem tambak maka semakin beragam jenis dan jumlah dari bahan organik yang terkandung di dalamnya.Kata kunci: bahan organik, tanah dasar, kedalaman, sistem budidaya, lama pemeliharaan
Administration of Phyllanthus niruri to control IMNV (myonecrosis infectious virus) infection white shrimp Litopenaeus vannamei ., Sukenda; Nuryati, Sri; Sari, Isni Rahmatika
Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 10 No. 2 (2011): Jurnal Akuakultur Indonesia
Publisher : Indonesian Society of Scientific Aquaculture (ISSA)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (490.587 KB) | DOI: 10.19027/jai.10.192-202

Abstract

ABSTRACTInfectious myonecrosis (IMN) disease is a major disease in Indonesia shrimp farming. The disease is caused by infectious myonecrosis virus (IMNV). Currently, treatment and drug has not been obtained to control the virus. This research was conducted to determine the effect of Phyllanthus niruri extract in white shrimp (Litopenaeus vannamei) against IMNV infection. Healthy shrimp was given P. niruri extract 20 mg/kg of feed for seven days and after that the shrimp was challenged by orally with IMNV infected shrimp tissue. The positive control was given feed without P. niruri extract and challenged with IMNV infected shrimp tissue, while negative control was not challenged with IMNV infected shrimp tissue. IMNV infection gave a significantly different effect on survival rate. In the shrimp P. niruri previously (86.7%) gave higher survival rate compared to shrimp without P. niruri (66.67%). Survival rate of negative control was 93.33%. IMNV clinical signs in general was white necrotic areas in striated muscles. Histological examination showed that cell necrosis appeared on the mussel tissues. In conclusion the addition of P. niruri to the commercial feed can give the survival rate of shrimp better when challenged with IMNV.Keywords: IMNV, Phyllanthus niruri, Litopenaeus vannameiABSTRAKPenyakit infectious myonecrosis (IMN) merupakan penyakit utama pada budidaya udang di Indonesia. Penyakit ini disebabkan oleh infectious myonecrosis virus (IMNV). Saat ini, belum diperoleh cara dan obat untuk mengendalikan virus IMNV. Penelitian ini dilakukan untuk mengevaluasi pengaruh immunostimulan tepung meniran (Phyllanthus niruri) yang diberikan melalui pakan pada udang vaname (Litopenaeus vannamei) yang diinfeksi IMNV. Udang vaname yang sehat diberi pakan yang mengandung meniran dengan dosis 20 mg/kg pakan selama tujuh hari dan kemudian diuji tantang secara oral dengan memberikan jaringan udang yang telah terinfeksi IMNV. Udang kontrol positif dilakukan dengan memberi pakan komersial tanpa penambahan meniran yang kemudian diuji tantang dengan memberi makan jaringan udang yang terinfeksi IMNV, sedangkan udang kontrol negatif tidak diuji tantang dengan jaringan yang terinfeksi IMNV. Hasil menunjukkan bahwa kelompok udang yang diberi pakan mengandung meniran mempunyai kelangsungan hidup (86,67%) lebih tinggi dibandingkan dengan udang yang tidak diberi pakan mengandung meniran (66,67%) ketika diuji tantang dengan IMNV. Kontrol negatif yang tidak diberi pakan mengandung meniran dan tidak diuji tantang dengan IMNV memberikan kelangsungan hidup 93,33%. Gejala klinis yang ditunjukkan adanya infeksi IMNV terlihat dengan adanya otot putih pada ruas tubuh udang. Pengamatan histopatologi menunjukkan adanya nekrosis pada sel-sel di jaringan otot udang. Sebagai kesimpulan dapat dinyatakan bahwa penambahan meniran pada pakan komersial dapat meningkatkan kelangsungan hidup udang ketika terjadi infeksi IMNV.Kata kunci: IMNV, Phyllanthus niruri, Litopenaeus vannamei
Growth of white shrimp post-larvae immersed in recombinant fish growth hormone Laksana, Dita Puji; Subaidah, Siti; Junior, Muhammad Zairin; Alimuddin, ,; Carman, Odang
Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 12 No. 2 (2013): Jurnal Akuakultur Indonesia
Publisher : Indonesian Society of Scientific Aquaculture (ISSA)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (2882.889 KB)

Abstract

ABSTRACT This research was conducted to determine the optimum immersion time of recombinant giant grouper growth hormone (Ephinephelus lanceolatus; rElGH) at a dose of 15 mg/L that generated highest growth of white shrimp post-larvae (PL). PL was bath-immersed for one, two, and three hours. Two types of control was provided, namely it was without any treatment (control), and immersion in water containing 0.01% bovine serum albumin (BSA) and total protein of Escherichia coli without rElGH (pCold control). All treatments and controls were consisted of three replications. A total of 1,500 PL-2 shrimp were bath-immersed in a plastic packing containing 1 L of sea water, 15 mg/L rElGH, and 0.01% BSA. PL was further reared for 21 days in the 60 L glass aquarium, and fed nauplii Artemia two times and flake commercial diet five times daily, at satiation. The results showed that the highest of biomass (36.29±1.46 g), specific growth rate (29.81±0.87%/day), and body length (20.08±0.42 mm) were obtained in three hours immersion treatment (P<0.05). Biomass of PL in three hours immersion treatment was approximately 66.0% higher compared to the control (21.87±2.53 g). Survival of shrimp in all treatment and control were similar (P>0.05). Thus, growth of white shrimp PL could be improved by bath immersion for three hours in rElGH solution of 15 mg/L water. Keywords: recombinant growth hormone, different immersion time, Pacific white shrimp, biomass  ABSTRAK Penelitian ini dilakukan untuk menentukan lama waktu perendaman hormon pertumbuhan rekombinan ikan kerapu kertang (Ephinephelus lanceolatus; rElGH) dosis 15 mg/L yang menghasilkan pertumbuhan tertinggi pada pascalarva (PL) udang vaname. Perendaman PL dilakukan satu, dua, dan tiga jam. Dua jenis kontrol dibuat yakni udang vaname PL-2 tidak diberi perlakuan (kontrol), dan direndam dalam air mengandung serum albumin sapi (BSA) 0,01% dan protein Escherichia coli tanpa rElGH (kontrol pCold). Setiap perlakuan dan kontrol diberi tiga ulangan. Sebanyak 1.500 ekor PL-2 direndam dalam kantong plastik kemasan berisi 1 L air laut mengandung rElGH 15 mg/L, dan BSA 0,01%. Selanjutnya, udang dipelihara selama 21 hari di dalam akuarium volume 60 L, dan diberi pakan naupli Artemia sebanyak dua kali dan pakan komersial berbentuk flake sebanyak lima kali sehari hingga kenyang. Hasil penelitian menunjukkan bahwa biomassa (36,29±1,46 g), pertumbuhan bobot spesifik (29,81±0,87%/hari), dan panjang tubuh (20,08±0,42 mm) tertinggi diperoleh pada perlakuan perendaman selama tiga jam (P<0,05). Biomassa udang perlakuan perendaman selama tiga jam lebih tinggi 66% dibandingkan dengan kontrol (21,87±2,53 g). Kelangsungan hidup udang yang direndam dengan rElGH, kontrol dan kontrol pCold tidak berbeda nyata (P<0,05). Dengan demikian, pertumbuhan PL udang vaname dapat ditingkatkan melalui perendaman selama tiga jam dalam larutan rElGH 15 mg/L air. Kata kunci: hormon pertumbuhan rekombinan, lama perendaman, pascalarva udang vaname, biomassa
Detection of Vibrio harveyi using hemolysin primer in tiger shrimp Penaeus monodon Suriyani, Irma; Kadriah, Ince Ayu Khairana; Kuruseng, ilmiah
Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 12 No. 2 (2013): Jurnal Akuakultur Indonesia
Publisher : Indonesian Society of Scientific Aquaculture (ISSA)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (2838.155 KB) | DOI: 10.19027/jai.12.101-105

Abstract

ABSTRACT This study was aimed to analyze the sensitivity and ability of primer hemolysin in detecting pathogenetic Vibrio on tiger shrimp post-larvae (PL) exposed under different exposure times in media inoculated with Vibrio harveyi. The PL of tiger shrimp were infected with 106 cfu/mL of V. harveyi by immersion method for three, six, 12, 24, 48 and 72 hours. The presence of hemolisin genes was detected by PCR techniques. The electrophoresis detected narrow hemolysin genes after PL were exposed for three and six hours. Clear visible bands of DNA Vibrio were observed for 12 hours of exposure. In contrast, no detected hemolysin gene of Vibrio was observed for PL exposed within 24, 48, and 72 hours. The rapid detection on Vibrio pathogenic for tiger shrimp PL should be conducted within three to 12 hours of exposure. No recommendation in utilizing this rapid detection for tiger shrimp PL exposed beyond 12 hours of V. harveyi. Keywords: specific primer, luminous Vibrio bacteria, pathogenic, PCR method, hemolysin gene  ABSTRAK Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kemampuan atau sensitivitas primer hemolisin dalam mendeteksi Vibrio patogen dengan lama pemaparan berbeda. Penelitian ini dilakukan dengan menginfeksikan Vibrio harveyi pada benur udang dengan metode perendaman pada konsentrasi 106 cfu/mL. Pengambilan sampel dilakukan pada waktu tiga, enam, 12, 24, 48, dan 72 jam pascainfeksi. Keberadaan gen hemolisin pada bakteri V. harveyi dideteksi menggunakan teknik polymerase chain reaction (PCR). Hasil elektroforesis memperlihatkan bahwa pada pemaparan tiga dan enam jam keberadaan gen hemolisin dari bakteri Vibrio patogen yang diinfeksikan sudah dapat terdeteksi pada benur walaupun masih terlihat tipis. Pada pemaparan 12 jam terlihat sangat jelas pita-pita DNA dari bakteri patogen. Sedangkan pada pemaparan 24, 48, dan 72 jam sudah tidak terdeteksi lagi gen hemolisin dari bakteri Vibrio. Hal ini diduga disebabkan terjadinya penurunan populasi bakteri Vibrio yang hidup dalam tubuh dan media pemeliharaan udang. Pentingnya deteksi cepat diawal udang terinfeksi bakteri (3–12 jam) karena setelah 12 jam infeksi sudah sulit untuk mendeteksi keberadaan bakteri patogen di dalam tubuh udang. Kata kunci: primer spesifik, bakteri Vibrio berpendar, patogenik, metode PCR, gen hemolisin 
GIFT Nile tilapia Oreochromis niloticus fed on diet containing probiotic Soedibya, Petrus Hari Tjahja
Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 12 No. 2 (2013): Jurnal Akuakultur Indonesia
Publisher : Indonesian Society of Scientific Aquaculture (ISSA)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (2794.627 KB) | DOI: 10.19027/jai.12.106-112

Abstract

ABSTRACT This research was conducted to evaluate the effect of the diet containing probiotic on Nile tilapia, Oreochromis niloticus. Fish with an initial body weight of 3.62±1.33 g were fed on diet supplemented with either 0%, 10%, 15%, 20% of probiotic. Results showed that fish fed on the diet supplemented with 15% of probiotic had the highest protein retention and specific growth rate, which were16.48±0.49% and 17.65±0.9%/day respectively. Keywords: probiotic, Azola meal, protein retention, specific growth rate  ABSTRAK Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi efek pemberian pakan mengandung probiotik pada ikan nila, Oreochromis niloticus. Ikan dengan bobot awal 3,62±1,33 g diberi pakan mengandung 0%, 10%, 15%, 20% probiotic. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ikan yang diberi pakan mengandung 15% probiotik memiliki retensi protein dan laju pertumbuhan tertinggi masing-masing dengan nilai 16,48±0,49% dan 17,65±0,9%/ hari. Kata kunci: probiotik, tepung Azola, retensi protein, laju pertumbuhan harian
Testicular cell transplantation of neon tetra Paracheirodon innesi into common carp fry Alimuddin, ,; Carman, Odang; Wulandari, Sri Setyo
Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 12 No. 2 (2013): Jurnal Akuakultur Indonesia
Publisher : Indonesian Society of Scientific Aquaculture (ISSA)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (3322.407 KB) | DOI: 10.19027/jai.12.113-120

Abstract

ABSTRACT Neon tetra Paracheirodon innesi is an ornamental fish that have high export value. However, production is still relatively low due to low fecundity (approximately 180 eggs/female). Technology of testicular cell transplantation of neon tetra as donor to common carp as recipient fish which have high fecundity provides a promising way to overcome problem of neon tetra production. This research was performed to determine the optimum age of common carp fry that is able to receive donor cells and allow high success of transplantation. In this research, the testes of neon tetra fish were dissociated by 0.5% trypsin solution. The testicular cells were labeled with PKH-26 fluorescent dye, and then transplanted into the peritoneal cavity of seven, ten, and 14 days post hatching common carp fry. The results showed that the survival of seven day-old transplanted fry (31.25%) was lower than that of ten day-old (37.75%) and 14 day-old transplanted fry (56.25%). Percentage of fish colonized testicular cells donor at 21 days post-transplantation on seven days old and ten days old fry were similar (80%), while on 14 day-old fry was 60%. Based on the cumulative transplantation success rate (survival and colonization rates), transplantation on 14 days old fry (33.75%) showed higher result compared to transplantation on seven days old fry (25.00%) and ten day-old fry (30.00%). It can be concluded that transplantation of neon tetra testicular cells to common carp fry have been successfully carried out, and the optimum age of common carp fry to transplantation was 14 days after hatching. Keywords: transplantation, colonization, testicular cells, common carp, neon tetra  ABSTRAK Ikan neon tetra Paracheirodon innesi merupakan ikan hias yang memiliki nilai ekspor yang tinggi. Namun demikian, tingkat produksinya masih relatif rendah karena fekunditas ikan neon tetra yang sedikit (sekitar 180 telur/induk). Teknologi transplantasi sel testikular ikan neon tetra (ikan donor) ke ikan mas yang memiliki fekunditas telur yang banyak dan diharapkan mampu mengatasi ketersediaan benih ikan neon tetra. Penelitian ini bertujuan untuk menentukan umur optimum benih ikan mas (calon ikan semang) yang mampu menerima sel donor dengan baik dan memiliki keberhasilan kolonisasi yang tinggi. Testis ikan neon tetra didisosiasi menggunakan larutan tripsin 0,5%. Sel testikular diwarnai dengan PKH-26, kemudian ditransplantasikan ke rongga peritoneal benih ikan mas umur tujuh, sepuluh, dan 14 hari setelah menetas. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tingkat kelangsungan hidup ikan mas perlakuan transplantasi umur tujuh hari (31,25%) lebih rendah dibandingkan dengan perlakuan transplantasi umur sepuluh hari (37,50%) dan 14 hari (56,25%). Persentase ikan terkolonisasi sel donor pada hari ke-21 pascatransplantasi pada benih umur tujuh dan sepuluh hari adalah sama (80%), sedangkan transplantasi benih umur 14 hari sebesar 60%. Berdasarkan keberhasilan transplantasi secara kumulatif (tingkat kelangsungan hidup dan kolonisasi), transplantasi pada benih umur 14 hari (33,75%) menunjukkan hasil lebih tinggi dibandingkan dengan perlakuan transplantasi pada benih umur tujuh hari (25,00%) dan benih umur sepuluh hari (30,00%). Transplantasi sel testikular ikan neon tetra pada benih ikan mas telah berhasil dilakukan, dan umur optimum benih ikan mas adalah 14 hari setelah menetas. Kata kunci: transplantasi, kolonisasi, sel testikular, ikan mas, ikan neon tetra 
Growth and immune response of Litopenaeus vannamei fed on β-(1, 3) glucan and poly-β hydroxybutyrate Sarmin, ,; Suprayudi, Muhammad Agus; Jusadi, Dedi; Ekasari, Julie
Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 12 No. 2 (2013): Jurnal Akuakultur Indonesia
Publisher : Indonesian Society of Scientific Aquaculture (ISSA)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (2786.38 KB) | DOI: 10.19027/jai.12.121-127

Abstract

ABSTRACT This research was aimed to examine the growth performance and non-specific immune response of Pacific white shrimp (Litopenaeus vannamei) fed on the diet supplemented with β-(1,3) glucan (BG) and poly-β-hydroxybutyrate (PHB) as feed additives. Shrimp juvenile at an initial body weight of 2.06±0.03 g was randomly distributed into 12 units of aquaria at a density of 20 shrimps/tank and reared for 42 days. The treatments applied in this study were control (without feed additives), 1.5 g/kg BG, 10 g/kg PHB and 1,5 g/kg BG+10 g/kg PHB. Results showed that shrimp fed on 1.5 /kg BG-supplemented feed had significantly higher growth performance and non-specific immune response. Keywords: growth, shrimp, non-specific immune response, Litopenaeus vannamei  ABSTRAK Penelitian ini bertujuan untuk menguji kinerja pertumbuhan dan respons imun nonspesifik udang vaname Litopenaeus vannamei yang diberi pakan dengan penambahan feed additive berupa β-(1,3) glukan (BG) dan poli-β-hidroksibutirat (PHB). Juvenil udang 2,06±0,03 g dipelihara pada 12 unit akuarium dengan empat perlakuan dan tiga ulangan, serta padat tebar 20 ekor/tank selama 42 hari pemeliharaan. Perlakuan yang diberikan dalam penelitian ini yaitu penambahan BG (1,5 g/kg), PHB (10 g/kg), dan BG (1,5 g/kg)+PHB (10 g/kg), serta kontrol (tanpa penambahan feed additive). Hasil penelitian menunjukkan bahwa udang yang diberi 1,5 g/kg BG memiliki kinerja pertumbuhan dan respons imun nonspesifik yang terbaik. Kata kunci: pertumbuhan, udang, respons imun nonspesifik, Litopenaeus vannamei
Analysis of bacterial genetic diversity in biofloc by using ARDRA 16S-rRNA gene Widanarni, ,; Nurhayati, Dewi; Wahjuningrum, Dinamella
Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 12 No. 2 (2013): Jurnal Akuakultur Indonesia
Publisher : Indonesian Society of Scientific Aquaculture (ISSA)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (3196.704 KB) | DOI: 10.19027/jai.12.128-135

Abstract

ABSTRACT This study aimed to analyze the genetic diversity of bacteria associated in bioflocs using 16S-rRNA polymerase chain reaction (PCR) with ARDRA technique. A total of 38 dominant bacterial isolates was obtained from bioflocs samples and of these isolates, 16S-rRNA gene was then isolated and amplified using PCR. The 16S-rRNA gene of the isolates was then cut using HaeIII (5’-GG↓CC) and HhaI (5’-GCG↓C) restriction enzymes resulting an ARDRA pattern which was further used as the binary data for the construction of phylogenetics tree that was used to estimate the group of bacteria. The result with HaeIII cut restriction enzyme from biofloc-associated bacteria gave 11 ARDRA patterns, while with the restriction enzyme HhaI gave eight ARDRA patterns. Phylogenetics of bacterial populations from biofloc-based cultivation system water consisted of at least 13 different bacterial species. Result of sequencing from two gene sample 16S-rRNA were identified as Microbacterium foliorumand and Pseudomonas putida. Keywords: bacterial diversity, ARDRA, biofloc, phylogeny  ABSTRAK Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis keragaman genetika bakteri bioflok menggunakan metode polymerase chain reaction (PCR) 16S-rRNA dengan teknik ARDRA. Sebanyak 38 isolat bakteri dominan yang diperoleh diamplifikasi gen 16S-rRNAnya dengan PCR, kemudian dipotong dengan enzim restriksi HaeIII (5’-GG↓CC) dan HhaI (5’-GCG↓C). Pola ARDRA ini dijadikan data biner sebagai input untuk konstruksi pohon filogenetika yang dapat digunakan untuk memerkirakan jenis bakteri yang ada. Gen 16S-rRNA hasil PCR setelah dipotong dengan enzim restriksi HaeIII didapatkan 11 pola ARDRA, sedangkan dengan enzim restriksi HhaI menghasilkan delapan pola ARDRA. Berdasarkan pohon filogenetika, diketahui populasi bakteri pada air sistem budidaya bioflok sedikitnya terdiri atas 13 jenis bakteri. Berdasarkan sekuensing dari dua sampel gen 16S-rRNA teridentifikasi jenis bakteri Microbacterium foliorum dan Pseudomonas putida. Kata kunci: keragaman bakteri, ARDRA, bioflok, filogenetika
Survival and growth of catfish Pangasionodon sp. larvae fed on vitamin C-enriched Artemia Setiawati, Mia; Putri, Darina; Jusadi, Dedi
Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 12 No. 2 (2013): Jurnal Akuakultur Indonesia
Publisher : Indonesian Society of Scientific Aquaculture (ISSA)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (2884.014 KB) | DOI: 10.19027/jai.12.136-143

Abstract

ABSTRACT The research was conducted to evaluate effect of the administration of Artemia enriched with vitamin C on the survival, total body length, and average body weight of Pangasionodon sp. larvae. Artemia were enriched with either 0, 50, 100, or 150 mg/L vitamin C immersed in the culture medium for 13 hours. Two days old larvae were fed on enriched Artemia 12 times/day for seven days. At the end of feeding experiment, it was found that fish fed on Artemia enriched with 100 mg/L culture medium had the highest survival, total length and body weight, respectively 76.17±12.78%, 1.63±0.34 cm, and 20.6±3.8 mg. Keywords: survival, growth, Artemia, vitamin C, catfish, Pangasionodon sp.  ABSTRAK Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui pengaruh Artemia yang diperkaya dengan vitamin C dosis berbeda terhadap kelangsungan hidup, panjang total, dan bobot tubuh larva ikan patin Pangasionodon sp. Pada penelitian ini, Artemia diperkaya dengan vitamin C dosis 0, 50, 100, atau 150 mg/L media pengayaan. Larva yang berumur dua hari diberi pakan Artemia hasil pengayaan sebanyak 12 kali sehari selama tujuh hari masa pemeliharaan. Pada akhir percobaan, didapatkan bahwa larva ikan yang diberi Artemia diperkaya vitamin C dosis 100 mg/L media pengayaan memberikan kelangsungan hidup 76,17±12,78%, panjang total 1,63±0,34 cm, dan bobot tubuh paling tinggi 20,6±3,8 mg. Kata kunci: kelangsungan hidup, pertumbuhan, Artemia, vitamin C, ikan patin, Pangasionodon sp. 
Masculinization of betta fish Betta splendens by embryo immersion in extract of purwoceng Pimpinella alpina Arfah, Harton; Soelistyowati, Dinar Tri; Bulkini, Asep
Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 12 No. 2 (2013): Jurnal Akuakultur Indonesia
Publisher : Indonesian Society of Scientific Aquaculture (ISSA)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (2754.375 KB) | DOI: 10.19027/jai.12.144-149

Abstract

ABSTRACT This study aimed to examine the effect of extract of purwoceng Pimpinella alpina for masculinization of Betta splendens. This research used completely randomized design with three treatments that were distinguished by doses of purwoceng extract, which were 10, 20, and 30 µL/L, and 0 µL/L as control. The treatments were given by immersion to 35 embryos at eye spots phase or about 28-hours after fertilization, for eight hours. The immersion process was done for 8 hours. The result showed that 20 µL/L dose of purwoceng extract produced 62.66% male, and hatching rate was 85.71%. This male percentage was higher compared to control (45.91%), but the hatching rate was lower than that of control (98.57%). At the higher dose (30 µL/L), male fish population and hatching rate reduced respectively 39.72% and 68.57%, respectively. Keywords: masculinization, embryo immersion, purwoceng extract, Betta splendens  ABSTRAK Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi pengaruh dosis ekstrak purwoceng Pimpinella alpina extract dalam maskulinisasi ikan cupang hias Betta splendens. Penelitian ini menggunakan metode rancangan acak lengkap dengan tiga perlakuan dan tiga ulangan dosis ekstrak purwoceng. yaitu 10, 20, dan 30 µL/L, serta perlakuan 0 µL/L sebagai kontrol. Perlakuan diberikan melalui perendaman selama delapan jam terhadap 35 embrio saat memasuki fase bintik mata atau sekitar jam ke-28 setelah pembuahan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa dosis ekstrak purwoceng 20 µL/L menghasilkan persentase ikan jantan sebesar 62,66%, dan daya tetas telur sebesar 85,71%. Persentase jantan tersebut lebih tinggi daripada kontrol (45,1%), tetapi derajat penetasannya lebih rendah daripada kontrol (98,57%). Pada dosis yang lebih tinggi (30 µL/L), populasi ikan jantan (39,72%), dan derajat penetasan (68,57%) adalah menurun. Kata kunci: maskulinisasi, perendaman embrio, ekstrak purwoceng, Betta splendens

Filter by Year

2002 2025


Filter By Issues
All Issue Vol. 24 No. 2 (2025): Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 24 No. 1 (2025): Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 23 No. 2 (2024): Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 23 No. 1 (2024): Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 22 No. 2 (2023): Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 22 No. 1 (2023): Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 21 No. 2 (2022): Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 21 No. 1 (2022): Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 20 No. 2 (2021): Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 20 No. 1 (2021): Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 19 No. 2 (2020): Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 19 No. 1 (2020): Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 18 No. 2 (2019): Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 18 No. 1 (2019): Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 17 No. 2 (2018): Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 17 No. 1 (2018): Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 16 No. 2 (2017): Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 16 No. 1 (2017): Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 15 No. 2 (2016): Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 15 No. 1 (2016): Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 14 No. 2 (2015): Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 14 No. 1 (2015): Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 13 No. 2 (2014): Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 13 No. 1 (2014): Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 12 No. 2 (2013): Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 12 No. 1 (2013): Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 11 No. 2 (2012): Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 11 No. 1 (2012): Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 10 No. 2 (2011): Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 10 No. 1 (2011): Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 9 No. 2 (2010): Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 9 No. 1 (2010): Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 8 No. 2 (2009): Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 8 No. 1 (2009): Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 7 No. 2 (2008): Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 7 No. 1 (2008): Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 6 No. 2 (2007): Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 6 No. 1 (2007): Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 5 No. 2 (2006): Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 5 No. 1 (2006): Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 4 No. 2 (2005): Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 4 No. 1 (2005): Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 3 No. 3 (2004): Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 3 No. 2 (2004): Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 3 No. 1 (2004): Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 2 No. 2 (2003): Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 2 No. 1 (2003): Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 1 No. 3 (2002): Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 1 No. 2 (2002): Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 1 No. 1 (2002): Jurnal Akuakultur Indonesia More Issue