cover
Contact Name
Apriana Vinasyiam
Contact Email
akuakultur.indonesia@gmail.com
Phone
-
Journal Mail Official
akuakultur.indonesia@gmail.com
Editorial Address
-
Location
Kota bogor,
Jawa barat
INDONESIA
Jurnal Akuakultur Indonesia
ISSN : 14125269     EISSN : 23546700     DOI : -
Core Subject : Agriculture,
Jurnal Akuakultur Indonesia (JAI) merupakan salah satu sarana penyebarluasan informasi hasil-hasil penelitian serta kemajuan iptek dalam bidang akuakultur yang dikelola oleh Departemen Budidaya Perairan, FPIK–IPB. Sejak tahun 2005 penerbitan jurnal dilakukan 2 kali per tahun setiap bulan Januari dan Juli. Jumlah naskah yang diterbitkan per tahun relatif konsisten yaitu 23–30 naskah per tahun atau minimal 200 halaman.
Arjuna Subject : -
Articles 569 Documents
Frequency and persistency of DNA vaccine encoding GP25 by oral on common carp Nuryati, Sri; Yuliyanti, ,; Alimuddin, ,
Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 12 No. 2 (2013): Jurnal Akuakultur Indonesia
Publisher : Indonesian Society of Scientific Aquaculture (ISSA)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (3394.616 KB) | DOI: 10.19027/jai.12.150-157

Abstract

ABSTRACT Koi herpesvirus (KHV) is a major viral pathogen that infects common carp and koi. KHV disease outbreak is happened in almost all centre of common carp culture in Indonesia and caused mass mortality. Deoxyribonucleic acid (DNA) vaccination method is one of ways to cope with KHV infection. Vaccines were commonly given by injection. The aim of this research was to get frequency and persistency of DNA vaccine encoding GP25 given by oral delivery method in common carp. This research would like to determine dose, frequency of vaccination, persistency of DNA vaccine and culture medium for the bacterial host. DNA vaccine persistency test was done by using polymerase chain reaction (PCR) method with the specific primer for GP25 gene. The results showed that level of DNA vaccine that could be detected in feed was 7.56 ng (equal to 1.598×1010 copies). Efficient culture medium for Escherichia coli DH5α carrying DNA vaccine was LB triptone. Feeding fish with diet supplemented with 1 mL E. coli DH5α containing DNA vaccine for each fish and two times a week allowed persistence of DNA vaccine in kindney and spleen. Keywords: common carp, KHV, DNA vaccine, GP25, persistance  ABSTRAK Koi herpesvirus (KHV) adalah virus patogen utama yang menginfeksi ikan mas dan ikan koi. Wabah penyakit KHV terjadi di hampir semua sentra budidaya ikan mas di Indonesia dan menyebabkan kematian massal ikan. Metode vaksinasi DNA merupakan salah satu cara yang dapat dilakukan untuk menanggulangi serangan KHV. Pemberian vaksin umumnya dilakukan dengan cara injeksi. Tujuan penelitian ini adalah untuk menguji frekuensi dan persistensi vaksin DNA GP25 antivirus KHV yang diberikan melalui oral pada ikan mas. Pada penelitian ini dilakukan uji dosis, frekuensi pemberian vaksin, persistensi vaksin DNA, dan media kultur bakteri inang. Persistensi vaksin DNA dianalisis menggunakan metode PCR dengan primer spesifik gen GP25. Hasil penelitian menunjukkan bahwa dosis vaksin DNA yang dapat terdeteksi dalam pakan adalah 7,56 ng (setara dengan 1,598×1010 copy). Media kultur yang efisien bagi bakteri Escherichia coli DH5α pembawa vaksin DNA adalah LB tripton. Pemberian pakan bervaksin berupa bakteri konsentrasi 1 mL/ekor ikan dengan frekuensi dua kali seminggu menghasilkan persistensi DNA GP25 di ginjal dan limpa. Kata kunci: ikan mas, KHV, vaksin DNA, GP25, persistensi 
Role of various fishmeal ingredients on sangkuriang catfish Clarias sp. growth Utomo, Nur Bambang Priyo; Susan, ,; Setiawati, Mia
Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 12 No. 2 (2013): Jurnal Akuakultur Indonesia
Publisher : Indonesian Society of Scientific Aquaculture (ISSA)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (2871.454 KB) | DOI: 10.19027/jai.12.158-168

Abstract

ABSTRACT This research was aimed to evaluate the role of fish meal from different raw materials in improving growth performance of sangkuriang catfish Clarias sp. The source of raw materials used were derived from trash fish, salted fish, and head fish eal. Fish reared for 44 days and were given feed test three times per day at 08.00, 12.00, and 16.00. Biomass weight of the experimental fish used were 38.49±1.61 g. The fish reared on the aquarium of 60x50x40 cm3 and by using recirculation system. The results showed that fish meal derived from trash fish provide the best result for feed consumption, daily growth rate, absolute length, biomass, retention of protein, retention of fat, feed efficiency, feed conversion (P>0.05). However, it does not significantly different on the survival of fish (P>0.05). The data showed that the use of trash fish meal resulted on the best growth performance of sangkuriang catfish. It was indicated that the trash-fish meal might be used as the main protein source of sangkuriang catfish feed. Keywords: catfish, growth, at satiation, fish meal  ABSTRAK Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi pakan uji yang menggunakan sumber tepung ikan dari bahan baku berbeda dalam meningkatkan kinerja pertumbuhan lele sangkuriang Clarias sp. Sumber tepung ikan yang digunakan berasal dari ikan rucah, ikan asin, dan kepala ikan, yang memiliki umum digunakan sebagai salah satu bahan baku pakan lokal. Ikan diberi pakan at satiation selama 44 hari dengan frekuensi tiga kali sehari, yaitu pada pukul 08.00, 12.00, dan 16.00. Biomassa rata-rata ikan uji yang digunakan adalah 38,49±1,61 g. Ikan dipelihara dalam akuarium berukuran 60x50x40 cm3 dan dengan menerapkan sistem resirkulasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tepung ikan yang berasal dari ikan rucah mampu memberikan hasil terbaik dalam meningkatkan kinerja pertumbuhan ikan uji. Hal ini ditunjukkan oleh nilai kinerja pertumbuhan seperti jumlah konsumsi pakan, laju pertumbuhan harian, panjang mutlak, biomassa, retensi protein, retensi lemak, efisiensi pemberian pakan, dan konversi pakan yang menunjukkan perbedaan nyata (P<0,05). Namun, tidak terjadi perbedaan pada kelangsungan hidup ikan (P>0,05). Hasil penelitian menunjukkan bahwa penggunaan tepung ikan rucah menghasilkan pertumbuhan terbaik sebagai sumber protein utama pada pakan ikan lele sangkuriang. Kata kunci : ikan lele, pertumbuhan, at satiation, tepung ikan 
Application of synbiotic with different probiotic doses to prevent vibriosis in humpback grouper Saputra, Dwi Agung; Sukenda, ,; Widanarni, ,
Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 12 No. 2 (2013): Jurnal Akuakultur Indonesia
Publisher : Indonesian Society of Scientific Aquaculture (ISSA)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (2810.764 KB) | DOI: 10.19027/jai.12.169-177

Abstract

ABSTRACT The aim of this study was to evaluate the supplementation of synbiotic with different doses of probiotics to prevent vibriosis in humpback grouper (Cromileptes altivelis). Grouper (3.0±0.48 g) fed by control feeds (without supplementation of synbiotic) which were K(-) and K(+), treatment feeds with supplementation of synbiotic with different doses of probiotic (probiotic 104 cfu/mL) 1% + prebiotic 2% (P1) v/w, (probiotic 106 cfu/mL) 1% + prebiotic 2% (P2) v/w, (probiotic 108 cfu/mL)1% + prebiotic 2% (P3) v/w) for 30 days. After a feeding trial period, there were observation of the bacterial counts in the fish intestine, the fish growth performance and immune response. Then all the grouper were challenged by Vibrio alginolyticus, except K (-). This study showed that survival, daily growth and food conversion ratio (FCR) of grouper in treatment P2 ((probiotic 106 cfu/mL) 1% + prebiotic 2%) and P3 (probiotic (108 cfu/mL) 1% + prebiotic 2%) were significantly better (P>0.05) than controls. The different doses of probiotic in synbiotic (probiotic 104 cfu/mL, probiotic 106 cfu/mL and probiotic 108 cfu/mL) provided better immune response than controls. Keywords: synbiotic, Vibrio alginolyticus, Bacillus sp., Cromileptes altivelis  ABSTRAK Tujuan penelitian ini adalah mengkaji pemberian sinbiotik dengan dosis probiotik berbeda untuk mencegah penyakit vibriosis pada ikan kerapu bebek (Cromileptes altivelis). Ikan kerapu dengan berat (3,0±0,48 g) diberikan pakan kontrol (tanpa penambahan sinbiotik) K(-) dan K(+), pakan perlakuan dengan penambahan sinbiotik dengan dosis probiotik berbeda: probiotik ((104 cfu/mL) 1% + prebiotik 2%) v/w (P1), ((probiotik 106 cfu/mL) 1% + prebiotik 2%) v/w (P2), dan ((probiotik 108 cfu/mL)1% + prebiotik 2%) v/w (P3) selama 30 hari. Setelah perlakuan pakan sinbiotik, dilakukan pengamatan terhadap jumlah total bakteri di usus, kinerja pertumbuhan dan respons imun. Kemudian ikan kerapu pada seluruh perlakuan, kecuali kontrol negatif (-) diberi uji tantang dengan Vibrio alginolyticus. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sintasan, laju pertumbuhan harian (LPH), dan rasio konversi pakan (FCR) pada perlakuan P2 ((probiotik 106 cfu/mL) 1% + prebiotik 2%) dan  P3 (probiotik (108 cfu/mL) 1% + prebiotik 2%) secara signifikan lebih baik (P<0,05) bila dibandingkan dengan kontrol. Perlakuan sinbiotik dengan dosis probiotik berbeda (probiotik 104 cfu/mL, probiotik 106 cfu/mL, dan probiotik 108 cfu/mL) juga memberikan respons imun yang lebih baik dibandingkan dengan kontrol. Kata kunci : sinbiotik, Vibrio alginolyticus, Bacillus sp., Cromileptes altivelis
Digestibility of pre-treated cassava peel as feed ingredient for Nile tilapia Mulyasari, ,; Kurniawati, Feri; Setiawati, Mia
Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 12 No. 2 (2013): Jurnal Akuakultur Indonesia
Publisher : Indonesian Society of Scientific Aquaculture (ISSA)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (2792.095 KB) | DOI: 10.19027/jai.12.178-185

Abstract

ABSTRACT This research aimed at determining digestibility coefficient of cassava peel(Manihot utilissima) after immersion in 3% (w/v) NaOH for three days, fermentation using combined fungi of 10% Trichoderma viride and Phanerochaete chrysosporium for seven days, and fermentation using 15% (w/w) Bacillus megaterium for five days as feed ingredients for Nile tilapia Oreochromis niloticus. Total digestibility test was conducted by mixing 30% of cassava peel and 70% of reference diet. Nile tilapia at the average weight of 16.6 g were used as experimental fish. Fish was held for 28 days in aquarium (50x50x50 cm3) at the density of 10 fish/aquarium. Fish were fed twice daily to satiation. Feces collection started after five days of adaptation to chromium oxide diets. The results showed that the three treatments had significant effects compared to control (P<0.05), protein digestibility of were improved 5%, 15%, and 10%, energy digestibilitiy were 20%, 18%, 16%, and total digestibility of test cassava peel were 174%, 151%, and 164%, respectively. Cassava peel fermented with combined 10% mold showed the highest protein digestibility impliying it potency as feed ingredient for Nile tilapia diet. Keywords: Nile tilapia, cassava peel, NaOH, mold, bacteria, digestibility  ABSTRAK Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi kecernaan kulit ubi kayu (Manihot utilissima) setelah perendaman dengan NaOH 3% (w/v) selama tiga hari, fermentasi kapang Trichoderma viride dan Phanerochaete chrysosporium 10% (w/w) selama tujuh hari, dan fermentasi bakteri Bacillus megaterium 15% (w/w) selama lima hari sebagai bahan baku pakan ikan nila. Uji kecernaan total bahan dilakukan dengan mencampurkan 30% kulit ubi kayu dengan 70% pakan acuan. Ikan uji yang digunakan adalah ikan nila dengan bobot rata-rata 16,6 g. Ikan dipelihara selama 28 hari dengan kepadatan 10 ekor/akuarium berukuran 50x50x50 cm3. Pemberian pakan dilakukan dua kali sehari secara at satiation. Pengumpulan feses dimulai setelah lima hari adaptasi pakan uji yang diberi indikator kromium oksida. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ketiga perlakuan memberikan pengaruh yang berbeda nyata terhadap kontrol (P<0,05) dan meningkatkan nilai kecernaan protein pakan berturut-turut sebesar 5%, 15%, dan 10%, nilai kecernaan energi sebesar 20%, 18%, dan 16%, serta nilai kecernaan total bahan sebesar 174%, 151%, dan 164%. Perlakuan kulit ubi kayu yang difermentasi dengan kapang menunjukkan nilai kecernaan protein pakan yang tertinggi sehingga berpotensi sebagai bahan baku pakan ikan nila. Kata kunci: ikan nila, kulit ubi kayu, NaOH, kapang, bakteri, kecernaan
Electroporation and GFP-labelled transplantation of testicular cells in Nile tilapia Barades, Epro; Alimuddin, ,; Sudrajat, Agus Oman
Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 12 No. 2 (2013): Jurnal Akuakultur Indonesia
Publisher : Indonesian Society of Scientific Aquaculture (ISSA)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (3313.292 KB) | DOI: 10.19027/jai.12.186-192

Abstract

ABSTRACT Transplantation technology can be applied to generate fish surrogate broodstock. A donor germinal cells that was used in transplantation are labeled to distinguish it with endogenous cells. Donor cells are generally derived from transgenic fish carrying a marker or cells labeled by PKH-26. This study was performed to obtain an alternative method of cell labelling using electroporation. Testicular cells were taken from 4-months old Nile tilapia as a model. Electroporation was performed with testicular cell density of 104 cells/µL, pJfKer-GFP concentration of 50 ng/µL, and a pulse length of 20 ms at 0, 100, 200, and 300 volts. At amount of 5x103 cells/0.5µL electroporated testicular cells were then injected into the intraperitoneal cavity of 3-day-old Nile tilapia larva. The results showed that survival of the electroporated cells of 100 and 200 volt-treatments was similar (P>0.05), and higher than 300 volt (P<0.05). Number of fluorescent cells was not significantly different among treatments. The highest cell colonization in transplanted fish was obtained in 200-volt treatment (66.67%). As conclusion, 200-volt electroporation with was a suitable tool to label testicular cells for transplantation. Keyword: electroporation, GFP, label, Nile tilapia, transplantation  ABSTRAK Teknologi transplantasi merupakan suatu teknologi yang dapat menghasilkan induk pengganti. Sel donor berupa sel germinal yang akan digunakan dalam transplantasi diberi label agar dapat dibedakan dengan sel resipien. Umumnya sel donor diperoleh dari ikan transgenik yang membawa marka atau diwarnai dengan PKH-26. Penelitian ini bertujuan untuk mencari metode alternatif dalam pemberian label pada sel dengan elektroporasi. Sel testikular diperoleh dari ikan nila berumur empat bulan sebagai model. Elektroporasi dilakukan dengan kepadatan sel 104 sel/µL, konsentrasi pJfKer-GFP 50 ng/µL, dan panjang kejut 20 ms pada 0, 100, 200, dan 300 volt. Sebanyak 5x103 sel dalam 0,5 µL larutan hasil elektroporasi disuntikkan ke dalam rongga intraperitoneal larva berumur tiga hari setelah menetas. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kelangsungan hidup sel pada kejut 100 dan 200 volt tidak signifikan (P<0,05), akan tetapi lebih tinggi bila dibandingkan dengan perlakuan 300 volt (P<0,05). Jumlah sel yang berpendar tidak berbeda antara perlakuan. Persentase kolonisasi sel pada ikan hasil transplan tertinggi pada perlakuan 200 volt (66,67%). Kesimpulan yang diperoleh dari hasil penelitian adalah perlakuan elektroporasi dengan kejut listrik 200 volt dapat digunakan untuk memberi label pada sel testikular yang akan ditransplantasikan. Kata kunci : elektroporasi, GFP, label, ikan nila, transplantasi 
Feeding for larvae of catfish Pangasionodon sp. larvae in different ages Suprayudi, Muhammad Agus; Ramadhan, Ricky; Jusadi, Dedi
Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 12 No. 2 (2013): Jurnal Akuakultur Indonesia
Publisher : Indonesian Society of Scientific Aquaculture (ISSA)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (2875.18 KB) | DOI: 10.19027/jai.12.193-200

Abstract

ABSTRACT Sludge worm (Tubifex sp.) as natural feed on catfish (Pangasionodon sp.) larvae rearing is available in limited amount especially during rainy season. It becomes a constraint factor for larvae rearing sector. This research was conducted to evaluate the appropriate initial age of catfish larvae to get artificial feed as sludge worm replacement. Evaluation was conducted on the growth and survival of catfish larvae in 14 days of culture. There were four treatments of feeding in triplicates i.e. larvae were given natural feed without artificial feed, given artificial feed started from d3, d6, and d9) with three replications. The results showed that larvae fed on artificial feed on d3 had the lowest growth compared to the other treatments, whereas the survival was not significantly different (P>0.05) among the treatments. As a conclusion, artificial feed could be used to replace natural feed for catfish larvae started at the age of nine days. Keywords: sludge worm, catfish larvae, artificial feed  ABSTRAK Cacing sutra (Tubifex sp.) tersedia dalam jumlah terbatas terutama pada musim penghujan sebagai pakan alami dalam usaha pembenihan ikan patin (Pangasionodon sp.). Ini menjadi kendala dalam usaha pembenihan. Penelitian ini dilakukan untuk mengevaluasi umur larva ikan patin yang tepat untuk mulai diberi pakan buatan menggantikan cacing sutra. Evaluasi dilakukan pada pertumbuhan dan kelangsungan hidup larva ikan patin umur 14 hari. Selama pemeliharaan, larva diberi pakan dengan empat perlakuan; pemberian pakan alami tanpa pakan buatan, pemberian pakan buatan mulai d3, d6, dan d9 dengan tiga ulangan untuk masing-masing perlakuan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa perlakuan pemberian pakan buatan mulai d3 memiliki pertumbuhan panjang yang terkecil dibandingkan perlakuan lain, sedangkan tingkat kelangsungan hidup larva tidak berbeda nyata (P>0,05) antarperlakuan. Berdasarkan hasil penelitian, dapat disimpulkan bahwa pakan buatan dapat digunakan sebagai pengganti pakan alami mulai larva ikan patin umur sembilan hari. Kata kunci: cacing sutra, larva ikan patin, pakan buatan
The use of Curcuma longa extract to control Edwardsiella tarda infection on Clarias sp. Wahjuningrum, Dinamella; Ikhsan, Muharram Nur; Sukenda, ,; Evan, Yan
Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 13 No. 1 (2014): Jurnal Akuakultur Indonesia
Publisher : Indonesian Society of Scientific Aquaculture (ISSA)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (2993.395 KB) | DOI: 10.19027/jai.13.1-10

Abstract

ABSTRACT  Target production of catfish in aquaculture can be reached by suppressing the pathogenic bacterial infection. Previous works had shown that turmeric Curcuma longa has antibacterial activity. The objectives of this research were to determine the best method of extraction and to evaluate the efficacy of turmeric extract as feed additive to control Edwardsiella tarda disease in catfish culture. Briefly, the objective was achieved through in vitro assay based on inhibition ability of extraction method against E. tarda, while the following objective was obtained through in vivo assay based on their survival during challenge test either as preventive or curative measurement. A complete randomized design with three replications was used for each assay. Furthermore, challenge test was done by mean intraperitoneal injection at concentration 106 cfu/mL of E. tarda (LD50). The results showed that 15 minutes decoction method allowed the best inhibition with diameter 7.42 mm of clear zone and then curative measurement using turmeric extract could be the best application against E. tarda since it gave 86.67% of survival. Clinical signs such as swelling, hemoraghic, body ulcer, gastroentritis and gaseous captivity were observed on challenged fish. However, there were no significant different among treatments for specific growth, body weight, and absolute length parameters.  Keywords: Edwardsiella tarda, extraction, turmeric, catfish, inhibition zone  ABSTRAK Peningkatan produksi ikan lele dapat dicapai melalui pencegahan infeksi penyakit bakterial. Hasil beberapa penelitian membuktikan bahwa kunyit Curcuma longa terbukti memiliki zat aktif yang bersifat antibakteri. Penelitian ini bertujuan untuk mencari metode ekstraksi terbaik dan mengevaluasi efektivitas penambahan ekstrak kunyit pada pakan untuk pengendalian patogen Edwardsiella tarda pada ikan lele. Metoda ekstraksi kunyit diuji secara in vitro dengan metoda zona hambat, sedangkan efikasi diuji secara in vivo melalui perlakuan pencegahan dan pengobatan. Penelitian didesain dalam rancangan acak lengkap dengan tiga ulangan. Efikasi ekstrak kunyit diketahui dari nilai sintasan ikan lele hasil uji tantang E. Tarda melalui injeksi peritoneal dengan dosis 106 cfu/ mL (LD50). Hasil uji in vitro menunjukkan bahwa metode dekoksi selama 15 menit memberikan zona hambat terbaik yaitu sebesar 7,42 mm. Hasil uji in vivo menunjukkan bahwa ekstrak kunyit sebagai tindak pengobatan memberikan nilai sintasan terbaik, yaitu sebesar 86,67%. Ikan lele yang diuji tantang menunjukkan gejala klinis berupa pembengkakan, luka, gastroentritis, dan gas pada perut. Tidak terdapat perbedaan nyata di antara perlakuan untuk parameter laju pertumbuhan harian, bobot harian, dan pertumbuhan panjang mutlak. Kata kunci: Edwardsiella tarda, ekstraksi, kunyit, ikan lele, zona hambat
Prebiotic, probiotic, and synbiotic to control Vibrio harveyi and IMNV co-infection in Litopenaeus vannamei Widanarni, ,; Noermala, Jeanni Indah; Sukenda, ,
Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 13 No. 1 (2014): Jurnal Akuakultur Indonesia
Publisher : Indonesian Society of Scientific Aquaculture (ISSA)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (2870.618 KB) | DOI: 10.19027/jai.13.11-20

Abstract

ABSTRACT This study aimed to examine the effects of prebiotic, probiotic, and synbiotic in survival and immune response of white shrimp against co-infection of Vibrio harveyi and infectious myonecrosis virus (IMNV). The shrimps used had a body weigth of 2.04±0.20 g/individual, the shrimps were reared at a density of 20 shrimps in 60x30x35 cm3 sized aquarium. The study was conducted with five treatments consisting K(+) (without the addition of prebiotic, probiotic, and synbiotic with co-infection), K(-) (without the addition of prebiotic, probiotic and synbiotic, and without co-infection), P1 (the addition of prebiotic with co-infection), P2 (the addition of probiotic with co-infection), and P3 (the addition of synbiotic with co-infection). The results showed that the addition of prebiotic, probiotic and synbiotic could increase survival and immune response of white shrimp towards co-infection of Vibrio harveyi and IMNV. The best survival was obtained in probiotic treatment (79.17%), followed by prebiotic treatment (75%), synbiotic treatment (70.83%), while the positive control was only 50%. Keywords: white shrimp, prebiotic, probiotic, synbiotic, IMNV, Vibrio harveyi  ABSTRAK Penelitian ini bertujuan untuk menguji pengaruh pemberian prebiotik, probiotik, dan sinbiotik terhadap sintasan dan respons imun udang vaname dengan ko-infeksi Vibrio harveyi dan IMNV (infectious myonecrosis virus). Udang yang digunakan memiliki bobot 2,04±0,20 g/ekor, dipelihara sebanyak 20 ekor dalam akuarium berukuran 60x30x35 cm3. Penelitian dilakukan dengan lima perlakuan yaitu K(+) (tanpa pemberian prebiotik, probiotik, dan sinbiotik dengan ko-infeksi), K(-) (tanpa pemberian prebiotik, probiotik dan sinbiotik tanpa ko-infeksi), P1 (pemberian prebiotik dengan ko-infeksi), P2 (pemberian probiotik dengan ko-infeksi), dan P3 (pemberian sinbiotik dengan ko-infeksi). Hasil penelitian menunjukkan bahwa pemberian prebiotik, probiotik, dan sinbiotik mampu meningkatkan sintasan dan respons imun udang vaname terhadap ko-infeksi V. harveyi dan IMNV. Sintasan terbaik diperoleh pada perlakuan probiotik sebesar 79,17%, diikuti perlakuan prebiotik sebesar 75%, perlakuan sinbiotik sebesar 70,83%, sedangkan pada kontrol positif hanya mencapai 50%. Kata kunci: udang vaname, prebiotik, probiotik, sinbiotik, IMNV, Vibrio harveyi
Feeding rate of freshwater eel Anguilla bicolor bicolor: at the body weight of 1–2 g Fekri, Latifa; Affandi, Ridwan; Budiardi, Tatag
Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 13 No. 1 (2014): Jurnal Akuakultur Indonesia
Publisher : Indonesian Society of Scientific Aquaculture (ISSA)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (2852.205 KB) | DOI: 10.19027/jai.13.21-27

Abstract

ABSTRACT The aim of the research was to determine feed requirement for the maintenance, optimum, and maximum growth of freshwater eel (Anguilla bicolor bicolor) seed (1–2 g body weight). Feed used in this research was KRA feed with 46% protein content, with different feeding level (FR) at 0%, 5%, 10%, and 15% of fish biomass. The experiment was conducted in 30 days. Parameters measured were survival and specific growth (SGR). The results showed that survival of fish in all treatments were 100%, except in fish fed on 15% of biomass (only 96). Fish growth with feeding of 0%, 5%,10%, and 15%, were -1.06%; 0.42%; 0.73%; and 0.19%, respectively. Based on the analysis of the relationship between feeding level and growth, the feed requirement for maintenance, optimum, and maximum growth in 1–2 g freshwater eel seed were 3.3%; 7.0%; and 9.5% of the biomass, respectively. Keywords: eel seed, feed requirement, growth ABSTRAK Penelitian dilakukan dengan tujuan untuk mendapatkan kebutuhan pakan untuk maintenance, dan untuk pertumbuhan optimum serta maksimum benih ikan sidat (Anguilla bicolor bicolor) (bobot tubuh 1–2 g). Pakan yang digunakan pada penelitian ini adalah pakan KRA dengan kadar protein 46%, dengan tingkat pemberian pakan 0%, 5%, 10%, dan 15% dari bobot biomassa ikan. Pemeliharaan berlangsung selama 30 hari. Parameter yang diukur meliputi sintasan (STS) dan laju pertumbuhan spesifik (LPS). Hasil penelitian menunjukkan bahwa STS benih ikan sidat selama pemeliharaan, memiliki nilai yang baik (100%) kecuali pada pemberian pakan 15% (hanya 96%). Laju pertumbuhan benih ikan sidat selama pemeliharaan dengan pemberian pakan 0%, 5%, 10%, dan 15% berturut-turut adalah -1,06%; 0,42%; 0,73%; dan 0,19%. Berdasarkan analisis hubungan antara tingkat pemberian pakan dan laju pertumbuhan spesifik, maka kebutuhan pakan maintenance, pertumbuhan optimum dan maksimum benih ikan sidat berukuran 1–2 g berturut-turut adalah 3,3%; 7%; dan 9,5% dari biomassa. Kata kunci: benih ikan sidat, kebutuhan pakan, pertumbuhan
Evaluation of integrated sludge worm and catfish farming with biofloc system Pardiansyah, Dedi; Supriyono, Eddy; Djokosetianto, Daniel
Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 13 No. 1 (2014): Jurnal Akuakultur Indonesia
Publisher : Indonesian Society of Scientific Aquaculture (ISSA)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (2840.749 KB) | DOI: 10.19027/jai.13.28-35

Abstract

ABSTRACTCurrently, supply of sludge worm (Tubifex sp.) merely came from wild, so that it could not meet demand for fish hatchery. Additionally, harvest from the wild did not have a quality assurance, due to the possibility of sludge worm becoming an agent of disease. This study was conducted to evaluate the production of sludge worm culture by utilizing catfish culture waste (Clarias sp. ) in bioflok system. In this system, water from catfish culture media flowed into sludge worm culture media using recirculation systems. This study used a completely randomized design with four treatments and two replications, in which treatment A (addition of catfish culture waste from intensive system), treatment B (addition of catfish culture waste from biofloc system), treatment C (the addition of fermented chicken manure at the beginning of experiment as negative control), and treatment D (addition of fermented chicken manure at the beginning of experiment and then every five days as positive control). The results showed that the highest production was obtained by treatment B at biomass growth of 0.97 kg/m2 and sludge worm density of 388.000 individu/m2. Keywords: sludge worm, biofloc, chicken manure, catfish, catfish culture waste  ABSTRAK Saat ini pasokan cacing sutra (Tubifex sp.) hanya berasal dari alam, sehingga belum mencukupi permintaan untuk kegiatan pembenihan ikan. Selain itu, hasil tangkapan dari alam tidak memiliki jaminan kualitas, karena cacing sutra dapat menjadi agen penyakit. Penelitian ini dilakukan untuk mengevaluasi hasil produksi budidaya cacing sutra dengan memanfaatkan limbah budidaya ikan lele (Clarias sp.) sistem bioflok. Pada sistem ini, air dari media budidaya ikan lele dialirkan ke media pemeliharaan cacing sutra menggunakan sistem resirkulasi. Penelitian ini menggunakan rancangan acak lengkap dengan empat perlakuan dan dua ulangan, yaitu perlakuan A (pemberian limbah ikan lele sistem intensif), perlakuan B (pemberian limbah ikan lele sistem bioflok), perlakuan C (penambahan fermentasi kotoran ayam pada awal penelitian sebagai kontrol negatif), serta perlakuan D (penambahan fermentasi kotoran ayam pada awal penelitian yang dilanjutkan setiap lima hari sekali sebagai kontrol positif). Hasil penelitian menunjukkan bahwa produksi cacing sutra tertinggi diperoleh pada perlakuan B dengan pertumbuhan bobot sebesar 0,97 kg/m2 dan kepadatan cacing sutra sebesar 388.000 individu/m2. Kata kunci : cacing sutra, bioflok, kotoran ayam, ikan lele, limbah budidaya ikan lele

Filter by Year

2002 2025


Filter By Issues
All Issue Vol. 24 No. 2 (2025): Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 24 No. 1 (2025): Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 23 No. 2 (2024): Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 23 No. 1 (2024): Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 22 No. 2 (2023): Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 22 No. 1 (2023): Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 21 No. 2 (2022): Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 21 No. 1 (2022): Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 20 No. 2 (2021): Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 20 No. 1 (2021): Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 19 No. 2 (2020): Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 19 No. 1 (2020): Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 18 No. 2 (2019): Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 18 No. 1 (2019): Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 17 No. 2 (2018): Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 17 No. 1 (2018): Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 16 No. 2 (2017): Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 16 No. 1 (2017): Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 15 No. 2 (2016): Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 15 No. 1 (2016): Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 14 No. 2 (2015): Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 14 No. 1 (2015): Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 13 No. 2 (2014): Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 13 No. 1 (2014): Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 12 No. 2 (2013): Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 12 No. 1 (2013): Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 11 No. 2 (2012): Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 11 No. 1 (2012): Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 10 No. 2 (2011): Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 10 No. 1 (2011): Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 9 No. 2 (2010): Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 9 No. 1 (2010): Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 8 No. 2 (2009): Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 8 No. 1 (2009): Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 7 No. 2 (2008): Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 7 No. 1 (2008): Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 6 No. 2 (2007): Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 6 No. 1 (2007): Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 5 No. 2 (2006): Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 5 No. 1 (2006): Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 4 No. 2 (2005): Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 4 No. 1 (2005): Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 3 No. 3 (2004): Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 3 No. 2 (2004): Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 3 No. 1 (2004): Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 2 No. 2 (2003): Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 2 No. 1 (2003): Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 1 No. 3 (2002): Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 1 No. 2 (2002): Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 1 No. 1 (2002): Jurnal Akuakultur Indonesia More Issue