cover
Contact Name
Apriana Vinasyiam
Contact Email
akuakultur.indonesia@gmail.com
Phone
-
Journal Mail Official
akuakultur.indonesia@gmail.com
Editorial Address
-
Location
Kota bogor,
Jawa barat
INDONESIA
Jurnal Akuakultur Indonesia
ISSN : 14125269     EISSN : 23546700     DOI : -
Core Subject : Agriculture,
Jurnal Akuakultur Indonesia (JAI) merupakan salah satu sarana penyebarluasan informasi hasil-hasil penelitian serta kemajuan iptek dalam bidang akuakultur yang dikelola oleh Departemen Budidaya Perairan, FPIK–IPB. Sejak tahun 2005 penerbitan jurnal dilakukan 2 kali per tahun setiap bulan Januari dan Juli. Jumlah naskah yang diterbitkan per tahun relatif konsisten yaitu 23–30 naskah per tahun atau minimal 200 halaman.
Arjuna Subject : -
Articles 569 Documents
Acute and sublethal toxicity of copper in Siam-catfish juvenile Pangasianodon hypophthalmus Sihono, Dody; Supriyono\, Eddy; Setiawati, Mia
Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 13 No. 1 (2014): Jurnal Akuakultur Indonesia
Publisher : Indonesian Society of Scientific Aquaculture (ISSA)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (2870.211 KB) | DOI: 10.19027/jai.13.36-45

Abstract

ABSTRACT This study was aimed to determine the level of acute toxicity (LC50) and to analyze the effect of Cu on the survival, growth, haematological, and bioaccumulation of Cu in Pangasianodon hypophthalmus juvenile at sublethal conditions. The experiment trial used completely randomized design with five concentration treatments and two replications to determine LC50. The Cu concentration used were 0, 0.2, 0.7, 1.2, and 1.7 ppm. Sublethal treatment used four Cu concentrations with three replicates. The concentrations were 0, 0.167, 0.334 and 0.667 ppm. Experimental fish used had an average total length 11.0±1.7 cm and weight 13.00±1.72 g. Results showed that Cu was highly toxic to P. hypophthalmus with a LC50-96 hours value of 0.667 ppm (0.539–0.805 ppm). At sublethal concentrations, Cu significantly decreased survival and growth, and increased Cu accumulation started from concentration of 0.167 ppm. Bioaccumulation of Cu started from the highest were in liver, gills, skin and flesh, respectively. Decreased of erythrocytes, haemoglobin and hematocrit indicated anemia, while increased of leukocytes indicated infection and physical stress on the body tissues. Keywords: copper toxicity, haematological, bioaccumulation, Siam-catfish juvenile  ABSTRAK Penelitian ini bertujuan untuk menentukan tingkat toksisitas akut (LC50) dan menganalisis pengaruh Cu terhadap sintasan, pertumbuhan, kondisi hematologi, dan akumulasi Cu pada juvenil ikan patin siam (Pangasianodon hypophthalmus) pada kondisi subletal. Rancangan penelitian yang digunakan adalah lima perlakuan konsentrasi dengan dua ulangan untuk menentukan LC50. Konsentrasi Cu yang digunakan adalah 0; 0,2; 0,7; 1,2; dan 1,7 ppm. Pemeliharaan subletal menggunakan empat variasi konsentrasi dengan tiga ulangan. Konsentrasi Cu yang digunakan adalah 0; 0,167; 0,334; dan 0,667 ppm. Ikan uji yang digunakan memiliki panjang total rata-rata 11,0±1,7 cm dan berat 13,00±1,72 g. Hasil menunjukkan bahwa Cu sangat toksik terhadap juvenil P. hypophthalmus dengan nilai LC50-96 jam sebesar 0,667 ppm (0,539–0,805 ppm). Pada konsentrasi subletal, Cu berpengaruh nyata terhadap penurunan sintasan dan pertumbuhan serta menyebabkan peningkatan akumulasi Cu mulai pada konsentrasi 0,167 ppm. Bioakumulasi Cu secara berurutan mulai dari yang tertinggi yaitu pada hati, insang, kulit dan daging. Penurunan eritrosit, hemoglobin dan hematokrit menunjukkan terjadinya anemia, sementara peningkatan jumlah leukosit menunjukkan infeksi dan stres fisik pada jaringan tubuh. Kata kunci: toksisitas tembaga, hematologi, bioakumulasi, bioakumulasi, sintasan, juvenil patin siam
Growth performance of 3-g Anguilla bicolor bicolor at different density Diansyah, Sufal; Budiardi, Tatag; Sudrajat, Agus Oman
Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 13 No. 1 (2014): Jurnal Akuakultur Indonesia
Publisher : Indonesian Society of Scientific Aquaculture (ISSA)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (2809.358 KB) | DOI: 10.19027/jai.13.46-53

Abstract

ABSTRACT This study was carried out to evaluate growth performancce of eel (Anguilla bicolor bicolor) at the density of 2 g/L, 3 g/L, and 4 g/L in the recirculation system. The experimental design used was completely randomized design with three replications. The eel used for this study was Anguilla bicolor bicolor at stadia elver with average body weight of 3 g/fish. Fish were reared for 60 days. Analysis of the blood profile and blood glucose level were done every ten days, while cortisol measurement was performed three times on the day-0, 30, and 60. Results showed that stocking density affected biomass growth. The best stocking density was 4 g/L with the growth of 10.62 g biomass/day, the specific growth of 1.47%, 1.16 feed conversion, and survival of 96.24%. All treatments did not give significant effect on the blood glucose and cortisol level. Keywords: elver, stocking density, growth, stress response, recirculation system  ABSTRAK Penelitian ini dilakukan untuk mengevaluasi kinerja pertumbuhan ikan sidat (Anguilla bicolor bicolor) dengan padat tebar 2 g/L, 3 g/L, dan 4 g/L dalam sistem resirkulasi. Rancangan percobaan yang digunakan adalah rancangan acak lengkap dengan tiga ulangan. Ikan sidat yang digunakan adalah spesies Anguilla bicolor bicolor stadia elver dengan bobot rata-rata 3±1 g/ekor. Pemeliharaan dilakukan selama 60 hari. Analisis gambaran darah dan glukosa darah dilakukan setiap sepuluh hari sekali, sedangkan pengukuran kortisol dilakukan sebanyak tiga kali yaitu pada hari ke-0, 30, dan 60. Hasil penelitian menunjukkan bahwa perlakuan padat tebar berpengaruh nyata terhadap laju pertumbuhan biomassa. Padat tebar terbaik adalah 4 g/L dengan laju pertumbuhan biomassa 10,62 g/hari, laju pertumbuhan spesifik 1,47%, konversi pakan 1,16, dan sintasan 96,24%. Semua perlakuan padat tebar tidak memberikan pengaruh yang nyata terhadap kadar glukosa darah dan kortisol. Kata kunci : elver, padat tebar, pertumbuhan, respons stres, sistem resirkulasi
Fish oil supplementation in commercial diet on growth of Anguilla bicolor bicolor Mukti, Retno Cahya; Utomo, Nur Bambang Priyo; Affandi, Ridwan
Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 13 No. 1 (2014): Jurnal Akuakultur Indonesia
Publisher : Indonesian Society of Scientific Aquaculture (ISSA)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (2808.23 KB) | DOI: 10.19027/jai.13.54-60

Abstract

ABSTRACT This study was aimed to determine the effect of fish oil addition on growth performance and fatty acid composition of eel Anguilla bicolor bicolor. Freswater eel at an initial body weight of 9.90± 0.05 g were maintained in aquarium with volume of 120 L at stocking density of 1 g/L for 40 days. This research applied complete randomized design with four treatments addition of fish oil, i.e. 0%, 5%, 10%, and 15%. All treatments were carried out in triplicate. Feed given as much as 3% of the fish biomass a day for four times at 06:00, 11:00, 16:00, and 21:00. The results showed that the addition of fish oil in the diet have different effects (P<0.05) on specific growth (0.88–1.36%), feed efficiency (30.18–48.53%), protein retention (14.57–20.24%), fat retention (16.77–52.49%), energy retention (12.38–20.20%), and hepatosomatic index (1.72–2.72%) whereas the survival showed no difference (P>0.05) at 100%. In the fatty acid composition total of unsaturated fatty acid composition was 30.91–40.95%, n-3 fatty acids was 6.10–8.19%, and n-6 fatty acids were 6.18–8.19%. In conclusion, the addition of fish oil in the diet of freshwater eel Anguilla bicolor bicolor can be done up to 5% (13% fat content of diet). Keywords: Anguilla bicolor bicolor, fish oil, growth performance, fatty acid composition  ABSTRAK Penelitian ini bertujuan untuk menguji pengaruh penambahan minyak ikan terhadap kinerja pertumbuhan dan komposisi asam lemak ikan sidat Anguilla bicolor bicolor. Ikan sidat dengan bobot 9,90±0,05 g dipelihara dalam akuarium dengan volume 120 L pada padat tebar 1 g/L selama 40 hari. Penelitian ini menggunakan rancangan acak lengkap terdiri atas empat perlakuan penambahan minyak ikan pada pakan sebesar 0%, 5%, 15%, dan 15%. Semua perlakuan terdiri atas tiga ulangan. Pakan diberikan sebanyak 3% dari biomassa ikan dan diberikan sebanyak empat kali sehari yaitu pukul 06.00, 11.00, 16.00 dan 21.00. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penambahan minyak ikan dalam pakan memberikan pengaruh yang berbeda (P<0,05) terhadap spesific growth rate (0,88– 1,36%), efisiensi pakan (30,18–48,53%), retensi protein (14,57–20,24%), retensi lemak (16,77–52,49%), retensi energi (12,38–20,10%), dan indeks hepatosomatik (1,72–2,72%). Sintasan tidak menunjukkan adanya perbedaan (P>0,05) yaitu 100%. Pada komposisi asam lemak dihasilkan total komposisi asam lemak tidak jenuh 30,91– 40,95%, asam lemak n-3 6,10–8,19%, dan asam lemak n-6 6,18–8,19%. Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa penambahan minyak ikan dalam pakan ikan sidat Anguilla bicolor bicolor dapat dilakukan sampai dengan 5% (kadar lemak pakan 13%). Kata kunci: Anguilla bicolor bicolor, minyak ikan, kinerja pertumbuhan, komposisi asam lemak
Preliminary study of rubber seed Hevea brasiliensis oil utilization for tilapia diet Komariyah, Siti; Suprayudi, Muhammad Agus; Jusadi, Dedi
Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 13 No. 1 (2014): Jurnal Akuakultur Indonesia
Publisher : Indonesian Society of Scientific Aquaculture (ISSA)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (2810.148 KB) | DOI: 10.19027/jai.13.61-67

Abstract

ABSTRACT This research was conducted as a preliminary study on utilization of RBO for Nile tilapia (Oreochromis sp.) diet by also evaluating its effect on growth the performance. This research used SULTANA strain at average initial body weights of 8.33±0.07 g/ind. Experimental design was set in completely randomized design. Each treatment was done in triplicates. The treatments were various additions of RBO to replace corn oil in the diet, which were 0%, 25%, 50%, 75%, and 100%. Feeding rate, feed efficiency, protein retention, fat retention, specific growth rate, glucose, cholesterol, triglycerides, HDL (high-density lipoprotein), and hematology were used as evaluating parameters. The results showed that the growth performance, blood chemistry and hematology of fish decreased as the increasing of RBO level in the diet. These are caused by feed intake decreased significantly, which were 583.5 g to 145.6 g of treatments 0% to 100% RBO. Blood glucose, haemoglobin and specific growth of fish in the treatment of 0–100% RBO were 48.7–22.2 mg/dL, 7.6–5.4%, and 3.5–0.8%, respectively. The lowest survival was observed in fish fed 100% RBO (66.7%). Fish growth performance of 0% RBO was the best, so RBO could not be utilized yet as a source of fatty acid or corn oil replacement in tilapia diet. Keywords: free radical, HCN, Oreochromis sp., rubber seed oil  ABSTRAK Penelitian ini dilakukan sebagai studi awal pemanfaatan minyak biji karet (MBK) untuk pakan ikan nila dan mengevaluasi pengaruhnya terhadap pertumbuhan ikan nila. Ikan uji yang digunakan adalah ikan nila strain SULTANA dengan bobot awal rata-rata 8,33±0,07 g/ind. Penelitian didesain dalam rancangan acak lengkap (RAL) dengan lima perlakuan dan tiga ulangan. Perlakuan yang diuji berbagai sumbangan MBK untuk mengganti minyak jagung dalam pakan, yaitu 0%, 25%, 50%, 75%, dan 100%. Selama pemeliharaan, beberapa parameter yang diukur adalah jumlah konsumsi pakan, efisiensi pakan, retensi protein, retensi lemak, laju pertumbuhan spesifik, glukosa, kolesterol, trigliserida, high-density lipoprotein (HDL), dan gambaran darah. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa kinerja pertumbuhan, kimia darah dan gambaran darah ikan semakin menurun seiring dengan penambahan MBK dalam pakan. Hal ini disebabkan semakin menurunnya jumlah konsumsi pakan secara signifikan, yaitu 583,5 g menjadi 145,7 g dari perlakuan 0% ke 100% MBK. Glukosa darah, hemoglobin dan laju pertumbuhan spesifik ikan pada perlakuan 0–100% MBK masing-masing adalah 48,7–22,2 mg/dL, 7,6–5,4% dan 3,5–0,8%. Sintasan ikan terendah terjadi pada perlakuan 100% MBK, yaitu 66,7%. Kinerja pertumbuhan pada perlakuan 0% MBK adalah yang paling baik sehingga MBK belum dapat dimanfaatkan sebagai sumber lemak menggantikan minyak jagung pada pakan ikan nila. Kata kunci: radikal bebas, HCN, Oreochromis sp., minyak biji karet
The utilization of seagrass and macroalgae substrate for settlement of sandfish Holothuria scabra larvae Indriana, Lisa Fajar; Marjuky, ,; Hilyana, Sitti
Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 13 No. 1 (2014): Jurnal Akuakultur Indonesia
Publisher : Indonesian Society of Scientific Aquaculture (ISSA)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (2802.77 KB) | DOI: 10.19027/jai.13.68-72

Abstract

ABSTRACT Sandfish (Holothuria scabra) is one of endangered species, which has high economical value but has not been commonly cultivated. One factor that affects the success of sandfish culture is survival of larvae during attachment phase . In this phase the larvae of H. scabra need a substrate as a place to live. This study investigated the effect of seagrass and macroalgae as the settlement substrates on the survival of H. scabra larvae. The experiment trial was conducted in UPT LPBIL LIPI Mataram using completely randomized design with five replications for each substrate treatment. The settlement substrates used were Ulva sp. (P1), Gracilaria gigas (P2), Enhalus acoroides (P3), and Eucheuma cottoni (P4). Surface area was 14x19 cm2 in each treatment. At the beginning of experiment trial, one thousand larvae were distributed into plastic tank containing 10 L seawater for each tank. After 13 days experimental period, the survival of H. scabra larvae showed significantly different among substrates treatment. The highest survival was achieved by E. acoroides (15.53±2.23%), and followed by Ulva sp. (5.07±0.74%), E. cottoni (2.57±0.25%), and G. gigas (1.96±0.17%). Keywords: settlement, Holothuria scabra, substrate, seagrass, macroalgae  ABSTRAK Teripang pasir (Holothuria scabra) adalah salah satu spesies berekonomi tinggi yang terancam punah, tetapi belum banyak dibudidayakan. Salah satu faktor yang mempengaruhi tingkat keberhasilan budidaya teripang pasir adalah sintasan pada fase penempelan. Pada fase tersebut larva H. scabra memerlukan substrat sebagai tempat hidup. Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi pengaruh jenis substrat lamun dan makroalga yang berbeda terhadap sintasan (STS) larva teripang pasir pada fase penempelan. Penelitian dilaksanakan di Laboratorium Budidaya UPT LPBIL LIPI Mataram menggunakan metode eksperimental rancangan acak lengkap dengan lima ulangan. Perlakuan jenis substrat, yaitu: Ulva sp. (P1), Gracilaria gigas (P2), Enhalus acoroides (P3), dan Eucheuma cottonii (P4). Substrat dirangkai dengan luasan yang sama sebesar 14x19 cm2. Wadah pemeliharaan berupa wadah plastik dengan volume air laut 10 L, kepadatan awal 1.000 individu/wadah. Perhitungan akhir STS dilakukan pada hari ke-13 masa pemeliharaan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa jenis substrat yang berbeda memberikan pengaruh yang berbeda nyata terhadap STS larva teripang pasir. Substrat E. acoroides memberikan sintasan tertinggi sebesar 15,53±2,23%. STS perlakuan substrat Ulva sp. sebesar 5,07±0,74%, perlakuan E. cottonii sebesar 2,57±0,25%, dan perlakuan G. gigas sebesar 1,96±0,17%. Kata kunci: penempelan, Holothuria scabra, substrat, lamun, makroalga
Site selection for seaweed culture at Gerupuk Bay - West Nusa Tenggara using remote sensing and GIS Nirmala, Kukuh; Ratnasari, Arlina; Budiman, Syarif
Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 13 No. 1 (2014): Jurnal Akuakultur Indonesia
Publisher : Indonesian Society of Scientific Aquaculture (ISSA)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (4196.88 KB) | DOI: 10.19027/jai.13.73-82

Abstract

ABSTRACT Site selection for seaweed culture faces some problems that require more cost, time, and energy. Technology such as remote sensing and geographic information systems (GIS) were regarded as good solutions for site selection to increase seaweed culture. The aim of this study was to analyze suitable location for seaweed culture at Gerupuk Bay, West Nusa Tenggara. The site selection used Landsat 8 satellite with sea surface temperature (SST), total suspended matter (TSM), and protected location as the parameters. Each parameters were processed using Er Mapper 7.0 software and then Arcview GIS 3.2 software to create the thematic GIS map. Site selection for seaweed culture could be determined by maps overlay technique. The results of this study showed that the most suitable site for seaweed culture at Gerupuk Bay was 342.44 ha (25.22%), moderate suitable site was 190.78 ha (14.05%), and unsuitable site was 669.32 ha (49.3%). Keywords: GIS, remote sensing, location suitability, seaweed culture  ABSTRAK Penentuan lokasi budidaya rumput laut sering mengalami kendala yang membutuhkan banyak biaya, waktu, dan tenaga. Teknologi berupa penginderaan jauh (inderaja) dan sistem informasi geografis (SIG) menjadi solusi yang baik dalam penentuan lokasi yang sesuai untuk pengembangan budidaya rumput laut. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis kesesuaian lokasi budidaya rumput laut perairan Teluk Gerupuk, Nusa Tenggara Barat. Penentuan kesesuaian lokasi budidaya rumput laut menggunakan citra satelit Landsat 8 dengan parameter suhu permukaan laut (SPL), muatan padatan tersuspensi (MPT), dan keterlindungan. Parameter tersebut diolah menggunakan perangkat lunak Er Mapper 7.0 kemudian dilakukan pengolahan SIG menggunakan perangkat lunak Arcview GIS 3.2 sehingga dihasilkan peta tematik. Peta tematik tersebut ditumpang susun sehingga dihasilkan peta kesesuaian lokasi budidaya rumput laut. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa lokasi yang sesuai untuk budidaya rumput laut di Teluk Gerupuk adalah 342,44 ha (25,22%), luas lokasi cukup sesuai adalah 190,78 ha (14,05%), dan luas lokasi tidak sesuai adalah 669,32 ha (49,3%). Kata kunci: SIG, penginderaan jauh, kecocokan lokasi, budidaya rumput laut
Whole-cell vaccine of Streptococcus agalactiae in Oreochromis sp. with immersion method Sukenda, ,; Febriansyah, Trian Rizky; Nuryati, Sri
Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 13 No. 1 (2014): Jurnal Akuakultur Indonesia
Publisher : Indonesian Society of Scientific Aquaculture (ISSA)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (3033.846 KB) | DOI: 10.19027/jai.13.83-93

Abstract

ABSTRACT The study was aimed to evaluate the efficacy of formalin-killed non-hemolytic Streptococcus agalactiae N14G and NK1 isolates whole-killed vaccine to prevent streptococcosis in tilapia. Ten fishes were reared in a tank 60x30x35 cm3 with an average body weight at 10.79±0.99 g. Fish was vaccinated through bath immersion at a concentration of 109 cfu/mL. Fish was subsequently challenged by intraperitonial injection of Streptococcus agalactiae 105 cfu/mL at 11 days post-vaccination. Parameters observed were survival, relative percent survival (RPS), total leukocyte, phagocytic activity, antibody titer, total erythrocyte, haemoglobin level, haematocrit level, dan water quality. Samplings were performed in day-0, 20, and 30 after vaccination. Both vaccines have shown higher survival (60%) and RPS (40%) when challenged with pathogenic Streptococcus N14G isolates than other treatments. Based on RPS percentage observed, those vaccine were still not sufficiently effective to combat S. agalactiae infection. Keywords: tilapia, bath immersion, Streptococcus agalactiae, whole-cell vaccine ABSTRAK Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi efikasi vaksin formalin-killed cell Streptococcus agalactiae tipe isolat nonhemolitik N14G dan NK1 se utuh yang diberikan melalui perendaman dalam mencegah penyakit streptococcosis pada ikan nila. Ikan nila yang digunakan memiliki bobot 10,79±0,99 g, dipelihara sebanyak sepuluh ekor dalam akuarium ukuran 60x30x35 cm3. Ikan divaksinasi dengan metode perendaman dengan dosis 109 cfu/mL. Uji tantang dilakukan pada hari ke-11 pascavaksinasi dengan dosis 105 cfu/mL. Parameter yang diamati meliputi sintasan (SR), sintasan relatif/relative percent survival (RPS), total leukosit, aktivitas fagositik, titer antibodi, total eritrosit, kadar hemoglobin, kadar hematokrit, dan kualitas air. Pengamatan parameter dilakukan pada hari ke-0, ke-10, ke-20, dan ke-30. Hasil penelitian menunjukkan perlakuan kedua vaksin yang diinfeksi bakteri patogen isolat N14G memberikan nilai sintasan dan nilai RPS tertinggi dibanding perlakuan lainnya. Nilai sintasan dan RPS kedua perlakuan tersebut adalah 60% dan 40%. Nilai RPS yang cukup kecil menunjukkan vaksin yang diberikan masih kurang efektif untuk mencegah infeksi bakteri S. agalactiae. Kata kunci: ikan nila, perendaman, Streptococcus agalactiae, vaksin sel utuh
Gracilaria spp. morphology cultured in brackish water pond Pantai Sederhana Village, Muara Gembong Soelistyowati, Dinar Tri; Murni, Ida Ayu Amarilia Dewi; Wiyoto, ,
Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 13 No. 1 (2014): Jurnal Akuakultur Indonesia
Publisher : Indonesian Society of Scientific Aquaculture (ISSA)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (3042.978 KB) | DOI: 10.19027/jai.13.94-104

Abstract

ABSTRACT Gracilaria spp. is a euryhaline species of seaweed which can live in the marine and brackish water. Development of Gracilaria spp. culture in Bekasi is potential because this seaweed can be cultured in ex shrimp pond by polyculture system. The objective of this research was to evaluate the phenotype morphological characteristic of Gracilaria spp. based on and its relationship with shrimp pond water quality. Sampling was done at three shrimp ponds with a salinity range at 13.7–19.2 g/L. Phenotypical characteristics of Gracilaria spp. consisted of colour and thallus morfometrics, while measurement of water quality consisted of physical and chemical charactersof shrimp pond. The result showed that Gracilaria spp. generally had light brown colour. At salinity higher than 13.7 g/kg, the number of secondary thalli increased, the distance among internode tertiary thalli declined, and the number of ramification index increased. Salinity showed a positive correlation with remification index which was 0.571. Keywords: Gracilaria spp., remification index, phenotype, salinity, brackishwater culture  ABSTRAK Gracilaria spp. merupakan spesies rumput laut eurihalin yang dapat hidup di laut dan di perairan payau. Pengembangan budidaya Gracilaria spp. di Bekasi potensial dilakukan karena memanfaatkan tambak bekas budidaya udang dengan sistem polikultur. Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi karakteristik fenotipe morfologi Gracilaria spp. dan hubungannya dengan kualitas air di tambak budidaya. Sampling dilakukan pada tiga tambak dengan kisaran salinitas 13,7–19,2 g/L. Karakterisasi fenotipe meliputi warna dan morfometrik talus Gracilaria spp., sedangkan parameter kualitas air meliputi karakter fisika dan kimia air tambak. Hasil menunjukkan talus Gracilarias spp. umumnya berwarna coklat muda dan pada salinitas di atas 13,7 g/L menunjukkan jumlah talus sekunder meningkat, jarak internode talus tersier menurun, dan indeks percabangan meningkat (P<0,05). Salinitas berkorelasi positif dengan indeks percabangan sebesar 0,571. Kata kunci: Gracilaria spp., indeks percabangan, fenotipe, salinitas, budidaya air payau
Application of Bacillus probiotic to prevent Aeromonas hydrophilla infection in Clarias sp. Ulkhaq, Mohammad Faizal; Widanarni, ,; Kusumastuti, Angela Mariana
Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 13 No. 2 (2014): Jurnal Akuakultur Indonesia
Publisher : Indonesian Society of Scientific Aquaculture (ISSA)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (2953.722 KB) | DOI: 10.19027/jai.13.105-114

Abstract

ABSTRACT The aim of this study was to test the effectiveness of a probiotic Bacillus for the prevention of motile aeromonad septicemia (MAS) disease caused by Aeromonas hydrophila in African catfish (Clarias gariepinus). The study consisted of the inhibition testing of A. hydrophila by Bacillus (in vitro) and the application of probiotic in African catfish (in vivo). The in vivo test, consisted of five treatments such as the addition of probiotic Bacillus P4I1 RifR, Bacillus P4I2 RifR, Bacillus P4I1 RifR + Bacillus P4I2 RifR (Kom), positive control (K+; only added with A. hydrophila) and negative control (K-; without probiotic nor A. hydrophila addition). African catfish (13.35±2.80 g) was maintained in 15 aquariums (40 L in volume) with 30 fishes each for 30 days. Probiotic bacteria was applied in water once a day, whereas pathogenic bacteria A. hydrophila RifR (103 cfu/mL) were added once in earlier treatment (except for the negative control). The result showed that the optimal concentration of Bacillus to inhibit A. hydrophila on in vitro test was 104 cfu/mL. In vivo test showed that the addition of probiotic in media of cultivation could reduce the number of A. hydrophila, improve immune response, and also increase the survival of African catfish compared to positive control. Application of probiotic P4I1 RifR showed the highest survival (92.23%) of all treatments. Keywords: Bacillus, Clarias gariepinus, motile aeromonad septicemia, probiotic  ABSTRAK Penelitian ini bertujuan untuk menguji efektivitas probiotik Bacillus dalam pencegahan penyakit motile aeromonad septicaemia (MAS) yang disebabkan oleh Aeromonas hydrophila pada ikan lele dumbo (Clarias gariepinus). Penelitian terdiri atas pengujian penghambatan bakteri probiotik Bacillus terhadap A. hydrophila secara in vitro, dilanjutkan dengan aplikasi pada budidaya ikan lele dumbo (in vivo). Pada uji in vivo, penelitian terdiri atas lima perlakuan yaitu budidaya ikan lele dumbo dengan penambahan probiotik Bacillus P4I1 RifR, Bacillus P4I2 RifR, kombinasi probiotik Bacillus P4I1 RifR + Bacillus P4I2 RifR (Kom), kontrol positif (K+; hanya ditambahkan A. hydrophila) dan kontrol negatif (K-; tanpa pemberian probiotik dan A. hydrophila). Ikan lele dumbo (13,35±2,80 g) dipelihara pada akuarium volume 40 L dengan kepadatan 30 ekor/akuarium selama 30 hari. Bakteri probiotik ditambahkan pada media pemeliharaan ikan setiap hari, sedangkan bakteri patogen A. hydrophila RifR (103 cfu/ mL) diberikan sekali pada awal pemeliharaan (kecuali pada kontrol negatif). Hasil penelitian menunjukkan bahwa konsentrasi terbaik pada penghambatan in vitro adalah dengan penambahan Bacillus 104 cfu/mL. Hasil uji in vivo menunjukkan perlakuan penambahan probiotik pada media budidaya efektif dapat menekan jumlah bakteri A. hydrophila, memperbaiki respons imun, dan meningkatkan kelangsungan hidup ikan lele dumbo dibanding kontrol positif. Perlakuan probiotik P4I1 RifR memberikan hasil terbaik dengan tingkat kelangsungan hidup tertinggi yaitu 92,23%. Kata kunci: Bacillus, Clarias gariepinus, motile aeromonad septicemia, probiotik 
Microencapsulation of single-cell protein from various microalgae species Sukardi, Purnama; Winanto, Tjahjo; Hartoyo, ,; Pramono, Taufik Budhi; Wibowo, Eko Setyo
Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 13 No. 2 (2014): Jurnal Akuakultur Indonesia
Publisher : Indonesian Society of Scientific Aquaculture (ISSA)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (3254.576 KB) | DOI: 10.19027/jai.13.115-119

Abstract

ABSTRACT The objective of the research was to evaluate nutritional values of microencapsulated diet made from single cell protein of microalgae. Complete randomized design was applied using three different types of microalgae for inclusion trials i.e. (A) Nannochloropsis sp., (B) Chlorella sp., and (C) Spirulina sp. with five replications respectively. Microencapsulated diet was produced by a modification method based on thermal cross-linking with stable temperature. Phytoplankton was cultured in sea water for which fertilized by a modification of Walne and Guillard fertilizer. The results showed that the highest value of nutrition content was Spirulina sp. and the average composition of protein, crude lipid, carbohydrate, ash, nitrogen free extract, and water content was 34.80%, 0.30%, 18.53%, 20.09%, 26.29%, and 13.32%, respectively. Organoleptically, microcapsule showed that the color of capsule was dark green and smell fresh phytoplankton. Keywords: microcapsule, single-cell protein, thermal cross-linking, microalgae, phytoplankton  ABSTRAK Tujuan penelitian adalah mengevaluasi kandungan nutrisi pakan mikrokapsul protein sel tunggal (single cell protein) yang berasal dari berbagai jenis mikroalga (fitoplankton). Rancangan percobaan yang digunakan adalah rancangan acak lengkap, dengan perlakuan inklusi mikrokapsul dari jenis fitoplankton (A) Nannochloropsis sp., (B) Chlorella sp., dan (C) Spirulina sp., masing-masing diulang lima kali. Pembuatan mikrokapsul dilakukan dengan menggunakan modifikasi metode dasar thermal cross-linking, serta menerapkan teknik pengeringan suhu konstan. Proses pembuatan mikrokapsul protein diawali dengan kultur fitoplankton jenis Nannochloropsis sp., Chlorella sp., dan Spirulina sp. Kultur dilakukan di dalam laboratorium menggunakan media air laut dan modifikasi pupuk Walne dan Guillard. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kandungan nutrisi tertinggi terdapat pada jenis mikrokapsul protein sel tunggal yang berasal dari Spirulina sp., dengan rata-rata komposisi kandungan protein 34,80%, lemak 0,30%, karbohidrat 18,53%, abu 20,09%, dan BETN 26,29%. Mikrokapsul berwarna hijau tua dan aroma fitoplankton segar. Kata kunci: mikrokapsul, protein sel tunggal, thermal cross-linking, mikroalga, fitoplankton

Filter by Year

2002 2025


Filter By Issues
All Issue Vol. 24 No. 2 (2025): Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 24 No. 1 (2025): Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 23 No. 2 (2024): Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 23 No. 1 (2024): Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 22 No. 2 (2023): Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 22 No. 1 (2023): Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 21 No. 2 (2022): Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 21 No. 1 (2022): Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 20 No. 2 (2021): Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 20 No. 1 (2021): Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 19 No. 2 (2020): Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 19 No. 1 (2020): Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 18 No. 2 (2019): Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 18 No. 1 (2019): Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 17 No. 2 (2018): Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 17 No. 1 (2018): Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 16 No. 2 (2017): Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 16 No. 1 (2017): Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 15 No. 2 (2016): Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 15 No. 1 (2016): Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 14 No. 2 (2015): Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 14 No. 1 (2015): Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 13 No. 2 (2014): Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 13 No. 1 (2014): Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 12 No. 2 (2013): Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 12 No. 1 (2013): Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 11 No. 2 (2012): Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 11 No. 1 (2012): Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 10 No. 2 (2011): Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 10 No. 1 (2011): Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 9 No. 2 (2010): Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 9 No. 1 (2010): Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 8 No. 2 (2009): Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 8 No. 1 (2009): Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 7 No. 2 (2008): Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 7 No. 1 (2008): Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 6 No. 2 (2007): Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 6 No. 1 (2007): Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 5 No. 2 (2006): Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 5 No. 1 (2006): Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 4 No. 2 (2005): Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 4 No. 1 (2005): Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 3 No. 3 (2004): Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 3 No. 2 (2004): Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 3 No. 1 (2004): Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 2 No. 2 (2003): Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 2 No. 1 (2003): Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 1 No. 3 (2002): Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 1 No. 2 (2002): Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 1 No. 1 (2002): Jurnal Akuakultur Indonesia More Issue