cover
Contact Name
Apriana Vinasyiam
Contact Email
akuakultur.indonesia@gmail.com
Phone
-
Journal Mail Official
akuakultur.indonesia@gmail.com
Editorial Address
-
Location
Kota bogor,
Jawa barat
INDONESIA
Jurnal Akuakultur Indonesia
ISSN : 14125269     EISSN : 23546700     DOI : -
Core Subject : Agriculture,
Jurnal Akuakultur Indonesia (JAI) merupakan salah satu sarana penyebarluasan informasi hasil-hasil penelitian serta kemajuan iptek dalam bidang akuakultur yang dikelola oleh Departemen Budidaya Perairan, FPIK–IPB. Sejak tahun 2005 penerbitan jurnal dilakukan 2 kali per tahun setiap bulan Januari dan Juli. Jumlah naskah yang diterbitkan per tahun relatif konsisten yaitu 23–30 naskah per tahun atau minimal 200 halaman.
Arjuna Subject : -
Articles 569 Documents
Growth performance of 7-g Anguilla bicolor bicolor at different density Harianto, Eko; Budiardi, Tatag; Sudrajat, Agus Oman
Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 13 No. 2 (2014): Jurnal Akuakultur Indonesia
Publisher : Indonesian Society of Scientific Aquaculture (ISSA)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (2860.504 KB) | DOI: 10.19027/jai.13.120-131

Abstract

ABSTRACT This research was conducted to evaluate the performance of eel production at stocking density of 2 g/L, 3 g/L, and 4 g/L reared in recirculating system for 60 days. The experimental design used was completely randomized design. Fish were fed on sinking pellet given according to body weight. Collected data were survival, specific growth rate, biomass growth, feed convertion ratio, weight variance, blood profile, blood glucose, and cortisol levels.The results showed that the best performance was found in 4 g/L density with specific growth rate and biomass growth were 0.99±0.30 and 7.50±4.13 g/day, feed conversion ratio of 1.22±0.58, and weight variance of 21.72±3.60%. Stress responses parameters which consisted of cortisol and blood glucose levels showed no significant difference at 22.45± 8.59 nm/L and 31.92± 4.29 mg/dL, respectively. Blood profile in form of hemoglobin, hematocrit, red blood cell and differential leukocytes showed no significant differences except for the leukocyte parameters with the highest rate was achieved at the stocking density of 4 g/L (2.70±0.001x105 sel/mm3). In conclusion, the stocking density of 4 g/L produced the best physiological and production performance. Keywords: stocking density, growth, physiological response, eel, recirculation system ABSTRAK Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi kinerja produksi dan respons fisiologis ikan sidat pada padat tebar 2 g/L, 3 g/L, dan 4 g/L dalam sistem resirkulasi selama 60 hari. Rancangan percobaan yang digunakan adalah rancangan acak lengkap. Pakan berupa pelet tenggelam diberikan sesuai bobot tubuh. Data yang diambil meliputi kelangsungan hidup, laju pertumbuhan spesifik, laju pertumbuhan biomassa, konversi pakan, koefisien keragaman bobot, gambaran darah, kadar glukosa darah, dan kadar kortisol. Hasil penelitian menunjukkan bahwa padat tebar berpengaruh nyata (P<0,05) terhadap laju pertumbuhan biomassa; pertumbuhan biomassa terbaik dicapai pada kepadatan 4 g/L dengan laju pertumbuhan spesifik dan laju pertumbuhan biomassa sebesar 0,99±0,30 dan 7,50±4,13, konversi pakan sebesar 1,22±0,58, dan koefisien keragaman sebesar 21,72±3,60%. Parameter respons stres yaitu kadar kortisol dan glukosa darah tidak menunjukkan perbedaan yang nyata, yaitu masing-masing sebesar 22,45±8,59 nm/L serta 31,92±4,29mg/dL. Gambaran darah berupa hemoglobin, hematokrit, jumlah sel darah merah dan diferensial leukosit tidak menunjukkan perbedaan yang nyata (P>0,05), kecuali pada parameter leukosit dengan nilai terbaik pada perlakuan 4 g/L (2,70±0,001 x105 sel/mm3). Hasil penelitian menunjukkan bahwa padat tebar 4 g/L menghasilkan kinerja fisiologis dan produksi terbaik. Kata kunci: padat tebar, pertumbuhan, respons fisiologis, ikan sidat, sistem resirkulasi
Utilization of fermented chicken manure and catfish culture waste in recirculated sludge worm culture Putri, Diana Sriwisuda; Supriyono, Eddy; Djokosetiyanto, Daniel
Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 13 No. 2 (2014): Jurnal Akuakultur Indonesia
Publisher : Indonesian Society of Scientific Aquaculture (ISSA)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (3075.089 KB) | DOI: 10.19027/jai.13.132-139

Abstract

ABSTRACT This study aimed to analyze the effect of utilization of chicken manure and catfish (Clarias sp.) waste on yield of sludge worm (Tubifex sp.) culture with recirculation systems in multi-storey container. The experimental design used was completely randomized design with four treatments and two replications. Treatments conducted were addition of fermented chicken manure into sediments (P0), fermented chicken manure into sediments and repetition once in five days (P1), fermented chicken manure into sediment and waste from intensive catfish farming (P2), fermented chicken manure into sediments and repetition once in five days and also waste from intensive catfish farming (P3). The container used to rear sludge worm was a wooden container at size of 100x50x15 cm3. Containers made multi-storey (three-level). The medium used was a sludge and chicken manure. Sludge worm was stocked as much as 100 g/m2. Silk worms were given additional fertilizer of fermented chicken manure about 500 g/container with repetition of administration done every five days. Parameters measured were individual abundance, biomass and water quality. The results showed that addition of fermented chicken manure into sediment and waste from intensive catfish farming was the best medium to increase the growth of silk worms with an average abundance at 1,697 ind/m2, and average biomass at 6,470.98 g/m2. Keywords: sludge worm, recirculation, storey container, fermentation chicken manure, catfish waste protein   ABSTRAK Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pengaruh pemanfaatan kotoran ayam dan limbah lele (Clarias sp.) terhadap hasil panen cacing sutra (Tubifex sp.) dengan sistem resirkulasi dalam wadah bertingkat. Rancangan percobaan yang digunakan adalah rancangan acak lengkap dengan empat perlakuan dan masing-masing terdiri atas dua ulangan. Perlakuan yang diterapkan adalah pemberian kotoran ayam fermentasi di sedimen (P0), pemberian kotoran ayam fermentasi di sedimen dan pengulangan lima hari sekali (P1), pemberian kotoran ayam fermentasi di sedimen dan pemberian limbah dari budidaya lele intensif (P2), pemberian kotoran ayam fermentasi di sedimen dan pengulangan lima hari sekali dan pemberian limbah dari budidaya lele intensif (P3). Wadah penelitian yang digunakan untuk budidaya cacing sutra adalah kotak kayu berukuran 100x50x15 cm3. Wadah dibuat bertingkat (tiga tingkat). Media yang digunakan yaitu lumpur dan kotoran ayam. Cacing sutra ditebar sebanyak 100 g/m2. Cacing sutra diberi pupuk tambahan berupa kotoran ayam fermentasi sebanyak 500 g/wadah dengan pengulangan lima hari sekali. Parameter yang diamati meliputi kelimpahan individu, biomassa dan kualitas air. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pemberian kotoran ayam fermentasi di sedimen dan pemberian limbah dari budidaya lele intensif (P2) merupakan media pemeliharaan terbaik untuk meningkatkan pertumbuhan cacing sutra dengan kelimpahan rata-rata sebesar 1.697 ind/m2 dan rata-rata biomass sebesar 6.470,98 g/m2. Kata kunci: cacing sutra, resirkulasi, wadah bertingkat, kotoran ayam fermentasi, limbah ikan lele
Growth response of koi fish fed on the diet containing Euchema cottoni Saade, Edison; Trijuno, Dody D; Haryati, ,; Zainuddin, ,
Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 13 No. 2 (2014): Jurnal Akuakultur Indonesia
Publisher : Indonesian Society of Scientific Aquaculture (ISSA)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (2792.998 KB) | DOI: 10.19027/jai.13.140-145

Abstract

ABSTRACT Seaweed meal has been used as ingredient, binding and thickening agent in the diet. The objective of this study was to examine the biological response of Cyprinus carpio haematopterus consumed several types of gel feed using Euchema cottoni as thickening agent. Four types of diets containing different level of moisture were used i.e. 60−90% (treatment A), 30−60% (treatment B), 10−30% (treatment C), and <10% (treatment D). C. carpio haematopterus with average body weight of 13.58±1.31 g were used in this study. Fish were cultured for six weeks and stocked at the density of 15 fish/aquarium. The completely randomized design with four treatments and two replications were used in this study. Survival, growth rate, and feed efficiency were used as evaluating parameters. According to ANOVA results, the effect of treatments on all tested parameters were similar or not significant (P>0.05). This findings have indicated that the different types of gel diets (wet, semi-wet, semi-dry, and dry) had similar effects on survival, growth, and feed efficiency in C. carpio haematopterus. Keywords: gel feed, Cyprinus carpio haematopterus, diet type, growth, feed efficiency ABSTRAK Tepung rumput laut telah dapat digunakan sebagai bahan baku binder (bahan perekat), dan thickening agent (bahan pengental). Tujuan penelitian ini adalah untuk menguji respons biologis ikan koi, Cyprinus carpio haematopterus yang mengkonsumsi beberapa tipe pakan gel yang menggunakan tepung rumput laut, Euchema cottoni sebagai bahan pengental pakan. Bahan baku utama pakan uji adalah tepung ikan, tepung kepala udang, dedak halus, minyak ikan, vitamin dan mineral mix, carboxymethil cellulose (CMC), serta tepung E. cottoni. Empat macam pakan digunakan dalam penelitian ini, yaitu pakan gel basah dengan kandungan air 60−90% (perlakuan A), pakan gel semibasah dengan kandungan air 30−60% (perlakuan B), pakan gel semikering dengan kandungan air 10−30% (perlakuan C), dan pakan gel kering dengan kandungan air <10% (perlakuan D). Ikan uji yang digunakan adalah ikan koi dengan bobot rata-rata 13,58±1,31 g dengan kepadatan 15 ekor/unit pelakuan. Rancangan acak lengkap dengan empat perlakuan dan dua ulangan digunakan dalam penelitian ini. Parameter yang diukur adalah kelangsungan hidup, pertumbuhan dan efisiensi pakan. Berdasarkan hasil ANOVA, pengaruh perlakuan terhadap ke semua parameter uji adalah sama (P>0,05). Hal ini berarti bahwa tipe pakan gel yang berbeda (basah, semibasah, semikering, dan kering) memiliki efek yang sama terhadap kelangsungan hidup, pertumbuhan dan efisiensi pakan pada ikan koi. Kata kunci: pakan gel, Cyprinus carpio haematopterus, tipe pakan, pertumbuhan, efisiensi pakan 
Evaluation of incubated defatted rubber seed meal with sheep rumen liquor for Pangasius diet Suprayudi, Muhammad Agus; Irawan, Winda Styani; Utomo, Nur Bambang Priyo
Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 13 No. 2 (2014): Jurnal Akuakultur Indonesia
Publisher : Indonesian Society of Scientific Aquaculture (ISSA)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (2822.981 KB) | DOI: 10.19027/jai.13.146-151

Abstract

ABSTRACT The research evaluated the use of rubber seed meal (Hevea brasiliensis; RBS) incubated with sheep rumen liquor as a subtitution of soybean meal in catfish Pangasionodon sp. diet. The fish was cultured for 40 days and fed with the experimental diet containing RBS at five different diet compositions regarding to soybean meal substitution level, i.e. 0% (control), 12%, 23%, 34%, and 44%. Feeding was done three times a day to satiation. No significant different was found on fish-protein retention and survival rate in all treatments. Based on the study result, the use of rubber-seed meal (Hevea brasiliensis; RBS) incubated with sheep rumen liquor could substitute soybean meal in catfish Pangasionodon sp. diet. Keywords: Hevea brasiliensis, Pangasionodon sp., catfish, sheep rumen liquor, rubber seed meal  ABSTRAK Penelitian ini mengevaluasi penggunaan tepung bungkil biji karet (Hevea brasiliensis; TBBK) yang diinkubasi dengan cairan rumen domba sebagai pengganti tepung bungkil kedelai pada pakan ikan patin Pangasionodon sp. Pemeliharaan ikan dilakukan selama 40 hari dengan pemberian lima komposisi pakan berbeda sesuai tingkat substitusi tepung bungkil kedelai oleh tepung bungkil karet. TBBK yang ditambahkan untuk mengganti bungkil kedelai adalah sebesar 0%, 12%, 23%, 34% dan 44%. Pemberian pakan dilakukan selama tiga kali sehari secara at satiation. Tidak ditemukan perbedaan signifikan (P>0,05) pada nilai retensi protein dalam tubuh dan kelangsungan hidup ikan uji pada semua perlakuan. Berdasarkan hasil penelitian, dapat disimpulkan bahwa tepung bungkil biji karet yang diinkubasi dengan cairan rumen domba dapat digunakan sebagai pengganti bungkil kedelai pada pakan ikan patin Pangasionodon sp. Kata kunci: Hevea brasiliensis, Pangasionodon sp., patin, rumen domba, tepung biji karet 
Business evaluation of Pangasionodon hypophthalmus nursery in Sukamandijaya Village, Subang Budiardi, Tatag; Rolin, Febrina; Hadiroseyani, Yani
Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 13 No. 2 (2014): Jurnal Akuakultur Indonesia
Publisher : Indonesian Society of Scientific Aquaculture (ISSA)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (2916.78 KB) | DOI: 10.19027/jai.13.152-162

Abstract

ABSTRACT Nursery business of 1-inch Siam-catfish in Sukamandijaya Village has been conducted based on experience and no information was available regarding to its economical efficiency. The purpose of this study was to evaluate the production performance and input optimalization to maximize profit. The methods used in this study was survey with purposive sampling, while production performance asessment was carried out by direct observations. Economic data were analyzed using Cobb-Douglas production function. Number of fish farmer respondens in this survey was 21 respondents. The volume of nursery tanks were about 3,188−9,860 L at stocking density of 15−47 fish/L. The average of absolute length growth, survival, and daily weight growth rate were 2.77±0.19 cm, 56.04±1.07 %, 27.96±1.09 % respectively. Based on the analysis, the optimal input was at the stocking density of 80 larvae/L and sludge worm density of 0.0919 kg/L.Keywords: input optimalization, maximum profit, production performance, nursery, Siam-catfish ABSTRAK Usaha pendederan ikan patin ukuran 1-inci di Desa Sukamandijaya masih berdasarkan pengalaman dan tidak tersedia informasi mengenai efisiensi ekonomi usaha ini. Tujuan penelitian ini adalah mengevaluasi kinerja produksi dan optimalisasi input produksi untuk menghasilkan keuntungan yang maksimal. Survei dilakukan menggunakan metode purposive sampling dan parameter kinerja produksi diperoleh melalui pengamatan langsung. Data ekonomi dianalisis menggunakan fungsi produksi Cobb-Douglas. Jumlah responden pembudidaya pada penelitian ini adalah sebanyak 21 responden. Volume wadah pendederan berkisar 3.188−9.860 L dengan padat tebar berkisar 15−47 ekor/L. Pertumbuhan panjang mutlak rata-rata ikan patin sebesar 2,77±0,19 cm, tingkat kelangsungan hidup sebesar 56,04±1,07 %, dan laju pertumbuhan bobot harian sebesar 27,96±1,09%. Berdasarkan analisis, penggunaan input yang optimal adalah padat tebar 80 ekor/L untuk larva dan pakan berupa cacing sutra dengan kepadatan 0,0919 kg/L. Kata kunci: optimalisasi input, keuntungan maksimal, kinerja produksi, pendederan, ikan patin
Modification of non-selective-solid media for aquatic bacteria Dwinanti, Sefti Heza; Tanbiyaskur, ,
Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 13 No. 2 (2014): Jurnal Akuakultur Indonesia
Publisher : Indonesian Society of Scientific Aquaculture (ISSA)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (3085.908 KB) | DOI: 10.19027/jai.13.163-166

Abstract

ABSTRACT The objective of this research was to produce an alternative media for aquatic bacteria using fish broth as pepton source and commercial consumption agar as material. This experiment consisted of six treatments; four treatments used fish broth with doses 200 g/L; 400 g/L; 600 g/L and 800 g/L; two treatments as controls which were commercial agar as negative control and tryptic soy agar (TSA) as positive control. The result showed that treatment 200 g/L had performed as good as TSA for bacterial growth. Keywords: solid media, fish broth, aquatic bacteria  ABSTRAK Tujuan dari penelitian ini adalah menciptakan alternatif media padat nonselektif untuk bakteri akuatik dengan memanfaatkan kaldu daging ikan sebagai sumber pepton dan agar-agar konsumsi komersial (AKK) sebagai pemadat. Penelitian ini terdiri atas enam perlakuan yaitu; empat perlakuan menggunakan kaldu ikan yang dibuat dengan dosis 200 g/L; 400 g/L; 600 g/L and 800 g/L; dua perlakuan sebagai kontrol yaitu ART sebagai kontrol negatif dan tryptic soy agar (TSA) sebagai kontrol positif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pemanfaatan kaldu daging ikan pada dosis 200 g/L memiliki performa yang sama baiknya dengan TSA sebagai media tumbuh bakteri. Kata kunci: media padat, kaldu ikan, bakteri akuatik
Survival of common carp carrying Cyca-DAB1*05 post-challenged with Aeromonas hydrophila Arsal, Laode Muhammad; Yuhana, Munti; Nuryati, Sri; Alimuddin, ,
Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 13 No. 2 (2014): Jurnal Akuakultur Indonesia
Publisher : Indonesian Society of Scientific Aquaculture (ISSA)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (2994.053 KB) | DOI: 10.19027/jai.13.167-178

Abstract

ABSTRACT Blood parameters are considered as important indicators to diagnose fish health status. This study was performed to observe blood profiles including total erythrocytes, hemoglobin concentration, hematocrite, total leukocytes and differential leukocytes, and survival of common carp Cyprinus carpio infected by Aeromonas hydrophila. Fish were divided into two groups: the 3rd generation of common carp carrying fish carrying Cyca-DAB1*05 of major histocompatibility complex II molecular marker, and fish without the marker as control treatment. histocompatibility complex II molecular marker, and fish without the marker as control treatment. Common carp 3rd generation was produced by crossing among second generation of fish carrying the Cyca-DAB1*05 marker. Each fish was injected intramuscularly by 0.1 mL of 108 cfu/mL A. hydrophila. Challenge test was conducted for 14 days and blood was collected at day-0, three, seven, and 14. The results of this study showed that erythrocytes, hemoglobin and hematocrite concentrations of common carp carrying the molecular marker at post challenge with A. hydrophila were higher (P<0.05) compared to control fish. The blood profiles were highly correlated to survival of fish. Survival of fish that carrying the molekuler marker was about two point six fold higher than those of control fish. Keywords: Cyprinus carpio, Aeromonas hydrophila, Cyca-DAB1*05, molecular marker  ABSTRAK Gambaran darah merupakan indikator penting untuk mendiagnosa penyakit ikan. Penelitian ini dilakukan untuk meguji gambaran darah ikan mas Cyprinus carpio setelah diinfeksi dengan bakteri Aeromonas hydrophila yang meliputi total sel darah merah, konsentrasi hemoglobin, hematokrit, total sel darah putih, dan diferensial leukosit, serta sintasannya. Ikan mas yang digunakan terdiri atas ikan mas generasi ketiga yang membawa marka molekuler Cyca-DAB1*05 dari kelompok major histocompatibility complex II dan ikan mas tanpa marka sebagai kontrol. Ikan mas generasi ketiga merupakan keturunan persilangan antarikan mas generasi kedua yang mempunyai marka Cyca-DAB1*05. Masing-masing ikan diinfeksikan A. hydrophila secara intramuskuler pada dosis 0,1 mL, kepadatan 108 cfu/mL. Uji tantang dilakukan selama 14 hari, dan sampel darah ikan diambil pada hari ke-0, tiga, tujuh dan 14. Hasil uji tantang menunjukkan bahwa total sel darah merah, konsentrasi hemoglobin dan hematokrit pada ikan mas yang membawa marka molekuler lebih tinggi dibandingkan ikan mas tanpa marka (P<0,05). Hasil uji gambaran darah berkorelasi tinggi dengan tingkat kelangsungan hidup ikan mas. Tingkat kelangsungan hidup ikan mas yang membawa marka molekuler Cyca-DAB1*05 lebih tinggi hingga dua koma enam kali daripada ikan mas kontrol. Kata kunci: Cyprinus carpio, Aeromonas hydrophila, Cyca-DAB1*05, marka molekuler 
Induced maturation of eel Anguilla bicolor using different hormone combination Sudrajat, Agus Oman; Sugati, Antharest; Alimuddin, ,
Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 13 No. 2 (2014): Jurnal Akuakultur Indonesia
Publisher : Indonesian Society of Scientific Aquaculture (ISSA)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (3147.544 KB) | DOI: 10.19027/jai.13.189-201

Abstract

ABSTRACT Artificial reproduction of eel Anguilla bicolor is not yet well-established because of insufficient broodstock number. In this research, induction of Indonesian eel gonad maturation was performed by hormonal with a combination of pregnant mare serum gonadotropin (PMSG), human chorionic gonadotropin (HCG) antidopamin and recombinant growth hormone (rGH). This research consisted of five treatments namely: control (NaCl 0,9%), PMSG 20 IU/ kg, PMSG 20 IU/kg + antidopamin 10 ppm/kg, PMSG 20 IU/kg + antidopamin 10 ppm/kg + rGH 10 μg/kg dan PMSG 20 IU/kg + HCG 10 IU/kg. Each treatment contained 10 fishes. Hormonal induction was conducted by intramuscular injections, as much as five times at intervals of seven days. Furthermore observations on gonadal development were performed after injection for 21 days. The results showed that the treatment generated pregnancy level of 100%, while control was 0%. The best treatment was PMSG 20 IU/kg + antidopamin 10 ppm/kg+ rGH 10 μg/kg, seen from a more mature phase of the gametes, spermatocytes in male and oocytes with perinukleolar phase in female fish. Eel at the body weight of 120.4 to 207.8 g and at the body length of 40.9 to 43.1 cm was male, at the body weight of 274.8 g and at the body length of 47 cm was in intersexual phase, and at the body weight of 323.4 g and at the body length of 53 cm was female. Keywords: Anguilla bicolor, antidopamin, hormones, PMSG, rGH, HCG  ABSTRAK Pemijahan ikan sidat secara buatan belum dapat dilakukan karena keterbatasan induk matang gonad. Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui pengaruh pemberian hormon terhadap percepatan proses perkembangan gonad ikan sidat (Anguilla bicolor). Hormon yang digunakan adalah kombinasi dari pregnant mare serum gonadotropin (PMSG), human chorionic gonadotropin (HCG), antidopamin dan recombinant growth hormone (rGH). Induksi hormonal untuk mempercepat perkembangan gonad ikan sidat dilakukan melalui lima perlakuan yaitu yaitu kontrol (NaCl 0,9%), PMSG 20 IU/kg, PMSG 20 IU/kg+antidopamin 100 ppm/kg, PMSG 20 IU/kg+antidopamin 100 ppm/ kg+rGH 10 μg/kg dan PMSG 20 IU/kg+HCG 10 IU/kg. Setiap perlakuan dilakukan pada sepuluh ekor ikan sidat. Aplikasi induksi hormonal dilakukan melalui penyuntikan secara intramuskular sebanyak lima kali dengan interval tujuh hari sekali, selanjutnya dilakukan pengamatan terhadap perkembangan gonad selama 21 hari dengan interval tujuh hari sekali setelah penyuntikan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa perlakuan hormonal menyebabkan tingkat kebuntingan sebanyak 100% pada ikan perlakuan, sedangkan kontrol sebanyak 0%. Kombinasi terbaik adalah PMSG+antidopamin+rGH, terlihat dari fase gamet yang lebih matang yaitu mencapai fase spermatosit pada ikan jantan dan oosit dengan fase perinukleolar pada ikan betina. Berdasarkan hasil penelitian, ikan sidat dengan bobot 120,4−207,8 g dan panjang 40,9−43,1 cm masih berjenis kelamin jantan. Ikan dengan bobot 274,8 g dan panjang 47 cm masih berada pada fase peralihan kelamin, sedangkan pada bobot 323,4 dan panjang 53 cm sudah berjenis kelamin betina. Kata kunci: Anguilla bicolor, antidopamin, hormon, PMSG, rGH, HCG
Immune response and growth of Lates calcarifer fed on hydrolized protein-supplemented diet Novriadi, Romi; Hermawan, Tinggal; Ibtisam, ,; Dikrurrahman, ,; Kadari, Muh; Herault, Mikael; Fournier, Vincent; Seguin, Paul
Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 13 No. 2 (2014): Jurnal Akuakultur Indonesia
Publisher : Indonesian Society of Scientific Aquaculture (ISSA)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (2911.107 KB) | DOI: 10.19027/jai.13.179-188

Abstract

ABSTRACT This experiment was aimed to investigate the effects of protein hydrolysates on growth performance and immune response of the Asian sea bass Lates calcarifer Bloch. The experiment was performed in two different rearing period, namely nursery and grow out by using completely randomized design. Experimental fish were fed with three types of diets and each treatment was repeated three times: a local commercial diet (control), coated or not, with 2%, and 3% of protein hydrolysates. Challenge test was performed with Vibrio parahaemolyticus at a density of 105 sel/mL by using immersion method. The results showed that the the neutrofil, leukocyte and monocyte of the fish fed on protein hydrolisates were significantly higher than those non-supplemented group (P<0.05). Meanwhile, the lymphocyte on the fish treated with hydrolisates showed no difference amongst treatments (P<0.05). The growth performance of Asian sea bass fed on protein hydrolisates significantly improved the total fish weight (g), relative weight gain, specific growth rate, final weight (g) and final length (cm) in comparison to the control (P<0.05) both at nursery and grow out phase. Higher survival both at the nursery and grow out phase were obtained by the group fed with 3% protein hydrolisates: 97.28±0.18% and 86.0±4.32%. Followed with 2% supplementation level 96.75±0.28% and 78.4±7.7%. The lowest survival was shown by the control group with 93.65±0.13% and 20.1±21.1% from nursery and grow-out phase respectively. Results of challenged test showed that the protein hydrolisates supplementation was able to improve the post-challenged survival and resistency of Asian sea bass against V. parahaemolyticus infection. Fish treated with 3% protein hydrolisates generated higher survival 78,33±2,89%, followed by treatment 2% 73,33±5,77%, and control 31,67±7,64% after five days post immersion (P<0.05). Keywords: Asian sea bass, protein hydrolisates, growth, immune system   ABSTRAK Penelitian ini bertujuan untuk menguji efektivitas suplementasi protein hidrolisis pada pakan terhadap respons kekebalan tubuh dan performa pertumbuhan ikan kakap putih Lates calcarifer. Penelitian dilakukan di dua fase pemeliharaan, yakni fase pendederan dan pembesaran dengan menggunakan rancangan acak lengkap. Penelitian ini menggunakan tiga perlakuan dan masing–masing perlakuan memiliki tiga ulangan, dengan deskripsi perlakuan adalah kontrol, aplikasi 3% dan 2% protein hidrolisis. Uji tantang dilakukan dengan menggunakan Vibrio parahaemolyticus pada konsentrasi 105 sel/mL dengan metode perendaman. Hasil analisa respons kekebalan tubuh menunjukkan bahwa neutrofil, leukosit, dan monosit pada kelompok ikan yang mendapatkan aplikasi protein hidrolisis meningkat secara nyata dibandingkan kontrol (P<0,05). Sementara limfosit pada kelompok perlakuan protein hidrolisis tidak memiliki perbedaan yang nyata dibandingkan kontrol (P<0,05). Performa pertumbuhan ikan kakap putih yang mendapatkan suplementasi protein hidrolisis juga memiliki total bobot (g), % bobot relatif, % laju pertumbuhan spesifik, bobot akhir (g) dan panjang akhir (cm) yang secara nyata lebih baik jika dibandingkan dengan kontrol (P<0,05) baik pada masa pemeliharaan di pendederan maupun di pembesaran. Sintasan paling tinggi pada fase pendederan dan pembesaran terdapat pada kelompok suplementasi 3% dengan 97,28±0,18% dan 86,0±4,3%. Diikuti oleh kelompok 2% dengan 96,75±0,28% dan 78,4±7,7%; dan paling rendah diperoleh pada kelompok kontrol dengan 93,65±0,13 % dan 20,1±21,1% masing-masing dari fase pembenihan dan pembesaran. Hasil uji tantang menunjukkan bahwa suplementasi protein hidrolisis mampu meningkatkan sintasan dan meningkatkan resistensi ikan uji terhadap infeksi V. parahaemolyticus. Pemberian protein hidrolisis dengan konsentrasi 3% merupakan dosis terbaik dengan sintasan 78,33±2,89%, diikuti oleh aplikasi 2% dengan 73,33±5,77% dan kontrol dengan 31,67±7,64% setelah lima hari masa uji tantang (P<0,05). Kata kunci: ikan kakap putih, protein hidrolisis, pertumbuhan, sistem kekebalan tubuh 
Effectiveness of sinbiotic at different doses in Pacific white shrimp pond culture Sukenda, ,; Praseto, Rizki; Widanarni, ,
Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 14 No. 1 (2015): Jurnal Akuakultur Indonesia
Publisher : Indonesian Society of Scientific Aquaculture (ISSA)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (2932.54 KB) | DOI: 10.19027/jai.14.1-8

Abstract

ABSTRACT The increasing demand of white shrimp Litopenaeus vannamei requires the application of intensive culture system. However, intensive culture system of white shrimp could increase the risk of disease outbreak. The application of sinbiotic may provide solution to the problem. This study was aimed to evaluate the effectiveness of the use of technical sinbiotic on the survival and growth of white shrimp in ponds. This study consisted of four treatments; treatment K (control), treatment A (probiotic 0.5% and prebiotic 1%), treatment B (probiotic 1% and prebiotic 2%), and treatment C (probiotic 2% and prebiotic 4%). The results showed that administration of sinbiotic had no significant differences on survival rate, growth rate, feed conversion ratio, size, and biomass of shrimp (P>0.05). However, based on analysis of business, sinbiotic A provided higher profits to the farmer (Rp10.230) compared to other symbiotic treatments and control. Keywords: Litopenaeus vannamei, sinbiotic, technical media ABSTRAK Permintaan terhadap udang vaname Litopenaeus vannamei yang semakin meningkat membuat sistem budidaya udang sebaiknya menggunakan sistem budidaya intensif. Namun demikian sistem intensif pada budidaya udang vaname dapat meningkatkan risiko timbulnya penyakit. Penggunaan sinbiotik diharapkan dapat memberikan solusi dalam mengatasi masalah tersebut. Penelitian ini bertujuan untuk menguji efektivitas penggunaan sinbiotik teknis terhadap sintasan, pertumbuhan, dan keuntungan usaha udang vaname yang dipelihara di tambak. Penelitian ini terdiri atas empat perlakuan, yaitu perlakuan K (kontrol), perlakuan A (probiotik 0,5% dan prebiotik 1%), perlakuan B (probiotik 1% dan prebiotik 2%), dan perlakuan C (probiotik 2% dan prebiotik 4%). Hasil penelitian menunjukkan bahwa pemberian sinbiotik tidak berbeda nyata dalam nilai sintasan, laju pertumbuhan, rasio konversi pakan, size, dan biomassa udang (P>0,05). Namun demikian, berdasarkan analisis usaha perlakuan A memberikan keuntungan lebih tinggi (Rp10.230) dibandingkan dengan perlakuan sinbiotik lainnya serta kontrol. Kata kunci: Litopenaeus vannamei, sinbiotik, media teknis 

Filter by Year

2002 2025


Filter By Issues
All Issue Vol. 24 No. 2 (2025): Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 24 No. 1 (2025): Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 23 No. 2 (2024): Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 23 No. 1 (2024): Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 22 No. 2 (2023): Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 22 No. 1 (2023): Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 21 No. 2 (2022): Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 21 No. 1 (2022): Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 20 No. 2 (2021): Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 20 No. 1 (2021): Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 19 No. 2 (2020): Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 19 No. 1 (2020): Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 18 No. 2 (2019): Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 18 No. 1 (2019): Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 17 No. 2 (2018): Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 17 No. 1 (2018): Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 16 No. 2 (2017): Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 16 No. 1 (2017): Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 15 No. 2 (2016): Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 15 No. 1 (2016): Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 14 No. 2 (2015): Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 14 No. 1 (2015): Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 13 No. 2 (2014): Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 13 No. 1 (2014): Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 12 No. 2 (2013): Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 12 No. 1 (2013): Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 11 No. 2 (2012): Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 11 No. 1 (2012): Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 10 No. 2 (2011): Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 10 No. 1 (2011): Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 9 No. 2 (2010): Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 9 No. 1 (2010): Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 8 No. 2 (2009): Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 8 No. 1 (2009): Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 7 No. 2 (2008): Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 7 No. 1 (2008): Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 6 No. 2 (2007): Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 6 No. 1 (2007): Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 5 No. 2 (2006): Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 5 No. 1 (2006): Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 4 No. 2 (2005): Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 4 No. 1 (2005): Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 3 No. 3 (2004): Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 3 No. 2 (2004): Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 3 No. 1 (2004): Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 2 No. 2 (2003): Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 2 No. 1 (2003): Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 1 No. 3 (2002): Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 1 No. 2 (2002): Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 1 No. 1 (2002): Jurnal Akuakultur Indonesia More Issue