cover
Contact Name
Apriana Vinasyiam
Contact Email
akuakultur.indonesia@gmail.com
Phone
-
Journal Mail Official
akuakultur.indonesia@gmail.com
Editorial Address
-
Location
Kota bogor,
Jawa barat
INDONESIA
Jurnal Akuakultur Indonesia
ISSN : 14125269     EISSN : 23546700     DOI : -
Core Subject : Agriculture,
Jurnal Akuakultur Indonesia (JAI) merupakan salah satu sarana penyebarluasan informasi hasil-hasil penelitian serta kemajuan iptek dalam bidang akuakultur yang dikelola oleh Departemen Budidaya Perairan, FPIK–IPB. Sejak tahun 2005 penerbitan jurnal dilakukan 2 kali per tahun setiap bulan Januari dan Juli. Jumlah naskah yang diterbitkan per tahun relatif konsisten yaitu 23–30 naskah per tahun atau minimal 200 halaman.
Arjuna Subject : -
Articles 569 Documents
Potential transmission test of GP25 vaccine in normal flora bacteria of common carp culture media Nuryati, Sri; Alimuddin, ,; Juliadiningtyas, Ayu Dhita
Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 14 No. 1 (2015): Jurnal Akuakultur Indonesia
Publisher : Indonesian Society of Scientific Aquaculture (ISSA)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (3103.447 KB) | DOI: 10.19027/jai.14.90-97

Abstract

ABSTRACT Koi herpesvirus (KHV) is a virus that infects common carp and koi Cyprinus carpio. KHV attacks most stadia of common carp and koi and causes mortality up to 80–95% of the population. One way to prevent the spread of KHV is  by applying DNA vaccine. This research was conducted to test potential transmission of DNA vaccine encoding glycoprotein 25 (vaccine GP25) toward normal flora bacteria of media cultivation of common carp. Bacteria was isolated from pond water of common carp and tested for their sensitivity to ampicillin. Research was performed by adding vaccine GP25 to ampicillin-sensitive bacteria at a dose of 12.5 µg/100 µL and incubated at 28 °C for 30, 60, 180, and 300 minutes then plated on media containing ampicillin. The grown bacteria cells were tested for the existence of plasmid bearing gen GP25 through bacteria colony cracking. The results of this research showed that there was no bacteria contained plasmid bearing gen GP25. Keywords: DNA vaccines, common carp, vaccine safety  ABSTRAK Koi herpesvirus (KHV) merupakan virus yang menginfeksi ikan mas dan koi Cyprinus carpio. KHV menyerang hampir semua stadia ikan mas dan koi dan menyebabkan kematian hingga 80–95% dari populasi. Salah satu cara penanggulangan penyebaran KHV adalah dengan penggunaan vaksin DNA. Penelitian ini dilakukan untuk menguji potensi transmisi vaksin DNA glikoprotein 25 (vaksin GP25) pada bakteri flora normal pada media budidaya ikan mas. Bakteri diisolasi dari kolam budidaya ikan mas dan diuji sensitivitasnya terhadap antibiotik ampisilin. Penelitian dilakukan dengan menambahkan vaksin GP25 ke larutan bakteri sensitif ampisilin dengan dosis 12,5 µg/100 µL dan diinkubasi pada suhu 28 °C selama 30, 60, 180, dan 300 menit kemudian disebar pada media mengandung antibiotik ampisilin. Sel bakteri yang tumbuh diuji untuk mendeteksi keberadaan plasmid pembawa gen GP25 dengan menggunakan metode seleksi koloni bakteri (colony cracking). Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa tidak ada bakteri yang mengandung plasmid pembawa gen GP25. Kata kunci: keamanan vaksin, ikan mas, vaksin DNA
Evaluation of growth and meat performance of Pangasianodon hypopthalmus which fed with Cinnamomum burmanni leaves enriched diet Setiawati, Mia; Sakinah, Aliyah; Jusadi, Dedi
Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 14 No. 2 (2015): Jurnal Akuakultur Indonesia
Publisher : Indonesian Society of Scientific Aquaculture (ISSA)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (3056.031 KB) | DOI: 10.19027/jai.14.171-178

Abstract

ABSTRACT This research was performed to evaluate growth performance and meat quality at different feeding period of striped catfish Pangasianodon hypopthalmus fed on cinnamon leaves Cinnamomum burmanni enriched diet. Twenty fishes at the average body weight of 21.24±2.39 g were distributed  into 100×40×50 cm3 of aquarium. Fish were fed on the diet contained C. burmanni leaves of either 0.0%, 0.5%, 1.0%, or 1.5% respectively for 60 days. Fish were fed on those diets three times a day at satiation. Fish meat quality was evaluated by organoleptic test and proximate analysis at day-20, 40, and  60. The result showed that until day-40, fish fed on the diet contained 0.0%, 0.5%, and 1.0% cinnamon leaves had no significant difference on growth, hence still showed higher growth than fish fed at the dose of 1,5%. Meanwhile at day-60, fish fed on the diets contained either 0.5%, 1.0%, and 1.5% cinnamon leaves significantly had lower growth than that fed on 0.0% cinnamon leaves. In accordance to the growth response, diet contained 0.5% cinnamon leaves given for 40 days has shown the best texture and the highest protein content of fish meat.               Keywords: cinnamon leaves, striped catfish, growth, meat texture  ABSTRAK Penelitian ini dilakukan untuk mengevaluasi pertumbuhan dan kualitas daging ikan patin Pangasianodon hypopthalmus yang diberi pakan mengandung tepung daun kayu manis Cinnamomum burmanni dengan dosis berbeda. Sebanyak 20 ekor ikan patin berukuran 21,24±2,39 g dipelihara dalam akuarium berukuran 100×40×50 cm3. Ikan diberi empat jenis pakan yang mengandung daun kayu manis masing-masing sebesar 0,0%, 0,5%, 1,0%, dan 1,5% selama 60 hari. Pemberian pakan dilakukan sebanyak tiga kali sehari secara at satiation. Kualitas daging ikan diuji melalui uji organoleptik dan analisis proksimat pada hari ke-20, 40, dan 60. Hasil menunjukkan bahwa sampai hari ke-40 pemeliharaan, pertumbuhan ikan yang diberi pakan mengandung 0,0%, 0,5%, dan 1,5% daun kayu manis menunjukkan kinerja pertumbuhan yang tidak berbeda nyata, tetapi bernilai lebih tinggi daripada ikan yang diberi  dosis 1,5%. Berbeda halnya dengan kinerja pertumbuhan ikan pada hari ke-60, ikan yang diberi pakan 0,5%, 1,0%, dan 1,5% secara signifikan memiliki pertumbuhan yang lebih rendah dari ikan yang diberi pakan 0,0%. Sesuai dengan respons pertumbuhan, ikan yang diberi pakan 0,5% daun kayu manis selama 40 hari memiliki tekstur daging yang terbaik dan protein tertinggi. Kata kunci: daun kayu manis, ikan patin, pertumbuhan, tekstur 
Application of different honey and dilution ratios on sperm quality of Pangasianodon hypopthalmus Arfah, Harton; Hasan, Fahmi; Setiawati, Mia
Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 14 No. 2 (2015): Jurnal Akuakultur Indonesia
Publisher : Indonesian Society of Scientific Aquaculture (ISSA)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (3050.604 KB) | DOI: 10.19027/jai.14.164-170

Abstract

ABSTRACT The aim of this study was to determine the effect of various types of honey (longan honey, lychee honey, and cottonwoods honey) on sperm quality of Siamese catfish Pangasianodon hypopthalmus with different dilution ratios after the storage period which includes sperm viability, fertilization rate, and hatching rate. The best treatment was obtained on the aplication of longan honey as a sperm diluent at 1:50 dilution ratio, with sperm viability 96.33±0.58%, fertilization rate 97.10±0.70%, and hatching rate 93.44±2.39%. Keywords: Siamese catfish, Pangasianodon hypophthalmus, honey, sperm dilution ratio  ABSTRAK Tujuan penelitian ini adalah mengevaluasi pengaruh pemberian berbagai jenis madu (madu kelengkeng, madu leci, dan madu randu) terhadap kualitas sperma ikan patin siam Pangasianodon hypopthalmus dengan rasio pengenceran berbeda setelah masa penyimpanan, yang meliputi viabilitas sperma, tingkat fertilisasi, dan derajat penetasan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa perlakuan terbaik didapatkan pada pemberian madu kelengkeng dengan rasio pengenceran 1:50 dengan viabilitas sperma 96,33±0,58%, tingkat fertilisasi 97,10±0,70%, dan derajat penetasan 93,44±2,39%. Kata kunci: ikan patin, Pangasianodon hypopthalmus, madu, rasio pengenceran sperma 
The growth and meat quality of Siamese catfish fed different level of protein Purnomo, Novieanto; Utomo, Nur Bambang Priyo; Azwar, Zafril Imran
Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 14 No. 2 (2015): Jurnal Akuakultur Indonesia
Publisher : Indonesian Society of Scientific Aquaculture (ISSA)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (3045.536 KB) | DOI: 10.19027/jai.14.104-111

Abstract

ABSTRACT This study was to evaluate growth performance and meat quality of Siamese catfish Pangasianodon hypophthalmus fed on commercial diets with different protein levels. Fish with average initial body weight of 33,61 g were reared in hapa (2×2×1 m3) at density of 30 ind/hapa. Fish were hand-fed with experimental diet to satiety twice daily for 60 days. Experimental design was set in completely randomized design. Each treatment was done in triplicates. Experimental diets were a commercial diet to contain four differennt levels of protein; i.e. diet A (18%), diet B (23%), diet C (28%), and diet D (32%). Specific growth rate (SGR), feed conversion ratio (FCR), protein (RP) and lipid (RL) retention, hepatosomatic index (HSI), lipid and glycogen content of liver, protein and lipid content of meat, edible portion, and fillet textural were calculated. The results of the experiment showed that the highest weight gain and SGR, lowest FCR and meat protein were obtained in the group of fish fed 23%–32% protein diets. In conclusion, 23% protein diets gave the best growth performance and meat quality of Siamese catfish. Keywords : growth performance, meat quality, commercial diet, Pangasianodon hypophthalmus  ABSTRAK Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi kinerja pertumbuhan dan kualitas daging ikan patin siam Pangasianodon hypophthalmus yang diberi pakan komersial dengan kandungan protein berbeda. Ikan patin yang digunakan dengan bobot awal 33,61 g ditebar sebanyak 30 ekor/hapa ukuran 2×1×1 m3 dan ikan diberi pakan percobaan dua kali sehari secara at satiation selama 60 hari. Penelitian ini didesain dalam rancangan acak lengkap dengan empat perlakuan dan tiga ulangan. Pakan yang digunakan adalah pakan komersial dengan empat kandungan protein yang berbeda: pakan A (18%), pakan B (23%), pakan C (28%), dan pakan D (32%). Parameter uji pada penelitian ini adalah laju pertumbuhan spesifik (SGR), rasio konversi pakan (FCR), retensi protein (RP), retensi lemak (RL), indeks hepatosomatik (HSI), lemak dan glikogen hati, protein dan lemak daging, serta tekstur daging. Hasil penelitian menunjukan bahwa penambahan bobot tubuh, SGR tertinggi, FCR terendah, dan protein daging diperoleh pada perlakuan protein pakan 23%–32%. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa perlakuan protein pakan 23% memberikan kinerja pertumbuhan dan kualitas daging ikan terbaik. Kata kunci: kinerja pertumbuhan, kualitas daging, pakan komersial, Pangasianodon hypophthalmus
Induction of gonadal maturation of eel using PMSG, antidopamine, and estradiol-17β Tomasoa, Aprelia Martina; Sudrajat, Agus Oman; Junior, Muhammad Zairin
Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 14 No. 2 (2015): Jurnal Akuakultur Indonesia
Publisher : Indonesian Society of Scientific Aquaculture (ISSA)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (3322.047 KB) | DOI: 10.19027/jai.14.112-121

Abstract

ABSTRACT The study was aimed to induce gonadal maturation of eel Anguilla bicolor bicolor by hormonal treatment using pregnant mare serum gonadotropin (PMSG), antidopamine (AD), dan estradiol-17β (E2). The research used complete randomized design with five hormone combination treatments consisted of PK (NaCl 0.95%) as control, P10A (PMSG 10 IU + AD 10 ppm), P20A (PMSG 20 IU + AD 10 ppm), P10BE (PMSG 10 IU + AD 10 ppm + E2 150 µg), and P20BE (PMSG 20 IU + AD 10 ppm + E2 150 µg), with three individual replications for each treatment. Hormonal induction was applied through intramuscular injection weekly during eight weeks at initial body weight of 200 g. The result showed that P10BE treatment has obtained highest level on E2 (0.43 ng/mL), FSH (2.68 mIU/mL) has increased in week-4 and level on T (1.2 ng/mL), LH (2.80 mIU/mL) has increased in week-8. P10BE has affected spermatogenesis and the increased of GSI (2.46%) in fourth and sixth week compared to PK (1.28%), P10A (1.58%), P20A (1.34%), and P20BE (2.12%). In conclusion, combination of PMSG, AD, and E2 hormones could stimulate the gonadal maturation of eel at the size of 200 g into male. Keywords: Anguilla bicolor bicolor, gonadal growth, hormone, maturation  ABSTRAK Penelitian ini dilakukan untuk menginduksi pematangan gonad ikan sidat Anguilla bicolor bicolor secara hormonal dengan menggunakan pregnant mare serum gonadothropin (PMSG), antidopamin (AD), dan estradiol-17β (E2). Metode penelitian ini menggunakan metode eksperimen rancangan acak lengkap dengan lima perlakuan kombinasi hormon, yaitu PK (larutan NaCl 0,95%) sebagai kontrol, P10A (PMSG 10 IU + AD 10 ppm), P20A (PMSG 20 IU + AD 10 ppm), P10BE (PMSG 10 IU + AD 10 ppm + E2 150 µg), dan P20BE (PMSG 10 IU+AD 10 ppm+E2 150 µg), dengan tiga ulangan individu pada masing-masing perlakuan. Induksi hormonal dilakukan dengan metode penyutikan secara intramuskuler setiap minggu selama delapan minggu dengan bobot ikan yang berukuran 200 g. Hasil penelitian menunjukkan bahwa analisis hormon pada perlakuan P10BE memberikan nilai tertinggi masing-masing; kadar E2 (0,43 ng/mL), kadar FSH (2,68 mIU/mL) meningkat di minggu keempat dan kadar T (1,2 ng/mL), kadar LH (2,80 mIU/mL) mengalami peningkatan pada minggu kedelapan. P10BE memberikan efek pada spermatogenesis dan peningkatan nilai GSI (2,46%) pada minggu keempat sampai keenam selama penyuntikkan dibandingkan dengan PK (1,28%), P10A (1,58%), P20A (1,34%) dan P20BE (2,12%). Dengan demikian, kombinasi hormon PMSG, AD, dan E2 dapat merangsang perkembangan dan mempercepat pematangan gonad ikan sidat ukuran 200 g menjadi jantan. Kata kunci: Anguilla bicolor bicolor, pertumbuhan gonad, hormon, maturasi
Sperm quality of Litopenaeus vannamei broostock injected by PMSG and antidopamin Akbar, Fahmi; Sudrajat, Agus Oman; Subaidah, Siti
Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 14 No. 2 (2015): Jurnal Akuakultur Indonesia
Publisher : Indonesian Society of Scientific Aquaculture (ISSA)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (3012.74 KB) | DOI: 10.19027/jai.14.98-103

Abstract

ABSTRACT The important role in determining the productivity of shrimp was the quality and quantity of shrimp sperm. The decreasing of hatching rate was predicted as the effect of the decreasing quality of sperm. It then could  influence  the number and quality of naupli produced. Hormonal induction of maturation is one of alternative solution that can improve shrimp sperm quality. This study was conducted to examine the effect of pregnant mare serum gonadotropin (PMSG) and antidopamine (AD) injection on white shrimp Litopenaeus vannamei sperm quality. This research consisted of six treatments which were treatment without eyestalk ablation, eyestalk ablation, and premix PMSG hormone, and AD at the dose  of 0.1 mL/kg, 0.25 mL/kg, 0.5 mL/kg, and 1 mL/kg. The observed parameters were sperm count and percentage of normal and abnormal sperm. The results showed that PMSG hormone and AD injection could improve sperm quality of L. vannamei shrimp. Hormone at the dose of 0.25 mL/kg and 0.5 mL/kg were the optimal doses to increase sperm count and the percentage of normal sperm, also to lower the percentage of abnormal sperm. Keyword: PMSG, AD, sperm quality, Litopenaeus vannamei  ABSTRAK Kuantitas dan kualitas sperma udang jantan sangat berperan penting dalam menentukan produktivitas udang. Terjadinya penurunan daya tetas telur udang diduga karena terjadinya penurunan kualitas sperma. Hal ini berpengaruh terhadap jumlah dan kualitas nauplius yang diproduksi. Induksi maturasi secara hormonal merupakan salah satu alternatif yang dapat meningkatkan kualitas sperma udang. Penelitian ini dilakukan untuk mengkaji pengaruh penyuntikan pregnant mare serum gonadotropin (PMSG) dan antidopamin (AD) terhadap kualitas sperma udang vaname Litopenaeus vannamei. Penelitian terdiri atas enam perlakuan, yaitu perlakuan tanpa ablasi mata, ablasi mata, dan injeksi dengan premix hormon PMSG dan AD dosis 0,1 mL/kg, 0,25 mL/kg, 0,5 mL/kg, dan 1 mL/kg. Parameter yang diamati jumlah sperma, persentase sperma normal dan abnormal. Hasil penelitian menunjukkan penyuntikan hormon PMSG dan AD dapat meningkatkan kualitas sperma udang L. vannamei. Hormon dosis 0,25 mL/kg dan 0,5 mL/kg merupakan dosis optimal dalam meningkatkan jumlah sperma dan persentase sperma normal, serta mengurangi persentase sperma abnormal. Kata kunci: PMSG, AD, kualitas sperma, Litopenaeus vannamei 
The effectiveness of Lemna perpusilla as phytoremediation agent in giant gourami culture media on 3 ppt Marda, Alexander Burhani; Nirmala, Kukuh; Harris, Enang; Supriyono, Eddy
Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 14 No. 2 (2015): Jurnal Akuakultur Indonesia
Publisher : Indonesian Society of Scientific Aquaculture (ISSA)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (3077.813 KB) | DOI: 10.19027/jai.14.122-127

Abstract

ABSTRACT The wasted from feed and feces containt nitrogen and phosphorus can decreased fertility and feability water quality. Lemna perpusilla (duckweed) is prospective to use as an agent of phytoremediation of organic waste and can used as animal feed because it has high protein content. Meanwhile water salinity could be accelerate the growth of giant gourami. The aim of this research was to analyze the ability of L. perpusilla in absorbing nutrients nitrogen and phosphorus in water salinity of 3 ppt. The research was conducted four treatments and three replications. The treatments were A (L. perpusilla and 3 ppt salinity), B (L. perpusilla, 3 ppt salinity and filter), C (L. perpusilla, 3 ppt salinity and aeration), and D (L. perpusilla, 3 ppt salinity, filter and aeration). Experiment were carried in aquaria 50×33×50 cm3 in size with density of gourami fish 150/49.5 L for one month. The results showed that the ability of L. perpusilla to absorb N and P decreased from the beginning of the study due to lack of nutrient source of N and P in the aquaculture media, but increased because the impact of the feeding and  metabolism of the gourami. There was no different treatment effect for decreased N and P (P> 0.05). The highest nitrite level was found in D treatment, it means that L. perpusilla not be able to absorb  N and P in the media 3 ppt salinity. However, the addition of 3 ppt salinity gives the best results for the survival rate and feed efficiency ratio. Keywords: phytoremediation, Lemna perpusilla, giant gourami fish, nitrogen and phosphorus  ABSTRAK Limbah pakan dan feses yang mengandung nitrogen dan fosfor dapat menyebabkan penurunan kesuburan dan kelayakan kualitas air. Lemna perpusilla (duckweed) baik digunakan sebagai agen fitoremediasi organik untuk limbah dan dapat digunakan sebagai pakan hewan karena mengandung protein yang tinggi, sementara media bersalinitas mampu mempercepat pertumbuhan ikan gurami. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk menganalisis kemampuan L. perpusilla dalam mengabsorbsi nutrisi nitrogen dan fosfor pada air bersalinitas 3 ppt. Penelitian ini terdiri atas lima perlakuan dan tiga ulangan. Perlakuan yang diberikan adalah A (L. perpusilla dan salinitas 3 ppt), B (L. perpusilla, salinitas 3 ppt dan filter), C (L. perpusilla, salinitas 3 ppt dan aerasi), dan D (L. perpusilla, salinitas 3 ppt, aerasi dan filter). Akuarium yang digunakan berukuran 50×33×50 cm3 dengan kepadatan ikan gurami 150 ekor/49,5 L dan waktu pemeliharaan selama satu bulan. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa kemampuan L. perpusilla menyerap limbah N dan P berkurang dari awal penelitian karena kurangnya sumber nutrisi N dan P pada media pemeliharaan, namun beranjak meningkat yang berdampak dari adanya pemberian pakan dan sisa metabolisme dari ikan gurame. Tidak ada perlakuan yang berpengaruh terhadap pengurangan N dan P (P>0,05). Nilai nitrit tertinggi terdapat pada perlakuan D, hal ini berarti bahwa L. perpusilla tidak mampu untuk menyerap limbah N dan P pada media bersalinitas 3 ppt. Namun penambahan salinitas 3 ppt memberikan hasil yang terbaik bagi derajat kelangsungan hidup ikan gurami dan efisiensi pakan. Kata kunci: fitoremediasi, Lemna perpusilla, ikan gurami, nitrogen dan fosfor 
Sex reversal of red tilapia using 17α-methyltestosterone-enriched feed and increased temperature Ayuningtyas, Safira Qisthina; Junior, Muhammad Zairin; Soelistyowati, Dinar Tri
Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 14 No. 2 (2015): Jurnal Akuakultur Indonesia
Publisher : Indonesian Society of Scientific Aquaculture (ISSA)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (3043 KB) | DOI: 10.19027/jai.14.159-163

Abstract

ABSTRACT The growth rate between male and female red tilapia Oreochromis sp. is different. Generally, the male red tilapia grows faster than the female. Furthermore, the maturation process of red tilapia is relatively fast which causes slower growth rate. One of solutions to this problem is by rearing all male population or mono-sex culture. The method used in this study was commercial feed enrichment with 17α-methyltestosterone at different dosages and water temperature manipulation. The purpose of this research was to examine the effects of commercial feed enrichment with different dosages of 17α-methyltestosterone and water temperature manipulation on success rate of sex reversal of red tilapia into all male population. This research consisted of different temperature treatments (with and without water heating) and 17α- methyltestosterone dosages (0, 10, 20 mg/kg of commercial feed). The best dosage of 17α-methyltestosterone was 20 mg/kg of commercial feed with male to female sex ratio of 86.31%, daily growth rate of 8.18%, and feed conversion ratio of 1.53. In this study, the best treatment to produce the male seeds was the 17α-methyltestosterone treatment. Keywords: 17α-methyltestosterone, sex reversal, red tilapia, temperature  ABSTRAK Ikan nila merah Oreochromis sp. memiliki laju pertumbuhan yang berbeda antara ikan jantan dan betina. Umumnya ikan nila merah jantan lebih cepat tumbuh dibandingkan betinanya. Selain itu, ikan nila memiliki sifat cepat matang gonad dan mudah memijah sehingga akan menghambat pertumbuhan ikan. Salah satu cara untuk mengurangi masalah yang terjadi yakni dengan memelihara populasi ikan nila merah tunggal kelamin atau monoseks jantan. Metode yang dilakukan adalah pemberian hormon 17α-metiltestosteron dengan dosis berbeda melalui pakan buatan dan peningkatan suhu air. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh dosis hormon 17α-metiltestosteron melalui pakan buatan dan peningkatan suhu air terhadap keberhasilan alih kelamin jantan pada ikan nila merah. Penelitian ini terdiri atas perlakuan suhu (dengan dan tanpa pemanasan air) dan dosis 17α-metiltestosteron (0, 10, 20 mg/kg pakan). Dosis hormon 17α-metiltestosteron terbaik yang didapatkan adalah 20 mg/kg pakan dengan nisbah kelamin jantan 86,31%, laju pertumbuhan harian 8,18%, dan rasio konversi pakan 1,53. Pada penelitian ini perlakuan terbaik untuk menghasilkan benih jantan adalah perlakuan dosis 17α-metiltestosteron. Kata kunci: 17α-metiltestosteron, alih kelamin, ikan nila merah, suhu
The growth of eel fed with different protein level and protein-energy ratio Nawir, Fitria; Utomo, Nur Bambang Priyo; Budiardi, Tatag
Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 14 No. 2 (2015): Jurnal Akuakultur Indonesia
Publisher : Indonesian Society of Scientific Aquaculture (ISSA)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (3028.834 KB) | DOI: 10.19027/jai.14.128-134

Abstract

ABSTRACT The study was aimed to determine the optimum dietary protein level and energy protein ratio which can optimize growth performance of the eel A. bicolor bicolor on nursery phase.  Four treatments and three replications were applied in this study. The treatments were  P1, containing 37.66% protein with energy protein ratio 14.75 kcal GE/g (37.66%; 14.75 kcal GE/g), treatment P2 (41.30%; 13.51 kcal GE/g), treatment P3 (45.38%; 12.27 kcal GE/g), and treatment P4 (49.60%; 11.31 kcal GE/g). Eels used for this study were 6.5±0.3 g in average body weight. Eels were reared in a series of aquaria with dimension 90×40×40 cm3 and filled with 100 L of fresh water. Total weight of eel stocked in aquarium were 400 g. Eels were fed until satiated  twice a day at 8 am and 4 pm for 60 days. The result showed  that different protein level and energy protein ratio was significantly affected  growth performance (feed consumption, specific growth rate, feed efficiency, protein retention, and lipid retention), protein and fat of whole body eels at confident limit of 5%. In contrary, there was no significant different on the survival rate, hepatosomatic index, ash content, and nitrogen free extract of the body eel. The optimal growth performance was reached by dietary protein level and energy protein ratio of 45.38%; 12.27 kcal GE/g and 49.60%; 11.31 kcal GE/g. Keywords: Anguilla bicolor bicolor, energy protein ratio, feed, growth performance, protein  ABSTRAK Penelitian ini bertujuan menentukan kadar protein dan rasio energi protein optimum yang dapat meningkatkan kinerja pertumbuhan ikan sidat A. bicolor bicolor fase pendederan. Empat macam perlakuan dan tiga ulangan digunakan dalam penelitian ini. Perlakuan tersebut adalah P1 yang mengandung protein 37,66%; dengan rasio energi protein 14,75 kkal GE/g (37,66%; 14,75 kkal GE/g), perlakuan P2 (41,30%; 13,51 kkal GE/g), perlakuan P3 (45,38%; 12,27 kkal GE/g) dan perlakuan P4 (49,60%; 11,31 kkal GE/g). Bobot rata-rata ikan sidat yang digunakan adalah 6,5±0,3 g. Ikan sidat dipelihara dalam akuarium berukuran 90×40×40 cm3 dengan volume air 100 L. Total bobot ikan yang digunakan dalam setiap akuarium adalah 400 g. Ikan sidat diberi pakan sekenyangnya dengan frekuensi dua kali sehari yaitu pukul 08.00 dan pukul 16.00 WIB selama 60 hari. Hasil menunjukkan bahwa pemberian kadar protein dan rasio energi protein pakan berbeda, memberikan pengaruh nyata (P<0,05) terhadap kinerja pertumbuhan (jumlah konsumsi pakan, laju pertumbuhan spesifik, efisiensi pakan, retensi protein, retensi lemak), protein tubuh dan lemak tubuh, tetapi tidak berpengaruh nyata (P>0,05) terhadap tingkat kelangsungan hidup, indeks hepatosomatik, kadar abu, dan bahan ekstrak tanpa nitrogen (BETN) tubuh ikan sidat. Kinerja pertumbuhan optimal dicapai oleh kadar protein dan rasio energi protein pakan 45,38%; 12,27 kkal GE/g dan 49,60%; 11,31 kkal GE/g.  Kata kunci: Anguilla bicolor bicolor, kinerja pertumbuhan, pakan, protein, rasio energi protein 
Induced maturation of eel weighed 100–150 gram with PMSG, antidopamine, and 17α-methyltestosterone Aryani, Nadia Mega; Sudrajat, Agus Oman; Carman, Odang
Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 14 No. 2 (2015): Jurnal Akuakultur Indonesia
Publisher : Indonesian Society of Scientific Aquaculture (ISSA)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (4500.348 KB) | DOI: 10.19027/jai.14.135-143

Abstract

ABSTRACT Marketed eel Anguilla bicolor bicolor is commonly produced from larvae rearing activity whose broodstocks and larvae are caught from the nature. Supply of eel broodstock is restricted by its life cycle and uncertain size variation of mature male and female. This study was aimed to evaluate the effect of hormonal induction through injection to enhance masculinization and gonadal maturation of eel at the weight of 100–150 g. The experiment used completely random design with the use of combination pregnant mare serum gonadotropin  (PMSG), antidopamine (AD), dan 17α-methyltestosterone (MT), which were (10 IU/kg PMSG + 0,01 mg/kg AD), P2 (20 IU/kg PMSG + 0,01 mg/kg AD), P3 (10 IU/kg PMSG + 0,01 mg/kg AD + 150 µg/kg MT), P4 (20 IU/kg PMSG + 0,01 mg/kg AD + 150 µg/kg MT), and P5 (control; without hormonal treatment). The result showed that an increasing of fish length along with fish weight were performed by treatment P4 and P3. The highest gonadosomatic index value was obtained by treatment P3 (1,3030±0,24262). Based on gonadal histology analysis, 2nd phase of spermatogonia development was found in P3 in week-8. The highest testosterone level was obtained by treatment P3, followed by P4, P2, and P1 in week-4. Combination of 10 IU/kg PMSG + 0,01 mg/kg AD + 150 µg/kg MT could enhance masculinization and gonadal maturation of eel in eight weeks of rearing period. Keywords: gonadal maturation, Anguilla bicolor bicolor, PMSG, AD, MT  ABSTRAK Ikan sidat Anguilla bicolor bicolor yang dipasarkan pada umumnya merupakan hasil usaha pembesaran yang benih dan induknya masih diperoleh dari alam. Penyediaan induk ikan sidat terkendala dengan siklus hidup dan variasi perbedaan ukuran induk ikan sidat jantan dan betina matang gonad yang belum pasti. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji peran induksi hormonal yang disuntikkan pada ikan sidat dalam mempercepat proses pematangan gonad ikan sidat ukuran 100–150 g. Metode penelitian yang digunakan adalah metode eksperimen rancangan acak lengkap dengan kombinasi pregnant mare serum gonadotropin (PMSG), antidopamin (AD), dan  17α-metiltestosteron (MT) sebagai berikut P1 (10 IU/kg PMSG + 0,01 mg/kg AD), P2 (20 IU/kg PMSG + 0,01 mg/kg AD), P3 (10 IU/kg PMSG + 0,01 mg/kg AD + 150 µg/kg MT), P4 (20 IU/kg PMSG + 0,01 mg/kg AD + 150 µg/kg MT), dan P5 (kontrol; tanpa perlakuan hormon). Hasil penelitian menunjukkan peningkatan pertambahan panjang seiring dengan pertambahan bobot diperoleh dari perlakuan P4 dan P3. Indeks gonadosomatik tertinggi diperoleh dari perlakuan P3 (1,3030±0,24262). Hasil histologi gonad ditemukan perkembangan spermatogonia fase 2 pada P3 di minggu kedelapan. Konsentrasi testosteron tertinggi didapat dari perlakuan P3 kemudian diikuti P4, P2, dan P1 pada minggu keempat. Kombinasi hormon 10 IU/kg PMSG + 0,01 mg/kg AD + 150 µg/kg MT dapat mempercepat pematangan gonad dan pertumbuhan pada ikan sidat selama delapan minggu pemeliharaan. Kata kunci: pematangan gonad, Anguilla bicolor bicolor, PMSG, AD, MT 

Filter by Year

2002 2025


Filter By Issues
All Issue Vol. 24 No. 2 (2025): Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 24 No. 1 (2025): Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 23 No. 2 (2024): Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 23 No. 1 (2024): Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 22 No. 2 (2023): Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 22 No. 1 (2023): Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 21 No. 2 (2022): Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 21 No. 1 (2022): Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 20 No. 2 (2021): Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 20 No. 1 (2021): Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 19 No. 2 (2020): Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 19 No. 1 (2020): Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 18 No. 2 (2019): Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 18 No. 1 (2019): Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 17 No. 2 (2018): Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 17 No. 1 (2018): Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 16 No. 2 (2017): Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 16 No. 1 (2017): Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 15 No. 2 (2016): Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 15 No. 1 (2016): Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 14 No. 2 (2015): Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 14 No. 1 (2015): Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 13 No. 2 (2014): Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 13 No. 1 (2014): Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 12 No. 2 (2013): Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 12 No. 1 (2013): Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 11 No. 2 (2012): Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 11 No. 1 (2012): Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 10 No. 2 (2011): Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 10 No. 1 (2011): Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 9 No. 2 (2010): Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 9 No. 1 (2010): Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 8 No. 2 (2009): Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 8 No. 1 (2009): Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 7 No. 2 (2008): Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 7 No. 1 (2008): Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 6 No. 2 (2007): Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 6 No. 1 (2007): Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 5 No. 2 (2006): Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 5 No. 1 (2006): Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 4 No. 2 (2005): Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 4 No. 1 (2005): Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 3 No. 3 (2004): Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 3 No. 2 (2004): Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 3 No. 1 (2004): Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 2 No. 2 (2003): Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 2 No. 1 (2003): Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 1 No. 3 (2002): Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 1 No. 2 (2002): Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 1 No. 1 (2002): Jurnal Akuakultur Indonesia More Issue