cover
Contact Name
Apriana Vinasyiam
Contact Email
akuakultur.indonesia@gmail.com
Phone
-
Journal Mail Official
akuakultur.indonesia@gmail.com
Editorial Address
-
Location
Kota bogor,
Jawa barat
INDONESIA
Jurnal Akuakultur Indonesia
ISSN : 14125269     EISSN : 23546700     DOI : -
Core Subject : Agriculture,
Jurnal Akuakultur Indonesia (JAI) merupakan salah satu sarana penyebarluasan informasi hasil-hasil penelitian serta kemajuan iptek dalam bidang akuakultur yang dikelola oleh Departemen Budidaya Perairan, FPIK–IPB. Sejak tahun 2005 penerbitan jurnal dilakukan 2 kali per tahun setiap bulan Januari dan Juli. Jumlah naskah yang diterbitkan per tahun relatif konsisten yaitu 23–30 naskah per tahun atau minimal 200 halaman.
Arjuna Subject : -
Articles 569 Documents
Increasing of C/N ratio with addition of tapioca starch in Oligochaetes culture substrate Hadiroseyani, Yani; Puspitasari, Ardina; Budiardi, Tatag
Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 14 No. 2 (2015): Jurnal Akuakultur Indonesia
Publisher : Indonesian Society of Scientific Aquaculture (ISSA)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (3043.447 KB) | DOI: 10.19027/jai.14.144-150

Abstract

ABSTRACT This study was aimed to improve the productivity of sludge worm (Oligochaetes) in culture systems using the addition of tapioca flour to the substrate to increase C/N ratio up to 10, 20, and 30. The substrate used was a mixture of mud and chicken manure with a ratio of 1:1 on the container measuring 100×12×15 cm3. Culture system used was a recirculation system. Initial stock of the worm was at density 150 g/m2. Results showed the highest population and biomass of the worm in each treatments was occurred on tenth day. The highest density of sludge worm, i.e. 421,145 ind/m2 with total biomass of 1,497.80 g/m2, was obtained on the treatment of C/N ratio at 20 (P <0.05). Keywords: Oligochaetes, C/N ratio, tapioca starch, recirculation system  ABSTRAK Penelitian ini bertujuan untuk meningkatkan produktivitas cacing sutra (Oligochaeta) pada sistem budidaya dengan memperbaiki kualitas substrat cacing menggunakan penambahan tepung tapioka sehingga mencapai rasio C/N 10, 20, dan 30. Substrat yang digunakan yaitu campuran lumpur tanah dan kotoran ayam dengan perbandingan 1:1 pada wadah budidaya berukuran 100×12×15 cm3. Sistem budidaya yang digunakan yaitu sistem resirkulasi. Cacing dibudidayakan pada padat penebaran 150 g/m2. Hasil menunjukkan puncak populasi dan biomassa cacing sutra terjadi pada hari kesepuluh. Kepadatan cacing tertinggi, yaitu 421.145 ind/m2 dengan biomassa 1.497,80 g/m2, diperoleh pada perlakuan penambahan tepung tapioka dengan C/N rasio 20 (P<0,05). Kata kunci: cacing sutra, rasio C/N, tepung tapioka, sistem resirkulasi
Effectivity of Musa paradisiaca extract to control Saprolegnia sp. infection on giant gourami larvae Nuryati, Sri; Aulia, Nadia; Rahman, ,
Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 14 No. 2 (2015): Jurnal Akuakultur Indonesia
Publisher : Indonesian Society of Scientific Aquaculture (ISSA)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (3125.19 KB) | DOI: 10.19027/jai.14.151-158

Abstract

ABSTRACT Larval stage of giant gourami is a critical period due to fungal infection, such as Saprolegnia sp. infection. There are some plants which have antiseptic compound like banana Musa paradisiaca. This research was aimed to examine the effectiveness of the banana stem extract M. paradisiaca to control Saprolegnia sp. infection on giant gurami larvae through immersion. Eight-day old gorami larvae (at the initial of 0.5±0.03 cm) was reared in an aquarium sized 25×25×25 cm3 at the density of 8 fry/L. Culture media were added banana stem extract at the dose of 0; 0.08; 0.12; and 0.16 g/L during 21 days of rearing period. Challenge test was performed for 14 days by giving Saprolegnia sp. spores at the density of 104 cells/mL and banana stem extract. The treatment dose of 0.16 g/L has showen survival 100% than positive control  after the challenge test. Keywords: giant gourami, Musa paradisiaca, Saprolegnia sp., fry  ABSTRAK Fase larva ikan gurami merupakan masa kritis terhadap infeksi cendawan, seperti jenis Saprolegnia sp. Beberapa tanaman memiliki daya antiseptik seperti tanaman pisang ambon Musa paradisiaca. Penelitian ini bertujuan untuk menguji efektivitas ekstrak batang pisang ambon M. paradisiaca dalam mengurangi infeksi Saprolegnia sp. pada larva ikan gurami melalui media pemeliharaan. Larva gurami umur delapan hari (panjang larva 0,5+0,03 cm) dipelihara pada akuarium berukuran 25×25×25 cm3 dengan padat tebar 8 ekor/L. Media pemeliharaan diberi ekstrak batang pisang ambon dosis 0; 0,08; 0,12; dan 0,16 g/L selama 21 hari. Uji tantang dilakukan selama 14 hari dengan pemberian spora Saprolegnia sp. kepadatan 104 sel/mL dan ekstrak batang pisang ambon. Perlakuan dosis 0,16 g/L memberikan kelangsungan hidup sebesar 100% yang lebih tinggi dibandingkan perlakuan kontrol positif setelah uji tantang. Kata kunci: giant gourami, Musa paradisiaca, Saprolegnia sp., larva
Production performance of indonesian eel Anguilla bicolor bicolor with the addition of calcium carbonate (CaCO3) in to the culture media Scabra, Andre Rachmat; Budiardi, Tatag; Djokosetiyanto, Daniel
Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 15 No. 1 (2016): Jurnal Akuakultur Indonesia
Publisher : Indonesian Society of Scientific Aquaculture (ISSA)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (3110.457 KB) | DOI: 10.19027/jai.15.1.7

Abstract

ABSTRACT This study aimed to determine effect of calcium carbonate (CaCO3) addition in to the culture media for the production performance (survival rate, biomass growth rate, food conversion ratio, and coefficient of diversity) of Indonesian eel Anguilla bicolor bicolor. The experimental designed CRD with four treatments (calcium carbonate addition with dose A, 0 mg/L; B, 50 mg/L;  C, 100 mg/L; and D, 150 mg/L) and three replications. The eel with body weight average of 10.3±0.16 g/individual cultured in aquariums (100×50×40 cm3) with 4 g/L of stocking densities. This study was conducted for 60 days, in which the eel were fed three times a day by at satiation method. The result of this study showed that treatment B with calcium carbonate addition of 50 mg/L in to the culture media was the best treatment for production performance (survival rate 99.1%; biomass growth rate 3.48 g/day; and food conversion ratio 3.5). It was also optimal to reduce the physiological responses of the eel, in which the oxygen consumption rate ie 0.36 mg O2/g/jam and osmotic work rate ie 0.22 mOsm/L H2O. For the coefficient of diversity, the best results occur in treatment D ie 23.3%. Water quality during the study are within the range of optimal maintenance of eels (temperature 29.8–31.73 °C; pH 7.4–8.1; dissolved oxygen 4.7–5.57 mg/L; nitrite 0.10–0.78 mg/L; and ammonia 0.0008–0.0281 mg/L). Keyword : Anguilla bicolor bicolor, calcium carbonate, Indonesian eel, production performance  ABSTRAK Penelitian ini bertujuan mengkaji pengaruh penambahan kalsium karbonat (CaCO3) pada media budidaya terhadap kinerja produksi (derajat kelangsungan hidup, laju pertumbuhan mutlak biomassa, rasio konversi pakan, dan koefisien keragaman) ikan sidat Anguilla bicolor bicolor. Rancangan penelitian yang digunakan adalah RAL dengan empat pelakuan (penambahan CaCO3 dengan dosis A, 0 mg/L; B, 50 mg/L; C, 100 mg/L; dan D, 150 mg/L) dan tiga ulangan. Ikan sidat yang digunakan memiliki bobot rata-rata 10,3±0,16  g/ekor dengan padat tebar 4 g/L yang dipelihara pada wadah akuarium berukuran 100×50×40 cm3. Pemeliharaan ikan sidat dilaksanakan selama 60 hari dan diberikan pakan tiga kali sehari dengan metode at satiation. Hasil penelitian menunjukkan bahwa perlakuan B, yaitu penambahan CaCO3 dengan dosis 50 mg/L adalah perlakuan terbaik terhadap kinerja produksi ikan sidat (derajat kelangsungan hidup 99,1%; laju pertumbuhan mutlak biomassa 3,48 g/hari; dan rasio konversi pakan 3,5). Perlakuan B juga memberikan nilai yang optimal yang dapat menurunkan tingkat konsumsi oksigen (0,36 mg O2/g/jam) dan tingkat kerja osmotik (0,22 mOsm/L H2O). Untuk parameter koefisien keragaman, hasil terbaik terjadi pada perlakuan D sebesar 23,3%. Kualitas air selama penelitian berada dalam kisaran optimal pemeliharaan ikan sidat (suhu 29,8–31,73 oC; pH 7,4–8,1; oksigen terlarut 4,7–5,57 mg/L; nitrit 0,10–0,78 mg/L; dan amonia 0,0008–0,0281 mg/L). Kata kunci : Anguilla bicolor bicolor, ikan sidat, kalsium karbonat, kinerja produksi
Sexual dimorphism related to growth in climbing perch Anabas testudineus Hidayat, Rahmat; Carman, Odang; Alimuddin, ,
Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 15 No. 1 (2016): Jurnal Akuakultur Indonesia
Publisher : Indonesian Society of Scientific Aquaculture (ISSA)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (3170.908 KB) | DOI: 10.19027/jai.15.8-14

Abstract

 ABSTRCT The phenomenon that often occurs in climbing perch culture (Anabas testudineus, Bloch) is a significant size difference between individuals of male and female those lead to high variation in culture yields. In addition to genetic factors, the difference possibly reflects the sexual dimorphism in this fish; female grows faster than male. This research was conducted to examine sexual dimorphism related to growth quantitatively. Sixty individuals of 45-days old juvenile derived from mating of five pairs broods were randomly picked up and reared individually in 20×20×100 cm3 net cages for 135 days. Fish were fed on commercial feed (30% protein) three times a day at 10% feeding rate. Body weight and body length were individually recorded every 15 days, sex was determined at the end of the experiment by surgering the fish and gonad was weighed to calculate gonadosomatic index (GSI). The results showed that growth and specific growth rate of female were 1.17 and 1.48 fold respectively higher than male. This result indicates that female monosex culture of climbing perch is highly promising. Keyword: dimorphism, growth, climbing perch, Anabas testudineus  ABSTRAK Salah satu fenomena yang sering dijumpai dalam budidaya ikan papuyu (Anabas testudineus, Bloch) adalah perbedaan ukuran yang mencolok antara individu jantan dan betina yang menyebabkan hasil panen ikan sangat bervariasi. Selain faktor genetik, perbedaan ini diduga disebabkan oleh adanya dimorfisme seksual terkait pertumbuhan. Penelitian ini dilakukan untuk menguji dimorfisme seksual terkait dengan pertumbuhan ikan papuyu secara kuantitatif. Benih ikan umur 45 hari hasil pemijahan lima pasang induk diambil secara acak sebanyak 60 ekor dan dipelihara selama 135 hari secara individu di dalam 60 unit hapa (20×20×100 cm3). Ikan diberi pakan komersial (protein 30%) tiga kali sehari sebanyak 10% bobot tubuh. Bobot dan panjang semua ikan dicatat setiap 15 hari sekali, jenis kelamin ditentukan di akhir penelitian dengan cara membedah, mengamati gonad, dan menimbangnya untuk menentukan indeks gonadosomatik (IGS). Hasil penelitian membuktikan adanya dimorfisme seksual terkait pertumbuhan pada ikan papuyu; pertumbuhan bobot mutlak dan laju pertumbuhan bobot harian ikan betina masing-masing 1,48 kali dan 1,17 kali lebih tinggi dibandingkan dengan ikan jantan. Hasil penelitian ini mengindikasikan bahwa pengembangan budidaya ikan papuyu monoseks betina prospektif untuk dilakukan. Kata kunci: dimorfisme, pertumbuhan, papuyu, Anabas testudineus 
Digestive enzymes activities in Oreochromis niloticus fed diet supplemented with recombinant growth hormone Vinasyiam, Apriana; Suprayudi, Muhammad Agus; Alimuddin, ,
Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 15 No. 1 (2016): Jurnal Akuakultur Indonesia
Publisher : Indonesian Society of Scientific Aquaculture (ISSA)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (3186.108 KB) | DOI: 10.19027/jai.15.15-23

Abstract

ABSTRACT The specific activity of the digestive enzymes, namely: pepsin, amylase, lipase, trypsin, and chymotrypsin were studied in Nile tilapia Oreochromis niloticus fed diet supplemented with recombinant Ephinephelus lanceolatus growth hormone (rElGH). The results showed that fish treated with rE1GH showed lower lipase and chymotrypsin specific activities (P>0.05), while the trypsin/chymotrypsin specific activity (T/C ratio) was found higher compared to control fish. Moreover, higher protein digestibility, higher protein retention and a lower ammonia excretion rate were measured for rE1GH treated fish. Oral rElGH administration enhanced Nile tilapia growth up to 20.04%, without affecting survival. This study suggested that rapid growth performance induced by rElGH was linked with T/C ratio rather than the specific activity of other digestive enzymes. Keywords: recombinant growth hormone, digestive enzyme, digestibility, Oreochromis niloticus  ABSTRAK Aktivitas spesifik enzim pencernaan pepsin, amilase, lipase, tripsin, dan kemotripsin diamati pada ikan nila Oreochromis niloticus yang diberi pakan mengandung hormon pertumbuhan rekombinan ikan kerapu kertang Ephinephelus lanceolatus (rElGH)). Hasil menunjukkan bahwa ikan uji pada perlakuan rElGH memiliki aktivitas spesifik enzim lipase dan kemotripsin yang lebih rendah, sedangkan rasio tripsin/kemotripsin (rasio T/C) yang lebih tinggi dibandingan ikan kontrol. Kecernaan protein dan retensi protein bernilai lebih tinggi sementara laju ekskresi amonia bernilai lebih rendah pada ikan perlakuan. Pemberian rElGH secara oral mampu mempercepat laju pertumbuhan ikan nila hingga 20,04% tanpa memengaruhi kelangsungan hidup. Berdasarkan penelitian ini, dapat disimpulkan bahwa laju pertumbuhan cepat yang diinduksi oleh rElGH berhubungan dengan rasio T/C dibandingkan dengan aktivitas spesifik enzim pencernaan lain. Kata kunci: hormon pertumbuhan rekombinan, enzim pencernaan, kecernaan, Oreochromis niloticus 
Growth performance and antioxidant status of giant gourami given different levels of astaxanthin supplementation Sofian, ,; Jusadi, Dedi; Nuryati, Sri
Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 15 No. 1 (2016): Jurnal Akuakultur Indonesia
Publisher : Indonesian Society of Scientific Aquaculture (ISSA)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (3120.092 KB) | DOI: 10.19027/jai.15.24-31

Abstract

ABSTRACT As stocking density is known as a stress factor in fish. This study aimed to evaluate the effect of dietary astaxanthin supplementation on growth performance and antioxidant status in giant gourami under normal (100 fish/m3) and high (400 fish/m3) stocking density. Addition of astaxanthin in the feed was done by coating method. The experimental fish used were giant gourami with average body weight of 3.0±0.12 g. Fish were reared for 60 days in 100×50×50 cm3-sized-aquariums containing 150 L of water. Feed was given at satiation method twice a day at 09.00 and 17.00 pm.  Results showed that fish reared in high stocking density and fed on the diet supplemented with astaxanthin 100 mg/kg diet produced the best growth performance. Addition of astaxanthin did not affect the antioxidant activity of giant gourami. Keywords: giant gourami, astaxanthin, growth performance, antioxidant status  ABSTRAK Padat tebar tinggi merupakan salah satu faktor yang dapat menyebabkan stres pada ikan budidaya. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengevaluasi pengaruh penambahan astaxanthin melalui pakan terhadap kinerja pertumbuhan dan status antioksidan ikan gurami pada pemeliharaan kepadatan normal (100 ekor/m3) dan kepadatan tinggi (400 ekor/m3). Penambahan astaxanthin pada pakan dilakukan dengan metode pelapisan (coating). Ikan uji yang digunakan adalah benih ikan gurami berukuran bobot rata-rata 3,0±0,12 g. Ikan dipelihara selama 60 hari dalam akuarium berukuran 100×50×50 cm3 berisi air 150 L. Pakan diberikan secara at satiation dengan frekuensi pemberian pakan sebanyak dua kali sehari pada pukul 09.00 dan 17.00 WIB. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ikan yang dipelihara pada kepadatan tinggi dan diberi pakan dengan penambahan astaxanthin sebesar 100 mg/kg pakan menghasilkan kinerja pertumbuhan yang optimal. Penambahan astaxanthin sebesar 100 dan 200 mg/kg pakan tidak mempengaruhi status antioksidan pada ikan gurami. Kata kunci: ikan gurami, astaxanthin, pertumbuhan, status antioksidan 
Addition of CaCO3 to culture media at the salinity of 3 g/L for freshwater tambaqui growth Hastuti, Yuni Puji; Yudistira, Chandra; Nirmala, Kukuh; Nurusallam, Wildan; Faturochman, Kurnia
Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 15 No. 1 (2016): Jurnal Akuakultur Indonesia
Publisher : Indonesian Society of Scientific Aquaculture (ISSA)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (3290.803 KB) | DOI: 10.19027/jai.15.32-40

Abstract

ABSTRACT Increasing of freshwater tambaqui Colossoma macropomum demand makes the farmers increase the production of the consumption fish and seed. Acceleration of the production cycle can increase total production level, and reduce the level of osmotic work can be used to improve fish growth. This study aimed to analyze the effect of the addition of calcium carbonate (CaCO3) in the saline medium of 3 g/L on the growth of freshwater tambaqui juvenile. Tambaqui used has a body length of 1.93 ± 0.1 cm and weight of 0.26 ± 0.03 g. The experiment used 15 units of aquarium at size of 30×15×25 cm3 and filled with 9 L of saline water, then added lime CaCO3 according to treatment. The treatments were control (0 mg/L CaCO3), A (50 mg/L CaCO3), B (100 mg/L CaCO3), C (150 mg/L CaCO3), and D (200 mg/L CaCO3). The study was conducted for 30 days of maintenance. Fishes were fed on bloodworms ad libitum or provided three times a day. The results showed that survival, daily growth rate, and absolute length growth of the CaCO3 treatments significantly higher (P<0.05) that that of control.  Furthermore, survival, daily growth rate, and absolute length growth among the CaCO3 treatments were the same.  Thus, addition CaCO3 of 50 mg/L saline water of 3 g/L can be applied to increase culture performance of freshwater tambaqui. Keywords: freshwater tambaqui, CaCO3, salinity  ABSTRAK Permintaan terhadap ikan bawal air tawar Colossoma macropomum yang semakin meningkat membuat pembudidaya menambah produksi ikan konsumsi dan benih. Percepatan siklus produksi dapat meningkatkan total produksi budidaya, dan energi dari optimasi kerja osmotik dapat dialokasikan untuk pertumbuhan. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pengaruh penambahan kalsium karbonat (CaCO3) pada media bersalinitas terhadap pertumbuhan benih ikan bawal air tawar. Benih ikan bawal yang digunakan memiliki panjang 1,93±0,1 cm dengan bobot 0,26±0,03 g. Akuarium yang digunakan berukuran 30×15×25 cm3 sebanyak 15 unit dan diisi air bersalinitas 3 g/L sebanyak 9 L, kemudian ditambahkan kapur CaCO3 sesuai perlakuan. Dosis setiap perlakuan terdiri atas kontrol (0 mg/L CaCO3), A (50 mg/L CaCO3), B (100 mg/L CaCO3), C (150 mg/L CaCO3), dan D (200 mg/L CaCO3). Penelitian dilakukan selama 30 hari pemeliharaan dengan pemberian pakan cacing sutra secara ad libitum atau diberikan tiga kali sehari. Hasil penelitian menunjukkan bahwa derajat kelangsungan hidup, laju pertumbuhan harian, dan panjang mutlak pada perlakuan penambahan kapur CaCO3 lebih tinggi (P<0,05) daripada kontrol. Sementara itu, derajat kelangsungan hidup, laju pertumbuhan harian, dan panjang mutlak antarperlakuan penambahan kapur CaCO3 tidak berbeda. Dengan demikian, penambahan CaCO3 sebanyak 50 mg/L air dapat diterapkan untuk perbaikan performa budidaya ikan. Kata kunci: ikan bawal air tawar, CaCO3, salinitas
Immunity and growth of freshwater prawn fed with dietary β-glucan supplementation Ekasari, Julie; Napitupulu, Jhon Lamhot F.; Surawidjaja, Enang Harris
Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 15 No. 1 (2016): Jurnal Akuakultur Indonesia
Publisher : Indonesian Society of Scientific Aquaculture (ISSA)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (3173.699 KB) | DOI: 10.19027/jai.15.41-48

Abstract

ABSTRACT Freshwater prawn Macrobrachium rosenbergii is one of the most important aquaculture commodities in Indonesia. This study evaluated the effect of dietary β-glucan supplementation (0%, 0.075%, 0.15%, and 0.225%) on the immune parameters, survival, and growth of giant freshwater prawn. Prawn juvenile with an initial body weight of 1.25±0.041 g was randomly distributed into eight units of glass aquaria (150 L) with a density of 16 animals/aquarium. Phenoloxydase activity, total and differential haemocyte counts, survival, and specific growth rate of the prawn were measured and calculated on the final day of experiment (day 42). Phenoloxydase activity, total and differential haemocyte counts of β-glucan treatments were higher than control, whereas no significant difference was observed in survival. The highest specific growth rate was observed in the 0.15% β-glucan supplementation treatment with 1.92%/day. Keywords: phenoloxydase activity, haemocyte, β-glucan, specific growth rate, giant freshwater prawn  ABSTRAK Udang galah Macrobrachium rosenbergii merupakan salah satu komoditas akuakultur yang penting di Indonesia. Penelitian ini dilakukan untuk mengevaluasi pengaruh suplementasi pakan dengan β-glukan sebesar 0%, 0,075%, 0,15%, dan 0,225% terhadap parameter imunitas dan kinerja pertumbuhan udang galah. Juvenil udang dengan bobot tebar rata-rata 1,25±0,041 g ditebar secara acak pada delapan unit akuarium (150 L) dengan padat tebar 16 ekor/akuarium. Parameter yang diamati adalah aktivitas fenoloksidase (PO), jumlah dan diferensiasi hemosit, sintasan, dan laju pertumbuhan spesifik yang diukur dan dihitung setelah 42 hari masa pemeliharaan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa nilai aktivitas PO, total hemosit, dan diferensial hemosit pada udang yang diberi pakan dengan suplementasi β-glukan cenderung lebih tinggi dibandingkan dengan kontrol. Sintasan masing-masing perlakuan tidak berbeda nyata dengan perlakuan kontrol. Laju pertumbuhan spesifik tertinggi terdapat pada perlakuan β-glukan 0,15% sebesar 1,92%/hari. Kata kunci: aktivitas phenoloxydase, hemosit, β-glukan, udang galah, laju pertumbuhan spesifik
Spermatogenesis of male catfish Clarias sp. fed diet supplemeted with purwoceng extract Bertha, Poppy Dea; Junior, Muhammad Zairin; Soelistyowati, Dinar Tri
Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 15 No. 1 (2016): Jurnal Akuakultur Indonesia
Publisher : Indonesian Society of Scientific Aquaculture (ISSA)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (3085.523 KB) | DOI: 10.19027/jai.15.49-55

Abstract

ABSTRACT Purwoceng Pimpinella alpina Molk has been a commercial medicinal plant that their root could be used as aphrodisiac, diuretic, and body fit enhancer. This research was performed to evaluated the effect of purwoceng on spermatogenesis of the male catfish Clarias sp. consisted of testis weight, gonado somatic index (GSI), and spermatocrite levels. The treatment comprised administering purwoceng extract through the feed at a dose of 0; 2.5; 5; 7.5 g/kg of feed. Experimental fish used were male catfish Clarias sp. with initial body weight of 200–300 g at the density of 10 fish/tank. Male catfish were maintained in tank sized 2×1,5×1 m3, filled with water at 60–70 cm deep. The result showed that purwoceng extract at a dose of 5 g/kg mixed in the feed increased testis weight, GSI values, and spermatocrite levels in adult male catfish. Keywords: purwoceng extract, spermatogenesis, catfish  ABSTRAK Purwoceng Pimpinella alpina Molk merupakan tanaman herbal komersial yang akarnya dilaporkan berkhasiat sebagai obat afrodisiak, diuretik, dan tonik. Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi pengaruh ekstrak purwoceng terhadap perkembangan testis ikan lele Clarias sp. yang meliputi peningkatan bobot testis, nilai GSI, serta nilai spermatokrit. Perlakuan terdiri atas pemberian ekstrak purwoceng melalui pakan dengan dosis 0; 2,5; 5 dan 7,5 g/kg pakan. Adapun ikan yang diujicobakan pada penelitian adalah ikan lele jantan dengan bobot awal 200–300 g dan padat tebar 10 ekor/bak. Pemeliharaan ikan dilakukan pada bak berukuran 2×1,5×1 m3 yang diisi air dengan ketinggian  60–70 cm. Hasil percobaan menunjukkan bahwa pemberian ekstrak purwoceng dengan dosis 5 g/kg yang dicampur dalam pakan meningkatkan nilai bobot testis, nilai GSI dan kadar spermatokrit  pada lele jantan dewasa. Kata kunci: ekstrak purwoceng, spermatogenesis, ikan lele
Production performance of eel Anguilla bicolor bicolor with the addition of calsium carbonat Saputra, Ardyen; Budiardi, Tatag; Supriyono, Eddy
Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 15 No. 1 (2016): Jurnal Akuakultur Indonesia
Publisher : Indonesian Society of Scientific Aquaculture (ISSA)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (3114.46 KB) | DOI: 10.19027/jai.15.56-62

Abstract

ABSTRACT Eel have high enough prospects to cultivated. The sustainability of eel culture and overcome slowly growth arising in this cultivation was needed enough information on their biology at growth. One of the aspects that needs to be examined in an effort to increase the growth is the water quality of culture media. In addition to regulate salinity may also be convened by arranging levels of calcium and alkalinity. Calcium is an essential mineral essential required in considerable amount. The objective of the study was to determining the optimal media levels of calcium and alkalinity that can support the survival and growth of eel Anguilla bicolor bicolor and evaluate the role of calcium and alkalinity. The study was conducted with an experimental method with four treatments, the addition of dose CaCO3 on the culture media were (0, 50, 100, 150 mg/L) and repeated three times. Aquariums for fish maintenance were insulated form in the size of 100×50×40 cm3 and with recirculation system. Insulation serves to separate the filter and maintenance parts. The filter used as a physical, chemical, and biology filters. The parameters measured were the survival rate, growth rate on biomass, feed convertion ratio, oxygen consumption rate, and the employment rate of osmotic. The results of this study showed treatment with 50 mg/L calcium carbonate addition into the culture media was the best treatment for growth rate of 1.77 g/day and optimal feed convertion ratio of 2.27, oxygen comsumption rate of 0.41 mg O2/g/h and osmotic work rate of 0.269 mOsm/L H2O. Keywords: eel Anguilla bicolor bicolor, calcium, growth, resirculation  ABSTRAK Ikan sidat memiliki prospek yang cukup besar untuk dibudidayakan. Untuk menjaga usaha budidaya ikan sidat yang berkelanjutan dan mengatasi pertumbuhan yang lambat, maka diperlukan informasi yang memadai tentang aspek biologinya yakni pertumbuhan. Salah satu aspek yang perlu dikaji dalam upaya meningkatkan pertumbuhan tersebut adalah kualitas air media pemeliharaan. Selain dengan mengatur salinitas dapat juga dilakukan dengan mengatur kadar kalsium. Kalsium merupakan mineral esensial yang dibutuhkan dalam jumlah yang cukup banyak. Tujuan penelitian ini adalah untuk menentukan kadar kalsium karbonat yang dapat mendukung kelangsungan hidup dan pertumbuhan ikan sidat Anguilla bicolor bicolor. Penelitian ini dilakukan dengan metode eksperimental dengan 4 perlakuan yaitu penambahan CaCO3 dengan dosis (0, 50, 100, 150 mg/L) dan diulang sebanyak tiga kali. Wadah yang digunakan berupa akuarium bersekat berukuran 100×50×40 cm3 dengan sistem resirkulasi. Sekat berfungsi untuk memisahkan bagian filter dan bagian pemeliharaan. Filter yang digunakan adalah satu unit filter yang berfungsi sebagai filter fisik, kimia, dan biologi. Parameter yang diamati adalah tingkat kelangsungan hidup, laju pertumbuhan mutlak biomassa, konversi pakan, tingkat konsumsi oksigen dan tingkat kerja osmotik. Hasil penelitian menunjukkan bahwa media pemeliharaan ikan sidat dengan penambahan kalsium karbonat sejumlah 50 mg/L merupakan perlakuan terbaik yang dapat meningkatkan pertumbuhan bobot ikan sidat sebesar 1,77 g/hari serta meminimalkan konversi pakan yaitu 2,27, tingkat konsumsi oksigen sebesar 0,41 mg O2/g/jam dan tingkat kerja osmotik sebesar 0,269 mOsm/L H2O. Kata kunci: ikan sidat Anguilla bicolor bicolor, kalsium, pertumbuhan, resirkulasi 

Filter by Year

2002 2025


Filter By Issues
All Issue Vol. 24 No. 2 (2025): Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 24 No. 1 (2025): Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 23 No. 2 (2024): Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 23 No. 1 (2024): Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 22 No. 2 (2023): Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 22 No. 1 (2023): Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 21 No. 2 (2022): Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 21 No. 1 (2022): Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 20 No. 2 (2021): Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 20 No. 1 (2021): Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 19 No. 2 (2020): Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 19 No. 1 (2020): Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 18 No. 2 (2019): Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 18 No. 1 (2019): Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 17 No. 2 (2018): Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 17 No. 1 (2018): Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 16 No. 2 (2017): Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 16 No. 1 (2017): Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 15 No. 2 (2016): Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 15 No. 1 (2016): Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 14 No. 2 (2015): Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 14 No. 1 (2015): Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 13 No. 2 (2014): Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 13 No. 1 (2014): Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 12 No. 2 (2013): Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 12 No. 1 (2013): Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 11 No. 2 (2012): Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 11 No. 1 (2012): Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 10 No. 2 (2011): Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 10 No. 1 (2011): Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 9 No. 2 (2010): Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 9 No. 1 (2010): Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 8 No. 2 (2009): Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 8 No. 1 (2009): Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 7 No. 2 (2008): Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 7 No. 1 (2008): Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 6 No. 2 (2007): Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 6 No. 1 (2007): Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 5 No. 2 (2006): Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 5 No. 1 (2006): Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 4 No. 2 (2005): Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 4 No. 1 (2005): Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 3 No. 3 (2004): Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 3 No. 2 (2004): Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 3 No. 1 (2004): Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 2 No. 2 (2003): Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 2 No. 1 (2003): Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 1 No. 3 (2002): Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 1 No. 2 (2002): Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 1 No. 1 (2002): Jurnal Akuakultur Indonesia More Issue