cover
Contact Name
Apriana Vinasyiam
Contact Email
akuakultur.indonesia@gmail.com
Phone
-
Journal Mail Official
akuakultur.indonesia@gmail.com
Editorial Address
-
Location
Kota bogor,
Jawa barat
INDONESIA
Jurnal Akuakultur Indonesia
ISSN : 14125269     EISSN : 23546700     DOI : -
Core Subject : Agriculture,
Jurnal Akuakultur Indonesia (JAI) merupakan salah satu sarana penyebarluasan informasi hasil-hasil penelitian serta kemajuan iptek dalam bidang akuakultur yang dikelola oleh Departemen Budidaya Perairan, FPIK–IPB. Sejak tahun 2005 penerbitan jurnal dilakukan 2 kali per tahun setiap bulan Januari dan Juli. Jumlah naskah yang diterbitkan per tahun relatif konsisten yaitu 23–30 naskah per tahun atau minimal 200 halaman.
Arjuna Subject : -
Articles 569 Documents
Effect of electrical field on gonadal development of goldfish in saline media Nirmala, Kukuh; Habibie, Ahmad; Arfah, Harton
Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 14 No. 1 (2015): Jurnal Akuakultur Indonesia
Publisher : Indonesian Society of Scientific Aquaculture (ISSA)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (2938.394 KB) | DOI: 10.19027/jai.14.9-17

Abstract

ABSTRACT The aim of this study was to evaluate the effect of electric field exposure duration at the voltage of 10 volt on goldfish Carassius auratus auratus gonadal development maintained in 3 ppt salinity media. The experiment consisted of four treatments in triplicates i.e. control, two, four, and six minutes of electrical-field exposure. The experiment design used was completely randomized design. Fish used was female goldfish at the density of 4 fish/aquarium with an average total length of 12.27±0.05 cm and average body weight of 22.29±0.54 g. Result of study showed that the electrical-field exposure at 10 volt for all duration treatments in 3 ppt of media salinity did not give significant effect on gonadosomatic index (GSI) and gonadal development of goldfish. Keywords: electrical field, Carassius auratus auratus, gonad, salinity  ABSTRAK Tujuan penelitian ini adalah untuk mengevaluasi pengaruh lama waktu pemaparan medan listrik dengan voltase 10 volt terhadap perkembangan gonad ikan komet Carassius auratus auratus yang dipelihara pada media bersalinitas 3 ppt. Perlakuan pada penelitian ini terdiri atas empat perlakuan, yaitu: perlakuan kontrol, dua, empat, dan enam menit. Rancangan percobaan yang digunakan adalah rancangan acak lengkap dengan empat perlakuan dan tiga ulangan. Ikan uji yang digunakan adalah ikan komet betina. Jumlah ikan yang digunakan adalah 4 ekor/akuarium dengan panjang total rata-rata 12,27±0,05 cm dan bobot tubuh rata-rata 22,29±0,54 g. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pemberian medan listrik sebesar 10 volt dengan lama waktu pemaparan medan listrik pada semua perlakuan durasi di media pemeliharaan bersalinitas 3 ppt tidak memberikan pengaruh yang nyata terhadap parameter indeks gonadosomatik (GSI) dan perkembangan gonad ikan komet. Kata kunci: medan listrik, Carassius auratus auratus, gonad, salinitas
Glycogen and proximate content of white shrimp fed on different carbohydrate level and feeding frequency Zainuddin, ,; Haryati, ,; Aslamyah, Siti
Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 14 No. 1 (2015): Jurnal Akuakultur Indonesia
Publisher : Indonesian Society of Scientific Aquaculture (ISSA)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (2904.897 KB) | DOI: 10.19027/jai.14.18-23

Abstract

ABSTRACT White shrimp Litopenaeus vannamei is one of penaeid shrimp which can be cultured either in traditional and advanced technology scale. One problem that commonly faced by pond farmer is the high price of feed with high protein content. This research was to identify the optimal level of carbohydrate and feeding frequency on glycogen deposit and chemical composition of white shrimp juvenile. Research used factorial completely randomized design with two factors in triplicates. Treatments were factor A, carbohydrate level in feed respectively A1 (30%), A2 (37%), A3 (44%), A4 (50%), and factor B daily feeding frequency respectively B1 (twice), B2 (four times), and B3 (six times) respectively. White shrimp used had an initial average body weight of 0.3 g/shrimp. Feeding level was 10% of shrimp body weight. Results showed that both factors, carbohydrate level in feed, feeding frequency and their interactions were not significantly different on glycogen deposit of white shrimp juvenile. Analysis result on chemical compositions of white shrimp juvenile consisted of protein, lipid, nitrogen-free extract, crude fiber, ash, and energy were generally increased after treatments. Keywords: glycogen deposit, feeding frequency, chemical composition, carbohydrate level ABSTRAK Udang vaname Litopenaeus vannamei merupakan salah satu jenis udang penaeid yang dapat dibudidayakan baik dalam skala teknologi tradisional maupun skala teknologi maju. Salah satu masalah yang dihadapi para petani tambak adalah tingginya harga pakan yang disebabkan karena tingginya kandungan protein pakan. Penelitian ini bertujuan untuk menguji efek pemberian pakan dengan kadar karbohidrat dan frekuensi pemberian berbeda terhadap deposit glikogen dan komposisi kimia tubuh juvenil udang vanamei. Penelitian menggunakan desain rancangan acak lengkap pola faktorial dengan dua faktor dan setiap faktor diberi masing-masing tiga ulangan. Perlakuan yang diuji adalah faktor A, kadar karbohidrat pakan berturut-turut A1 (30%), A2 (37%), A3 (44%), A4 (50%), dan faktor B, frekuensi pemberian pakan dalam sehari berturut-turut B1 (dua kali), B2 (empat kali), dan B3 (enam kali). Udang vaname yang digunakan memiliki bobot rata-rata 0,3 g/individu. Dosis pakan ditetapkan sebesar 10% dari bobot tubuh udang dengan frekuensi pemberian pakan disesuaikan dengan perlakuan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa faktor level karbohidrat pakan, frekuensi pemberian pakan dan kombinasi keduanya tidak berpengaruh signifikan terhadap deposit glikogen juvenil udang vaname.  Hasil analisis terhadap komposisi kimia tubuh juvenil udang vaname meliputi protein, lemak, bahan ekstrak tanpa nitrogen (BETN), serat kasar, kadar abu dan energi secara umum mengalami peningkatan setelah diberikan perlakuan dibandingkan pada awal penelitian. Kata kunci: deposit glikogen, frekuensi pemberian pakan, komposisi kimia, level karbohidrat
The gonad growth of Anguilla bicolor bicolor induced by hormone combination of HCG, MT, E2, and antidopamine Zahri, Abdul; Sudrajat, Agus Oman; Junior, Muhammad Zairin
Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 14 No. 1 (2015): Jurnal Akuakultur Indonesia
Publisher : Indonesian Society of Scientific Aquaculture (ISSA)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (3413.137 KB) | DOI: 10.19027/jai.14.69-78

Abstract

ABSTRACT The aim of the study was to stimulate eel gonad growth by intramuscularly injection with a hormonal combination of human chorionic gonadotropin (hCG), methyltestosterone (T), estradiol (E2) and antidopamine (A) meanwhile 0.9% NaCl solution was used as control. Estradiol concentration in the blood serum were measured by enzyme-linked immunosorbent assay (ELISA). Stimulation with hCG 20 IU/kg in combination with MT 3 mg/kg and 10 μg/kg antidopamine (hTA treatment) very effective for increased the growth of gonads with indicators gonadosomatic index (GSI) of 4.80%, hepatosomatic index 1.01% and concentration of E2 2.49±0.67 ng/mL were significantly different (P<0.05) than others treatment after ten weeks of application. Key words: hormone, gonad growth, maturation, Indonesian short finned eel  ABSTRAK Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pertumbuhan gonad yang distimulasi oleh kombinasi human chorionic gonadotropin (hCG), metiltestosteron (MT), estradiol (E2) dan antidopamin (A). Ikan sidat disuntik dengan hormon dan 0,9% NaCl sebagai kontrol secara intramuskular. Pengukuran konsentrasi hormon E2 dalam serum darah dengan enzyme-linked immunosorbent assay (ELISA). Stimulasi dengan hCG 20 IU/kg dikombinasi dengan MT 3 mg/kg dan antidopamin 10 μg/kg (perlakuan hTA) sangat efektif untuk feminisasi dan meningkatkan pertumbuhan gonad dengan indikator indeks gonadosomatik (GSI) 4,80%, indeks hepatosomatik 1,01% dan konsentrasi E2 2,49±0,67 ng/mL, secara signifikan berbeda pada taraf P<0,05 dibandingkan perlakuan lain setelah sepuluh minggu aplikasi. Kata kunci: hormon, pertumbuhan gonad, maturasi, sidat
Evaluation of PMSG (Oodev®) application on hepatosomatic and gonadosomatic index of snakehead fish Hutagalung, Rizal Akbar; Widodo, Maheno Sri; Faqih, Abdul Rahem
Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 14 No. 1 (2015): Jurnal Akuakultur Indonesia
Publisher : Indonesian Society of Scientific Aquaculture (ISSA)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (2996.134 KB) | DOI: 10.19027/jai.14.24-29

Abstract

ABSTRACT Snakehead fish (Channa striata) is a freshwater fish commodities that have high economic value, while their needs depend on natural catching. In general, hormonal induction commonly used for the efficiency of female parent utilization and enhancement quality and quantity of fish fry. One of the hormones that can be used is pregnant mare serum gonadotropin (PMSG) and antidopamine with trademark Oodev®. These hormones contain many elements follicle stimulating hormone (FSH) which can trigger the early stages of gonad maturity. The purpose of this research was to determine the effectiveness of hormone PMSG on gonadosomatic index (GSI) and hepatosomatic index (HSI). The size of female fish was 30−40 cm, weighing of 500−700 g, adapted in the aquarium and then induced with different doses of PMSG, namely: treatment A dose: 0.75 mL/kg; B: 1.0 mL/kg; C: 1.25 mL/kg; D: 1.5 mL/kg and be repeated three times. Fishes were then reared up to 72 hours to determine the development of GSI and HSI. The results showed that the best treatment was at dose of 1.25 mL/kg with GSI and HSI values of 1.37% and 3.35%, respectively. Keywords: PMSG, GSI, HSI, snakehead fish  ABSTRAK Ikan gabus (Channa striata) merupakan salah satu komoditas air tawar yang mempunyai nilai ekonomi tinggi. Saat ini pemenuhan kebutuhan hanya bergantung pada hasil penangkapan dari alam. Pada umumnya cara pemijahan buatan dengan induksi hormon dilakukan untuk efisiensi penggunaan induk serta peningkatan kualitas dan kuantitas benih ikan. Salah satu hormon yang dapat digunakan adalah pregnant mare serum gonadotropin (PMSG) dan antidopamin dengan merk dagang Oodev®. Hormon-hormon tersebut banyak mengandung unsur follicle stimulating hormon (FSH) yang dapat memicu kematangan gonad tahap awal. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk menguji efektivitas hormon PMSG terhadap nilai indeks gonadosomatik (IGS) dan indeks hepatosomatik (IHS). Induk ikan gabus yang digunakan berukuran 30−40 cm dengan bobot 500–700 g, diaklimatisasikan di akuarium kemudian diinduksi hormon PMSG dengan perlakuan dosis A: 0,75 mL/kg; B: 1,0 mL/kg; C: 1,25 mL/kg; D: 1,5 mL/kg dan dilakukan pengulangan sebanyak tiga kali. Selanjutnya ditunggu hingga 72 jam untuk mengevaluasi perkembangan IGS dan IHS nya. Hasil penelitian menunjukkan bahwa perlakuan terbaik adalah dosis 1,25 ml/kg dengan nilai rata-rata IHS 1,37% dan IGS 3,35%, Kata kunci: PMSG, IGS, IHS, ikan gabus 
Combination of Tubifex and artificial diet for catfish Pangasianodon hypophthalmus larvae Jusadi, Dedi; Anggraini, Ria Septy; Suprayudi, Muhammad Agus
Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 14 No. 1 (2015): Jurnal Akuakultur Indonesia
Publisher : Indonesian Society of Scientific Aquaculture (ISSA)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (2926.874 KB) | DOI: 10.19027/jai.14.30-37

Abstract

ABSTRACT This research was conducted to evaluate the effect of different combination of feeding frequency of Tubifex (C) and artificial diet (P) on survival and growth rate of larval yellow tail catfish Pangasianodon hypophthalmus. Newly hatched larvae (d0) with total length of 0.44±0.04 cm were cultured for 14 days in 30×20×20 cm3 aquarium. Water volume in each aquarium was 9 L. At d5, larvae were fed on five different feeding frequencies either 6C+0PB, 5C+2PB, 3C+3PB, 2C+5PB, dan 0C+6PB. Feeding method used in this research was ad libitum. Results showed that survival and total length of d14 old larvae fed on 0C+6PB was lower than the groups fed on either 6C+0PB or three combinations of C+PB. Lipase activity tend to be increase in line with the increasing amount of artificial feed. On the other hand, larvae fed on 6C+0PB and 0C+6PB had the lowest protease activity. Therefore, larval catfish can be fed by combination of Tubifex and artificial feed. Keywords: artificial diet, lipase activity, protease activity, sludge worm, Pangasianodon hypophthalmus  ABSTRAK Penelitian ini mengevaluasi pengaruh perbedaan frekuensi pemberian pakan harian cacing sutra (C) dan pakan buatan (PB) terhadap sintasan dan pertumbuhan larva ikan patin Pangasianodon hypophthalmus. Larva ikan patin yang baru menetas berukuran 0,44±0,04 cm dipelihara dalam akuarium kaca berukuran 30×20×20 cm3 yang diisi air setinggi 15 cm selama 14 hari. Mulai dh5, larva diberi lima perlakuan frekuensi pemberian pakan, yaitu 6C+0PB, 5C+2PB, 3C+3PB, 2C+5PB, dan 0C+6PB. Pemberian pakan dilakukan secara ad libitum. Hasil penelitian menunjukkan bahwa larva yang diberi 6C+0PB dan kombinasi C+PB memiliki tingkat kelangsungan hidup dan panjang akhir yang tidak berbeda nyata. Namun larva yang diberi 0C+6PB, menghasilkan tingkat kelangsungan hidup dan panjang akhirnya terendah. Semakin banyak porsi sering frekuensi pemberian PB yang diberikan menunjukkan tren aktivitas lipase yang cenderung meningkat. Tetapi pada aktivitas protease pada pemberian 6C+0PB dan 0C+6PB lebih rendah dari ketiga perlakuan kombinasi C+PB. Dengan demikian, larva ikan patin dapat dibudidaya dengan menggunakan kombinasi cacing sutra dan pakan buatan. Kata kunci: pakan buatan, aktivitas lipase, aktivitas protease, cacing sutra, Pangasianodon hypophthalmus
Growth of off-flavours-caused phytoplankton in milkfish culture fertilized with different N:P Azis, Rahmadi; Affandi, Ridwan; Nirmala, Kukuh; Prihadi, Triheru
Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 14 No. 1 (2015): Jurnal Akuakultur Indonesia
Publisher : Indonesian Society of Scientific Aquaculture (ISSA)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (3018.594 KB) | DOI: 10.19027/jai.14.58-68

Abstract

ABSTRACT Milkfish culture in ponds currently use inorganic fertilizers for growing phytoplankton. Giving of urea and SP (superphosphate) too much in the pond environment will cause eutrophication and often cause fish smell of mud (off-flavours). Off-flavours in fish is caused by two chemical compounds those are geosmin and 2-methylisoborneol (MIB). Research was performed to evaluate the growth of off-flavours-caused phytoplankton in milkfish culture fertilized by different N:P. This study used nine ponds. Ponds are used for fish rearing area of 600 m2. Fish reared in ponds at the density of 1 fish/m2 for 90 days. The study were showed that types of phytoplankton obtained were the phylum Chlorophyta, Cyanophyta, Bacillariophyta, Dinoflagellate, Glaocophyta, and Euglenophyta. Percentage abundance of phytoplankton that produced geosmin and MIB (Cyanophyta) in each treatment was less than 50% of the percentage of total phytoplankton. Organoleptic scores showed that the treatment pond G (N:P ratio 4) score of 7 (not fresh, no off-flavours). Organoleptic scores of treatments with N:P ratio 5, 15 and 30 in pond A (freshwater pond) and pond B (brackish water pond) were 8 (fresh, no off-flavours). Keywords: extensive pond-culture, phytoplankton, N:P ratio, organoleptic  ABSTRAK Budidaya bandeng di tambak saat ini menggunakan pupuk anorganik untuk menumbuhkan fitoplankton. Pemberian pupuk urea dan SP (superphosphate) yang berlebihan pada lingkungan budidaya akan menyebabkan kondisi perairan tersebut menjadi sangat subur dan sering menyebabkan ikan bau lumpur off-flavours. Bau lumpur di ikan disebabkan oleh dua senyawa kimia yaitu geosmin dan 2-methylisoborneol (MIB). Penelitian dilakukan untuk menguji pertumbuhan fitoplankton penyebab bau lumpur pada tambak ikan bandeng dipupuk dengan N:P berbeda. Penelitian ini menggunakan sembilan petak tambak. Tambak yang digunakan berukuran 600 m2. Ikan ditebar di tambak dengan kepadatan 1 ikan/m2 dan dipelihara selama 90 hari. Hasil penelitian menunjukkan fitoplankton yang didapatkan antara lain berasal dari filum Chlorophyta, Cyanophyta, Bacillariophyta, Dinoflagellata, Glaocophyta, dan Euglenophyta. Kelimpahan fitoplankton Cyanophyta lebih kecil dibandingkan dengan fitoplankton bukan Cyanophyta yaitu di bawah 50%. Skor organoleptik perlakuan tambak G (rasio N:P 4) yaitu 7 (kurang segar, tidak bau lumpur). Skor organoleptik perlakuan rasio N:P 5, 15, dan 30 di tambak A (tambak air tawar) dan tambak B (tambak air payau) adalah 8 (segar, tidak bau lumpur). Kata kunci: budidaya kolam ekstensif, fitoplankton, rasio N:P, organoleptik
Growth and survival of Kryptopterus lais treated with thyroxine hormone Agusnimar, ,; Rosyadi, ,
Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 14 No. 1 (2015): Jurnal Akuakultur Indonesia
Publisher : Indonesian Society of Scientific Aquaculture (ISSA)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (2892.85 KB) | DOI: 10.19027/jai.14.38-41

Abstract

ABSTRACT This experiment was conducted to evaluate the effect of different doses of thyroxine supplemented in commercial feed (pellet 781-1, produced by Choroend Pokhpand Indonesia) on growth and survival of Kryptopterus lais. Adult K. lais with initial body weight of 43−99 g were used as samples. A completely randomized designed with four treatments and three replications were used in this experiment. Four doses of thyroxine used as treatment were 0,0 mg/kg (P1); 0.08 mg/kg (P2); 0.10 mg/kg (P3); and 0.12 mg/kg (P4). Fish were fed 10% of body weight daily, given twice per day. The results showed that the treatement of P2 provided the best growth of absolute body weight and length of K. lais, the growth of absolute weight was 14.8 mg while the growth of absolute length was 1.1 cm.The best daily growth of body weight founded at P4 (0.27 %), while the best daily growth of body length were founded at P2 and P4 (0.06%). The survival of fish were 100% in all treatments. Keywords: Kryptopterus lais, thyroxine hormone, growth, survival  ABSTRAK Penelitian ini dilakukan dengan tujuan untuk mengevaluasi pengaruh dosis hormon tiroksin dalam pakan ikan terhadap pertumbuhan dan kelangsungan hidup calon induk ikan selais. Ikan uji yang digunakan dalam penelitian ini memiliki bobot 43−99 g. Rancangan penelitian yang digunakan adalah rancangan acak lengkap satu faktor dengan empat perlakuan dan tiga ulangan. Dosis hormon tiroksin yang digunakan pada masing-masing perlakuan adalah 0,0 mg/kg (P1); 0,08 mg/kg (P2); 0,10 mg/kg (P3); dan 0,12 mg/kg (P4). Pakan yang diberikan pada ikan uji adalah pelet 781-1 yang diproduksi oleh Charoen Pokphand Indonesia. Setelah dilakukan penelitan diperoleh data bahwa pertumbuhan bobot mutlak dan panjang mutlak tertinggi ditemui pada perlakuan P2, masing-masing 14,8 g dan 1,1 cm. Laju pertumbuhan bobot harian tertinggi terdapat pada perlakuan P4 (0,27%) dan laju pertumbuhan  panjang harian tertinggi terdapat pada perlakuan P2 dan P4 (0,06%). Tingkat kelangsungan hidup ikan uji selama penelitian 100%. Kata kunci: Kryptopterus lais, hormon tiroksin, pertumbuhan, kelangsungan hidup
Optimum salinity for growth of mangrove crab Scylla serrata seed in recirculation systems Hastuti, Yuni Puji; Affandi, Ridwan; Safrina, Mafatih Devi; Faturrohman, Kurnia; Nurussalam, Wildan
Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 14 No. 1 (2015): Jurnal Akuakultur Indonesia
Publisher : Indonesian Society of Scientific Aquaculture (ISSA)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (2897.309 KB) | DOI: 10.19027/jai.14.50-57

Abstract

ABSTRACT One of the abiotic factors that affects the growth and the survival of crabs is salinity. The optimum salinity media will give maximum impact on mangrove crab Scylla serrata due to the osmoregulation process. This study aimed to examine the effect of salinity on the survival rate (SR) and spesific growth rate (SGR) of mangrove crab through the reaction of physiological condition. The treatments were rearing mangrove crab at the salinity medium of 15 ppt (A), 20 ppt (B), 25 ppt (C), and 30 ppt (D). Result showed that different salinity performed a significant effect (P<0.05) on the survival rate and specific growth rate of the crabs. The low level of stress, shown by the high value of total hemocyte and the low osmotic pressure, has made salinity of 25 ppt was the optimum condition for the mangrove crab rearing. Keywords: salinity, survival, specific growth rate, mangrove crab  ABSTRAK Salah satu faktor abiotik yang memengaruhi pertumbuhan dan kelangsungan hidup kepiting adalah salinitas. Salinitas media optimum akan memberikan efek yang maksimal pada kepiting bakau Scylla serrata sehubungan dengan proses osmoregulasi tubuhnya. Penelitian ini bertujuan untuk menguji pengaruh salinitas pada kelangsungan hidup dan laju pertumbuhan spesifik kepiting bakau melalui reaksi kondisi fisiologis. Penelitian ini terdiri atas perlakuan salinitas media 15 ppt (A), 20 ppt (B), 25 ppt (C), dan 30 ppt (D). Hasil penelitian menunjukkan bahwa perbedaan salinitas media pemeliharaan kepiting bakau memberikan perbedaan nyata (P<0,05) pada kelangsungan hidup dan laju pertumbuhan spesifik kepiting bakau. Rendahnya tingkat stres pada salinitas 25 ppt dijelaskan dengan tingginya jumlah total hemosit dan rendahnya tekanan osmotik sehingga salinitas 25 ppt merupakan kondisi optimum bagi pemeliharaan kepiting bakau. Keywords: salinitas, kelangsungan hidup, laju pertumbuhan spesifik, kepiting bakau
The use of zeolite, active carbon, and clove oil in closed transportation of giant freshwater prawn juvenile Anandasari, Rahma Vida; Supriyono, Eddy; Carman, Odang; Adiyana, Kukuh
Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 14 No. 1 (2015): Jurnal Akuakultur Indonesia
Publisher : Indonesian Society of Scientific Aquaculture (ISSA)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (2948.478 KB) | DOI: 10.19027/jai.14.42-49

Abstract

ABSTRACT The objective of this study was to determine the effect of zeolite, active carbon, and clove oil on water quality (dissolved oxygen/DO, total ammonia nitrogen/TAN, temperature) and biological quality (glucose concentration, total protein, survival/SR) of giant freshwater prawn juvenile Macrobrachium rosenbergii in closed transportation system. The study was conducted in laboratory scale with a completely randomized design. The biota used was juvenile giant prawn with an average weight 0.407 ± 0.005 g/ind. The type and dose of additive used were A (20 g/L zeolite + 10 g/L active carbon + 14 µL/L clove oil), B (20 g/L zeolite + 10 g/L active carbon + 9.33 µL/L clove oil), C (20 g/L zeolite + 10 g/L active carbon + 4.67 µL/L clove oil), D (20 g/L zeolite + 10 g/L active carbon + 1.87 µL/L clove oil), K+ (20 g/L zeolite + 10 g/L active carbon), and K- (without material addition). The glucose concentration of treatment B and C significantly different with treatment A, D, K+, K-. Total protein of treatment A, B, C and K+ significantly different with treatment K-. DO, TAN, and temperature of the transportation media were still in the suitable concentration for living of giant prawn. The highest survival of the prawn was observed in group C. The result showed the combination of 20 g/L zeolite + 10 g/L active carbon + 4.67 µL/L clove oil in the water is suitable for closed transportation system for juvenile giant freshwater prawn. Keywords: glucose concentration, total protein, DO, TAN, temperature  ABSTRAK Penelitian ini bertujuan untuk menentukan pengaruh pemberian zeolit, karbon aktif, dan minyak cengkeh terhadap kualitas air (dissolved oxygen/DO, total ammonia nitrogen/TAN, suhu) dan kualitas biologi (konsentrasi glukosa, total protein, tingkat kelangsungan hidup/TKH) benih udang galah Macrobrachium rosenbergii pada sistem transportasi tertutup. Penelitian dilakukan pada skala laboratorium dengan rancangan acak lengkap. Biota yang digunakan yaitu benih udang galah dengan bobot rata-rata 0,407±0,005 g/ekor. Dosis bahan tambahan yang digunakan adalah: A (20 g/L zeolit + 10 g/L karbon aktif + 14 µL/L minyak cengkeh), B (20 g/L zeolit + 10 g/L karbon aktif + 9,33 µL/L minyak cengkeh), C (20 g/L zeolit + 10 g/L karbon aktif + 4,67 µL/L minyak cengkeh), D (20 g/L zeolit + 10 g/L karbon aktif + 1,87 µL/L minyak cengkeh), K+ (20 g/L zeolit + 10 g/L karbon aktif), dan K- (tanpa bahan tambahan). Konsentrasi glukosa perlakuan B dan C berbeda nyata dengan perlakuan A, D, K+, K-. Total protein perlakuan A, B, C, D, dan K+ berbeda nyata dengan perlakuan K-. DO, TAN dan suhu media transportasi masih sesuai dengan kehidupan udang galah. Tingkat kelangsungan hidup transportasi tertinggi yaitu pada perlakuan C. Hasil menunjukkan bahwa kombinasi 20 g/L zeolit + 10 g/L karbon aktif + 4,67 µL/L minyak cengkeh adalah perlakuan yang sesuai untuk transportasi tertutup benih udang galah. Kata kunci: konsentrasi glukosa, total protein, DO, TAN, suhu
Combination of garlic - shatterstone herb powder to control Streptococcus agalactiae infection in tilapia Fauziah, Ririn Nurul; Wahjuningrum, Dinamella; Sukenda, ,; Ranta, ,
Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 14 No. 1 (2015): Jurnal Akuakultur Indonesia
Publisher : Indonesian Society of Scientific Aquaculture (ISSA)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (3040.983 KB) | DOI: 10.19027/jai.14.79-89

Abstract

ABSTRACT This study was aimed at determining potential of combination powder of garlic Allium sativum-shatterstone herb Phyllanthus niruri supplemented in feed against S. agalactiae infection in tilapia. Four concentrations of combination powder of A. sativum-P. Niruri; 20+5, 20+10, 20+15 and 20+20 ppt respectively were investigated for their ability to inhibit bacterial fish pathogen. Combination dose of 20+15 ppt produced the highest inhibitory zones in in vitro test. In vivo test consisted of three treatments with three replications, namely positive control (K+), negative control (K-) and the treatment of A. sativum-P. niruri suplemented in feed (BM).  The test perfomed on tilapia with weight of 10.33 ± 1.63 g and were reared at density of 10 ind/aquarium. The fish was fed for 14 days, then injected intraperitoneally with 0.1 mL S. agalactiae at concentration of 105 cfu/mL for positive control and BM groups. Survival, growth rate, feed response, hematological and water quality parameters were observed for 10 days. This study showed that the suplemented-feed-fish (BM) showed better growth rate, feed response, and survival (83.3%) than positive control (36.7%) at P<0.05. In addition, A. sativum-P. niruri suplemented in feed was also able to enhance the immune response by increasing phagocytic activity. Keywords: Streptococcus agalactiae, phytopharmacy, Allium sativum-Phyllanthus niruri, tilapia  ABSTRAK Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis potensi campuran tepung bawang putih Allium sativum-meniran Phyllanthus niruri dalam pakan terhadap pencegahan infeksi bakteri S. agalactiae pada ikan nila. Empat konsentrasi campuran tepung bawang putih-meniran yaitu 20+5 ppt, 20+10 ppt, 20+15 ppt dan 20+20 ppt masing-masing diuji kemampuannya dalam  menghambat bakteri patogen pada ikan. Campuran dosis 20+15 ppt menghasilkan zona hambat terbaik dalam uji in vitro. Uji in vivo terdiri atas tiga perlakuan dengan tiga ulangan yaitu kontrol positif, kontrol negatif, dan perlakuan pakan yang mengandung bawang putih-meniran (BM). Uji ini dilakukan pada ikan nila berbobot 10,33±1,63 g yang dipelihara di akuarium dengan kepadatan 10 ekor/akuarium. Ikan diberi pakan perlakuan selama 14 hari kemudian diinjeksi secara intraperitoneal dengan bakteri S. agalactiae sebanyak 0,1 mL dengan kepadatan 105 cfu/mL pada perlakuan kontrol positif dan perlakuan BM. Parameter kelangsungan hidup, laju pertumbuhan, respons pakan, parameter hematologi, dan kualitas air diamati selama sepuluh hari. Hasil dari penelitian ini menunjukkan bahwa pemberian BM dalam pakan memberikan laju pertumbuhan, respons pakan, dan sintasan (83,3%) yang lebih baik daripada kontrol positif (36,7%) pada P<0,05. Pakan yang mengandung campuran bawang putih-meniran ini juga mampu meningkatkan respons imun dengan adanya peningkatan aktivitas fagositosis. Kata kunci: Streptococcus agalactiae, fitofarmaka, Allium sativum-Phyllanthus niruri, ikan nila 

Filter by Year

2002 2025


Filter By Issues
All Issue Vol. 24 No. 2 (2025): Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 24 No. 1 (2025): Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 23 No. 2 (2024): Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 23 No. 1 (2024): Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 22 No. 2 (2023): Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 22 No. 1 (2023): Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 21 No. 2 (2022): Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 21 No. 1 (2022): Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 20 No. 2 (2021): Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 20 No. 1 (2021): Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 19 No. 2 (2020): Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 19 No. 1 (2020): Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 18 No. 2 (2019): Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 18 No. 1 (2019): Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 17 No. 2 (2018): Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 17 No. 1 (2018): Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 16 No. 2 (2017): Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 16 No. 1 (2017): Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 15 No. 2 (2016): Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 15 No. 1 (2016): Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 14 No. 2 (2015): Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 14 No. 1 (2015): Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 13 No. 2 (2014): Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 13 No. 1 (2014): Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 12 No. 2 (2013): Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 12 No. 1 (2013): Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 11 No. 2 (2012): Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 11 No. 1 (2012): Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 10 No. 2 (2011): Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 10 No. 1 (2011): Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 9 No. 2 (2010): Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 9 No. 1 (2010): Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 8 No. 2 (2009): Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 8 No. 1 (2009): Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 7 No. 2 (2008): Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 7 No. 1 (2008): Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 6 No. 2 (2007): Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 6 No. 1 (2007): Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 5 No. 2 (2006): Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 5 No. 1 (2006): Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 4 No. 2 (2005): Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 4 No. 1 (2005): Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 3 No. 3 (2004): Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 3 No. 2 (2004): Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 3 No. 1 (2004): Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 2 No. 2 (2003): Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 2 No. 1 (2003): Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 1 No. 3 (2002): Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 1 No. 2 (2002): Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 1 No. 1 (2002): Jurnal Akuakultur Indonesia More Issue