cover
Contact Name
Apriana Vinasyiam
Contact Email
akuakultur.indonesia@gmail.com
Phone
-
Journal Mail Official
akuakultur.indonesia@gmail.com
Editorial Address
-
Location
Kota bogor,
Jawa barat
INDONESIA
Jurnal Akuakultur Indonesia
ISSN : 14125269     EISSN : 23546700     DOI : -
Core Subject : Agriculture,
Jurnal Akuakultur Indonesia (JAI) merupakan salah satu sarana penyebarluasan informasi hasil-hasil penelitian serta kemajuan iptek dalam bidang akuakultur yang dikelola oleh Departemen Budidaya Perairan, FPIK–IPB. Sejak tahun 2005 penerbitan jurnal dilakukan 2 kali per tahun setiap bulan Januari dan Juli. Jumlah naskah yang diterbitkan per tahun relatif konsisten yaitu 23–30 naskah per tahun atau minimal 200 halaman.
Arjuna Subject : -
Articles 569 Documents
Quality improvement of rubber seed meal diet for Nile tilapia with amino acid supplemetation Yusuf, Didi Humaedi; Suprayudi, Muhammad Agus; Jusadi, Dedi
Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 15 No. 1 (2016): Jurnal Akuakultur Indonesia
Publisher : Indonesian Society of Scientific Aquaculture (ISSA)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (3099.562 KB) | DOI: 10.19027/jai.15.63-69

Abstract

ABSTRACT This experiment was conducted to improve the quality of rubber seed meal fermented using sheep rumen liquor based diet (RSMF) with amino acid supplementation for Nile tilapia Oreochromis niloticus. This experiment consisted of five treatments with three replications. The treatments were 0% protein from RSMF as control; 50% RSMF; 50% RSMF with lysine; 75% RSMF and 75% RSMF with lysine. Tilapia with an initial body weight of 6.29±0.12 g were reared for 40 days and the fish were fed three times daily at satiation level (8.00 am, 12.00 pm and 16.00 pm). The data were statistically analysed by using one-way analysis of variance (ANOVA) using software SPSS version 16.0 at 95% (p<0.05) confidence interval and Tukey test for the post hoc test. The results showed that the addition of lysine in the 75% RSMF diets could increased final weight, but did not significantly different to protein efficiency ratio (PER), decreased feed convertion ratio (FCR) and biochemical body composition. The data indicated that quality of 75% RSMF could improved after lysine supplementation, but still lower than using 50% RSMF and soybean meal as protein source. Keywords: amino acid supplementation, Oreochromis niloticus, rubber seed meal ABSTRAK Penelitian ini dilakukan untuk meningkatkan kualitas pakan dengan tepung bungkil biji karet yang difermentasi dengan cairan rumen domba (TBBKF) melalui suplementasi asam amino untuk ikan nila Oreochromis niloticus. Penelitian ini terdiri atas lima perlakuan dengan tiga ulangan. Perlakuan terdiri atas  0% protein dari TBBKF sebagai kontrol; 50% TBBKF; 50% TBBKF + Lisin; 75% TBBKF dan 75% TBBKF + lisin. Ikan nila dengan bobot awal 6,29±0,12 g dipelihara selama 40 hari dan pemberian pakan dilakukan tiga kali sehari hingga sekenyangnya (08.00, 12.00 dan 16.00 WIB). Data dianalisis menggunakan analisis sidik ragam (ANOVA) dengan menggunakan software SPSS 16.0 dan diuji lanjut menggunakan uji Tukey. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penambahan lisin pada pakan 75% TBBKF meningkatkan bobot tubuh ikan akhir, tetapi tidak berpengaruh signifikan terhadap rasio efisiensi protein (PER), rasio konversi pakan (FCR) dan komposisi biokimia tubuh ikan nila. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa kualitas protein 75% TBBKF meningkat setelah suplementasi lisin, tetapi masih lebih rendah dibandingkan dengan penggunaan 50% TBBKF dan tepung kedelai sebagai sumber protein. Kata kunci: suplementasi asam amino, Oreochromis niloticus, tepung biji karet
The growth and physiological responses of tambaqui Colossoma macropomum fed on the high dose of clove oil-supplemented diet Puteri, Andi Tiara Eka Diana; Jusadi, Dedi; Nuryati, Sri
Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 15 No. 1 (2016): Jurnal Akuakultur Indonesia
Publisher : Indonesian Society of Scientific Aquaculture (ISSA)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (3207.82 KB) | DOI: 10.19027/jai.15.70.79

Abstract

ABSTRACT In this study, tambaqui Colossoma macropomum juvenile were given feed supplemented with clove oil Syzygium aromaticum at a dose of 0 and 100 mg/100 g diet. This study purposed to assessment the effect of clove oil supplementation at high dose (100 mg/100 g diet) on growth performance and health status of freshwater tambaqui. As many as 25 fishes with initial body weight 7.62±0.44 g maintained in 15 aquariums for 45 days. Each treatment consisted of three replications. Data were analyzed by t-test. The results showed that tambaqui growth performance on both treatments were not significantly different. However, supplementation of high doses 100 mg clove oil/100 g diet showed reduce on the blood parameters and declining the abundant of intestinal microflora in tambaqui gut, but the types seen more diverse. The observation of fish liver histology showed that hepatocyte cells in the treatment of 100 mg clove oil become smaller and dense compared with 0 mg clove oil treatment. The use of high doses of clove oil does not interfere with the tambaqui growth performance despite the downturn in the physiological responses were observed. Keywords: clove oil, Syzygium aromaticum, Colossoma macropomum, growth performance  ABSTRAK Di dalam penelitian ini, benih ikan bawal tawar Colossoma macropomum dipelihara dengan pemberian pakan yang ditambah minyak cengkeh Syzygium aromaticum pada kadar 0 dan 100 mg/100 g pakan. Tujuannya untuk melihat pengaruh penambahan minyak cengkeh di dalam pakan pada dosis tinggi (100 mg/100 g pakan) terhadap performa pertumbuhan dan respons fisiologis ikan bawal. Sebanyak 25 ekor ikan bawal dengan bobot individu awal 7,62 ± 0,44 g dipelihara pada 15 akuarium selama 45 hari. Data yang diperoleh dianalisis dengan uji komparasi t-test antar dua perlakuan dengan tiga ulangan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tidak ada pengaruh dari kedua perlakuan terhadap parameter pertumbuhan. Namun, pemberian pakan yang mengandung minyak cengkeh dosis tinggi 100 mg/100 g pakan mempengaruhi respons fisiologis berupa rendahnya kisaran nilai gambaran darah serta menurunnya jumlah mikroflora di usus ikan bawal, meski jenisnya lebih beragam. Hasil pengamatan histologi hati ikan pada perlakuan 100 mg minyak cengkeh menunjukkan bahwa sel hepatosit berukuran lebih kecil dan terlihat rapat dibandingkan dengan perlakuan 0 mg minyak cengkeh. Penggunaan minyak cengkeh dosis tinggi tidak menganggu performa pertumbuhan ikan bawal meskipun terjadi penurunan pada respons fisiologis yang diamati. Kata penting: minyak cengkeh, Syzygium aromaticum, Colossoma macropomum, performa pertumbuhan
Performance of broodstock and hybrid juvenile of Egyptian and sangkuriang Clarias gariepinus strains Zulfania, Putri; Junior, Muhammad Zairin; Alimuddin, ,; Sunarma, Ade
Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 14 No. 2 (2015): Jurnal Akuakultur Indonesia
Publisher : Indonesian Society of Scientific Aquaculture (ISSA)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (3168.64 KB) | DOI: 10.19027/jai.14.179-191

Abstract

ABSTRACT This study was conducted to evaluate reproduction of broodstock and intraspecific hybrid juvenile performance of Egyptian (M) and sangkuriang (S) strain African catfish Clarias gariepinus at nursery phase. Intraspecific hybridization of African catfish was carried out reciprocally (SM and MS) and purebreed (SS and MM), each was with three replicates. Fish spawning was conducted by artificial fertilization, and larvae were reared at 1st, 2nd and 3rd nursery phases, subsequently. The results showed that broodstock performance (male and female) of both strains were not significantly different (P>0.05) on all reproduction traits, except female’s gonadosomatic index. Fertilization and hatching rates of all hybrids were not significantly different (P>0.05). MM juvenile had higher growth performances than other juvenile hybrids. Heterosis of total length, standard length, and body weight were varied, whereas the survival showed positive heterosis. SM juvenile showed positive growth heterosis in 3rd nursery phase (total length, standard length, and body weight were 2.61%; 2.16%, and 4.79% respectively). Survival heterosis of MS juvenile (24.20% for total length; 103.13% for standard length and 11.62% body weight) was higher than SM juvenile (6.86%; 48.57%, and 3.09%) on all nursery phases Keywords: African catfish, intraspecific hybridization, growth, survival, heterosis  ABSTRAK Penelitian ini dilakukan untuk menguji performa reproduksi induk dan benih hasil hibridisasi intraspesifik ikan lele Afrika Clarias gariepinus strain Sangkuriang (S) dan Mesir (M) pada fase pendederan. Hibridisasi intraspesifik ikan lele Afrika dilakukan secara resiprokal (SM dan MS) dan galur murni (SS dan MM) masing-masing dengan tiga ulangan. Pemijahan dilakukan secara buatan dan larva yang dihasilkan dipelihara pada fase pendederan pertama, kedua, dan ketiga. Hasil penelitian menunjukkan bahwa performa induk ikan lele jantan dan betina pada kedua strain tidak berbeda nyata (P>0,05) pada seluruh parameter reproduksi, kecuali indeks gonadosomatik (GSI) pada induk betina. Derajat pembuahan dan penetasan telur pada seluruh persilangan tidak berbeda nyata (P>0,05). Pertumbuhan benih persilangan MM lebih tinggi, dibandingkan benih hasil persilangan lain. Nilai heterosis panjang total, panjang standar, dan bobot tubuh yang dihasilkan pada setiap stadia pendederan bervariasi, sedangkan nilai heterosis kelangsungan hidup menunjukkan hasil seluruhnya positif dibandingkan rataan galur murni. Heterosis pertumbuhan benih persilangan SM pada pendederan ketiga menunjukkan hasil yang positif (2,61% untuk panjang total; 2,16% untuk panjang standar dan 4,79% untuk bobot tubuh). Nilai heterosis kelangsungan hidup benih persilangan MS (24,20% untuk panjang total; 103,13% untuk panjang standar dan 11,62% untuk bobot tubuh) lebih tinggi dibandingkan benih persilangan SM (6,86%, 48,57% dan 3,09%) pada setiap stadia pendederan. Kata kunci: ikan lele Afrika, hibridisasi intraspesifik, pertumbuhan, kelangsungan hidup, heterosis 
The protective duration of Streptococcus agalactiae vaccine in Nile Tilapia for the prevention of streptococcosis Sukenda, ,; Rusli, ,; Nuryati, Sri; Hidayatullah, Dendi
Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 14 No. 2 (2015): Jurnal Akuakultur Indonesia
Publisher : Indonesian Society of Scientific Aquaculture (ISSA)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (3075.762 KB) | DOI: 10.19027/jai.14.192-201

Abstract

ABSTRACT The aim of this study was to assess the protective duration of Streptococcus agalactiae vaccine against streptococcosis in Nile tilapia. Fish were treated by the whole cell vaccine, ECP vaccine and mixture of whole cell and ECP vaccine. After 14, 28, 42, and 52 day post-vaccination (DPV), the fish were intraperitoneally challenged with 104  cfu/mL S. agalactiae. The results showed mortality rate of whole-cell vaccine (A), ECP vaccine (B) and mix vaccine (C) up to day 42 was significantly (P<0.05) lower than the control treatment, namely 73.33%; 80%; and 76%, respectively. The mortality rate of vaccine treatments A, B, and C on day 56 had no significant difference (P>0.05) with the control. The value of antibody titer vaccine treatments A, B, and C indicate that antigen-antibody reaction on day 28 after the vaccination was significantly (P <0.05) higher than the control that were 3.67; 3.33; and 3.67. Antigen-antibody reaction on day 42 after the vaccination was founded, but did not different significantly (P>0.05) with the control. Bacterial population in treatment A, B, and C in the organs of the fish until the 28th day was still under the control of 104  cfu/mL. S. agalactiae vaccine protection duration is 42 days after the vaccination. Keywords : nile tilapia, Streptococcus agalactiae, duration, vaccine, streptococcosis  ABSTRAK Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis durasi proteksi dari vaksin Streptococcus agalactiae sebagai pencegahan terhadap streptococcosis pada ikan nila. Ikan divaksinasi dengan vaksin sel utuh, ECP dan gabungan sel utuh dan ECP dari S. agalactiae yang diinjeksi secara intrapetorineal. Ikan diuji tantang S. agalactiae 104  cfu/mL pada hari ke-14, ke-28, ke-42, dan ke-56 pascavaksinasi. Hasil penelitian menunjukkan tingkat mortalitas perlakuan vaksin sel utuh (A), vaksin ECP (B), dan gabungan vaksin sel utuh dengan ECP (C) hingga hari ke-42 masih signifikan (P<0,05) lebih rendah dari perlakuan kontrol yaitu 73,33%; 80%; dan 76%. Tingkat mortalitas perlakuan vaksin A, B, dan C pada hari ke-56 sudah tidak berbeda signifikan (P>0,05) dengan kontrol. Nilai titer antibodi perlakuan vaksin A, B, dan C menunjukkan bahwa reaksi antigen antibodi pada hari ke-28 pascavaksinasi masih signifikan (P<0,05) lebih tinggi dibandingkan kontrol  yaitu 3,67; 3,33; dan 3,67. Reaksi antigen antibodi pada hari ke-42 pascavaksinasi masih ditemukan, namun tidak berbeda signifikan (P>0,05) dengan kontrol. Populasi bakteri pada perlakuan A, B, dan C di organ ikan hingga hari ke-28 masih di bawah kontrol 104  cfu/mL. Durasi proteksi vaksin S. agalactiae adalah 42 hari pascavaksinasi. Kata kunci: ikan nila, Streptococcus agalactiae, durasi, vaksin, streptococcosis
Scale brightness of common goldfish on diet supplemented with seaweed Sargassum sp. and pumpkin Cucurbita moschata Astari, Irfina Manda; Setyawati, Tri Rima; Yanti, Ari Hepi
Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 15 No. 1 (2016): Jurnal Akuakultur Indonesia
Publisher : Indonesian Society of Scientific Aquaculture (ISSA)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (3247.364 KB) | DOI: 10.19027/jai.15.80-88

Abstract

ABSTRACT The common goldfish Carassius auratus auratus is an ornamental freshwater fish species with  high market value. The market value of ornamental fish can be determined through some parameters, one of them is brightness of the fish scales. Brightness level may be enhanced by supplementing plant powder containing carotenoid into fish diet. The purpose of this research was to examine the scale brightness level of common goldfish fed diet supplemented with Sargassum sp. and pumpkin powder, and to determine the dose of those powders that allows higher brightness level of scale.  The feed of common goldfish was supplemented with either Sargassum sp. or pumpkin powder at the doses of 10, 20 and 30%, and without supplementation as control. Fishes were reared for 75 days and fed diet at feeding rate of 5% biomass daily. The results of ANOVA test showed that the Sargassum sp. and pumpkin mill addition on food significantly improved of scales brightness of  common goldfish. Increasing supplementation levels of Sargassum sp. and pumpkin powder increased brightness level of scale. The highest improvement in brightness was the fish that fed by 30% concentration of Sargassum sp. flour with the value scale of brightness was 2.67 and the total number of 2,890.67 chromatophore cells. The results suggest that Sargassum sp. powder is better to improve the brightness level of common goldfish scale. Keywords: Carassius auratus auratus, Sargassum sp., Cucurbita moschata, carotenoid, brightness  ABSTRAK Ikan komet Carassius auratus auratus merupakan salah satu spesies ikan hias air tawar yang memiliki nilai jual tinggi. Nilai jual ikan hias dapat ditentukan melalui beberapa parameter, salah satunya yaitu kecerahan sisik ikan. Kecerahan sisik ikan dapat ditingkatkan melalui pemberian pakan yang diperkaya karotenoid. Tujuan penelitian ini adalah menguji tingkat kecerahan warna sisik ikan komet setelah diberi pakan dengan tambahan tepung Sargassum sp. dan labu kuning, dan menentukan dosis masing-masing tepung tersebut yang memberikan tingkat kecerahan tertinggi pada sisik ikan komet. Pakan ikan komet ditambahkan dengan tepung Sargassum sp. atau tepung labu kuning sebanyak 10, 20 dan 30%, serta tanpa suplementasi sebagai kontrol. Ikan dipelihara selama 75 hari dan diberi pakan uji sebanyak 5% biomassa setiap hari. Hasil uji ANOVA menunjukkan bahwa penambahan tepung Sargassum sp. dan labu kuning berpengaruh nyata terhadap peningkatan kecerahan sisik ikan komet. Semakin tinggi kadar tepung Sargassum sp. dan labu kuning yang ditambahkan ke pakan, maka semakin tinggi tingkat kecerahan sisik ikan komet. Tingkat kecerahan tertinggi terjadi pada ikan komet yang diberi pakan tambahan berupa tepung Sargassum sp. sebesar  30% dengan nilai kecerahan 2,67 dan jumlah kromatofor sebanyak 2.890,67 sel. Hal tersebut menunjukkan bahwa Sargassum sp. lebih bagus digunakan untuk meningkatkan kecerahan sisik ikan komet daripada labu kuning. Kata kunci: Carassius auratus auratus, Sargassum sp., Cucurbita moschata, karotenoid, kecerahan
Ovulation time and ovulated eggs count of sneakehead Channa striata induced by prostaglandin 2α with different doses Jamlaay, Frits; Widodo, Maheno Sri; Faqih, Abd. Rahem
Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 15 No. 1 (2016): Jurnal Akuakultur Indonesia
Publisher : Indonesian Society of Scientific Aquaculture (ISSA)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (3067.389 KB) | DOI: 10.19027/jai.15.89-92

Abstract

ABSTRACT Snakehead fish Channa striata is one of freshwater commodity which has high economic value. Nowadays, snakehead fish stock mostly comes from wild capture. Artificial spawning with hormonal induction is usually used to improve broodstock efficiency, as well as the quality and quantity of fish seed production. Purpose of this study was to determine the effectiveness of prostaglandin 2α (PGF2α) hormone on ovulation time and count of ovulated eggs. This experiment used 30–40 cm broodstock with 600–900 g body weight. Fishes were acclimated for one week in a container and then injected with different doses of PGF2α, namely: control without PGF2α (P1), 0.5 mL/kg (P2); 0.7mL/kg (P3); and 0.9 mL/kg (P4). Each treatment consisted of three fishes as replication. Ovulation time was observed until 72 hours post injection. The results showed that PGF2α injected broodstoks ovulated faster (9.17–12.24 hours post injection) than control P1 (22.67 hours), while among PGF2α injected fishes were the same. Furthermore, count of ovulated eggs from PGF2α induced broodstocks were higher than control P1, and the highest (2,860 eggs) was obtained in treatment 0.9 mL/kg. Thus, PGF2α at dose of 0.9 mL/kg can be used to induce eggs ovulation of snakehead fish and to increase count of ovulated eggs. Keywords: PGF2α, ovulation time, ovulated eggs count, Channa striata  ABSTRAK Ikan gabus Channa striata merupakan salah satu komoditas air tawar yang mempunyai nilai ekonomi tinggi. Saat ini, pemenuhan kebutuhan hanya bergantung pada hasil penangkapan di alam. Cara pemijahan buatan dengan induksi hormon biasanya digunakan untuk efisiensi penggunaan induk serta peningkatan kualitas dan kuantitas benih ikan yang dihasilkan. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk menguji efektivitas hormon prostaglandin 2α (PGF2α) terhadap waktu ovulasi dan jumlah telur ikan gabus yang diovulasikan. Penelitian ini menggunakan induk ikan gabus berukuran 30–40 cm dengan bobot tubuh 600–900 g. Ikan diadaptasikan di wadah penelitian selama seminggu, kemudian diinjeksi hormon PGF2α dengan perlakuan hormon dengan dosis berbeda, yaitu: kontrol tanpa hormon (P1), 0,5 mL/kg (P2); 0,7 mL/kg (P3); dan 0,9 mL/kg (P4). Setiap perlakuan terdiri atas tiga ekor induk sebagai ulangan. Waktu ovulasi diamati sampai dengan 72 jam pascasuntik. Hasil penelitian menunjukkan bahwa induk yang disuntik PGF2α memijah lebih cepat (9,17–12,24 jam pascasuntik) daripada kontrol (22,67 jam), sedangkan antarperlakuan hormon PGF2α tidak berbeda. Selanjutnya, jumlah telur diovulasi dari induk ikan gabus yang disuntik PGF2α berjumlah lebih banyak daripada kontrol. Hasil tertinggi (2.860 butir) diperoleh dari perlakuan 0,9 mL/kg.  Dengan demikian, hormon PGF2α dosis 0,9 mL/kg dapat digunakan untuk mempercepat waktu ovulasi ikan gabus, dan meningkatkan jumlah telur yang diovulasikan. Kata kunci: PGF2α, waktu ovulasi, jumlah telur diovulasi, Channa striata 
Infektivitas parasit Ichtyophthirius multifiliis yang disimpan pada suhu rendah Rahman, ,; Sukenda, ,; Nuryati, Sri; Hidayatullah, Dendi
Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 15 No. 2 (2016): Jurnal Akuakultur Indonesia
Publisher : Indonesian Society of Scientific Aquaculture (ISSA)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (3250.442 KB) | DOI: 10.19027/jai.15.93-98

Abstract

ABSTRACT The aim of this study was to evaluate infectivity of Ichtyophthirius multifiliis which caused white spot disease maintained at low temperature without its host. Briefly, the trophont stage of parasites were subjected at control (28 °C) and lower temperature (9 °C) for 14 consecutive days of observation. The rate of survival, and excystment of descendants were examined descriptively at the last day of observation. Here, the infectivity of parasite then performed by means infecting the model fish Poecilia sphenops (black moly) with escaping theronts. The results revealed that the survival rate and excystment  rate of parasite were decreased as maintaining period increased. The final rate of survival, and excystment of parasite were 35% and 33,3% respectively. Additionally, the descendants came out with high abnormality which recognized by weak mobility and lower infectivity (50%) compared to the control (80%). Then, it is concluded that, maintaining I. multifiliis at low temperature without its host for 14 consecutive days will decreased the infectivity. Keywords: white spot, obligat parasite, excystment, infectivity  ABSTRAK Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi infektivitas parasit Ichtyophthirius multifiliis penyebab penyakit bintik putih (white spot) yang dipelihara tanpa inang pada suhu rendah. Parasit dengan stadia trophont dipelihara pada suhu ruang (28 °C) dan suhu rendah (9 °C) selama 14 hari. Selama masa pemeliharaan tersebut tingkat kelulusan hidup, dan tingkat eksismen parasit diukur dan dibandingkan secara deskriptif. Hari terakhir pemeliharaan dilakukan uji tantang pada ikan black moly Poecilia sphenops untuk menilai infektivitas parasit. Hasil penelitian memperlihatkan bahwa tingkat kelulusan hidup dan eksismen parasit semakin menurun dengan bertambahnya masa pemeliharaan. Akhir pengamatan  kelangsungan hidup, dan nilai eksismen tersebut berturut-turut adalah 35% dan 33%. Parasit yang disimpan pada suhu rendah selama 14 hari memperlihatkan infektivitas yang lebih rendah (50%) dibandingkan dengan perlakuan kontrol (80%). Kesimpulannya, penyimpanan parasit I. multifiliis pada suhu rendah selama 14 hari dapat menurunkan infektivitas parasit pada inang. Kata kunci: bintik putih, parasit obligat, eksismen, infektivitas
Kajian patogenisitas bakteri Edwardsiella ictaluri pada ikan patin Pangasionodon hypophthalmus Susanti, Wiwik; Indrawati, Agustin; Pasaribu, Fachriyan H
Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 15 No. 2 (2016): Jurnal Akuakultur Indonesia
Publisher : Indonesian Society of Scientific Aquaculture (ISSA)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (3460.241 KB) | DOI: 10.19027/jai.15.99-107

Abstract

ABSTRACT One of major problem of striped catfish Pangasionodon hypophthalmus culture is enteric septicemia of catfish (ESC), bacterial disease of Edwardsiella ictaluri, caused of more than 50% of mortalities. This reaserch was aimed to determine pathogenicity of local isolate E. ictaluri. Thirty individu of five group fishes, 6–10 g in body weight, injected intraperitoneally with 0,1 mL of bacteria suspension of 102 cfu/mL; 104 cfu/mL; 106 cfu/mL; 108 cfu/mL; 1010 cfu/mL; and PBS as control, were culture in 18 of 60×40×45 cm3 aquarium for seven days. External organs of fish (skin and abdomen) and internal organs (liver, kidney, and brain) were examined macroscopicly and microscopicly. Internal organ sample were taken on the 5th day for histopatologic test while blood sample was on the 1st, 3rd, and 5th day after infection. Mortality rate was count to reach LD50. Clinical signs and pathology anatomy of co-infection fish showed vertical swim, petechial hemorrhage in the skin, dropsy, ascites in the abdominal cavity, pale liver and the kidney was dark red. Histopathology showed hydropic degeneration, fatty degeneration, hemorrhage and necrosis in the liver, melano macrophage center (MMC) and necrosis in the kidneys, hemorrhage, and inflammatory cell infiltrates were also found in the kidneys and brain. Decreased of hematocrit and hemoglobin values of all tread group were statistically significant different (P<0,05) compared to controls. LD50 dose was 2,8×104 cfu/mL. The result indicated that E. ictaluri was very pathogenic on striped catfish P. hypophthalmus.  Keywords: Edwardsiella ictaluri, enteric septicemia of catfish (ESC), pathogenicity, striped catfish  ABSTRAK Salah satu kendala yang dijumpai pada budidaya ikan patin Pangasionodon hypophthalmus yaitu serangan penyakit bakterial. Enteric septicemia of catfish (ESC) adalah penyakit infeksi bakteri Edwardsiella ictaluri yang dapat menyebabkan kematian ikan patin sampai >50%. Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui patogenisitas E. ictaluri isolat lokal pada ikan patin. Masing-masing 30 ekor ikan patin ukuran 6–10 g/ekor diinjeksi secara intraperitoneal dengan 0,1 mL larutan bakteri kepadatan 102 cfu/mL; 104 cfu/mL; 106 cfu/mL; 108 cfu/mL; 1010 cfu/mL; dan PBS sebagai kontrol. Ikan dipelihara selama tujuh hari pada akuarium berukuran 60×40×45 cm3. Pemeriksaan makroskopis dan mikroskopis dilakukan terhadap organ eksternal (kulit dan abdomen) dan internal (hati, ginjal, dan otak). Pengambilan sampel organ internal untuk uji histopatologi pada hari kelima dan sampel darah untuk uji gambaran darah pada hari pertama, ketiga, dan kelima pascainfeksi. Jumlah kematian ikan dihitung untuk mendapat nilai LD50. Pengamatan gejala klinis dan patologi anatomi ditemukan ikan berenang vertikal, adanya bercak merah pada kulit, pembengkakan abdomen, asites, hati pucat, dan ginjal berwarna merah kehitaman. Hasil histopatologi terlihat terjadinya degenerasi hidropik, degenerasi lemak, melano macrophage center (MMC), nekrosa, hemoragi, dan infiltrasi sel radang pada hati, ginjal, dan otak. Penurunan nilai hematokrit dan hemoglobin pada perlakuan secara statistik berbeda nyata (P<0,05) dengan kontrol. Dosis LD50 didapat 2,8×104 cfu/mL. Hasil penelitian ini mengindikasikan bahwa E. ictaluri pada ikan patin bersifat sangat patogen. Kata kunci: Edwardsiella ictaluri, enteric septicemia of catfish (ESC), patogenisitas, patin
Efikasi daun sembukan Paederia foetida untuk pencegahan infeksi bakteri Aeromonas hydrophila pada ikan nila Wahjuningrum, Dinamella; Hasanah, Mulyati; Rahman, ,
Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 15 No. 2 (2016): Jurnal Akuakultur Indonesia
Publisher : Indonesian Society of Scientific Aquaculture (ISSA)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (3546.784 KB) | DOI: 10.19027/jai.15.108-119

Abstract

ABSTRACT The purpose of this study was to determine the optimum dosage of skunkvine leaves Paederia foetida to prevent infection caused by bacteria Aeromonas hydrophila in tilapia Oreochromis niloticus. This study consisted of five treatments. They were negative control, positive control, and  prevention treatment with the dosages of 0.8%, 1% and that 1.2% that consisted that of three replications in each treatment. Addition of skunkvine leaves on feed performed by coating method. Feed was given at satiation with a frequency of three times a day. The results of this study showed that there were significant effect (P<0.05) between the positive control (37.03%) and preventive treatment dosages of 0.8% (88.89%), 1% (74.08%), and 1.2% (74.08%). The optimum dosage for prevention of A. hydrophila infection in tilapia was 0.8%. Keywords: Aeromonas hydrophila, Paederia foetida, tilapia  ABSTRAK Tujuan penelitian ini adalah untuk menentukan dosis daun sembukan Paederia foetida yang tepat dalam mencegah infeksi akibat Aeromonas hydrophila pada ikan nila Oreochromis niloticus. Penelitian ini terdiri dari lima perlakuan yaitu kontrol negatif, kontrol positif, perlakuan 0,8%, perlakuan 1%, dan perlakuan 1,2% dengan masing-masing perlakuan terdiri dari tiga ulangan. Metode penambahan sembukan pada pakan dilakukan dengan metode coating. Pakan diberikan secara at satiation dengan frekuensi pemberian sebanyak tiga kali sehari. Pemeliharaan ikan dilakukan selama 20 hari dan pada hari ke-11 dilakukan uji tantang dengan menggunakan bakteri A. hydrophila. Hasil penelitian ini menunjukan bahwa tingkat kelangsungan hidup sebelum uji tantang tidak berbeda nyata (P>0,05), sedangkan setelah uji tantang diperoleh hasil yang berbeda nyata (P<0,05) antara kontrol positif (37,03%) dengan perlakuan 0,8% (88,89%), perlakuan 1% (74,08%), dan perlakuan 1,2% (74,08%). Berdasarkan hasil penelitian disimpulkan bahwa pemberian daun sembukan melalui pakan efektif untuk pencegahan infeksi A. hydrophila pada ikan nila dengan dosis terbaik yaitu 0,8%. Kata kunci: Aeromonas hydrophila, Paederia foetida, ikan nila 
Evaluasi penggunaan tepung cangkang rajungan sebagai bahan baku pakan juwana udang windu Penaeus monodon Kurnia, Agus; Muskita, Wellem H; Astuti, Oce; Asnani, ,; Harahap, Wulandari
Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 15 No. 2 (2016): Jurnal Akuakultur Indonesia
Publisher : Indonesian Society of Scientific Aquaculture (ISSA)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (3125.999 KB) | DOI: 10.19027/jai.15.117-123

Abstract

ABSTRACT Feeding trial was conducted to determine the optimum dietary level of the crab shell meal (CSM) for replacement of fish meal (FM) for growth and survival rate of black tiger shrimp larvae. The shrimp (initial weight: 0,0134±0,02 g) were fed with six experimental diet for six weeks which were formulated to replace FM protein by with CSM at various substitution levels: diet A (0% CSM substitution level), diet B (25% CSM substitution level), diet C (50% CSM substitution level), diet D (75% CSM substitution level), diet E (100% CSM substitution level), diet F (commercial diet). Results from the feeding trial indicates that the shrimp fed with all treatment diet were not significantly different in weight gain and FCR. However, survival rate on the shrimp fed with diet F was significantly different to the other groups. The present study conclude that CSM could be used as protein ingredient in the diet of monodon shrimp juvenile. Keywords: replacement, crabs shell meal, fish meal, black tiger shrimp, survival rate  ABSTRAK Penelitian pakan dilakukan untuk menentukan dosis optimum tepung cangkang rajungan (TCR) untuk mengganti tepung ikan (TI) dalam pakan terhadap pertumbuhan dan kelangsungan hidup larva udang windu. Udang windu (berat awal: 0,00134±0,02 g ) diberi pakan uji selama enam minggu yang diformulasi untuk mengganti TI dengan tingkat persentasi penggantian TCR dengan desain formulasi pakan A (0% substitusi TCR), pakan B (25% substitusi TCR), pakan C (50% substitusi TCR), pakan D (75% substitusi TCR), pakan E (100% substitusi TCR), dan pakan F (pakan komersial) sebagai pakan kontrol. Hasil dari penelitian ini menunjukkan bahwa udang yang diberi pakan untuk semua perlakuan tidak memberikan pengaruh nyata terhadap pertumbuhan dan laju pertumbuhan harian. Akan tetapi kelompok udang yang diberi pakan F berpengaruh nyata terhadap kelangsungan hidup dibanding dengan perlakuan lainnya. Hasil penelitian ini menyimpulkan bahwa tepung cangkang rajungan dapat digunakan sebagai bahan pakan sumber protein dalam pakan juvenile udang windu. Kata kunci: penggantian bahan, tepung cangkang rajungan, tepung ikan, udang windu

Filter by Year

2002 2025


Filter By Issues
All Issue Vol. 24 No. 2 (2025): Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 24 No. 1 (2025): Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 23 No. 2 (2024): Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 23 No. 1 (2024): Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 22 No. 2 (2023): Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 22 No. 1 (2023): Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 21 No. 2 (2022): Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 21 No. 1 (2022): Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 20 No. 2 (2021): Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 20 No. 1 (2021): Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 19 No. 2 (2020): Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 19 No. 1 (2020): Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 18 No. 2 (2019): Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 18 No. 1 (2019): Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 17 No. 2 (2018): Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 17 No. 1 (2018): Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 16 No. 2 (2017): Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 16 No. 1 (2017): Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 15 No. 2 (2016): Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 15 No. 1 (2016): Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 14 No. 2 (2015): Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 14 No. 1 (2015): Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 13 No. 2 (2014): Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 13 No. 1 (2014): Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 12 No. 2 (2013): Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 12 No. 1 (2013): Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 11 No. 2 (2012): Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 11 No. 1 (2012): Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 10 No. 2 (2011): Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 10 No. 1 (2011): Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 9 No. 2 (2010): Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 9 No. 1 (2010): Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 8 No. 2 (2009): Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 8 No. 1 (2009): Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 7 No. 2 (2008): Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 7 No. 1 (2008): Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 6 No. 2 (2007): Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 6 No. 1 (2007): Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 5 No. 2 (2006): Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 5 No. 1 (2006): Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 4 No. 2 (2005): Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 4 No. 1 (2005): Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 3 No. 3 (2004): Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 3 No. 2 (2004): Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 3 No. 1 (2004): Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 2 No. 2 (2003): Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 2 No. 1 (2003): Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 1 No. 3 (2002): Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 1 No. 2 (2002): Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 1 No. 1 (2002): Jurnal Akuakultur Indonesia More Issue