cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota bogor,
Jawa barat
INDONESIA
Jurnal Hortikultura Indonesia (JHI)
ISSN : 20874855     EISSN : 26142872     DOI : -
Core Subject : Agriculture,
Jurnal Hortikultura Indonesia (JHI) merupakan media untuk publikasi tulisan ilmiah dalam bahasa Indonesia maupun bahasa Inggris yang berkaitan dengan berbagai aspek dalam bidang hortikultura. Jurnal Hortikultura Indonesia (JHI) terbit tiga kali setahun (April, Agustus, dan Desember).
Arjuna Subject : -
Articles 322 Documents
Respons Pertumbuhan Biji Anggrek Dendrobium Edfrans Charming x Dendrobium Deni Erianto terhadap Penambahan Air Rebusan Kentang pada Media Vacin and Went (VW) secara In Vitro: Growth Response of Dendrobium Edfrans Charming x Dendrobium Deni Erianto Orchid Seeds to the Vacin and Went (VW) Media Supple Mented with Potato Boiled Water In Vitro Siswiana Emila; Isda, Mayta Novaliza
Jurnal Hortikultura Indonesia (JHI) Vol. 15 No. 2 (2024): Jurnal Hortikultura Indonesia (JHI)
Publisher : Indonesian Society for Horticulture / Department of Agronomy and Horticulture

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29244/jhi.15.2.84-90

Abstract

Dendrobium merupakan genus anggrek yang paling banyak diminati bagi pecinta anggrek dan memegang peranan penting dalam menghasilkan anggrek hibrida. Anggrek hibrida merupakan anggrek hasil silangan yang menggabungkan karekter–karakter baik dalam satu tanaman sehingga mendapatkan spesies anggrek dengan sifat-sifat unggul yang diinginkan. Metode kultur in vitro adalah salah satu cara yang efektif untuk perbanyakan anggrek. Laju pertumbuhan jaringan tanaman in vitro dapat ditingkatkan dengan penambahan zat-zat organik kompleks seperti air rebusan kentang. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui respons pertumbuhan biji anggrek Dendrobium Edfrans Charming x Dendrobium Deni Erianto terhadap penambahan air rebusan kentang pada media Vacin and Went (VW) secara in vitro, dan menentukan konsentrasi terbaik untuk pertumbuhannya. Penelitian ini menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL) dengan 5 taraf perlakuan air rebusan kentang (0, 50, 100, 150, 200) mL pada media Vacin and Went. Hasil penelitian ini menunjukkan rerata persentase hidup eksplan anggrek sebesar 100%. Berdasarkan hasil pengamatan selama 60 HST terjadi 6 fase pertumbuhan biji. Penambahan air rebusan kentang dengan konsentrasi 200 mL pada media VW memberikan hasil terbaik yang ditandai dengan waktu muncul protokorm tercepat yaitu pada 20.80 HST dan terjadi semua fase pertumbuhan protokorm tercepat dibandingkan perlakuan lainnya. Kata Kunci: air kelapa, Orchidaceae, PLBs, spesies, tunas
Karakter Fenotipe Generasi F1 Hasil Persilangan Hemerocallis spp (Daylily): The Phenotypic Characters of the F1 Generation Derived from Hemerocallis spp Crossing Fibrianty, Eka; Sadli; Euis Rohayati; Ratna Dewi Danyanty
Jurnal Hortikultura Indonesia (JHI) Vol. 15 No. 2 (2024): Jurnal Hortikultura Indonesia (JHI)
Publisher : Indonesian Society for Horticulture / Department of Agronomy and Horticulture

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29244/jhi.15.2.70-76

Abstract

Hemerocallis spp merupakan tumbuhan perenial yang membentuk rumpun dan digunakan secara luas sebagai tanaman lanskap dan bunga pot. Tanaman ini termasuk dalam famili Liliaceae dan memiliki bunga lengkap. Penelitian ini bertujuan untuk melihat keragaman morfologi tanaman F1 hasil persilangan Hemerocallis. Pelaksanaan penelitian dilakukan mulai dari Agustus 2020 hingga Oktober 2021 di kecamatan Cipanas dengan ketinggian tempat 1100 m dpl. Materi tanaman yang digunakan adalah tujuh progeni F1 hasil persilangan antara “After the Fall” (AF) dengan “Happy Return” (HR), yaitu 20.008, 20.012, 20.018, 20.019, 20.021, 20.022, dan 20.024. Rancangan yang digunakan adalah rancangan acak kelompok (RAK). Hasil penelitian menunjukkan terdapat variasi karakter morfologi pada masing-masing progeni baik secara kuantitatif maupun kualitatif. Diameter bunga, panjang petal, panjang sepal, jumlah kuntum, jumlah daun, dan panjang daun menunjukkan karakter yang mendekati karakter tetua jantan (HR). Panjang stamen, lebar petal, dan lebar daun memperlihatkan karakter gabungan kedua tetua persilangan. Warna bunga progeni F1 mendekati tetua betina (AF), sedangkan bentuk bunga yaitu circular, triangular, recurved dan ruffled mengikuti karakter gabungan kedua tetua persilangan. Kata kunci: Famili Liliaceae, karakter morfologi, progeni
The Effect of Drought Stress on Phyllanthin and Quercetin Contents of Green Meniran Plant (Phyllanthus niruri L.): Pengaruh Cekaman Kekeringan terhadap Kandungan Filantin dan Kuersetin Tanaman Meniran Hijau (Phyllanthus niruri L.) Nailulkamal Djamas; Pancoro, Adi; Devy, Lukita; E
Jurnal Hortikultura Indonesia (JHI) Vol. 15 No. 2 (2024): Jurnal Hortikultura Indonesia (JHI)
Publisher : Indonesian Society for Horticulture / Department of Agronomy and Horticulture

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29244/jhi.15.2.112-118

Abstract

Penelitian tentang pengaruh cekaman kekeringan terhadap produksi filantin dan kuersetin pada meniran hijau (Phyllanthus niruri L.) telah dilakukan. Tujuan penelitian yaitu: Menentukan dampak cekaman kekeringan terhadap pertumbuhan vegetatif tanaman meniran hijau dan menentukan taraf kapasitas lapang serta waktu panen yang optimal untuk memperoleh konsentrasi optimal filantin dan kuersetin. Penelitian dilakukan dari September 2021 hingga September 2022 di Laptiab BRIN menggunakan tiga taraf Kapasitas Lapang (KL) (30, 60 dan 100%) dan dua waktu panen (2 dan 4 minggu). Parameter yang diamati adalah parameter morfologi serta kandungan filantin dan kuersetin. Hasil penelitian menunjukkan bahwa cekaman kekeringan dan waktu panen memberikan perbedaan yang nyata pada kandungan filantin dan tidak berbeda nyata pada kandungan kuersetin. Kandungan filantin tertinggi diperoleh pada 100% KL dan waktu panen 4 minggu setelah tanam (MST). Kesimpulan dari penelitian ini adalah: Cekaman kekeringan dapat mengurangi pertumbuhan vegetatif dari tanaman meniran hijau dan untuk memperoleh pertumbuhan vegetatif yang optimal, meniran hijau sebaiknya tidak diberikan cekaman kekeringan; Untuk memperoleh kandungan filantin dari tanaman meniran hijau dengan tingkat kandungan yang paling tinggi, taraf kapasitas lapang dan waktu panen yang optimal adalah pada 100% KL dan waktu panen empat minggu; Kandungan kuersetin dari meniran hijau tidak dipengaruhi secara signifikan oleh perbedaan taraf cekaman kekeringan dan waktu panen. Kata kunci : rekayasa irigasi, pertumbuhan vegetatif tanaman, rekayasa metabolit sekunder, teknik budidaya tanaman obat, waktu panen
Karakterisasi Morfologi Bawang Merah Cekaman Salinitas pada Konsentrasi Letal 20 (LC20) dan 50 (LC50): Morphology Characteristic of Shallots to Salinity Stress at Lethal Concentrations of 20 (LC20) and 50 (LC50) Anugrah, Diana Eureka; Sudjatmiko, Sigit; Marlin, Marlin
Jurnal Hortikultura Indonesia (JHI) Vol. 15 No. 2 (2024): Jurnal Hortikultura Indonesia (JHI)
Publisher : Indonesian Society for Horticulture / Department of Agronomy and Horticulture

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29244/jhi.15.2.100-111

Abstract

Efforts to optimize non-productive soil using saline soil are an important issue related to the salt content that affects the growth and development of salt-sensitive shallots. The morphological response as a form of sensitivity and tolerance of shallot to salinity is considered to be a characteristic of varieties that can be cultivated on refined soil. The objective of the study was to determine the lethal concentration values of 20 and 50 and the morphological response of shallot plants to salinity excretion. The research was carried out at the research was carried out in the greenhouse of the Agricultural Cultivation Department, Faculty of Agriculture, University of Bengkulu, using 2-factor Complete Randomized Block Design. The first factor of concentration of NaCl are S1: 100 mM, S2: 150 mM, S3: 200 mM, and S4: 250 mM. The second factor are shallot varieties V1: Birma Padang, V2: Bauji, V3: Thailand, V4: Tituk, V5: Solok Sakato, V6: Surian, and V7: Batu Ijo Medan, with Wick System hydroponic tray planting methods. The results showed that seven shallots varieties have different LC20 and LC50 values, and morphological characterization showed a decrease in plant height, leaf number, tiller number, root length, shoot fresh weight, root fresh weight, shoot dry weight, and root dry weight.Keywords: NaCl concentration, salt tolerance, tolerant varieties, Wick system hydroponic
Larutan Pulsing dengan Penambahan Gula dan Asam Salisilat Mempertahankan kesegaran dan Kualitas Bunga Matahari Potong: Pulsing Solution with Added Sugar and Salicylic Acid Maintains Freshness and Quality of Cut Sunflowers Dewi Sukma; Amarillis, Shandra; Abdullah Bin Arif
Jurnal Hortikultura Indonesia (JHI) Vol. 13 No. 1 (2022): Jurnal Hortikultura Indonesia
Publisher : Indonesian Society for Horticulture / Department of Agronomy and Horticulture

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29244/jhi.13.1.49-56

Abstract

Bunga matahari merupakan tanaman hias penting dari segi ekonomi. Pemanfaatan bunga matahari sebagai bunga potong perlu mendapatkan penanganan pascapanen yang tepat untuk mempertahankan kualitas dan memperpanjang masa kesegaran bunga selama masa pemasaran dan transportasi. Salah satu teknologi untuk mengatasi masalah tersebut yaitu aplikasi larutan pulsing. Tujuan penelitian yaitu mengetahui jenis larutan pulsing terbaik yang dapat mempertahankan kesegaran dan kualitas bunga matahari potong. Rancangan percobaan yang digunakan dalam penelitian yaitu rancangan acak lengkap (RAL). Larutan pulsing terdiri atas campuran akuades, gula, asam salisilat dan sodium hypochlorite (5.25%). Parameter pengamatan meliputi: diameter bunga (luar dan dalam), jumlah petal bunga yang layu, jumlah petal bunga yang bercak, jumlah petal bunga yang segar dan ukur penurunan volume akuades dari masing-masing botol. Pengamatan tersebut dilakukan pada awal sebelum dan setiap dua hari setelah periode penyimpanan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa perlakuan larutan pulsing yang mengandung akuades + gula 3% + sodium hypochlorite 0.25% + asam salisilat 75 ppm cenderung meningkatkan penyerapan air sehingga dapat mempertahankan kesegaran dan kualitas bunga matahari potong hingga 6 hari setelah dipanen dibandingkan dengan tanaman kontrol. Kata kunci: bunga matahari, bunga potong, larutan pulsing
Anatomi Daun dan Hubungannya terhadap Pertumbuhan Calathea sp. pada Berbagai Jenis Pupuk: The Anatomy of Leaves and Its Relationship to the Growth of Calathea sp. with Various Types of Fertilizers Ramdani, Adrian; Megayani Sri Rahayu; Krisantini
Jurnal Hortikultura Indonesia (JHI) Vol. 15 No. 2 (2024): Jurnal Hortikultura Indonesia (JHI)
Publisher : Indonesian Society for Horticulture / Department of Agronomy and Horticulture

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29244/jhi.15.2.119-125

Abstract

Tanaman calathea memiliki potensi ekonomi sebagai tanaman hias daun karena mempunyai corak dan warna daun yang menarik. Penelitian tentang teknik budidaya perlu dilakukan untuk mendapatkan kualitas tanaman yang baik dengan cara budidaya yang efisien. Penelitian bertujuan untuk mendapatkan informasi tentang karakteranatomi daun dan mendapatkan informasi tentang respon pertumbuhan tanaman terhadap aplikasi pupuk yang berbeda. Penelitian dilaksanakan pada bulan Januari hingga April 2023 di Desa Sukamantri, Kecamatan Tamansari, Kabupaten Bogor menggunakan Rancangan Kelompok Lengkap Teracak (RKLT) dua faktor. Faktor jenis pupuk meliputi empat taraf, yaitu: tanpa pemupukan (P0), pupuk kandang ayam (P1), pupuk slow release (P2), dan pupuk daun (P3), sedangkan faktor jenis calathea terdiri dari Calathea picturata var. Vandenheckei (S1) dan Calathea ornata var. Beauty Star (S2). Pemberian berbagai jenis pupuk tidak berpengaruh terhadap semua peubah yang diamati. Budidaya tanaman calathea tanpa menggunakan pupuk menjadi metode yang efisien. Calathea picturata var. Vandenheckei memiliki laju pertumbuhan tunas, tinggi tanaman, dan kerapatan stomata yang tinggi dibanding Calathea ornata var. Beauty Star. Tidak terdapat hubungan antara anatomi daun dengan laju pertumbuhan calathea akibat pemberian berbagai jenis pupuk. Kata kunci: bunga, tanaman hias, trikoma, tunas
Kebutuhan Air Irigasi Empat Varietas Bawang Merah (Allium cepa L.) pada Musim Kering: Irrigation Water Requirement of Four Shallot Varieties (Allium cepa L.) in Dry Season Aryani, Nabila Syarfina; Santosa, Edi; Zaman, Sofyan; Hapsari, Dhika Prita
Jurnal Hortikultura Indonesia (JHI) Vol. 15 No. 2 (2024): Jurnal Hortikultura Indonesia (JHI)
Publisher : Indonesian Society for Horticulture / Department of Agronomy and Horticulture

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29244/jhi.15.2.77-83

Abstract

Upaya mengembangkan tanaman bawang merah di lahan kering sering menghadapi masalah keterbatasan air. Penelitian bertujuan mengetahui pengaruh varietas bawang merah pada pertumbuhan, hasil, dan kebutuhan air pada musim kering. Penelitian dilakukan di Kebun Percobaan Babakan Sawah Baru, IPB Dramaga, Bogor pada Februari-April 2023. Penelitian menggunakan rancangan acak kelompok dengan faktor tunggal yakni varietas bawang merah (Bima Brebes, Bauji, Tajuk, SS Sakato). Kebutuhan air dihitung dengan pendekatan neraca air, dan pemberian air dilakukan secara manual. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tinggi tanaman, jumlah tunas, daun, dan jumlah umbi, evapotranspirasi, serta kebutuhan air dipengaruhi oleh varietas. Hasil umbi secara statistik sama antar varietas yakni 10.73-13.72 ton ha-1. Varietas dikelompokkan menjadi grup Tajuk dan SS Sakato dengan kebutuhan air 2503.8-2549.3 m3 dan grup Bima Brebes sebesar 2169.7 m3 ha-1, setara dengan 4.17-4.25 mm per hari dan 3.62 mm per hari. Kebutuhan air varietas Bauji berada di antara kedua grup tersebut (2317.4 m3). Hasil penelitian dapat menjadi pedoman pengelolaan air di lahan kering atau antisipasi kekeringan dampak perubahan iklim. Kata kunci: efisiensi penggunaan air, hemat air, perubahan iklim, produktivitas
Pengaruh Limbah Sawit dan NPK terhadap Hasil Pakcoy (Brassica rapa subsp chinensis) menggunakan Media Tanah Berpasir: The Effect of Palm Oil Waste and NPK on Pakcoy (Brassica rapa subsp chinensis) Results Using Sandy Soil Media Saijo; Fahruddin Arfianto; Khodir Abdul Maliki
Jurnal Hortikultura Indonesia (JHI) Vol. 15 No. 2 (2024): Jurnal Hortikultura Indonesia (JHI)
Publisher : Indonesian Society for Horticulture / Department of Agronomy and Horticulture

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29244/jhi.15.2.91-99

Abstract

Pakcoy merupakan sayuran daun yang berasal dari daerah tropis maupun subtropis. Keunggulan pakcoy dibanding sayuran lain adalah memiliki nilai ekonomis tinggi, umur panen singkat, daya adaptasi luas dan hasil panennya tahan lama yaitu sekitar 10 hari dengan demikian sangat prospek dibudidayakan. Tujuan penelitian adalah menganalisis dan menentukan pengaruh interaksi campuran limbah abu boiler dan serabut serta pupuk NPK (2 faktor) terhadap pertumbuhan dan hasil pakcoy. Penelitian menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL) faktorial dua faktor perlakuan dan 3 ulangan. Faktor perlakuan pertama adalah dosis limbah campuran abu boiler dan serabut kelapa sawit sedangkan perlakuan kedua adalah pupuk NPK. Hasil penelitian menunjukan bahwa interaksi perlakuan campuran limbah abu boiler dan serabut serta pupuk NPK berpengaruh sangat nyata terhadap tinggi tanaman, jumlah daun, lebar daun, bobot segar tanaman, bobot segar tajuk, bobot dan indeks panen. Perlakuan terbaik untuk variabel bobot segar tajuk pada pemberian campuran limbah abu boiler dan serabut adalah 19.35 g polybag-1 atau 12 ton ha-1, sedangkan pupuk NPK perlakuan terbaik adalah 0.48 g polybag-1 atau 350 kg ha-1. Kata kunci: limbah abu boiler, serabut, pertumbuhan, hasil
Respons fisiologi dan profile metabolit sekunder Lima Kultivar Rambutan (Nephelium lappaceum L.) terhadap Penambahan Cahaya Buatan LED (Light Emitting Diode): Physiology and Secondary Metabolite Profiles Responses of Five Rambutan Varieties (Nephelium lappaceum L.) through Addition of Artificial Light LED (Light Emitting Diode) Irsyad Maulana; Matra, Deden Derajat; Roedhy Poerwanto
Jurnal Hortikultura Indonesia (JHI) Vol. 13 No. 3 (2022): Jurnal Hortikultura Indonesia
Publisher : Indonesian Society for Horticulture / Department of Agronomy and Horticulture

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29244/jhi.13.3.180-186

Abstract

Rambutan (Nephelium lappaceum L.) is a fruit that is suitable for growing in the tropics area. However, information on physiological responses and secondary metabolite profiles on artificial light treatment has not been reported. This study aims to study the response of rambutan plants to the application of artificial light from LED (Light Emitting Diode). The study was conducted in the screenhouse nursery using a two-factor nested plot design, namely LED as light source and cultivar. The LED light sources used red, blue, and white with application duration for 21 hours while the cultivars used Sikoneng, Parakan, Cilebak, Gravel, and Garuda cultivars. The results showed that rambutan plants that were given additional blue LEDs contained higher chlorophyll and leaf as glucose and fructose compared to another treatments. The results of the secondary metabolite profiles showed the largest Neophytadiene compound found in the Parakan cultivar under LED red treatment. Meanwhile, the compound that has the greatest abundance in white LEDs is 1-Propene, 3-[(4-nitrobutyl)thio]. Keywords: chlorophyll, photosynthesis, glucose, light spectrum, secondary metabolite
Induksi Kalus Amorphophallus titanum (Becc.) Becc. Melalui Kultur In Vitro: Callus Induction of Amorphophallus titanum (Becc.) Becc. Through In Vitro Culture Dannis Yuda Kusuma; Anjar Tri Wibowo; Yosephine Sri Wulan Manuhara
Jurnal Hortikultura Indonesia (JHI) Vol. 15 No. 3 (2024): Jurnal Hortikultura Indonesia (JHI)
Publisher : Indonesian Society for Horticulture / Department of Agronomy and Horticulture

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29244/jhi.15.3.133-139

Abstract

Bunga bangkai raksasa (Amorphophallus titanum (Becc.) Becc. merupakan jenis tumbuhan yang dilindungi. Regenerasi biji di habitat alami sulit dan memerlukan waktu yang lama. Konservasi ex situ dengan kultur in vitro menjadi alternatif pemulihan populasi di habitat alaminya. Tujuan penelitian ini adalah mengetahui jenis eksplan dan zat pengatur tumbuh terbaik untuk menginduksi kalus A. titanum. Jenis eksplan yang digunakan antara lain petiolus, percabangan lamina daun dan lamina daun, sedangkan zat pengatur tumbuh yang digunakan antara lain BAP, CPPU, dan TDZ. Hasil penelitian menunjukkan petiolus yang dikultur secara vertikal mampu menghasilkan kalus lebih banyak dan waktu yang lebih pendek dibandingkan yang dikultur secara horisontal. Eksplan petiolus yang dikultur secara vertikal merupakan eksplan yang menghasilkan kalus terbanyak dan waktu inisiasi tercepat dibandingkan eksplan percabangan lamina daun dan lamina daun. Media MS dengan penambahan TDZ 1 mg L-1 merupakan media terbaik dalam menghasilkan kalus. Waktu inisiasi kalus tercepat diperoleh pada media MS dengan penambahan TDZ 1 mg L-1 dengan eksplan petiolus yang dikultur secara vertikal. Kata kunci: Amorphophallus titanum, petiolus, thidiazuron, zat pengatur tumbuh

Filter by Year

2010 2025


Filter By Issues
All Issue Vol. 16 No. 2 (2025): Jurnal Hortikultura Indonesia (JHI) Vol. 16 No. 1 (2025): Jurnal Hortikultura Indonesia (JHI) Vol. 15 No. 3 (2024): Jurnal Hortikultura Indonesia (JHI) Vol. 15 No. 2 (2024): Jurnal Hortikultura Indonesia (JHI) Vol. 15 No. 1 (2024): Jurnal Hortikultura Indonesia (JHI) Vol. 14 No. 3 (2023): Jurnal Hortikultura Indonesia Vol. 14 No. 2 (2023): Jurnal Hortikultura Indonesia Vol. 14 No. 1 (2023): Jurnal Hortikultura Indonesia Vol. 13 No. 3 (2022): Jurnal Hortikultura Indonesia Vol. 13 No. 2 (2022): Jurnal Hortikultura Indonesia Vol. 13 No. 1 (2022): Jurnal Hortikultura Indonesia Vol. 12 No. 3 (2021): Jurnal Hortikultura Indonesia Vol. 12 No. 2 (2021): Jurnal Hortikultura Indonesia Vol. 12 No. 1 (2021): Jurnal Hortikultura Indonesia Vol. 11 No. 3 (2020): Jurnal Hortikultura Indonesia Vol. 11 No. 2 (2020): Jurnal Hortikultura Indonesia Vol. 11 No. 1 (2020): Jurnal Hortikultura Indonesia Vol. 10 No. 3 (2019): Jurnal Hortikultura Indonesia Vol. 10 No. 2 (2019): Jurnal Hortikultura Indonesia Vol. 10 No. 1 (2019): Jurnal Hortikultura Indonesia Vol. 9 No. 3 (2018): Jurnal Hortikultura Indonesia Vol. 9 No. 2 (2018): Jurnal Hortikultura Indonesia Vol. 9 No. 1 (2018): Jurnal Hortikultura Indonesia Vol. 8 No. 3 (2017): Jurnal Hortikultura Indonesia Vol. 8 No. 2 (2017): Jurnal Hortikultura Indonesia Vol. 8 No. 1 (2017): Jurnal Hortikultura Indonesia Vol. 7 No. 3 (2016): Jurnal Hortikultura Indonesia Vol. 7 No. 2 (2016): Jurnal Hortikultura Indonesia Vol. 7 No. 1 (2016): Jurnal Hortikultura Indonesia Vol. 6 No. 3 (2015): Jurnal Hortikultura Indonesia Vol. 6 No. 2 (2015): Jurnal Hortikultura Indonesia Vol. 6 No. 1 (2015): Jurnal Hortikultura Indonesia Pedoman Penulisan Artikel Jurnal Hortikultura Indonesia Vol. 5 No. 3 (2014): Jurnal Hortikultura Indonesia Vol. 5 No. 2 (2014): Jurnal Hortikultura Indonesia Vol. 5 No. 1 (2014): Jurnal Hortikultura Indonesia Vol. 4 No. 3 (2013): Jurnal Hortikultura Indonesia Vol. 4 No. 2 (2013): Jurnal Hortikultura Indonesia Vol. 4 No. 1 (2013): Jurnal Hortikultura Indonesia Vol. 3 No. 1 (2012): Jurnal Hortikultura Indonesia Vol. 2 No. 1 (2011): Jurnal Hortikultura Indonesia Vol. 1 No. 2 (2010): Jurnal Hortikultura Indonesia Vol. 1 No. 1 (2010): Jurnal Hortikultura Indonesia More Issue