cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota bogor,
Jawa barat
INDONESIA
Jurnal Hortikultura Indonesia (JHI)
ISSN : 20874855     EISSN : 26142872     DOI : -
Core Subject : Agriculture,
Jurnal Hortikultura Indonesia (JHI) merupakan media untuk publikasi tulisan ilmiah dalam bahasa Indonesia maupun bahasa Inggris yang berkaitan dengan berbagai aspek dalam bidang hortikultura. Jurnal Hortikultura Indonesia (JHI) terbit tiga kali setahun (April, Agustus, dan Desember).
Arjuna Subject : -
Articles 322 Documents
Pengaruh Ketinggian AB Mix Terhadap Pertumbuhan Caisim Menggunakan Modifikasi Hidroponik Sistem Wick: The Effect of AB Mix Height on the Growth of Caisim Using the Modified Hydroponic Wick System Nurhangga, Eka; Bidara, Irna Surya; Himawati, Siti; Aprianti, Rina; Devy, Lukita; Pitono, Joko; Taulabi, Darwin
Jurnal Hortikultura Indonesia (JHI) Vol. 15 No. 1 (2024): Jurnal Hortikultura Indonesia (JHI)
Publisher : Indonesian Society for Horticulture / Department of Agronomy and Horticulture

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29244/jhi.15.1.16-22

Abstract

Salah satu faktor penting dalam budidaya tanaman secara hidroponik adalah pemberian nutrisi AB mix dengan konsentrasi dan debit yang sesuai. Pemberian dan pengontrolan ketinggian nutrisi tersebut dapat menggunakan modifikasi alat sistem wick yang dirancang berdasarkan beberapa tingkat ketinggian nutrisi. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh tingkat ketinggian nutrisi AB mix terhadap pertumbuhan caisim. Penelitian dilaksanakan pada Agustus hingga September 2023 di rumah kaca BSIP Kementerian Pertanian, Cimanggu, Bogor. Rancangan yang digunakan adalah Rancangan Acak Lengkap (RAL) dengan satu faktor yaitu tingkat ketinggian nutrisi AB mix dengan 3 taraf: 2 cm (N1), 3 cm (N2), dan 4 cm (N3) serta menggunakan 6 ulangan. Hasil uji ANOVA menunjukkan bahwa tidak ada pengaruh ketinggian nutrisi terhadap tinggi tanaman, jumlah daun, dan lebar daun pada semua umur pengamatan. Namun, ketinggian nutrisi berpengaruh nyata terhadap panjang akar tanaman caisim yaitu pada perlakuan N1 (18.26 cm) memiliki rerata panjang akar tertinggi dibandingkan perlakuan N2 (14.54 cm) dan N3 (13.77 cm). Hasil tersebut menjelaskan bahwa semakin rendah tingkat ketinggian nutrisi, maka akar tanaman semakin panjang. Kata kunci: brassicaceae, hidroponik statis, ketinggian air, konsentrasi nutrisi, pertumbuhan tanaman
Evaluasi Rizobakteri Indigenous Gayo Lues sebagai PGPR Terhadap Pertumbuhan dan Hasil Nilam Aceh: Evaluation of Gayo Lues Indigenous Rhizobacteria as a PGPR on The Growth and Yield of Achenese Patchouli Halimursyadah; Trisda Kurniawan; Marisa, Rika
Jurnal Hortikultura Indonesia (JHI) Vol. 15 No. 1 (2024): Jurnal Hortikultura Indonesia (JHI)
Publisher : Indonesian Society for Horticulture / Department of Agronomy and Horticulture

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29244/jhi.15.1.33-41

Abstract

Rizobakteri adalah kelompok mikroorganisme yang aktif dan agressif mengkolonisasi area rizosfir dan berperan sebagai pemacu pertumbuhan tanaman. Tanaman nilam (Pogostemon cablin Benth.) merupakan salah satu tanaman penghasil minyak atsiri yang dikenal dengan nama minyak nilam (Patchouly oil). Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui interaksi antara perlakuan jenis isolat rizobakteri indigenous dengan varietas terhadap pertumbuhan dan hasil tanaman nilam Aceh. Penelitian ini dilaksanakan di Laboratorium Ilmu dan Teknologi Benih, Jurusan Agroteknologi, Fakultas Pertanian dan Nino Park Universitas Syiah Kuala, Darussalam, Banda Aceh, Aceh. Penelitian ini menggunakan Rancangan Acak Kelompok (RAK) pola faktorial 7x3 dengan 3 ulangan. Faktor yang diteliti yaitu 7 jenis isolat rizobakteri (Tanpa Rizobakteri, PG 5/1, PG 5/3 P, PG 6/2, PG 7/3 C, PG 8/1, dan PG 9/2 C) dan 3 jenis varietas nilam (Sidikalang, Lhokseumawe, dan Tapak Tuan). Hasil penelitian menunjukkan interaksi yang sangat nyata antara perlakuan rizobakteri dengan jenis varietas terhadap parameter tinggi tanaman 8 dan 12 MSA, jumlah daun 4, 8, dan 12 MSA, jumlah cabang 8 dan 12 MSA, bobot biomassa basah, bobot biomassa kering angin, dan berpengaruh nyata terhadap parameter tinggi tanaman dan jumlah cabang 4 MSA. Pertumbuhan dan hasil varietas Sidikalang yang terbaik menggunakan isolat rizobakteri PG 9/2 C, varietas Lhokseumawe yang terbaik menggunakan isolat rizobakteri PG 6/2, dan varietas Tapak Tuan yang terbaik menggunakan isolat rizobakteri PG 8/1 berdasarkan parameter bobot biomassa kering angin. Kata Kunci: Biofertilizer, Biomassa Kering, Biostimulan
Pematahan Dormansi Benih Selada menggunakan Konsentrasi Benzyladenine dan Penyinaran yang Berbeda: Lettuce Seed Dormancy Breaking using Different Radiation and Benzyladenine Concentration Fariroh, Indri; Tri Handoyo; Riza Yuli Rusdiana
Jurnal Hortikultura Indonesia (JHI) Vol. 15 No. 1 (2024): Jurnal Hortikultura Indonesia (JHI)
Publisher : Indonesian Society for Horticulture / Department of Agronomy and Horticulture

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29244/jhi.15.1.1-7

Abstract

Secondary dormancy in lettuce seeds which is triggered by high temperatures and darkness is caused low germination in nurseries. This issue must be solved to obtain high-quality seeds. The experimental design used factorial randomized complete block design, i.e., 6-benzyladenine concentration (0, 0.05, 0.1, 0.5, 1 mM) and radiation treatment (light, dark, red light 1, 2, 3 hours) with 3 replicates. The lettuce varieties used Grand Rapids (GR) and Ava Red (AR). The parameters observed were the percentage of seed germination (SG), seed vigor index (SVI), seed growth rate (SGR), and fresh seed that did not grow (FSdnG). Data were analyzed using ANOVA, the treatment which showed significant effect further tested using Duncan Multiple Range Test at α = 5%. The result showed that GR seed without BA soaking resulted in higher SG (39.20%), SVI (26.13%), SGR (12.04%), also lower FSdnG (6.13%). The highest percentage of SVI in GR seed was reported on light treatment (26.93%). Radiation of red light for 1 hour without seed soaking in BA produced higher SG (76%) and SGR (29.98%) in Ava Red. The highest percentage of SVI in Ava Red was obtained from seeds without soaking in BA (53.33%) and germinated in light conditions (34.93%).Keywords: BAP, photodormancy, red light, skotodormancy
Pelilinan untuk Peningkatan Kualitas Cabai Rawit Varietas Lokal Garut dan Ori 212 pada Penyimpanan Suhu Rendah: Wax Application for Quality Improvement of of Cayenne Pepper Varieties Lokal Garut and Ori 212 at Low-Temperature Storage Erlin Vira Novianti; Efendi, Darda; Endang Gunawan
Jurnal Hortikultura Indonesia (JHI) Vol. 14 No. 3 (2023): Jurnal Hortikultura Indonesia
Publisher : Indonesian Society for Horticulture / Department of Agronomy and Horticulture

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29244/jhi.14.3.169-176

Abstract

Cabai rawit memiliki umur simpan yang singkat, maka perlu penanganan pasca panen yang dapat memperpanjang umur simpan dan mempertahankan mutu cabai rawit, diantaranya adalah dengan pelilinan menggunakan bahan yang aman dikonsumsi seperti lilin lebah, lilin karnauba, dan kitosan. Penelitian bertujuan mengetahui konsentrasi dari masing-masing bahan pelapis yang efektif memperpanjang masa simpan dan mempertahankan mutu buah dengan penyimpanan suhu rendah. Penelitian menggunakan Rancangan Acak Kelompok (RAK) faktor tunggal yaitu konsentrasi bahan pelapis. Pengamatan yang dilakukan terdiri dari pengamatan destruktif meliputi pengukuran kadar air pada awal sebelum perlakuan dan pengamatan non-destruktif meliputi pengukuran susut bobot, kualitas visual buah, kemunculan gejala penyakit, pembusukan buah, dan buah kering. Hasil penelitian menunjukkan pelilinan diikuti dengan penyimpanan pada suhu rendah dapat menekan susut bobot, mempertahankan kualitas visual, serta menghambat kemunculan gejala penyakit. Cabai rawit varietas lokal Garut dengan pelilinan lilin lebah 0.5%, lilin karnauba 0.5%, dan kitosan 1.5% serta cabai rawit varietas ori 212 dengan lilin lebah 0.5%, lilin karnauba 1.5%, dan kitosan 2% yang disimpan pada suhu rendah mampu mempertahankan kualitas buah selama 30 hari. Kata kunci: cabai rawit, pasca panen, pelilinan, penyimpanan
Pengembangan Metode Uji Cepat Vigor Benih Kacang Panjang (Vigna sinensis L.) melalui Pemunculan Radikula menggunakan Pengolahan Citra Digital: The Development of a Rapid Seed Vigor Testing Method for Long Bean (Vigna sinensis L.) through Radicle Emergence utilizing Digital Image Processing Nurhasanah, Farina; Ilyas, Satriyas; Qadir, Abdul; Retno Palupi, Endah; Zamzami, Ahmad; Diaguna, Ridwan; Budiman, Candra
Jurnal Hortikultura Indonesia (JHI) Vol. 15 No. 1 (2024): Jurnal Hortikultura Indonesia (JHI)
Publisher : Indonesian Society for Horticulture / Department of Agronomy and Horticulture

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29244/jhi.15.1.42-48

Abstract

Uji pemunculan radikula adalah metode alternatif yang menjanjikan untuk pengujian vigor benih secara cepat. Pengolahan citra digital merupakan suatu teknologi yang dapat digunakan dalam identifikasi mutu benih menggunakan metode pemunculan radikula yang lebih akurat dan waktu yang efisien. Penelitian bertujuan mengembangkan metode uji cepat vigor benih yang lebih efisien dan akurat dengan metode pemunculan radikula menggunakan pengolahan citra digital pada benih kacang panjang (Vigna sinensis L.). Penelitian dilakukan di Laboratorium Fisiologi dan Kesehatan Benih, Departemen Agronomi dan Hortikultura, Fakultas Pertanian, Institut Pertanian Bogor, pada bulan Oktober 2023 hingga Januari 2024. Penelitian menggunakan rancangan kelompok lengkap teracak satu faktor dengan empat ulangan sebagai kelompok. Penelitian menggunakan sepuluh varietas benih kacang panjang dan pengamatan uji pemunculan radikula dilakukan mulai jam ke 46 hingga jam ke 58 setelah tanam. Penelitian ini menemukan bahwa pengolahan citra digital dapat digunakan secara efektif pada uji pemunculan radikula untuk pengujian vigor benih kacang panjang. Uji pemunculan radikula berkorelasi kuat positif dengan tolok ukur daya berkecambah, indeks vigor, dan kecepatan tumbuh, serta berkorelasi kuat negatif dengan tolok ukur rataan waktu perkecambahan. Periode perkecambahan paling cepat dan tepat yang dapat digunakan untuk pengujian uji pemunculan radikula minimal 2 mm adalah 52 jam pada suhu 25 ± 2. Uji kemunculan radikula sebagai metode dapat diandalkan dan efisien untuk pengujian vigor benih kacang panjang, terutama jika dikombinasikan dengan teknologi pengolahan citra digital. Kata kunci: cekaman salinitas, ImageJ, indeks vigor, kecepatan tumbuh, korelasi
Edible Coating Berbasis Kitosan dengan Penambahan Minyak Sereh dalam Memperpanjang Masa Simpan Buah Belimbing: Chitosan-Based Edible Coating with Lemongrass Oil Addition in Extending the Shelf Life of Starfruit Sumiasih, Inanpi Hidayati; Shavira Noer Shanaz; Aziz Natawijaya
Jurnal Hortikultura Indonesia (JHI) Vol. 13 No. 3 (2022): Jurnal Hortikultura Indonesia
Publisher : Indonesian Society for Horticulture / Department of Agronomy and Horticulture

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29244/jhi.13.3.163-170

Abstract

Starfruit belongs to the category with non-climacteric respiration patterns and is prone to perishability. Efforts to inhibit the decline in quality in both physical and chemical changes involve using edible coatings and low-temperature storage. This study aims to determine the optimal concentration of edible coating materials in maintaining the quality and shelf life of starfruit. The research was conducted from July to December 2019, at the Taman Buah Mekarsari, Bogor, West Java, and the Postharvest Laboratory of IPB. The study employed a Randomized Complete Block Design (RCBD) with two factors. The first factor was starfruit varieties consisting of two levels, Malaya and Dewi. The second factor was the edible coating consisting of five levels: without edible coating (control); chitosan 1.0% + 0.1% lemongrass oil; chitosan 1.0% + 0.2% lemongrass oil; 0.1% lemongrass oil; and 0.2% lemongrass oil. Storage was conducted at a low temperature of 15 °C. The results showed that Malaya and Dewi starfruit varieties treated with edible coating chitosan 1.0% + 0.1% lemongrass oil and control stored at 15 °C could maintain the taste and appearance of starfruit for up to 10 days after treatment. Keywords: anthocyanin, carotenoid, fruit quality, postharvest
Inisiasi Kultur Tunas Melon IPB M23 In Vitro menggunakan Dua Jenis Eksplan dengan Kombinasi IAA dan BAP: In Vitro Shoot Cultures Initiation of IPB M23 Melon by Using Two Types of Explants with Combination of IAA and BAP Sukma, Dewi; Syilvia Nosya Pratama; Willy Bayuardi Suwarno
Jurnal Hortikultura Indonesia (JHI) Vol. 13 No. 3 (2022): Jurnal Hortikultura Indonesia
Publisher : Indonesian Society for Horticulture / Department of Agronomy and Horticulture

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29244/jhi.13.3.156-162

Abstract

Perbanyakan bibit melon secara secara in vitro menghasilkan bibit yang bebas patogen, seragam, true to type yang dapat diperoleh dalam jumlah yang banyak dengan cepat. Penelitian ini bertujuan menentukan kombinasi IAA dan BAP yang optimal untuk inisiasi kultur tunas melon in vitro. Penelitian ini dilaksanakan pada bulan Januari-Juli 2018, menggunakan rancangan kelompok lengkap teracak tiga faktor dengan 6 ulangan. Faktor pertama adalah tiga taraf IAA yaitu 0.0, 0.25, dan 0.5 ppm, faktor kedua adalah empat taraf BAP yaitu 0.0, 1.0, 1.5, dan 2.0 ppm, dan faktor ketiga adalah jenis eksplan yaitu pucuk dan buku. Faktor tunggal (IAA, BAP, jenis eksplan) berpengaruh nyata terhadap jumlah tunas dan daun, interaksi dua atau 3 faktor tidak berpengaruh nyata terhadap jumlah tunas dan daun, kecuali interaksi IAA dan BAP berpengaruh nyata terhadap jumlah akar. Eksplan pucuk menghasilkan tunas yang lebih banyak dibandingkan buku. Hasil analisis regresi menunjukkan bahwa pengaruh BAP cenderung membentuk pola kuadratik positif terhadap peubah jumlah tunas dan jumlah daun, namun linier negatif dengan peubah jumlah akar. Perlakuan yang optimal untuk multiplikasi tunas adalah BAP 1.0 ppm tanpa penambahan IAA. Konsentrasi IAA dan BAP yang makin tinggi menginduksi pembentukan kalus dan menekan pertumbuhan tunas. Kata kunci: auksin, buku, kalus, sitokinin, tunas apikal
Keragaan dan Produksi Empat Aksesi Katuk (Sauropus androgynus (L.) Merr) dari Sentra Produksi Sayuran Daun, Kecamatan Cibungbulang, Kabupaten Bogor: Performance and Production of Four Katuk (Sauropus androgynus (L.) Merr) Accession from Leafy Vegetable Center, Cibungbulang District, Bogor Regency Kartika, Juang Gema; Siti Nabila Nur Safha; Ani Kurniawati
Jurnal Hortikultura Indonesia (JHI) Vol. 13 No. 3 (2022): Jurnal Hortikultura Indonesia
Publisher : Indonesian Society for Horticulture / Department of Agronomy and Horticulture

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29244/jhi.13.3.148-155

Abstract

Sauropus androgynus (L.) Merr atau katuk merupakan salah satu sayuran indigenous yang terkenal memiliki banyak manfaat, salah satunya pelancar ASI. Tujuan penelitian ini adalah mengetahui keragaan dan tanggap produksi daun katuk berdasarkan aksesi yang berbeda yang berasal dari sentra produksi sayuran daun, Kecamatan Cibungbulang, Kabupaten Bogor, Jawa Barat. Percobaan dilaksanakan bulan Juli- September 2020 di Kebun Percobaan Leuwikopo, Departemen Agronomi dan Hortikultura, Fakultas Pertanian, Institut Pertanian Bogor. Percobaan dilakukan menggunakan Rancangan Kelompok Lengkap Teracak (RKLT) satu faktor perlakuan yaitu aksesi dengan 3 ulangan. Terdapat empat aksesi yang memiliki keragaan morfologi berbeda pada sentra produksi, dan diberi kode aksesi 1, 2, 3 dan 4. Hasil percobaan menunjukkan aksesi 2 dan aksesi 3 memberikan hasil terbaik pada peubah pertumbuhan dan produksi tanaman. Hasil analisis gerombol membagi 4 aksesi menjadi 3 kelompok pada jarak cophentic 0.4. Kelompok pertama yaitu aksesi 1, kelompok kedua yaitu aksesi 2, dan kelompok ketiga yaitu aksesi 3 dan aksesi 4. Kata kunci: analisis gerombol, analisis komponen utama, dendogram, sayuran indigenous, setek
Efektivitas Berbagai Larutan Penyimpan terhadap Umur Simpan Hydrangea macrophylla: Effectivity of Several Holding Solutions on Hydrangea macrophylla’s Vase Life Elke Camelia Halim; Suketi, Ketty; Krisantini; Muthi’ah Khairun Nisa
Jurnal Hortikultura Indonesia (JHI) Vol. 13 No. 3 (2022): Jurnal Hortikultura Indonesia
Publisher : Indonesian Society for Horticulture / Department of Agronomy and Horticulture

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29244/jhi.13.3.171-179

Abstract

Hydrangea sebagai bunga potong memiliki umur simpan yang relatif lebih singkat dibandingkan dengan bunga lainnya. Salah satu perlakuan pascapanen yang dapat dilakukan adalah penggunaan larutan penyimpan. Penelitian bertujuan mengetahui larutan penyimpan yang dapat memperpanjang umur simpan bunga hortensia menggunakan larutan komersial (Chrysal dan Floralife) serta larutan buatan berupa kombinasi asam sitrat dan sukrosa. Penelitian dilakukan pada bulam Oktober sampai Desember 2020. Percobaan perlakuan pascapanen dilakukan di Ruang Kuliah Leuwikopo 1-B, Departemen Agronomi dan Hortikultura, Fakultas Pertanian, Institut Pertanian Bogor, dengan menggunakan bunga Hydrangea macrophylla yang diperoleh dari kebun komersial di Ciloto, Jawa Barat. Penelitian menggunakan rancangan acak lengkap (RAL) dengan faktor tunggal berupa larutan penyimpan yang terdiri atas akudes (P0), Chrysal (P1), Floralife (P2) serta kombinasi asam sitrat 300 ppm dan sukrosa 3% (P3) dengan 5 ulangan sehingga terdapat 20 satuan percobaan. Pengamatan umur simpan dilakukan setiap hari dan ditentukan berdasarkan lama bunga menjadi layu. Hasil penelitian menunjukkan bahwa larutan penyimpan buatan dengan kombinasi asam sitrat 300 ppm dan sukrosa 3% memiliki efektivitas penggunaan larutan yang sama terhadap larutan penyimpan komersial, khususnya pada umur simpan dan warna bunga. Bunga Hydrangea macrophylla rata-rata mampu bertahan hingga 8.4 hari dengan warna bunga yang tetap pada jangkauan biru hingga akhir penelitian. Kata kunci: asam sitrat, bunga potong, kesegaran bunga, tanaman hias, sukrosa
Pertumbuhan dan Produksi Bawang Merah (Allium ascalonicum L.) pada Berbagai Jarak Tanam dan Dosis Pupuk NPKMg: Growth and Production of Shallot (Allium ascalonicum L.) at Various Planting Space and Fertilizers Dose of NPKMg Afaf, Sausanil; Suwarto; Abdul Qadir; Awang Maharijaya
Jurnal Hortikultura Indonesia (JHI) Vol. 15 No. 2 (2024): Jurnal Hortikultura Indonesia (JHI)
Publisher : Indonesian Society for Horticulture / Department of Agronomy and Horticulture

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29244/jhi.15.2.62-69

Abstract

Bawang merah (Allium ascalonicum L.) merupakan komoditas strategis di Indonesia. Kebutuhan yang terus meningkat sehingga produksinya perlu ditingkatkan. Faktor penentu produksi diantaranya adalah jarak tanam dan pemupukan. Tujuan dari penelitian ini adalah menentukan jarak tanam dan dosis pemupukan NPKMg yang tepat untuk tanaman bawang merah. Percobaan disusun secara faktorial dalam Rancangan Kelompok Lengkap Teracak dengan 3 ulangan menggunakan varietas SS-Sakato. Faktor pertama adalah jarak tanam yaitu 10 cm x 10 cm, 10 cm x 15 cm, 15 cm x 15 cm, dan 15 cm x 20 cm. Faktor kedua adalah dosis pupuk NPKMg (10:12:17:2) yaitu 200, 400, 600, dan 800 kg ha-1. Jarak tanam 10 cm x 15 cm menghasilkan luas daun, jumlah umbi dan bobot basah umbi per rumpun, hasil ubinan dan produktivitas lebih tinggi dibandingkan jarak tanam 10 cm x 10 cm, 15 cm x 15 cm, dan 15 cm x 20 cm. Laju transpirasi tertinggi juga dihasilkan dari jarak tanam 10 cm x 15 cm untuk semua dosis pupuk NPKMg (10:12:17:2), kecuali 400 kg ha-1. Peningkatan dosis pemupukan pada rentang 200 - 800 kg NPKMg (10:12:17:2) tidak meningkatkan pertumbuhan dan hasil umbi karena kandungan N rendah (20 – 80 kg ha-1) sehingga perlu tambahan pupuk tunggal sumber N. Kata kunci: bobot umbi, jumlah umbi, NPKMg, SS-Sakato

Filter by Year

2010 2025


Filter By Issues
All Issue Vol. 16 No. 2 (2025): Jurnal Hortikultura Indonesia (JHI) Vol. 16 No. 1 (2025): Jurnal Hortikultura Indonesia (JHI) Vol. 15 No. 3 (2024): Jurnal Hortikultura Indonesia (JHI) Vol. 15 No. 2 (2024): Jurnal Hortikultura Indonesia (JHI) Vol. 15 No. 1 (2024): Jurnal Hortikultura Indonesia (JHI) Vol. 14 No. 3 (2023): Jurnal Hortikultura Indonesia Vol. 14 No. 2 (2023): Jurnal Hortikultura Indonesia Vol. 14 No. 1 (2023): Jurnal Hortikultura Indonesia Vol. 13 No. 3 (2022): Jurnal Hortikultura Indonesia Vol. 13 No. 2 (2022): Jurnal Hortikultura Indonesia Vol. 13 No. 1 (2022): Jurnal Hortikultura Indonesia Vol. 12 No. 3 (2021): Jurnal Hortikultura Indonesia Vol. 12 No. 2 (2021): Jurnal Hortikultura Indonesia Vol. 12 No. 1 (2021): Jurnal Hortikultura Indonesia Vol. 11 No. 3 (2020): Jurnal Hortikultura Indonesia Vol. 11 No. 2 (2020): Jurnal Hortikultura Indonesia Vol. 11 No. 1 (2020): Jurnal Hortikultura Indonesia Vol. 10 No. 3 (2019): Jurnal Hortikultura Indonesia Vol. 10 No. 2 (2019): Jurnal Hortikultura Indonesia Vol. 10 No. 1 (2019): Jurnal Hortikultura Indonesia Vol. 9 No. 3 (2018): Jurnal Hortikultura Indonesia Vol. 9 No. 2 (2018): Jurnal Hortikultura Indonesia Vol. 9 No. 1 (2018): Jurnal Hortikultura Indonesia Vol. 8 No. 3 (2017): Jurnal Hortikultura Indonesia Vol. 8 No. 2 (2017): Jurnal Hortikultura Indonesia Vol. 8 No. 1 (2017): Jurnal Hortikultura Indonesia Vol. 7 No. 3 (2016): Jurnal Hortikultura Indonesia Vol. 7 No. 2 (2016): Jurnal Hortikultura Indonesia Vol. 7 No. 1 (2016): Jurnal Hortikultura Indonesia Vol. 6 No. 3 (2015): Jurnal Hortikultura Indonesia Vol. 6 No. 2 (2015): Jurnal Hortikultura Indonesia Vol. 6 No. 1 (2015): Jurnal Hortikultura Indonesia Pedoman Penulisan Artikel Jurnal Hortikultura Indonesia Vol. 5 No. 3 (2014): Jurnal Hortikultura Indonesia Vol. 5 No. 2 (2014): Jurnal Hortikultura Indonesia Vol. 5 No. 1 (2014): Jurnal Hortikultura Indonesia Vol. 4 No. 3 (2013): Jurnal Hortikultura Indonesia Vol. 4 No. 2 (2013): Jurnal Hortikultura Indonesia Vol. 4 No. 1 (2013): Jurnal Hortikultura Indonesia Vol. 3 No. 1 (2012): Jurnal Hortikultura Indonesia Vol. 2 No. 1 (2011): Jurnal Hortikultura Indonesia Vol. 1 No. 2 (2010): Jurnal Hortikultura Indonesia Vol. 1 No. 1 (2010): Jurnal Hortikultura Indonesia More Issue