cover
Contact Name
Muhamad Suhardi
Contact Email
jurnalp4i@gmail.com
Phone
+6285239967417
Journal Mail Official
Jurnalp4i@gmail.com
Editorial Address
Lingkungan Handayani, Kel. Leneng, kec. Praya, Kab. Lombok Tengah, Nusa Tenggara Barat
Location
Unknown,
Unknown
INDONESIA
SECONDARY : Jurnal Inovasi Pendidikan Menengah (JIPM)
ISSN : 27748022     EISSN : 27745791     DOI : -
Core Subject : Education,
SECONDARY: Jurnal Inovasi Pendidikan Menengah (JIPM) terbit 4 (Empat) kali setahun pada bulan Januari, April, Juli dan Oktober, berisi tulisan/artikel hasil pemikiran dan hasil penelitian yang ditulis oleh para guru, dosen, pakar, ilmuwan, praktisi, dan pengkaji dalam smua disiplin ilmu yang berkaitan dengan Pendidikan Menengah.
Arjuna Subject : Umum - Umum
Articles 256 Documents
PERSEPSI SISWA DALAM PENGGUNAAN MEDIA SOSIAL TIK TOK TERHADAP EMPATI SOSIAL DI SMA NEGERI Modeong, Fauzan; Wantu, Asmun W.; Adhani, Yuli
SECONDARY: Jurnal Inovasi Pendidikan Menengah Vol. 5 No. 3 (2025)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/secondary.v5i3.6323

Abstract

This study aims to explore students' perceptions of the use of the social media platform TikTok in relation to social empathy at SMA Negeri 6 Gorontalo. A descriptive qualitative approach was employed, with data collected through observation, in-depth interviews, and documentation. The research subjects consisted of six students from three different grade levels and one subject teacher. The findings reveal that students generally hold positive perceptions of TikTok, particularly regarding content that conveys humanitarian values, such as inspirational stories, personal experiences, and humanitarian-themed videos. TikTok is considered capable of fostering students' social empathy through four dimensions: perspective taking, fantasy, empathic concern, and personal distress. Both internal factors, such as personal interest, and external factors, such as the platform's algorithm, influence students' perceptions and empathic responses. Therefore, TikTok can serve as an effective medium for social learning when used wisely, accompanied by guidance from teachers and parents to direct content consumption toward fostering social awareness among adolescents. ABSTRAKPenelitian ini bertujuan untuk mengetahui persepsi siswa terhadap penggunaan media sosial TikTok dalam hubungannya dengan empati sosial di SMA Negeri 6 Gorontalo. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif dengan teknik pengumpulan data melalui observasi, wawancara mendalam, dan dokumentasi. Subjek penelitian terdiri atas enam siswa dari tiga jenjang kelas serta satu guru mata pelajaran. Hasil penelitian menunjukkan bahwa siswa memiliki persepsi positif terhadap TikTok, khususnya terhadap konten yang memuat nilai-nilai kemanusiaan, seperti kisah inspiratif, pengalaman pribadi, dan video kemanusiaan. TikTok dinilai mampu membentuk empati sosial siswa melalui empat aspek, yaitu perspective taking, fantasy, empathic concern, dan personal distress. Faktor internal seperti ketertarikan pribadi serta faktor eksternal seperti algoritma platform turut memengaruhi persepsi dan respons empatik siswa. Dengan demikian, TikTok dapat menjadi media pembelajaran sosial yang efektif apabila digunakan secara bijak, disertai pendampingan dari guru dan orang tua untuk mengarahkan konten yang ditonton agar mendukung tumbuhnya kepedulian sosial di kalangan remaja.
PERAN GURU PPKN DALAM MENGATASI TIPOLOGI PELANGGARAN TATA TERTIB SEKOLAH DI SMP NEGERI Dumrah, Devi Triana; Wantu, Asmun W.; Adhani, Yuli
SECONDARY: Jurnal Inovasi Pendidikan Menengah Vol. 5 No. 3 (2025)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/secondary.v5i3.6325

Abstract

This study aims to explore the role of Civics Education (PPKn) teachers in addressing various types of disciplinary violations at SMP Negeri 3 Gorontalo. School rules serve as the foundation for shaping students’ character and instilling discipline. However, in practice, various violations still occur, such as tardiness, fighting, truancy, and breaches of communication ethics. This research employs a descriptive qualitative approach with data collected through observation, in-depth interviews, and documentation. The research subjects include PPKn teachers and students involved in disciplinary cases. The findings reveal that PPKn teachers play a strategic role as educators, mentors, motivators, and role models in enforcing school rules. Teachers not only deliver Pancasila values in classroom instruction but also provide guidance through both individual and group approaches. They strive to build students’ awareness of the importance of rule compliance through exemplary behavior and persuasive communication. Thus, PPKn teachers make a significant contribution to fostering a culture of order in schools and creating a safe, comfortable, and conducive learning environment. ABSTRAKPenelitian ini bertujuan untuk mengkaji secara mendalam peran guru Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan (PPKn) dalam mengatasi berbagai tipologi pelanggaran tata tertib di SMP Negeri 3 Gorontalo. Tata tertib sekolah berfungsi sebagai landasan pembentukan karakter dan perilaku disiplin siswa. Namun, dalam praktiknya, masih ditemukan berbagai bentuk pelanggaran seperti keterlambatan, perkelahian, bolos, hingga pelanggaran etika komunikasi. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif dengan teknik pengumpulan data melalui observasi, wawancara mendalam, dan dokumentasi. Subjek penelitian terdiri atas guru PPKn dan siswa yang terlibat dalam kasus pelanggaran. Hasil penelitian menunjukkan bahwa guru PPKn menjalankan peran strategis sebagai pengajar, pembimbing, motivator, dan teladan dalam proses penegakan tata tertib. Guru tidak hanya menyampaikan nilai-nilai Pancasila dalam pembelajaran, tetapi juga memberikan pembinaan melalui pendekatan individual maupun kelompok. Guru juga berupaya membangun kesadaran siswa tentang pentingnya kepatuhan terhadap aturan melalui keteladanan dan komunikasi yang persuasif. Dengan demikian, guru PPKn memiliki kontribusi besar dalam menciptakan budaya tertib di sekolah serta mendukung terciptanya lingkungan belajar yang aman, nyaman, dan kondusif.
ANALISIS PERAN KEPALA SEKOLAH DALAM IMPLEMENTASI KURIKULUM MERDEKA DI SEKOLAH SMA NEGERI Solihatussajida, Lisani Yanuarti; Adri, Helmi Tasti; Maryani, Novi
SECONDARY: Jurnal Inovasi Pendidikan Menengah Vol. 5 No. 3 (2025)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/secondary.v5i3.6333

Abstract

The principal plays a central role in the successful implementation of the Merdeka Belajar Curriculum as part of educational transformation at the school level. This study aims to explore in depth the role of the principal in implementing the curriculum at SMAN 1 Cicurug, including the supporting and inhibiting factors that influence the process. A descriptive qualitative approach was employed, using data collection techniques such as field observation, in-depth interviews, and documentation. The results indicate that the principal actively functions as an educator, supervisor, and strategic leader in facilitating the school's adaptation to the new curriculum. These efforts are reflected through teacher training programs, regular supervision, and the provision of learning infrastructure. The principal also fosters strong communication with teachers through scheduled meetings to evaluate the implementation progress. Nevertheless, several challenges remain, particularly related to teachers' limited understanding of differentiated instruction and the lack of parental involvement. Overall, the leadership demonstrated by the principal of SMAN 1 Cicurug is considered effective, supported by school-wide collaboration and responsive educational policy frameworks. ABSTRAKKepala sekolah memegang peran sentral dalam keberhasilan implementasi Kurikulum Merdeka sebagai wujud transformasi pendidikan di satuan sekolah. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji secara mendalam peran kepala sekolah dalam pelaksanaan Kurikulum Merdeka di SMAN 1 Cicurug, termasuk faktor pendukung dan penghambat yang memengaruhi proses tersebut. Metode penelitian yang digunakan adalah pendekatan kualitatif deskriptif, dengan teknik pengumpulan data melalui observasi lapangan, wawancara mendalam, dan dokumentasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kepala sekolah berperan aktif sebagai pendidik, supervisor, dan pemimpin strategis dalam mendorong adaptasi kurikulum baru. Upaya tersebut diwujudkan melalui pelaksanaan pelatihan guru, supervisi rutin, serta fasilitasi sarana dan prasarana pendukung pembelajaran. Kepala sekolah juga menjalin komunikasi intensif dengan guru melalui pertemuan berkala guna mengevaluasi progres implementasi. Meskipun demikian, tantangan tetap dihadapi, seperti keterbatasan pemahaman guru terhadap pendekatan pembelajaran berdiferensiasi serta kurangnya keterlibatan orang tua. Secara keseluruhan, kepemimpinan kepala sekolah di SMAN 1 Cicurug dinilai berjalan optimal berkat kolaborasi antarwarga sekolah dan dukungan kebijakan pendidikan yang adaptif.
PENERAPAN APLIKASI DUOLINGO UNTUK MENINGKATKAN MAHARAH KALAM SISWA KELAS VIII MTS Handayani, Ayuni; Zulhannan, Zulhannan; Zuliana, Erni
SECONDARY: Jurnal Inovasi Pendidikan Menengah Vol. 5 No. 3 (2025)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/secondary.v5i3.6355

Abstract

ABSTRACT Speaking skill (maharah kalam) is an important aspect of Arabic language learning that often poses a challenge for madrasah students. This study aims to improve the maharah kalam of eighth-grade students at MTs Miftahul Huda Kotabumi, North Lampung, through the use of the Duolingo application as a digital learning medium. The method used is Classroom Action Research (CAR), conducted in two cycles, each consisting of three meetings. Data were collected through observation, interviews, documentation, and formative tests (pre-test and post-test). The results showed that the use of Duolingo had a positive impact on improving students’ speaking skills. In the pre-cycle stage, only 24% of students achieved the Minimum Competency Criteria (KKM), which increased to 60% in the first cycle, and reached 80% in the second cycle. This application proved effective in encouraging students to be more confident, active, and motivated in practicing Arabic speaking skills, particularly through its gamification features and voice recognition. The conclusion of This study indicates that the use of technology-based applications like Duolingo is effective in enhancing maharah kalam and is suitable to be used as an alternative medium for teaching Arabic in madrasahs. ABSTRAK Kemampuan berbicara (maharah kalam) merupakan aspek penting dalam pembelajaran bahasa Arab yang sering kali menjadi tantangan bagi siswa madrasah. Penelitian ini bertujuan untuk meningkatkan kemampuan maharah kalam siswa kelas VIII MTs Miftahul Huda Kotabumi, Lampung Utara, melalui penggunaan aplikasi Duolingo sebagai media pembelajaran digital. Metode yang digunakan adalah Penelitian Tindakan Kelas (PTK) yang dilaksanakan dalam dua siklus, masing-masing terdiri dari tiga pertemuan. Data dikumpulkan melalui observasi, wawancara, dokumentasi, dan tes formatif (pre-test dan post-test). Hasil penelitian menunjukkan bahwa penggunaan Duolingo memberikan dampak positif terhadap peningkatan keterampilan berbicara siswa. Pada tahap pra-siklus, hanya 24% siswa yang mencapai Kriteria Ketuntasan Minimal (KKM), meningkat menjadi 60% pada siklus I, dan mencapai 80% pada siklus II. Aplikasi ini terbukti mampu mendorong siswa untuk lebih percaya diri, aktif, dan termotivasi dalam berlatih berbicara bahasa Arab, terutama melalui fitur gamifikasi dan pengenalan suara. Simpulan dari penelitian ini menunjukkan bahwa penggunaan aplikasi berbasis teknologi seperti Duolingo efektif dalam meningkatkan maharah kalam dan layak digunakan sebagai alternatif media pembelajaran bahasa Arab di madrasah.
PEMBINAAN KARAKTER TANGGUNG JAWAB MELALUI KEGIATAN PRAMUKA DI SMA NEGERI Sukmawati, Geya; Hamim, Udin; Adhani, Yuli
SECONDARY: Jurnal Inovasi Pendidikan Menengah Vol. 5 No. 3 (2025)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/secondary.v5i3.6415

Abstract

This research aims to describe the development of responsibility character through Scout activities at SMA Negeri 1 Tapa and to identify the inhibiting factors in its implementation. Responsibility is an essential character that should be instilled from an early age, and Scout activities are considered an effective medium to develop this value through direct experiences, leadership training, and various activities that promote social awareness and individual commitment. This research uses a descriptive qualitative approach with data collection techniques including observation, interviews, and documentation. The findings show that Scout activities at SMA Negeri 1 Tapa have generally been successful in developing students' sense of responsibility, as reflected in their awareness in fulfilling duties, courage in decision-making, and ability to collaborate and care for the surrounding environment. However, several inhibiting factors still occur, such as low student participation, lack of parental understanding of the importance of Scout activities, and limited support from the school. This research recommends strengthening the synergy between the school, Scout leaders students, and parents to develop the role of Scout activities in character development. ABSTRAKPenelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan pembinaan karakter tanggung jawab melalui kegiatan Pramuka di SMA Negeri 1 Tapa serta mengidentifikasi faktor-faktor yang menghambat pelaksanaannya. Karakter tanggung jawab merupakan nilai penting yang perlu ditanamkan sejak dini, dan kegiatan Pramuka dinilai sebagai media efektif dalam menumbuhkan nilai tersebut melalui pengalaman langsung, pelatihan kepemimpinan, serta berbagai aktivitas yang membangun kesadaran sosial dan komitmen individu. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif dengan teknik pengumpulan data berupa observasi, wawancara, dan dokumentasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kegiatan Pramuka di SMA Negeri 1 Tapa secara umum telah mampu membentuk karakter tanggung jawab siswa, baik dalam bentuk menjalankan tugas dengan penuh kesadaran, keberanian mengambil keputusan, serta kemampuan bekerja sama dan peduli terhadap lingkungan sekitar. Namun demikian, terdapat beberapa faktor penghambat seperti rendahnya partisipasi siswa, kurangnya pemahaman orang tua terhadap pentingnya kegiatan Pramuka, serta terbatasnya dukungan dari pihak sekolah. Penelitian ini merekomendasikan peningkatan sinergi antara sekolah, pembina, siswa, dan orang tua guna memperkuat peran kegiatan Pramuka dalam pembinaan karakter siswa.
PARTISIPASI POLITIK SISWA SEBAGAI PEMILIH PEMULA PADA PEMILU 2024 DI SMA NEGERI Darise, Lianita; Wantu, Sastro M.; Mahmud, Ramli
SECONDARY: Jurnal Inovasi Pendidikan Menengah Vol. 5 No. 3 (2025)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/secondary.v5i3.6501

Abstract

This research aims to examine the forms of political participation among students as first-time voters and the factors influencing it during the 2024 General Election at SMA Negeri 4 Kota Gorontalo. This research employs a descriptive gualitative research method, data were collected through observation, interviews, and documentation involving students who met the criteria as eligible voters. The findings indicate that students demonstrated a relatively high level of political participation in the form of voting, primarily driven by personal awareness as well as influence from teachers, parents, and peers. However, participation in other forms, such as campaigning, contracting, and cooperative activities, remains low due to time constraints, lack of parental permission, and academic responsibilities. Several inhibiting factors were identified, including social factors such as politically indifferent environments, limited discussions, and the dominance of entertainment on social media: political factors such as low trust in political parties and candidates, as well as cultural and physical conditions. Therefore, there is a need to strengthen political education and provide supportive environments so that firsttime voters can engage more actively and comprehensively in the democratic process. ABSTRAKPenelitian ini bertujuan untuk mengetahui bentuk partisipasi politik siswa sebagai pemilih pemula serta faktor-faktor yang memengaruhinya pada Pemilu 2024 di SMA Negeri 4 Kota Gorontalo. Menggunakan metode penelitian kualitatif deskriptif, data dikumpulkan melalui observasi, wawancara, dan dokumentasi terhadap siswa yang telah memenuhi syarat sebagai pemilih. Hasil penelitian menunjukkan bahwa bentuk partisipasi politik siswa tergolong cukup tinggi dalam aspek voting, didorong oleh kesadaran pribadi serta pengaruh dari guru, orang tua, dan teman sebaya. Namun, partisipasi dalam bentuk lain seperti kampanye, contracting, dan cooperative masih rendah karena keterbatasan waktu, izin orang tua, dan kesibukan sekolah. Faktor-faktor yang menghambat partisipasi siswa meliputi faktor sosial seperti lingkungan yang kurang peduli politik, kurangnya diskusi, serta dominasi hiburan di media sosial; faktor politik berupa rendahnya kepercayaan terhadap partai dan calon; serta faktor budaya dan kondisi fisik. Oleh karena itu, diperlukan penguatan pendidikan politik dan dukungan lingkungan agar pemilih pemula dapat berpartisipasi secara lebih aktif dan menyeluruh dalam proses demokrasi.
PERAN GURU PPKn DALAM MENINGKATKAN MINAT BELAJAR SISWA PADA MATA PELAJARAN PPKn DI SMP NEGERI Utina, Risnawati; Ngiu, Zulaecha; Nggilu , Ariyanto
SECONDARY: Jurnal Inovasi Pendidikan Menengah Vol. 5 No. 3 (2025)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/secondary.v5i3.6528

Abstract

This research aims to explore and describe in depth the role of Pancasila and Civics Education (PPKn) teachers in enhancing students' learning interest in PPKn subjects at SMP Negeri 1 Tapa. The research employed a qualitative approach with a descriptive research design. Data were collected through several techniques, including direct classroom observation, in-depth interviews with teachers and students, and documentation of learning activities. The results indicate that teachers play a highly important and strategic role, acting as facilitators who provide learning support, motivators who inspire students to learn, and dynamizers who create an engaging classroom atmosphere. Through the implementation of engaging teaching methods, using relevant learning media, and the continuous provision of learning motivation, teachers can foster and enhance students' interest in learning PPKn. Teachers also demonstrate attentiveness to individual student learning needs and build harmonious communication to create an effective learning process. In essence, the role of PPKn teachers is vital in shaping students' learning interests, thus emphasizing the need to strengthen teacher capacity and provide support to effectively fulfill this role. ABSTRAKPenelitian ini bertujuan untuk mengetahui dan mendeskripsikan secara mendalam mengenai peran guru Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan (PPKn) dalam upaya meningkatkan minat belajar siswa pada mata pelajaran PPKn di SMP Negeri 1 Tapa. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah pendekatan kualitatif dengan jenis penelitian deskriptif. Pengumpulan data dilakukan melalui beberapa teknik, yaitu observasi langsung di kelas, wawancara mendalam dengan guru dan siswa, serta dokumentasi terhadap aktivitas pembelajaran. Hasil penelitian menunjukkan bahwa guru memiliki peran yang sangat penting dan strategis, baik sebagai fasilitator yang menyediakan kemudahan belajar, sebagai motivator yang memberikan dorongan semangat belajar kepada siswa, maupun sebagai dinamisator yang menghidupkan suasana belajar di kelas. Melalui penerapan metode pembelajaran yang menarik, pemanfaatan media pembelajaran yang relevan, serta pemberian motivasi belajar yang berkelanjutan, guru mampu menumbuhkan dan meningkatkan minat belajar siswa terhadap mata pelajaran PPKn. Guru juga menunjukkan perhatian terhadap kebutuhan belajar individual siswa serta membangun komunikasi yang harmonis sebagai dasar terciptanya proses pembelajaran yang efektif. Kesimpulan dari penelitian ini menunjukkan bahwa peran guru PPKn sangat vital dalam membentuk minat belajar siswa, sehingga perlu adanya penguatan kapasitas dan dukungan kepada guru agar mampu melaksanakan perannya secara optimal.
KEMAMPUAN LITERASI MATEMATIKA SISWA SMA DALAM MENYELESAIKAN SOAL HOTS SPLTV DITINJAU DARI SELF-REGULATED LEARNING Murtikusuma, Randi Pratama; Pambudi, Didik Sugeng; Wahdana, Akfi Hikmah
SECONDARY: Jurnal Inovasi Pendidikan Menengah Vol. 5 No. 3 (2025)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/secondary.v5i3.6554

Abstract

This study was conducted to describe and describe the mathematical literacy ability of students of class X IPA 1 SMA Negeri Arjasa in solving HOTS questions in terms of self-regulated learning on the material of the Three Variable Linear Equation System (SPLTV). The type of research used in this research is descriptive qualitative. In order to determine students' mathematical literacy skills in terms of self-regulated learning, the students' self-regulated learning levels were first grouped. There are three levels of self-regulated learning, namely students with low, medium and high self-regulated learning. For each level of self-regulated learning, 1 person was selected to be the subject of the study. So that 3 research subjects were selected, namely 1 student with a low level of self-regulated learning (S1), 1 student with a moderate level of self-regulated learning (S2), and 1 student with a high level of self-regulated learning (S3). Each subject was given a HOTS test question on the material of the Three Variable Linear Equation System (SPLTV) and continued with interviews to determine the fulfillment of indicators at each level of mathematical literacy ability that could be achieved by the subject. Based on the analysis that has been done, S1 is not able to meet the four indicators at level 4 of mathematical literacy ability, S2 is only able to meet one indicator of mathematical literacy ability at level 4, and S3 is able to meet all four indicators at level 4 of mathematical literacy ability and does not reach the next level. ABSTRAK Penelitian ini dilakukan untuk mendeskripsikan dan menggambarkan kemampuan literasi matematika siswa kelas X IPA 1 SMA Negeri Arjasa dalam menyelesaikan soal HOTS  ditinjau  dari self-regulated learning pada materi Sistem Persamaan Linear Tiga Variabel (SPLTV). Jenis penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah deskriptif kualitatif. Untuk mengetahui kemampuan literasi matematika siswa ditinjau dari self-regulated learning, terlebih dahulu dilakukan pengelompokan tingkatan self-regulated learning siswa. Tiga tingkatan self-regulated learning yaitu siswa dengan self-regulated learning rendah, sedang dan tinggi. Masing-masing tingkat self-regulated learning dipilih 1 orang untuk dijadikan subjek penelitian. Sehingga terpilih 3 subjek penelitian yaitu 1 siswa dengan tingkatan self-regulated learning rendah (S1), 1 siswa dengan tingkatan self-regulated learning sedang (S2), dan 1 siswa dengan tingkatan self-regulated learning tinggi (S3). Masing-masing subjek diberikan soal tes HOTS pada materi Sistem Persamaan Linear Tiga Variabel (SPLTV) dan dilanjutkan dengan wawancara untuk mengetahui pemenuhan indikator pada setiap level kemampuan literasi matematika yang dapat dicapai oleh subjek. Berdasarkan analisis yang telah dilakukan S1 tidak mampu memenuhi keempat indikator pada level 4 kemampuan literasi matematika, S2 hanya mampu memenuhi satu indikator kemampuan literasi matematika pada level 4, dan S3 mampu memenuhi keempat indikator pada level 4 kemampuan literasi matematika dan tidak mencapai level berikutnya.
METASINTESIS: PENERAPAN MODEL PEMBELAJARAN BERBASIS PROYEK BIOLOGI SMA UNTUK MEWUJUDKAN TUJUAN PEMBANGUNAN BERKELANJUTAN (SDGS) DI INDONESIA Nurhayati, Nurhayati; Abidin, Zaenal
SECONDARY: Jurnal Inovasi Pendidikan Menengah Vol. 5 No. 3 (2025)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/secondary.v5i3.6725

Abstract

Education plays a crucial role in shaping a generation that is ready to contribute to the achievement of the Sustainable Development Goals (SDGs). Integrating the SDGs into the high school biology curriculum in Indonesia is particularly important given the complex environmental and social challenges, such as biodiversity decline, that require scientific understanding and concrete action. This research aims to synthesize and interpret various studies to understand how project-based learning (PBL) can be effectively implemented in high school Biology to support the success of the SDGs. A qualitative meta-synthesis method was used, following Noblit and Hare's (1988) six-stage framework, allowing us to go beyond conventional summaries to build a new conceptual framework. The results of an in-depth analysis of 17 relevant journal articles consistently showed that PBL is a significant effective strategy in integrating the SDGs into learning. PBL markedly contributes to improving the understanding of SDGs-related Biology concepts, as well as developing pro-sustainability attitudes and 21st century skills such as problem solving and innovation. Although this study confirmed the positive impact of PBL, the need for further empirical studies in the specific context of high school Biology in Indonesia remains. These results become the state of the art by affirming the role of PBL as an important tool to equip the younger generation with the knowledge, skills, and knowledge of the SDGs. ABSTRAKPendidikan memainkan peran penting dalam membentuk generasi yang siap berkontribusi dalam pencapaian Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs). Mengintegrasikan SDGs ke dalam kurikulum biologi sekolah menengah di Indonesia menjadi sangat penting mengingat tantangan lingkungan dan sosial yang kompleks, seperti penurunan keanekaragaman hayati, yang membutuhkan pemahaman ilmiah dan tindakan nyata. Penelitian ini bertujuan untuk mensintesis dan menginterpretasikan berbagai penelitian untuk memahami bagaimana pembelajaran berbasis proyek (PjBL) dapat diimplementasikan secara efektif dalam pembelajaran Biologi di SMA untuk mendukung keberhasilan SDGs. Metode meta-sintesis kualitatif digunakan, mengikuti kerangka kerja enam tahap dari Noblit dan Hare (1988), yang memungkinkan kita untuk melampaui ringkasan konvensional untuk membangun kerangka kerja konseptual yang baru. Hasil analisis mendalam terhadap 17 artikel jurnal yang relevan secara konsisten menunjukkan bahwa PjBL merupakan strategi efektif yang signifikan dalam mengintegrasikan SDGs ke dalam pembelajaran. PBL secara nyata berkontribusi dalam meningkatkan pemahaman konsep Biologi terkait SDGs, serta mengembangkan sikap pro-keberlanjutan dan keterampilan abad ke-21 seperti pemecahan masalah dan inovasi. Meskipun penelitian ini mengkonfirmasi dampak positif dari PjBL, namun masih diperlukan studi empiris lebih lanjut dalam konteks spesifik Biologi sekolah menengah di Indonesia. Hasil penelitian ini menjadi bukti mutakhir yang menegaskan peran PBL sebagai alat penting untuk membekali generasi muda dengan pengetahuan, keterampilan, dan pengetahuan tentang SDGs.
HUBUNGAN ANTARA SYNDROM FEAR OF MISSING OUT DENGAN SIKAP PERCAYA DIRI SISWA SMAN 3 PALU Izzha, Nurul; Syahran, Ridwan; Munifah, Munifah; Silalahi, Micha Felayati
SECONDARY: Jurnal Inovasi Pendidikan Menengah Vol. 5 No. 3 (2025)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/secondary.v5i3.6727

Abstract

Finding out how students' levels of self-confidence relate to their FOMO (Fear of Missing Out) is the primary goal of this research. This study used two questionnaires to gather data: one measuring students' levels of self-confidence and the other measuring their fear of missing out. The data were used for both descriptive and inferential purposes, with a significance level of 95% and the product moment correlation formula. Descriptive analysis revealed the following percentages of students: 3.17% with extremely high FOMO, 59.79% with high FOMO, 36.51% with low FOMO, and 0.53% with extremely low FOMO. Additionally, 9.52% of students had extremely high self-confidence, 86.77% with high self-confidence, 3.70% with low self-confidence, and 0% with extremely low self-confidence. A coefficient value of -0.027 was also shown in the inferential test results. As the computed r value is higher than the r table value (-0.027 < 0.1428), it can be concluded that the Fear of Missing Out Syndrome variable does not correlate with students' self-confidence. ABSTRAKMencari tahu bagaimana tingkat kepercayaan diri siswa berhubungan dengan FOMO (Fear of Missing Out) mereka adalah tujuan utama dari riset ini. Riset ini menggunakan dua kuesioner untuk mengumpulkan data: satu mengukur tingkat kepercayaan diri siswa dan yang lainnya mengukur rasa takut mereka akan ketinggalan. Data digunakan untuk tujuan deskriptif dan inferensial, dengan tingkat signifikansi 95% dan rumus korelasi momen produk. Analisis deskriptif mengungkapkan persentase siswa berikut: 3,17% dengan FOMO yang sangat tinggi, 59,79% dengan FOMO tinggi, 36,51% dengan FOMO rendah, dan 0,53% dengan FOMO yang sangat rendah. Selain itu, 9,52% siswa memiliki kepercayaan diri yang sangat tinggi, 86,77% dengan kepercayaan diri yang tinggi, 3,70% dengan kepercayaan diri yang rendah, dan 0% dengan kepercayaan diri yang sangat rendah. Nilai koefisien -0,027 juga ditunjukkan dalam hasil uji inferensial. Karena nilai r hitung lebih besar dari nilai r tabel (-0,027 < 0,1428), maka dapat disimpulkan bahwa variabel Fear of Missing Out Syndrome tidak berkorelasi dengan kepercayaan diri siswa.