cover
Contact Name
Muhamad Suhardi
Contact Email
jurnalp4i@gmail.com
Phone
+6285239967417
Journal Mail Official
jurnalp4i@gmail.com
Editorial Address
CENDEKIA: Jurnal Ilmu Pengetahuan Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia (P4I) Lingkungan Handayanai, Kel. Leneng, Kec. Praya, Kab. Lombok Tengah, NTB Principal Contact: Dr. Muhamad Suhardi, M.Pd. (085239967417) Technical Support Contact: Randi Pratama M., M.Pd. (085781267181) Email: jurnalp4i@gmail.com
Location
Unknown,
Unknown
INDONESIA
CENDEKIA : Jurnal Ilmu Pengetahuan
ISSN : 27748030     EISSN : 27744183     DOI : -
Core Subject : Education,
Jurnal ini berisi artikel hasil pemikiran dan penelitian yang ditulis oleh para guru, dosen, pakar, ilmuwan, praktisi, dan pengkaji dalam semua disiplin ilmu yang berkaitan dengan ilmu pengetahuan.
Arjuna Subject : Umum - Umum
Articles 758 Documents
HUBUNGAN CHALLENGE STRESS DAN HINDRANCE STRESS TERHADAP PRESENTEEISM PADA KARYAWAN GENERASI Z Ignacia Callista; Zamralita Zamralita; Ismoro Reza Prima Putra
CENDEKIA: Jurnal Ilmu Pengetahuan Vol. 6 No. 1 (2026)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/cendekia.v6i1.8863

Abstract

The phenomenon of presenteeism, the behavior of continuing to work despite less than optimal physical or psychological condition, poses a significant challenge to the well-being of Generation Z employees, known for their adaptability but vulnerability to stress. This study focuses on analyzing the relationship between two dimensions of work stress—challenge stress (growth-inducing stress) and hindrance stress (inhibiting stress), and levels of presenteeism using Cavanaugh's theoretical framework. Using a quantitative approach using survey methods, data were collected from 209 Generation Z employees in Indonesia using the Challenge and Hindrance-related Self-Reported Stress Scale (C-HSS) and the Job Stress-Related Presenteeism Scale (JSRPS). Statistical analysis revealed the crucial finding that challenge stress significantly negatively correlated with presenteeism, meaning constructive work challenges actually decreased the likelihood of unproductive attendance, while hindrance stress demonstrated a significant positive relationship that triggered this behavior. Additional findings highlighted variations in levels of presenteeism across departments, with divisions with high administrative burdens, such as Accounting, showing the highest levels. This study concludes that effective stress management should focus on increasing meaningful work challenges and minimizing bureaucratic barriers to optimize the productivity and mental health of young workers. ABSTRAK Fenomena presenteeism, yakni perilaku tetap bekerja meski dalam kondisi fisik atau psikologis yang kurang prima, menjadi tantangan signifikan bagi kesejahteraan karyawan Generasi Z yang dikenal adaptif namun rentan terhadap tekanan. Penelitian ini berfokus pada analisis hubungan antara dua dimensi stres kerja, yaitu challenge stress (stres pemicu pertumbuhan) dan hindrance stress (stres penghambat), terhadap tingkat presenteeism dengan menggunakan kerangka teori Cavanaugh. Melalui pendekatan kuantitatif dengan metode survei, data dihimpun dari 209 karyawan Generasi Z di Indonesia menggunakan instrumen Challenge and Hindrance-related Self-Reported Stress Scale (C-HSS) dan Job Stress-Related Presenteeism Scale (JSRPS). Analisis statistik mengungkapkan temuan krusial bahwa challenge stress berkorelasi negatif secara signifikan dengan presenteeism, yang berarti tantangan kerja konstruktif justru menurunkan kecenderungan hadir tanpa produktivitas, sedangkan hindrance stress menunjukkan hubungan positif signifikan yang memicu perilaku tersebut. Temuan tambahan menyoroti variasi tingkat presenteeism antar departemen, di mana divisi dengan beban administrasi tinggi seperti Akuntansi menunjukkan tingkat tertinggi. Studi ini menyimpulkan bahwa manajemen stres yang efektif harus berfokus pada peningkatan tantangan kerja yang bermakna dan meminimalkan hambatan birokrasi untuk mengoptimalkan produktivitas serta kesehatan mental tenaga kerja muda.
PERAN CYBERLOAFING TERHADAP DIGITAL WELL- BEING PADA KARYAWAN GENERASI Z Margaretha Sabda Djaja; Zamralita Zamralita; Ismoro Reza Prima Putra
CENDEKIA: Jurnal Ilmu Pengetahuan Vol. 6 No. 1 (2026)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/cendekia.v6i1.8864

Abstract

The rapid development of digital technology has brought significant changes to the workplace, especially for Generation Z employees. Despite the benefits, the high intensity of digital technology use has the potential to cause psychological stress that can affect employees' digital well-being. One way employees cope with this is through cyberloafing, the use of the internet at work for personal purposes. This study aims to determine the relationship between cyberloafing and digital well-being among Generation Z employees. This study used a non-experimental quantitative method with a correlational approach. The study participants consisted of 213 active Generation Z employees with at least one year of work experience who cyberloafed for a maximum duration of 75 minutes per day. The measurement instruments used were the Cyberloafing Scale and the Digital Well-being Scale, adapted into Indonesian. The results showed a significant positive relationship between cyberloafing and digital well-being (r = 0.286; p < 0.001). Therefore, it can be said that cyberloafing, when done within reasonable limits, can serve as a coping mechanism to reduce work stress arising from the high intensity of digital technology use in the workplace. However, excessive cyberloafing can negatively impact physical health and work productivity. Therefore, it is important for organizations to create a work environment with a balanced use of digital technology. ABSTRAK Perkembangan teknologi digital yang pesat membawa perubahan signifikan dalam dunia kerja, terutama bagi karyawan Generasi Z. Terlepas dari manfaat yang bisa didapatkan, tingginya intensitas penggunaan teknologi digital berpotensi menimbulkan tekanan psikologis yang dapat memengaruhi tingkat digital well-being karyawan. Salah satu cara yang dilakukan karyawan untuk mengatasi hal tersebut adalah dengan cyberloafing, penggunaan internet di tempat kerja untuk kepentingan pribadi. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara cyberloafing dan digital well-being pada karyawan Generasi Z. Penelitian ini menggunakan metode kuantitatif non-eksperimental dengan pendekatan korelasional. Partisipan penelitian ini terdiri dari 213 karyawan Generasi Z yang aktif bekerja dengan pengalaman bekerja minimal selama 1 tahun, serta melakukan cyberloafing dengan durasi maksimal 75 menit per hari. Alat ukur yang digunakan adalah Cyberloafing Scale dan Digital Well-being Scale yang telah diadaptasi ke Bahasa Indonesia. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat hubungan positif yang signifikan antara cyberloafing dan digital well-being (r = 0,286; p < 0,001). Maka dapat dikatakan bahwa cyberloafing yang dilakukan dalam batas wajar dapat berfungsi sebagai mekanisme coping untuk mengurangi stres kerja yang muncul akibat tingginya intensitas penggunaan teknologi digital di lingkungan kerja. Namun, cyberloafing yang dilakukan secara berlebihan dapat berdampak negatif terhadap kesehatan fisik dan produktivitas kerja. Oleh karena itu, penting bagi organisasi untuk menciptakan lingkungan kerja dengan penggunaan teknologi digital yang seimbang.
OPTIMASI SUHU PADA PROSES SEAM SEALING UNTUK MENINGKATKAN KINERJA TAHAN AIR PADA JAKET WATERPROOF Wilda Murti; Andhi Sukma Hanafi; Kamelia Yogi Noviana
CENDEKIA: Jurnal Ilmu Pengetahuan Vol. 6 No. 1 (2026)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/cendekia.v6i1.8865

Abstract

The seam sealing process is a crucial stage in the production of waterproof garments, serving to close stitch holes and prevent water penetration. However, the quality of the seam seal highly depends on process parameters such as temperature, pressure, and machine speed. This study investigates the effect of sealing temperature variation on the waterproof performance of seam seals using two different adhesive tapes. Two fabric samples were tested: Sample A (polyurethane–polyester blended tape) and Sample B (pure polyester tape). The tests were conducted following the AATCC 127:2022 standard using a Hydrostatic Pressure Tester with water at 21 ± 2°C and a pressure increase rate of 60 mbar/min; the hydrostatic head value (mmH?O) was recorded when the first three water droplets appeared on the dry side of the fabric. In addition to the supplier’s recommended temperature (480°C), sealing temperatures ranging from 230°C to 500°C were applied to determine the optimal temperature. The results showed that Sample A maintained stable waterproof performance across a wider temperature range (260–470°C), achieving the highest value of 9812.71 mmH?O at 470°C. In contrast, Sample B reached its peak value of 5710.41 mmH?O at 410°C and exhibited greater sensitivity to temperature changes. These findings indicate that the tape composition (presence of polyurethane) and the precise selection of sealing temperature are key factors in achieving optimal waterproof seam quality. Further research is recommended to optimize process parameters (temperature, pressure, and contact time) and to evaluate long-term durability for waterproof garment manufacturing applications. ABSTRAK Proses seam sealing merupakan tahap penting dalam pembuatan pakaian tahan air (waterproof jacket) yang berfungsi menutup celah jahitan agar tidak tembus air. Namun, kualitas hasil seam seal sangat bergantung pada pengaturan parameter proses seperti suhu, tekanan, dan kecepatan mesin. Penelitian ini menelaah pengaruh variasi suhu penyegelan terhadap kekedapan air sambungan jahitan (seam seal) pada dua jenis sampel kain menggunakan pita perekat tape berbeda. Dua sampel yang diuji adalah: Sampel A (tape campuran poliuretan–poliester) dan Sampel B (tape poliester murni). Pengujian dilakukan berdasarkan standar AATCC 127:2022 dengan Hydrostatic Pressure Test pada kondisi air 21 ± 2°C dan laju peningkatan tekanan 60 mbar/menit; nilai hydrostatic head (mmH?O) dicatat ketika muncul tiga tetes pertama pada sisi kering kain. Selain pengujian pada suhu rekomendasi supplier (480°C), dilakukan variasi suhu dari 230°C sampai 500°C untuk menentukan suhu optimal. Hasil menunjukkan bahwa Sampel A mempertahankan kekedapan air yang stabil pada rentang luas (260–470°C) dengan nilai tertinggi 9812,71 mmH?O pada 470°C, sedangkan Sampel B menunjukkan nilai puncak 5710,41 mmH?O pada 410°C dan performa yang lebih sensitif terhadap perubahan suhu. Temuan ini mengindikasikan bahwa komposisi tape (keberadaan poliuretan) dan penentuan suhu penyegelan yang tepat merupakan faktor kunci dalam menghasilkan seam seal yang kedap air. Rekomendasi pengembangan meliputi optimasi parameter proses (suhu, tekanan, waktu kontak) dan uji ketahanan jangka panjang untuk aplikasi manufaktur pakaian tahan air.  
PERBANDINGAN PEMBERIAN PAKAN KOMERSIAL DAN LIMBAH ORGANIK TERHADAP PERTUMBUHAN IKAN LELE DUMBO CLARIAS GERIEPHINUS Norma Y Sirley; Andi Nur Samsi; Irnayanti Bahar
CENDEKIA: Jurnal Ilmu Pengetahuan Vol. 6 No. 1 (2026)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/cendekia.v6i1.8866

Abstract

The cultivation of African catfish (Clarias gariepinus) plays a strategic role in the national freshwater fisheries sector, but is often hampered by the high cost of artificial feed, which impacts profitability. This study aims to analyze the comparative effectiveness of commercial feed and organic waste utilization on the growth rate of African catfish raised using a semi-RAS (Recirculating Aquaculture System). Through an experimental approach conducted at the Mappaodang Armed Forces in Makassar, this study observed the average weight increase of fish in two different feed treatment groups. The research findings indicate that commercial feed has a significantly greater impact on growth than organic waste feed, with the average weight of fish in the commercial feed treatment increasing from 13.3 grams to 288 grams, while the average weight of fish in the organic waste treatment only increased from 18.3 grams to 163.3 grams. It was concluded that although commercial feed is superior in stimulating growth due to its complete and easily digestible nutritional composition, organic waste still has potential as an economical and environmentally friendly feed alternative, provided that further processing such as fermentation or nutrient reformulation is required to support optimal cultivation productivity. ABSTRAK Budidaya ikan lele dumbo (Clarias gariepinus) memegang peranan strategis dalam sektor perikanan air tawar nasional, namun sering kali dihadapkan pada kendala tingginya biaya pakan buatan yang mempengaruhi profitabilitas. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis perbandingan efektivitas antara pemberian pakan komersial dan pemanfaatan limbah organik terhadap laju pertumbuhan ikan lele dumbo yang dipelihara menggunakan sistem semi-RAS (Recirculating Aquaculture System). Melalui pendekatan eksperimental yang dilaksanakan di Armed Mappaodang Makassar, studi ini mengamati parameter peningkatan bobot rata-rata ikan pada dua kelompok perlakuan pakan yang berbeda. Temuan penelitian menunjukkan bahwa pakan komersial memberikan dampak pertumbuhan yang jauh lebih signifikan dibandingkan pakan limbah organik, di mana bobot rata-rata ikan pada perlakuan pakan komersial melonjak dari 13,3 gram menjadi 288 gram, sedangkan pada perlakuan limbah organik hanya meningkat dari 18,3 gram menjadi 163,3 gram. Disimpulkan bahwa meskipun pakan komersial lebih unggul dalam memacu pertumbuhan karena komposisi nutrisi yang lengkap dan mudah dicerna, limbah organik tetap memiliki potensi sebagai alternatif pakan yang ekonomis dan ramah lingkungan, dengan catatan memerlukan pengolahan lebih lanjut seperti fermentasi atau reformulasi nutrisi agar dapat mendukung produktivitas budidaya secara optimal.  
PERSEPSI MASYARAKAT TENTANG KONSUMSI MAKANAN TRADISIONAL SEBAGAI BENTUK UPAYA BELA NEGARA Runi Michiko; Yoanita Maria Putri Sekar Gading; Rahel Sibuea; Jacqualyne Gavrilla Kumayas; Theresa Nadine Wijaya; Agoes Dariyo
CENDEKIA: Jurnal Ilmu Pengetahuan Vol. 6 No. 1 (2026)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/cendekia.v6i1.8867

Abstract

National defence is not limited to physical efforts but can also be strengthened through economic and cultural contributions, including the consumption of traditional food. Traditional dishes play a dual function: supporting the MSME sector and preserving cultural heritage. MSMEs account for 99% of business activities and contribute 60% to the national GDP. However, in the era of globalization, the consumption of traditional food has declined as people increasingly prefer non-traditional options influenced by trends, quality, and pricing. This situation shows the need for strategies that can maintain public interest in traditional cuisine. Using a qualitative approach with convenience sampling, this study explores Indonesians’ perceptions of traditional food. The interview results indicate that participants still consume traditional dishes in their daily lives, partly because these foods convey a sense of warmth and familiarity. All participants agreed that eating traditional food represents an act of national defence and a tangible expression of patriotism, a perspective that should be more widely understood by the public. Nonetheless, significant challenges remain, particularly in promoting traditional food to younger generations due to limited creative marketing and insufficient innovation. Therefore, more inventive efforts and broader support are needed to ensure traditional food remains appealing and relevant to society. ABSTRAK Bela negara tidak hanya berbentuk fisik melainkan juga melalui kontribusi ekonomi dan budaya yang diwujudkan melalui konsumsi makanan tradisional. Makanan tradisional memiliki peran ganda, yaitu sebagai penopang ekonomi UMKM dan melestarikan budaya bangsa. Data menunjukan bahwa UMKM mewakili 99% kegiatan bisnis dan berkontribusi 60% terhadap PDB, namun pada era globalisasi konsumsi makanan tradisional menurun. Masyarakat lebih memilih makanan non-tradisional yang dipengaruhi oleh beberapa faktor, seperti tren, kualitas, dan harga. Maka dari itu diperlukan strategi agar makanan tradisional tetap diminati. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan convenience sampling untuk mengetahui persepsi masyarakat Indonesia mengenai makanan tradisional. Hasil wawancara menunjukan bahwa partisipan masih mengonsumsi makanan tradisional sebagai makanan sehari-hari dengan beberapa alasan, salah satunya adalah dikarenakan rasa kehangatan yang diberikan dari makanan tradisional tersebut. Dengan mengkonsumsi hidangan tradisional, semua partisipan setuju bahwa hal tersebut merupakan salah satu cara untuk membela negara sekaligus bentuk nyata cinta tanah air. Cara ini perlu diketahui oleh masyarakat luas. Namun, terdapat tantangan utama dalam mengenalkan makanan tradisional, khususnya kepada generasi muda, seperti kurangnya promosi kreatif dan terbatasnya inovasi. Oleh karena itu, diperlukan upaya baru yang lebih kreatif serta dukungan dari berbagai pihak agar makanan tradisional semakin diminati oleh masyarakat luas.  
IMPLEMENTASI MAKNA SAKRAMEN EKARISTI DALAM KEHIDUPAN KELUARGA KATOLIK DI STASI SANTO TARSISIUS NAMO PULI PAROKI SANTO YOSEF DELITUA Putri Damiana Br Tarigan; Tri Chandra Fajariyanto
CENDEKIA: Jurnal Ilmu Pengetahuan Vol. 6 No. 1 (2026)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/cendekia.v6i1.8868

Abstract

The sacrament of the Eucharist holds a central position in the Catholic faith as a source of spiritual strength and a means of union with Christ. However, the reality on the ground often reveals a gap between theological understanding and the practical experience of the congregation in their daily lives. This study aims to explore in depth the implementation of the meaning of the Eucharist in the lives of Catholic families at the Santo Tarsisius Namo Puli Station, Santo Yosef Delitua Parish, amidst the challenges of modernization. The method used was descriptive qualitative, with data collected through participatory observation, in-depth interviews, and documentation studies of families at the station. The research findings indicate that the congregation has a strong liturgical understanding, reflected in their discipline and reverence during the celebration of the Eucharist. Concretely, these spiritual values ??are deeply ingrained and transformed into social piety, such as increased solidarity, empathy, and selfless acts of charity in the surrounding community. The Eucharist has also proven to be effective as a glue for social cohesion, uniting the congregation without barriers of status, and serves as a foundation for families instilling the moral values ??of honesty and a spirit of service. The main conclusion emphasizes that for this community, the Eucharist is not just a ritual, but the heart of spiritual life, empowering families to remain resilient, harmonious, and faithful in living out their faith amidst the dynamics of the times. ABSTRAK Sakramen Ekaristi menempati posisi sentral dalam iman Katolik sebagai sumber kekuatan spiritual dan sarana persatuan dengan Kristus, namun realitas di lapangan kerap menunjukkan adanya kesenjangan antara pemahaman teologis dan penghayatan praktis umat dalam kehidupan sehari-hari. Penelitian ini bertujuan untuk menggali secara mendalam implementasi makna Ekaristi dalam kehidupan keluarga Katolik di Stasi Santo Tarsisius Namo Puli, Paroki Santo Yosef Delitua, di tengah tantangan arus modernisasi. Metode yang digunakan adalah kualitatif deskriptif dengan pengumpulan data melalui observasi partisipatif, wawancara mendalam, dan studi dokumentasi terhadap keluarga-keluarga di stasi tersebut. Temuan penelitian menunjukkan bahwa umat memiliki penghayatan liturgis yang tinggi, yang tercermin dari kedisiplinan dan kekhusyukan saat perayaan Ekaristi. Secara konkret, nilai spiritual ini tertanam kuat dan bertransformasi menjadi kesalehan sosial, seperti meningkatnya solidaritas, empati, serta tindakan amal kasih tanpa pamrih di lingkungan sekitar. Ekaristi juga terbukti berfungsi efektif sebagai perekat kohesi sosial yang menyatukan umat tanpa sekat status, serta menjadi fondasi bagi keluarga dalam menanamkan nilai moral kejujuran dan semangat pelayanan. Simpulan utama menegaskan bahwa bagi komunitas ini, Ekaristi bukan sekadar ritual, melainkan jantung kehidupan rohani yang memberdayakan keluarga untuk tetap tangguh, harmonis, dan setia menghidupi iman di tengah dinamika zaman.  
HUBUNGAN KONTROL DIRI DENGAN PERILAKU IMPULSIVE BUYING SECARA ONLINE PADA MAHASISWA PROGRAM STUDI PSIKOLOGI UNIVERSITAS NUSA CENDANA Sherryn Trienanda Riwu; Pius Weraman; Rizky Pradita Manafe; Mariana Dinah Charlota Lerik
CENDEKIA: Jurnal Ilmu Pengetahuan Vol. 6 No. 1 (2026)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/cendekia.v6i1.8869

Abstract

This study aims to determine the relationship between self-control and online impulsive buying behavior among students of the Psychology Study Program at Nusa Cendana University. This research employed a quantitative approach using a correlational method. The sample consisted of 234 active psychology students from Nusa Cendana University, selected through purposive sampling. Data were collected using an online questionnaire that included two scales: the Self-Control Scale adapted from Averill and the Impulsive Buying Scale adapted from Coley and Burgess. Data were analyzed using SPSS version 26.0 through the Kolmogorov-Smirnov normality test, linearity test, and Pearson Product Moment correlation test. The results showed that the data were normally distributed (Asymp. Sig. = 0,200) and revealed a significant negative relationship between self-control and online impulsive buying behavior (r = -0.631; p < 0.05). This indicates that the higher a person’s level of self-control, the lower their tendency to engage in impulsive online purchases. These findings suggest that self-control plays an important role in reducing consumptive behavior among students, particularly in the context of online shopping, which is often influenced by digital trends and marketing temptations. ABSTRAK Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara kontrol diri dengan perilaku impulsive buying secara online pada mahasiswa Program Studi Psikologi Universitas Nusa Cendana. Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif dengan metode korelasional. Sampel penelitian berjumlah 234 mahasiswa aktif Program Studi Psikologi Universitas Nusa Cendana yang dipilih dengan teknik purposive sampling. Pengumpulan data dilakukan melalui kuesioner daring menggunakan dua skala, yaitu skala kontrol diri yang diadaptasi dari Averill dan skala impulsive buying dari Coley dan Burgess. Analisis data dilakukan menggunakan program SPSS versi 26.0 dengan uji normalitas Kolmogorov-Smirnov, uji linearitas, dan uji korelasi Pearson Product Moment. Hasil penelitian menunjukkan bahwa data berdistribusi normal (Asymp. Sig. = 0,200) dan terdapat hubungan negatif yang signifikan antara kontrol diri dengan perilaku impulsive buying secara online pada mahasiswa psikologi Universitas Nusa Cendana (r = -0,631; p < 0,05). Artinya, semakin tinggi tingkat kontrol diri seseorang, semakin rendah kecenderungannya untuk melakukan pembelian secara impulsif.Temuan ini mengindikasikan bahwa kemampuan mengendalikan diri berperan penting dalam menekan perilaku konsumtif di kalangan mahasiswa, terutama dalam konteks belanja daring yang sarat dengan godaan promosi dan tren digital.  
STRATEGI PROGRAM ELDERLY SCHOOL OF ‘AISYIYAH (ESA) AISYIYAH SURAKARTA DALAM MEMENUHI KEBUTUHAN SOSIOEMOSIONAL LANSIA Mahasri Shobahiya; Fauzan Addinul Jihad
CENDEKIA: Jurnal Ilmu Pengetahuan Vol. 6 No. 1 (2026)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/cendekia.v6i1.8870

Abstract

The aging population in Indonesia has triggered an urgent need for community-based elderly services that focus not only on physical health but also on psychological well-being. This study aims to explore the program strategies of the Elderly School of ‘Aisyiyah (ESA) Surakarta in meeting the socioemotional needs of the elderly and to analyze implementation challenges through the lens of Socioemotional Selectivity Theory (SST). This research employed a qualitative method with a case study design. Data were collected through in-depth interviews with program managers and intensive observation, then analyzed using the Miles and Huberman interactive model. The results indicate that ESA applies a flexible curriculum strategy integrated into four main pillars: Religion, Psychology, Health, and Arts and Sports. This strategy effectively facilitates the transition of elderly motivation from knowledge-related goals to emotion-related goals. This success is empirically validated through the phenomenon of color psychology, where a shift in participants' artwork preferences occurred from the spectrum of excitement (red-yellow) to the spectrum of tranquility (green-blue). However, program implementation faces internal challenges such as physical degradation, situational depression, and post-power syndrome resistance. This study concludes that a personalized approach adaptive to the elderly's perceived remaining time is the key to achieving inner peace and husnul khotimah. ABSTRAK Penuaan populasi di Indonesia memicu urgensi layanan lansia berbasis komunitas yang tidak hanya berfokus pada fisik, tetapi juga kesejahteraan psikologis. Penelitian ini bertujuan untuk mengeksplorasi strategi program Elderly School of ‘Aisyiyah (ESA) Surakarta dalam memenuhi kebutuhan sosioemosional lansia serta membedah tantangan implementasinya melalui lensa Socioemotional Selectivity Theory (SST). Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan desain studi kasus. Pengumpulan data dilakukan melalui wawancara mendalam terhadap pengelola program dan diobservasi secara intensif, kemudian dianalisis menggunakan model interaktif Miles dan Huberman. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ESA menerapkan strategi kurikulum fleksibel yang terintegrasi dalam empat pilar utama: Agama, Psikologi, Kesehatan, serta Seni dan Olahraga. Strategi ini terbukti efektif memfasilitasi transisi motivasi lansia dari tujuan berbasis pengetahuan (knowledge-related goals) menuju tujuan berbasis emosi (emotion-related goals). Keberhasilan ini tervalidasi secara empiris melalui fenomena psikologi warna, di mana terjadi pergeseran preferensi karya seni peserta dari spektrum gairah (merah-kuning) menuju spektrum ketenangan (hijau-biru). Meskipun demikian, implementasi program menghadapi tantangan internal berupa degradasi fisik, depresi situasional, dan resistensi post-power syndrome. Penelitian ini menyimpulkan bahwa pendekatan personalisasi yang adaptif terhadap sisa waktu hidup lansia adalah kunci utama dalam mewujudkan ketenangan batin dan husnul khotimah.
STUDI DESKRIPTIF: REGULASI EMOSI PADA REMAJA YANG MENGALAMI ACE Veronika F. Usfal; Rizky Pradita Manafe; Theodora Takalapeta
CENDEKIA: Jurnal Ilmu Pengetahuan Vol. 6 No. 1 (2026)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/cendekia.v6i1.8871

Abstract

Adverse Childhood Experiences (ACEs) are traumatic events during childhood that have long-term impacts on mental health, often hindering emotional maturity and triggering maladaptive coping mechanisms such as Non-Suicidal Self-Injury (NSSI). This study aims to analyze the complex relationship between ACEs, emotion regulation, and NSSI, with a particular focus on the role of emotion regulation as a mediator linking traumatic experiences to self-injurious behavior. Using a narrative literature review, this study synthesized data from relevant scientific articles published between 2015 and 2025 through systematic searches of academic databases such as PubMed and ScienceDirect. Key findings demonstrate consistent evidence that exposure to ACEs is strongly correlated with emotion dysregulation, which subsequently significantly increases the risk of self-injurious behavior without suicidal intent. This study confirms that the inability to manage emotions adaptively is a key mechanistic pathway linking childhood trauma to NSSI behavior. It is concluded that psychological interventions focused on strengthening emotion regulation skills are crucial for mitigating the detrimental impact of ACEs and preventing NSSI behaviors in vulnerable individuals, particularly adolescents. ABSTRAK Adverse Childhood Experience (ACE) merupakan peristiwa traumatis masa kanak-kanak yang berdampak jangka panjang pada kesehatan mental, sering kali menghambat kematangan emosional dan memicu mekanisme koping maladaptif seperti Non-Suicidal Self-Injury (NSSI). Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis hubungan kompleks antara ACE, regulasi emosi, dan NSSI, dengan fokus khusus pada peran regulasi emosi sebagai variabel mediator yang menghubungkan pengalaman traumatis dengan perilaku melukai diri. Menggunakan metode tinjauan literatur naratif (narrative literature review), penelitian ini menyintesis data dari artikel ilmiah relevan yang diterbitkan antara tahun 2015 hingga 2025 melalui penelusuran sistematis pada basis data akademik seperti PubMed dan ScienceDirect. Temuan utama menunjukkan konsistensi bukti bahwa paparan ACE berkorelasi kuat dengan disregulasi emosi, yang selanjutnya meningkatkan risiko perilaku melukai diri sendiri tanpa intensi bunuh diri secara signifikan. Studi ini menegaskan bahwa ketidakmampuan mengelola emosi secara adaptif menjadi jalur mekanistik utama yang menghubungkan trauma masa kecil dengan perilaku NSSI. Disimpulkan bahwa intervensi psikologis yang berfokus pada penguatan keterampilan regulasi emosi sangat krusial untuk memitigasi dampak buruk ACE dan mencegah perilaku NSSI pada individu yang rentan, khususnya populasi remaja.  
SELF-EFFICACY AND SOCIAL LOAFING BEHAVIOR AMONG MEMBERS OF EDUCATIONAL COMMUNITIES IN KUPANG CITY Ester Melani Jeni Ratu; Mernon Yerlinda Carlista Mage; Theodora Takalapeta
CENDEKIA: Jurnal Ilmu Pengetahuan Vol. 6 No. 1 (2026)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/cendekia.v6i1.8872

Abstract

The phenomenon of social loafing, or the tendency to reduce individual contributions to group assignments, poses a real challenge to the effectiveness of non-formal educational communities. This study aims to analyze the relationship between self-efficacy and social loafing behavior among members of educational communities in Kupang City. Using a quantitative approach with a correlational design, the study involved 148 active participants from 17 educational communities selected through incidental sampling. Data were collected using an online questionnaire that included the Self-Efficacy Scale and the Social Loafing Scale, and then analyzed using the Spearman's rho statistical test. The findings showed a significant correlation between the two variables, with the majority of respondents at moderate levels for both aspects. Data analysis indicates that self-efficacy serves as a crucial internal factor; individuals with high self-efficacy tend to have greater engagement and lower levels of social loafing. In addition to psychological factors, external dynamics such as clear role allocation and supportive leadership also influence member participation. It is concluded that strengthening self-efficacy through structured community activities and providing feedback is essential to minimize passive behavior and increase collective organizational productivity. ABSTRAK Fenomena social loafing atau kecenderungan mengurangi kontribusi individu dalam tugas kelompok menjadi tantangan nyata bagi efektivitas komunitas pendidikan nonformal. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis hubungan antara self-efficacy dan perilaku social loafing pada anggota komunitas pendidikan di Kota Kupang. Menggunakan pendekatan kuantitatif dengan desain korelasional, studi ini melibatkan 148 partisipan aktif dari 17 komunitas pendidikan yang dipilih melalui teknik incidental sampling. Pengumpulan data dilakukan menggunakan kuesioner daring yang mencakup Skala Self-Efficacy dan Skala Social Loafing, kemudian dianalisis menggunakan uji statistik Spearman’s rho. Temuan penelitian menunjukkan adanya korelasi yang signifikan antara kedua variabel, di mana mayoritas responden berada pada tingkat sedang untuk kedua aspek tersebut. Analisis data mengindikasikan bahwa self-efficacy berfungsi sebagai faktor internal krusial; individu dengan keyakinan diri yang tinggi cenderung memiliki keterlibatan yang lebih besar dan tingkat social loafing yang lebih rendah. Selain faktor psikologis, dinamika eksternal seperti kejelasan pembagian peran dan kepemimpinan yang suportif turut memengaruhi partisipasi anggota. Disimpulkan bahwa penguatan self-efficacy melalui aktivitas komunitas yang terstruktur dan pemberian umpan balik sangat diperlukan untuk meminimalkan perilaku pasif serta meningkatkan produktivitas kolektif organisasi.